Pernahkah terbayang bagaimana kehidupan masyarakat yang tinggal dekat dengan Tempat Penampungan Sampah (TPS) atau Tempat Penampungan Akhir (TPA) Sampah?

Dulunya, di wilayah timur kota Surabaya, terdapat kampung yang terkenal kumuh dan dekat dengan eks TPA. Namanya Kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo.

Kondisi bangunan tidak sesuai standar kenyamanan, keamanan, kesehatan dan lainnya. Penyediaan air minum yang terbatas karena tidak ada perpipaan PDAM. Pengelolaan persampahan buruk. Sampah-sampah berserakan. Pengelolaan air limbah buruk. Lingkungan kampung Keputih Tegal Timur Baru terlihat gersang. Tak ada tanaman yang meneduhi lingkungan mereka. 

Wilayah ini terisolasi dari hiruk pikuknya Kota Surabaya. Sebuah kampung yang tak banyak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya Surabaya. Penduduknya merupakan golongan prasejahtera dengan mata pencaharian buruh, pemulung, dan lainnya. 

Hingga muncul pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat untuk membuat perubahan yang lebih baik pada kampung Keputih Tegal Timur Baru.

Bagaimana agar kampung ini menjadi lebih baik sehingga dikenal orang?

Bagaimana agar orang mau berkunjung ke kampung mereka?

Musyawarah antar warga pun dilakukan. Mereka mulai berembug pada setiap permasalahan penataan lingkungan di Kampung Keputih Tegal Timur Baru. Masyarakatnya sendiri siap menjadi agent of change untuk hidup yang lebih baik.

Seberapa jauh kampung Keputih Tegal Timur Baru bisa menjadi agent of change?

Gapura KBA Keputih


Sampah Tak Lagi Berceceran

Mereka harus memikirkan bagaimana agar masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, bagaimana agar lingkungan mereka bebas sampah, bahkan bisa menghasilkan.

Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota membuat petugas sampah dari Dinas Kebersihan tidak mengangkut sampah di kampung mereka. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo, berinisiatif menyediakan petugas sampah dari kampung mereka. Biayanya diperoleh dari hasil iuran kebersihan warga. Bisa dibayangkan, golongan prasejahtera itu masih harus membayar iuran kebersihan. Mereka tetap berkomitmen untuk membuat lingkungan mereka bersih dan layak dikunjungi.

Tak hanya menyediakan petugas sampah sendiri, masyarakat sudah paham bahwa sampah-sampah yang mereka hasilkan setiap hari masih bisa dijual kembali. Tentunya, ini bisa menambah penghasilan masyarakat.

Mereka belajar mengelola Bank Sampah. Pihak kecamatan melatih mengelola Bank Sampah pada masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru. Awalnya, memang susah untuk memisahkan sampah basah, sampah kering dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Seiring berjalannya waktu, kebiasaan memilah sampah membuat masyarakat tidak lagi kesulitan.

Hasil pemilahan sampah mampu sedikit tambahan pendapatan masyarakat kampung Tegal Timur Baru untuk kebutuhan sehari-hari.

Gayung pun bersambut, PT. Astra International Tbk memberikan bantuan kepada Kampung BERSERI (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri) Astra, termasuk kepada Kampung Tegal Timur Baru untuk merenovasi bangunan Bank Sampah yang sudah ada ditambah dengan papan nama Bank Sampah.

Kampung Menjadi Lebih Hijau

Kampung yang dulunya gersang kini disulap menjadi kampung yang asri nan hijau. Awalnya, para masyarakat desa merasa perlu untuk menambah tanaman-tanaman di depan rumah mereka. Mereka membeli tanaman sendiri walaupun hanya tanaman-tanaman kecil. Pot-pot kecil diletakkan di depan rumah masing-masing. Tanaman-tanaman itu pun merupakan hasil swadaya masyarakat.

Kampung yang Asri di Kampung Keputih Tegal Timur Baru



Tak hanya itu, warga bergotong-royong untuk mempercantik kampung dengan memberi pagar dan mengecat bagian pinggir jalanan berpaving, mengecat pot-pot bunga dan pagar bambu di depan rumah.

Tak hanya swadaya masyarakat, PT. Astra International Tbk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) memberikan bantuan yang berwujud Rumah Toga dan beberapa pot-pot untuk diletakkan di depan rumah warga. Tanaman merambat Markisa juga ditanam di depan rumah-rumah warga.

Tanaman Markisa Meneduhi Jalanan di Kampung Keputih (dok.pribadi)

Berdasarkan data dari Khasanah (2015), pembangunan yang Astra laksanakan dari Juni 2013 hingga akhir 2014 berupa pengembangan pusat pembibitan tanaman dengan pemberian 8100 bibit tanaman produktif seperti Cabe, Terong, dan Tomat, dan bibit tanaman hias seperti Markisa dan Anggur.


Air Terbatas, Bukan Alasan Untuk Menyerah

Masalah tak hanya selesai sampai penyediaan vegetasi saja tapi masyarakat mengalami kesulitan air untuk menyirami tanaman. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru berada di daerah yang sulit dijangkau dengan air bersih. Kualitas air pun kurang bagus. Sebenarnya ada Master Meter dari PDAM masuk ke kampung tapi sayanganya debitnya terlalu kecil sehingga saat pagi dan sore masyarakat tidak kebagian. 

Agar tetap bisa hidup, masyarakat harus mengambil dan membeli air di sumber PDAM dengan jerigen atau membeli air pada warga yang dialiri PDAM. Ada juga yang mengambil air di Bumi Marina. Masyarakat pun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sebulan bisa sampai ratusan ribu. Kondisi itu berjalan hingga bertahun-tahun lamanya. Bahkan sampai saat ini.

Persediaan air yang terbatas tak membuat mereka menyerah untuk menyediakan vegetasi pada kampung mereka dan menyirami tanaman-tanaman tersebut.

Mengetahui permasalahan tersebut PT. Astra International Tbk bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membangun Water Treatment Plant (Instalasi Pengolahan Air) untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari warga.

Water Treatment Plant di Keputih

Masyarakat membayar delapan jerigen air untuk harga Rp. 2.000,-. Harganya lebih murah daripada harus membeli air dari PDAM seharga Rp. 10.000,- untuk delapan jerigen (Khasanah, 2015).
Warga Kampung Keputih Menampung Air di Jerigen

Kendala penggunaan WTP adalah saat air sungai surut, air di WTP tidak bisa dimanfaatkan karena rasanya asin sehingga masyarakat membeli air di jerigen-jerigen dari wilayah lain. 

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di depan musholla juga membantu masyarakat membuat sisa air wudhu untuk menyirami tanaman.

Air Hasil IPAL untuk Menyiram Tanaman

Menuju Kampung yang Cerdas

Tak hanya ingin mengubah lingkungan menjadi bersih, sehat dan hijau, PT. Astra International Tbk membangun Rumah Pintar untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat. Awalnya bangunan Rumah Pintar itu adalah balai RT. Rumah Pintar pun diresmikan oleh Bu Ani Yudhoyono tahun 2014. Bangunan dua lantai tersebut berisi buku bacaan anak-anak, alat permainan edukatif, pembelajaran audio visual, computer, printer, dan sentra kriya.

Hanya saja, Rumah Pintar ini belum begitu efektif dan masyarakat belum menggunakannya secara maksimal untuk meningkatkan budaya literasi.

Kampung yang Mandiri

Selain pengumpulan sampah kering di Bank Sampah yang bernilai ekonomis, sampah basah dikumpulkan di Rumah Kompos yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Tentunya dapat menambah penghasilan masyarakat. Menurut Khasanah (2015), Setiap bulannya Rumah Kompos dapat memproduksi 500 kilogram pupuk kompos dengan penghasilan sebesar Rp. 1.000.000,-. Sedangkan setiap bulannya Bank Sampah dapat mengumpulkan 500 kilogram barang bekas (Khasanah, 2015). Tanpa kerja sama dan komitmen masyarakat untuk menjalankan Bank Sampah dan Rumah Kompos, maka bantuan dari Astra tersebut tak optimal memberi manfaat.

Kehadiran Rumah Jamur yang dikelola oleh warga dengan bantuan dari Astra, khususnya RT 8, rupanya memberikan nuansa baru bagi geliat perkembangan perekonomian kampung. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga tumbuh di kampung tersebut, seperti UKM Tempe, UKM Saridele, UKM Kerupuk, dan UKM Binatu (Laundry). 

Sayangnya, usaha pengolahan Markisa tidak berjalan karena tanaman Markisa yang semakin menurun. Harapannya bantuan-bantuan tersebut untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam perekonomian.

Mural Graffiti Pengolahan Buah Markisa

Menuju Masyarakat yang Sehat

Dulunya, banyak warga yang tidak punya kamar mandi sendiri sehingga dibangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) Komunal. Saat saya kesana, saya melihat MCK Komunal tersebut seperti kurang terawat atau mungkin tidak terpakai dan kurang terjaga kebersihannya.

