Hari Pertama Mengikuti UWRF 2019

No Comments
Selasa, 22 Oktober 2019

Tiba juga saya, suami, dan dua anak saya di bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul delapan malam. Setelah mengambil bagasi, kami segera keluar dari pintu kedatangan. Saya sempat khawatir karena biasanya saat di bandara saya harus mengontak orang yang menjemput saya, tapi dalam acara ini, tidak ada kontak dengan penjemput. Saya hanya diberi panduan untuk menemui panitia dengan baju UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) atau seseorang yang berpakaian Bali yang menjemput saya sambil membawa kertas bertuliskan Lita Lestianti.

Saya tidak melihat, justru suami saya melihat dan menunjuk ke arah panitia. Oiya, benar! Ada nama saya TERPAMPANG!  haha. sungguh saya tidak pernah dijemput dengan model seperti artis itu. Perjalanan dari bandara ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam karena waktu itu memang lalu lintas padat sedangkan jalan-jalan di Bali pun kebanyakan tidak lebar.

Saya pun sampai di hotel Yulia Village Inn yang ada di Jalan Monkey Forest. Rupanya, saya sudah kelelahan sampai saya lupa senyum kepada resepsionis. Gara-gara, katanya malam itu saya belum masuk dalam daftar reservasi. OMG! saya sudah kebayang saya akan cari hotel malam-malam yang belum tentu tersedia. Ternyata setelah di cek, petugas hotelnya yang salah memasukkan ke sistem karena waktu pemesanan dari panitia, sistemnya memang sempat eror. Ugh, leganya.

Dijemput panitia UWRF


Setelah mandi, saya pun ingin segera beristirahat di kamar yang nyaman sekali. Sayangnya, anak-anak baru saja terbangun dan mengajak main. Saya mempelajari jadwal acara UWRF.  Entah kenapa saya pun tidak bisa tidur membayangkan acara yang akan saya lalui lima hari selanjutnya. Setelah berhasil membujuk anak untuk tidur, saya pun ikut tidur.


Rabu, 23 Oktober 2019


Patron Brunch

Esoknya, saya pun siap-siap berangkat untuk Patron Brunch sekitar jam 10 pagi. Nah, di sini ada miskom dengan Writer Liaison (WL) saya. Dari awal sebenarnya sudah dibilang ada sesi penjemputan kendaraan pada sesi saya. Nah, beberapa jam sebelum acara saya tidak mendapat informasi via wa atau email, jadi saya kira tidak ada penjemputan. Ketika saya tanya WL, bisa tanya ke sesi transportasi, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut siapa sesi transportasi (begitulah karena saya malu bertanya jadi kelamaan di jalan wkwk). Alhasil, saya, suami dan anak saya berharap pada shuttle bus di Museum Puri Lukisan yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari hotel saya. Begitu sampai museum itu, ternyata shuttle bus gratis untuk acara UWRF baru ada besok tanggal 24 Oktober 2019. wkwk wkwk.  Akhirnya kami memutuskan jalan kaki karena melihat di peta masih 2 kilo lagi. Sedangkan kalau naik taksi harus bayar 80rb. mahal yee padahal deket aja. Dan ternyata jalannya menanjak saudara-saudaraaaa. Beberapa kali kami harus berhenti di jalan. Si kecil kasihan karena kadang digendong, kadang harus jalan sendiri. wkwk.  kebodohan hakiki.



Nah, begitu sampai tempat acara, saya melihat ada briefing untuk para volunteer UWRF. Selanjutnya, anak dan suami saya pun menunggu di Indomaret, saya pun mengikuti Patron Brunch bersama si kecil.

Patron Brunch ini merupakan private event yang mempertemukan emerging writers dengan Indonesia Patron, Julia, dengan Founder event UWRF, Janet Deneefe, sambil menikmati makan siang nasi campur ala Bali.

Dari Patron Brunch ini saya mengenal keempat penulis emerging lainnya, yaitu Nurillah dari Jember, Ilhamdi dari Padang, Chandra dari Jakarta, dan Heru dari Nganjuk. Saya juga mengenal Manajer Program, Pak I Wayan Juniarta (Ijun) yang sudah menyeleksi karya sebanyak sekitar 1500an karya.
Patron Brunch UWRF 2019 (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF)

Kami berbicara banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, latar belakang cerita, dan segala hal. Karena Julia ini dari Australia jadi kebanyakan dia berbicara bahasa Inggris yang kadang kami menimpali dengan bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Syukurlah ada Pak Ijun yang bersedia menerjemahkan.
Ya Allah baru kusadari aku kumus kurus soalnya jarang ngaca wkwk (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF) 

Saya kira hanya orang Eropa saja yang suka memuji. Ternyata orang Australia juga sangat suka sekali memuji. Apapun itu. Mulai dari makanannya, bayi saya yang lucu, cerita kami berempat, dan everything. Namun, memang saat mereka tidak suka, mereka akan bilang terus terang. Saya pernah mengalaminya saat saya berada di negeri antah berantah.

Briefing

Setelah Patron Brunch, saya dan teman-teman lainnya briefing bersama para interpreter. Interpreter saya adalah Kik Hughes, seorang bule Australia yang tinggal di Singapura. Interpreter ini yang akan membantu saya saat saya tidak mengerti bahasa inggris dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dalam bahasa inggris. Maklum emak-emak yang hampir nggak pernah ngomong bahasa inggris. Daripada kagok di depan audiensi mending saya pakai jasa interpreter. Dan ternyata berguna banget!

