Sebenarnya aku tuh bukan introvert-introvert amat, karena masih bisa lah ketemu orang dan bersosialisasi secukupnya. Tapi kalau ekstrovert juga nggak banget sih, soalnya kadang males banget kalau kumpul dengan orang-orang yang belum banyak kukenal, kaku kalau mau sosialisasi, kayak kurang bahan. Bukan juga ambivert, karena sebenarnya aku tidak terlalu pandai bersosialisasi. Secukupnya saja. Jadi, aku termasuk apa ya? Wkwkw. Tiap ada kegiatan jalan-jalan dari sekolah atau RT, sebenarnya aku agak mager. Jadi di sekolah TK anakku (hampir tiga tahun lalu dan baru kutuliskan sekarang, hehe.), ada kegiatan anak bersama orang tua berkunjung ke Predator Fun Park Kota Batu.
Biasanya kan kalau kegiatan di luar, murid sama gurunya saja. Cuma karena ini keluar kota jadi sama orang tua. Dan, waktu itu, kondisinya adalah aku punya anak bayi. Biasanya kalau keluar kota itu pergi sama ayahnya. Kalau ayahnya ikut pasti kakaknya ikut. Mohon maaf eh budget nya nambah lagi kalau mereka ikut. Mahal cuy. Awalnya Ghalib mau dititipin ke gurunya aja deh, tapi mikir kok kayaknya kasihan (belum lagi dia begitu lembut hatinya, takut suka tiba-tiba nangis karena sesuatu hal). Jadi yaudah deh, aku ikut.
Sekitar jam 7 pagi, aku, Ghalib dan Nasser, diantar suami ke titik kumpul di mana sudah banyak bus menunggu. Guru-guru juga membantu mengarahkan murid dan orang tuanya masuk ke dalam bus. Waktu itu, kami hampir terlambat dan sebagian besar peserta sudah masuk bus. Serba terburu-buru. Kami segera naik bus dan duduk di kursi yang sudah diberi nama Ghalib, di bagian agak belakang bus.
Perjalanan ke Malang naik bus rombongan
Gimana perasaan anaknya? Tentu saja happy banget dong. Bisa ikut jalan-jalan sama teman-teman dan ibunya. Sepanjang jalan, ia bernyanyi mengikuti lagu yang diputar di dalam bus. Sesekali ia meniru gerakan di koridor bus. Anakku yang paling kecil pun sesekali ikut menggoyangkan badannya, bertepuk tangan dan ikut bernyanyi meski suaranya tak jelas.
Karena rombongan adalah anak-anak TK, busnya tidak mengebut. Sekitar waktu setengah jam, kami berhenti di rest area karena bus di depan kami belok ke rest area, dan juga beberapa anak, termasuk anakku, minta ke kamar mandi.
Tentu saja karena rombongan yang kebanyakan adalah ibu-ibu, toilet yang paling ramai adalah wanita. Antrinya maasyaAllah bikin mengelus dada. Sekitar hampir 20 menit kami pun sudah bisa menaiki bus. Bus melanjutkan perjalanan ke Kota Batu.
Karena aku tidak kenal banyak wali murid, sepanjang jalan aku juga tidak banyak mengobrol. Tidak seperti ibu-ibu yang lain yang ramai karena sudah saling kenal.
Predator Fun Park
![]() |
| Fotonya pas udah pulang capek makanya anaknya udah nggak pake baju olahraga |
Dari namanya saja, kita bisa menebak apa itu Predator Fun Park? Salah satu tempat wisata Kota Batu ini memadukan wisata edukasi tentang predator dan wahana permainan. Predator Fun Park ini termasuk bagian dari Jatim Park Group. pusat rekreasi di Kota Batu, Jawa Timur dengan berbagai tema (theme park).
Meski aku sering ke Malang, tapi aku belum pernah masuk ke Predator Fun Park. Makanya nih ulasan Predator Fun Park baru mau aku tulis, hehr. Pertama kali aku ke sana karena ada kegiatan field trip TK. Dan ternyata sekarang Predator Fun Park sudah rebranding dan namanya berubah menjadi Batu Ekonomis Park sejak 1 April 2025, sudah satu tahun yang lalu.
Lokasi Batu Ekonomis Park ini berada di Jl. Raya Gangsiran Wetan, Tlekung, Kec. Junrejo, Kota Batu.
Sebelum masuk ke Predator Fun Park, kami sudah dihimbau panitia bahwa tidak diizinkan bawa makanan dan minuman dari luar. Karena dihimbau itulah, aku tidak membawa makanan apa pun (Selain memang tidak menyiapkan jajanan atau makanan dari rumah, hehe), kecuali air putih dalam tumbler.
Anak-anak diminta berkumpul dulu di halaman depan pintu masuk. Dengan penuh kesabaran, guru-guru TK mengarahkan anak-anak TK itu berbaris dengan membawa tas masing-masing. Mereka pun diminta duduk rapi. Seorang petugas dari Predator Fun Park memberikan arahan apa yang diperbolehkan dan dilarang selama berkunjung. Para guru hanya mengawasi dari pinggir barisan. Orang tua murid memperhatikan anak-anak mereka dari pinggir bahkan ada yang dari kejauhan.
Ternyataa.... anak-anak ini masuk bersama petugas dan ibu guru. Orang tua tidak diizinkan untuk mengikuti anak-anak. Yah...orang tua jalan sendiri jadinya.
Ada apa saja di Predator Fun Park?
Saat anak-anak sudah masuk ke dalam ruangannya, kami para orang tua baru diizinkan masuk ke dalam. Antrian cukup mengular karena tas pengunjung harus dicek petugas. Di sekitar petugas, banyak plastik berisi bungkusan makanan yang disita petugas. Wew. Agak strict sih.
Oiya kalau harga tiket Predator Fun Park 2025 ini berkisar harga 25.000 - 70.000 tergantung hari kunjungan, promo dan fasilitas. Karena aku rombongan jadi kami sudah diberi gelang sebelum pemeriksaan tas.
Gallery Buaya
Aku mendorong stroller di mana Nasser duduk anteng memperhatikan sekitarnya. Saat awal masuk, kami sudah disambut galeri buaya yang berisi fosil dan replika buaya yang ditempel di dinding. Hawanya sedikit mengerikan sih menurutku, wkwk. Sebabnya ingatanku tentang buaya di masa kecil muncul. Dulu, sering sekali aku membaca berita di koran tentang buaya-buaya Sangatta yang suka makan manusia. Hiii....
Sebuah peta besar tentang penyebaran buaya di dunia terpampang jelas dan lebar di dinding dekat pintu masuk. Dari sini aku jadi tahu bahwa buaya merupakan satu-satunya satwa yang tidak berubah bentuknya karena evolusi sejak zaman purba (sekitar 65 juta tahun sebelum masehi).
Meski masih berada di Galeri Buaya, di sini juga ada hewan lain seperti ular. Beberapa orang kulihat langsung berjalan tanpa membaca tulisan pada setiap satwa yang dipajang. Di bagian selanjutnya, hewan predator yang dipajang adalah ular. Benar-benar ular mati yang diawetkan sehingga kulitnya masih utuh. Penampakannya masih utuh. Hanya tidak bergerak (jangan sampai bergerak yaa Buunnn... Bisa teriak saya.)
![]() |
Ada yang ditempel di dinding dan ada yang ditaruh di bagian bawah. Jenis ular bermacam-macam, seperti ular hijau, ular sanca, dan lain-lain. Aku sendiri geli melihatnya. Ketika stroller anakku kudekatkan ke bagian ular yang ada di bagian bawah dan cukup dekat dengannya, dia reflek menggeser badannya menjauh dengan tatapan khawatir. Dari matanya yang naik turun, ia memastikan bahwa ularnya tidak bergerak.
Selanjutnya, kami melihat Zebra saja bersama hewan predator lainnya yang disinari lampu pameran, tampak benar-benar nyata. Di ruangan itu juga masih ada fosil kepala buaya dan alligator, termasuk juga kulit buaya. Di salah satu sisi dinding pameran, tubuh buaya yang besar menempel di dinding menunjukkan betapa besarnya buaya tersebut jika dibandingkan tinggi para pengunjung yang hadir saat itu.
Predator Idol
Lucunya, panggung kecil disiapkan khusus Predator Idol yang mengikuti konsep Indonesia Idol. Dua ekor buaya yang berdiri sambil memegang gendang dan gitar yang dikalungkan di leher. Di belakangnya, panggung bertirai itu bertuliskan Predator Idol seolah sedang konser.
Anatomi tubuh buaya
Di sini, aku seperti sedang belajar Biologi. Seekor buaya yang dipotong kulitnya hingga tampak bagian-bagian tubuh buaya, mulai dari otak, paru-paru, jantung, lambung, ginjal, usus hingga kloaka. Oiya, buaya ini tidak punya kantong kemih untuk menampung urin. Urin akan tertampung di dalam rectum sebelum keluar lewat kloaka.
![]() |
| Maap Pak Bapak anda kefoto. Hmm.. |
Tampak replika buaya yang sedang memangsa hewan lainnya. Buaya dapat berlari dengan kecepatan 18 km/jam. Hewan buaya ini menjadi hewan yang memiliki kemampuan gigitan paling besar sekitar 5000 psi, sedangkan manusia memiliki kemampuan gigitan terbesar berukuran 120 psi. MaasyaAllah.
Uniknya, jika manusia hanya bisa berganti gigi cukup sekali, nah buaya ini bisa sampai 50 kali.
Galeri buaya pun selesai, saatnya keluar dari ruangan. Udaranya segar.
Kandang Satwa
Nah, kalau di sini buayanya asli karena berada di kandang khusus buaya ditambahkan air seperti di rawa-rawa. Dari sini, aku jadi paham kenapa seseorang yang suka berganti pasangan disebut buaya darat. Karena buaya itu hewan poligasme yang menikah lebih dari satu pasangan.
Tak hanya buaya, tetapi juga monyet berekor panjang yang berisik karena berlarian dan memanjat pagar berharap ada yang mengeluarkannya dari kandang.
Tempat memancing
Bagi yang suka memancing, bisa coba wahana tempat memancing ini. Beberapa kulihat anak-anak bukan rombongan TK mungkin saudaranya yang mencoba memancing meski tidak ada umpan dan tidak dapat ikan yang tertangkap.
Kolam buaya
Berjalan sedikit, aku melihat kolam buaya yang cukup luas di mana ada beberapa buaya di kolam itu. Petugas terlihat berdiri di tempat aman sedang memberi makan. Buaya di hadapannya berebutan mengambil makanan.
![]() |
| Kelihatan kaan buayanyaa |
Kalau nggak kelihatan, nih foto buayanya lebih jelas. Hehe.
![]() |
| Mana buayanya? Jangan sampai salah tunjuk ya..hihi |
Wahana Permainan
Selain belajar tentang predator, anak-anak juga bisa menikmati wahana permainan yang cukup banyak (meski tidak sebanyak Jatim Park). Wahana permainan memang kebanyakan cocok untuk anak-anak, tidak seperti di Jatim Park yang lebih banyak untuk dewasa.
Ada satu wahana yang cocok untuk remaja-dewasa yaitu Family Fun House. Di wahana ini, pengunjung harus melewati tantangan seperti berjalan di roda, maupun jalanan yang berjalan, ada perosotan juga. Di sini ada minimal ketinggian. Yang jelas anakku tidak bisa masuk ini.
Di depan Family Fun House ini ada tanah lapang dan panggung. Di depannya ada food court di mana aku menunggu anak-anak selesai. Aku berjalan dan melihat ada kolam renang Batu Ekonomis Park dengan berbagai perosotan.
Sembari menunggu anak-anak selesai, panitia dari Predator Fun Park menyiapkan permainan untuk ibu-ibu. Awalnya, aku diajak tapi aku menolak dan memilih untuk melihat dari kejauhan karena sedang menjaga si kecil. Ibu-ibu dan para guru diminta melompat-melompat sambil saling berpegangan.
Karena masih lama, aku mengajak anakku bermain di wahana permainan yang gratis dan bisa dimainkan untuk anaknya, seperti perosotan dan main mandi bola.
Ketika aku kembali, anak-anak sedang bermain flying fox. Aku melihat wajah anakku mulai tidak ceria seperti ada sesuatu. Ternyata dia habis menangis dan diantar gurunya karena dia takut bermain flying fox). Hehehe.
Setelah itu, kegiatannya bebas, aku mengajaknya naik kereta kesukaannya dan main mobil-mobilan. Meski antri dan panas, dia tetap senang bisa naik kereta.
![]() |
| Naik kereta |
![]() |
| Main mobil-mobilan |
Food Court
Saat anak-anak belum selesai, aku duduk di food court sambil menikmati kotak makan siang yang diberikan panitia. Aku juga membeli cemilan produk lokal BUMDes Desa Tlekung yang dijual di food court. Untuk makanan dan minuman yang dijual juga beraneka ragam seperti bakso, lalapan ayam, empal, dan lain-lain.
Alhamdulillah capek!
Akhirnya ya Allah selesai juga acaranya. Aku sebagai pendamping aja kesel bangeet, apalagi gurunya. Semoga Allah yang balas kebaikan para guru-guru ini. Aamiin.
Rasanya gimana? Udah kenal siapa aja? Rasanya tetap seperti sendiri. Karena masih malu-maluuu. Hehehe. Tetep sih akhirnya kenal dan lebih sering ngobrol ama orang tua wali murid juga di momen lain karena ketemu tidak sengaja.
Kami pun segera pulang. Pulangnya, kami melewati toko sovenir. Eh, tapi aku nggak beli apa-apa, sih. Hihi. Kami segera kembali ke dalam bus dan istirahat.


















0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.