Hotel Tjokro Style : Hotel yang Instagrammable di Yogyakarta

5 comments
Jaman sekarang ya sebagian besar orang sudah punya media sosial baik untuk menulis status tanpa foto maupun yang pakai foto seperti instagram. Hampir setiap tempat yang kita kunjungi tak luput dari bidikan kamera smartphone kita. Dan pastinya tak luput jua mengunggahnya di media sosial.

Begitu pun saat saya sedang mengadakan pelatihan di Yogyakarta. Tempat acaranya berada di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Lokasi hotel Tjokro Style yang merupakan hotel bintang tiga ini sangat strategis karena berada tak jauh dari bandara Adi Sutjipto dan tak jauh dari Keraton Yogyakarta.

Berwisata ke Yogyakarta memang perlu memperhatikan aspek lokasi hotel yang strategis. Traveling ke Yogyakarta pun rasanya nggak cukup kalau nggak diunggah di media sosial. Siapa juga yang nggak tahu Yogyakarta, kota yang terkenal dengan gudeg dan Keraton Hamengkubuwono sudah sering menjadi destinasi wisata para turis mancanegara.

Nah, kebetulan saya ingin mereview hotel yang saya tinggali selama tiga malam ini. Karena saya sampai sana malam hari jadi saya nggak begitu ngeh dengan desain interiornya.

Saat hari kedua, saya baru mulai merasa ada yang berbeda dengan hotel Tjokro Style ini. Hotel ini sangat instagrammable. Yuk, coba kita lihat aja.

Lobby Hotel

Lobby hotel ini terkesan sangat lowong walaupun berada di tanah yang tidak begitu lebar. Lah, wong bapak saya mau parkir saja harus muter ke depan ke belakang sama tukang parkir. Gara-gara parkirannya nggak cukup sedangkan tamu yang datang cukup banyak.

Selama tiga hari tiga malam di sana memang hotel bintang tiga ini sering digunakan untuk kegiatan meeting dari berbagai instansi. Dan bagi saya lobyy hotel yang terkesan luas ini membuat siapapun yang datang merasa lelahnya hilang. Di pojokan banyak sofa disediakan bagi tamu yang ingin santai sejenak. Belum lagi background dinding yang cocok untuk berfoto-foto.


Di dekat meja resepsionis juga ada kursi becak panjang dengan topi-topi petani berwarna-warni diletakkan di atas kursi becak. Di sampingnya, ada properti foto tradisional yang bisa digunakan untuk menambah manisnya foto kita seperti blangkon dan baju jawa.




Di sudut lainnya, ada properti foto dengan latar jendela buatan (nggak bolong) dan sepeda vintage. Ada juga frame foto dari kayu bertuliskan happy forever.




Oiya, meja resepsionisnya pun didesain dari batu bata dan latar resepsionisnya dari balok-balok yang disusun.



Free Welcoming Drink

Suasana lobby yang nyaman, sofa yang cukup banyak dan nyaman semakin terasa menyenangkan saat ada fasilitas free welcoming drink. Yang disediakan nggak cuma minuman hangat (saya nggak begitu yakin sih kayaknya teh rosella) tapi juga cemilan seperti keripik telo ungu dan cemilan lain yang saya nggak tahu namanya. Setidaknya saya bisa menyuguhkan orang tua saya minuman hangat setelah perjalanan dari Sragen.


Kamar

Saat saya masuk kamar, teman saya sudah di kamar beserta seorang anak perempuan yang cantik. Kamar yang diberikan panitia dengan model tempat tidur twin bed. Saya melihat keluar jendela. Pemandangan rumah-rumah terhampar di kelilingi oleh pegunungan.

Fasilitas yang ada layaknya fasilitas di hotel bintang tiga lainnya. Selama tiga hari di hotel, saya selalu merepotkan pegawai hotel. Pertama, saya minta dibersihkan sampahnya. Kedua, saya minta irisan bawang merah karena anak saya lagi demam. Untungnya mereka nggak jutek atau malas-malasan.

Restoran

Apa yang unik dari restorannya setelah saya amati di hari kedua di sana adalah atap restoran yang terbuat dari jendela-jendela kuno rumah jawa. Restorannya saja juga instagrammable.





Menu yang disajikan lebih banyak menu-menu Indonesia seperti bubur ayam, soto, sop sayur, gudeg, nasi kuning, bubur sum-sum, bubur kacang hijau, gorengan. Sedangkan menu luar negeri yang saya rasakan seperti tom yum, salad sayur, kue pastry. Makanan yang disajikan cukup beragam walaupun ada beberapa menu yang sama setiap harinya seperti makanan tradisional jawa.

Menurut saya, secara keseluruhan, makanannya yang memakai sambal cukup pedas. Biasanya kalau di hotel, sambalnya nggak pedas. Saya sempat merasakan tom yum nya. Dan ya ampun pedas banget. Mungkin tom yum memang disajikan pedas ya?

Oiya, saya suka sekali dengan butter. Jadi saat saya melihat ada butter di samoing meses saya pun mengoleskan pada roti baguette yang disediakan. Saya sempat sedikit surprise ketika saya mengambil butter dan saya oleskan pada roti baguette-nya. Saya kira bener-bener butter seperti merk elle & vire, eh ternyata butternya adalah margarine, hehe.

Nggak hanya di dalam ruangan, bagi yang suka merokok bisa makan di luar ruangan dekat dengan kolam. Di luar ruangan juga ada bar untuk minuman coffee.



Selain itu, di luar ruangan ada permainan sepak bola yang dilakukan pakai tangan. Apa ya namanya?

Kolam renang

Kolam renangnya juga nggak terlalu luas. Kedalamannya hanya sekitar 0,5 meter sampai 1,5 meter. Warnanya biru membuat saya ingin berenang. Sayangnya, hujan terlalu sering mengguyur Yogyakarta dan waktu yang nggak pas untuk berenang. Kamar mandi kolam renang pun terlihat nyaman dan bersih.


Di dekat lift, ada sebuah kursi dengan beberapa bingkai foto di dinding belakangnya. Saya pun mengambil foto saat saya sudah selesai melaksanakan pelatihan.

Anak demam?

Di hari kedua saya di sana, anak saya demam. Saya kurang tahu sebabnya apa. Yang saya ingat saat hari kedua, saya nggak menemukan kaos kaki anak saya di kamar. Sementara di ruangan meeting cukup dingin. Saat bangun tidur saya merasakan tubuh anak saya panas.

Malam hari, saya pun mencari apotek. Untungnya, apotek ada di depan hotel. Hanya jalan sedikit. Di hotel pun, saya sempat meminta irisan bawang merah sama pegawai hotel. Saya pun mengoleskannya pada seluruh badan anak saya. Demam anak saya naik turun. Bahkan sampai rumah di Sidoarjo, demamnya kadang muncuk kadang nggak. Sempat khawatir tapi alhamdulillah sudah nggak muncul lagi saat hari ketiga.

Akhirnya berakhir juga pelatihan menulis saya di Hotel Tjokro Style. Menginap di hotel di Yogyakarta ini bukan hanya dimanjakan oleh nyamannya kamar hotel tapi juga makanannya dan spot fotonya.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

5 komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaa mbak sintia... maaafkeeunnn kepencet remove contenct dr dashboard komentarrrr hiikkkss..ngga gisa balikinnya ..huaa

      Hapus
  2. Boleh Juga Nih, Untuk Pilihan Hotel Saat Berlibur Ke Jogja, Terima Kasih Ya Infonya

    BalasHapus
  3. Instagramabke banget dan dekat dengan bandara, masuk bucket list. Apalagi seperti kakaka bilang, sambalnya pedas banget, sebagapai penyuka pedes, meski coba kesini ya.

    Tom yum memang pedes sih kak, tapi nggak pedes pedes amat.

    BalasHapus
  4. Saya waktu ke Jogja nginepnya di Pandanaran. Ini hotelnya juga keren ya, mba. Suasana Jawanya berasa. Menu makanannya juga lokal.

    BalasHapus

Follower