MCK Komunal di Keputih Tegal Timur Baru

Kampung Keputih Tegal Timur Baru juga memiliki lapangan olahraga yang tak hanya dimanfaatkan untuk berolahraga (futsal, voli, bulutangkis, dan basket) tapi juga untuk kegiatan sosial kemasyarakatan seperti perayaan kemerdekaan Indonesia dan pertemuan lainnya.

Pembawa Perubahan

Bukan sebuah perjalanan yang singkat untuk menjadi Kampung Berseri Astra. Warga bergotong-royong menciptakan lingkungan yang hijau, bersih dan sehat untuk mengikuti lomba kebersihan tingkat kota Surabaya. Sampah-sampah tidak lagi berserakan. Vegetasi banyak menghiasi sepanjang jalan kampung. Bank Sampah yang dikelola masyarakat mengubah perilaku mereka sedikit demi sedikit untuk lebih memanfaatkan sampah. Walaupun akhirnya masuk dalam peringkat 500 besar tapi lingkungan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hingga pada akhirnya Kampung Keputih Tegal Timur Baru terpilih menjadi Kampung Berseri Astra yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Astra International Tbk. 

Kenapa bisa terpilih? 

Menjadi Kampung Berseri Astra, sebuah kampung harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Kampung Keputih Tegal Timur Baru telah memenuhi kriteria-kriteria seperti tata lingkungan yang baik, memiliki sifat gotong-royong, dan kemudahan akses untuk sosialisasi dan pengawasan program.

PT. Astra International Tbk bersama masyarakat Kampung Keputih Tegal Timur Baru sudah melakukan pengembangan penataan lingkungan yang akhirnya membawa kampung tersebut beberapa kali menjadi pemenang dalam lomba Green and Clean Kota Surabaya.



Sejak Juni 2013, Astra melakukan pengembangan-pengembangan lingkungan agar kampung tersebut menjadi kampung yang bersih, asri dan menjadi pusat edukatif. Dalam jangka 2013-2015, Astra telah memberikan bantuan barang bernilai Rp. 400.000.000,- untuk merenovasi balai RT menjadi Rumah Pintar, membangun Rumah Kompos, membangun WTP, IPAL, Bank Sampah, pembelian mesin pencacah sampah organic, bibit tanaman, pemavingan lapangan, pembelian bamboo untuk batas jalan, polybag, pembangunan gapura, pengecatan bamboo dan gapura, dan peresmian Kampung Berseri Astra tanggal 14 Oktober 2014. Harapannya, di tahun 2020, Kampung Keputih Tegal Timur Baru akan menjadi ikon kota Surabaya.

Beberapa penghargaan yang pernah diterima antara lain Pemenang Green and Clean Tema Lingkungan Berbunga Kategori Pemula Tahun 2013, Partisipasi Masyarakat Terbaik Green and Clean Kategori Berimbang Tahun 2014, Pengelolaan Lingkungan Terbaik Green and Clean Kategori Maju Tahun 2015, Partisipasi Masyarakat Terbaik Kategori Maju tahun 2016, dan masih banyak lagi.

Astra bersama masyarakat kampung tersebut masih terus mengembangkan lingkungan kampung tersebut agar berhasil mewujudkan Kampung Keputih Tegal Timur Baru menjadi kampung yang BERSERI atau Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri.

Progress is impossible without change, those who cannot change their minds cannot change anything
- George Bernard Shaw -

Perkataan Bernard Shaw, seorang novelis asal Inggris, mungkin benar untuk siapapun yang ingin membuat perubahan lebih baik dalam hidup. Tidak mudah mengubah perilaku yang sudah melekat dalam suatu individu.

Menjadi masyarakat yang bertindak sebagai agent of change di kampung Keputih Tegal Timur Baru adalah sebuah pekerjaan yang tak mudah. Bukan berarti tak mungkin. Masyarakat kampung tersebut memiliki semangat dan kerja keras untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lebih baik. Mereka bisa membuktikan dengan mengubah mindset mereka ke arah yang positif. Itulah agent of change.

Tak cukup hanya mengandalkan bantuan dari PT. Astra International Tbk,  keikutsertaan masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru dalam pengembangan kampung menjadikan kampung tersebut berseri dan lebih hidup.



DAFTAR PUSTAKA
Khasanah, Anisa Nur. 2015. Implementasi Program Corporate Social Responsiility Pt. Astra International Tbk Di Kampung Berseri Astra. Jurnal Publika Vol 3, No 2  Tahun 2015.
Prasetyo, Galih Adi. 2017. Air Jagir Bisa Siap Pakai Dengan WTP. https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20170724/282278140394299




Read More
Jaman sekarang ya sebagian besar orang sudah punya media sosial baik untuk menulis status tanpa foto maupun yang pakai foto seperti instagram. Hampir setiap tempat yang kita kunjungi tak luput dari bidikan kamera smartphone kita. Dan pastinya tak luput jua mengunggahnya di media sosial.

Begitu pun saat saya sedang mengadakan pelatihan di Yogyakarta. Tempat acaranya berada di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Alhamdulillah saya punya kesempatan menikmati hotel-hotel gratis. Hehe. Sebelumnya berkesempatan merasakan Hotel Kartika Chandra dan hotel Ibis Style Sunter.

Lokasi hotel Tjokro Style yang merupakan hotel bintang tiga ini sangat strategis karena berada tak jauh dari bandara Adi Sutjipto dan tak jauh dari Keraton Yogyakarta.

Berwisata ke Yogyakarta memang perlu memperhatikan aspek lokasi hotel yang strategis. Traveling ke Yogyakarta pun rasanya nggak cukup kalau nggak diunggah di media sosial. Siapa juga yang nggak tahu Yogyakarta, kota yang terkenal dengan gudeg dan Keraton Hamengkubuwono sudah sering menjadi destinasi wisata para turis mancanegara.

Nah, kebetulan saya ingin mereview hotel yang saya tinggali selama tiga malam ini. Karena saya sampai sana malam hari jadi saya nggak begitu ngeh dengan desain interiornya.

Saat hari kedua, saya baru mulai merasa ada yang berbeda dengan hotel Tjokro Style ini. Hotel ini sangat instagrammable. Yuk, coba kita lihat aja.

Lobby Hotel

Lobby hotel ini terkesan sangat lowong walaupun berada di tanah yang tidak begitu lebar. Lah, wong bapak saya mau parkir saja harus muter ke depan ke belakang sama tukang parkir. Gara-gara parkirannya nggak cukup sedangkan tamu yang datang cukup banyak.

Selama tiga hari tiga malam di sana memang hotel bintang tiga ini sering digunakan untuk kegiatan meeting dari berbagai instansi. Dan bagi saya lobyy hotel yang terkesan luas ini membuat siapapun yang datang merasa lelahnya hilang. Di pojokan banyak sofa disediakan bagi tamu yang ingin santai sejenak. Belum lagi background dinding yang cocok untuk berfoto-foto.


Di dekat meja resepsionis juga ada kursi becak panjang dengan topi-topi petani berwarna-warni diletakkan di atas kursi becak. Di sampingnya, ada properti foto tradisional yang bisa digunakan untuk menambah manisnya foto kita seperti blangkon dan baju jawa.




Di sudut lainnya, ada properti foto dengan latar jendela buatan (nggak bolong) dan sepeda vintage. Ada juga frame foto dari kayu bertuliskan happy forever.




Oiya, meja resepsionisnya pun didesain dari batu bata dan latar resepsionisnya dari balok-balok yang disusun.



Free Welcoming Drink

Suasana lobby yang nyaman, sofa yang cukup banyak dan nyaman semakin terasa menyenangkan saat ada fasilitas free welcoming drink. Yang disediakan nggak cuma minuman hangat (saya nggak begitu yakin sih kayaknya teh rosella) tapi juga cemilan seperti keripik telo ungu dan cemilan lain yang saya nggak tahu namanya. Setidaknya saya bisa menyuguhkan orang tua saya minuman hangat setelah perjalanan dari Sragen.


Kamar

Saat saya masuk kamar, teman saya sudah di kamar beserta seorang anak perempuan yang cantik. Kamar yang diberikan panitia dengan model tempat tidur twin bed. Saya melihat keluar jendela. Pemandangan rumah-rumah terhampar di kelilingi oleh pegunungan.

Fasilitas yang ada layaknya fasilitas di hotel bintang tiga lainnya. Selama tiga hari di hotel, saya selalu merepotkan pegawai hotel. Pertama, saya minta dibersihkan sampahnya. Kedua, saya minta irisan bawang merah karena anak saya lagi demam. Untungnya mereka nggak jutek atau malas-malasan.

Restoran

Apa yang unik dari restorannya setelah saya amati di hari kedua di sana adalah atap restoran yang terbuat dari jendela-jendela kuno rumah jawa. Restorannya saja juga instagrammable.





Menu yang disajikan lebih banyak menu-menu Indonesia seperti bubur ayam, soto, sop sayur, gudeg, nasi kuning, bubur sum-sum, bubur kacang hijau, gorengan. Sedangkan menu luar negeri yang saya rasakan seperti tom yum, salad sayur, kue pastry. Makanan yang disajikan cukup beragam walaupun ada beberapa menu yang sama setiap harinya seperti makanan tradisional jawa.

