Salah satu destinasi wisata kota Solo yang wajib dikunjungi adalah Kampung Wisata Batik Kauman Solo. Saat aku berkunjung ke kampung batik ini, aku membayangkan bisa melihat proses pembuatan batik secara langsung. Kunjunganku kali ini sama seperti kunjunganku ke tempat wisata lainnya, tanpa rencana.
Lucunya, kami keliling Solo kali ini tidak bawa mobil seperti biasanya, tetapi pinjam motor teman suami. Sebenarnya, dari sragen suami sudah ngajak bawa motor, tapi kan jauh bakal capek banget dan bisa bikin masuk angin. Akhirnya pinjam motor teman saja. Hehe.
Kami janjian di kampus UNS. Mobil kami pun parkir di UNS hihi. MaasyaAllah kalau enaknya punya teman dari komunitas yang sama.
Ketika ditanya kami mau ke mana, kami cuma bisa nyengir nggak jelas. Kami nggak punya tujuan kemana wkwk. Kami jawab saja keliling Solo.
Sepanjang perjalanan, aku mikir mau kemana yaa.. Aku tahu kalau Solo itu khas banget sama batiknya. Meski beberapa kali ke solo, aku belum pernah mengunjungi kampung batik. Karena menurutku ke kampung batik itu identik dengan belanja-belanja kain atau baju batik.
Justru aku tertarik pergi ke kampung batik itu melihat aktivitas pengrajin sedang membatik. Aku tidak berharap banyak sih setelah melihat di foto Google bahwa kebanyakan emang butik batik. Yah, daripada aku bengong mau ke mana akhirnya memutuskan untuk pergi melihat salah satu tempat wisata khas Solo itu. Biar aku tampak Indonesia banget gitu loh. Hehe
Kampung Batik Solo
Kampung Batik di Solo ini ada dua yaitu Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik Kauman Solo. Awalnya, aku mau ke Laweyan saja. Setelah melihat foto di Google, sepertinya lebih menarik pergi ke Kampung Batik Kauman Solo. Kalau mau pergi ke Laweyan pun sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh, tapi waktu itu sudah hampir sore, dan kami memilih untuk mengunjungi satu tempat wisata saja.
![]() |
| Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri) |
Kampung Batik Kauman Solo
Untuk menuju ke Kampung Batik Kauman Solo, kami melewati jalan utama Solo yaitu Jalan Selamet Riyadi. Sebenarnya bisa lewat jalan tembusan, aku sempat melihat bahwa jalan yang kami lewati itu tembus, tapi sama Google diarahkan jalan yang jauh, jadi kami muter-muter. Jalannya pun sempit. MaasyaAllah ini namanya naluri manusia yang hilang akibat terlalu percaya Google Maps. Hehe.
Penanda kami telah tiba di Kampung Batik Kauman adalah kami melewati gerbang besi biru bertuliskan Kampung Batik Kauman Solo. Masih bermodal google Maps juga, hehe. Suami menghentikan motornya kemudian bapak parkir di sekitar kami mempersilakan kami parkir masuk di dalam. Untuk mobil tidak bisa masuk ke dalam jalan ini ya.
Aku memilih berjalan kaki karena aku ingin menikmati setiap detail bangunan di kampung ini. Karena masih di awal-awal, masih tampak biasa saja. Lampu hias dipasang di dinding bangunan di sepanjang jalan. Vegetasi menjalar tumbuh menjadi peneduh jalanan di siang hari. Beberapa plang butik batik tampak di beberapa bangunan.
Di bagian awal-awal ini masih belum tampak aktivitas pengunjung kampung batik. Beberapa kali aku bertanya pada orang di mana Kampung Batiknya. Mereka menunjukkan arah di tengah kampung yang padat. Memang beberapa bangunan rumah sudah menjadi butik atau cafe dengan desain yang tetap selaras dengan khas Jawa.
Kami terus berjalan. Sudah tampak pengunjung lainnya. Hampir tiap bangunan sudah berubah menjadi butik batik dan cafe. Bangunannya MaasyaAllah keren dan unik!
Kami melewati butik plus cafe sebagai tempat parkir motor. Pengunjung berlalu lalang masuk keluar dari butik tersebut. Cafe tidak tampak ramai. Lampu remang menguatkan karakter cafe jadul tapi tetap apik, bersih dan rapi.
Kami berjalan kaki melewati gang rumah penduduk. Jendela-jendela kayu terbuka ke arah jalan menampakkan sedikit isi bagian rumah. Ada yang penjahit. Di sisi kanan, tampak rumah seperti telah lama tidak dirawat.
