Museum Kereta Api Ambarawa : Wisata Sejarah Yang Tak Membosankan

9 comments

Minggu pagi, saya dan keluarga bergegas-gegas check out dari Hotel Kesambi Hijau. Rasanya badan saya sudah lebih segar karena beristirahat semalam di hotel bintang dua yang cukup nyaman di Semarang itu. Memang sudah saya jadwalkan untuk minggu pagi ini kami berangkat dari hotel paling lambat jam setengah tujuh pagi. Tujuan wisata keluarga kali ini adalah ke Museum Kereta Ambarawa.

Sebenarnya sekitar tahun 2011 atau 2012, waktu saya kuliah di Semarang, saya sudah pernah mengunjungi museum ini. Sayangnya dulu terlalu siang jadi saya tidak sempat naik kereta yang ada di Museum Kereta Ambarawa.
Memang apa menariknya?

Apalagi kalau sudah mendengar kata museum, pasti sangat membosankan karena isinya begitu-begitu saja. Tak ada yang menarik. Tapi Museum Kereta Api Ambarawa ini punya daya tarik yang membuat banyak sekali pengunjung yang pergi ke sana.

Jadi, setelah saya menelusuri tentang wisata semarang di google, kok ada yang bercerita tentang wisata museum di kota Ambarawa itu. Saya pun tertarik apalagi anak saya suka sekali dengan kereta. Saya juga sempat bertanya-tanya dengan teman saya yang tinggal di Semarang tentang wisata ke Museum Kereta Ambarawa. Teman saya malah menyarankan untuk datang gasik (pagi-pagi) agar tidak kehabisan tiket kereta. Ketika saya tanya, gasiknya jam berapa? Katanya sekitar jam setengah delapan.

Oh, okelah. Makanya saya dan keluarga check out dari hotel jam setengah tujuh paling lambat karena perjalanan ke Ambarawa anggap saja paling lama satu jam. Belum nyasar-nyasarnya.

Lokasi

Dua tahun tinggal di Semarang ternyata nggak menjamin kalau saya bisa hapal jalanan kota Semarang dan sekitarnya. Alhasil, saat perjalanan menuju Museum Kereta Ambarawa saya mengaktifkan Google Map sepanjang jalan. Itu adalah kesalahan saya. Pada akhirnya baterai saya sudah tinggal separuh saat tiba di museumnya. Wkwkwk.

Museum Kereta Ambarawa itu berada di Jl. Stasiun No. 1, Panjang, Ambarawa, Panjang Kidul, Panjang, Ambarawa, Semarang.

Ketika saya perjalanan kesana, saya sempat nyasar untung belum jauh. Begitu sampai museum, saya sudah melihat ada dua mobil dan satu motor yang antri di depan gerbang masuk padahal belum jam delapan pagi. Gerbang masih ditutup dan belum ada tanda-tanda petugas di dalam museum.



Di depan museum, pasar telah ramai didatangi pengunjung. Penjual bubur ayam dan roti goreng termasuk penjual yang ramai dikunjungi.
Lima belas menit kemudian, terlihat sudah ada petugas-petugas yang mulai datang. Pengunjung pun sudah mulai ramai memadati gerbang museum kereta. Pak satpam sudah terlihat berdiri di depan gerbang.

Uniknya, menurut pegawai kantor, ketika gerbang dibuka, akan ada pengunjung yang berlari-lari menuju loket untuk mengambil antrian dan pengunjung yang naik kendaraan seperti di sirkuit.

Gerbang pun dibuka. Semua berebut ingin mendapatkan antrian di loket. Eh, ternyata loketnya masih belum dibuka. Saya pun mendapatkan antrian yang kelima.


Tiket

Begitu sampai di depan petugas loket, saya menjawab, "dua dewasa, satu  anak-anak". Harga tiket masuk museum saja :
Anak (3-12 tahun) : Rp. 5.000,-
Pelajar (berseragam) : Rp. 5.000,-
Dewasa : Rp. 10.000,-
Wisman : Rp. 15.000,- (ehm. Semoga saya nggak salah lihat ya, hehe)

Begitu kami masuk dalam museum, kami segera ke loket kereta wisata untuk antri lagi. Ibu-ibu banyak yang harus lari-lari menuju loket agar tidak kehabisan. Ckckck. Padahal dua gerbong kereta wisata dijatah untuk 100an orang. Dan kita pagi itu belum sampai 100 orang, hehe.

Oiya untuk beli tiket kereta wisata harus menunjukkan karcis masuk museum. Dan untuk 1 orang pembeli karcis hanya boleh membelikan karcis kereta wisata maksimal 4 orang. Rombongan lebih dari 20 orang harus melakukan sewa/reservasi ke Unit Pengusahaan Aset Daop 4, PT. KAI Daop 4 Semarang. Harga tiket kereta wisata sebesar 50.000 rupiah per orang baik anak-anak (diatas 3 tahun) maupun dewasa.

Kereta wisata yang digunakan pengunjung adalah kereta wisata regular (diesel) dengan model vintage dan kereta uap. Untuk kereta wisata mesin diesel dilayani tiap hari sabtu, minggu, dan hari libur nasional.

Sedangkan kereta wisata yang saya naiki adalah kereta wisata regular (diesel). Sedangkan kereta uap hanya boleh disewa maksimal 20 orang per gerbong dengan harga sekitar (Rp 6.000.000,-). Memang kereta uap ini lebih mahal. Bayangkan saja, mau naik kereta, bahan bakarnya kayu yang dibakar sampai mesin panas karena keluar uapnya.


Jam Buka

Loket masuk museum sudah dibuka pukul 08.00 begitu juga untuk loket tiket kereta wisata. Pembelian tiket juga bisa untuk jam keberangkatan kapan pun. Waktu saya kesana, hari minggu, jam keberangkatan kereta wisata adalah jam 10.00, 11.00, 12.00, dan 14.00.


Rute kereta

Rute kereta wisata ini adalah Ambarawa – Tuntang atau Ambarawa – Bedono. Waktu saya beli tiket, rute kereta adalah Ambarawa – Tuntang. Sayangnya saya juga nggak menanyakan untuk rute Ambarawa – Bedono kapan saja.

Apa saja yang ada di Museum Kereta Api Ambarawa?

Poster Sejarah

Masuk museum kereta, kita akan disuguhkan poster-poster tentang sejarah museum kereta Ambarawa. Dulu, museum ini bernama Stasiun Willem I tahun 1787 sebagai wujud penghormatan terhadap Kerajaan Belanda. Stasiun Willem I dulunya melayani Yogyakarta sampai Semarang melewati Ambarawa. Jalur ini cukup penting untuk membawa pasukan-pasukan Belanda.

Di Museum Kereta Ambarawa juga dipajang poster yang panjang untuk menjelaskan sejarah perkeretaapian secara singkat.

NISM adalah perusahaan kereta api pertama di Indonesia. Sejarah transportasi massal berawal dari Desa Kemijen, Semarang tahun 1864 dimana pembangunan rel kereta api dimulai. Hingga terowongan Wilhemina yang terkenal panjang tapi sudah tidak pernah digunakan lagi.

Lokomotif Jaman Dulu

Jaman dulu memang kereta api masih menggunakan mesin uap. Bayangkan saja jika ingin menggunakan kereta api harus dipanaskan dulu dengan cara dibakar kayunya untuk mendapatkan uap panas agar bisa jalan.  Betapa merepotkan, ya.

Di museum ini terdapat sekitar 20an lokomotif uap yang sudah dimuseumkan. Jenisnya pun macam-macam. Tapi saya nggak hapal, hehe. Tak lupa, saya dan keluarga berfoto-foto di depan lokomotif.


Suasana Stasiun Jaman Dulu

Karena museum ini dahulunya ada stasiun sehingga suasana yang ditawarkan juga jadul. Desain arsitektur museum jaman kolonial menambah suasana jaman dulu. Disini kita bisa berfoto-foto.

  



Barang Peninggalan Stasiun

Barang-barang peninggalan stasiun kereta api jaman dulu dipamerkan di museum ini (yang sempat terekam oleh kamera) seperti loket kereta, mesin cetak tiket, timbangan barang, mesin hitung, lampu handsign, lemari tiket, semboyan, topi dinas, telegraf, peneng asongan, telepon ladang.





Saya terbayang bagaimana penumpang dulu naik kereta. Setiap akan naik kereta, mereka siap menyerahkan tiket. Dari tiket itu, petugas kereta akan memeriksa karcis menggunakan mesin cetak tiket. Mesinnya pun besar.

Yang unik menurut saya adalah lampu handsign yang digunakan untuk memberi tanda bagi masinis di malam hari. Ada lagi peneng asongan yang bertugas untuk meminta pedagang asongan agar memberitahu kalau mereka harus turun dari kereta karena akan berangkat.

"I Ambarawa"

Satu lagi ikon museum kereta Ambarawa yang nggak boleh dilewatkan adalah berfoto di depan tulisan I Ambarawa. Memang enak pagi pas lagi sepi dan ketika matahari belum panas. Kita bisa berfoto tanpa harus berebut dengan pengunjung.


Toilet, Musholla, Arena Bermain

Museum juga menyediakan toilet dan musholla yang nyaman bagi pengunjung. Selain itu, ada arena bermain bagi anak-anak sambil menunggu kereta wisata berangkat.

Piknik Dalam Museum

Bisa banget loh piknik dalam Museum Kereta. Waktu saya kesana saya lihat ada pengunjung bawa tikar juga satu kotak yang saya duga berisi makanan. Benar saja, pas saya masuk ke dalam museum sudah ada pengunjung yang gelar tikar di bawah pohon yang teduh ditambah angin sepoi-sepoi. Soalnya di dalam museum ini nggak ada yang jual makanan, adanya di luar museum dan di samping pagar. Pengunjung biasa beli dari dalam. Mungkin beberapa pengunjung yang tahu tentang hal itu akhirnya membawa makanan dan tikar sendiri untuk dimakan saat siang.

Kereta wisata

Akhirnya tibalah waktunya bagi para pengunjung untuk menikmati pegunungan dengan menaiki kereta wisata atau mountain railway tour. Begitu petugas meminta para pengunjung untuk tidak terlalu dekat dengan jalur kereta, tak lama kereta wisata itu pun tiba. Lokomotif yang berwarna kuning dan menambah kesan vintage sudah terlihat dari kejauhan.

Gerbongnya yang berwarna hijau tua juga pun tak kalah vintage dan sangat mendukung warna lokomotifnya. Pagar kereta di desain seperti kereta jaman dulu.



Pengunjung sepertinya tak sabar untuk segera menaiki kereta tersebut. Begitu kereta berhenti, mereka terburu-buru untuk segera naik kereta. Saya dan suami pun menyusul mereka naik gerbong itu. Saya dan keluarga dapat tempat duduk dekat pintu masuk. Pengunjung lain pun segera menaiki gerbong kereta, sementara lokomotifnya berbalik arah di tempat berputar (aduh namanya apa ya?). Lokomotif kereta jaman dulu belum bisa mundur, jadi harus diputar di tempat khusus. Lokomotif datang dan menyambungkan kembali sambungan ke gerbong penumpang. Kereta pun jalan.

Tujuan perjalanan wisata kereta ini yaitu stasiun Tuntang. Pemandangan sepanjang perjalanan tak hanya memperlihatkan kehidupan pedesaan Ambarawa tapi juga pegunungan, sawah, dan Rawa Pening. Kami melihat aktivitas para petani, penambak, sampai penduduk yang menaiki perahu kecil untuk memancing ikan.



Sekitar setengah jam akhirnya kami tiba di Stasiun Tuntang. Di sana, kereta wisata beristirahat selama 15 menit. Saya dan suami turun dari kereta untuk sekedar melihat-lihat rupa stasiun sementara lokomotif harus berganti posisi lagi untuk kembali ke Ambarawa.

Sambungan antara lokomotif dan gerbong sudah terpasang, para penumpang langsung menaiki kereta kembali. Perjalanan kembali pulang ke Ambarawa.

Selama satu jam akhirnya kami kembali ke Museum Kereta Ambarawa. Dengan waktu selama itu, saya sendiri merasa puas dengan harga tiket pulang pergi seharga Rp. 50.000,-.

Begitu sampai stasiun Ambarawa, banyak pengunjung untuk kloter selanjutnya yang menanti kedatangan kereta kami. Saat kami turun pun, mereka terburu-buru untuk segera naik alhasil kami sempat tidak bisa turun. Petugas pun menghimbau untuk menunggu penumpang turun dulu.
Pengunjung Museum Kereta Ambarawa di hari minggu jam 11.00 siang saja sudah banyak sekali orang. Untung saja saya dan suami sudah sejak tadi pagi tiba di stasiun. Selain udara tidak panas, pengunjung pun belum begitu banyak, jadi saya puas berfoto-foto. Akhirnya kami pun pulang dengan rasa puas karena sudah keturutan, hehe.

Kalau lagi berwisata ke Semarang, Museum Kereta Api Ambarawa ini adalah salah satu destinasi wisata sejarah yang patut dicoba.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

9 komentar

  1. Wahhh aq blm kesampaian mb ke museum kereta di Ambarawa. Pengen wisata kereta kuno. Thx mb info sryikelnya bermanfaat. Kpn2 pengen kesana...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mbak enak kesana rombongan trus diorganisir biar bisa naik kereta uap

      Hapus
  2. Baru bisa ke sana kalo libur. Du..du..

    BalasHapus
  3. Hmmmm. . . . Ambarawa
    Keinget pertempuran palagan ambarawa

    BalasHapus
  4. Wah pernah tinggal 2 tahun di Semarang mba? Dalam rangka apa?

    BalasHapus
  5. Seru sekali ceritanya mbak, udah lama gak ke Semarang nih. ke sana waktu Aiman umur 2,5 thn hehehe
    Sepertinya menarik nih Museum Kereta Api Ambarawa

    BalasHapus

Follower