Menurut saya, secara keseluruhan, makanannya yang memakai sambal cukup pedas. Biasanya kalau di hotel, sambalnya nggak pedas. Saya sempat merasakan tom yum nya. Dan ya ampun pedas banget. Mungkin tom yum memang disajikan pedas ya?

Oiya, saya suka sekali dengan butter. Jadi saat saya melihat ada butter di samoing meses saya pun mengoleskan pada roti baguette yang disediakan. Saya sempat sedikit surprise ketika saya mengambil butter dan saya oleskan pada roti baguette-nya. Saya kira bener-bener butter seperti merk elle & vire, eh ternyata butternya adalah margarine, hehe.

Nggak hanya di dalam ruangan, bagi yang suka merokok bisa makan di luar ruangan dekat dengan kolam. Di luar ruangan juga ada bar untuk minuman coffee.



Selain itu, di luar ruangan ada permainan sepak bola yang dilakukan pakai tangan. Apa ya namanya?

Kolam renang

Kolam renangnya juga nggak terlalu luas. Kedalamannya hanya sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter. Warnanya biru membuat saya ingin berenang. Sayangnya, hujan terlalu sering mengguyur Yogyakarta dan waktu yang nggak pas untuk berenang. Kamar mandi kolam renang pun terlihat nyaman dan bersih.


Di dekat lift, ada sebuah kursi dengan beberapa bingkai foto di dinding belakangnya. Saya pun mengambil foto saat saya sudah selesai melaksanakan pelatihan.

Anak demam?

Di hari kedua saya di sana, anak saya demam. Saya kurang tahu sebabnya apa. Yang saya ingat saat hari kedua, saya nggak menemukan kaos kaki anak saya di kamar. Sementara di ruangan meeting cukup dingin. Saat bangun tidur saya merasakan tubuh anak saya panas.

Malam hari, saya pun mencari apotek. Untungnya, apotek ada di depan hotel. Hanya jalan sedikit. Di hotel pun, saya sempat meminta irisan bawang merah sama pegawai hotel. Saya pun mengoleskannya pada seluruh badan anak saya. Demam anak saya naik turun. Bahkan sampai rumah di Sidoarjo, demamnya kadang muncuk kadang nggak. Sempat khawatir tapi alhamdulillah sudah nggak muncul lagi saat hari ketiga.

Akhirnya berakhir juga pelatihan menulis saya di Hotel Tjokro Style. Menginap di hotel di Yogyakarta ini bukan hanya dimanjakan oleh nyamannya kamar hotel tapi juga makanannya dan spot fotonya.

Read More

"Ngapain aja di rumah? Kok gini-gini aja rumahnya?"

Kalimat itu memang terdengar sedikit sarkasme saat suami pulang kerja dan melihat rumah berantakan tak karuan sedangkan makanan yang dimasak nggak menarik.

Kadang saya bingung juga kenapa isi rumah juga nggak beres-beres. Setiap saya bersihkan kotor lagi. Bersihkan lagi. Kotor lagi. Siapa lagi kalau bukan si anak kecil yang ngotorin.

Sampai suatu ketika saat lagi nggak mood, akhirnya saya bilang, "Ya udah pasang cctv aja, biar tahu di rumah ngapain aja." Saya galak ya? Hahaa.

Pernah juga saat bapak datang ke rumah terus komentar, "Ya ampun kotor banget."

Kadang sih kepikiran artikel yang pernah saya baca di media sosial. Alhamdulillah rumah berantakan. Pertanda anak masih sehat. Hehe. Tapi kalau seperti ortu sama suami yang capek habis dari luar ngelihat rumah berantakan pasti rasanya risih.

Saya sih senyum aja. Mau gimana lagi punya anak cowok. Baru diberesin bentar sudah diacak-acak lagi. Apalagi si anak kelihatan bingung kalau kamar bersih. Pasti langsung bongkar-bongkar mainan padahal sih nggak dimainin. Wkwkwk.

Sampai-sampai saya mengajak dia bermain yang membuat dia anteng (diam) sejenak. Nggak cuma bisa membuat dia anteng saja, tapi juga bisa melatih motorik kasar dan halusnya.

Awalnya, saya pikir, toh anak akan belajar sendiri tanpa harus diajari. Ternyata saya salah, masa kritis perkembangan anak justru harus dilatih agar tidak terjadi disfungsi otak minor, kecerdasan kurang dan keterlambatan bicara, termasuk gangguan perkembangan motorik halus dan kasar seperti yang dijelaskan oleh WHO (World Health Organitation) dan Depkes RI (2006).

Serem, ya!

Sebenarnya tiap hari aktivitas anak saya, Raceqy yang akhir tahun ini berusia 3 tahun, juga sudah mengasah motorik kasar dan halusnya, seperti berlari, melompat, atau bahkan mencoret-coret.

Katanya, motorik kasar anak yang sudah biasa dilatih maka akan lebih mudah menstimulasi motorik halusnya. Makanya, anak-anak akan lebih sering melakukan aktivitas motorik kasarnya dibanding motorik halus karena motorik kasar lebih mudah dilakukan dibanding motorik halus.

Aktivitas dengan menggunakan motorik kasar ini dilakukan dengan otot-otot tubuh seperti berlari, melompat, bersepeda, dan lain-lain.

Ternyata melatih motorik anak tak hanya bisa membantu perkembangan otak anak usianya tapi juga bisa menggapai prestasi. Asal kita sebagai orang tua mengarahkan dengan baik. Banyak sekali aktivitas-aktivitas anak yang melatih motoriknya sekaligus sebagai ajang untuk menggali bakat anak.
Di golden age ini saya tidak ingin melewatkan satu golden moment pun untuk melatih motorik kasar dan halus anak.

Perbedaan Motorik Kasar dan Motorik Halus

MOTORIK HALUS

Buah Kesabaran Mengajak Menggambar

Momen yang tak terlupakan bagi saya saat melatih motorik halusnya adalah saat saya mengajaknya menggambar walaupun saya nggak jago gambar. Saya merasa semakin lama anak saya semakin kebingungan dengan aktivitas yang dia jalani. Mungkin mainannya kurang bervariasi kali ya. Hehe.
Saya membuatkan gambar yang mudah seperti ikan, rumah, mobil, sepeda, motor. Maklum nggak bisa yang sulit-sulit. Kebetulan ada spidol warna jadi sekalian saya warnai.

Saya ajarkan dia juga untuk memegang spidol. Pertama memang kesusahan memegang spidol atau pulpen tapi akhirnya dia jadi terbiasa.

Lama-lama kok Raceqy ketagihan yaa. Bukan ketagihan gambar sendiri tapi minta digambarin. Wkwkwk. Iya kalau gambarinnya dua gambar udah, lah ini minta gambarinnya itu-itu aja. Berkali-kali pula.

Untungnya saya masih punya stok sabar jadi saya sabar aja walau kadang capek juga. Saya mau masak, dia minta gambarin dulu. Saya mau sholat, dia minta gambarin dulu.

Sampai-sampai saya googling cara menggambar hewan-hewan dan transportasi. Terus saya ikutin caranya bagaimana, hehe.

Kadang saya nolak karena benar-benar harus masak, bisa kelaperan. Sampai akhirnya, dia mau gambar sendiri walau gambarnya corat-coret nggak jelas. Dia juga mewarnai hasil gambarnya atau gambar saya walau harus keluar dari garis.

Aktivitas begitu aja sudah bikin dia anteng sekali. Emaknya juga senang banget dong karena bisa disambi macam-macam, hehe.

Pencapaian
Sampai suatu ketika, saya sempat kaget. Di rumah mertua ada papan tulis dan spidol. Dia pun menggambar. Mungkin karena saya sering menggambar ikan ditambah dengan matanya jadi dia ngikuti membuat bentuk ikan disertai dengan matanya walaupun gambar ikannya belum sempurna. Hanya saja sudah terlihat bentuk badan dan matanya.

Hasil Melatih Motorik Halus


Dia bilang sendiri, "Bu, ini ikan. Ini mata. Bagus, kan?"

Saya pun kaget, ternyata selama ini dia minta gambar ikan berulang-ulang ternyata terekam di memori otaknya. Kemudian dia pun menirunya. Saya sempat menyesal kenapa saya menolaknya saat dia minta gambarin ikan, mobil dan motor karena saat itu saya bosan dan lelah. Kalau saya telaten menurutinya, mungkin dia sudah bisa gambar mobil dan motor kali ya. Hehe.


Melukis Ikan

Suatu saat, saya mengajaknya melukis ikan di gerabah yang diselenggarakan oleh salah satu toko asesoris. Pihak penyelenggara menyediakan pensil, gerabah berbentuk ikan dan cat minyak. Peserta tinggal mengecat dari fasilitas yang diberikan.

Untuk melukis, saya pun nggak punya bakat. Motivasi saya mengikutsertakan anak saya dalam latihan melukis biar dia punya aktivitas lain yang menarik dan mengasah motorik halusnya.

Dan anak saya adalah peserta termuda. Saya pun tak pernah mengajarkan dia melukis. Makanya saat ibu-ibu lain mengajari anak-anak mereka melukis dengan harapan hasilnya indah, saya malah membiarkan dia melukis sesuka hatinya.

Cat yang sudah saya tuang di palette dengan warna yang berbeda akhirnya tercampur juga gara-gara anak saya ngecat nggak dibersihkan di air dulu. Cat merah tercampur dengan cat kuning. Biru dengan merah. Putih dengan biru.
Hasilnya? Jangan ditanya. Namanya "ikan kelunturan cat". Hehe.

Melatih Motorik Halus Dengan Melukis


Pencapaian
Untuk melukis, memang Raceqy belum menunjukkan pencapaian yang luar biasa. Tapi bagi saya, dia mampu menyelesaikan lukisannya tanpa bantuan orang dewasa adalah pencapaian yang cukup menyenangkan hati saya. Dia sudah menunjukkan kemandirian dan kepercayaan dirinya dengan lukisan yang dia buat. Saya dan suami tentu tak lupa memberikan pujian atas lukisan yang sudah dia selesaikan.


MOTORIK KASAR

Tetap Having Fun dengan Bersepeda

Momen yang tak terlupakan lainnya bagi saya adalah mengajarkan dia bersepeda sampai dia berhasil naik podium walaupun mengajarkan bersepeda juga tidak mudah.

Sejak bayi, suami sudah membelikan anak saya sepeda. Hanya saja sepeda yang dibelikan roda tiga seperti sepeda dalam film kartun Sinchan. Jadi sampai anak usia 2,5 tahun, dia bermain sepeda tua itu.

Awalnya dia kesulitan untuk mengayuh pedalnya. Maklum sepeda tua tapi lama-lama dia terbiasa dengan sendirinya tanpa harus diajarin atau dilatih.
Setelah itu, suami saya membelikan sepeda yang bukan sepeda biasa. Sepeda ini tanpa pedal!

Saya juga sempat kaget, sepeda macam apa ini??

Saya pun tahu kalau sepeda itu bernama balance bike atau push bike.
Anak saya pun belum terbiasa dengan sepeda tanpa pedal itu. Jadi pertama dia takut-takut naik sepeda push bike. Suami tetap mengajari naik sepeda itu dan menenangkan dia untuk tidak perlu takut.

Saat suami kerja, giliran saya yang mengajarinya naik sepeda walau hanya di dalam rumah. Dia memang masih takut-takut. Saya cari cara agar dia nggak takut. Mau tahu apa?

Saya menaiki sepeda kecilnya! Haha. Untung saja saya kurus. Dia melihat saya dengan rasa penasaran tinggi. Lama-lama dia pun memberanikan diri walaupun saya harus membujuknya sampai gregetan. Pernah juga saya bilang, "Ya sudah, saya kasih Pak De saja, ya.”

Langsung saja dia menolak, "Nggak mau.” 

Setelah itu, dia mau deh naik sepedanya, hehe.

Melatih Motorik Kasar dengan Bersepeda

Tak sedikit juga anak saya nangis gara-gara jatuh padahal sepeda balance bike ini harusnya nggak sampai jatuh. Ia jatuh saat dia sedang berbelok di dalam terus nggak seimbang. Pernah juga saat latihan di Rampal ternyata lapangan rumputnya nggak rata dan ada lubang, anak saya pun terjatuh sampai menangis.

Gara-gara sering jatuh, dia sempat mogok naik sepeda. Dia maunya naik sepeda roda tiganya. Waduh! Saya membujukinya terus agar dia mau naik sepedanya. Lah, gimana sudah beli mahal-mahal nggak dipakai. Hehe. Untungnya mogoknya cuma beberapa hari aja. Setelah itu, dia mulai menikmati sepedanya.

Kompetisi pertama

Suatu ketika, ada push bike competition di Gondanglegi, Kabupaten Malang. Sekitar 45 menit dari kota Malang. Suami sangat bersemangat sekali mengajak anak saya ikut lomba itu. Sedangkan saya sendiri nggak terlalu berminat. Toh, anak saya mau bersepeda saja sudah senang. Apalagi biaya pendaftarannya juga tidak murah. Sempat juga saya bilang, "Walah, nanti aja kalau udah sering latihan.”

Tapi suami saya tetap ingin anak saya ikut kompetisi itu. Sedangkan anak saya sih mana tahu kalau dia sedang lomba. Yang dia tahu cuma main sama kakak-kakak dan balapan.

Sampai di tempatnya, suami menuntunnya untuk latihan di sirkuit sederhana. Saya hanya melihat dari tempat penonton.

Balapan pun di mulai. Anak saya yang nggak mengerti tentang dunia kompetisi balap sepeda. Saat lomba dimulai, saya berteriak histeris di pinggir sirkuit. Meneriakkan dan memberinya semangat untuk bisa melaju.

Pencapaian
Tak disangka, ternyata anak saya bisa menjadi juara 2. Alhamdulillah.
Sedangkan Raceqy, dia senang sekali bisa naik podium walaupun dia belum tahu makna kemenangan dan podium. Tapi melihat dia mau bermain bersama teman-teman yang belum dia kenal adalah sebuah pencapaian dalam menunjukkan keberaniannya.



Dia mampu menyelesaikan kompetisi sampai selesai dengan mood yang bagus adalah sebuah pencapaian dalam pengendalian emosinya.
Dia mampu menuruti apa yang menjadi aturan dalam kompetisi adalah sebuah pencapaiannya menunjukkan bentuk kerja samanya.

Melatih kemampuan motorik kasar memang menghabiskan energi. Apalagi saat kompetisi, anak saya cuma mau makan sedikit. Sedih sih tapi sudah sering begitu. Susah makan. Alhasil, saya selalu memberi apapun yang dia suka yang penting ada yang masuk ke perut. Waktu itu saat saya beli degan dia minta es campur. Baiklah saya turuti.

Waktu selesai melukis ikan, saya dan suami cari makan siang. Anak saya hanya mau makan sedikit. Maunya cemilan, kue atau snack.

Pentingnya Kemampuan Oromotorik

Ternyata, saya baru tahu kalau salah satu penyebab anak picky eater (memilih makanan) adalah stimulasi oromotor yang kurang. Menurut detik.com, oromotor atau oral motorik artinya sistem gerak otot yang mencakup area rongga mulut, termasuk rahang, gigi, lidah, langit-langit, bibir dan pipi.

Menurut dr. Damayanti pada detik.com, stimulasi oromotor berfungsi untuk mendukung kemampuan makan anak dan berbicara pada anak. Tak hanya picky eater, gangguan oromotor bisa dilihat dari kemampuan anak untuk makan yang sering tersedak, kesulitan menghisap air dari sedotan, sulit beralih ke tekstur makanan yang sesuai perkembangannya. Kalau sudah ada tanda begini maka lebih baik segera berkonsultasi pada dokter.



Suatu ketika saya dapat informasi di internet, kalau kukis Monde Boromon adalah kukis yang bisa melatih motorik anak yang ada di lidah dan mulut bayi.

Membantu melatih motorik

Kukis Monde Boromon  sudah menjawab masalah oromotor ini pada anak bayi.  Kukis ini punya tekstur yang lembut sehingga mudah meleleh saat kena air liur di mulut dan pastinya mudah dicerna. Dengan mengkonsumsi ini, maka akan melatih motorik yang ada pada lidah dan mulut bayi sehingga akan membantu bayi mengeksplorasi rasa, bentuk, tekstur dan kemampuan untuk makan.

Gluten free

Gluten adalah kandungan yang ada dalam tepung terigu. Tahu sendiri kan biasanya untuk membuat kukis itu pakai tepung terigu. Sedangkan kukis Monde Boromon ini bebas gluten (gluten-free).

Kenapa harus bebas gluten? Di beberapa anak yang mengalami alergi gluten, orang tua tidak memberikan makanan yang mengandung gluten, seperti makanan dari gandum, tepung, oat, cracker, biskuit, pasta, roti, kue, kukis, karena mengalami masalah pada usus halusnya.

Kandungan Bergizi Kukis Monde Boromon 

Kukis Monde Boromon ini terbuat dari sari pati kentang, gula dan telor dengan tambahan madu. Tepung yang digunakan pun bukan tepung terigu yang mengandung gluten tapi tepung kentang yang mengandung karbohidrat tinggi selain nasi. Adanya DHA pada kukis ini sangat bagus untuk perkembangan otak anak.



Kelebihan kukis Monde Boromon untuk melatih oromotorik ini memang bagus untuk perkembangan bayi. Karena terkadang, picky eater itu membuat emak-emak macam saya ini mudah emosi.

Nah, udah pasti ya kita sebagai orang tua nggak hanya melatih motorik kasar dan halus anak saja tapi juga oral motorik (oromotor) anak. Melatih tiga kemampuan ini akan memudahkan anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Pencapaian-pencapaian luar biasa yang ditunjukkan anak kita jangan sampai kita lewatkan. Lelah yang kita rasa pastinya segera sirna melihat pencapaian yang mereka tunjukkan.

Ada yang juga punya pengalaman seru saat menemani anak menstimulasi motorik mereka?




Sumber :
http://www.parenting.co.id/bayi/-bayi-sulit-makan-akibat-gangguan-fungsi-oromotor
https://m.detik.com/health/ibu-dan-anak/d-1647039/melatih-oral-motor-anak-agar-bisa-makan-dengan-benar
Read More

Follower