Wisata budaya di Solo dengan Keliling Pura Mangkunegaran memang berkesan sih buat aku. Memasuki kehidupan kerajaan seperti punya pengalaman berbeda. Seolah, aku yang menjadi rakyat biasa, bisa sedekat itu dengan kehidupan kerajaan (yaa meski Cuma dari ‘luar’ saja). Dan setelah berwisata ke Pura Mangkunegaran, aku saranin kalian pergi ke masjid Pura Mangkunegaran yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran. Namanya Masjid Al-Wustha (dibaca Al-Wustho).
![]() |
| Masjid al-Wustha Pura Mangkunegaran, Solo (dok. Pri) |
Kunjungan tak terencana ke masjid Pura Mangkunegaran itu sebenarnya bukan menjadi tujuan wisata budaya kami. Awalnya, kami hanya ingin mencari masjid untuk sholat ashar karena setelah seharian keliling Solo, rasanya terlalu capek kalau harus ke masjid yang jauh, seperti masjid agung Kraton Solo. Saat melihat Google Maps, kami diarahkan ke masjid Al-Wustho yang ada di sebelah barat Pura Mangkunegaran.
Lokasinya tidak jauh dari Pura Mangkunegaran. Jika kalian keluar dari gerbang Pura Mangkunegaran bagian utama, kalian belok kanan kemudian belok kanan lagi. Di sepanjang jalan yang dibatasi dinding, kalian cukup menoleh ke kiri, jika kalian melihat pintu gerbang dengan tulisan kaligrafi, maka disitulah masjid Al-Wustho.
![]() |
| Pura Mangkunegaran yang dipagari dinding tinggi (dok. Pri) |
Masjidnya tidak terlalu ramai. Bagiku, itu sudah cukup menyenangkan. Parkirnya tidak terlalu besar tapi cukup untuk menampung sepuluhan mobil. Semenjak memasuki halaman masjid, aku terkesima dengan arsitektur masjid Al-Wustho yang masih asli. Aku sempat menebak-nebak, ini pasti bukan masjid biasa. Apakah ini masjid para bangsawan di zaman itu? Karena sudah jarang masjid di Solo yang memiliki desain bangunan ‘berkelas’ yang masih dipertahankan sampai sekarang. Pasti memiliki sejarah yang kuat.
Saking penasarannya, aku pun cari di Google.
Sejarah Masjid Al-Wustha
Ternyata benar! Masjid yang awalnya disebut dengan masjid Mangkunegaran ini memang dibangun untuk keluarga kerajaan di tahun 1878. Pantas saja, bangunan itu dibatasi oleh dinding tinggi, sebagai bentuk eksklusivitas dan perlindungan kehidupan kerajaan, seperti bangunan Pura Mangkunegaran dan Kraton Kasunanan.
Kalian tahu siapa yang arsiteknya? Dia adalah orang yang merancang kota Bandung, Malang dan Semarang. Siapa lagi kalau bukan Thomas Karsten. Atas dasar ide Mangkunegara I inilah Masjid Al-Wustha dibangun. Sebelumnya masjid yang patut dilestarikan ini berada di dekat Pasar Legi, kemudian saat Mangkunegara IV memimpin, masjid ini dipindah ke sisi barat Pura Mangkunegaran.
Pembangunan masjid sempat tertunda karena saat itu Mangkunegara fokus dalam pemulihan kondisi perekonomian Mangkunegaran. Masjid Al-Wustha dibangun kembali tahun 1918.
Arsitektur Masjid Al-Wustha
Hampir sama seperti masjid keraton lainnya, masjid Al-Wustho mengusung arsitektur khas Jawa, meskipun dirancang oleh Thomas Karsten. Atapnya berbentuk tajug, menyerupai piramida yang menjulang tinggi serupa doa tanpa putus menuju langit. Di sisi timur masjid berdiri sebuah menara yang kini digunakan untuk meletakkan pengeras suara.
Kakiku menapaki serambi masjid yang cukup luas. Aroma masa lalu terasa ketika kakiku menyentuh keramik klasik. Seperti lantai rumah masa kecilku. Hatiku terasa haru dan rindu.
Sebuah beduk besar dari kayu dan kulit lembu tampak berada di sudut serambi. Aku sudah melewatkan waktu mendengar ramai tabuhan bergema memanggil sholat. Orang-orang datang dan pergi dengan langkah pelan, tentu saja menghargai para hamba yang sedang menghiba pada Allah. Kepanikanku muncul saat anakku berlari ke sana kemari. Aduh! Aku berusaha menenangkannya sebab takut suara-suara kakinya mengganggu naiknya doa-doa menuju langit.
Ketika anakku cukup tenang, aku pun menuju wudhu yang berada di sisi barat masjid.
Dalam perjalanan menuju tempat wudhu, mataku tertambat pada sebuah bangunan kecil melingkar yang berdiri terpisah dari bangunan utama. Sepintas tampak asing, bukan ruang tunggu, tidak tampak tempat duduk, bukan pula tempat berteduh. Bangunan apa ini?
![]() |
| Maligen, tempat khitan zaman dulu |
Ternyata bangunan tersebut bernama maligen, yaitu tempat khitanan pada masa lampau. Ah, maligen itu telah membuat banyak tangis anak laki-laki pecah di sana dan doa para orang tua dan kiai yang mengiringi mereka. Kini, bangunan itu hanya menjadi penanda bahwa tradisi pernah berjalan di sana.
Area kamar mandi dan tempat wudhu tampak sudah direnovasi, terlihat lebih modern dibandingkan bagian masjid lainnya.
Setelah itu, aku memasuki ruang utama masjid dan segera mengambil mukenah. Usai mengenakannya, mataku menelusuri setiap detail arsitektur masjid dengan warna teduh di mata, cokelat, hijau, kuning dan putih.
Empat tiang penyangga utama berdiri kokoh dengan hiasan kaligrafi, sementara tiang lainnya berukuran lebih kecil tanpa ornamen tulisan kaligrafi.
Lantai bergaya klasik semakin menegaskan kesan bangunan tempo dulu, tetapi tetap terawat dengan baik. Atap kayu dan lampu hias menggantung di beberapa sudut menambah kehangatan suasana.
Bentuk pintunya pun masih setia pada bentuk khas Jawa zaman dulu. Klasik. Sebagian terbuat dari kaca memungkinkan pandangan mengalir bebas antara dalam dan luar. Bagian atas pintu menyerupai kubah masjid dengan ukiran kaligrafi yang indah.
Meski tidak ada AC, masjid ini tidak terlalu panas. Angin berputar-putar dari kipas-kipas di sudut ruangan. Jendela kaca dan besar yang terbuka membiarkan udara masuk menyegarkan para jama’ah. Lengkungan atas jendela serupa motif kubah dengan bingkai kaligrafi sebagai pengingat akan Yang Maha. Dan ternyata tiap kaligrafi di atas jendela itu adalah ayat-ayat Al-Quran, hadits, rukun iman dan rukun islam. MaasyaAllah.
![]() |
| Kaligrafi pada kusen pintu dan jendela (Mulyadi, 2015) |
Di salah satu pojok, tepat di area saf para akhwat, terdapat ruangan khusus yang tersembunyi di balik pintu hijau tanpa kaca. Cahaya lampu tampak berpendar melalui kaca patri polos. Rupanya, ruangan itu digunakan untuk menyimpan perangkat sound system. Di area ikhwan terdapat ruangan serupa, ada ruangan bersekat khusus, tapi aku tidak tahu apakah sama untuk meletakkan sound system.
![]() |
| Tempat sound system (dokpri) |
Aku mengambil tempat sholat dan berdiri dengan niat yang perlahan menenangkan hati. Takbir pertama terucap dalam hati. Usai salam, aku tetap terduduk. Gerakan bibirku seirama dengan gerakan jemariku, sementara pandanganku berkelana menyusuri setiap sudut masjid.
Bangunan tua yang dirawat begitu baik bisa juga terlihat indah dan khas, meski saat ini banyak bangunan masjid yang megah dan modern. Bagiku, masjid ini punya karakternya sendiri.
Mungkin begitu juga iman, meski zaman terus berubah, lebih modern, tapi iman harus dirawat dan dijaga dengan baik, agar tetap memiliki tempat khusus, tak hanya di hati manusia tapi juga di mata Allah. Selesainya memanjatkan doa, aku segera membereskan mukenah dan keluar dari masjid.
Kaligrafi di Gapura
Dari tengah serambi, aku menatap gerbang depan tempat keluar masuk kendaraan. Tulisan kaligrafi berwarna hijau menghiasi gerbang itu. Tak hanya di gerbang tempat masuk dan keluarnya kendaraan saja, tetapi juga di bagian markiz, seperti pintu utama berupa teras depan yang menonjol.
Sebenarnya apa sih tujuannya kaligrafi ditulis di gapura dan markiz? Aku mencoba mengeja tulisan kaligrafi itu. Huruf-huruf itu melengkung indah dan saling bertaut. Semakin aku eja satu per satu, semakin kusadari....Aku nggak bisa bacaaaa, huaaa...
Membaca kaligrafi memang harus punya ilmu tentang apa yang ditulis. Dan itu memudahkan kita memahaminya. Rasa penasaran tumbuh. Mungkinkah itu penggalan ayat? Sebuah hadits? Atau hanya kata mutiara? Saking penasarannya, aku cari di internet.
Gapura Arah Masuk
Ternyata gapura itu diambil dari bahasa arab “ghafura” yang artinya pengampunan. Artinya bahwa siapa yang memasuki gapura masjid artinya dia telah diampuni oleh Allah (insyaAllah). Seolah, memasuki gapura seperti memasuki ‘dunia’ baru yang memiliki kewajiban baru
Kaligrafi yang terukir di gapura masjid itu diambil dari Al-Qur’an dan hadits, meski tak paham artinya, seolah kalimat itu sebagai ajakan untuk kembali kepada Allah.
Nah, aku mau teman-teman ikut membaca tulisan arab yang aku tulis berikut.
Kalau kalian masuk dari gapura masjid dari arah depan, kalian akan melihat kaligrafi bertuliskan:
Atas:
َاْلاِسْلامُ يَعْلَى وَلا يُعْلَى عَلَيْهِ
“Agama Islam tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya.” (Riwayat Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, nomor 2825.)
![]() |
| Kaligrafi di gapura pintu masuk (dokpri) |
Makna dari hadits ini bukan sekadar pernyataan keunggulan, melainkan sebuah motivasi bagi umat Muslim untuk terus berbuat yang terbaik. Bersyukurlah aku terlahir sebagai muslim dan semoga Allah menjaga nikmat iman dan islam yang sudah diberikan. Aammiinn.
Bawah:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ و أَشْهَدُ َأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Sudah pada tahu kan kalau ini syarat menjadi seorang muslim: mengucapkan dua kalimat syahadat.
Gapura arah keluar
Jika kalian keluar dari gerbang menuju jalan raya, akan menemukan kaligrafi bertuliskan:
Atas:
مِفْتَاحُ الصَّلاَةِ اَلطُّهُوْرُ اَلطُّهُوْرُ نِصْفُ اْلِايْمَانِ
“Kunci shalat adalah bersuci. Bersuci adalah sebagian dari Iman.”
![]() |
| Kaligrafi di gapura arah keluar (dokpri) |
Dua kalimat tersebut merupakan beberapa hadits yang digabung jadi satu rangkaian kaligrafi. Tentu saja sebagai pengingat kita bahwa untuk sholat kita harus bersuci.
Sedangkan di bagian bawahnya tertulis:
Bawah:
مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهَرٍ عَل يْ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ فَمَا بَقِيَ مِنْ ذَالِكَ الدَّنًسُ
“Perumpamaan shalat lima waktu ibarat sungai yang mengalir di pintu salah seorang kamu apabila ia mandi lima kali setiap hari maka tidak akan ada sisa kotoran.” (HR. Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)
MaasyaAllah. Sebenarnya bagus sekali sih pengingatnya ini. Kotoran ini tentu saja tidak hanya di kulit saja, tetapi di lisan, hati dan perbuatan. Dengan melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar, diharapkan tubuh dan hatinya bersih.
Sayangnya, aku yakin, tidak semua orang paham dengan artinya. Mungkin bisa saja ya ada tambahan tulisan begitu seperti plang di bawah gapura, yang tidak menghalangi jalan orang. Setidaknya sebagai pengingat bagi siapa pun yang masih mager melaksanakan sholat lima waktu.
Markiz depan
Apakah teman-teman bisa membaca ini?
![]() |
| Markiz bagian depan (dokpri) |
Atas:
إِنَّ الصَّلاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا
“Sesungguhnya shalat diwajibkan atas orang yang beriman pada waktu yang ditetapkan.” (An-Nisa: 103)
Bawah:
صَلاَةُ الْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلاَةِ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً
“Shalat berjama’ah itu lebih baik dari shalat sendiri 27 derajat.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 645 dan Muslim, no. 650]
Ya udah yuk, kita sholat berjamaah daripada sholat sendiri.
Markiz samping kanan
Kalau ini apa kalian bisa baca?
![]() |
| Kaligrafi di Markiz samping (dokpri) |
Susah kan yaaa?
Tulisannya begini...
Atas:
فَبَشِّرْ عِبَاديَ الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ
“Maka beri kabar gembiralah hambaku yang mendengarkan perkataan mereka mengikutinya dan berbuat baik.” (Az-Zumar : 17-18)
Bawah:
مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلاَثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ كُتِبَ مُنَافِقًا
“Barangsiapa yang meninggalkan jum`at tiga kali maka ia dicatat sebagai orang yang munafik.” (HR. Ath-Thabrani).
Markiz samping kiri
Masih kesulitan baca? Samaaa
Kayaknya yang hanya lulusan bahasa arab yang bisa baca ini. Hehehe.
Atas:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan para pemimpin di antara kamu.” (An-Nisa : 59)
Bawah:
حِفْظُ دِيْنٍ ثُمَّ نَفْسِ مَالٍ نَسَبٍ وَ مِثْلُهَا عَقْلٍ عَرْضٍ قَدْ وَجَبَ
“Menjaga agama, kemudian jiwa, harta dan demikian juga aqal, kehormatan adalah wajib.”
Teman-teman udah baca semua yang aku tulis, kan?
Alhamdulillahhhhh. Malaikat mencatat pahala dari setiap huruf yang diucapkan. aamiin.
Wisata Religi?
Mulanya, aku cuma cari masjid terdekat agar segera sholat ashar sebelum pulang ke Sragen, nyatanya, aku malah wisata religi (tanpa kunjungan makam) dadakan ke Masjid Pura Mangkunegaran.
It's ok. Yang penting aku bisa menikmati di mana pun aku berada.
Referensi
Mulyadi. 2015. Penerapan Kaligrafi Pada Elemen Interior
Masjid Al Wustho Mangkunegaran
Surakarta. https://nurma.staff.uns.ac.id/wp-content/blogs.dir/467/files/2015/08/Kaligrafi-masjid-Al-Wustho-2015.pdf

















0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.