Review Buku Kumpulan Puisi Kepak Cahaya : Puisi Bab Tuhan Mengingatkan Pada Kematian

1 comment
Review Buku Kumpulan Puisi “Kepak Cahaya”
Penulis : Rafif Amir
Penerbit : Penerbit Satoe

Suatu ketika, dalam lamunan singkat saya, akan tiba masa saya menghadap-Nya, saya selalu terbayang masa-masa sakaratul maut yang mungkin menyakitkan saat nyawa sampai di tenggorokan. Begitu saya membaca kumpulan puisi pada bab Tuhan, lamunan singkat saya itu tak seberapa dibandingkan lamunan-lamunan panjang penulis yang melahirkan kata-kata pengingat kematian. Syair-syair indah nan menyentakkan hati berhasil membuat bulu kuduk saya berdiri. Bukan masalah ke-horor-annya melainkan bayangan saya akan kematian itu. Berhasil pula mengingatkan saya kembali bahwa sejatinya kita, manusia, harus memperbanyak amal ibadah sebelum penyesalan datang ketika ketetapanNya akan kematian yang  tak bisa diinterupsi itu tiba.
Kumpulan Puisi Kepak Cahaya oleh Rafif Amir

Selain tentang pergolakan batin penulis tentang kematian, syair-syair indah dalam buku Kepak Cahaya ini juga memiliki untaian makna dan pesan yang begitu mendalam. Tak hanya tentang sakitnya sakaratul maut, kemenangan dalam peperangan, penyesalan, kedudukan manusia di dunia, tapi juga pesan tersirat dalam menghadapi cobaan-cobaan duniawi. Bahkan perjalanan dalam menjalani puasa Ramadhan, penulis mampu merangkainya menjadi puisi yang indah. Sungguh, saya menggeleng dan berdecak kagum. Saya iri dan tak mampu menulis syair seperti itu.

Bagian kedua dari kumpulan puisi ini adalah tentang Cinta. Tak hanya cinta kepada kekasih, tetapi juga kepada orang tua dan keluarga. Bab cinta ini cukup mengaduk-ngaduk perasaan saya ketika pertemuan dua insan yang membahagiakan namun juga menyedihkan ketika cinta harus berpisah. Terutama ayah dan ibu. Kerinduan seorang anak kepada ayahnya yang pergi jauh begitu memuncak dituliskan dalam syair dalam kumpulan puisi ini.  #mewek. Penyajian puisi yang berbeda sudut pandang ini membuat saya tahu bahwa harapan orang tua pada anaknya begitu besar. Saya sedih karenanya.

Uniknya, sebuah judul puisi yang menceritakan pernikahan dua insan di keluarga kerajaan Inggris Raya, William and Kate, dengan sudut pandang yang berbeda juga hadir dalam kumpulan puisi ini.

Beberapa protes tentang carut-marutnya negeri ini juga hadir dalam bab Untuk Negara dan Bangsa. Judul pertama dalam bab ini adalah Anak-Anak Bangsa yang menurut saya cukup menarik. Saya pun menyetujuinya pada ide kritik terhadap aturan yang berlaku di dalam masyarakat.

mereka dipenjara matematika
mereka dibelenggu orang tua mereka sendiri
dengan kata-kata sakti,
"Nak, sekolah yang rajin terus kuliah terus kerja dan menikah. Kelak, kau pasti akan bahagia"
(Hal. 110)

Tak hanya itu, penulis juga menuliskan protes terhadap kehidupan bangsa dan negara ini ke dalam kalimat-kalimat yang terkadang jelas maknanya. Namun, beberapa bagian kalimat-kalimat pada judul yang lain, begitu juga dengan bab lain, memang perlu dibaca berulang kali untuk memahaminya. Banyak kata yang saya sendiri masih asing. Tentu itu membuat saya harus membuka KBBI dan akhirnya menambah kosakata baru saya.

Bab terakhir dari buku kumpulan puisi Kepak Cahaya ini adalah Untuk Keluarga dan Sahabat. Sebagian besar judul-judul puisi dalam bab ini adalah nama-nama orang dan sepertinys mengisahkan pengalaman tentang orang itu bersama penulis. Beberapa kisah yang dituangkan dalam puisi tak selalu menyenangkan tapi juga menyedihkan.

Penulis sudah menulis sebanyak 109 judul puisi yang ditulis sejak tahun 2010 (semoga nggak kelewatan) dengan total halaman 181. Dan tahun 2019 ini baru dicetak oleh Penerbit Satoe yang berlokasi di Jl. Jenderal Sudirman No. 30, Sidoarjo. Jika kalian berminat beli bukunya, bisa kontak penulis Rafif Amir di IG beliau @rafif_amir atau ke website beliau disini.

Sekian review buku kumpulan puisi dari saya. Semoga memberi pandangan bagi yang ingin membeli bukunya.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

  1. mereka dipenjara matematika
    mereka dibelenggu orang tua mereka sendiri
    dengan kata-kata sakti,
    "Nak, sekolah yang rajin terus kuliah terus kerja dan menikah. Kelak, kau pasti akan bahagia"
    (Hal. 110)
    .
    Suka banget bagian ini. Sangat realistis dan miris.

    BalasHapus

Follower