Bersama Mbak Kik Hughes (Credit: Kik Hughes)


saat briefing kami diberitahu agar saat berbicara itu hanya dua paragraf dulu agar interpreter tidak bingung. Saya pun juga menyadari bahwa tidak hanya kami berlima saja yang grogi, para interpreter yang sudah berpengalaman pun bisa saja nervous. Saya pun akhirnya mengetahui kalau audiensi yang banyak bule itu kebanyakan juga bisa bahasa Indonesia,  itulah mengapa jika interpreter salah menginterpretasi atau ada yang kurang infonya, mereka akan merasa gagal di depan para audiens.

Workshop

Nah, sesi selanjutnya adalah sesi workshop menulis dengan Mirandi Riwoe, seorang penulis dari Australia di sebuah ruangan dengan pemandangan Bukit Campuhan dan sebuah gunung. Anak saya yang kecil pun saya titipkan pada ayahnya dan dibawa ke hotel. Saya pun bisa konsentrasi belajar dan tidak mengganggu peserta lain.

Di workshop ini dia menjelaskan ceritanya tentang crime fiction, bagaimana membuat judul, bagaimana menulis genre yang berbeda, bagaimana mengatasi writers block, dan banyak hal.
Buku yang dia tulis (saya lupa judulnyaa) merupakan hasil dari tugasnya saat kuliah di jurusan Creative Writing di Australia.  Nah, buku yang dia tulis itu harus menjadi rujukan pada disertasinya S3. Dia menulis dari sudut historis tapi yang kejadiannya bisa terjadi masa sekarang seperti Human Trafficking dan Racism.
Mengerjakan tugas menulis 2 paragraf (Credit : Kik Hughes)

Hanya ada dua interpreter di workshop ini yaitu mas Raka dan Kik. Untungnya bahasa inggris masih mudah dimengerti dan kadang saya perlu melatih bahasa inggris saya, kadang saya juga perlu interpreter untuk menjelaskan kembali maksud saya dalam bahasa inggris.

Sesi Tanya Jawab (dokumen pribadi)
Namun, yang saya bisa ambil pelajaran dari workshop dari Mirandi ini adalah bahwa hadapi saja distraksi atau penundaan saat menulis cerita. Karena dari penundaan atau distraksi itu merupakan proses kita untuk berpikir cerita yang kita tulis. Mirandi berpesan, jangan tulis seluruhnya, tapi tinggalkan beberapa untuk besok sehingga ada keinginan untuk terus menulis. namun,  dia juga memberi saran untuk mengatasi writer's block yaitu Keep writing, writing  and writing!
o iyaa, dia juga bilang kalau misal kalah dalam perlombaan maka jangan kecewa karena lomba itu jurinya subjektif. Jadi jangan sampai terpuruk dan tidak menulis karena kecewa kalah lomba. Ah! menohok banget bagi saya nih yang juga sering kalah lomba. haha.

Workshop bersama Mirandi Riwoe


Saya pun balik ke hotel diantar oleh driver UWRF. Setelah bertemu anak dan mandi, saya pun dijemput untuk mengikuti acara Gala Opening di Ubud Palace. Tidak jauh dari hotel saya sih tapi setelah berjalan 3 kilometer saya memilih untuk naik kendaraan saja.

Gala opening

Saya pergi bersama anak saya yang kecil. Saya pun mengisi buku tamu. Beberapa peserta berfoto-foto di depan baliho-baliho ala artis Hollywood. Dua orang perempuan Bali dengan pakaiannya yang khas Bali menyematkan bunga di baju para peserta. Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk, saya pun melewati para peserta yang berdiri dekat pintu masuk. Ramai sekali. Sesak.
Eh, saya bertemu dengan Seno Gumira Ajidarma. Tapi sayang saya malu-malu minta foto bahkan Mengucap hello, hehe.
Saya mencari tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Saya sampai tidak bisa menikmati pertunjukannya karena anak saya yang mulai rewel. Saya pun membeli snack untuk anak saya. Oiya, toko-toko di Bali sudah tidak menggunakan plastik, loh! Keren, ya. Jadi siap-siap bawa tas sendiri untuk menampung makanan-makanan yang kalian beli.



Gala Opening (dokumen pribadi)

Writer's Dinner

Saya pun bertemu teman-teman saya. Jam 7 malam kami menuju Casa Luna, resto ala Bali yang dimiliki oleh Janet Deneefe. Karena ini private event jadi panitia harus mengecek nama yang akan masuk ke resto yang memang sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya.

Sayangnya, mungkin karena saya terlalu capek, jadi saya tidak maksimal. Maksimal dalam artian saya tidak bisa membangun koneksi alias SKSD. Sok kenal sok dekat sok yes lah sama mereka. haha. Setidaknya untuk berkenalan dengan Writer yang sudah terkenal. Saya hanya ingin segera pulang ke hotel. Saya dan dua teman Emerging yang wanita pun pulang ke hotel diantar oleh driver UWRF.

Masih ada hari esok dan saya merasa lelah sekali. Sampai di hotel Yulia Village Inn yang saya review di sini juga, ternyata saya tidak bisa tidur. OH!

Lanjut cerita hari kedua UWRF yang Mendebarkan.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower