Wisata Sejarah Surabaya: Museum HOS. Cokroaminoto, Tempat Lahirnya Para Tokoh Pergerakan Nasional

No Comments
Setelah berkunjung ke Rumah Kelahiran Soekarno, kami pun melanjutkan destinasi wisata sejarah Surabaya selanjutnya yaitu mengunjungi museum HOS. Tjokroaminoto atau Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Tidak Jauh dari Rumah Kelahiran Bung Karno

Jarak dari Rumah Kelahiran Bung Karno ke Museum HOS. Tjokroaminoto sekitar 350 meter atau 6 menit dengan berjalan kaki. Meski harus berjalan di bawah terik jam 11 siang, kami– eh aku aja kali ya– tetep semangat pergi ke rumah tokoh pergerakan nasional HOS. Tjokroaminoto. Ihiiyy.

Sebenarnya lokasinya tidak terlalu susah dicari karena sudah ada papan penanda. Hanya perlu ketelitian saja karena papannya tidak terlalu besar.

Di sisi kanan jalan, kendaraan berbelok melewati jembatan Peneleh yang melewati Kalimas–sudah pada tahu kan wisata perahu Kalimas?

Di jembatan ini di mana Soekarno pernah bercengkerama bersama Siti Oetari yang menjadi istri pertama Soekarno. Sayangnya, beliau ini bercerai. Setelah itu, Siti Oetari menikah dengan Sigit Bachroensalam dan memiliki anak bernama Harjono Sigit, seorang arsitek dan pernah menjadi rektor ITS. Harjono Sigit inilah ayahnda Maia Estianty.

Siang itu, kendaraan tidak terlalu ramai. Persis di depan jembatan ada jalan menuju museum HOS. Tjokroaminoto, yaitu Jalan Peneleh Gang 7.

Toko buku peneleh
Toko Buku Peneleh adalah tempat Bung Karno sering mencari buku dulu (dok. Pribadi)


Suami memarkirkan mobil dekat toko buku Peneleh yang menjual buku-buku jadul. Beberapa orang terlihat berlalu lalang sepertinya mereka adalah pengunjung museum.

Museum HOS Cokroaminoto
Museum HOS. Cokroaminoto dari depan (dok.pribadi)

Kami berdiri di depan bangunan berwarna hijau dan putih yang masih terjaga keasliannya. Kalaupun direnovasi hanya untuk memperbaiki kerusakan. Catnya masih tampak baru. Vibe-nya masih seperti rumah jadul. Pintu lebar dua sisi. Jendela lebar kayu yang bisa dibuka atas dan bawah. Bangunan tidak terlalu tinggi. Atap limasan. Pagar kayu hijau. Dua tiang kayu di bagian depan khas rumah limasan. Di depan museum ada bendera merah dan putih.

Di bagian depan, tampak dua nomor bangunan : 29 dan 31.

Beli Tiket Museum Online

Ketika kami mau masuk, kami dicegat penjaga dan meminta menunjukkan karcis kami. Ternyata kami harus pesan tiket dulu di tiketwisata.surabaya.go.id. 

Kita pilih tujuan wisata kemudian pilih hari dan jamnya. Perhatikan kuotanya. Kalau habis berarti pilih di jam berikutnya. Cuma setahu aku sih nggak strict banget harus sesuai jam. Terus isi data diri. Setelah itu lakukan pembayaran yang hanya bisa QRIS.

Setelah membeli tiket dan menunjukkan kepada penjaga, kami pun memasuki rumah bergaya klasik berwarna hijau itu.

Rumah Pendiri Sarekat Islam

Karena berada di wilayah padat penduduk, bangunan ini hanya memiliki jendela di bagian depan. Sehingga pencahayaan cuma dari depan bangunan dan lampu di dalamnya. Sirkulasi udara pun hanya dari jendela depan. Namun, museum ini sudah dilengkapi dengan AC portable sehingga pengunjung tidak akan kegerahan memasuki museum (apalagi kalau berdiri dekat AC. Haha).

Ruang tamu, dulu tempat berkumpulnya para pahlawan

Museum HOS Tjokroaminoto Surabaya
Ruang tamu (Ulasan Google Hanif Kusumaning Tyas) 

Suasananya tampak sendu dan remang dari lampu kuning selayaknya lampu zaman dulu.

Sebuah buku besar diletakkan di atas kayu seperti podium untuk tempat pidato. Aku membacanya sebagai pengantar sebelum memasuki area yang lain.

Dari sini aku jadi membayangkan sedikit bagaimana tampilan fisik HOS. Tjokroaminoto jika beliau di depanku. Tinggi, ganteng dengan sorot mata tajam. Bunda Maia aja cantikkkk gituu apalagi kakek buyutnya.

Aku pun jadi mengerti sangat sedikit bagaimana karakter pendiri Sarikat Islam ini. Apa yang membuat beliau memiliki banyak pengikut. Soekarno muda pun saat ngekos di rumah beliau belajar banyak dari beliau. Tokoh pergerakan nasional itu telah mengajarkan Bung Karno banyak hal, mengenai pemikiran, kepemimpinan, komunikasi yang bisa membangkitkan nasionalisme. Karena itulah Pak Tjokro menjadi idolanya Bung Karno. Ia telah dididik bagaimana harusnya menjadi pemimpin bangsa.

Salah satu pesan Pak Tjokro:

"Jika kalian ingin menjadi pemimpin, menulislah seperti wartawan dan bicaralah seperti orator."

Meski orasi Pak Tjokro terkenal kaku, lurus, to the point, intonasi datar tetapi menggelegar tetapi bisa membangkitkan semangat nasionalisme bagi pendengarnya, khususnya Pak Karno.

Bung Karno mempelajari semua tipikal orasi Pak Tjokro. Beliau melakukan teknik orasi yang berbeda dengan Pak Tjokro, yaitu menggunakan intonasi. Kita bisa lihat di video-video orasi Bung Karno yang penuh pemantik api semangat.

Di sisi kanan ada satu set kursi tamu kayu dengan meja bandar. Di dinding tertempel foto para tokoh pergerakan nasional. Di dekatnya ada lemari kayu berisi penghargaan sebagai bukti pengabdian HOS. Tjokroaminoto.

Aku tidak terlalu banyak mengambil foto karena kamera tidak bisa menangkap jelas saat kondisi kurang cahaya.

Kamar HOS. Tjokroaminoto

Kami memasuki ruangan kamar yang seluas sekitar 2.5 x 2.5 m. Kamar yang sitempati HOS Tjokroaminoto dan istrinya ini memiliki perabotan yang tertata rapi dan desain yang klasik seolah kita sedang memasuki zaman kolonial. 

Rumah HOS Tjokroaminoto di Surabaya
Kamar HOS. Tjokroaminoto (dok. Pribadi)

Ranjang besi dengan kasur kapuk dan seprei putih ditambah selambu putih menambah kesan klasik. Lampu teplok menerangi sedikit ruangan kamar itu. Meja rias kayu yang sedikit besar dan ranjang yang membuat ruang kamar terasa sempit. Di dindingnya, ada dua potret tokoh warna abu-abu dengan keterangan di bawahnya.

Kamar kos Bung Karno

Bagaimana bisa Bung Karno ngekos di rumah HOS. Tjokroaminoto ini bermula dari permintaan ayahnya, Soekemi, agar Soekarno melanjutkan sekolah ke HBS setelah lulus dari ELS. 

Karena Soekemi dan HOS. Tjokroaminoto ini bestie, jadi Soekarno ngekos di rumah Pak Tjokro. 

Kamar kosnya ada di lantai atas seperti di bagian atap bersama dengan temannya yang lain, seperti Musso, Alimin, Kartosuwiryo, Darsono dan lain-lain. Menuju ke kamarnya ini agak serem karena harus melewati tangga yang agak tegak. Anak kecil harus didampingi karena tangganya bukan seperti tangga biasa. 

Kamar kos Soekarno di Surabaya
Kamar Kos Soekarno (dok. Pribadi)

Di kamar kos ini, Soekarno mempraktikkan ilmu orasi yang didapatkan dari Pak Tjokro. Ia berorasi di depan teman-teman sekamarnya hingga membuat mereka terbangun dan tertawa.

Ruang pameran

Ruang pameran ini berada di depan kamar HOS Tjokroaminoto di mana di tempat ini dulunya menjadi tempat makan. 

Di ruang ini, pengunjung bisa melihat baju Soekarno yang dipakai saat ke sekolah HBS dan di rumah Pak tjokro.

Kemeja arrow putih dengan dasi kupu dan jas ivory. Bagian bawah pakai jarik batik motif parang barong. Alas kaki memakai selop.

Pakaian sekolah HBS Soekarno
Pakaian Sekolah Bung Karno di HBS dulu (dok. Pribadi)

Di sini juga ada koran Bandera Islam yang dibingkai di mana Pak Tjokro menjadi redaksinya, sejarah kongres PPKI dan sejarah ISDV atau Partai Komunis Indonesia.

Kenapa sampai ada sejarah PKI di rumah Pak Tjokro ini?

Karena ternyata anak kos yang juga anak didik ideologis Pak Tjokro ini merupakan tokoh utama PKI awal. 

Semakin bertumbuhnya pemahaman dan pengetahuan anak didiknya pada berbagai macam ilmu politik justru membuat ideologis anak didiknya berbeda dengan ideologis Pak Tjokro. Paham sosialisasi dan komunisme berkembang di bawah panji Sarekat Islam.

Tokoh Komunis ini menyusup di tubuh Sarekat Islam. Karena itulah, Pak Tjokro membersihkan paham yang berbeda itu dari kalangan buruh Sarekat Islam.

Dalam buku Islam dan Sosialisme karya HOS. Tjokroaminoto ini mengungkapkan bahwa sosialisme dalam Islam bisa berjalan sesuai dengan nilai kemanusiaan dan akhlak.

Pemuda Penggerak Bangsa

Dari perjalanan ke museum HOS. Tjokroaminoto, aku pun tahu bawah peran pemuda ini begitu penting dalam melawan kolonialisme. Usia HOS. Tjokroaminoto saat memimpin Sarekat Islam adalah 25 tahun. Bung Karno saat menjadi proklamator kemerdekaan di usianya 25 tahun. 

Maka harusnya pemuda-pemuda sekarang bisa meniru beliau-beliau dalam memajukan peradaban masyarakat atau bangsa. 

Oiya dari rumah kos inilah, Soekarno jatuh cinta pada putri HOS. Tjokroaminoto, Siti Oetari, dan akhirnya menikah. Aw aw aw so sweet banget.

Ternyata punya bapak kos seorang tokoh pergerakan nasional bisa 'menghasilkan' anak kos dengan berbagai ideologi, bahkan menjadi proklamator dan Presiden Pertama RI. 

Terus aku jadi mikir mungkin harusnya nyari kos itu ya sama seperti nyari teman. Berteman sama penjual wewangian akan ikut wangi.. nyari bapak kos yang ahli ibadah bisa ikut rajin ibadah. Nyari bapak kos yang ahli ilmu, kita jadi pintar. Nyari bapak kos yg ternyata tokoh pergerakan nasional, kita pasti akan menjadi tokoh pergerakan nasional juga. Nah kayaknya bisa banget nih kalo yang cari kos juga harus lihat latar belakang pemilik kosnya. Soalnya kayak cari jodoh dan akan memengaruhi kehidupan kita.

Selesailah kunjungan wisata sejarah kami ke rumah HOS. Tjokroaminoto di Surabaya. Karena adzan sudah berkumandang, kami pun ke masjid terdekat, Masjid Peneleh, yang ternyata adalah masjidnya Sunan Ampel dulu. MaasyaAllah.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower