Sepanjang jalan Solo-Semarang adalah kenangan. Menjumpai bus hilir mudik mengembalikan ingatanku 10an tahun silam. Pernah menjadi penumpang yang susah payah berebut kursi untuk sampai ke Tembalang. Duduk berlama-lama di kursi samping jendela dengan mendekap tas berisi laptop yang di zaman itu didesain cukup berat.

Hari ini, aku tidak lagi menjadi bagian itu. Hanya melewati kenangan saja. Sementara saat ini, aku duduk manis tanpa harus bersusah payah seperti di zaman itu. 

Hari ini, tak lagi melakukan perjalanan sendiri. Dalam waktu 10-an tahun setelah kelulusan, cita-citaku menjadi pendidik dikabulkan Allah—tepatnya menjadi pendidik keluarga:  pendidik 3 Ahmad.

Allah memang Maha Baik. Dia tak ingin aku bersusah payah dengan segala kondisi aturan saat ini. Semua sudah diatur olehNya semenjak aku memutuskan memilih jurusan. Aku tak pernah berprasangka buruk meski di sekitarku seolah menyesali atas hidup yang kupilih. Tidak. Allah tahu mana yang terbaik. Allah tahu hambaNya. 

Kenangan Perjalanan selama di Semarang

Sepanjang jalan Ungaran‐Banyumanik-Tembalang, mataku tak lepas dari segala hal yang pernah kulewati dulu. Perjuangan tak pernah kulupa. Memoriku kembali.

Terminal Banyumanik

Kenangan tentang terminal Banyumanik tidak begitu banyak tapi aku pernah merasa sedikit waswas saat berada di sana. Aku lupa tepatnya kejadian apa itu. Kuingat, malam hari, aku berada di dalam terminal Banyumanik menunggu sesuatu—mungkin bus? 

Entahlah. Potongan-potongan memori itu tidak begitu jelas. Aku duduk di sebuah warung atau toko sedang membanyar sesuatu—entah makan atau tiket bus? 

Saat itu, mungkin aku sedang menunggu bus. Sepertinya atau travel? Aku lupa. Saat itu, jalan-jalan sedang ramai mudik menjelang lebaran. Aku tidak pulang ke Kalimantan, sebab kalau pulang aku pasti akan naik dari bandara Ahmad Yani. Mungkin aku akan pulang ke Sragen.

Pertigaan Tol - Swalayan ADA Srondol

Swalayan ADA pernah menjadi tempatku melupakan penat sejenak setelah digempur tugas dan les. Bukankah cuci mata dan berbelanja adalah hiburan para wanita? Meski kadang, aku tak membawa pulang apa-apa.



Jalanan di depan swalayan ini lebih lebar dan kadang lengang. Kendaraan-kendaraan memilih berhenti di lampu merah untuk belok ke jalan tol atau lurus menuju Tembalang. 

Di pertigaan ini, tempat aku biasa turun dari bus dan lanjut mencari angkot menuju Tembalang. 

Lucunya, aku masih tak ingat, apalah kejadian ini ketika aku mau mudik atau sekembalinya dari mudik lebaran. Bus yang kunaiki mencari jalan kembali ke jalan besar. Karena ada sesuatu hal yang membuat mereka berputar-putar di jalan kampung mencari jalan tembus swalayan ADA ini. Kebetulan saat itu aku duduk di barisan ketiga dari depan. Bus terus mencari jalan dan terkadang harus putar balik karena salah jalan. Betapa merepotkannya. Di jalan kecil, kendaraan besar itu harus putar balik. Beberapa kali menjadi sumber kemacetan. 

Jangan bayangkan di waktu itu sudah mudah akses Google Map. Sebab tak semua orang punya Android. Saat itu ponsel Android masih dianggap mewah. Aku pun masih memakai ponsel qwerty Nokia. Kalau tersesat, siap lihat papan penunjuk jalan atau tanya orang.

Sebab aku pun mulai berada di ambang batas sabar, tidak segera sampai tujuan, tanpa diminta aku langsung berkata, "Lewat sini, Pak. Belok kanan, Pak. Terus aja, nanti belok kiri."

Di jalan-jalan kampung yang sering kulalui itu, tanpa pikir panjang, aku menjadi guide dadakan. Kok, yaa bapaknya menurut saja tanpa protes. Aku mengarahkan jalan hingga bertemu dengan jalan besar, dekat dengan pertigaan Tol dan Swalayan ADA.

Alhamdulillah tanpa drama harus putar balik atau membuat jalan-jalan kecil itu macet, bus bisa keluar jalan besar dan aku segera turun dari bus. Tanpa kusadari, hal remeh temeh itu ternyata membuat kernet dan supir bus berterima kasih padaku seolah aku telah melakukan hal yang besar saat itu. Tidak. Sebenarnya karena aku tidak sabar saja. Kalau aku sabar mungkin aku hanya diam saja. 

Dari situ, aku sadar bahwa: "Jangan biarkan orang lain bingung. Mungkin mereka tak butuh bantuan. Tapi inisiatif seseorang ternyata bisa sangat membantu mereka."

Undip Tembalang

Tentu saja, ini menjadi ikon utama kenangan-kenanganku selama studi di Semarang. Tahun pertama, kosku masih di dekat gerbang masuk Undip. Tahun kedua lebih jauh lagi tapi masih area Tembalang.

Rupanya tidak banyak perubahan sepanjang perjalanan dari patung Kuda Pangeran Diponegoro sampai Gerbang Undip. Hanya beberapa bagian yang mengalami penambahan bangunan dan renovasi. Berbeda dengan kota Malang yang sangat cepat sekali perubahannya.

Di sini, aku mengantar suamiku ke tempat acara. Mobil aku bawa kalau misal sudah selesai makan, aku bisa keliling bersama anak-anak. 

Anak-anak kuminta menunggu sebentar sembari menghabiskan makanannya. Mereka merengek mungkin merasa tidak nyaman berada di tempat asing tanpa ada keluarga yang menunggu. Tapi makanan mereka belum habis. Rasanya tidak mungkin juga kalau meninggalkan makanan yang baru datang. Dikira tidak dihabiskan dan dibereskan. 

Janjiku pada mereka tidak akan lama. Aku juga meminta bantuan mbak kasir yang ramah dan selalu tersenyum untuk melihat anak-anak yang sedang makan. Syukurlah ia bersedia. 

Aku pun mengantar suami dulu, melewati jalanan kampus yang pernah kulalui dulu dengan motor. Pepohonannya yang tinggi masih bertahan sampai sekarang. Areanya yang luas masih sama. Tak banyak bangunan yang bertambah. Hanya bangunan-bangunannya direnovasi, sama seperti gedung kuliahku dulu. Hampir sama sepetti kampus UNS, memasuki kampus UNDIP tidak terasa sesak karena pepohonan masih banyak.

Setelah mengantar suami ke gedung yang tak jauh dari gedung kuliahku dulu, aku pun segera kembali ke rumah makan. Aku tidak menggunakan Google Map sebab kukira aku pasti hafal jalanan. Papan arah juga banyak. Eh tapi bukannya makin cepat pulang, aku malah tersesat ke fakultas lain. Hahah. Akhirnya aku membuka Google Map. Parah sekali sampai lupa arah pulang di kampus sendiri.

Sesampainya di rumah makan, aku menyuapi si kecil dan menghabiskan makananku. Tak terasa sudah satu jam. 

Setelah selesai urusan makan, aku mengajaknya ke masjid. Kami menunggu di masjid Undip saja. Selain sholat dan istirahat, aku bisa memandikan si adik sebelum perjalanan pulang nanti sore. Hihihi.

Tak terasa sudah dua jam menunggu, chat dari suami memberi kabar bahwa acara selesai. Kami pun menjemputnya. Sebelum meninggalkan kampus masa lalu, (mobil) kami berfoto di halaman depan rektorat Undip yang tampak Pangeran Diponegoro berkuda. Akankah selanjutnya Undip menjadi tempat menuntut ilmu terbaik untuk suami? Semoga Allah berikan petunjuk.


AKPOL

Kenangan satu ini tak akan kulupa. Karena di belakang AKPOL ini, aku sempat ngekos dan bekerja di kantor konsultan perencanaan kota. Tanpa motor, hanya berandalkan ojek di ujung jalan (bukan ojol) saat pergi kemana-mana. Kalau tidak, berjalan kaki lebih hemat. Aku bahkan sempat berjalan kaki dari kos ke hotel Patra untuk berenang sebab hanya itu kolam renang terdekat. Hotelnya bintang lima tapi jalan kaki. Haha. Hemat tapi mewah. 

Versi hematnya, biasanya aku berenang di kolam renang GOR Semarang. Murah tapi ramai. Oiya, aku terongat saat masih kuliah, aku juga sering berenang di Bukit Villa Mas.

Simpang Lima

Tak mungkin melewatkan satu ikonik Semarang ini jika kita sedang di kota Lunpia itu. Simpang Lima adalah tempat-tempatku membuang penat, menyewa sepatu roda, menonton pertunjukan seni, atau apa pun yang ada di sana. Di sekelilingnya, banyak pujasera di pinggir jalan dengan variasi kuliner.

Simpang Lima (Sumber: Travelspromo)


Eh tapi kali ini, sebab kami semua terlalu lelah di hari pertama setelah jalan-jalan ke Celosia, kami hanya melewati Simpang Lima. Tentu saja anakku pada heboh ingin main-main di Simpang Lima yang ramai dengan penjual mainan, sewa odong-odong lampu, sewa sepatu roda dan lain sebagainya. Maafkan, Nak. Besok masih harus perjalanan jauh. Kita segera pulang saja ke penginapan Sun Apartement. Haha.

Lawang Sewu

Malam hari, Lawang Sewu selalu tampak indah dengan lampu-lampunya yang menerangi setiap sudut bangunan. Tak ada kata seram melewati bangunan kuno itu meski kisah mistisnya sudah tersebar. Eh, tapi aku tetap tidak mau mampir meski siang hari bersama anak-anak setelah kedatanganku duluuu di Lawang Sewu. Cukup sekali saja. Haha. Aku hanya mengenalkan cerita tentang Lawang Sewu pada anak-anakku.


Jalan Pemuda

Pikiran penatku ketika harus mengerjakan tugas mata kuliah Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan, mendorongku untuk berkeliling Semarang sendiri. Kadang sendiri. Kadang bersama temanku. 

Kadang ke Mall Paragon yang dekat ke Jalan Pemuda, kadang mutar-mutar menghabiskan Premium, bensin zaman dulu.

Jalan protokol utama ini menjadi kawasan bisnis, perdagangan, kuliner dan tempat nongkrong. Dulunya, aku hanya melewatinya saja setelah dari Mall Paragon. Jangan bandingkan Mall di Semarang dengan di Surabaya karena hanya dalam setengah jam kalian sudah mengitari seluruh mall.

Saat bersama keluarga, aku mengunjungi penjual Bakmi Godog yang terkenal di Semarang. Tempatnya ramai yang berada di bangunan kantor, sayangnya parkir mobil sempit. Jadi harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Nanti aku ceritakan deehhh.

Lunpia Cik Me Me

Dulu, beberapa kali mencicipi lunpia Semarang di daerah Pandanaran, aku tidak terlalu menikmatinya karena selain harganya yang cukup mahal (sekitar 15-20ribu satu biji), isinya besar dan rasanya kurang cocok di lidahku yang cenderung gurih ini. Suamiku pun tidak terlalu menikmatinya. Ketika kami ke Semarang sebenarnya outlet Lunpia ini tidak menjadi destinasi kami. Namun, karena saudara rekomendasi Lunpia Cik Me Me akhirnya kami membelinya. Ternyata ukurannya lebih manusiawi. Apakah ukurannya juga mengalami efisiensi? Hehe. Rasanya juga lumayan gurih dibanding dulu yang pernah kurasakan cenderung manis.

Semarang Kaline Banjir

Mengunjungi Semarang sebenarnya memunculkan harapan baru yang meluap layaknya kali (sungai) yang banjir. Namun, akan ada waktunya kali itu surut dan mengalir ke laut. Kapan mulai meluap lagi mungkin tergantung musim hujan yang datang :D Hanya kami yang tahu. Dan sampai saat ini hilal belum tampak untuk mewujudkan harapan itu dan dimana hilal akan tampak. 

Read More
Sepulangnya dari Celosia, kami lanjut ke kota Semarang di mana kami sudah booking hotel. Cerita mencari penginapan ini tidak sesulit mencari jodoh. Eeeh bukan. Maksudnya tidak sesulit mencari villa di Telaga Sarangan. Haha. Soalnya kami hanya keluarga kecil yang maunya nggak banyak-banyak. Yang penting ada "ada kolam renang". Sesederhana itu emang bahagia kami. Hihi. 

Dari berbagai macam jenis hotel Semarang dengan fasilitas kolam renang, dari yang mahal sampai yang menengah, aku mencari kolam renang yang anti mainstream yaitu di atas gedung tinggi. Aku udah bayangin anak-anak pasti seneng banget.

Alasan Memilih Sun Apartment Semarang

Sebenarnya banyak pilihan penginapan dengan kolam renang di Semarang tapi setelah melihat review pengunjung dan harganya, akhirnya kami memilih penginapan di Sun Apartment Semarang. 


Beberapa alasan memilih Sun Apartment yaitu:

Harga Terjangkau

Karena kami tidak akan berlama-lama di penginapan, malam baru sampai penginapan dan besok paginya sudah ke tempat acara, kami mencari penginapan yang harganya terjangkau, fasilitas cukup buat kami. Kalau tidak salah, rate per malam 250ribu atau 200ribu ya lupaaa booking via WhatsApp. 

Kamarnya deluxe city view tanpa sarapan yaa karena emang kita mau kuliner pagi-pagi di Semarang. Tapi tetap aja kulinernya rawon dan soto hahaha. Sebagai orang yang lama tinggal di Kalimantan dan jawa Timur yang cenderung gurih, kuliner Semarang ini manis-manisss.

Gedung Tidak Menyeramkan

Serius. Beberapa penginapan bahkan apartemen yang aku cari dengan rate segitu kadang terlihat menyeramkan. Apalagi apartemen yang jarang penghuninya. Ulasan dari pengunjung lain sangat berguna banget buatku. Aku tahu kira-kira gambaran penginapannya gimana.

Sun Apartment ini tidak menyeramkan karena sebenarnya satu gedung dengan Hotel Horison Semarang. Di bagian bawah gedung, pintu masuk hotel Horison, sedangkan pintu masuk Sun Apartment aksesnya lewat parkir mobil. 

Petugas ramah dan memberikan video cara jalan menuju ke apartemennya agar kita tidak bingung.

Ketika masuk ke ruangan pun, bangunannya sebenarnya memang biasa saja. Pintu kamar dan memang sepi. Resepsionisnya pun di ruangan sendiri. Sederhana. Pegawainya ramah. 

Lokasi Strategis

Karena dulu waktu kuliah, beberapa kali berkunjung ke Java Mall dan cukup hafal dengan Semarang, aku tidak terlalu sulit menemukan lokasi hotelnya dan amenities di sekitarnya. 

Aku masih hafal jalan-jalan dari Ungaran-Tembalang-dan Semarang bawah. Setiap jalan yang kulalui mengingatkanku pada perjuanganku kuliah dulu. Saat weekday, aku harus kuliah di Undip Tembalang. Saat weekend, aku harus les bahasa Prancis di Semarang bawah. Semua kulakukan selama hampir 1 tahun. Kembali ke Semarang sangat membuat hatiku trenyuh. Rinduuu. Ya Allah segitu berjuangnya akuuu demi impian yang ingin kugapai: kuliah di Prancis. Yang akhirnya Allah izinkan aku kuliah di Paris Nanterre dengan segala dinamikanya. 

Lokasi Sun Apartment ini sangat strategis karena di tengah kota, dekat Java Mall, di sekitarnya juga banyak tempat makan. Kami juga sengaja ambil hotel Semarang ini karena tidak begitu jauh dari Undip Tembalang dan tidak jauh dari Simpang Lima Semarang.

Fasilitas Sederhana

Fasilitas kamar memang sederhana tapi menurutku cukup dan sesuai kebutuhan. 


Saat kami memasuki kamar, kami melihat kitchen set tanpa ada isi apa pun. Sepertinya memang cocok untuk kalian yang akan lama di sini dan membawa perlengkapan memasak.

Ada tempat cuci piring karena memang konsepnya kamar apartemen. Beda dengan kamar hotel. Ada kulkas di dalam lemari dan mini bar dengan kursi. Di atasnya ada dispenser cuma di foto di atas pas nggak ada. Aku lupa foto waktu di sana. Kalau foto di bawah ini beda tidak telrihat kitchen setnya. Cuma secara keseluruhan hanpir sama.



Fasilitas kamar yang kami dapatkan:
  • Kasur Queen size bed yang nyaman
  • Dispenser berisi air. Lumayan banget buat menghangatkan tubuh dari luar.
  • Welcome snack. Snackmya sih sederhana. Ada teh, kopi, gula, satu indomie. Aku lupa ada chiki apa ngga yaa.
  • Smart TV dan Akses WiFi. Anak-anak happy banget dong ada TV. Mereka sampai kamar langsung nonton TV sambil istirahat di tempat tidur. Nyaman Banaarrr.
  • Perlengkapan mandi (handuk, sikat gigi, sabun, shower)
  • Kitchen set sih tapi nggak ada kompor wajan dll yaa.. cuma kayak dapur aja. Ada tempat cuci piring.
  • AC. Seingetku AC nya sedikit apa ya.. nggak bisa disetting. Pas banget arahnya ke tempat tidur jadi agak nggak enak juga kena AC langsung.
  • Kulkas
  • Meja dan kaca

Kolam renang di atas gedung

Yang paling 'mewah' sih sebenarnya bisa berenang di atas gedung. Kolam renang ini merupakan bagian dari Hotel Horison tapi penghuni apartemen boleh memiliki akses kolam renang ini. 



Jadi kalau mau ke kolam renang ini kita naik lift untuk pengunjung hotel Horison. Jadi kita memasuki pintu menuju gedung Hotel Horison. Nah, bedanya terlihat banget karena lorongnya berkarpet, lampunya sendu, dan desain interior dinding per kamarnya juga eksklusif. Bagi kami sih udah cukup banget bisa ikut berenang di kolam renang di atas gedung. 

Ketika berada di kolam renangnya, aku sangat terkesima dengan pemandangan kota Semarang dari ketinggian. Sebenarnya kalau malam hari lebih keren lagi tapi kalau tidak salah jam aksesnya terbatas dari jam 7 pagi sampai jam 7 malam.

Aku bisa melihat masjid Jami' Semarang yang jadi destinasi kami bersama anak-anak. Cuma aku nggak ceritakan lagi deh. Udah pernah aku tulis dulu.

Kolam renang khusus anak-anak juga lebar, begitu juga kolam dewasa. Anak-anak bisa puas bermain-main air ke sana kemari. Sedangkan untuk kolam dewasa memang kurang luas apalagi kalau orang dewasanya banyak yang berenang. Meskipun begitu kolam renang ini menurutku lebih luas daripada kolam renang di Hotel Best Western Bandung.

Kamar dengan City View

Salah satu alasan kami memilih Sun Apartment adalah memilih kamar dengan city view. Untuk office berada di lantai 9. Dan kamar kami tidak jauh dari office-nya. Ternyata city vew dari kamar mentok banget ke Java Mall dan jalanan berbukit. Haha. Bukan ke arah tengah kota. Yaudahlah. Setidaknya lihat aktivitas orang di bawah sana. Wkwkwk.

Mau menginap di sini lagi?

Kalau ditanya bakal menginap ke Sun Apartment lagi nggak? Tergantung sih. Bisa iya bisa tidak. Haha. Kalau akan lama di hotel mending cari yang lain tapi kalau cuma sejenak numpang tidur aja dan pengen berenang di kolam renang dari ketinggian, masih oke aja kok. 
Read More
Perjalanan ke sebuah tempat yang menurutku membuat hatiku campur aduk itu saat kembali ke kota tempat menimba ilmu. Kali ini, Allah memberiku kesempatan untuk kembali ke Semarang untuk beberapa hari, bersama anak-anak dan suami.

Perjalanan panjang karena ditempuh selama kurang lebih 6 jam dari Waru, Sidoarjo, sebenarnya terasa melelahkan, tapi karena memang niatnya jalan-jalan, jadi tetap terasa menyenangkan. Alhamdulilah juga kami diberi nikmat sehat jadi perjalanan jauh pun tidak terasa begitu capek. Kami pun tidak langsung ke Semarang, tetapi ke Bandungan, Kabupaten Semarang, dulu untuk wisata mengunjungi Taman Bunga Celosia.

Tiba di Bandungan sekitar pukul 07.00 pagi. Kami istirahat sejenak di pompa bensin, kemudian cari sarapan di sekitar Bandungan. Tentu saja, kita mencari makanan khas Kabupaten Semarang. Karena berada di dataran tinggi, rata-rata hampir sama jenis makanan khasnya seperti di Kemuning dan Kota Batu, yaitu sate kelinci. Alhasil Kami pun makan sate kelinci dan sopnya di salah satu rumah makan.

Tubuh terasa hangat di tempat yang singin setelah menikmati sarapan dan minuman hangat.

Kami pun melanjutkan perjalanan mencari tempat wisata Celosia yang berada di lereng Gunung Ungaran. Berbekal Google Map, kami menyusuri jalan Bandungan yang tidak besar, berkelok dan naik turun seperti di Kota Batu dan Kemuning.

Taman Bunga New Celosia

Sebenarnya kunjungan kami ke Celosia ini sebelum terjadi kebakaran di tahun 2024. Haha. Lama banget kan ya. Beberapa bulan setelah kunjungan kami, Celosia mengalami kebakaran dan menyebabkan beberapa wahana terbakst sehingga harus direnovasi. 

Tempat wisata di daerah ketinggian ini memang menarik banyak pengunjung. Ketika kami tiba di sana, parkirannya sangat luas dan berkontur, tapi tetap saja kami kesulitan mencari tempat parkir. Ternyata luasnya visa mencapai 15ribu m2. Rata-rata sudah diisi dengan bus, minibus dan mobil-mobil. Akhirnya kami dapat tempat parkir yang lumayan jauh dari pintu masuk dan jalannya menurun.

Bangunan Kastil

Taman Bunga Celosia ini sangat khas dengan bangunan utama seperti bangunan kastil, kita seperti dibawa ke negeri dongeng. Sampai-sampai aku bingung mencari pintu masuk saking besarnya. 


Di loketnya pun antri. Harga tiketnya sekitar 35ribu. Sedangkan tiket terusan dapat 10 wahana gratis sebanyak 85ribu. 

Taman Bunga Celosia

Tempat wisata Celosia dirancang dengan sangat indah seolah kita sedang berada di negeri dongeng. Dan tempatnya sangat luaaaas sekali. Bayangkan aja kalian harus jalan jauh turun kemudian naik. Wah bagi lansia sangat dipikirkan kalau mau datang ke sini.

Setelah memasuki pintu masuk, kita disambut dengan berbagai macam jenis bunga yang warna-warni di ruangan yang semi terbuka. Tanaman-tanaman digantung. Di sisi kanan- kiri kami juga tanaman-tanaman menghiasi taman. Untuk orang yang tinggi mungkin sedikit mengenai tanaman gantung tersebut. Jadi mungkin kurang nyaman ya.



Salah satu alasan kenapa wisata ini diberi nama Taman Bunga Celosia karena memang dipenuhi dengan taman-taman bunga yang cantik.


Setelah itu, kita akan disuguhkan pemandangan cantik tempat wisata. Banyak orang yang berfoto-foto di depan taman Bunga, di kolam yang terdapat jalan jembatan di atasnya. Bunga-bunga menghiasinya.



Ruang terbuka di depan kami menyuguhkan pemandangan tempat wisata yang sangat luas. Karena berada di tempat yang terbuka, kami bisa melihat di bawah sana ada bangunan yang mirip kastil juga. Ada kincir angin dan carousel yang dikelilingi taman Bunga.


Pengunjung tampak sangat kecil bergerombol di bawah sana. Wahana-wahana permainan ramai oleh pengunjung. 

Rainbow slide

Wahana pertama kami adalah rainbow slide. Dan pertama kalinya kami mencoba wahana ini ya di Wisata Celosia ini. Rainbow slide di sini cukup panjang dan tinggi.

Salahnya, kami datang di saat akhir pekan. Jadi rame kayak dapet. Ya Allah. Tapi ya mau gimana lagi kan yaa dinikmati aja.

Jadinya untuk naik rainbow slide aja kami harus antri 30 menit. Ya Allah... kalo nggak karena jauh nggak bela-belain deh naik ini. 

Kalau mau tambah tiket juga bisa di sini tapi ya gitu jadinya antrinya makin lama. Kalau sudah punya tiket dari awal tinggal antri aja. 

Ketika mendekati garis start, aku dan dua anakku memilih helm masing-masing. Setelah itu, petugas akan memberi ban besar dan panduan saat meluncur. 


Enaknya, dengan harga rainbow slide ini, kita bisa mendapat file video saat kita meluncur. Untuk mendapatkan filenya, kita harus bayar sekitar 15ribu (kalau tidak salah). 

Saat kami meluncur, kami dibuat berbaris. Dan rainbow slide ini cukup tinggi sampai aku berteriak kencang. Sumpah sih ngeri kayak mau glundung. Haha.

Flying Bee

Setelah turun dari rainbow slide, anak-anak mencari wahana lain yang seru. Sebenarnya yang seru itu bukan wahananya tapi aktivitas di luar wahana. 


Di wahana ini pun anak-anak juga harus menunggu sekitar 15 menit karena banyak yang antri naik wahana ini.

Dino Park

Salah satu wahana yang disukai anak-anak adalah adanya Dino Park. Taman yang dikelilingi Dino KW dan bisa berbunyi ini sangat dinikmati anak-anak.

Sebenarnya banyak sekali wahana di tempat wisata ini tapi kami pilih-pilih deh yang kira-kira anak-anak belum pernah coba.

Keliling Wisata Taman Bunga Celosia

Aku cuma keliling-keliling saja rasanya kaki sudah capek, apalagi anak-anak. Kami tidak mencoba semua wahana. Selain hemat waktu (dan biaya, haha), kami juga tidak ingin anak-anak terlalu capek. 

Ini bagian atas. Bagian bawah masih ada lagi dan luas banget.

Apa yang kami lihat? Banyak bangetttt. Ya Allah. Mulai Rumah Hantu, rainbow slide yang lebih kecil, playground anak-anak, kantin, dan wahana lainnya. Sumpah banyak bangeett. Kami pun baru bisa keluar jam 2 siang. Apalagi kalau mau semua wahana dicoba kayaknya ngga nutut deh.

Saranku memang kalau mau mencoba banyak wahana, jangan kebanyakan foto-foto karena bakal nggak nutut! Soalnya tutup jam 5 sore. 

Pulang-pulang... Ya Allah kesellll kakikuu.. haha.

Tak Perlu Ke Disneyland

Kita tak perlu pergi ke Disneyland di Paris atau Tokyo, yaa Nak. Di Celosia, kalian juga bisa merasa seperti sedang di negeri dongeng. Bisa seperti sedang bermain peran sebagai bagian dari keluarga raja. 😅

Tampaknya Celosia diperuntukkan untuk seorang putri raja, tapi seorang raja pun bisa memasuki kastil dari negeri dongeng kan? 

Wahananya bisa untuk seorang putri, pangeran, raja, juga permaisuri😆 siapa saja untuk anggota keluarga kerajaan. 

Celosia sangat luas. Siapa saja yang mengunjunginya harus punya tenaga yang lebih. Sebab, ketika masih awal berkunjung masih melalui jalan turun. Tapi saat pulang, siap-siap naik-naik ke puncak gunung.🥵 Mungkin seperti hidup, jika kita terlalu santai dan senang2 di awal, siap-siap akan lelah di akhir.

Sudah, Nak. Cukup kita bermain peran menjadi keluarga raja seperti sedang bersenda gurau. Samalah seperti hidup ini. Semua hanya permainan, senda gurau, perhiasan dan kesenangan yang menipu. Ini hanya fatamorgana. Dan akan berakhir. Kecuali kesenangan di akhirat yang abadi.

Read More

Setelah check out dari Villa Arjuna Telaga Sarangan, kita nggak langsung pulang tapi kita mencari destinasi wisata di Magetan yang dekat dari telaga Sarangan dan yang menyenangkan buat anak-anak. Sempat bingung karena rata-rata tempat wisata sekarang kebanyakan untuk selfie. Anak-anak mana doyaan begitu. Rata-rata juga wisata alam yang sebenarnya sama aja di banyak tempat, bahkan di Malang. Maunya cari yang berbeda dan anak-anak bisa bermain. Sebenarnya ada dua tempat wisata di sana yang jadi target kunjungan kami. Aku mencari informasi tentang Lawu Green Forest dan  Mojosemi Forest Park dari Google dan ulasan. Setelah melihat atraksi apa yang ada di dalam tempat wisata tersebut, kami pun pergi ke Lawu Green Forest (LGF) karena atraksinya banyak.


Lawu Green Forest, Wisata Berbasis Hutan

Jika kita memasuki tempat wisata, pepohonan pinus berdiri tegak dan menyejukkan. Pohon-pohon pinus yang besar membuat tempat parkiran terasa lumayan teduh meski sinar matahari masih menembus tanah. Ditambah lagi daerah ini berada di dataran tinggi lereng Gunung Lawu jadi terasa lebih sejuk.

Tempat wisata berbasis hutan ini berada di wilayah kerja Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Lawu Selatan, Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Sarangan. Kawan ini termasuk kelas hutan lindung yang boleh dikelola menjadi kawasan wisata dan pertanian, asal tidak digunakan untuk mendirikan bangunan secara permanen, mengubah bentang alam yang ada, dan mengubah fungsi hutan. Dan ternyata, hutan lindung yang dikelola menjadi tempat wisata tersebut harus ada Mou bagi hasil antara investor dan Perhutani.

Di sini, anak-anak tidak hanya mengenal ciri hutan pinus, tetapi juga menikmati atraksi wisata yang ada di dalamnya.

Tak Jauh dari Lawu Green Forest

Lokasi Lawu Green Forest sebenarnya tidak jauh dari Telaga Sarangan. Lokasinya berada di jalan Sarangan-Cemorosewu Km, Kali Jumok, Sarangan, Kec. Plaosan, Kabupaten Magetan. Peppohonan rindang tersebar di kiri dan kanan jalanan yang meliuk menanjak. Memang jalanan dari dan menuju Telaga Sarangan menanjak, meliuk dan tidak terlalu lebar. Makanya kudu hati-hati nyetir di jalanan ini. Jangan sampai mengantuk. Pastikan juga rem mobil aman. 

Memasuki Lawu Green Forest

Sesampainya di sana, gerbang tempat wisata yang besar tertera jelas nama tempat wisata sehingga kami tahu tidak salah tempat. Rombongan kami memasuki parkiran LGF. Kendaraan-kendaraan hampir memenuhi tempat parkir yang belum dipaving. Tak hanya mobil saja, bus dan minibus terlihat parkir di tempat wisata tersebut. 

Beberapa pengunjung memasuki loket. Sebagian menikmati makan siang di restoran yang ada di bagian depan. Rombongan kami terus masuk dan membayar tiket masuk Lawu Green Forest. Tiket masuknya sekitar Rp. 20.000,- sampai Rp. 25.000,-. Ada juga tiket terusan seharga Rp. 90.000,- bisa memainkan semua wahana, tapi kami memilih tiket satuan saja dulu.

Jam buka Lawu Green Forest untuk pengunjung dari pukul 08.00 - 17.00 WIB. Namun, bagi pengunjung yang bermalam di penginapan, LGF ini buka selama 24 jam.


Restoran Keluarga Konsep Joglo

Di bagian depan terdapat restoran berbentuk Joglo. Jika kalian belum sarapan atau makan siang, lebih baik makan di restoran ini saja, daripada harus keluar dari tempat wisata. 



Sebenarnya di dalam tempat wisata juga ada tempat makan tapi hanya untuk menu sederhana, seperti mie instan. Sedangkan di restoran ini menunya lebih lengkap dan mengenyangkan seperti bebek, ayam, ikan, sate, sapi, dan lain-lain. Minumannya juga beraneka ragam, seperti wedang jahe, kencur, jeruk, dll. Ada snack juga seperti singkong, nugget, sosis, Harga makanannya sekitar 20.000 - 38.000 rupiah.


Atraksi Wisata

Sebenarnya banyak sekali atraksi wisata di LGF, seperti rainbow slide, luge kart, gondola, tamiya gravity, dsb, tapi waktu kita ke sana, hanya beberapa saja yang bisa kita nikmati, seperti rainbow slide dan kampung tematik. Ternyata ketika ingin menaiki Luge Kart, tidak ada petugas yang menjaga. Sayang banget deeehhhh.


Rainbow Slide

Melihat wahana rainbow slide, anak-anak langsung berlarian tanpa mengerti kalau untuk naik wahana itu harus beli tiket dulu. Wahana ini tidak termasuk dalam tiket masuk. Tiket wahana ini sekitar 20.000 rupiah.

Lawu green forest


Setelah membeli tiket, mereka langsung naik ke atas dan akan dipandu oleh petugas. Satu per satu mereka turun dengan ban yang mereka naiki. Suara teriakan mereka terdengar oleh kami yang sedang menunggu di ujung wahana. Suara teriakan itu bukan menandakan ketakutan, tetapi keseruan. Banyak yang ingin mencoba terus. Haha. Dipikir nggak pake duit.

Kampung Salju

Kampung salju ini termasuk fasilitas yang didapatkan gratis. Anak-anak berlarian dan memasuki bangunan berbentuk Iglo bersama pengunjung lainnya. mereka harus menunduk-nunduk agar tidak terbentur kepalanya. Pepohonan meranggas yang ditutupi salju palsu. 

Kampung salju magetan


Anak-anak bermain di kampung yang tampak seperti salju padahal itu hanya pura-pura. Mereka hanya berputar-putar, mengelilingi kampung Salju. Patung salju dengan tangan berbentuk kayu menarik perhatian bayi 2 tahun. Di bagian Kampung Salju ini, tanahnya sudah dipaving. Mungkin biar tampak seperti di luar negeri.

Kampung Jepang

Setelah bermain salju pura-pura, anak-anak berlarian menuju kampung Jepang. Bagi mereka sih, cukup tahu aja, desain bangunan Jepang dan pohon Sakura itu ya khas seperti di negara Jepang. Tapi bagi orang dewasa, tempat seperti itu dijadikan spot selfie. 

Seoul Street

Satu sudut mirip kuil di Korea berwarna merah. Pengunjung bisa naik ke dalam bangunan. Aku cukup berfoto dari luar Menara Pagoda bersama patung orang Jepang yang memakai Kimono. Patung panda besar sedang memakan daun duduk di dekat Seoul Street. 


Castle

Kastil ini sebenarnya sebuah panggung dengan tulisan Lawu Green Forest. Bisa untuk berfoto bersama dalam jumlah banyak atau untuk pentas acara. Di depannya sudah disediakan dudukan lesehan berlapis karpet rumput hijau imitasi. Banyak pengunjung duduk di sini untuk menikmati makanan yang mereka bawa atau beli. Karena sudah menjelang Ashar, kami memilih membeli makan Indomie Cup yang lebih praktis.

Simbol Agama

Di sini juga ada miniatur Ka'bah di antara pepohonan pinus. Aku sekeluarga berfoto bersama di depan miniatur Ka'bah. Semoga kelak, kami benar-benar bisa berfoto bersama di depan Ka'bah yang sebenarnya. Aamiin. Ada juga vihara dan patung budha di depannya. Aku tidak terlalu memperhatikan simbol agama lainnya.


Kebun Bunga

Tempat wisata ini sebenarnya ditata dengan cukup apik dan berwarna-warni, putih, ungu, kuning, oranye, merah hingga pink. Sayangnya, bunga-bunga di Kebun Bunga itu banyak yang palsu. Haha. Tapi ada juga kok tanaman asli, seperti anggrek bulan, sendok, kerlip, spesies Lawu, dll.


Boneka Hutan Trool

Satu lagi atraksi yang menarik anak-anak adalah boneka hutan Trool. Boneka ini bisa bergerak dan bersuara dari sensor yang dipasang di dekatnya. Anakku tidak takut justru penasaran dan bisa berlama-lama di sana, padahal wajahnya lumayan menyeramkan.


Camping Ground dan Villa

Ternyata di sini juga ada camping ground. Pengunjung bisa berkemah di sini dengan tenda. Pengunjung juga bisa menyewa villa untuk menginap. Ada 5 macam villa dengan harga yang berbeda-beda seperti Villa Arjuna, Villa Sadewa, Villa Nakula, Villa Bima dan Villa Yudistira.

Fasilitas Lain

Masih ada fasilitas pendukung tempat wisata lainnya, seperti toilet (yang kebersihannya menurutku masih kurang), Musholla, meeting room, restoran, tempat makan kecil, meeting room, dan lain-lain.

Kesan Pertama

Kesan pertama saat lihat di Google begitu menyenangkan karena berharap bisa menikmati wahana di sana. Ternyata tidak semua buka. Entah karena sudah di atas jam 12 siang, atau emang tidak ada petugasnya. Sayang banget sih, padahal pasti seru. Kalopun kesini lagi, sepertinya harus dipastikan apakah wahananya semua bisa dinaiki atau tidak. 



Read More

Follower