Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Setiap jalan-jalan ke Solo, seperti setelah aku mengunjungi kampung Batik Kauman Solo, aku tidak mau melewatkan mencicipi kuliner khas Solo. Banyak sekali kuliner khas Solo yang bisa kita coba, seperti Selat Solo, Sop Matahari, nasi liwet, sate buntel, tengkleng, dan lain sebagainya. Nah, biasanya karena Sragen lokasinya dekat dengan Solo jadi masih banyak warung makan yang menjual makanan khas Solo di Sragen. Tapiii rasanya beda sih. Aku ceritakan beberapa kuliner khas Solo yang patut dicoba jika kita hanya satu hari di Solo.

Kuliner Khas Solo

Ada banyak sekali kuliner khas Solo tapi yang aku tulis di sini yang selalu aku coba setiap ke Solo. Karena menurutku, rasanya yang pas banget di lidah dan khas Solo banget.

Selat Solo

Kuliner Solo satu ini emang khas banget, meski dari segi sejarah kuliner ini mendapat pengaruh dari Eropa. Dulunya orang Eropa yang masih menduduki Indonesia, khususnya Solo, biasa makan bistik sapi. Kemudian hidangan khas Eropa itu ditambah sayur dan kuah manis hingga jadilah seperti salad tapi ala Jawa. Ada juga yang mengatakan bahwa Selat berasal dari bahasa Belanda "Slachtje" yang artinya penyembelihan karena berasal dari daging sapi. Orang Jawa jadi ngomongnya Selat. 

Selat Solo di Warung Tenda Biru (Foto Google Anggraini)

Kalau kalian biasa makan porsi besar, maka seporsi Selat Solo ini pasti kurang karena Selat Solo tidak pakai nasi. Sama seperti makanan Eropa yang memakai kentang sebagai pengganti nasi. 

Seporsi Selat Solo ini terdiri dari potongan kentang, wortel, buncis, sayur selada, telor rebus kecap, daging stik, disiram dengan kuah yang gurih manis. 

Cita rasa Selat Solo ini hampir sama dengan sebagian besar makanan Jawa Tengah yang cenderung manis. Daging stiknya bisa berupa daging asli yang diolah dengan bumbu manis kecap atau biasanya ada yang pakai rolade daging. 

Meskipun rasanya manis tapi tetap ada gurihnya kok. Ada rasa pedas dari merica. Jadi bagi lidah yang lebih suka makan gurih pun nggak kaget dengan rasanya Selat Solo. Tetap bisa dinikmati. Di akhir artikel aku akan kasih tempat makan Selat Solo yang recommended yaa.

Sate Buntel

Sate Buntel ini juga jadi salah satu kuliner Solo yang wajib didatangi saat ke Solo. Sebab tak semua kota menjual Sate Buntel ini. Tentunya rasanya juga beda sih. 

Sate Buntel (Foto Google Banafsha Za)

Apa sih Sate Buntel itu? Sate buntel itu sajian khas Solo yang berasal dari daging sapi/kambing/ayam cincang yang diberi bumbu dilapisi lemak tipis kemudian dibentuk/dibuntel dililitkan pada tusuk sate. Kemudian dibakar. Di beberapa rumah makan, sate buntel ini dilapisi aluminium foil terus dibakar. 

Salah satu alasan lagi kenapa sate buntel jadi kuliner wajib saat di Solo adalah karena lebih mudah dikunyah daripada sate kambing yang dipotong-potong. Maklum kami sekeluarga ini memang agak susah makan sate kambing kalau nggak yang empuk banget. 

Dan menurutku sate buntel ini paling enak pakai daging kambing sih. Lebih sedap. Bau apa nggak? Menurutku sih nggak kerasa baunya meski aku makan di beberapa tempat. 

Di Solo, ada satu tempat makan Sate Buntel yang recommended yang aku akan ceritakan.

Rekomendasi Rumah Makan Kuliner Solo

Aku rekomendasikan dua tempat makan di Solo yang menyediakan kuliner khas Solo. Untuk makan Selat Solo bisa ke rumah makan Tenda Biru. Sedangkan untuk Sate Buntel bisa ke Sate Pak H. Kasdi.

Rumah Makan Tenda Biru Solo

Sebenarnya banyak rumah makan di Solo yang menyuguhkan Selat Solo, tapi aku lebih suka makan Selat Solo di Tenda Biru Solo.

Meskipun namanya Tenda Biru tapi sebenarnya Rumah Makan ini berupa bangunan permanen. 

Rumah Makan Tenda Biru Solo di Malam Hari (Dok. pribadi)

Saat kami ke sana setelah magrib, mobil-mobil antri masuk dan keluar dari rumah makan. Tampaknya sangat ramai malam itu. 

Kami menaiki motor pinjaman teman. Kami tidak perlu rebutan parkir. Di Tenda Biru memang tersedia tempat parkir mobil yang cukup luas jadi suatu waktu ke sini bawa mobil alhamdulillah selalu ada tempat untuk parkir.

Kami memasuki rumah yang cukup luas. Di bagian depan, kasir sedang melayani pembayaran dari pembeli. Aku mencari tempat yang kosong. Malam itu benar-benar ramai. Untung saja ada sedikit meja tanpa penghuni. Aku segera duduk.

Kami pun memesan Selat Solo. Sayangnya, menu yang akan kami pesan habis. Begitulah kalau berkunjung di malam hari selalu kehabisan. Akhirnya aku memesan menu lainnya. Aku lupa apakah pesan Sop galantin atau Sop Manten. Ah, sayang banget.

Menu Selat Solo Tenda Biru
Menu Tenda Biru (Foto Google Nia Naizi Zakaria)

Di Tenda Biru Solo ini juga menyediakan banyak menu makanan, mulai dari Selat Solo, Sop Matahari, Galantin dan berbagai macam menu lainnya.

Tapi dari semua menu, aku suka Selat Solo. Rasanya gurih meski manis. Kuahnya tidak terlalu kental. Kalau kalian yang suka makan banyak emang mending beli 2. Karena porsi Selat Solo ini untuk sarapan atau orang diet wkwkwk.

Sayangnya kehabisan Selat Solo jadi pesan Selat Galantin (dok. Pri)

Kalau nggak salah sih ini Sop Manten (dok. Pribadi)

Harganya pun bisa dibilang cukup murah. 

Kalau kalian ke sini saat jam 7 malam kemungkinan sudah banyak menu yang habis khususnya Selat Solo. Jadi saranku ke sini saat makan siang. Dan harus sabar yaa menunggu menu keluar karena emang seramai itu.

Sate Kambing Pak. H. Kasdi

Nah, kalau makan siang makan Selat Solo masih kurang, maka aku bisa mengenyangkan perut saat makan malam di Sate Kambing Pak H. Kasdi. Hehe. Sate yang berada dekat stasiun Balapan ini cukup terkenal. 

Sate Kambing Pak H. Kasdi (Foto Google Ricky)

Pertama kali aku datang ke Sate Kambing ini, waktu itu menjelang maghrib, hujan cukup deras dan antriannya mengular. MaasyaAllah. Kudu sabar banget antri sebanyak itu. Meski antrinya lama tapi pas udah giliran kita, makanan yang dipesan juga tidak lama datang. Karena biasanya mereka sudah menyiapkan hampir semua menu termasuk sate buntel bakarnya. 

Jadi saat sudah giliran antrian kita, kita akan ditanya berapa piring nasi. Sate buntel di piring sendiri. Kalau mau beli tengkleng atau tongseng pun bisa. Rasanya cenderung manis sih. Kuahnya kental dan sedap. Kalau aku mending beli sate buntelnya. Hehe.

Sate Buntel dan Sate Kambing (Foto Google Wahed)

Soal harga menurutku tak jadi soal karena harga sate buntel standar segitu dan memang rasanya enak. Tapi kalau antrinya panjang dan kalian udah lapar banget mending pikir-pikir lagi. Hehe.

Menu Sate Kambing Pak H. Kasdi (
Foto Google Hendro Sukarso)

Kesimpulan

Menurut aku kalau mau kuliner Selat Solo mending siang gitu kalau mau kesana biar nggak kehabisan. Kecuali kalau mau cari rumah makan lain juga banyak kookk. 
Read More
Setiap berkunjung ke Blitar, biasanya sudah masuk jam makan siang. Tidak lupa kami menikmati kuliner khas Blitar yaitu soto Blitar. Sebenarnya hampir semua daerah memiliki kuliner soto akan tetapi cita rasanya tentu saja berbeda.

Mobil kami melewati jalanan kota Blitar yang lengang siang itu. Sepertinya kota Blitar selalu sepi di jam-jam siang. Apa suatu kebetulan? Karena setiap aku kesana, jalanan selalu sepi di siang hari atau mungkin berada di kawasan yang sepi? Sudah gitu, banyak jalanan di Blitar yang satu arah karena jalanan-jalanannya tidak terlalu lebar dan kotanya kecil. Jadi dalam waktu tidak sampai sepuluh menit, kami pun tiba di Soto Bok Ireng, tempat kuliner favorit di Blitar.

Sayang banget sih kalau tiap ke sana mesti lupa banget makanannya difoto.

Soto bok Ireng Blitar (foto: Google/Aditya Laziale)

Kami pun mencari parkir yang berada sebelum perempatan di sisi kanan jalan di depan ruko. Agak sulit karena tidak ada tempat parkir khusus mobil untuk pengunjung Soto Bok Ireng tersebut. Untung saja ada tukang parkir yang sigap mencari tempat parkir karena memang sulit sekali mencari tempat parkir di jalanan ini.

Soto Bok Ireng

Soto Bok Ireng ini merupakan salah satu kuliner legendari Blitar. Warung soto ini sudah berdiri sejak tahun 1940. Wow! Ternyata sebelum kemerdekaan. Bahkan bangunannya pun seperti dipertahankan juga keasliannya. Seolah kita benar-benar berada di warung tradisional zaman dulu.

Lokasi Soto Bok Ireng Blitar

Soto Bok Ireng Blitar berada di jalan Kelud, Kepanjen Lor, Kecamatan Kepanjen Kidul, Kota Blitar, Jawa Timur. Lokasi warung soto legendaris ini sebenarnya sangat strategis karena berada di pusat kota dan tidak jauh daerah tempat tinggal keluarga suami. Hanya saja yang disayangkan tidak ada tempat parkir. Lokasinya dekat perempatan sebenarnya sedikit menyulitkan bagi kami yang bawa kendaraan roda empat. Tapi karena yang nyetir bukan aku, jadi masalah yang kusebutkan itu tak berarti hahaha.

Jam buka Soto Bok Ireng Blitar

Sayangnya beberapa kali kami ke Blitar, Soto Bok Ireng ini tidak selalu buka mungkin saat libur lebaran ya. Soto Bok Ireng ini buka setiap hari dari pukul 7 pagi hingga jam 2 siang. Jika sudah kesorean, kami terpaksa mencari warung soto Blitar lainnya yang bukanya malam. Selain di Soto Bok Ireng, kami juga biasa mengunjungi Soto Khas Blitar yang dekat dengan rel kereta dan searah dengan perjalanan pulang ke Malang.

Bangunan Warung Soto Bok Ireng Blitar

Bangunan warung soto Blitar ini sangat sederhana seperti toko jamu zaman dulu dengan model papan-papan kayu yang bisa dilepas. Warung ini yang dibangun dari kayu ini tidak seberapa besar tapi warung Soto Bok Ireng ini sangat terkenal di Blitar.

Di bagian luar warung, meja dan kursi panjang memakan hampir seluruh badan trotoar. Saat kami datang, masih ada pengunjung yang sedang menikmati kuliner Blitar tersebut. Kami duduk di sisi lainnya yang kosong.

Di bagian dalam tampak seorang wanita yang sibuk mengedarkan minuman kepada para pengunjung. Gelas-gelas dingin itu seolah menjadi penawar bagi kuah soto yang panas dan gurih. Kepulan asap putih tampak memenuhi ruangan warung yang tidak seberapa besar. Meja di dalam ruangan telah terisi beberapa pembeli yang sedang menikmati kuah hangat soto kemudian sedikit melirik kami yang datang dengan suara riuh anak-anak. Seorang penjual sedang duduk di depan panci kendi. Ia menyeduh kuah soto ke dalam mangkok-mangkok kecil dengan hati-hati. Kuah soto yang panas tak menggoyahkan sedikit pun pegangannya pada mangkok itu. Setelahnya, ia mengulurkan mangkok kecil yang telah panas itu pada seorang pengunjung lain yang telah menunggunya. Wajah pengunjung itu sumringah.

Soto Daging Bok Ireng Mau Jeroan, Campur atau Daging saja?

Setelah melayani pengunjung lainnya, penjual menanyakan pesanan kami. Setiap orang punya selera berbeda-beda. Ada yang memesan soto daging dengan jeroan, ada yang jeroan saja dan ada yang daging saja. Syukurnya semua dilayani penjual dengan baik meski kami yang banyak rombongan ini memesan soto yang berbeda-beda isinya. Hehhe.

Harganya pun sama sekitar Rp10.000,-. Untuk harga memang tidak bisa disamakan dengan soto daging di luar sana yang harganya selisih sedikit tapi dapat satu mangkok besar.

Soto Bok Ireng mangkok kecil (Google/SelaIntanOktavia)

Soto Bok Ireng ini memiliki ciri khas yang mungkin tidak ditemui di kota lain. Pertama, soto disuguhkan dengan mangkok kecil. Kedua, cita rasanya yang berbeda. Menurutku, soto di Blitar ini sedikit lebih manis ketimbang Soto Lamongan. Kuahnya lebih kental dengan rempah-rempah. Dagingnya juga tidak alot, meski di beberapa gigitan juga masih ada yang alot. Jeroan yang biasanya sulit dikunyah, seperti babat, juga masih bisa dikunyah.

Setiap makan di sini, satu mangkok tidak akan cukup. Seporsi mangkok kecil itu sudah cukup mengisi perut anak-anak dan juga aku yang porsi makannya tidak banyak. Sementara orang besar yang punya daya tampung perut lebih besar pasti akan menambah porsi. Hehe. Kuahnya yang panas cukup menghangatkan perut usai perjalanan yang panjang. 

Untuk minuman yang dijual di sini juga seperti warung makan lainnya seperti teh dan jeruk. 

Meskipun hanya mangkok kecil, alhamdulillah aku tidak kelaparan selama perjalanan pulang sampai waktu makan malam tiba. MaasyaAllah. 

Kalau kalian suka yang daging aja, jeroan aja atau daging aja?


Read More
Menjelajahi Semarang, yang aku ceritakan di pos sebelumnya, menjadi satu bagian membuka lembaran masa lalu. Apa yang paling kurindukan—dan belum tentu ada di Sidoarjo—adalah menikmati kuliner Semarang, bakmi godok plus sate babat kecapnya. Ketika masih jadi budak korporat dulu, jika tidak lemburan menyelesaikan dokumen rencana yang hampir sangat jarang terjadi, aku pulang setelah sholat maghrib, berjalan kaki menuju warung tenda bakmi Semarang yang sudah ramai pembeli. Biasanya, aku beli bakmi Jowo/ bakmi godok, bihun, sate babat, dan sate jeroan. Ada juga sedia nasi goreng. Yang paling khas, semua menu dimasak tidak pakai gas, tetapi pakai arang, yang bikin rasanya lebih sedap. 

Setelah bertahun-tahun tidak mengunjungi Semarang, aku—mengajak keluargaku—bernostalgia di sana. Sayangnya, sesampainya di sana, warung tenda itu sudah tidak ada. Aku mengira memang sedang tutup, tetapi tidak tanda-tanda bahwa warung masih stand by di sana. Soalnya tidak ada tanda-tanda apa pun.

Sedih, sih. Entahlah beneran tutup atau tidak. Yang jelas kami tidak bisa mencicipi bakmi khas Semarang. Akhirnya, rencana selanjutnya yaitu mencari penjual bakmi jawa terkenal di Semarang melalui penelusuran Google. Pilihannya cukup banyak. Mataku tertuju pada satu nama Bakmi Jowo Pak Doel Noemani dan punya cabang di tempat yang tidak terlalu jauh Bakmi Jowo Dul Numani.

Tanpa pikir panjang dan sudah mager cari tempat lain, kita menuju ke sana. 

Lokasi di Jalan Utama Semarang

Aku tidak terlalu bingung mengarahkan jalan pada suami karena aku masih sangat hapal. Hanya saja perlu patokan lokasi persisnya Bakmi Jowo Semarang Terdekat Doel Noemani.

Google Map menjadi teman setia saat perjalanan. Haha. 

Nggak expect sama sekali tentang tempatnya. Yang penting, perut kenyang karena sudah lapar (tidak recommend sebenarnya makan bakmi godog kalau lagi lapar, hehe). Sampai di tempatnya, aku agak terkejut karena ternyata ramai sekali. Wah pasti ini bakmi godog enak di Semarang. Lihat di ulasan Google emang bener.

Warung pertama dekat di belokan Jalan, di depannya Mall Paragon. Akhirnya kami cari di cabang satunya, depan hotel Amaris dan disamping SMA 5 Semarang.

Warung ini berada di depan bangunan perkantoran yang berarsitektur kolonial. Tapi tidak jelas kantor apa? Mungkin sudah tidak aktif? Di Google kantor yayasan begitu.

Beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Petugas parkir pun mengarahkan kami parkir di dalam. Tempat parkirnya sebenarnya cukup menampung banyak kendaraan tapi tetep aja kami parkir di depan mobil lain yang sedang terparkir jadi tidak boleh di hand rem.

Tak hanya Mi Godog



Meskipun warungnya bernama Bakmi Djowo tapi di warung ini tidak hanya menjual Mi saja tapi juga menu nasi seperti Bakmi Godog, Bakmi Goreng, Bakmi Nyemek, Mihun (Godog, goreng, nyemek), nasi goreng, nasi godog, nasi ruwet (ada campuran mie), cap Jay (goreng dan godog).

Bedanya apa? 

Perbedaan godog dan nyemek ini terletak pada kuatnya. Kalau bakmi godog menggunakan mie kuning dilengkapi sayur, ayam, telor, dituang dengan kuah kaldu ayam kampung encer agak banyak. Sedangkan bakmi nyemek, kuahnya kental dan sedikit. 

Bakmi Godog


Kalau perbedaan bihun dan bakmi terletak pada jenis mie yang dipakai. Kalau bihun ya pakai Mi bihun itu.

Kalau aku suka godog karena enak segar dan hangat. Cocok banget kalau lagi perjalanan jauh. Kalau kalian suka godog atau nyemek?

Oiya, jangan sampai lupa, yang sangat menggiurkan dan khas itu adalah sate kulit, sate uritan dan sate jeroannya yang dibalur kecap. 



Alhamdulillah meski keturunan juga makan bakmi godog dan sate kulit kecapnya. 

Lesehan atau Duduk di Kursi?

Saat kita tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang sedang menunggu pesanan dan menyantap makanan. Selain duduk di kursi, pengunjung juga bisa duduk lesehan di latar bangunan perkantoran.

Karena kami sedang dalam perjalanan, lebih nyaman kalau duduk lesehan agar lebih santai dan bisa selonjorkan kaki.

Memilih lesehan karena meja penuh

Sekitar 20 menit akhirnya pesanan kami datang. Makan bakmi dan satenya. Jangan lupa tambahkan acar timun dan cabe hijau biar mata makin melek nggak mengantuk. Haha.

Susahnya kalau lesehan itu air minum rawan tumpah. Maklum bawa anak kecil yang ngga bisa diam. Kesabaran emaknya diuji banget deh. Tapi bersyukur juga mereka tidak rewel. Cuma mereka nggak sabar aja karena pesanannya cukup lama datangnya. 

Emang paling aman sih kalau sama anak kecil duduk di kursi aja. Biar minuman dan makanan yang banyak kuah itu tidak kesenggol dan tumpah.

Rasa Bakmi Godog

Kalau kalian pencinta gurih, mungkin bakmi godog di sini, menurutku, cenderung sedikit lebih manis (nggak terlalu manis ya). Tetep sih rasanya gurih dari kaldu ayam kampung juga terasa sedepp. 

Nah kalau kalian porsi makannya banyak. Satu piring nggak bakal cukup. Haha. Aku pun merasa masih belum kenyang tapi karena dalam perjalanan yang isi perut 50% angin dan air, jadinya perut masih terasa kenyang. Hehe.

Pembayaran cash

Waktu itu aku tidak tanya-tanya berapa harga per menunya. Aku langsung bayar saja. Hehe. 
Kalau lihat di ulasan, harga menu makanan bakmi godog Dul Numani berkisar 25.000 per orang, kalau pakai minum dan 2 tusuk sate sekitar 35ribu. Oiya, di warung bakmi godog ini tidak menerima pembayaran digital jadi harus cash. Emang sih waktu itu aku juga bayarnya cash. Mungkin di cabang lain masih menerima pembayaran digital, aku kurang paham juga. Kalau kalian datang ke sini nanti coba ditanyakan saja dulu sebelum memesan makanan.

Semakin malam semakin banyak pengunjungnya, kami sesegera mungkin menyelesaikan makanan. 

Alhamdulillah akhirnya keturunan juga makan bakmi plus sate kulit dan jeroan. Hehe.
Read More

Kali ini aku akan membahas kuliner Karanganyar. Setiap wisata ke Kemuning, setelah pergi ke paralayang Kemuning rasanya kurang lengkap kalau kita tidak mencari kuliner khas Karanganyar. Yang aku heran, kenapa hampir tiap daerah yang tinggi, memiliki kuliner khas yang sama. Seperti di Kota Batu, makanan khasnya ada sate Kelinci, di Boyolali daerah pegunungan juga begitu. Sekarang di Karanganyar khususnya di Kemuning, salah satu makanan yang biasa direkomendasikan itu sate kelinci. Meski aku juga tidak tahu bedanya apa yaa. Mungkin sambelnya kali? 

Tentu saja aku tidak mencobanya karena udah pernah mencoba sate kelinci di Boyolali dan Kota Batu. Sebenarnya banyak kuliner Karanganyar yang recommended, rata-rata sih menu-menu yang biasa aku temui di kota lain.

Saat kuliner di Kemuning, orang tuaku merekomendasikan kuliner rica-rica mentok Lek Man. Dan ternyata ramai banget, loh.



Lokasi Warung Lek Man

Lokasi warung Lek Man ini berada di Spranten, Kemuning, Kec. Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Kalau habis wisata ke Kemuning, aku dan keluarga langsung pergi ke Warung Lek Man. Lokasinya berada di pojok jalan, di dekat kebun sayur yang luas dengan pemandangan Gunung Lawu. Sulitnya, warung ini tidak ada tempat parkir khusus mobil. Jadi mobil parkir di pinggir jalan. 


Setiap pergi ke Warung Lek Man saat makan siang selalu ramai. Kadang bingung mau parkir di mana. Soalnya kan di pinggir jalan. Syukurnya ada pak tukang parkir yang mau arahkan parkir di mana. Mobilku pun parkir di bawah tulisan besar Lek Man Rica Menthok.


Warung Lesehan Lek Man Rica Menthok

Kalau dilihat bangunan warung Lek Man ini cukup sederhana dan bukan bangunan rumah tertutup. Tentu saja, kita bisa melihat aktivitas pengunjung dari luar. Sebagian lelaki sibuk dengan gadgetnya, sisanya sibuk mengobrol sambil mengebulkan asap rokok dan menikmati hidangan yang sudah tersaji. Sebagian wanita sibuk dengan anak-anaknya, sebagiannya lagi sibuk makan dan gadgetny. Anak-anak pun sibuk merecoki orang tuanya. Haha. Anak-anak itu membuka mulut untuk menerima makanan, tapi matanya tak lepas dari layar gadget di depannya.



Hampir seluruh meja telah terisi penuh dengan pengunjung. Bersyukurlah, masih ada sisa satu meja. Beberapa kali datang ke sini, meski tampak ramai, tapi selalu ada tempat. Aku pun memesan makanan dengan mendatangi meja kasir yang dekat dengan dapur sederhana biar segera dieksekusi. Maklum sudah lapar. 


Beberapa orang melewatiku dengan nampan di satu tangannya. Piring-piring nasi bertumpuk di atasnya dan akan segera menemui pemesannya. Pria yang mengantarkan bergerak cepat seolah banyak hal yang harus dikerjakan. Pegawai wanita mengantarkan gelas-gelas berisi teh-teh khas Kemuning. Penjaja pasti tak sabar menyegarkan tenggorokan mereka dengan teh-teh itu.


Aku pun tak sabar ingin segera mencicipi makanannya. Selama menunggu itu, anakku yang kecil menunjukkan gelagat tak enak. Beberapa kali tangannya memegang bagian tiittt. Dan ia berucap ingin ke kamar mandi. Baiklah. Aku mencari kamar mandi yang ternyata ada di bawah bangunan. Kami melewati tangga menuju ke bawah. Toiletnya di dekat tangga. Di dalamnya cukup luas dan bersih. Tak ada bak mandi, hanya ember cukup besar berisi air yang dingin sedingin es. 


Dari situ, aku tahu bahwa di lantai bawah juga ada tempat makan tapi tidak seramai yang di lantai atas. Pemandangan ke hutan di belakang warung terlihat dari tempat aku berdiri. Suasananya lebih dingin. Menurutku lebih nyaman di lantai atas karena udaranya lebih hangat. 


Setelah kembali ke tempat duduk, tak sampai 10 menit, makanan yang aku pesan pun sudah tiba. Sebenernya tidak terlalu lama juga menurutku. Layanan juga cukuplah. Aku tidak merasa mendapat layanan buruk saat makan di sana.

Setelah itu, kami melahapnya.


Menu Warung Lek Man Ramah Anak

Ketika hendak kunjungan pertama kali ke Warung Lek Man, aku mengira menu yang ditawarkan hanya rica-rica mentok saja. Kalau cuma rica-rica saja, aku pasti nggak mau ke sana karena anak-anak makan apa.


Menu Rica-Rica di Lek Man Karanganyar (Foto : Gandhes)

Ternyata ada menu lainnya. Alhamdulillah. Menu Lek Man Rica Menthok yaitu :

Rica Basah

Rica basah ini rica-rica menthok yang ada kuatnya. Meskipun enak dan gurih tapi rasanya pedas. Bagi pencinta pedas memang cocok makan ini. Mulut dan lambung tentu tidak mungkin bisa menerima makanan pedas itu. Daripada maagku kambuh, aku makan menu lainnya. Cuma incip sedikit. Suamiku yang kuat makan rica basah.


Dagingnya juga empuk. Tidak alot. Bagi orang tua yang giginya mulai banyak yang cocok kayak ortuku, cocok sih makan ini. Menurutku dagingnya juga nggak amis. Bagi sebagian ulasan mengatakan agak amis dan harga lebih mahal dibanding warung lain yang katanya lebih enak, porsi banyak dan murah. Waduh, di mana tuh. Jadi penasaran. 

Rica Goreng

Rica goreng ini sama pedasnya seperti rica basah tapi digoreng. Tentunya tidak ada kuah. Kalau kalian lebih suka goreng memang mending pilih ini. Siap-siap pedes yaa.

Goreng biasa

Nah, bagi yang tidak suka pedas tapi tetap mau merasakan menthok bisa pesan goreng biasa. Menu ramah anak ini menjadi penyelamat perut anak-anak yang sudah lapar. Rasanya juga gurih dan disukai anak-anakku. Dagingnya juga empuk.

Ayam goreng

Kalau nggak suka mentok, anak-anak bisa makan ayam goreng juga. Tapi aku tidak memesan ayam goreng karena udah terlalu biasa masak di rumah. Eh, tapi kalau mau coba, nggak apa-apa loh. Mungkin rasanya beda sama masakan di rumah. Hehe. 

Trancam, Pete dan Sambal

Sebenarnya cukup mengherankan, rica-rica yang sudah pedas begitu masih ada sambal yang disuguhkan. Kira-kira siapa yang makan kalau bukan orang yang doyan sambal? Kalau aku suka banget beli pete dan trancamnya. Segar banget. Perasaanku, ketiga kali beli trancam  rasanya beda dibandingkan pertama kali beli disana. Seperti ada yang berubah tapi tetep seger sih.

Teh Khas Kemuning 

Ada satu minuman khas Warung Lek Man yaitu teh kemuning yang diambil dari kebun-kebun teh di Kemuning. Rasanya memang segar tapi menurutku sedikit lebih pahit dibanding teh biasanya. Jadinya aku pesan teh biasa. Semua soal selera sih yaa.

Teh Kampul

Selain teh Kemuning, juga ada teh Kampul yang merupakan minuman khas Karanganyar. Kampul ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya mengambang. Jadi teh ini lebih kental dan diberi potongan jeruk nipis atau lemon. Kalau bahasa Inggris, lemon tea. Hahaha. Rasanya segar seperti lemot tea biasanya tapi ternyata terasa lebih kuat.

Harga

Untuk harga warung Lek Man Rica Menthok menurutku termasuk tidak mahal. Untuk makan bertujuh aja biasanya habis sekitar 150an ribu. Untuk harga mentok dan ayam sekitar 22ribu - 33 ribu. Aku tidak terlalu memperhatikan juga saat bayar. 


Kuliner Karanganyar Yang Lain?

Jadi menurutku, makan siang di sini cukup worth it dan cukup mengenyangkan. Rasanya enak, tidak amis, harga nggak mahal, dan bumbunya meresap. Nah, kira-kira kalian punya rekomendasi kuliner Karanganyar nggak yang ramah anak, enak dan murah.

Read More
Nama Tiwul tidak asing di telingamu, tetapi mungkin sebagian orang belum tahu apa itu tiwul. Tiwul adalah salah satu makanan pokok rakyat Indonesia kalangan ekonomi bawah di zaman penjajahan Belanda. Zaman itu, tidak semua rakyat Indonesia mampu membeli beras dan lauk-pauk. Untuk bisa bertahan hidup, mereka mengolah singkong menjadi tiwul.

Tiwul menjadi pengganti nasi dan rendah kalori sehingga bagus untuk orang yang sedang menjalani diet. Nggak heran kalau nasi tiwul ini tidak bikin gemuk. Jadi jangan khawatir bagi kalian yang sedang diet. Nasi tiwul juga aman untuk penderita diabetes atau pun darah tinggi.

Keistimewaan nasi tiwul selain rendah kalori adalah memiliki kandungan vitamin B Kompleks sehingga bisa mengurangi anemia dan tinggi protein sehingga cocok untuk melatih daya tahan otot.

Nasi tiwul ini biasa dikonsumsi oleh beberapa masyarakat yang ada di daerah Jawa Timur, seperti Kediri, Trenggalek, Ponorogo, Pacitan, dan sekitarnya.

Tiwul bisa diolah dengan berbagai macam rupa. Saya mengenali tiwul ketika saya sedang di rumah orang tua saya di Ponorogo. Nasi Tiwul disuguhkan dengan gula pasir dan kelapa, meskipun bisa juga disuguhkan sebagai pengganti nasi dan dimakan dengan berbagai sayur dan lauk.

Biasanya nasi tiwul disajikan dengan sayur santan atau bobor, ikan asin atau ikan goreng, tahu tempe, timun, dan telur. Tentunya tak ketinggalan sambal dan kerupuk yang menbuat nasi tiwul sangat enak dimakan.

Cara mengolah nasi tiwul

Cara mengolah nasi tiwul ini sebenarnya tidak susah karena setelah dikeringkan, singkong ditumbuk sampai hancur. Setelah itu, hasil tumbukan dikukus dengan daun singkong sampai lembut selama kurang lebih satu jam. Bisa juga ditaburi gula merah yang dihancurkan di atasnya. Di tempat terpisah, kelapa diparut dan dikukus dengan daun pandan. Setelah matang kemudian kelapa parut ditaburkan di atas nasi tiwul yang sudah dicampur gula merah atau diberi tambahan gula pasir.

Tiwul goreng, makanan viral di kaki pegunungan Wilis

Nasi Tiwul Goreng Kediri
Tiwul Goreng Kediri (Facebook/ Kuliner Kediri)


Olahan tiwul bisa berupa tiwul manis, tiwul dengan lauk dan sayur dan tiwul goreng. Yang terakhir, jenis olahan tiwul menjadi berita viral di dunia kuliner.

Tiwul Goreng ini menjadi makanan yang unik dan banyak dijual di sentra kuliner Kediri di kaki pegunungan Wilis. Tiwul goreng ini sama seperti nasi goreng dalam cara pengolahannya. Nasi tiwul digoreng dengan bawang putih dan bawang merah yang telah ditumis, kemudian ditambahkan telur, sayur ataupun lauk lain selayaknya goreng biasanya.

Rasa nasi tiwul goreng asin gurih membuat banyak orang menyukainya. Saya sendiri belum pernah merasakan tiwul goreng.

Harga tiwul goreng yang saya baca di website Satu Viral sebesar Rp. 8.000,-. Harga tersebut jelas murah dibandingkan nasi goreng biasanya. Jika kalian sedang diet, bisa banget konsumsi tiwul yang rendah kalori.

Menurut Satu Viral, kuliner khas Kediri ini sedang viral di Kabupaten Kediri, tepatnya di Kecamatan Semen, Desa Selopanggung. Karena keunikannya, tiwul goreng ini didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM dan mendapatkan Surat Pencatatan Inventarisasi Kekayaan Intelektual Komunal Ekspresi Budaya Tradisional.

Kuliner Tiwul Goreng Kediri

Jika kalian ingin mencari kuliner khas Kediri yang recommended kalian bisa cari nasi tiwul goreng Kediri.

1. Warung Kopi Giras Besuki

Warung ini ada di kawasan wisata Giras Besuki yaitu di Desa 0Besuki, Jugo, Mojo, Kabupaten Kediri. Warung ini menjual tiwul goreng yang menjadi makanan khas Kediri. Jam buka warung ini dari 07.0 - 17.30.

2. Wow Cafe Sumberpodang

Cafe dengan pemandangan yang keren ini juga menjual makanan khas Kediri, tiwul goreng. Dari hari Senin sampai jumat jam buka dari pukul 08.00 sampai 19.00. Dari sabtu sampai minggu buka pukul 07.00 sampai 20.00.

6. Rumah Makan Erlangga

Rumah makan ini menyediakan tiwul goreng dengan harga sekitar Rp. 13.500- Rp. 16.000,-. Warung ini buka setiap hari dari pukul 07.00 - 21.30. Alamat Rumah Makan Erlangga yaitu Jl. Erlangga No.9, Katang, Sukorejo, Kec. Ngasem, Kabupaten Kediri.

7. Nasi Pecel Tiwul Goreng Lancar

Warung ini buka pukul 18.00 - 22.00 dan berada di depan toko Lancar, Jl. Raya Seketi, Tlukan, Seketi, Kec. Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

8. Nasi Jagung Goreng Nasjagor dan Tiwuler's

Warung ini menjual nasi jagung goreng dan juga nasi tiwul goreng. Warung ini buka dari jam 17.30 sampai jam 00.00. Buka setiap hari kecuali hari Senin. Lokasinya ada di Jl. Dr. Sahardjo No.219, Campurejo, Kec. Mojoroto, Kota Kediri.

Nasi tiwul goreng ini merupakan kuliner viral di Kediri yang harus dikunjungi siapa pun yang sedang berwisata ke Kediri.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower