Alhamdulillah Allah kasih kesempatan bisa mengunjungi kota Bandung. Terakhir, ketika aku kuliah antara tahun 2008-2009 untuk study tour. Sekarang, aku ngekor suamiku pas lagi ikut seminar. Karena acaranya sekitar 3 hari, aku bingung mau ke mana. Mau sendiri pergi pun aneh aja gitu bawa anak. Hehe. Akhirnya aku cari destinasi wisata Bandung yang dekat dengan hotel tempatku menginap, Best Western Bandung.
Di depan hotel sebenarnya ada Mall, tapi aku kurang berminat hehe. Saat mencari di Google Map, ternyata ada museum kota Bandung dekat hotel.
Yah, jalan sedikit lah. Cuma memang karena bawa anak kecil nih siap-siap aja si kecil minta gendong. Ya udahlah. Toh deket aja. Sebenarnya banyak banget pilihan wisata edukasi dan sejarah di Bandung, seperti museum-museum begitu. Jadi aku memilih museum yang kudu aku kunjungi. Salah satunya adalah museum Kota Bandung. Anak tata kota kudu banget sih datang ke museum ini buat belajar tentang sejarah kota Bandung.
Museum Kota Bandung
Aku meminta si kecil untuk mematikan televisi yang ia tonton. Aku pun mengajak si kecil pergi ke Museum Kota Bandung. Awalnya, dia mau jalan sendiri, tapi setelah 100 meter, dia minta gendong. Yaahh... cuaca Bandung menurutku tidak dingin dan tidak terlalu panas.
Museum Kota Bandung buka dari pukul 10.00 sampai 15.00 WIB. Bayangkan saja berjalan ke museum jam 10 pagi itu matahari sudah mulai terika.
Berjalan ke Museum Kota Bandung sambil gendong si bayi pun cukup bikin keringatan. Kondisi trotoar yang kurang rata pun bikin usahaku makin maksimal. Kadang ngedumel juga, kapan sih punya trotoar bagus kayak di luar negeri. Di negara kita sih trotoar bagus Cuma di jalan utama. Sisanya? Sabar ajaaa...
Perjuangan belum selesai karena aku harus menunggu kendaraan itu berhenti saat lampu merah. Kukira jaraknya tidak akan membuatku lelah sebelum tiba, nyatanya...kok nggak nyampe-nyampe ya? Berjalan kaki di negeri ini emang se-effort itu apalagi gendong anak bayi. MaasyaAllah. Ternyata dekat di Google Map tidak dekat di kenyataan, apalagi bawa bayi. Hahaha.
Lokasi Museum Kota Bandung ini ada di Jalan Aceh No. 47, Babakan Ciamis, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung.
Tak lama, kami pun tiba di Museum Kota Bandung. Dari luar sudah tampak bangunan ala zaman kolonial Belanda. Bangunan lawas yang tampat terawat itu membuat lelahku langsung menguap.
Ternyata dulunya Museum Kota Bandung ini adalah sekolah taman kanak-kanak Frobelschool yang didirikan tahun 1880. Kemudian di tahun 1950 berubah menjadi sekolah “Yahua” hingga rahun 1960, kepimilikan museum ini diambil oleh pemerintah.
Aku meminta si kecil turun dan berjalan. Ia langsung mengeksplor apa yang ada di dekatku.
Patung Dewi Sartika
Di dekat kami, ada patung dewi sartika yang hanya setengah badan, tanpa tangan. Di bagian bawah berupa batu dan papan informasi kecil yang menjelaskan tentang sejarah Dewi Sartika. Kalian sudah pada tahun kan siapa Dewi Sartika? Sampai patungnya diabadikan di Museum Kota Bandung.
Perjuangan Dewi Sartika ini berliku demi memajukan perempuan Sunda. Dewi Sartika membangun fasilitas pendidikan berupa sekolah khusus perempuan. Ia mendirikan Sakola Istri pada bulan Rabu di tahun 1904.
Aku sempat salah masuk karena tidak ada tanda pintu masuk. Lagian juga di museum itu sepi banget. Aku pun agak bingung, ini bener buka atau tidak? Pintu masuknya mana? Setelah celingak-celinguk, seorang petugas mendatangiku dan memberitahu pintu masuk. Aku pun mengajak anakku masuk. Sekolah itu pun semakin berkembang.
![]() |
| Sisi samping Museum Kota Bandung (Dok. Pri) |
Tiket Gratis
Ketika memasuki gedung museum, aku langsung melihat ruang pameran besar. Tidak ada petugas yang berjaga ataupun yang menarik tiket. Biasanya kan museum ada tiketnya walau Cuma 5000. Ternyata semua pengunjung diperbolehkan masuk tanpa membayar tiket masuk alias GRATIS! Wah, keren banget sih. Karena biasanya museum kota itu ditarik uang meski Cuma lima ribu rupiah. MaasyaAllah berarti pemerintah kota Bandung keren banget. Biasanya nih ya... biasanya, museum gratis-an itu tidak terawat tapi saat aku memasukinya emang vibe-nya beda.
Ruang pameran
Di ruang pameran pertama ini cukup luas, di dinding-dindingnya terpajang foto para pahlawan. Bung Karno berorasi dengan semangat membara.
Dari dinding satu ke dinding lainnya memuat sejarah Kota Bandung. Aku tidak terlalu menikmati membaca setiap informasi karena anakku sudah berlarian ke sana kemari. Aku takut saja mengganggu pnu
Di ruang pameran selanjutnya menjelaskan tentang sejarah kota Bandung dari awal banget. Sejarah kota Bandung ini dijelaskan secara singkat dari tahun ke tahun.
Yang paling menarik adalah sejarah pengembangan kota Bandung. Aku jadi teringat ketika aku masih kuliah dan mempelajari sejarah Kota Bandung. Thomas Karsten sangat berjasa membangun kota-kota di Jawa di zaman kolonial.
![]() |
| Sejarah Rencana Pengembangan Kota (dok. pri) |
Di museum ini juga dijelaskan tentang sejarah Kweekschool atau sekolah guru pertama di Karesidenan Priangan.
Selain pendidikan, pembangunan kota juga tidak melupakan pengembangan taman. Museum Kota Bandung juga menceritakan tentang pengembangan taman kota yang menjadi salah satu elemen penting. Di tahun 1885, taman tertua di Kota Bandung, Pieters Park, dibangun. Di tahun 1879, perkumpulan berbadan hukum untuk orang Eropa, Societit Concordia, dibangun.
Tak hanya pendidikan dan ruang terbuka hijau, pembangunan Kota Bandung juga terus berlanjut dengan membangun usaha penginapan. Di zaman itu, banyak perkebunan di sekitar kota Bandung. Pada akhir pekan, pengusaha perkebunan itu pergi ke Bandung dan menginap di sana. Maka dibangunlah usaha penginapan/ hotel.
Lokasi titik nol Bandung pun ada sejarahnya.
Sebenarnya banyak kalau mau diceritakan akan jadi banyak banget, tapi daripada aku spill mending datang langsung aja, hehe. Takutnya ni artikel nanti jadi artikel sejarah bukan travelling. MaasyaAllah. Ternyata mengunjungi Museum Kota Bandung menambah wawasanku tentang pembangunan kota. Tak hanya berkaitan dengan sejarah fasilitas pendidikan di Kota Bandung, tetapi juga fasilitas penginapan, sosial masyarakat, ruang terbuka hijau, permukiman, dan lain-lain.
Bedanya museum Kota Bandung dengan museum kota lainnya, adalah tidak ada artefak atau benda peninggalan seperti pada museum lain. Sayangnya karena bawa anak kecil jadi tidak bisa berlama-lama.
Kesimpulan
Aku pun segera keluar dari museum dan duduk sejenak di kursi besi. Di sebelah kanan aku, tampak tulisan dari Bung Karno mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh meninggalkan sejarah. Dan kedatanganku kali ini sebagai bukti bahwa sejarah tidak akan aku lupakan.






0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.