Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kecantikan. Tampilkan semua postingan
Sejak dulu, saat masih kuliah, saya paling sulit berhias diri. Tak hanya urusan make-up wajah tapi juga untuk urusan penampilan. Terkadang adik saya gregetan melihat saya berpakaian seadanya.

"Bajumu itu nah. Kayak orang rembes!"

Begitu protesnya setiap saya dan adik saya akan pergi ke Mall dan saya memakai baju 'rembes' di mata dia. Maksudnya, saya seperti -maaf- pemulung. Sadis kan!

Meskipun menurut saya, penampilan saya itu biasa saja. Pakai celana jeans dan kaos lengan panjang serta jilbab segiempat. Tak cuma sekali, berkali-kali dia suka protes dengan penampilan saya. Tak jarang, ibu juga ikut mengomentari pakaian yang saya kenakan.

Waktu itu, saya ketawa saja. Karena ketika saya nyaman akan sesuatu ternyata menurut pandangan orang itu jelek. Pada akhirnya, saya memasrahkan diri. Saya biarkan adik atau ibu saya memilihkan pakaian jalan untuk saya. Kadang, saya protes dengan pakaian yang mereka pilih karena saya merasa semakin kurus, semakin hitam, dan semakin semakin lah memakai baju yang mereka pilih. Terkadang juga saya menurut saja apa yang mereka pilihkan.

Betapa cueknya saya padahal saya sudah cukup dewasa untuk bisa memilih pakaian yang saya inginkan. Nyatanya, tidak juga.

Ketika di kampus, saya sudah terlepas dari penglihatan adik dan ibu saya, otomatis saya makin bebas dong memakai pakaian yang nyaman menurut saya. Tidak ada lagi yang protes-protes saya mau pakai baju apa.

Namun, kecuekan saya itu tidak berlangsung lama. Saya suka melihat teman-teman saya yang bajunya mengikuti perkembangan jaman. Meski di fakultas teknik, banyak teman-teman saya yang perempuan penampilannya fashionable. Semua chic mulai dari jilbab, baju, tas dan sepatu. Misal hari ini pakai baju hijau, besok baju pink, lusa baju biru.

Sedangkan saya? Baju, jilbab dan sepatu saya banyak sekali yang berwarna netral, seperti hitam, coklat, biru navy. Karena saya ingin menjadi seperti mereka, saya pun pergi ke toko baju.

Lima menit. Sepuluh menit. Lihat baju model A. Lihat baju mode B. Lihat baju berwarna A. Lihat baju berwarna B. Selama satu jam akhirnya saya memutuskan untuk beli baju model Z dengan warna yang tidak jauh beda dengan warna-warna pakaian yang ada di lemari saya. Cokelat muda.
Begitu saya pakai ke kampus, saya merasa aneh karena tidak bisa jadi diri sendiri. Kenapa pula harus mengikuti jaman kalau memang tidak nyaman dan tidak percaya diri?

Sampai suatu ketika, saya penasaran mau coba kosmetik di dokter kecantikan. Dengan biaya cukup murah, kulit wajah saya yang kusam bisa menjadi kinclong, segar dan terasa kenyal seperti karet. #eh. Ada perasaan yang berbeda setiap saya melihat wajah saya saat melewati kaca. Seperti ada yang bersinar. Ciyeh. Beneran.

Wisuda pun tiba. Saya harus memakai kosmetik dari periasnya. Dan kalian tahu apa? Dua hari setelah wisuda, wajah saya langsung jerawatan. BANYAK. Merah-merah. Sampai satu wajah. Jerawat membandel pokoknya. Saya mulai bingung bagaimana menghilangkan jerawat yang banyak dan parah ini.

Saya pun ke dokter kulit (namanya Dokter Rofiq, dokter kulit yang ramai dan terkenal di Malang) dan menceritakan semuanya. Dokter pun menyuruh saya menghentikan memakai kosmetik dari dokter kecantikan itu. Kata beliau, itu yang menyebabkan jerawat. Saya tidak percaya. Masak sih? Namun, karena saya dalam masa pengobatan, saya pun menurutinya. Selama 1,5 tahun akhirnya jerawat saya sembuh!

Semenjak itu, saya tidak berani memakai kosmetik macam-macam. Saya pun kembali ke perawatan sederhana saya. Facial foam, krim siang dan bedak. Setiap saya mau jalan jauh, saya masih bisa pakai krim siang dan bedak. Terkadang juga lipstik. Sama seperti memilih warna baju, saya memilih warna lipstik pun beraninya cuma warna natural.

Setelah menikah, kecuekan saya semakin menjadi-jadi soal penampilan. Awal-awal saya memang masih bisa memperhatikan penampilan setiap mau keluar rumah atau jalan-jalan. Lama-lama saya semakin tak perduli. Saya masih sangat nyaman memakai kaos panjang, celana kain (dulunya celana jeans), jilbab segiempat dan kadang sandal jepit. Apalagi ada dua anak yang aktif, memakai baju yang nyaman dan membuat bebas bergerak masih menjadi pilihan utama.

Urusan berdandan wajah lain lagi. Meski saat SMA, sekolah pernah mengadakan beauty class, saya tidak benar-benar bisa berdandan. Paling-paling pakai facial foam, krim siang, dan bedak. Saat kuliah pun masih bertahan pakai tiga benda itu.


Namun, semenjak 2 tahun belakangan ini, saya jarang pakai facial foam atau krim siang. Bahkan bedak sekalipun. Saya sudah tidak telaten padahal perawatan diri adalah salah satu cara bersyukur kita pada Allah kan ya.

Untungnya, ketidaktelatenan saya tidak diprotes suami. Dia justru tidak suka kalau saya dandan. Pakai lipstik saja diketawain. Katanya aneh. Lah padahal saya pakai lipstik dengan warna natural meski menurut saya warna natural tetap muncul warna merahnya.

Kemudian, beberapa hari lalu, saya  diajak suami ke Tunjungan Plaza. Sebenarnya suami ingin nyari sesuatu di toys kingdom tapi tidak ada. Jadi kami jalan-jalan dari TP 3 ke TP 1. Setiap saya melewati kaca, saya melihat diri saya yang benar-benar 'rembes'. Sepertinya kalau adik saya ada, dia bakal ngomel-ngomel melihat penampilan saya. Tidak cuma masalah pakaian saja, tapi juga kulit wajah.

Tuh kan penampilan saya (kanan) wkwkwk

Saya lihat wajah saya semakin hitam dan kusam, seperti kembali ke jaman SMP. Padahal saya jarang sekali keluar rumah. Saya sampai malu sendiri. Sampai saya bilang ke suami.

"Weh. Weh. Aku kaya keluar dari goa. Kok bisa hitam kayak gini padahal jarang keluar rumah," kataku pada suami. Seperti biasa, suami cuma mesem saja. Dia juga sama. Cuek saja.

Setelah sampai di rumah, saya langsung pakai facial foam, cream cleansing sama tonic. Sepertinya saya harus jalan-jalan begitu dulu biar tergerak hati saya buat membersihkan wajah. Wkwkwk.

Melihat ketidaktelatenan saya, apa teman-teman punya resep khusus biar wajah tetap kinclong tanpa harus ribet perawatan wajah?

Kalau masalah pakaian, sepertinya saya memang belum tergerak untuk bisa tampil fashionable seperti orang-orang di Mall. Wkwkwkwk.

Kalau begitu, sampai kapan saya mulai tergerak memperhatikan penampilan dan merawat kulit wajah?

Read More

Sudah beberapa bulan ini, saya merasa kulit muka saya iritasi. Karena setiap saya pakai toner, kulit saya perih. Saya juga nggak tahu sejak kapan itu mulainya. Memang semenjak saya hamil anak pertama (sekitar tahun 2015) saya nggak pernah perawatan. Mentok-mentok pakai facial foam Ponds saat mandi atau pakai ekstrak bengkoang lotion dan toner setelah mandi atau setelah pakai make up.

Tapi saat Ponds saya habis, saya malah nggak pernah beli lagi dan nggak perawatan lagi. Bahkan hanya memakai pelembab kecuali kalau keluar rumah baru deh pakai foundation cair yang ber-SPF.

Saya sudah nggak pernah lagi perawatan. Sebenarnya banyak klinik kecantikan di Malang tapi saya belum tergerak ke klinik itu. Nah, kebetulan temen saya ngasih tawaran untuk nyoba perawatan di klinik kecantikan di Malang. Namanya DNI Skin Centre di kota Malang.

Lokasi DNI Skin Centre

Klinik spesialis kulit DNI Skin Centre ini di Kota Malang ada di Jl. Soekarno Hatta No.4, Jatimulyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65142. Telepon (0341) 4374036. Ternyata dekat dengan rumah mertua saya. Jadi dari pertigaan lampu merah Universitas Brawijaya lurus saja lewat jembatan Soekarno Hatta. Terus ketemu perempatan. Biasanya perempatan ini ditutup jadi nggak bisa belok kanan. Nah di perempatan itu ada Pizza Hut. DNI Skin Centre ada di sebelah kiri setelah Pizza Hut itu.

DNI Skin Centre di Malang

Profil DNI Skin Centre

DNI Skin Centre merupakan klinik spesialis kulit ini memiliki kantor pusat di Renon, Denpasar, Bali. Klinik spesialis kulit ini berdiri sejak 14 Februari 2011 oleh dokter spesialis kulit bernama Dr.dr. I Gusti Nyoman Darmaputra SpKK. Dokter Darma berempati terhadap pengetahuan masyarakat yang masih rendah pada kesehatan kulit dan efek sampingnya. Sehingga Dokter Drama membuka klinik spesialis kulit bernama DNI Skin Centre.
Hingga saat ini DNI Skin Centre ada enam cabang di Indonesia yaitu Bali, Jakarta, Malang, Lombok, Gresik, Makassar.



Review Pelayanan dan Treatment

Begitu saya masuk ke ruangan dokter, saya pun diperiksa dengan alat untuk melihat secara detail kondisi kulit saya. Saya pun bisa melihat kulit saya yang merah-merah karena iritasi. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, dokter pun menyarankan saya untuk facial dan injeksi.



Facial di klinik DNI Skin Centre ada bermacam-macam juga, seperti lifting facial, facial detox, acne/glowing facial, dan hidro facial.

Kalau tidak salah saya disaranin hidro facial tapi saya nggak begitu suka facial. Akhirnya dokter memilihkan treatment saya yaitu peeling. Saya pun bertanya tentang injeksi. Ternyata itu adalah jarum yang ditusuk-tusukkan ke kulit agar kulit kenyal. Saya tambah nggak berani seh. Akhirnya treatment injeksi diganti jadi treatment elektro glowing.

Untungnya, dokternya sabar dan mau menjelaskan tentang treatment injeksi yang bisa membuat orang tidak nyaman tapi hasilnya memang lebih bagus.

Saya pun ke lantai atas bersama anak bayi saya, Raceqy (34 bulan). Saya berada di ruangan treatment yamg terdiri dari dua tempat tidur.



Setelah itu wajah saya dibersihkan dengan susu pembersih. Oiya karena DNI Skin Centre di Malang ini ada beautician lagi jadi yang memberi treatment ya pegawai yang membantu saya di meja resepsionis. Saya pun berbaring dan membuka jilbab.



Mata saya ditutup dengan sesuatu (mungkin kapas) yang diberi air dingin. Rasanya nyesss. Melakukan peeling pun tak lama, tak sampai 10 menit peeling selesai.

Yang saya khawatirkan saat treatment adalah anak saya rewel minta pulang karena lama. Untungnya dia malah melihat saya dengan anteng sambil bertanya-tanya apa yang saya lakukan.

Treatment kedua yaitu elektro glowing. Wajah saya diolesi dengan serum kemudian saya disuruh pegang dengan tangan kanan dan kiri sebuah besi kali ya (saya nggak paham namanya) yang tersambung dengan kabel ke suatu alat. Kemudian alat yang bersinar itu mengelilingi seluruh wajah saya agar serum lebih meresap.

Mbaknya memang sudah menjalani pelatihan untuk melakukan treatment ini. Biasanya mbaknya melayani facial dan baru pertama kali melayani Elektro Glowing. Walupun begitu, mbaknya tampak sudah terlatih dengan alat yang modern. Tanpa canggung.

Di beberapa bagian kulit saya yang mengalami iritasi dan perih saat di treatment, tapi mbaknya cukup pelan dan tetap membuat saya nggak kesakitan.

Penggunaan produk DNI Skin Centre

Karena kulit saya kering-kering, akhirnya saya diberi produk kecantikan berupa nutrisi dan sunscreen. Mungkin nutrisi yang dimaksud adalah pelembab. Oiya, untungnya produk kecantikan ini nggak perlu ditaruh di kalkus tapi cukup di suhu ruang.



Untungnya lagi, saat selesai memakai nutrisinya selama tiga hari, saya nggak perlu memakai lagi kecuali kalau kulit terasa perih dan iritasi. Baguslah, apalagi saya termasuk tipe orang yang nggak telaten memakai produk-produk kecantikan, hehe.

Oiya, saya sempat bertanya-tanya dengan produk DNI Skin Centre, apakah sudah ada label LPPOM? Dengan mata seperti elang alias membaca tulisan kecil-kecil di produknya, saya pun menemukan kode produk dari LPPOM.

Kelebihan dari produk DNI Skin Centre

Kualitas dan harga

Dokter Drama yang juga bekerja menjadi dosen ini membuat beliau mengetahui riset-riset terbaru sehingga saat dia membuat racikan obat ini, beliau membuatnya dengan kandungan yang sesuau. Sehingga nggak perlu membutuhkan banyak biaya untuk menciptakan sebuah produk. Dengan begitu, harga jualnya juga tidak sampai menguras kantong.

Kejujuran terhadap produk dan treatment

Ketika saya kesana dan diperiksa kulit wajah saya, dokter kemudian merekomendasikan jenis treatment yang cocok buat saya. Jadi walaupun kalau kita minta perawatan yang tidak sesuai dengan kulit pasien, maka dokter nggak akan memberikan. Prinsip DNI Skin Centre ini tak hanya memberikan pelayanan yang baik saja tapi juga pelayanan yang jujur terhadap treatment terhadap pasien. Begitu juga dengan produknya, semua tergantung masalah kulit pasien.

Tampil percaya diri tanpa make-up

Dengan slogan "Beauty For Everyone" diharapkan DNI Skin Centre bisa menjangkau semua kalangan karena harganya yang tidak terlalu mahal. Selain itu, DNI Skin Centre ingin para wanita percaya diri tanpa make-up karena kecantikannya terpencar. Wuzzz. Saya pengen banget bisa begini. Tanpa susah-susah pakai make-up, sudah kayak pake make-up aja, hehe. Maklum kadang saya malas keluar pakai make-up, need a time. Kalau nggak pake make-up wajah keliatan kumus-kumus. Harapannya DNI Skin Centre bisa buat wajah saya nggak kumus-kumus, hehe.

Menurut pegawai DNI Skin Centre, treatment di klinik kecantikan di Malang itu cukup lengkap walaupun di kantor pusat lebih lengkap treatmentnya.
Di klinik spesialis kulit ini nggak hanya untuk wajah tapi juga untuk kulit rambut, tangan, kaki, leher. Pokoknya semua kulit.

Pulang ke rumah setelah merasakan peeling dan elektro glowing, efeknya mungkin tidak terllu signifikan karena memang baru pertam kali perawatan. Tapi saya merasa wajah sedikit lebih segar.Tinggal perawatan pakai krim nya nih.

Ketika menulis ini, sudah seminggu saya menggunakan krimnya. Hasilnya wajah saya tidak kering lagi walaupun wajah saya nggak jadi lebih putih  tapi saya merasa kulit saya nggak perih lagi.

Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower