Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Simpang Lima Semarang

No Comments
Travelling ke Semarang memang hanya beberapa hari saja. Meski perjalanannya sangat singkat, tapi sebenarnya kenanganku di Semarang berlangsung hingga satu tahun tiga bulan. Salah satu yang ingin aku ceritakan adalah kisah di Simpang Lima.

Sumber : https://wisata.dyantransport.com/simpang-lima-semarang/


Sebelum aku kisahkan, jangan bayangkan ada kisah romantis di Simpang Lima. Tak ada sama sekali. Jadi bisa kalian skip saja tulisan ini karena tampaknya tidak begitu menarik hehe.

Tentang Simpang Lima, sudah sering aku dengar dari cerita orang-orang. Bahwa Semarang punya kisah heroik di dalamnya. 

Tentang Simpang Lima yang jadi ikon kota Semarang. Belum bisa dikatakan pergi ke Semarang jika belum menginjakkan kaki di Simpang Lima —dan juga Lawang Sewu.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasiku untuk terus melanjutkan studi di Semarang waktu itu. 

Kedatanganku ke Semarang pertama kali sebenarnya sudah jauh sebelum aku studi di Semarang, tapi kenangan itu benar-benar tidak bisa aku ingat. Entah saat studi tur atau kapan ya? Hmm... 

Sudahlah. Aku akan ceritakan apa yang aku ingat—bukankah inilah manfaat blog yaitu merawat ingatan tentang masa lalu dan masa kini?

Perjalananku dari Malang ke Semarang pertama kali dilakukan saat akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa pascasarjana jalur beasiswa unggulan. Aku dan beberapa teman menggunakan travel. Coba aku sebutkan siapa teman-temanku: Wulan, Fathima, Amanda, Indah, Saura, Vira, dan... siapa lagi ya? Aku lupa haha...

Kalau kalian masih ingat, kita berhenti di Simpang Lima saat siang hari—entah naik angkot, bus kota, atau motor?
Panas-panas, kita berfoto di depan papan bertuliskan SIMPANG LIMA SEMARANG.

Seperti layaknya alun-alun kota di masa itu (yang pernah kutahu), tak ada apa pun di Simpang Lima. Beda dengan alun-alun kota Malang yang saat ini selalu ramai pengunjung. Pun di masa itu, sekitar tahun 2010an, alun-alun kota Malang juga masih sepi. Benar-benar monoton. Jadi kami hanya berfoto saja di sana.

Kenapa disebut Simpang Lima?

Tanpa harus mencari tahu, kita bisa menduga bahwa namanya simpang lima pasti berada di lima persimpangan jalan.

Tapi bayangkan saja, kita jalan berada di Lima persimpangan. Apa nggak bingung tuuh? Saat pertama kali ke Semarang, tentu dong aku bingung. Saat motor sudah sampai di Semarang dan berjalan-jalan ke kawasan Simpang Lima, beberapa kali aku salah jalan.

Sumber : TravelsPromo


Karena Simpang Lima ini berada di pertemuan lima jalan : Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajahmada dan Jalan K.H. Ahmad Dahlan.

Tapi sebenarnya tetengernya gampang banget sih. Misalnya, untuk ke Jalan Pandanaran menuju pusat oleh-oleh Semarang, seperti lunpia, bandeng Juwana, moci dll, kita harus melewati warung kuliner-kuliner, Gajahmada Plaza dan sebelum Masjid Raya Semarang.

Kalau ke Jalan Gajahmada, ke kawasan kuliner juga, setelah masjid Raya Semarang. 

Kalau ke Jalan Pleburan, menuju ke Semarang atas atau Undip, melewati Mall Ramayana.

Yang pertama kali ke Simpang Lima memang pasti bingung. Baca Google Map pun harus hati-hati karena bisa jadi kelewatan hehe.

Sejarah Simpang Lima

Sebelum Simpang Lima menjadi sekarang, tanahnya dulu adalah rawa-rawa. Kemudian Ir. Soekarno mengusulkan untuk menjadikannya alun-alun karena alun-alun di kawasan Kauman sudah berubah jadi pusat perbelanjaan.

Sedang di kawasan Simpang Lima saat ini sudah dipenuhi gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan dan hotel. Ada juga masjid jami' di dekatnya.

Oiya asal konsep alun-alun ini sebenarnya– seperti alun-alun pada umumnya di kota Jawa– merupakan pusat kegiatan kota dalam konsep Jawa-Islam, yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada masa pemerintahan Majapahit-Mataram. 

Alun-alun berupa lapangan terbuka yang berada di antara kantor pemerintahan (kantor bupati), pusat relijius (Masjid Jami'), dan pusat perbelanjaan. Beberapa kota masih menggunakan konsep ini seperti Bandung, Malang, Solo, Yogyakarta. Cirebon gitu masih kali ya?

Lapangan di Simpang Lima ini disebut Lapangan Pancasila tapi kawasannya disebut Simpang Lima.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Simpang Lima

Dulu, aku cukup sering melewati Simpang Lima, tapi sebenarnya tidak banyak momen yang bisa aku nikmati di Simpang Lima. Dan tidak banyak hal yang bisa aku lakukan di Simpang Lima. Karena memang ya... ngapaaiinnn sampai bingung sendiri. Haha.

Tapi kalau kalian travelling ke Semarang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Simpang Lima yaitu:

Piknik

Piknik ini sebenarnya paling gampang bawa potluck masing-masing dan bawa alas duduk. Saat piknik bisa sambil mengobrol, baca buku, main gitar, hapean juga. Hehehe.

Main Sepatu Roda

Dulu, aku penasaran naik sepatu roda malam hsri. Ternyata susah banget. Haha. Beberapa kali nyoba memang bisa jalan pelan tapi tidak lancar. Harganya seingat saya dulu 10ribu kali ya. Seperti biasa, yang jual jasa adalah masyarakat sekitar seperti pada alun-alun di kota lain. 

Yang paling menakutkan sebenarnya kalau kebablasan meluncur sampai melewati trotoar di Simpang Lima. Soalnya trotoarnya tinggi sekitar sepaha. Memang beberapa bagian ada pagar besinya tapi tetep takuuut. Belum lagi ramai anak-anak yang juga main sepatu roda, sepeda hias. Takut nabrak, takut jatuh. Hehe. Tapi seru.

Night Walking

Night walking kalau jalan kaki mengelilingi Simpang Lima memang capek banget, kecuali kalau memang niat olahraga. 

Jadi kita bisa sewa mobil hias, sepeda hias dengan desain bermacam-macam atau naik skuter. Kita bisa menyetir mobil hias sendiri tapi hati-hati jangan sampai kebablasan. Hehe.

sumber: RadarSemarang.id 


Mobil hias ini juga dilengkapi dengan speaker musik jadi bakal ramai banget. Haha.

Harganya sekitar 35-40ribu.

CFD

Sebenarnya aku tidak ingat apakah pernah ke CFD Semarang atau tidak. Di Simpang Lima ini setiap hari ahad juga diselenggarakan CFD. Dan kebayang pasti ramai sekali. 

Wisata Kuliner Malam Hari

Surganya kuliner di Semarang ada di kawasan Simpang Lima. Awalnya, pinggiran jalan Simpang Lima merupakan pedestrian yang cukup lebar. 

Waktu masih awal kuliah di Semarang, belum ada warung kaki lima ini. Saat aku kuliah di Prancis, sekitar tahun 2012, di malam hari, pedestrian itu diubah menjadi tempat kuliner. Baru bisa kunikmati setelah pulang dari prancis sekitar tahun 2013.

Menurutku menunya cukup lengkap. Mulai dari nasi goreng, tahu gombal khas Semarang, soto, nasi padang, bakmi jowo, pokoknya banyakkk. Harganya juga masih normal kok. Nggak mahal. Sekitar 15- 30ribu tergantung menunya yaa.

Melihat Pentas Seni di waktu tertentu

Pernah suatu waktu, entah bagaimana, aku berada di Simpang Lima bersama teman kosku. Saat itu sedang ada panggung besar. Simpang Lima memang sering digunakan untuk konser atau pertunjukan seni.

Saat aku ke sana, ada pertunjukan wayang orang. Jadi aku dan temanku keliling sekitar panggung. Kami nggak sempat menonton kalau nggak salah belum mulai, tapi kami malah berfoto bareng dengan pemain wayang orangnya. Haha.

Para pemain wayang orang di depan Simpang Lima. Hanya foto. Foto sy sudah hilang.  (SindoNews)

Sudah Pernah Simpang Lima Semarang?

Berkunjung ke Semarang emang wajib banget deh pergi ke Simpang Lima atau kuliner di sekitarnya. Memang ikonik banget. Apa kalian sudah pernah ke Simpang Lima Semarang? Ngapain aja di sana? 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower