Sepanjang jalan Solo-Semarang adalah kenangan. Menjumpai bus hilir mudik mengembalikan ingatanku 10an tahun silam. Pernah menjadi penumpang yang susah payah berebut kursi untuk sampai ke Tembalang. Duduk berlama-lama di kursi samping jendela dengan mendekap tas berisi laptop yang di zaman itu didesain cukup berat.
Hari ini, aku tidak lagi menjadi bagian itu. Hanya melewati kenangan saja. Sementara saat ini, aku duduk manis tanpa harus bersusah payah seperti di zaman itu.
Hari ini, tak lagi melakukan perjalanan sendiri. Dalam waktu 10-an tahun setelah kelulusan, cita-citaku menjadi pendidik dikabulkan Allah—tepatnya menjadi pendidik keluarga: pendidik 3 Ahmad.
Allah memang Maha Baik. Dia tak ingin aku bersusah payah dengan segala kondisi aturan saat ini. Semua sudah diatur olehNya semenjak aku memutuskan memilih jurusan. Aku tak pernah berprasangka buruk meski di sekitarku seolah menyesali atas hidup yang kupilih. Tidak. Allah tahu mana yang terbaik. Allah tahu hambaNya.
Kenangan Perjalanan selama di Semarang
Sepanjang jalan Ungaran‐Banyumanik-Tembalang, mataku tak lepas dari segala hal yang pernah kulewati dulu. Perjuangan tak pernah kulupa. Memoriku kembali.
Terminal Banyumanik
Kenangan tentang terminal Banyumanik tidak begitu banyak tapi aku pernah merasa sedikit waswas saat berada di sana. Aku lupa tepatnya kejadian apa itu. Kuingat, malam hari, aku berada di dalam terminal Banyumanik menunggu sesuatu—mungkin bus?
Entahlah. Potongan-potongan memori itu tidak begitu jelas. Aku duduk di sebuah warung atau toko sedang membanyar sesuatu—entah makan atau tiket bus?
Saat itu, mungkin aku sedang menunggu bus. Sepertinya atau travel? Aku lupa. Saat itu, jalan-jalan sedang ramai mudik menjelang lebaran. Aku tidak pulang ke Kalimantan, sebab kalau pulang aku pasti akan naik dari bandara Ahmad Yani. Mungkin aku akan pulang ke Sragen.
Pertigaan Tol - Swalayan ADA Srondol
Swalayan ADA pernah menjadi tempatku melupakan penat sejenak setelah digempur tugas dan les. Bukankah cuci mata dan berbelanja adalah hiburan para wanita? Meski kadang, aku tak membawa pulang apa-apa.
Jalanan di depan swalayan ini lebih lebar dan kadang lengang. Kendaraan-kendaraan memilih berhenti di lampu merah untuk belok ke jalan tol atau lurus menuju Tembalang.
Di pertigaan ini, tempat aku biasa turun dari bus dan lanjut mencari angkot menuju Tembalang.
Lucunya, aku masih tak ingat, apalah kejadian ini ketika aku mau mudik atau sekembalinya dari mudik lebaran. Bus yang kunaiki mencari jalan kembali ke jalan besar. Karena ada sesuatu hal yang membuat mereka berputar-putar di jalan kampung mencari jalan tembus swalayan ADA ini. Kebetulan saat itu aku duduk di barisan ketiga dari depan. Bus terus mencari jalan dan terkadang harus putar balik karena salah jalan. Betapa merepotkannya. Di jalan kecil, kendaraan besar itu harus putar balik. Beberapa kali menjadi sumber kemacetan.
Jangan bayangkan di waktu itu sudah mudah akses Google Map. Sebab tak semua orang punya Android. Saat itu ponsel Android masih dianggap mewah. Aku pun masih memakai ponsel qwerty Nokia. Kalau tersesat, siap lihat papan penunjuk jalan atau tanya orang.
Sebab aku pun mulai berada di ambang batas sabar, tidak segera sampai tujuan, tanpa diminta aku langsung berkata, "Lewat sini, Pak. Belok kanan, Pak. Terus aja, nanti belok kiri."
Di jalan-jalan kampung yang sering kulalui itu, tanpa pikir panjang, aku menjadi guide dadakan. Kok, yaa bapaknya menurut saja tanpa protes. Aku mengarahkan jalan hingga bertemu dengan jalan besar, dekat dengan pertigaan Tol dan Swalayan ADA.
Alhamdulillah tanpa drama harus putar balik atau membuat jalan-jalan kecil itu macet, bus bisa keluar jalan besar dan aku segera turun dari bus. Tanpa kusadari, hal remeh temeh itu ternyata membuat kernet dan supir bus berterima kasih padaku seolah aku telah melakukan hal yang besar saat itu. Tidak. Sebenarnya karena aku tidak sabar saja. Kalau aku sabar mungkin aku hanya diam saja.
Dari situ, aku sadar bahwa: "Jangan biarkan orang lain bingung. Mungkin mereka tak butuh bantuan. Tapi inisiatif seseorang ternyata bisa sangat membantu mereka."
Undip Tembalang
Tentu saja, ini menjadi ikon utama kenangan-kenanganku selama studi di Semarang. Tahun pertama, kosku masih di dekat gerbang masuk Undip. Tahun kedua lebih jauh lagi tapi masih area Tembalang.
Rupanya tidak banyak perubahan sepanjang perjalanan dari patung Kuda Pangeran Diponegoro sampai Gerbang Undip. Hanya beberapa bagian yang mengalami penambahan bangunan dan renovasi. Berbeda dengan kota Malang yang sangat cepat sekali perubahannya.
Di sini, aku mengantar suamiku ke tempat acara. Mobil aku bawa kalau misal sudah selesai makan, aku bisa keliling bersama anak-anak.
Anak-anak kuminta menunggu sebentar sembari menghabiskan makanannya. Mereka merengek mungkin merasa tidak nyaman berada di tempat asing tanpa ada keluarga yang menunggu. Tapi makanan mereka belum habis. Rasanya tidak mungkin juga kalau meninggalkan makanan yang baru datang. Dikira tidak dihabiskan dan dibereskan.
Janjiku pada mereka tidak akan lama. Aku juga meminta bantuan mbak kasir yang ramah dan selalu tersenyum untuk melihat anak-anak yang sedang makan. Syukurlah ia bersedia.
Aku pun mengantar suami dulu, melewati jalanan kampus yang pernah kulalui dulu dengan motor. Pepohonannya yang tinggi masih bertahan sampai sekarang. Areanya yang luas masih sama. Tak banyak bangunan yang bertambah. Hanya bangunan-bangunannya direnovasi, sama seperti gedung kuliahku dulu. Hampir sama sepetti kampus UNS, memasuki kampus UNDIP tidak terasa sesak karena pepohonan masih banyak.
Setelah mengantar suami ke gedung yang tak jauh dari gedung kuliahku dulu, aku pun segera kembali ke rumah makan. Aku tidak menggunakan Google Map sebab kukira aku pasti hafal jalanan. Papan arah juga banyak. Eh tapi bukannya makin cepat pulang, aku malah tersesat ke fakultas lain. Hahah. Akhirnya aku membuka Google Map. Parah sekali sampai lupa arah pulang di kampus sendiri.
Sesampainya di rumah makan, aku menyuapi si kecil dan menghabiskan makananku. Tak terasa sudah satu jam.
Setelah selesai urusan makan, aku mengajaknya ke masjid. Kami menunggu di masjid Undip saja. Selain sholat dan istirahat, aku bisa memandikan si adik sebelum perjalanan pulang nanti sore. Hihihi.
Tak terasa sudah dua jam menunggu, chat dari suami memberi kabar bahwa acara selesai. Kami pun menjemputnya. Sebelum meninggalkan kampus masa lalu, (mobil) kami berfoto di halaman depan rektorat Undip yang tampak Pangeran Diponegoro berkuda. Akankah selanjutnya Undip menjadi tempat menuntut ilmu terbaik untuk suami? Semoga Allah berikan petunjuk.
AKPOL
Kenangan satu ini tak akan kulupa. Karena di belakang AKPOL ini, aku sempat ngekos dan bekerja di kantor konsultan perencanaan kota. Tanpa motor, hanya berandalkan ojek di ujung jalan (bukan ojol) saat pergi kemana-mana. Kalau tidak, berjalan kaki lebih hemat. Aku bahkan sempat berjalan kaki dari kos ke hotel Patra untuk berenang sebab hanya itu kolam renang terdekat. Hotelnya bintang lima tapi jalan kaki. Haha. Hemat tapi mewah.
Versi hematnya, biasanya aku berenang di kolam renang GOR Semarang. Murah tapi ramai. Oiya, aku terongat saat masih kuliah, aku juga sering berenang di Bukit Villa Mas.
Simpang Lima
Tak mungkin melewatkan satu ikonik Semarang ini jika kita sedang di kota Lunpia itu. Simpang Lima adalah tempat-tempatku membuang penat, menyewa sepatu roda, menonton pertunjukan seni, atau apa pun yang ada di sana. Di sekelilingnya, banyak pujasera di pinggir jalan dengan variasi kuliner.
![]() |
| Simpang Lima (Sumber: Travelspromo) |
Eh tapi kali ini, sebab kami semua terlalu lelah di hari pertama setelah jalan-jalan ke Celosia, kami hanya melewati Simpang Lima. Tentu saja anakku pada heboh ingin main-main di Simpang Lima yang ramai dengan penjual mainan, sewa odong-odong lampu, sewa sepatu roda dan lain sebagainya. Maafkan, Nak. Besok masih harus perjalanan jauh. Kita segera pulang saja ke penginapan Sun Apartement. Haha.
Lawang Sewu
Malam hari, Lawang Sewu selalu tampak indah dengan lampu-lampunya yang menerangi setiap sudut bangunan. Tak ada kata seram melewati bangunan kuno itu meski kisah mistisnya sudah tersebar. Eh, tapi aku tetap tidak mau mampir meski siang hari bersama anak-anak setelah kedatanganku duluuu di Lawang Sewu. Cukup sekali saja. Haha. Aku hanya mengenalkan cerita tentang Lawang Sewu pada anak-anakku.
Jalan Pemuda
Pikiran penatku ketika harus mengerjakan tugas mata kuliah Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan, mendorongku untuk berkeliling Semarang sendiri. Kadang sendiri. Kadang bersama temanku.
Kadang ke Mall Paragon yang dekat ke Jalan Pemuda, kadang mutar-mutar menghabiskan Premium, bensin zaman dulu.
Jalan protokol utama ini menjadi kawasan bisnis, perdagangan, kuliner dan tempat nongkrong. Dulunya, aku hanya melewatinya saja setelah dari Mall Paragon. Jangan bandingkan Mall di Semarang dengan di Surabaya karena hanya dalam setengah jam kalian sudah mengitari seluruh mall.
Saat bersama keluarga, aku mengunjungi penjual Bakmi Godog yang terkenal di Semarang. Tempatnya ramai yang berada di bangunan kantor, sayangnya parkir mobil sempit. Jadi harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Nanti aku ceritakan deehhh.
Lunpia Cik Me Me
Dulu, beberapa kali mencicipi lunpia Semarang di daerah Pandanaran, aku tidak terlalu menikmatinya karena selain harganya yang cukup mahal (sekitar 15-20ribu satu biji), isinya besar dan rasanya kurang cocok di lidahku yang cenderung gurih ini. Suamiku pun tidak terlalu menikmatinya. Ketika kami ke Semarang sebenarnya outlet Lunpia ini tidak menjadi destinasi kami. Namun, karena saudara rekomendasi Lunpia Cik Me Me akhirnya kami membelinya. Ternyata ukurannya lebih manusiawi. Apakah ukurannya juga mengalami efisiensi? Hehe. Rasanya juga lumayan gurih dibanding dulu yang pernah kurasakan cenderung manis.
Semarang Kaline Banjir
Mengunjungi Semarang sebenarnya memunculkan harapan baru yang meluap layaknya kali (sungai) yang banjir. Namun, akan ada waktunya kali itu surut dan mengalir ke laut. Kapan mulai meluap lagi mungkin tergantung musim hujan yang datang :D Hanya kami yang tahu. Dan sampai saat ini hilal belum tampak untuk mewujudkan harapan itu dan dimana hilal akan tampak.







penasaran pengen ke Lawang Sewu, masuk wishlist dl ya
BalasHapus