Bakmi Jowo Semarang, Antara Masa Lalu dan Masa Kini

No Comments
Menjelajahi Semarang, yang aku ceritakan di pos sebelumnya, menjadi satu bagian membuka lembaran masa lalu. Apa yang paling kurindukan—dan belum tentu ada di Sidoarjo—adalah menikmati kuliner Semarang, bakmi godok plus sate babat kecapnya. Ketika masih jadi budak korporat dulu, jika tidak lemburan menyelesaikan dokumen rencana yang hampir sangat jarang terjadi, aku pulang setelah sholat maghrib, berjalan kaki menuju warung tenda bakmi Semarang yang sudah ramai pembeli. Biasanya, aku beli bakmi Jowo/ bakmi godok, bihun, sate babat, dan sate jeroan. Ada juga sedia nasi goreng. Yang paling khas, semua menu dimasak tidak pakai gas, tetapi pakai arang, yang bikin rasanya lebih sedap. 

Setelah bertahun-tahun tidak mengunjungi Semarang, aku—mengajak keluargaku—bernostalgia di sana. Sayangnya, sesampainya di sana, warung tenda itu sudah tidak ada. Aku mengira memang sedang tutup, tetapi tidak tanda-tanda bahwa warung masih stand by di sana. Soalnya tidak ada tanda-tanda apa pun.

Sedih, sih. Entahlah beneran tutup atau tidak. Yang jelas kami tidak bisa mencicipi bakmi khas Semarang. Akhirnya, rencana selanjutnya yaitu mencari penjual bakmi jawa terkenal di Semarang melalui penelusuran Google. Pilihannya cukup banyak. Mataku tertuju pada satu nama Bakmi Jowo Pak Doel Noemani dan punya cabang di tempat yang tidak terlalu jauh Bakmi Jowo Dul Numani.

Tanpa pikir panjang dan sudah mager cari tempat lain, kita menuju ke sana. 

Lokasi di Jalan Utama Semarang

Aku tidak terlalu bingung mengarahkan jalan pada suami karena aku masih sangat hapal. Hanya saja perlu patokan lokasi persisnya Bakmi Jowo Semarang Terdekat Doel Noemani.

Google Map menjadi teman setia saat perjalanan. Haha. 

Nggak expect sama sekali tentang tempatnya. Yang penting, perut kenyang karena sudah lapar (tidak recommend sebenarnya makan bakmi godog kalau lagi lapar, hehe). Sampai di tempatnya, aku agak terkejut karena ternyata ramai sekali. Wah pasti ini bakmi godog enak di Semarang. Lihat di ulasan Google emang bener.

Warung pertama dekat di belokan Jalan, di depannya Mall Paragon. Akhirnya kami cari di cabang satunya, depan hotel Amaris dan disamping SMA 5 Semarang.

Warung ini berada di depan bangunan perkantoran yang berarsitektur kolonial. Tapi tidak jelas kantor apa? Mungkin sudah tidak aktif? Di Google kantor yayasan begitu.

Beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Petugas parkir pun mengarahkan kami parkir di dalam. Tempat parkirnya sebenarnya cukup menampung banyak kendaraan tapi tetep aja kami parkir di depan mobil lain yang sedang terparkir jadi tidak boleh di hand rem.

Tak hanya Mi Godog



Meskipun warungnya bernama Bakmi Djowo tapi di warung ini tidak hanya menjual Mi saja tapi juga menu nasi seperti Bakmi Godog, Bakmi Goreng, Bakmi Nyemek, Mihun (Godog, goreng, nyemek), nasi goreng, nasi godog, nasi ruwet (ada campuran mie), cap Jay (goreng dan godog).

Bedanya apa? 

Perbedaan godog dan nyemek ini terletak pada kuatnya. Kalau bakmi godog menggunakan mie kuning dilengkapi sayur, ayam, telor, dituang dengan kuah kaldu ayam kampung encer agak banyak. Sedangkan bakmi nyemek, kuahnya kental dan sedikit. 

Bakmi Godog


Kalau perbedaan bihun dan bakmi terletak pada jenis mie yang dipakai. Kalau bihun ya pakai Mi bihun itu.

Kalau aku suka godog karena enak segar dan hangat. Cocok banget kalau lagi perjalanan jauh. Kalau kalian suka godog atau nyemek?

Oiya, jangan sampai lupa, yang sangat menggiurkan dan khas itu adalah sate kulit, sate uritan dan sate jeroannya yang dibalur kecap. 



Alhamdulillah meski keturunan juga makan bakmi godog dan sate kulit kecapnya. 

Lesehan atau Duduk di Kursi?

Saat kita tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang sedang menunggu pesanan dan menyantap makanan. Selain duduk di kursi, pengunjung juga bisa duduk lesehan di latar bangunan perkantoran.

Karena kami sedang dalam perjalanan, lebih nyaman kalau duduk lesehan agar lebih santai dan bisa selonjorkan kaki.

Memilih lesehan karena meja penuh

Sekitar 20 menit akhirnya pesanan kami datang. Makan bakmi dan satenya. Jangan lupa tambahkan acar timun dan cabe hijau biar mata makin melek nggak mengantuk. Haha.

Susahnya kalau lesehan itu air minum rawan tumpah. Maklum bawa anak kecil yang ngga bisa diam. Kesabaran emaknya diuji banget deh. Tapi bersyukur juga mereka tidak rewel. Cuma mereka nggak sabar aja karena pesanannya cukup lama datangnya. 

Emang paling aman sih kalau sama anak kecil duduk di kursi aja. Biar minuman dan makanan yang banyak kuah itu tidak kesenggol dan tumpah.

Rasa Bakmi Godog

Kalau kalian pencinta gurih, mungkin bakmi godog di sini, menurutku, cenderung sedikit lebih manis (nggak terlalu manis ya). Tetep sih rasanya gurih dari kaldu ayam kampung juga terasa sedepp. 

Nah kalau kalian porsi makannya banyak. Satu piring nggak bakal cukup. Haha. Aku pun merasa masih belum kenyang tapi karena dalam perjalanan yang isi perut 50% angin dan air, jadinya perut masih terasa kenyang. Hehe.

Pembayaran cash

Waktu itu aku tidak tanya-tanya berapa harga per menunya. Aku langsung bayar saja. Hehe. 
Kalau lihat di ulasan, harga menu makanan bakmi godog Dul Numani berkisar 25.000 per orang, kalau pakai minum dan 2 tusuk sate sekitar 35ribu. Oiya, di warung bakmi godog ini tidak menerima pembayaran digital jadi harus cash. Emang sih waktu itu aku juga bayarnya cash. Mungkin di cabang lain masih menerima pembayaran digital, aku kurang paham juga. Kalau kalian datang ke sini nanti coba ditanyakan saja dulu sebelum memesan makanan.

Semakin malam semakin banyak pengunjungnya, kami sesegera mungkin menyelesaikan makanan. 

Alhamdulillah akhirnya keturunan juga makan bakmi plus sate kulit dan jeroan. Hehe.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower