Setelah mengistirahatkan diri di villa Yogyakarta, kami mencari tempat wisata di Yogyakarta. Ada beberapa tempat yang menarik dikunjungi selain Malioboro. Aku juga penasaran dengan tempatnya. Salah satunya adalah Taman Sari Yogyakarta, yang sebenarnya kurang cocok buat anak-anak sih. Selain wisata budaya, aku mencari tempat wisata sejarah yang disukai anak-anak. Tiba-tiba aku teringat setiap ke Yogyakarta selalu melewati kompleks Angkatan Udara. Jangan-jangan ada museumnya? Setelah searching di Google, eh iya bener ada namanya Museum Dirgantara.
![]() |
| Museum Dirgantara Yogyakarta (dok. pribadi) |
Oiya sebenarnya aku udah lama banget pergi ke sini, mungkin sekitar 3 tahun lalu, tapi baru aku tulis sekarang hehe. Setelah aku lihat di Google, foto bangunannya seperti sudah direnovasi dan tampilannya beda seperti dulu.
Museum Dirgantara
Matahari pagi itu memang sudah beranjak naik. Setelah sarapan, aku mengajak suami, anak-anak dan mertua ke Museum Dirgantara.
![]() |
| Masuk ke Museum Dirgantara (dok. pribadi) |
Perjalanan tidak terasa jauh. Ketika kami sudah berada di lokasi yang ditunjukkan Google Maps, kami sempat bingung dimana pintu masuknya. Kami sempat salah masuk gerbang, setelah itu petugas mengarahkan kami ke pintu gerbang menuju museum. Kami memasuki kompleks perumahan angkatan udara, melewati gerbang yang ada penjaganya. Aku tidak begitu ingat apakah petugas meminta kami menunjukkan identitas atau nggak.
Tampak keramaian di depan kami. Mobil-mobil terparkir. Orang-orang berlalu lalang. Anak-anak kecil berlarian. Tampak pesawat-pesawat yang tidak digunakan lagi diparkir dekat dengan parkir mobil. Mobil kami berjalan pelan. Warung-warung makan berada di kiri kanan bangunan. Ada yang sedang menikmati makanan. Kami mencari tempat parkir mobil. Anak-anak sudah heboh melihat pesawat-pesawat yang terparkir.
Kami berjalan mengikuti kebanyakan orang-orang karena aku sedikit kesulitan mencari pintu masuk. Hanya ada satu arah di mana pengunjung berbondong-bondong. Kupikir disitulah pintu masuknya. Setelah agak dekat, tulisan "Pintu Masuk" berwarna terang tampak meyakinkan setiap pengunjung bahwa mereka tidak salah jalan.
Tiket masuk Museum Dirgantara murah kok sekitar 10.000 rupiah. Karena aku tidak begitu ingat urutan ruangannya jadi aku akan menjelaskan apa yang masih teringat saja.
Apa yang menarik di Museum Dirgantara?
Museum Dirgantara adalah Museum Pusat TNI Angkatan Udara Dirgantara Mandala Yogyakarta yang berada di Banguntapan, Yogyakarta, dan mulai dibangun sekitar tahun 1978. Museum ini berisikan koleksi sejarah yang didominasi oleh pesawat terbang.
Banyak ruangan di museum ini yang menampilkan benda bersejarah TNI AU. Ada ruangan utama, ruang kronologi, ruang pahlawan, ruang alutsista, ruang diorama, dan lain-lain.
Berbagai macam dipamerkan di museum ini, seperti pesawat serbu, pesawat tempur, helikopter, pesawat patroli, dan pesawat lainnya.
Bagi anak-anak, melihat pesawat dari dekat adalah sesuatu yang menyenangkan.
Melihat banyak jenis pesawat di ruang Alutsista
Ketika memasuki hanggar pesawat, pengunjung disuguhkan dengan banyaknya jenis pesawat helikopter. Di hanggar ini jelas cukup panas karena kurangnya pendingin ruangan, entah kipas atau AC portabel, atau sirkulasi udara yang kurang. Atap tinggi tidak menjamin sirkulasi udara bagus dan membuat suhu turun.
Suara pun cukup bising. Tak hanya berasal dari para pengunjung yang ramai. Juga dari mesin. Beberapa sudut dipasang kipas angin tapi rasanya masih panas.
Di setiap pesawat yang dipamerkan, sudah ada keterangan di bagian depan pesawat. Sebenarnya ktia tidak perlu bingung jenis pesawat apa. Tapi bagiku yang awam mengerti tentang pesawat, bagiku semua hampir sama saja.
Kalau nggak baca deskripsinya aku tidak akan tahu bahwa ada satu pesawat yang menjadi hadiah dari presiden Amerika Serikat bagi presiden RI yang menjadi pesawat kepresidenan di tahun 1962. Pesawat ini sudah membawa peesiden ke beberapa negara tetangga.
Ada juga semacam torpedo atau ruang kosong panjang yang menjadi ruang latihan awak pesawat untuk mengenalkan aerofisiologi.
Satu pesawat yang sengaja dibuka agar pengunjung bisa menaiki pesawat sudah menjadi rebutan para pengunjung. Mereka silih berganti turun dari pesawat kemudian diganti oleh pengunjung lain.
![]() |
| Anak-anak dan Atuknya di pesawat (dok. pribadi) |
Anakku tidak sabar ingin menaikinya. Aku bilang sabar karena masih banyak pengunjung yang turun. Begitu mereka naik dari bagian ekor belakang, di dalamnya ada bangku-bangku, yang saling berhadapan. Maju sedikit menuju kepala pesawat, ruangannya lebih gelap dan padat. Duduknya menghadap depan. Koridor pesawat hanya bisa untuk 1 orang. Di bagian depan, sudah banyak anak-anak kecil yang belum bisa mencoba menyetir pesawat. Anakku pun bisa mencoba nyetir pesawat setelah menunggu dengan sabar.
![]() |
| Naik cockpit pesawat (dok. pribadi) |
Mengenal Tokoh TNI AU
Sebenarnya bagi anak-anak ruangan ini tidak terlalu menarik meski mereka jadi mengenal mengenai pakaian. Ruangan ini menjelaskan para tokoh TNI AU yang berjasa dalam dunia kemiliteran AU. Di sisi lain, ada satu peta Indonesia yang besar. Sebenarnya aku tidak terlalu berlama-lama di ruangan ini karena yaa begitu... hehe..
Tapi mertua dan suami malah bisa berlama-lama di sana.
![]() |
| Mengenal Tokoh TNI AU (dok. pribadi) |
Diorama yang cukup menarik
Ruang diorama ini cukup luas dan menarik. Diawali dengan pengenalan tokoh pahlawan TNI AU. Di bagian awal ini, anak-anak malah lebih suka berlarian karena tempatnya yang luas.
Beberapa kali aku harus memanggil mereka ketika akan memberi tahu sesuatu, misalnya saat menjelaskan foto-foto kegiatan para TNI AU, tentang Sekolah Penerbang, pahlawan TNI AU, tentang baju-baju para TNI AU.
Diorama di ruangan ini berisi patung dengan pakaian para TNI AU dan ada papan yang menceritakan tentang tokoh tersebut. Cuma masalahnya, kadang tulisannya terlalu penuh jadi mau baca pun udah capek duluan. Harusnya yang singkat-singkat aja.
Kami juga mengenalkan kepada anak-anak tentang penggambaran 3 dimensi tentang peristiwa bersejarah perjalanan TNI AU dari tahun 1945-1960, koleksi senjata, komunikasi dna elektronika, dll.
Berapa lama keliling?
Kami menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam. Sebenarnya kalau mau menikmati semua diorama dan membaca semua keterangan pada diorama bisa menghabiskan waktu sampai 3 jam lebih. Tapi karena aku bawa anak-anak nggak bisa lama-lama. Mereka sudah rewel duluan. Merekanya happy aja bisa lihat banyak pesawat, lari ke sana ke mari, tapi kayaknya aku masih kurang banget kalau mau menikmati semua yang ada di museum. Sebenarnya seru banget sih ajak anak-anak. Apa lain kali aku sama suami aja kali ya yang datang? Jadi ngedate ke museum, hehehe.








0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.