Menanam Pondasi Minat Baca Anak Sejak Usia Dini Melalui Let's Read

No Comments

Membahas minat baca anak, saya selalu teringat dialog-dialog yang terjadi antara saya dan anak saya tentang buku.

Dialog 1.
Saya siap tertidur malam dan sangat mengantuk. Tiba-tiba anak saya membawa beberapa buku.
"Ibu, tolong bacain," pintanya sambil menatap saya.
Dengan menahan kantuk, saya membacakan cerita. 
Beberapa menit kemudian.
"Aahh! Ibu! Ibu! Bacaaiinn!" Ternyata saya ketiduran. Haha. Saya tertawa sendiri. Dan itu terjadi tidak hanya saat ingin tidur malam tapi juga saat siang hari. Biasanya, akan terjadi tiga kondisi. Pertama, saya tidak mengantuk, namun saat membacakan cerita saya mengantuk dan tertidur. Kedua, saya tidak mengantuk, dan ketika saya membacakan cerita, anak saya yang tertidur. Ketiga, saya mengantuk, namun saya tetap membacakan cerita karena permintaannya, akhirnya saya yang tertidur.

Dialog 2.
Di toko buku.
Anak saya memilih-milih buku di lemari. 
"Bu, ini," katanya sambil menunjuk buku.
Terus dia melihat buku yang lain. 
"Bu, yang ini aja ya boleh?"
Saya mengangguk dan menukar buku yang diinginkan.
"Eh. Ini aja Bu." Dia mulai bimbang sendiri. Pada akhirnya, dia memutuskan yang mana yang mau dibawa pulang.

Dialog 3.
Ini terjadi malam ini, ketika suami membawakan kertas bekas yang banyak gambar dari internet. Anak saya sangat senang sekali. Mereka pun mulai melukis dengan cat air. 
Setelah selesai melukis, dia meminta pada saya, "Bu, ini yang sudah aku lukis, dikasih tulisan ya. Nanti bacain ya."
Sret... srett...
Dia memberi saya lembaran kertas yang sudah dia beri kotak di bagian atas untuk judul dan bawah untuk ceritanya. Masyallah. Saya pun menulis cerita asal saja di setiap kotak yang sudah dia gambar. Setelah selesai dengan segala upaya, dia meminta lagi, "Bu, ini di isolasi."
"Untuk apa?"
"Biar jadi buku."
"Lah. Ngapain?"
"Iya. Ibu sih nggak belikan aku buku," kata anak saya. Saya tertawa.
"Kan udah di belikan waktu di Malang."
"Kan di sini (Sidoarjo) belum."
Akhirnya saya menuruti permintaannya untuk menjadikan lembaran-lembaran itu menjadi buku. 




Saya punya kekhawatiran jika anak saya tidak suka membaca buku karena katanya di usia delapan sampai sembilan tahun minat baca anak bisa menurun, seperti yang dijelaskan pada Bu Sofie dalam website Litara.or.id:

Survei menyimpulkan bahwa minat membaca untuk kesenangan menurun ketika anak berusia delapan hingga sembilan tahun. Menariknya, penurunan minat ini tak ditemukan pada sedikit anak yang memang telah memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini. Ini menjelaskan mengapa banyak penelitian menganjurkan beragam kegiatan membaca yang menarik minat pembaca berusia dini.


Namun, dari dialog-dialog tersebut, saya cukup senang jika anak saya yang masih usia dini memiliki ketertarikan terhadap buku. Saya harap hal tersebut tidak akan menurun seiring bertambahnya usia. Karena menurut saya, minat baca anak saya itu adalah salah satu modal untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam membaca buku.

Suatu ketika, seseorang bertanya kepada saya tentang bagaimana agar anak mau membaca buku?

Saya berusaha menjawab dengan pengetahuan minim yang saya miliki bahwa semua tergantung jenis buku yang dibaca untuk menarik anak untuk membaca. Jika anak masih usia dini, maka buku bergambar (picture book) mungkin lebih tepat diberikan karena tulisannya tidak banyak dan menyenangkan.

Inilah cerita saya tentang cara saya menumbuhkan minat baca anak saya....




Ketika anak saya berusia enam bulan, saya mulai berpikir bagaimana anak saya ini bisa tertarik dengan buku?

Ketertarikan terhadap buku adalah hal yang harus saya capai terlebih dahulu. Sebenarnya, tidak perlu menunggu usia enam bulan untuk menarik minat baca anak. Dari hamil pun bisa dilakukan oleh ibu untuk membaca (termasuk Al-Quran).

Pada akhirnya saya membelikan buku bergambar yang memang sesuai usianya atau sesuai levelnya. Setiap buku bergambar biasanya sudah ada usia pembaca. Buku bergambar yang saya miliki pertama kali untuk anak saya adalah buku bergambar tentang hiu dan lumba-lumba. Rupanya anak saya sangat menyenangi itu karena gambarnya yang menyenangkan dan tidak membosankan.

Membacakan buku pun tidak melulu sebelum tidur malam, tetapi bisa juga sebelum tidur siang, waktu makan ataupun setelah selesai bermain. Langkah awal saya untuk menarik minat baca anak adalah mengajaknya membaca.

Tak hanya jenis buku yang sesuai usia atau level dan juga bacaan yang menyenangkan, tetapi juga usaha dari orang tua untuk membacakan buku. Dukungan orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak tidak hanya pada saat membelikan buku saja, tetapi juga perlu usaha lain agar anak menjadi tertarik pada buku, seperti tak menolak saat anak meminta dibacakan buku meskipun orang tua merasa bosan dan capek.

Terus terang, saya pernah merasa lelah karena anak terus-terusan minta dibacakan buku padahal mulut saya sudah berbuih. Namun, waktu itu saya berpikir, bagaimana anak saya bisa suka dengan buku jika saya sendiri tidak membuatnya menyukainya hanya karena malas, lelah dan bosan membacakan buku untuknya? Setelah itu, saya selalu berusaha membacakan buku cerita untuknya.

Selain itu, anak-anak adalah peniru ulung. Mereka dengan mudahnya meniru kebiasaan orang yang ada di sekitarnya. Jika orang tuanya suka melakukan sesuatu, kemungkinan besar anak akan menirunya. Maka, ketika orang tua ingin menumbuhkan minat baca anak, maka orang tua itu juga harus membaca buku, setidaknya terlihat depan anak-anak.

Saya katakan pada seseorang yang bertanya pada saya bahwa orang tua juga harus menunjukkan minat baca terhadap buku sehingga anak akan percaya dan akan meniru orang tuanya untuk membaca.

Siapa pun tidak akan suka jika seseorang menyuruh melakukan sesuatu sementara dia sendiri tidak melakukannya. Orang tua tidak bisa memaksa anak untuk suka membaca buku sementara orang tuanya sendiri tidak suka membaca. Anak tidak akan mau menuruti permintaan orang tuanya yang hanya disuruh, "Coba kamu baca buku saja." Sementara orang tuanya tidak pernah memegang buku atau tidak menjadikan buku itu sesuatu yang menarik. Lingkungan yang literat akan memudahkan menumbuhkan minat baca anak.

Bersyukur, saya sendiri memang sudah menyukai membaca buku sejak kecil. Meski orang tua saya hanya membaca koran setiap hari dan tidak memaksa saya untuk menyukai buku, tapi saya memiliki kesempatan bisa mengakses buku cerita. Orang tua saya memfasilitasi dengan menyediakan buku-buki dirumah. Saudara saya yang suka sekali membaca majalah anak-anak bahkan sampai berlangganan.

Sampai saat ini, saya pun masih membaca buku dan menyelesaikannya. Selain memang untuk kebutuhan nutrisi gaya menulis, membaca buku, khususnya di depan anak-anak, adalah cara agar anak menjadi akrab dengan buku. Tak heran, di rumah saya, buku yang keluar dari lemari sudah berada dimana-mana, seperti tempat tidur, ruang tamu, dan tempat makan (kebetulan juga rumah saya tidak begitu besar).

Penempatan buku-buku di tempat yang terlihat juga cara menumbuhkan minat baca anak, misalnya di kamar, di dekat kotak mainan, di meja makan, di ruang tamu. Jika tidak ingin terlihat berceceran, maka letakkan rak buku di tempat yang sering dilalui anak-anak. Tidak hanya menjadi hiasan semata.  Sampai-sampai saya membeli meja makan yang ada rak bukunya. Alhasil, anak saya sering meminta dibacakan buku saat dia sedang makan.


Memilih Buku pun Bisa Menjadi Dilema bagi Anak Usia Dini (Dok. Pri)

Sesekali, saya juga mengajak anak saya pergi ke toko buku, bazar buku maupun ke perpustakaan kota. Di sana, saya mengajaknya melihat buku anak-anak bergambar (karena anak saya masih Balita) dan membawa pulang beberapa buku untuk mereka. Mereka begitu antusias.

Apakah saya hanya membacakan buku fisik yang saya beli dari toko atau bazar?

Tidak. Justru saya tidak menghalangi anak mengenal teknologi. Hanya saja saya perlu strategi tersendiri. Saya tidak mau anak saya dikendalikan oleh tayangan-tayangan adiktif pada kanal video melalui ponsel. Maka, saya mengunduh aplikasi membaca untuk anak yaitu aplikasi Let's Read yang bisa diunduh melalui playstore.


Bacaan di Let's Read ini sudah menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Adanya fitur level baca ini memudahkan pembaca memilih level membaca sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, ada juga terjemahan bahasa asing juga bahasa lokal. Selain itu, ceritanya pun unik, tidak biasa dan sangat menarik.



Karena cerita yang menyenangkan pada platform Let's Read itulah anak saya semakin betah dan senang dibacakan cerita pada platform itu. Bahkan dia selalu mencari cerita favorit yang dia minta bacakan berulang kali. Judulnya "Ira Tidak Takut Lagi". Karena dia minta baca cerita itu terus, saya mencarikan cerita lainnya. Awalnya dia tidak mau. Pokoknya cerita tentang Ira melulu. Sampai saya bujuk-bujuk untuk membaca cerita lain akhirnya dia mau meski baru berhasil sekitar sebulan ini.

Selain itu, mengajak anak saya membaca cerita melalui platform Let's Read secara perlahan mampu mengalihkan perhatian anak saya dari tontonan kanal video. Mindset nya berubah. Ia tidak lagi menganggap bahwa ponsel hanya untuk menonton tapi bisa untuk membaca.

Ketika dia mulai terlihat memegang ponsel, maka saya melarangnya untuk menonton, dia pun memilih untuk dibacakan cerita dari platform Let's Read. Jadi membaca media digital untuk kasus saya lebih membantu anak mengalihkan keinginannya dari tontonan video yang bisa dilakukan berjam-jam. Harapannya, pondasi minat baca anak sudah terbentuk sejak usia dini karena didukung oleh aplikasi Let's Read.

Mungkin Mom tertarik? Mom bisa unduh aplikasinya di Play Store ya atau unduh dari link nya di sini.

Belum ada kata terlambat untuk menanam pondasi minat baca anak. Banyak cara untuk melakukannya. Hal di atas adalah yang saya lakukan terhadap anak saya yang masih balita dan mungkin bisa diterapkan pada sebagian anak.

Selamat mencoba!


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower