Berkeliling ke Karanganyar itu biasa untuk wisata keluarga. Sementara berkeliling Solo itu seperti mengingat kenangan- mungkin karena sebelum nikah aku sering ke Solo. Ada rasa yang kurang jika tidak mengunjungi Solo. Tapi kalau ditanya, tempat yang wajib dikunjungi di Solo itu apa? Aku akan jawab Kraton Kasunanan dan Pura Mangkunegaran. Dua tempat bersejarah itu yang menjadikan Solo terlihat khas dan menjadi destinasi wisata favorit di Jawa Tengah.
Aku sudah beberapa kali pergi ke Kraton Kasunanan Surakarta, sebelum aku menikah. Sekarang aku akan menceritakan pengalamanku pergi ke Pura Mangkunegaran. Sebenarnya aku sudah lama ingin ke sana, tapi aku belum tahu cara pergi ke Pura Mangkunegaran.
Setelah acara pernikahan Kaesang-Erina di Pura Mangkunegaran, aku jadi semakin ingin pergi ke Pura Mangkunegaran. Saat ke Solo, aku mencari cara mengunjungi Pura Mangkunegaran. Karena awalnya, aku kira Pura Mangkunegaran tidak dibuka untuk umum. Sampai akhirnya, saat aku mencari di Google, Pura Mangkunegaran bisa dikunjungi masyarakat umum. Yeay. Senangnya.
Ibuku yang saat itu sendirian di rumah (bapak lagi di Kalimantan), aku mengajak beliau jalan ke solo. Tapi aku bilang dulu, "Bu, aku mau ke Pura Mangkunegaran, tapi di sana jalan, nggak apa-apa?"
Eh, tapi aku khawatir, sih, jangan-jangan dikira tempat ibadah orang Hindu. Hehe.
Jadi aku bilang, "Pura Mangkunegaran ini bukan tempat ibadah orang Hindu ya. Ini tempat tinggal raja. (Bukan raja juga sih.)"
Ibu menjawab, "Oiya, nggak apa-apa."
Intinya, selama ini kalau pergi wisata kan ke tempat wisata pada umumnya, seperti ke air terjun Jumog, wisata Kalimas, paralayang Kemuning atau agrowisata Amanah, dan sejenisnya. Tapi sekarang aku ngajak ke tempat yang mungkin sebagian orang menganggap "kurang menarik" karena hanya melihat-lihat. Kalau aku memang suka ke museum, atau tempat sejarah lainnya. Banyak pengetahuan yang bisa aku peroleh.
Dinding Tinggi, Pembatas Pura
Ternyata lokasi Pura Mangkunegaran sering aku lewati tiap ke Solo, hanya saja aku tidak menyadari. Seperti Kraton Kasunanan yang dikelilingi tembok tinggi, bagian samping dan belakang Pura Mangkunegaran juga dikelilingi tembok tinggi, kecuali pamédan (halaman luas)–tempat para prajurit dulu latihan–yang hanya dikelilingi pagar besi. Di sebelah timur terdapat markas pasukan infanteri dan kavaleri Legiun Mangkunegaran yang terkenal karena didikan dari pasukan Napoleon Bonaparte.
Pura Mangkunegaran ini sebenarnya di bawah pemerintahan Kasunanan Solo yang berbentuk kadipaten (seperti kabupaten di bawah provinsi).
Dinding tinggi pembatas pura ini menunjukkan bahwa kedudukan kadipaten dalam pemerintahan cukup penting. Pura Mangkunegaran ini sebagai bentuk realisasi dari Perjanjian Salatiga yang sudah disepakati antara Raden Mas Said atau disebut Pangeran Sambernyawa kemudian menjadi Mangkunegara I (pendiri Mangkunegaran), Sunan Pakubuwana III, Sultan Hamengkubuwana I, dan VOC pada tahun 1757.
Antrian mengular
Setelah parkir mobil di halaman yang luas dan panas, antrian mengular di depan pintu masuk telah terlihat.
Ternyata pengunjung harus mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk (bisa cash dan QRIS). Meskipun mengular, kami tidak menunggu terlalu lama. Tiket masuk Pura Mangkunegaran sebesar Rp. 30.000,-.
Arsitektur Pura Mangkunegaran
Ketika keluar dari bangunan gerbang tempat penjualan tiket, kami menuju ruang terbuka di depan pendopo megah. Kolam melingkar di depan pendopo menarik perhatian anakku. Di dalamnya ada teratai yang berbunga pink. Di tengah ada patung anak kecil yang menaiki angsa berwarna emas.
Aku tahu pasti mereka ingin bermain air di sana. Kularang saat tangannya akan menyentuh airnya yang sudah berwarna hijau. haha.
Pura Mangkunegaran dibangun menyerupai istana, mengikuti arsitektur Jawa dan campuran Empire, dari Prancis yang saat itu sedang berkembang di abad 18. Ukiran emas yang detail di bagian atas pendopo menambah kesan mewah. Gaya arsitektur Prancis terlihat dari ornamen hias seperti relief malaikat, kaca patri, lampu gantung dan hiasan bergaya Eropa.
Ruangan Pura Mangkunegaran
Pura Mangkunegaran memiliki banyak ruangan dan tidak semua ruangan boleh diakses dan difoto untuk menjaga privasi.
Pendopo Ageng
Ruangan pendopo saat itu sedang ramai. Yang tertangkap mataku adalah anak-anak kecil memakai selendang sedang mengikuti gerakan instruktur di depan mereka. Ketika instruktur menekuk lutut, mereka juga mengikutinya. Ketika instruktur berputar sambil mengepakkan sayap yang berbentuk selendang, mereka pun ikut berputar.
Di bagian lain pendopo, banyak seperangkat gamelan pusaka yang biasa digunakan oleh abdi dalam saat Pura Mangkunegaran sedang melaksanakan acara.
Tiang-tiang yang menyangga bangunan pendopo menjadi ciri khas arsitektur jawa. Di bagian atap, hiasan langit berwarna terang melambangkan astrologi Hindu-Jawa. Lampu-lampu cantik nan megah tergantung di atapnya.
Seseorang pegawai mendekati kami dan meminta kami untuk membawa alas kaki kami kemudian memasukkannya ke dalam tas khusus sepatu yang diberikan pegawai.
Bangunan ini terlihat jelas dari luar. Beberapa kelompok pengunjung berdiri mengelilingi seorang guide dari Pura Mangkunegaran untuk dipandu memasuki ruangan. Sayangnya, kami tidak diizinkan untuk memotret apa pun yang ada di dalam ruangan Dalem Ageng.
Memasuki ruangan pun harus menunggu rombongan lain keluar dari ruangan. Sebelum itu, aku sibuk berfoto dan melihat foto-foto para adipati yang berderet dipajang di depan ruangan.
Dalem Ageng
Ruangan ini merupakan bangunan induk Pura Mangkunegaran yang hanya dimasuki oleh keluarga Mangkunegara dan abdi dalem. Ruangan ini menjadi ruang tidur pengantin kerajaan yang sekarang sudah dijadikan museum. Itulah mengapa di ruangan ini kita tidak boleh mengambil foto. Di ruangan ini, ada koleksi peninggalan dari zaman dulu sampai sekarang, seperti senjata, perhiasan, pakaian, medali, perlengkapan wayang, uang logam, dan benda seni lainnya.
Keluar dari Dalem Ageng, kami disambut oleh taman terbuka dengan kolam ikan di tengah Pura Mangkunegaran yang sejuk dan menyenangkan. Jauh dari keramaian kota. Suara burung terdengar jelas. Sangkat burung besar berada di pinggir taman. Patung di tengah kolam ikan memancarkan air menambah suasana tenang.
Beranda Dalem (Pracimayasa)
Ruang keluarga Mangkunegaran yang menghadap ke taman terbuka ini hanya boleh dilihat dari luar karena diberi pembatas. Di dalamnya, terdapat tempat lilin dan perabotan Eropa yang indah.
Ruangan makan
Aku juga sempat masuk ke ruang makan dan dapur. Kaca-kaca menempel di bagian atap dan dinding sehingga aku bisa melihat anakku yang beraksi dari atas maupun samping. Hehe.
Sayang banget aku tidak melihat Pracimasana dan Pracimaloka yang lagi viral itu. Tahu kan restoran di dalam Pura Mangkunegaran yang sangat eksotik dan seperti sedang makan di keluarga kerajaan. Dahlah kapan-kapan ke sana lagi. Haha.
Perpustakaan
Oiya, aku baru tahu ternyata di lantai dua ada perpustakaannya, yang berada di atas Kantor Dinas Urusan Istana di sebelah kiri pamedan. Sayangnya, aku tidak pergi ke sana. Di perpustakaan itu, banyak koleksi buku, foto dan dokumen bersejarah. Kebanyakan dalam bahasa Jawa.
Butik
Berjalan keluar ruangan, di sepanjang koridor, aku melihat butik yang menjual berbagai macam kain batik.
Markas Legiun
Ternyata lumayan olahraga kaki juga berkeliling Pura Mangkunegaran tapi menyenangkan. Selanjutnya saat keluar menuju parkir, aku mengunjungi markas Legiun sejenak. Di depannya, aku takjub dan membayangkan yang terjadi di masa silam.
Para prajurit Mangkunegaran, infanteri dan kavaleri, mengadopsi didikan militer Prancis hingga memiliki kemampuan setara dengan militer Eropa. Di masa itu, Perang Napoleon tengah meletus di Eropa. Belanda kalah dari Prancis, sehingga secara tak langsung semua jajahan Belanda, seperti Hindia Belanda, juga dikuasai Prancis. Napoleon memerintahkan Daendels untuk mempertahankan Jawa dari serangan Inggris, termasuk membentuk pasukan elit militer Mangkunegaran.
Penutup: Refleksi Kehidupan Kerajaan
Hal yang menyenangkan bisa berjalan-jalan di Pura Mangkunegaran adalah bisa menikmati ruang terbuka yang luas, menikmati suasana tenang dan asri di tengah Pura Mangkunegaran.
Hanya terbayang saja di masa itu, kehidupan adipati dan keluarganya bisa menikmati bangunan begitu megahnya, hampir di semua kerajaan seperti itu, di mana pun bahkan di Eropa.
Sedangkan yang pernah aku baca, kondisi rakyat di masa itu cukup susah. Memang sangat kontras.
Aku kembali ke masa kini, tak perlu jauh-jauh. Para pemimpin kita saat ini pun hidup dalam harta yang berlimpah. Namun, oke, mungkin itu adalah hak yang diterima mereka. Tapi mbok yaa... yang jadi pemimpin, yang ngga boleh dilupakan untuk semua para pemimpin, siapa pun yang akan jadi pemimpin, dari segala kenikmatan yang mereka peroleh, adalah bagaimana memimpin bangsa ini, mengayomi, memakmurkan masyarakatnya dan berbuat adil. Yang tentunya, menjadi amanah berat bagi para pemimpin.

.jpg)
.jpg)




0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.