Siang begitu terik seolah sedang menusuk-nusuk kulitku. Berjalan di Kawasan Peneleh, Surabaya, yang jarang sekali pohon rindang. Air di botol benar-benar sudah kosong. Rencana kami makan setelah sholat. Setelah berkunjung ke museum HOS. Tjokroaminoto, kami mengejar sholat dzuhur berjamaah di masjid terdekat yaitu Masjid Peneleh.
Jalannya tidak jauh, tetapi setelah keliling dari pagi, tetap saja ada rasa lelah. Apalagi anak-anak yang tampaknya aja masih ceria tapi mungkin mereka sudah lelah.
Berbekal papan petunjuk, kami menuju Masjid Peneleh. Kami memasuki gerbang Kampung Peneleh yang berwarna hijau dan bertuliskan PENELEH SURABAYA. Anak-anakku bersegera mengejar ayahnya yang berjalan cepat. Sementara aku sedikit lambat mengikuti ritme si anak bayi.
Kami melewati rumah-rumah penduduk yang padat. Sampai akhirnya kami melihat bangunan di tengah kampung yang berbeda dari rumah biasa tapi juga seperti bukan masjid.
Masjid Peneleh
![]() |
| Masjid Jami' Peneleh (dok. Pribadi) |
Masjid yang kami datangi adalah masjid Peneleh, katanya menjadi masjid tertua kedua di Surabaya. Tapi aku kurang paham juga karena katanya, berdasarkan prasasti mbah Cempo, Sunan Ampel membangun masjid Peneleh ini lebih dulu daripada masjid Sunan Ampel. Jadi komunitas muslim di Peneleh sudah ada sebelum di kawasan Ampel.
Menurutku, arsitekturnya cukup unik karena tidak seperti bangunan masjid kebanyakan.
Tidak ada pagar yang membatasi kambing masjid. Antara bangunan dan latar masjid bergabung dengan jalanan kampung.
Ini membuat aku sedikit bertanya-tanya. Kenapa bisa berbeda begini? Apakah ada cerita di baliknya?
Sejarah Masjid Peneleh
Menurut beberapa referensi, masjid Peneleh ini dibangun pada abad ke 15 atau tahun 1421. Ada juga yang bilang 1430. Pendiri Masjid Peneleh ini adalah Sunan Ampel yang juga membangun masjid Ampel.
Dulunya hanya surau kecil atau langgar yang menjadi pusat syiar Islam.
Arsitektur Masjid Peneleh
Ketika pertama kali kulihat, bangunan masjidnya bagian depan memiliki ruang khatib atau mihrab yang berbentuk setengah melingkar bercat hijau. Jendelanya berbentuk lingkaran.
Di sisi lain masjid terdapat menara tampung air yang berbentuk bulat di ujungnya.
Dari desain luarnya, Masjid Peneleh memiliki jendela utama lebar khas zaman dulu. Ada 4 jendela besar utama dan ternyata ditutup sebagian dengan kayu. Mungkin cahaya matahari tidak masuk ke masjid. Bahan kayu dan memiliki kisi agar angin tetap masuk meski jendela ditutup. Model jendela yang aku suka karena hemat energi. Hehe.
![]() |
| Jendela masjid (dok. Pribadi) |
Di antara jendela itu juga ada pintu dengan tangga menyamping.
![]() |
| Pintu samping masjid yang tertutup (dok. Pribadi) |
Sepertinya hanya di satu sisi masjid ini saja ada jendela seperti ini.
Aku mencari pintu masuk untuk wanita tapi agak bingung karena hanya ada satu pintu masuk besar. Di sisi kiri pintu ada tempat wudhu untuk pria.
Sepertinya semua jamaah masuk di pintu yang sama. Jamaah pria yang baru berwudhu bersiap memasuki masjid. Aku sudah melepas sepatu dan siap masuk ke masjid. Bergantian dengan para pria.
Untuk ke tempat wudhu wanita, aku harus masuk ke pintu utama masjid. Kemudian aku jalan menuju ke arah tempat sholat wanita.
Saat pertama masuk masjidnya, aku cuma berucap MaasyaAllah. Keren sih. Kalau aku ya, tiap lihat bangunan masjid yang modern aku cuma bisa mengakui bagus.. tapi kayak yaudah gitu. Biasa aja. Tapi kalau lihat masjid tua yang masih dipertahankan arsitekturnya sampai sekarang tuh rasanya kayak 'ya Allah ini keren bangettttt'. Vibe-nya beda. Berasa kayak kembali ke masa silam. Melupakan segala euphoria tentang modernitas tapi mengingat kembali bahwa kesederhanaan itu bisa menyenangkan. Tergantung cara kita memandang.
![]() |
| Coba perhatikan tiang-tiangnya (dok. Pribadi) |
Secara umum, atap masjidnya hampir sama dengan masjid lain yang berbentuk limas menjulang ke atas dengan lapis tiga, seperti pada bangunan joglo. Tapi tetap elemennya yang membedakan dengan masjid lain.
Meskipun udah pernah ke masjid Al-Wustho Pura Mangkunegaran, masjid Peneleh ini tetap ada ciri khas yang berbeda.
Ciri khas yang berbeda dengan masjid lain di Indonesia adalah bagian atapnya seperti perahu terbalik.
Tiangnya ada 10 yang melambangkan 10 nama malaikat Allah.
Jendelanya selain kayu di bagian atasnya dipasang kaca patri yang berjumlah 25 dan bertuliskan nama-nama nabi.
![]() |
| Kaca patri bertuliskan nama nabi (dok. pribadi) |
Yang unik lagi, setelah aku mencari referensi tentsng Masjid Peneleh, ada yang mengatakan tiangnya ini kalau dilihat-lihat seperti kepala tengkorak dengan dua mata dan gigi. Sebenarnya aku tidak begitu sadar ya. Tapi pas dilihat-lihat kok bener desain tiangnya menyerupai tengkorak ini. Alasannya sebagai bentuk pengingat akan kematian.
Untuk kamar mandi dan tempat wudhu tidak tampak seperti tempat wudhu di Masjid Jami' Kraton Solo yang lebih jadul. Di sini tempat wudhu masih tampak modern.
Bukti penyebaran agama Islam
Adanya masjid arsitektur kuno ini menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di surabaya sudah ada sejak zaman Majapahit yang dipimpin oleh ibu suri Suhita, Diah Kertawijaya.
Yang ternyata di masa itu sedang masa peralihan ke era Islam. Di saat itu kerajaan Majapahit memberikan sebidang tanah di kawasan Ampel termasuk juga Peneleh kepada Sunan Ampel.
Kenapa Ibu Suri memberikan sebidang tanah pada Sunan Ampel?
Karena di masa itu, masyarakatnya termasuk juga para elite kerajaan yang mengalami krisis moral, seperti berjudi, mabuk-mabukan, menggelapkan pajak dan lain sebagainya.
Sunan Ampel diminta untuk memperbaiki moral masyarakat dan elite kerajaan dengan memberikan sebidang tanah untuk pembangunan pusat ibadah dan perbaikan moral masyarakat.
Dari situlah bermula penyebaran agama Islam di Jawa Timur. Setelah itu ramailah pedagang dari arab Yaman dan lama-lama menjadi pusat perdagangan hingga menjadi komunitas Islam tertua.
Jamaah Masjid Peneleh
Mungkin karena siang, jamaah sholat dzuhur tidak terlalu banyak. Untuk akhwatnya pun bisa dihitung jari. Rata-rata juga para lansia. Kalo ini sepertinya hampir semua kondisi masjid.
Setelah sholat dan dzikir, aku mengambil beberapa foto dan segera pulang. Kami pun mencari makan di warung makan dekat jembatan Peneleh.








0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.