Kisah Menjalani Gaya Hidup Ramah Lingkungan

No Comments
Sejak pindah ke Sidoarjo tahun 2016 silam, saya harus mengikuti aturan tempat tinggal saya yang ramah lingkungan. Mulai dari memilah sampah, menanam tanaman, belanja dengan tas ramah lingkungan agar mengurangi sampah plastik (menuju zero waste). Bahkan sempat ada program menyiram tanaman di kebun RT yang jaraknya sekitar 500 meter dari rumah.

Namun, pelaksanaan program yang ramah lingkungan itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kali ini saya akan cerita tentang gaya hidup yang ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal saya di Perum. Rewwin, meski sebenarnya tidak 100% ramah lingkungan. Saya pun masih berusaha keras mengubah gaya hidup yang ramah lingkungan. Ternyata susah-susah gampang.

Oiya. Di perumahan saya memang belum semuanya menerapkan program-program itu. Di RT saya sudah menjalankan program itu cukup lama. Mungkin memang tergantung dari pengurus RT/RW dan juga kerja sama masyarakatnya.

Pemilahan Sampah

Seorang kader lingkungan yang tinggal berjarak dua rumah terlihat sibuk ketika akan ada penilaian tentang pemilahan sampah warga. Beliau memastikan bahwa warganya sudah benar dalam memilah sampah. Jika ada yang salah, biasanya beliau tegur langsung, termasuk saya. Hehe.. Beliau memang bertugas mengedukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, kebersihan lingkungan dan penghijauan di depan rumah warga.

Penilaian tahun lalu ini para juri akan datang ke RT dan menanyakan terkait dengan pemilahan sampah. Pertanyaan yang diajukan cukup sederhana, seperti, "Tusuk sate masuk sampah apa? Bungkus indomie masuk sampah mana?"

Gampang menjawab pertanyaan itu bagi praktisi pemilah sampah. Bungkus mie waktu itu masuk residu karena tidak laku dijual. Tusuk sate masuk residu/limbah beracun berbahaya. Saya sempat ditegur sama kader lingkungan saat saya memasukkan ke sampah organik, katanya tusuk sate masuk limbah berbahaya. Begitu saya tanya alasannya, tusuk sate masuk limbah berbahaya. Padahal menurut saya definisi limbah berbahaya bukan itu ya. Atau saya yang selama ini salah? Beliau cerita kaki petugas sampah pernah terkena tusuk sate dan bengkak. Akhirnya tusuk sate termasuk sampah berbahaya/residu dan harus diikat dengan karet.

Tahun lalu pemilahan sampah hanya tiga kategori yaitu sampah basah (organik), sampah kering (anorganik dan bisa dijual) dan residu atau limbah B3 (anorganik dan tidak bisa dijual). Jadi setiap rumah akan memiliki 1 bak ember cat yang besar itu untuk sampah organik sedangkan sampah residu dimasukkan dalam kresek dan akan saya keluarkan saat ada jadwal pengambilan sampah.

Pertama kali menerapkan itu, saya cukup kagok. Antara teori yang saya dapatkan sangat berbeda dengan praktiknya. Setiap mau buang sampah saya pasti mikir, ini masuk mana ya? Pada akhirnya kadang ya masukkan semuanya ke residu (sampah popok, pembalut, stereofoam, bungkus saos, dll) hehe. Sedangkan sampah kering seperti botol aqua, botol saos, botok kecap, kemasan rinso, kertas, duplex, mika, karton, semua diserahkan sama seorang pengurus Bank Sampah di RT. Di rumahnya pun sampai ada daftar bungkus-bungkus plastik yang tidak laku dijual di pasaran. Biasanya beliau mencatat total timbangannya di buku khusus. Hasilnya sih selama ini baru digunakan untuk rekreasi ibu-ibu ke tempat wisata. Hihi.

Oiya, FYI, masyarakat disini kebanyakan pensiunan meski beberapa masih ada yang bekerja. Bayangkan, para orang tua ini di masa tuanya masih harus memikirkan sampah-sampah ini. Kadang saya malu sendiri, yang masih muda, tapi nggak bersemangat. Yaah meski beberapa ada yang asal saja dan tidak dipilah. Biasanya nih petugas sampah nggak akan mengambil sampah yang tidak dipilah. Serem kan.

Terus kalau ada yang protes akhirnya dijawab, "Bapaknya nggak mau ngambil kalau nggak dipilah". Gimana coba masalah sampah saja kadang bikin gregetan atau malah bikin memunculkan permasalahan antar warga? Makanya di beberapa RW tidak begitu berjalan karena memang masyarakatnya sendiri kurang mendukung. Akhirnya kader lingkungan juga kurang aktif bergerak.

Tahun ini, pembagian sampah lebih banyak lagi. Selain residu dan sampah basah, kita harus memilah lagi ke dalam kategori plastik kotor seperti plastik bekas beli sayur, ikan, daging, ayam, udang, bumbu-bumbu, tahu, wafer, cokelat, dll. Nah sampah residu ini nggak boleh ada kresek. Dulu saya cuma pakai kresek besar khusus residu, sekarang pakai bak cat biar nggak kececeran dan biar terlihat rapi saja.

Jadi setiap rumah itu harusnya punya 3 macam wadah pemilahan sampah (di tempat kami berupa bak cat). Karena saya cuma punya 1 bak, saya beli lagi bak seharga 20.000 di tetangga, sedangkan plastik kotor saya pakai tempat es krim kiloan punya mbak hehe. Jadwal pengambilan pun lebih sering. Jadi plastik-plastik itu tidak boleh dimasukkan dalam bak residu karena harapannya plastik/kresek kotor ini setelah dibersihkan bisa dijual lagi.


Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah Residu dan Plastik Kotor

Awalnya saya juga bingung, karena belum terbiasa. Biasanya plastik saya langsung masukkan ke residu. Sekarang harus saya masukkan di tempat khusus. Kalau dulu mau buang softex biasa pakai kresek, sekarang nggak boleh dan harus pakai kertas/koran. Dulu buang popok bekas pup pakai kresek, sekarang nggak.

Akibatnya, rumah saya banyak sekali sampah-sampah kering karena saya biasanya mengumpulkan sampah kering itu sampai bertumpuk baru kemudian menyerahkan pada Bank Sampah. Begitu pun dengan sampah residu, jadwalnya hari selasa, dan cuma seminggu sekali. Jadi sampah residu masih tersimpan di rumah sampai minggu depannya. Kadang bertumpuk banyak. Kadang nggak banyak.
Perilaku ramah lingkungan, gaya hidup, ramah lingkungan, pelaksanaan program ramah lingkungan, Sidoarjo, Waru, memilah sampah, pemilahan sampah, tas ramah lingkungan, lomba 17 agustus, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah, community empowerment, keterlibatan masyarakat, kebersihan lingkungan, sampah basah, sampah organik, sampah anorganik, sampah residu, sampah yang tidak bisa dijual, sampah yang laku dijual, limbah B3, limbah berbahaya dan beracun, jenis sampah, pembagian sampah, pengalaman memilah sampah, penggunaan tas belanja, sampah plastik, minimalisir sampah, zero waste, sampah plastik di Indonesia, pemilahan sampah di Indonesia,
Sampah kering yang berisi botol, duplex, dan bungkus plastik

Selain itu, karena rumah saya ada pohon mangga dan sekarang lagi musim kemarau, otomatis banyak sekali daun berguguran. Saya harus menyapunya sampai berkali-kali dalam sehari. Kadang nggak sama sekali. Begitu lihat keluar rumah udah bersih karena tetangga yang nyapu wkwkwk.

Penghijauan

Meski rumah kami kecil dan tidak memiliki halaman rumah, namun kami memiliki petak kecil di depan rumah untuk tempat menanam tanaman. Jenis tanaman yang dianjurkan adalah tanaman toga, zodia, dan.., hmm lupa apa. Wkwkwkwk.

Nah, biasanya kader lingkungan akan sibuk mengabsen satu persatu rumah di RT. Beliau akan memastikan jenis tanaman yang diminta juri sudah tersedia demi lomba penghijauan 17 agustus. Minggu kemaren penilaian ketersediaan tanaman Zodia di RT saya sudah terlaksana. Tanaman Zodia ini katanya bermanfaat untuk mencegah berkembangnya nyamuk termasuk nyamuk aedes penyebab demam berdarah dengue (DBD).

Beberapa minggu sebelumnya, warga mulai heboh mencari tanaman Zodia. Laris deh penjual tanaman kalau program penghijauan ini terus berjalan. Untung pembelian Zodia dilakukan secara kolektif, jadi biasanya ibu-ibu beli kolektif saja daripada harus cari sendiri.

Penggunaan tas belanja

Suatu ketika, saya diberi sebuah tas berwarna hijau oleh bu RT. Katanya untuk meminimalisir plastik jadi belanjanya pakai tas belanja. Well, maksudnya baik. Namun, kenyataannya, terkadang saya masih lupa untuk membawa tas belanja ini saat belanja sayur pada abang yang lewat. Kalau ke pasar justru kepakai karena tas belanja saya taruh di keranjang sepeda. Ya, saya naik sepeda ke pasar dengan gonceng si besar di belakang dan si bayi gendong depan. Meski tetap, kresek masih masuk ke dalam tas belanja saya.

Sebenarnya program-program ini cukup penting mengingat dunia kita sudah banyak menanggung tumpukan sampah plastik. Jadi, mau tidak mau kita harus menjaganya. Mau tidak mau juga harus melaksanakan program yang diminta pemerintah agar sampah tidak makin bertumpuk bahkan bisa melaksanakan zero waste. Sebagai umat muslim pun tidak merusak bumi adalah perintha yang tertuang dalam ayat Al Quran. Memang efeknya, sampai saat ini tidak terasa tapi untuk kedepan pasti sangat berdampak bagi masyarakat dan lingkungan.


Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower