Sensasi Menyeberangi Sungai dengan Mobil di Bedengan Malang

No Comments
Perjalananku ke Bedengan Malang ini dua kali. Pertama, aku naik motor bersama suami hanya untuk lihat kondisi Bedengan sebelum membawa keluarga mertua ke sana. Setelah kami mengunjungi tempat camping populer di Malang yaitu Bumi Perkemahan Bedengan Malang, bukan untuk camping tapi wisata alam keluarga di Malang.

Bedengan Malang ini berada di Jalan Raya Selokerto, Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Namanya hampir sama dengan waduk Selorejo yang pernah aku ulas, sama kelurahan tapi beda kecamatan. Lokasi Bedengan ini ada di sisi barat Kota Malang. Sekitar 30 menit perjalanan dari rumah mertua atau sekitar 13 km.

Perjalanan menuju Bedengan Malang

Keluar dari kota Malang, menuju perumahan Joyo Grand, kita lurus saja, mengikuti Google Map, sampai masuk Selorejo, Dau, Malang. Jalanan menuju Bedengan ini ada yang mulus, ada yang berlubang. Jalannya juga tidak lebar, sehingga jika ada dua mobil papasan harus pelan-pelan dan agak minggir.

Pemandangannya tidak seindah perjalanan menuju bendungan Selorejo. Di sini, selain pemandangan permukiman, kebun jeruk lebih banyak terlihat ketika sudah hampir tiba di Bedengan. Beberapa stand penjual jeruk juga terlihat di kanan kiri jalan. 


Mesin motor mulai panas saat jalanan terus menanjak. Tak ingin mengalami sesuatu yang menyeramkan di tempat yang jauh dari mana-mana ini, suami menghentikan mesin motor. Kebun jeruk berpagar bambu di sisi kanan dan kiri kami cukup lebat. Aku mengintip dari pintu masuk kayu yang tertutup. Pepohonannya cukup lebat. Daun-daunnya hijau segar. Beberapa buah jeruk masih hijau menggantung di rantingnya. Tampak kebun jeruk itu dirawat oleh pemiliknya.

Kami melewati jalanan berbatu yang cukup lebar, kecepatan kendaraan melambat karena rasanya tidak nyaman melewati jalanan seperti itu.


Filosofi Tanaman dari Lihat Kebun Jeruk

Aku takjub. MaasyaAllah. Kenapa ada orang-orang dianugerahi bisa merawat tanaman sampai subur dan berbuah, bisa dijual hasilnya? Sementara, beberapa kali saat aku merawat tanaman, tak pernah bisa berhasil bertahan lama. Tentu saja karena aku tak punya ilmunya pada jenis tanaman. Kata orang-orang, tangannya dingin jadi semua tanaman yang ditanam bisa tumbuh. Sementara petani sudah berpengalaman dan punya ilmu pada satu jenis tanaman. Jadi mereka bisa fokus merawat hingga berbuah. Lah, aku sendiri, satu jenis tanaman mati, ganti tanaman lain. Belum sampai ilmunya merawat satu jenis tanaman, sudah ganti tanaman lain.


Memang perjalanan merawat tanaman tidaklah mudah, cuaca dan hama menjadi tantangan agar tanaman tidak mati atau layu. Bahkan pernah dengar, petani harus menambahkan glukosa pada tanaman agar hasil jeruknya manis. Perjalanan merawat tanaman memang harus sabar. Dan sepertinya aku nggak cocok jadi petani, karena aku orangnya nggak sabaran. Haha.

Filosofi tanaman jeruk ini sebenarnya bisa disamakan dengan iman kita. Iman yang harus terus dirawat dengan ilmu, maka kelak saat dipetik buahnya manis dirasakan. Sementara cobaan menerapkan ilmu untuk merawat iman pasti banyak sekali. Kadang bisa sabar, kadang harus menangis saat melihat selama perjalanan mengalami pahitnya. Kadang perlu treatment tambahan seperti glukosa, entah support dari sekeliling, agar perjalanan pahitnya tetap terasa manis. Ciyeehh...

Cukuplah mengambil makna dari sebuah kebun jeruk, mesin motor mulai dingin, aku mencari tempat untuk mengambil video perjalanan dan meminta suami untuk mengendarai motor dari arah yang berlawanan. Tanaman yang menjadi pagar kebun jeruk membuat foto dan video jadi tambah estetis.

Meski masih jam 9 pagi, tapi matahari sudah cukup terik dan menyengat. Kami melanjutkan perjalanan, melewati kebun jeruk yang kering.

Di pertigaan, sudah ada beberapa orang yang mengarahkan para pengunjung yang menggunakan mobil untuk parkir di sebuah tanah lapang. Wah, aneh-aneh saja, padahal Bedengan masih cukup jauh kalau harus jalan kaki. Setelah aku lihat, ternyata ada beberapa orang yang mengendarai motor. Sepertinya mereka ditawarkan naik mobil dengan biaya tertentu padahal ada juga kok pengunjung yang naik mobil lanjut terus ke Bedengan.

Tiket Masuk Bedengan Malang

Mendekati Bedengan, gapura loket sudah terlihat. Beberapa petugas sibuk menerima uang tiket masuk dari pengunjung lain dan memberikan karcis. Di loket, harga tiket masuk Bedengan Malang tampak jelas sehingga kita tidak bingung lagi. Aku lupa banget berapa harga tiket masuknya. Ini aku coba lihat di Google.

Tiket masuk Bedengan Rp. 10.000,- per orang.
Parkir motor Rp. 3.000,-
Parkir mobil Rp. 10.000,-
Camping sekitar Rp. 20.000,-
Sewa tenda/ alat tergantung jenisnya.

Menyeberangi Sungai Dengan Mobil

Dari loket, kami turun ke bawah dan melihat aliran sungai dangkal yang penuh bebatuan. Beberapa sudut, bebatuannya besar. Sedangkan sisanya tanah dan bebatuan kecil.

Yang seru dari Bumi Perkemahan ini, mobil yang akan parkir harus menyeberangi sungai kecil itu. Sementara motor harus melewati jembatan kecil kayu selebar motor.


Setelah memarkirkan motor, kami berkeliling tempat wisata. Karena berada di kawasan pegunungan (Kawi dan Panderman), tempat wisata Malang ini memiliki kontur yang . Kalau naik ke atas, banyak parkir mobil dan tempat perkemahan. Beberapa orang mendirikan tenda di pinggir sungai. Bau wangi daging panggang menusuk hidung kami. Hmm.. lezatnya daging barbeque. Suara tawa anak kecil dan orang dewasa bercampur baur dengan suara kicau burung dan riak sungai. Ramai tapi menyenangkan dan menenangkan. Semua tampak bahagia di sana.

Kami duduk di pinggir sungai sambil melihat mobil-mobil yang menyebrangi sungai. Memang lebih baik, mobil yang dipakai itu jenis mobil Innova, Kijang, Avanza, dan seukuran itu. Ketika mobil Honda Jazz datang ke sana, saat masuk ke sungai sedikit jeglok, dan saat naik dari sungai juga sedikit susah. Dan harus pelan-pelan karena, saat kedua kalinya pergi ke Bedengan Malang bersama keluarga naik mobil, memang sensasinya menyebrangi sungai bikin deg-degan, hehe.


Kebetulan kita datang berkunjung ke Bedengan sekitar bulan Juli, sudah mulai masuk musim kemarau, jadi air sungai masih dangkal dan bening. Kalau musim hujan mungkin agak dalam tapi masih memungkinkan untuk disebrangi dan untuk camping di pinggirnya. Pernah lihat di Youtube, mereka datang saat musim hujan, air sungainya cokelat dan sedikit dalam.

Fasilitas di Bedengan Malang

Aku belum pernah ke tempat perkemahan lainnya jadi nggak bisa membandingkan fasilitasnya. Tapi menurutku fasilitas standar yang ada di Bedengan itu sudah terpenuhi seperti
  • Musholla
  • Toilet
  • 17 area camping
  • Warung makan
  • Gazebo
  • Area parkir

Apa yang dilakukan di Bedengan Malang selain camping?

Karena kami tidak camping di Bedengan Malang, saat aku berdua sama suami hanya duduk-duduk sambil menikmati pemandangan alam dan melihat para pengunjung yang bermain air di sungai. Sedangkan saat sama keluarga besar, selain camping, kami bisa melakukan beberapa hal:

Duduk di pinggir sungai

Ketika aku duduk di gazebo pinggir sungai ditambah udara yang sejuk, burung-burung mencari makan di sekitar dan terdengar air gemericik sungai. Bagi penulis, sepertinya tempat ini sepertinya cocok untuk menulis dan mencari inspirasi. Tapiii kalau kelamaan duduk di sini juga aku bisa masuk angin. Nggak tahan lama duduk di luar. Haha. 


Karena saat akhir pekan, kondisi tempat camping sudah banyak diisi pengunjung untuk mendirikan kemah.


Di sini kita bisa memilih duduk di pinggir sungai yang agak tinggi atau yang rendah. Karena kami bawa rombongan anak-anak, kami memilih di tempat yang dekat dengan sungai. Jadi anak-anak bisa langsung turun tanpa harus minta bantuan orang tua. 

Hanya saja di dekat tempat yang kita duduk kurang bersih, ada beberapa sampah yang belum sempat dibersihkan pengunjung sebelumnya dna belum sempat diangkut sampahnya oleh petugas. 

Main air sampai menggigil

Airnya tidak terlalu deras tapi gemericik airnya menyenangkan. Bebatuannya banyak sehingga anak-anak bisa duduk sambil bermain air.

Karena dingin, mereka nggak tahan bermain lama-lama. Nggak sampai setengah jam mereka semua menggigil kedinginan. Akhirnya kami minta mereka segera membalas badan dan ganti baju di toilet yang tidak begitu jauh dari tempat kami duduk.


Beef Slice Party

Sebenarnya mirip barbeque party, tapi yang kami panggang bukan daging utuh tapi daging slice yang dimarinasi. Tujuannya saja yang hampir sama yaitu menekankan hubungan kekeluargaan. 

Kami membawa daging slice, nasi, alat makan dan alat bakar barbeque. Lebih enak kalau sudah dibumbui dari rumah biar lebih meresap. Enaknya kalau daging slice ini lebih cepat masaknya dan semua bisa makan karena tidak alot. 

Setelah selesai memasak, anak-anak makan nasi dan daging slice plus sayur lettuce. Hmm.. enak banget.. kraukkk..krauukk

Keliling Bedengan

Namanya anak-anak nggak bisa diam jadilah mereka keliling Bedengan dengan diawasi orang tua. Aku lupa apa ada playground atau tidak. Aku ingat anak-anak menaiki menara yang akhirnya aku minta turun karena kok mengerikan tampaknya melihat kehebohan mereka. 

Camping di Bedengan Malang?

Karena aku tidak pernah camping kecuali saat KKM saat mahasiswa dulu, jadi aku mungkin tidak ke sini lagi untuk camping. Hehe.

Kalau kalian suka camping, Bumi Perkemahan Bedengan Malang bisa menjadi pilihan alternatif tempat camping Malang yang cocok untuk keluarga. Tempatnya teduh, fasilitas standar sudah ada dan insyaallah aman. 
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower