Sebagai warga yang tinggal di pinggiran Kota Surabaya, ketika ada keluarga jauh datang, kami menawarkan untuk jalan keliling Surabaya. Tapi kalau malam hari, tempat wisata Surabaya yang bisa dikunjungi seperti wisata Tunjungan Romansa, tempat wisata sejarah di sekitar Jalan Tunjungan. Hanya saja tempatnya ramai dan banyak anak muda. Bagi keluarga yang sudah lansia mungkin kurang cocok kali ya. Apalagi kalau tidak suka keramaian dan jalan yang jauh. Akhirnya, aku menawarkan wisata perahu Kalimas yang mirip seperti wisata air Venezia di Italia atau seperti Singapura. Aku kurang tahu kalau di kota lain apakah ada wisata air yang serupa?
Lokasi tengah kota Surabaya
Lokasinya cukup jauh dari rumah kami yaitu berada di Jalan Ketabang Kali. Lama perjalanan dari Waru sekitar 40 menit atau sekitar 16 km.
Lokasinya juga mudah dicari lewat Google. Nanti ada pujasera di dekat taman Prestasi dan dermaga Kalimas.
Pemesanan tiket
Pertama kali ke sana, kami tidak tahu kalau harus pesan tiket wisata perahu Kalimas di website Tiket Wisata Surabaya. Jadilah kehabisan kuota dan kami tidak bisa naik perahu. Kesempatan selanjutnya, ketika keluargaku dari Kalimantan datang, kami pun memesan tiket wisata dulu sebelum berangkat. Alhamdulillah masih dapat kuota. Harganya murah cuma 7.000 rupiah saja. Kuotanya terbatas. Makanya cepat habis. Sekali naik perahu bisa 10an orang.
Wisata Perahu Kalimas
Wisata Perahu Kalimas direvitalisasi sekitar tahun 2021 dan mulai aktif digunakan tahun 2022.
Sebenarnya ada dua rute wisata perahu Kalimas yaitu Taman Prestasi - Monumen Kapal Selam (Monkasel), dan Taman Prestasi - Museum Pendidikan. Kita ambil rute Taman Prestasi - Museum Pendidikan karena tidak terlalu jauh. Harganya berbeda setiap rute.
Jam buka Wisata Perahu Kalimas dari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Jangan mepet datang jam setengah 9 ya karena biasanya masih antri. Daripada nggak keburu.
Kami tiba di sana sekitar jam 8 lewat dikit. Ketika keluarga mertua datang, kami hanya sempat foto-foto saja. Anak-anak kecil menyukai bermain di taman Prestasi.
Ketika keluarga dari Kalimantan datang, mereka setuju untuk wisata perahu Kalimas. aku langsung memesan tiket di website.
Malamnya setelah makan malam Bebek wahid hasyim kami meluncur ke Wisata Perahu Kalimas.
Di sana mobil sudah parkir cukup banyak meskipun agak susah karena berada di pinggir jalan.
Aku langsung segera menuju ke loket tiket. Di sana aku harus menunjukkan tiket yang sudah di pesan. Setelah itu, kami berjalan menuju garis antrian sebelum naik perahu.
Di depan kami ada beberapa orang yang juga akan naik. Tidak terlalu ramai sih. Jadi kami bisa langsung naik perahu tanpa antri lama.
Sebelum naik, penumpang diminta untuk memakai pelampung oranye. Begitu juga anak-anak. Mereka memakai pelampung. Orang dewasa juga. Petugas meminta kami ysng sudah memasang pelampung untuk segera menaiki perahu. Seorang petugas sudah duduk dibalik kemudi dan siap untuk membawa penumpang keliling sungai.
Kapal bergerak perlahan meninggalkan dermaga. Lampu-lampu menghiasi tepian sungai Kalimas. Warna magenta terang menerangi sungai yang gelap.
Anak-anak mulai sumringah merasakan perahu berjalan pelan. Adik cuma bengong saja melihat ke arah depan. Semua merasakan pengalaman yang baru malam itu.
Di tengah sungai, tergantung lampion dengan berbagai bentuk seperti kupu-kupu, bebek, dan lain-lain.
Dari kejauhan tampak tingginya Tunjungan Plaza dan menara apartemen yang dihiasi dengan lampu-lampu.
Setelah berjalan sedikit jauh ke arah Museum Pendidikan, sungai sudah mulai gelap karena lampu-lampu sudah mulai jarang. Di sini aku merasa agak serem dikit.
Memang sedikit gelap meski lampion-lampion menghias sungai.
Kapan waktu yang tepat naik perahu?
Menurutku paling enak saat sore hari menjelang maghrib karena udara tidak panas dan masih terlihat bangunan di pinggir sungai. Tapi kalau kalian suka melihat lampion yang menyala bisa pilih jadwal yang malam hari.
Sejarah Singkat Sungai Kalimas
Jika sekarang, jalan-jalan menjadi cikal bakal dam urat nadi perkembangan suatu kota. Maka di zaman dulu, sungai, sebagai anugerah yang diberikan Allah sebagai pencipta, yang menjadi awal mula perkembangan suatu kota.
Begitu juga Kalimas yang menjadi jalur transportasi dsn perdagangan Majapahit dan VOC. Dari jalur inilah, rempah-rempah didistribusikan dari pelosok daerah ke negara lain begitu juga sebaliknya. Sungai kalimas ini dikelilingi oleh bangunan-bangunan bersejarah era kolonial.
![]() |
| Kalimas zaman dulu (IG @surabayapunyacerita) |
Kalimas ini merupakan jalur transportasi yang membawa barang dagangan yang berharga. Itulah mengapa disebut Kalimas. Kali dalam bahasa Jawa artinya Sungai. Dan mas artinya adalah emas yang bisa dimaknai dengan sesuatu yang berharga.
Karena jalur penting ini di beberapa tempat juga dibangun jembatan yang bersejarah seperti jembatan merah, jembatan petekan dan jembatan peneleh yang masih bisa kita lihat sekarang.
Pada tahun 1990an, wisata perahu Kalimas dimiliki oleh Grahadi kemudian berpindah ke Dinas Pariwisata Surabaya.
Kalau ke Surabaya, Jangan Lupa Naik Perahu Kalimas
Nah, wisata perahu Kalimas ini bisa menjadi destinasi wisata Surabaya yang sayang untuk dilewatkan. Mungkin bisa coba yang rute dari Monkasel. Jadi setelah wisata di monumen kapal Selam bisa naik perahu Kalimas.






0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.