Gagal ke Bromo, Lanjut Ngopi di Cafe Edelweiss Park

No Comments
Cafe edelweiss park


Akhir pekan di Malang, tidak ada aktivitas yang lebih antimainstream selain sunmori (sunday morning riding) Tour Bromo. Ini bukanlah yang pertama kali pergi ke Bromo naik motor. Setelah menikah dan belum punya anak, saya dan suami pergi ke bromo naik motor trail sampai lautan pasir. 


Kedua kali, saat jarak antara syaraf kewarasan dan kegilaan begitu dekat, alias masih edan-edannya, kami healing ke Bromo naik motor bawa anak bayi 6 bulan. Perlu kutekankan lagi: bawa anak bayi 6 bulan ke Bromo! Kurang edan apa lagi. Wkwkwk. 


Bukan sesuatu yang urgent. Sampai-sampai mertua minta balik lagi ke Malang, tapi karena kami sudah dekat Bromo, jadi tetap lanjut. Hahhahaha. Semenjak itu, aku nggak sanggup kalau bawa anak naik motor ke Bromo lagi. Keseellll. Jarak Malang ke Bromo ini sekitar 50-60 km atau sekitar 1,5 -3 jam, tergantug kendaraan apa. Waktu itu, kami naik motor sekitar hampir 1.5 jam baru sampai Bromo. Boyokkuuu ya Allahhh.


Saat ketiga kali diajak partner in life Tour Bromo naik motor, sebenarnya masih agak terkejut. Tapi karena sepakat anak-anak tidak diajak, aku setuju aja. Anak-anak dititipi di atuk uti dan tantenya.


Dulu, beberapa kali mesin motor panas karena tanjakan yang tinggi dan tidak bisa melewati pasir Bromo yang licin. Jadi agak was-was kalau bawa motor ke sana. Sekarang pun harus istirahat beberapa kali biar nggak panas.


Bromo kebakaran

Beberapa waktu sebelum itu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengalami kebakaran akibat penggunaan flare saat sesi foto prewedding di bukit Teletubbies. Akibat kejadian itu, padang savana Bromo ditutup total. 


Aku pun ragu apakah Bromo masih ditutup atau tidak saat kami ke sana. Tapi aku sih ngikut aja apa kata yang ngajak kencan. Hehehe.


Persiapan ke Bromo

Karena perjalanan yang jauh dan di daerah pegunungan, maka barang bawaan untuk persiapan wisata Bromo sebenarnya sesederhana naik motor jarak jauh seperti jaket, masker, sarung tangan, pakai helm yang proper. 


Masalahnya, suami lupa sarung tangan. Hasilnya, saat perjalanan menuju Bromo, tangannya kebas karena dingin dan harus istirahat sejenak menghangatkan diri.


Rute Bromo Paling Aman

Jalur menuju Bromo itu cukup banyak. Lewat Poncokusumo, lewat Nongkojajar, Probolinggo atau Pasuruan. Rute Bromo paling aman sebenarnya lewat Probolinggo (Cemoro Lawang). Dari sana, kalian juga bisa sewa jeep Bromo dan banyak pilihan. 


Rute Bromo dari Malang sebenarnya bisa lewat Ngadas, tempat di mana aku survey tentang permukiman suku Tengger dulu, atau lewat Nongkojajar. Ketika dulu kami bawa si bayi, kami lewat Ngadas yang jalan menuju ke sana jelek (kadang aspal, kadang tanah, kadang cor, itu pun kadang berlubang, kadang halus), sempit, di pinggir jurang dan cukup terjal. 


Tidak disarankan mobil lewat sini. Karena kalau papasan dengan mobil lain, terpaksa harus minggir dan masalahnya jalannya sempit. Yang sisi lainnya adalah tebing, sisi lainnya jurang. Kami lebih sering melewati ladang, hutan, dan kampung-kampung yang terisolasi. Tentu saja, jalan di sini lebih sepi. Beberapa kali orang mengalami kecelakaan jatuh ke jurang saat lewat sini. Kalau mau lewat sini, lebih baik menyewa jeep/hardtop ke Bromo.


Alhasil, sekarang kami melewati Nongkojajar. Jalannya bagus, sudah beraspal, bisa dilewati dua mobil, ramai dan tidak seekstrim seperti lewat Ngadas. Beberapa kali kami berhenti sejenak, untuk menikmati pemandangan dan berfoto sejenak. Kemudian lanjut perjalanan. Kami melewati pasar, perkampungan, yang lebih ramai dibanding lewat Gubukklakah.

Sesampainya di Ticketing Bromo

Ketika sudah dekat dengan lokasi wisata, kami harus berhenti di gerbang ticketing dan membeli tiket.


Beberapa petugas TNBTS dengan seragamnya menemui kami yang baru turun dari motor. Beliau menanyakan tujuan kita ke mana? Kami jawab ke Bromo. Kemudian beliau mengatakan bahwa Bromo ditutup untuk sementara waktu karena kejadian kebakaran waktu itu sampai batas ysng masih belum diketahui.


Akhirnya, mau tidak mau kami harus balik. Karena sayang banget harus balik tanpa dapat apa-apa, kami mencari tempat wisata Bromo selain gunung. Kami pun sepakat untuk mengunjungi tempat wisata yang dekat dengan Bromo yaitu Edelweiss Park yang tak jauh dari gerbang.


Edelweiss Park

Kalian pasti tidak asing lagi kan namanya bunga Edelweiss. Bunga yang dijuluki bunga keabadian—yang aku tahu dari sinetron SCTV—ini memang menjadi simbol keabadian cinta. Simbol ini diberikan pada edelweiss juga tanpa alasan. Edelweiss mampu bertahan hidup meski telah dipetik lama bahkan bisa bertahun-tahun lamanya. Meskipun begitu, edelweiss yang sudah dipetik itu tetap harus dalam perawatan. 

Samalah seperti cinta dua manusia, hanya bisa tumbuh di lingkungan tertentu. Dan agar mampu bertahan lama, perlulah dirawat dengan baik. Ciyehnciyyeee

Para pengunjung gunung Bromo biasanya membawa pulang edelweiss memberikannya kepada sang kekasih sebagai simbol rasa kasih yang abadi.  Karenanya, edelweiss semakin langka hingga dilindungi oleh undang-undang. Masyarakat atau pengunjung tidak bisa sembarangan memetik bunga edelweiss karena kelangkaannya.

Kehadiran Edelweiss Park Bromo di Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, ini sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan hidup Edelweiss.

Oiya sebelum pintu masuk juga ada Taman Edelweiss Cafe juga tapi aku nggak ke sana. Kami disambut oleh taman bertuliskan "Edelweiss Park". Kami pun memasuki jalan kecil yang masih tanah di samping kebun. Di dekat pintu gerbang, kami melewati penjual souvenir. 

Souvenir yang dijual seperti topi kupluk, kaos kaki, kaos/baju, syal, gantungan kunci, alas kaki, asesoris dan lainnya.

Tiket masuk Edelweiss Park

Loket di pintu masuk dijaga oleh seorang pegawai berseragam dan menunggu kami.  Tiket masuk Edelweiss Park seharga Rp. 15.000,- sudah dapat voucher untuk ditukarkan makanan atau minuman di cafe. Di loket tiket, edelweiss dikreasikan dan dijual hingga bisa lebih tampak indah di dalam kotak kaca. Di loket juga tersedia oleh-oleh khas Bromo. Pembayaran tiket tak hanya cash tapi juga QRIS.

Tiket masuk edelweiss park

Pembibitan

Setelah membayar tiket, kami memasuki arena pembibitan edelweiss. Saat itu, pembibitan masih dimulai dan belum bertunas.

Kebun Edelweiss

Dari tempat budidaya edelweiss Bromo ini, kami keluar dan bertemu pemandangan perbukitan dengan kabut yang hampir turun di depan kami. Di sekitar kami, taman-taman yang penuh dengan berbagai jenis tanaman, termasuk edelweiss yang belum berbunga. Sayang banget sih pas ke sana belum berbunga. Hiks.


Cafe Edelweiss Park

Kami pun segera pergi ke Edelweiss cafe Bromo dengan menuruni tangga. Di depan kami, beberapa pengunjung sedang duduk menikmati sajian dengan pemandangan perbukitan di depan kami. Hampir sebagian besar tempat duduk di cafe ini terbuka, sehingga ketika hujan, maka akan sulit untuk mencari tempat berteduh apalagi kalau ramai.

Kami pun memesan kopi. Menu cafe edelweiss ini cukup bervariasi. Seperti indomie, nasi goreng, bakmie, lalapan, rice bowl. Jajanannya juga lumayan lengkap seperti pisang goreng, tahu walik. Kentang goreng, cirebg, donat, mendoan, nugget, risol mayo. Kopi yang dijual pun bervariasi seperti espresso, long black, americano, cappucino, coffee latte, vanilla latte, caramel. Hazelnut, vietnam drip, moccacino, machiato, kopi susu. Kalau kalian tidak suka kopi. Juga ada menu minuman lainnya, bisa es atau panas, seperti jahe, susu jahe, coklat,t aro, redvelvet, lemon tea, matcha, tiramisu, thai tea, dan green tea. Namun, dari segi harga, sedikit di atas harga standar sih. Untuk snack sekitar 15-18 ribu. Untuk makanan berat sekitar  23 - 28 ribu. Kalau kopi mungkin standar ya, sekitar 15-25 rihu gelas kecil.

Di depan cafe ini ada jembatan kaca yang pendek untuk melihat secara langsung tanpa penghalang pemandangan perbukitan yang dipenuhi kabut di depan kami. 


Di bawahnya, tanaman-tanaman edelweiss tumbuh tanpa bunga. Kami pun menikmati kopi di dekat tulisan "Desa Wisata Edelweiss."



Meja di hadapan kami berasal dari ban bekas yang ditumpuk kayu kotak. Sedangkan kursinya terbuat dari potongan-potongan kayu yang tidak dipakai.

Terlalu dingin untuk kami

Angin di siang itu sering meniup kepala kami, menyelisip lewat sela-sela jaket dan pakaian kami. Kabut sudah mulai turun. Pandangan di depan kami hanya berjarak 5 meter. Hanya beberapa menit kami duduk di alam terbuka, rasanya perut kami mulai sebah, kepala mulai pusing dan hidung mulai meler. Sepertinya kami memang tidak ada bakat nongkrong di alam terbuka dengan pemandangan keren begini, apalagi di tempat dingin. Maunya romantis, malah jadi masuk angin. Hehe.

Kami memutuskan pulang. Meski rasa dingin menyelimuti kami, semoga hubungan kami tidak sedingin udara itu. 

Mengunjungi Cafe Edelweiss Park memang cocok saat musim panas karena kabut jarang turun dan pemandangan akan lebih jelas terlihat. 

Sudahlah saatnya kami pulang. Nggak apa-apa deh, gagal ke Bromo, bisa kencan romantis tapi kedinginan di cafe yang pemandangannya keren.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower