Perjalanan panjang bangsa ini tak lepas dari peran para pemuda di zaman dulu. Keberanian dan semangat pantang menyerah untuk memerdekakan bangsa ini dari penjajahan bisa terlihat jelas pada diri pahlawan bangsa. Presiden pertama RI dan bisa disebut pemuda menjadi salah satu pahlawan bangsa yang berjasa memerdekakan bangsa ini.
Ir. Soekarno telah melewati masa-masa berat dan suram. Tapi aku kali ini tidak akan menjadi guru sejarah yang akan membuat para pembaca yang baik hati mengantuk karena tulisanku. Hehe. Semoga memang tidak mengantuk ya..
Rencana mengunjungi Peneleh akhirnya terwujud juga. Kunjungan pertama adalah ke rumah masa kecil Ir. Soekarno. Berbekal Google Maps kami pun tiba di sekitar kawasan Peneleh, salah satu kawasan tertua di Surabaya yang sudah ada sejak tahun 1275.
Yang agak susah, tempat parkir untuk mobil yang terbatas. Kami pun parkir di pinggir jalan tanpa pepohonan. Beberapa bus juga terparkir di sisi jalan yang lain.
Ternyata ada hotel di sekitar Peneleh yang sepertinya untuk rombongan trip sejarah. Sepertinya...
Di tengah panasnya Surabaya meski masih jam 10 pagi, kami berjalan menyusuri jalanan pinggir Peneleh, yang dekat dengan sungai Kalimas.
![]() |
| Gerbang Rumah Kelahiran bung Karno (dok. Pribadi) |
Kami berhenti sejenak di depan gapura bertuliskan Rumah Kelahiran Bung Karno. Aku mengambil foto-foto sejenak. Gapuranya biasa. Ada sketsa di sisi kiri gapura. Ada juga ikon buaya dan ikon hiu ditempel di gapura. Seorang penjaga duduk di dekat gerbang masuk.
Gang di depan kami sama seperti gang Surabaya lainnya, kecil, paving dan bukan jalur untuk mobil. Jalan ini bernama Jalan Pandean IV yang pernah menjadi saksi lahirnya putra bangsa.
Memasuki Kampung Pandean, gang yang bersih dan padat dengan rumah penduduk, aku melihat sisi kiri lukisan tentang perjalanan Bung Karno dari lahir. Tanaman hijau sederhana memperindah pemandangan dari luar.
Perjalanan Bung Karno di Surabaya
![]() |
| Seni mural perjalanan masa kecil Soekarno (dok. Pribadi) |
Dari seni mural di Jalan Pandean IV ini memberikan kisah singkat tentang sejsrha rumah lahir Bung Karno di Surabaya.
Kami memasuki rumah tanpa teras yang memiliki penanda rumah masa kecil Bung Karno. Rumahnya jelas sudah direnovasi. Dindingnya bercat putih dengan jendela kaca dan bingkai kayu cokelat. Pintu rumah berada di tengah bangunan. Di bagian atas pintu ada penanda berbentuk kipas bertuliskan "Rumah Lahir Bung Karno".
![]() |
| Depan Rumah Kelahiran Bung Karno (dok. Pribadi) |
Dari luar, tidak tampak seperti rumah di sekitarnya. Unsur jadul memang masih terasa sedikit meski tampaknya sudah bangunan baru karena sudah direnovasi. Sepertinya bagian atap juga sudah ditinggikan. Biasanya nih bangunan jadul milik pribumi tidak terlalu tinggi jarak lantai ke atap.
Tak ada petugas loket di bagian depan. Tak ada pengunjung lain. Semua tampak sepi seperti gang yang kami lewati. Hanya suara anak-anakku yang berisik.
Undakan sedikit untuk memasuki rumahnya. Ketika membuka pintu, foto masa kecil Soekarno yang memakai blangkon tampak jelas menyambut pengunjung. Wajahnya yang tampan membuatku mengaguminya. Tak heran jika di waktu itu banyak perempuan yang jatuh hati pada beliau.
Di sampingnya bertuliskan:
"...Saja dilahirkan di Surabaja jadi saja arek Surabaja." - Ir. Soekarno.
![]() |
| Soekarno Masa Muda (dok. Pribadi) |
Jelas yo rek! Bung Karno arek Suroboyo! Hehehe
Keluarga Bung Karno
R. Soekeni, ayah Bung Karno, merupakan orang Tulungagung yang berprofesi sebagai guru Tweede Klasse Scholen di Buleleng, Bali, pada tahun 1891.
Kemudian bertemu dengan Ida Ayu Nyoman Rai. Meski berbeda agama, islam dan Hindu, mereka akhirnya menikah tahun 1897. Karena perbedaan agama ini, keluarga mereka tidak merestui hingga nikah lari.
Mereka memiliki anak pertama bernama Soekarmini tahun 1898. Di tahun yang sama mereka pindah ke Jawa, tepatnya di Surabaya. Pada waktu itu status rumah masih mengontrak.
R. Soekeni mengajar di Inland Scool (sekarang: SDN Sulung) di Surabaya.
Kelahiran Bung Karno
Dua tahun di Jawa, Ida Ayu melahirkan anak kedua bernama Koesno Sosrodihardjo di tahun 1901 pada pagi hari, yang kita kenal sebagai presiden pertama Indonesia.
Dalam bahasa Jawa, Koesno artinya kesentausaan dan menyukai ilmu pengetahuan.
Yang paling mengharukan dari perkataan ibunya pada Bung Karno kecil adalah:
Anakku, engkau sedang memandangi matahari terbit. Dan engkau anakku kelak akan menjadi orang yang mulia, pemimpin besar dari rakyatmu, karena ibu melahirkan saat fajar menyingsing. Jangan sekali-kali engkau lupa, Nak, bahwa putra sang fajar.
MaasyaAllah. Saat baca ini. Aku terharu. Bagaimana tidak, kata-kata seorang ibu itu ibarat doa yang mudah sekali Allah wujudkan. Padahal seorang Ida Ayu masih menganut Hindu hingga akhir hayatnya. Mungkin ia tahu bahwa ucapan ibu adalah doa.
Aku berkaca pada diriku. Tiga anakku semua lahir saat fajar. Semoga kelak mereka menjadi orang mulia dan pemimpin rakyat. Semoga lisanku juga mudah berucap kata baik-baik untuk anak-anakku. Aamiinn.
Dan kamar Koesno kecil yang dulu masih berupa tanah dan bambu, kini telah difungsikan untuk pemutaran film dokumenter Pak Soekarno kecil.
Ruangan kamar Koesno kecil juga telah direnovasi. Tidak ada benda peninggalan apa pun dari Soekarno dalam rumah ini. Di ruangan tersebut disediakan beberapa kursi, televisi untuk menayangkan film dokumenter dipasang di dinding, dan di pojok ruangan, sound system dipasang agar suara lebih terdengar jelas.
Ruangan Augmented Reality
Uniknya, di ruangan lain, disediakan layar augmented reality. Ketika kita duduk di kursi, maka layar akan menyala otomatis.
Seketika layar memperlihatkan rekaman masa kecil Soekarno dan gambar Soekarno sedang berdiri memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Anakku excited ketika melihat mereka bisa masuk ke dalam televisi. Tangan mereka terangkat. Mereka tertawa. Mereka bergeser dari kiri ke kanan. Lucu.
![]() |
| Ruangan Augmented Reality (dok. Pribadi) |
Pekerjaan Soekeni dan Sekolah Soekarno
Setelah enam bulan lahir, ayahnya, R. Soekeni ditugaskan menjadi guru di Jombang. Saat orang tuanya tingga di Jombang, sekitar tahun 1903, Soekarno diasuh kakaknya di Tulungagung. Koesno kecil ini sering sekali sakit. Sampai akhirnya keluarga memutuskan agar mengganti namanya menjadi Soekarno. Penggantian nama ini diikuti dengan selametan.
Kemudian tak lama Soekeni dipindahkan lagi ke Sidoarjo dan Mojokerto.
Di tahun 1915, Soekeni ditugaskan ke Blitar. Satu tahun kemudian, di usia 16 tahun, saat orang tuanya di Blitar, Soekarno kembali ke Surabaya untuk menuntut ilmu di Hoogere Burgerschool (HBS). Beliau mengontrak di rumah HOS. Cokroaminoto yang tidak jauh dari rumah lahirnya hingga lulus tahun 1921.
![]() |
| Perjalanan Hidup Soekarno (dok. Pribadi) |
Belajar dari orang tua Soekarno
Alasan aku kenapa menyukai pergi ke museum adalah karena biasanya ada cerita yang bikin hati terasa trenyuh atau bisa jadi refleksi diri untuk menjadi lebih baik.
Pertama ketika membaca tulisan di bawah potret ayahnda, Raden Soekeni Sosrodihardjo.
Beliau mengajarkan tegas dan disiplin dalam mendidik anak. Koesno sering dihukum karena melanggar aturan yang sudah diajarkan Soekeni.
Apakah kalian juga menerapkan hukuman pada keluarga kecil kalian?
Semoga Allah terus membimbing kami. Semoga menjadikan anak-anak kami (para laki-laki) ini tegas dan disiplin. Calon pemimpin masa depan. Aamiinn
Beliau juga mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk hidup. Beliau juga menanamkan pendidikan formal dan agama secara mendalam kepada anak-anaknya.
Sementara ibundanya, Ida Ayu Nyoman Rai, ketika Koesno mendapat hukuman dari ayahnya, maka ibunya ini menjadi penyeimbang dengan memberikan pelukan hangat. Ibu menjadi tempat untuk berlindung dan mengadu.
Terakhir, tentang persaudaraan dengan kakak perempuannya. Aku benar-benar lupa. Tidak sempat aku foto. Dan pesannya mirip sekali dengan kondisi anak-anak kami.
Rumah Kelahiran Bung Karno, Rumah Kecil Penuh Makna
Meskipun sederhana, tidak bisa disebut museum karena memang tidak ada barang bersejarah yang dimuseumkan. Tapi meski tampak rumah biasa dan tak ada banyak benda bersejarah, selain kisah sejarah hidup Soekarno, ternyata Rumah Bung Karno Surabaya ini menyimpan makna tentang hubungan orang tua dan anak serta persaudaraan. dan sejarah.
Ketika kalian mencari wisata sejarah Surabaya, datanglah ke rumah lahir Bung Karno. Peneleh tak hanya menyimpan cerita tentang rumah lahirnya Soekarno tetapi juga rumah HOS Cokroaminoto yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari rumah Soekarno.
Ada yang sudah pernah mengunjungi Rumah Lahir Soekarno?
Oiya kalau kalian sudah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, saranku kalian pergi ke Sumur Tua Majapahit yang hanya beda dua gang saja. Aku pun baru tahu loh infonya jadi aku nggak sempat ke sana. Setelah itu baru ke rumah museum HOS. Cokroaminoto.









ini nih yang pengen aku jelajahi di Surabaya, pengen sekalian belajar sejarah langsung. Menarik sekali bisa berkunjung ke rumah masa kecil Bung Karno
BalasHapus