Beberapa pengunjung perempuan berjalan berlawanan arah memakai pakaian khas Jawa dan sibuk mengambil sudut foto yang bagus. Perempuan-perempuan muda itu memang tak ingin melewatkan momen terbaiknya di Kampung Batik Kauman Solo.
Butik Batik Gunawan Setiawan
Kami pun tiba di pertigaan yang ramai. Di kiri saya, bangunan berwarna putih menarik perhatian saya karena lebih mewah dibanding bangunan lainnya. Agak terkejut karena ada mobil terparkir di sana. Rumah itu pun juga ada tempat parkir mobil sementara rumah lain hampir tidak ada.
![]() |
| Galeri Batik Gunawan Setiawan (dok. Pri) |
Terasnya lebih tinggi dibanding halaman parkir mobil. Ada tangga untuk memasuki rumah. Pagar di teras rumahnya pun seperti rumah-rumah saudagar zaman dulu. Lampu hias menggantung di teras rumah. Lampunya yang remang-remang membuat rumah itu semakin eksotis.
Bagaimana tidak keren ternyata rumah itu dimiliki oleh pengrajin batik tulis tradisional yang terkenal di Solo dan sudah berdiri sejak tahun 1970an yaitu Gunawan Setiawan. Kerajinan batik Gunawan Setiawan ini diwariskan turun temurun.
Dulunya, kain batik ini dikerjakan oleh putri-putri raja. Berjalannya waktu, batik-batik dikerjakan oleh masyarakat sekitar di Kampung Kauman.
Di butik Gunawan Setiawan menyediakan batik-batik tulis yang berkualitas. Di dalamnya, kain-kain batik terpajang di ruang galeri. Di bagian samping bangunan, tampak petugas butik memperhatikanku yang sedang mengambil foto. Beberapa orang memasuki rumah batik itu.
Oiya di dalam butik ini tidak boleh mengambil foto kecuali di tempat membatiknya.
Belajar Membatik di Solo
Branding sebagai kampung batik tak hanya tempat untuk membeli batik saja tetapi juga memberikan pengalaman unik bagi pengunjungnya seperti di Butik Gunawan Setiawan ini pengunjung bisa mencoba pengalaman seru dengan belajar membatik. Rasanya kurang afdol kalau ke Solo tidak belajar membatik. Tapi sayang aku tidak mencobanya. Hehe
Harga belajar membatik di sini ada dua paket. Pertama, paket dengan harga 55ribu tanpa dapat kopi. Sedangkan paket kedua harganya 70ribu.
Tetap hati-hati ya karena kalau tidak biasa, tintanya bisa mbleber kemana-mana, hehe. Yang paling tidak enak kalau sampai kena panasnya lilin.
Tempat konten yang unik
Tak hanya untuk memasarkan produk batik tulis tradisional, di kampung Batik ini juga pengunjung bisa menikmati sajian di cafe, berfoto dan ngonten.
![]() |
| Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri) |
Banyak sekali pengunjung yang memakai baju kebaya warna-warni dan bermake up untuk mengambil foto atau video di lingkungan ini. Di sisi lain, sekitar lima orang berkumpul menggunakan baju kebaya jawa hitam dan jarik. Wajah yang dirias itu semakin menambah kesan wanita jawa modern. Entahlah apakah di kampung ini juga menyediakan tempat sewa baju kebaya atau mereka memang membawa dari rumah. Sungguh benar-benar niat. Memang sih jadi keren banget.
Mereka berfoto di dekat jendela-jendela tua Jawa, di dekat kaca jalanan, di gang-gang sempit, di bawah payung-payung, atau di depan rumah Jawa. Meramaikan sudut-sudut kampung dengan tawa dan canda. Semua sudut kampung Kauman yang estetik cocok untuk dijadikan latar foto.
Saya berfoto sejenak di dekat pintu jendela yang ditempel di dinding bertuliskan Batik Gunawan Setiawan. Setelah itu, ya, kami nggak ngapa-ngapain lagi. Haha.
![]() |
| Spot Foto di Kampung Batik Kauman Solo (dok. Pri) |
Lanjut pulang, dan aku mengambil video footage anak motor ala ala gitu deh. Melewati dinding khas Jawa banget. Setelah itu, magrib tiba dan kami segera mencari makan malam, kuliner khas Solo yaitu Selat Solo.







0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.