Setiap kehamilan dan kelahiran setiap orang pasti beda-beda, ya. Begitu juga seorang ibu yang sudah hamil dan melahirkan lebih dari sekali juga pasti beda-beda. Kehamilan anak pertama dulu cukup sering mengalami mual, muntah dan nggak nafsu makan.

Saat kehamilan anak kedua ternyata alhamdulillah berjalan lancar. Walaupun sempat mengalami mual dan nggak nafsu makan, tapi nggak sampai muntah-muntah. Bahkan aku sempat ke Jakarta dua kali bersama anak pertama pas hamil satu bulan sama enam bulan. Itupun pas pertama nggak tahu kalau lagi hamil.

Udah gitu pas kehamilan kedua ini kerasa banget tulang-tulang cepet remek mungkin karena keseringan gendong si Raceqy buat minum susu di malam hari. Yang pling bikin seneng itu saat si bayi kedua di dalam perut ini lincah banget sampai nendangnya kenceng banget.

Yang paling mengerikan itu saat Raceqy, yang masih dua tahun, suka main kuda-kudaan. Bayangkan emaknya kadang jadi sasaran kuda-kudaan. Yah, walaupun bisa dihalau sih tetap aja serem. Kasihan sebenarnya karena emang masa-masanya dia minta main tapi malah dibatasi. Belum lagi, kalau dia lagi rewel atau nggak enak badan dan minta gendong terus. Walah emaknya pegeell. Kasihan kadang sama si baby dalam perut jadi seperti nggak diperhatikan.

Akhirnya masa yg dinanti-nanti pun datang juga. Tiba-tiba jam 11 malam perut terasa sangat mules. Karena masih bisa kutahan, jadi kubuat tidur saj. Dan ternyata membuatku nggak bisa tidur sampai subuh. Belum lagi si kecil nangis-nangis maunya kugendong untuk dibuatin susu. Haduh, maaf, Nak. Ibumu nggak kuat kalau harus gendong. Digendong ayahnya pun nangis-nangis. Raceqy mah pakem banget anaknya. Kalau udah terbiasa A ya harus A. Jarang bisa berubah kalau nggak dibujuk dulu.

Sebelum Melahirkan

Sebagai seorang ibu yang sudah tahu Hari Perkiraan Lahir harusnya sudah ada persiapan setidaknya satu bulan sebelumnya. Karena aku menduga HPL masih akhir Januari atau awal Februari jadi aku santai saja. Baju-baju bayiku dulu pun belum kusiapkan padahal sudah kepikiran mau masukin tas khusus begitu juga baju-baju dan pakaian dalamku. Lah, kok ternyata malah maju dua minggu. Akhirnya bingung juga mau siapin baju buat ke bidan, seperti baju kancing depan, rok, pakaian dalam, korset Mooimom, gurita, popok kain tali, bedong, softex, jilbab.

Subuh pun tiba, perut semakin terasa mules. Aku mulai merasa bahwa sebentar lagi si baby mau keluar. Sambil menahan-nahan perut mules, akhirnya tiba juga di tempat bidan jam setengah enam pagi.

Aku pilih Bidan Indri soalnya bidan senior dan telaten. Bidan Indri juga termasuk yang direkomendasikan oleh beberapa rekan ibu mertua. Itu kenapa saat kelahiran pertama, aku lahiran di bidan ini.

Ternyata bidannya masih di masjid karena nggak datang-datang ibu mertua jemput ke masjid. Iya, aku paling nggak tahan dicuekin kalau sudah sakit begitu. Sempat terpikir untuk pindah bidan lain atau rumah sakit. Tapi aku nggak yakin kalau bakal ditangani cepat. Akhirnya tetep bertahan menunggu dijemput mertua.

Leganya saat melihat ibu bidan itu sudah di rumah. Aku pun keluar dari mobil sambil dituntun suami. Duh, rasanya jalan saja sudah nggak kuat. Sampai ruang persalinan, aku pun diperiksa dan ternyata sudah bukaan 9. Antara lega tapi juga khawatir.

Karena semalaman nggak tidur menahan mules, tanganku gemetar, akhirnya aku minta belikan bubur ayam. Aku nggak mau seperti kelahiran pertama sampai kehabisan tenaga karena semalaman menahan sakit. Karena efeknya aku harus disuntik biar ada tenaga. Beberapa menit kemudian suami datang membawa bubur ayam dan roti goreng. Aku pun makan dengan lahap disuapi mertua, haha. Setelah makan, badan jadi sedikit bertenaga.

Tak terasa dua jam berlalu melewati rasa sakit dan berhasil menghadap kiri terus. Tiap rasa sakit muncul, ibu mertua selalu mengelus-elus bagian punggung tengah yang memang sangat berefek mengurangi rasa sakitnya.
Dan alhamdulillah akhirnya jam 07.20 suara tangis bayi membuatku mengucapkan syukur dan menangis. Rasa lega setelah melewati rasa sakit yang membuatku menangis. Haduh, gile. Kayak gini mau melahirkan lagi? Haha.

Setelah Melahirkan

Seorang bayi laki-laki mungil berat 2,9 kg dan panjang 50 cm terbaring di ranjang bayi. Seorang asisten bidan membantu bidan membersihkan bekas-bekas lahiran termasuk memakaikan korset. Setelah pakai korset Mooimom, aku pun hanya boleh tidur terlentang sampai kira-kira tiga jam. Rasanya perutku yang baru melar langsung ketarik lagi pakai korset Mooimom.

Korset memang sangat membantu mengembalikan bentuk perut dan rahim menjadi ke bentuk semula. Nggak cuma pasca melahirkan, korset juga bisa dapat digunakan bagi kalian yang mengalami masalah perut buncit, pinggang karena sering duduk, suka berduduk-duduk lama di depan laptop, masalah pinggang dan juga masalah abdomen.

Lumayan juga pakai korset ini mengurangi sakit pinggang karena selama ini keseringan gendong bayi.

Aku pernah pakai korset yang ada kawatnya. Memang bikin badan tegak tapi habis itu rasanya malah pegal semua dan sakit. Kalau korset Mooimom ini nyaman dipakai, bikin badan nggak pegal tapi tetap tegak.

Dan yang pasti aku suka korset ini simpel sekali cara pakainya. Tinggal tempel jadi deh. Kebayang kalau pakai korset jaman dulu atau gurita, duh anaknya selak nangis kehausan. hehe

Nama korset yang aku pakai dari Mooimom yaitu Postpartum Belly Band yang bisa didapatkan disini. Produk ini salah satu produk terlaris yang dijual Mooimom di websitenya www.mooimom.id.

Pakai Korset Moimom Setelah Kelahiran

Keunggulan Korset Mooimom 

Agak khawatir sebenarnya pas asisten bidan bantuin masangin korset, muat apa nggak. Yah, walaupun aku cukup kurus tapi kalau habis melahirkan perut juga tetap besar. Asisten bidannya sampai narik-narik korset biar cukup. Awalnya aku agak kesusahan bernafas, tapi karena korsetnya yang elastis, jadinya lama-lama kebiasa juga. Saat latihan duduk pun punggung jadi tegak, perut berasa langsing kembali, hehe.

Untungnya lagi, korset Mooimom Postpartum Belly Band ini anti bau dan anti bakteri. Bukan berarti nggak dicuci setahun terus korset tetap wangi ya. Maksudnya karena anti bakteri otomatis korset tidak cepat bau dan berjamur.

Keunggulan Korset Postpartum Belly Band (dok. Pribadi)

Dari segi bahan, korset ini terbuat dari nilon, karet elastis, arang bambu. nylon ini berada di antara karet-karet elastis dan ini yang bikin korset nyaman dipakai dan nggak berkeringat. Walaupun seharian pakai korset ini, aku nggak merasa kepanasan sama sekali, nggak berkeringat karena bahannya yang breathable.

Di sisi bagian dalam yang bersentuhan dengan kulit pun benangnya halus jadi tidak membuat kulit iritasi. Jahitannya pun rapiii.

Yang paling penting buat korset itu adalah tempelan atau kretekan atau velcro. Menurut pengalaman, biasanya kalau bulu-bulu velcro pendek itu nggak tahan lama melekat dan nggak kuat. Paling-paling bentar juga nggak nempel. Tapi kalau bulu velcro panjang maka akan lama dan pasti kuat. Nah, buku-bulu velcro korset Mooimom ini panjang dan itu yang membuat rekatan velcro korset lebih lama dan kuat.


Kelebihan korset Mooimom Postpartum Belly Band adalah anti radiasi elektromagnetik karena radiasi elektromagnetik ini dapat mengganggu kesehatan kita seperti menyebabkan kanker,

Nggak perlu takut juga kalau peredaran darah kurang lancar karena pemakaian korset karena korset Postpartum Belly Band ini memiliki teknologi Far-infrared yang membantu melancarkan peredaran darah.

Korset ini memanfaatkan bahan lingkungan yaitu penggunaan arang bambu pada benangnya sebesar 19%. Arang bambu ini melewati proses karbonisasi dan pemanasan sampai 800 derajat. Fungsinya untuk menyerap bau keringat dan menjaga kelembaban sehingga pertumbuhan bakteri terhambat.

Uniknya, korset Postpartum Belly Band ini bisa menyesuaikan kondisi cuaca. Kalau cuaca panas, korset ini bisa membuat penggunanya tidak ikut kepanasan seperti yang aku ceritakan di atas. Begitu juga saat cuaca dingin, korset ini akan membuat penggunanya hangat.

Bahannya juga lembut di kulit, nggak perlu takut iritasi. Hanya saja karena ketarik-tarik, kulit jadi berlipat-lipat. Lipatan kulit yang terus menerus ditekan ini jadi akan terasa gatal. Apalagi saat korset dilepas, kerasa banget perut yang kembali ke bentuk melar. Kalau sudah gatal-gatal begitu, langsung kasih minyak-minyakan, karena punya minyak biawak yang memang untuk mengurangi gatal-gatal, jadi aku pakai itu aja. Kalau nggak ada, bisa pakai herocyn atau baby cream.

Di Mooimom juga jual cream anti strechmark juga loh, coba aja kunjungi  Mooimom disini:


Memang nggak salah pilih korset Postpartum Belly Band dari Mooimom ini, hemm... jadi tertarik nyoba produk yang lain...hehe...
Read More
Toilet Training

Sebenarnya sudah sempat kepikiran mengajarkan toilet training buat si kecil tapi kalau bayangin capeknya kayaknya belum siap. Gara-gara pernah ngelihat keluarga yang anaknya memang nggak pernah pakai pospak (popok sekali pakai) maklum kalau anak di desa jarang yang pakai pospak. Dan kalau ngelihat bolak balik pipis, ngelap, ngepelin, nyuci bekas ompol yang bertumpuk-tumpuk rasanya belum ikhlas banget ngelepas pospak dari si bayi.

Terus mau kapan? Tunggu siap aja deh.

Pas si baby usia 18 bulan, aku coba lepas popok. Memang di usia segitu anak sebenarnya sudah bisa diajak berkomunikasi, sedikit bisa diarahkan, walaupun belum lancar ngomong biasanya usia segitu sudah bisa menunjukkan keinginannya, entah ingin mainan, mimik atau pipis. Tapi ternyata ngga semudah yang dibayangkan. Hanya dalam waktu tiga jam dia pipis bolak balik. Alhasil, aku harus bolak balik ngepel lantai dan akhirnya absen dulu dari dunia masak-memasak.

Menurut artikel di google yang membahas pengalaman toilet training, beberapa artikel mengatakan mending tunggu kesiapan si anak saja karena ternyata itu lebih mudah untuk tioilet training?


Toilet training buat BAB


Akhirnya nggak aku lanjutin deh toilet trainingnya BAK. Hanya saja kalau mau buang air besar masih bisa kelihatan tanda-tandanya, seperti ngedan. Kalau sudah ngedan, aku langsung mengajaknya kamar mandi. Awalnya dia nggak biasa BAB di toilet dan nggak mau keluar. Aku ajak omong terus istilahnya di sounding ya, "kalau mau pup di toilet ya..."

Pada waktu masa sounding itu dia masih pakai popok clodi, kadang pospak. Kadang kebablasan juga. Kalau kebablasan gitu, soundingnya makin gencar. Semakin lama dia semakin paham kalau mau buang air besar ke kamar mandi. Bahkan kadang dia langsung mendatangiku sambil ngeden-ngeden.

Kadang sempat sebel juga, sih, baru ganti pospak eh dianya BAB di pospak. Nggak kasih tau padahal sebelumnya selalu kasih tau.


Pura-pura ngeden


Nah, ini dia yang bikin aku gregetan. Jadi karena tiap dia ngeden kuajak ke kamar mandi, jadi kalau ada yang di kamar mandi (misal ayahnya), aku langsung suruh dia masuk dan BAB dipegangi ayahnya. Lah, ternyata dia nggak mau BAB tapi cuma mau ikut mandi aja. Mau main air tepatnya.
Giliran aku yang mandi, dia akan ngeden-ngeden di depan ayahnya. Pastinya ayahnya heboh donk kalau anaknya mau BAB. Padahal aku tahu dia pura-pura, biar ikut mandi dan main air.
Duh..duh...
Kadang kalau dia pura-pura ngeden, kubiarkan saja sampai nangis-nangis. Dan memang dia nggak BAB. Setelah itu, aku sounding terus-terusan nggak boleh seperti itu. Ditambahn omelan yang panjang dan lebar. Ngefek, sih. Walaupun kadang masih ngikut-ngikut juga. Jadi ngeden bagi dia itu adalah kode minta mandi dan main air.

Toilet training buat BAK


Sejak sebulan lalu, aku memutuskan konsisten untuk toilet training buat si baby. Usianya waktu itu 23 bulan. Alasan pertama, aku sering ngeliat si baby yang selalu merasa risih dengan popoknya. Dia tunjukkan dengan menarik-narik popoknya sambil ngomel padahal popok belum lama dipakai. Selain itu, dia pasti gatal-gatal di bagian-bagian tertentu, seperti tangan, kaki, paha, dada, punggung tempat karet popok. Bagian-bagian tertentu memang nggak ada hubungannya sama popok sih. Tapi aku merasa aneh.

Anak ini kenapa sih?

Akhirnya aku kasih bedak aja. Rasa risih dengan popok dan gatal-gatal masih berlanjut. Tiba-tiba aku kepikiran untuk lepas popok saja. Agak menarik nafas juga karena harus siap-siap ngepel terus-terusan. Belum lagi kalau ngompol di kasur, alamak! Mau jemur dimana? Berat pula! Pikiran-pikiran tentang capeknya toilet training udah berseliweran.
Aku memutuskan hari pertama toilet training nggak masak.

Apa hubungannya?

Ya, lah, pasti toilet training bikin capek. Daripada tambah capek karena harus masak-masak jadi lebih baik masaknya libur dulu dan beli diluar, hehe.

Minggu pertama

Hari pertama, pagi setelah mandi, aku nggak memakaikan pospak. Terus kuajak dia main diluar kamar tidur. Pertama-tama setiap sepuluh menit kuajak ke kamar mandi buat pipis. Awalnya berdiri, nggak keluar-keluar. Kubiarin aja dia main air. Hampir sepuluh menit di kamar mandi pun tak pipis-pipis. Kasihan juga kalau dipaksa. Akhirnya kusuruh jongkok eh malah pipis. Semenjak itu tiap pipis kusuruh jongkok. Lega rasanya kalau dia bisa pipis.
Eh belum sampai sepuluh menit, dia pipis lagi di lantai. Berkali-kali lah belum kuajak ke kamar mandi udah pipis duluan. Giliran ke kamar mandi dia nggak pipis. Pusing lah. Akhirnya bolak-balik dia pipis di lantai dan terkadang terpleset. Nangis-nangis lah.

Kuajak bicara terus, "kalau pipis ke kamar mandi, bukan di lantai. Kalau di lantai basah, jadi kepeleset."

Jadi tiap dia pipis di lantai, dia akan diam nggak kemana-mana. Dan terus menangis di hari pertama. Soundingku gencar banget lah.

Pas tidur siang juga nggak aku pakaikan pospaknya dikasih perlak. Efeknya, pas dia pipis, dia terbangun dan menangis. Setelah diganti celananya, dia tidur lagi. Pas tidur malam baru aku pakaikan popoknya karena aku ikut tidur juga jadi nggak bisa mengawasi. Soalnya kalau tidur malam dia kemana-mana sih.

Hari pertama benar-benar menguras tenaga dan emosi lah.

Hari kedua dia sudah mulai bisa mengikuti pola setiap beberapa menit ke kamar mandi. Dan sudah berkurang intensitas pipis sembarangan. Walaupun masih kebablasan pipis di lantai, yah wajarlah. Kalau sudah begitu, aku sounding terus biar pipis di kamar mandi.

Tiap lima menit kutanyakan apa mau pipis ke kamar mandi? Kalau dia geleng-geleng kepala, kuturuti aja. Kalau sudah sepuluh menit kuajak langsung tanpa kutanyakan. Setidaknya hari ini aku masih bisa masak dan bersantai walau tetap mengawasi dia bermain.

Satu bulan toilet training

Nggak kerasa memang sudah satu bulan saja ngelatih si bayi toilet training. Ada suka ada duka juga. Sukanya kalau dia nunjuk-nunjuk celananya mau pipis atau mendatangiku sambil ngeden-ngeden. Kalau dia berhasil pipis di kamar mandi, tak lupa lah kukasih pujian biar dia merasa senanggg. Dukanya, kalau dia nggak mau diajak ke kamar mandi dan tiba-tiba pipis aja di lantai bolak balik. Duh, rasanya. Sounding selama satu bulan pertama masih tetap kulakukan. Dia masih kuajak ke kamar mandi tiap setengah jam atau kira-kira minumnya banyak ya nggak sampai setengah jam.
Pola pipisnya sudah bisa terlihat sebenarnya, saking aja kalau emaknya keasyikan hapean, anaknya jadi pipis sembarangan, hehe. Tapi kalau emaknya nggak main hape, jeda pipisnya dia sudah lebih lama dibanding awal-awal toilet training. Dan kalau malam masih aku kasih pospak kecuali kalau siang hari. Saat jalan keluar rumah juga dikasih popok.
Pernah suatu ketika, pas perjalanan Surabay-Malang, dia manggil-manggil ayahnya sambil nunjuk-nunjuk celananya. Aku suruh tahan-tahan aja padahal kalau pipis atau pup di pospak pun yasudahlah namanya juga perjalanan tapi nggak aku suruh.

Aku bilang, "tahan sebentar ya, ayah cari kamar mandi dulu."
Akhirnya nemu masjid dan ke kamar mandinya, ternyata dia pipis banyakkk dan buang air besar juga. Walah...

Oiya, menurut salah satu keluarga, biar anaknya pipis tiap beberapa waktu diajak ke kamar mandi terus ditiup bagian keluar pipis itu. Katanya biar pipis. Aku coba praktekkan emang dominan ngefek sih, hehe.

Toilet training itu memang menggemaskan, menguras tenaga dan emosi. Memang toilet training dilakukan pas anak memang sudah merasa siap dan bisa mengkomunikasikan keinginan pipis dan BAB nya dengan bahasa isyarat atau ngomong langsung.

Efek mood ibu terhadap keberhasilan toilet training


Dan satu hari ini, setelah 1 bulan berjalan, efek keberhasilan toilet training tergantung pada mood ibu. Kemarin saat dia ngompol sekali dan nggak bilang, soundingku sedikit terdengar seperti orang mengomel. Wajah si kecil pun berubah seperti sadar kalau dimarahi. Jadinya seharian itu dia ikut nggak mood juga kalau disuruh pipis ke kamar mandi. Alhasil, dia sering ngompol berkali-kali.

Tapi kalau mood ibu baik, anak sekali pipis tapi nggak dimarahi. Disounding dengan cara halus dan menyenangkan. Justru dia malah happy juga dan nggak ngompol sembarangan bahkan tidur siang pun selama dua jam dia bisa nahan pipis layaknya orang dewasa.

Semangat buat ibu-ibu yang berproses melatih anak toilet training. Ini semua karena kenyamanan pospak maka kita harus melewati prosesnya yang super ribet. Hahahaha.

Read More
Sebenarnya aku memang udah pernah dengar tentang wisata 1000 topeng ini tapi belum pernah berkunjung kesana. Kalau lihat informasinya di internet sih jauh. Pada suatu ketika, ada kompetisi esai foto dan video di instagram yang akhirnya nggak menang haha, dan tiba-tiba berminat pengen ngebahas ini. Untungnya mas bojo mau dibujuk buat nganterin kesana, hehe.

Dua Topeng Raksasa

Lokasi

Memang lokasinya masih di Kota Malang tepatnya di Kecamatan Kedungkandang, Desa Tlogowaru. Perjalanan dari kota Malang cukup jauh yaitu sekitar setengah jam. Belum lagi medannya yang cukup jelek membuat aku sempat kurang yakin dengan informasi di internet. Sebenarnya di google maps sudah muncul kok lokasi kampung topeng ini, jadi mau nggak mau aku percaya aja, hehe. Lebar jalannya pun tidak cukup besar, jadi hanya bisa dilewati dua mobil dengan cukup sempit dan harus minggir-minggir.

Kekurangannya adalah nggak ada papan penunjuk yang jelas mengenai lokasinya. Jadi berasa kita mau offroad ke hutan-hutan. Ternyata emang harus melewati jalanan bebatuan, tanah, hutan, kebun bahkan kuburan. Hehe. Kebayang betapa seramnya. Aku kira aku memang tersesat. Ternyata setelah mengikuti jalan di google maps, akhirnya sampai juga. Itupun aku parkir di depan rumah warga dan masih harus jalan kaki melewati pepohonan tinggi buat masuk ke tempat wisatanya. Untung saja kesana pas siang hari jadi nggak begitu seram-seram amat, hehe.

Kampung Wisata

Wisata 1000 Topeng


Begitu kita masuk ke kampung ini, kita akan ngeliat banyak banget topeng-topeng dipajang di sana. Nggak hanya topeng kecil tapi juga topeng besar. Dua topeng besar yang menjadi ikon kampung wisata ini. Dua topeng raksasa ini adalah sosok Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji.

Dua sosok ini adalah sepasang kekasih dari dua kerajaan besar di Jawa Timur. Sayangnya, Dewi Sekartaji akan dijodohkan dengan pilihan ayahnya dan akhirnya ia pun meninggalkan kerajaan dan pergi ke gunung kemudian menyamar menjadi wanita lain. Ia bertemu dengan Panji Asmoro Bangun yang menyamar jadi kera. Mereka pun jadi akrab hingga akhirnya mereka menunjukkan keaslian mereka. Pada akhirnya mereka pun menikah.

Kampung wisata topeng ini sebenarnya dibuat oleh Pemerintah Kota Malang untuk mengentaskan para gelandangan dan pengemis di Kota Malang. Mereka difasilitasi tempat tinggal dan usaha topeng agar bisa mandiri secara finansial dan tidak menjadi gelandangan dan pengemis lagi.
Rumahnya memang tidak besar, ukurannya mungkin sekitar 3x4 meter tapi setidaknya mereka tidak lagi tidur di latar toko sambil menahan dinginnya udara Malang. Selain itu, mereka juga dibina selama tiga bulan dan diberi modal usaha.


Wisata 1000 Topeng

Kalau mau beli souvenir topeng malangan, tempat wisata ini ada Omah Topeng yang menjual berbagai macam souvenir khas malang seperti gantungan kunci topeng, baju, dan topeng malangan. Kalau mau belajar melukis topeng juga bisa disini tapi waktu ke sana nggak minta sama orang sana jadi cuma lihat-lihat saja.

Di sana ada juga bank BNI mungkin untuk warganya yang ingin membuka usaha dan menabung uang di bank itu. Atau untuk memberi pinjaman modal bagi yang ingin membuka usaha.

Uniknya, setiap rumah juga dicat warna-warni dan ada gambar topeng di setiap rumahnya. Di depan rumah penduduknya juga ada taman mini yang nggak hanya ada tanaman tapi juga topeng-topeng mini. Seorang ibu-ibu yang jadi warga disana bercerita dengan semangat bahwa mereka dulunya sering pindah-pindah di daerah Muharto, Sukun, Gadang.

Ia bercerita dengan ekspresi bahagia. Rasanya pemerintah sudah menyenangkan hati mereka karena mereka nggak lagi hidup gelandangan. Ia juga bercerita kalau sebentar lagi ada permainan-permainan seperti flying fox, dan lain-lain (aku lupa mainan apa aja, hehe).

"Jadi lebih seru, Mbak. Ntar kalau udah jadi, datang kesini aja mbak." Dari ceritanya ia sangat berharap banyak pengunjung yang datang. Tentunya, semakin banyak pengunjung semakin besar yang membeli makanannya.

Wisata 1000 Topeng


Memang, penduduknya ada yang membuka usaha makanan, sepert mie ayam, tempura, bakso. Kalau pas lagi lapar, nggak perlu khawatir karena disana ada yang jual makanan juga. Walaupun nggak banyak, tapi setidaknya bisa menahan lapar, hehe. Selain jualan di depan rumah, ada juga pujasera yang menjual makanan dan minuman. Sayangnya pas kesana pujaseranya tutup jadi nggak tahu makanan yang dijual apa saja.

Di dekat pujasera juga ada toilet untuk pengunjung. Pas lagi asyik lihat-lihat sederetan rumah penduduk, hujan turun. Aku dan suami berteduh di musholla. Karena dikit lagi adzan ashar dan alhamdulillah hujan sudah mereda, akhirnya kami memutuskan pulang saja daripada nanti jalanan becek malah nggak bisa lewat.
Read More
Berhubung kami jarang jalan di kota Surabaya yang sangat padat lalu lintasnya, saya, suami, dan anak mengunjungi tempat wisata yang dekat rumah aja yaitu Suroboyo Carnival Park.

Awalnya saya kira Surabaya Carnival Park ternyata Surabaya-nya pakai huruf 'O'. Jadi Suroboyo Carnival Park.

Taman hiburan malam ini sudah didirikan sejak tahun 2014 dan sebutan lainya adalah Surabaya Carnival Night Market (SCNM). Luasnya sekitar delapan hektar! Bayangkan betapa pegelnya jalan-jalan di taman hiburan itu. Ada sekitar 50 jenis wahana rekreasi yang disediakan seperti Kincir angin (ferrish wheel), roller coaster, Bioskop 360, taman lampion, 3D Art, dan lainnya.


Wahana di Suroboyo Carnival Park

Lokasi

Wahana permainan sebenarnya sangat strategis karena dekat dengan tol Waru menuju Bandara Juanda. Selain dekat tol, wahana ini juga dekat stasiun dan terminal Purabaya (Bungurasih).

Lokasi wahana ini ada di Jalan Ahmad Yani No. 333. Kalau dari pintu keluar bis terminal Bungurasih jalan ke arah bundaran Waru nanti ketemu Mall Cito (City of Tomorrow) ambil ke arah kiri (bukan ke arah surabaya ya tapi ke arah Sidoarjo). Ikuti jalan sepanjang rel kereta, kemudian belok kiri ke arah Jl. Bridgjen Katamso, menyeberangi jalan kereta, belok kiri lagi mengikuti jalan kereta. Sampai melewati bawah jalan tol belok kanan. Tempat wisatanya di sebelah kiri.

Tempat parkir luas

Sampai disana, kami pun bayar tiket parkir motor. Saya lupa waktu itu berapa ya. Kalau nggak 2000 ya 3000. Kalau tempat parkir motor ke pintu masuk harus jalan dulu. Siap-siap pemanasan jalan sebelum masuk wahananya. Kalau parkir mobil sih bisa dekat dengan tempat masuknya. Dan parkirnya luaasss banget.

Harga Tiket Masuk

Suasana malam itu memang sedikit sepi, mungkin karena hari kerja. Ada dua harga tiket masuk di dua tempat berbeda yaitu wahana Suroboyo Carnival dan Kids Play. Harga tiket masuk wahananya 60 ribu per orang sudah masuk hampir semua wahana (weekday) dan 80 ribu per orang (weekend).  Selain itu, kita dapat dua free tiket bermain di area tembak-tembakan.

Sedangkan kalau kids play zone nya sudah tutup lrena hanya sampai jam 4 sore. Tiketnya 50ribu (weekday) dan 60ribu (weekend). Untuk kids play zone mirip play ground anak-anak di mall-mall. Hanya saja lebih beraneka macam permainannya. Kalau masuk ke Kids Play, pendamping cuma dikenakan 35 ribu rupiah. Karena Kids Play nya sudah tutup, ya sudah akhirnya kami beli tiket bermain ke wahananya langsung. Jadi kalau mau ngajak anak bermain di Kids Play lebih baik datang siangan aja.

Wahana Terluas di Surabaya

Begitu masuk pintu loket, kita diarahkan ke Galeri Suroboyo, semacam museum tempo dulu surabaya. Yang ngebahas Surabaya dari awal sampai akhir termasuk masalah perkotaannya. Beberapa informasi menggunakan bahasa Inggris. Jadi kalau mau mengasah skill bahasa Inggris bisa dicoba menerjemahkan artinya, hehe.

Galeri Suroboyo (dok. pribadi)


Setelah keluar dari Galerinya, kita melewati area dolanan tembak-tembakan yang sebenarnya gratis, tapi sayang kita nggak memanfaatkan padahal sudah ada yang nawarin.

Wahana di Suroboyo Carnival Park (dok. pribadi)


Ada panggung karaoke gratis juga loh. Panggungnya besar dan kapasitas penontonnya banyak. Sudah seperti di tempat-tempat konser.

Wahana pertama yang ingin kunaiki adalah ferrish wheel. Soalnya wahana yang paling aman buat ibu hamil insyallah. Hehe. Antrinya pun tidak banyak, paling hanya dua kelompok. Pemandangan dari atas ferrish wheel bikin seneng soalnya kelihatan banget jalan tol dan bangunan-bangunan tinggi Surabaya.

Sebenarnya banyak banget wahana yang pengen kunaiki, termasuk naik coaster dan tornado itu. Sayang lah ibu hamil dilarang naik.

Wahana dan Food Court (Dok. Pribadi)


Dan rasanya muter-muter separuh wahana saja sudah bikin kaki pegel. Ada go-kart juga tapi harus bayar. Lupa tapi bayar berapa. Akhirnya sampai juga di Bioskop 360. Penasaran dengan bioskop ini, aku membayangkan seperti nonton galaksi dsn bintang-bintang dengan posisi kursi yang rebahan. Ternyata berbedaa. Dan menurutku unikk. Sayang nggak difoto karena pencahayaan yang kurang.

Jadi setelah antri, aku, suami dan anak pun masuk. Suasana gelap saat pertama masuk ruangan. Kemudian ada latar kecil dengan pencahayaan seperti foto studio dan ada kamera yang disangga. Aku bertanya-tanya, apa mungkin kita di foto kaya di studio? Bukannya ini bioskop ya? Aku penasaran kira-kira seperti apa wujud bioskop 360 ini.

Ketika petugas datang, sekelompok rombongan dipersilakan mengambil video. Di ujung panggung ada kursi dengan beberapa jumlah bendera yang dipasang di bambu. Mereka pun mengambilnya. Setelah itu mereka disuruh hormat kemudian melambai-lambaikan tongkat bendera itu dengan ekspresi penuh merdeka. Aku ketawa-ketiwi melihat aksi mereka.
Begitu giliran kelompokku dan satu kelompok lainnya, ternyata aku merasakaan kegilaan sama seperti kelompokku sebelumnya. Setelah hormat, kami melompat-lompat kegirangan sambil mengibar-ngibarkan bendera. Apalagi si suami dan anak.  Heboh bener, deh!

Setelah kegilaan kami direkam oleh petugas, kami pun disuruh masuk ke ruang bioskopnya. Pencahayaan yang kurang membuatku harus berhati-hati. Ruangannya tidak begitu besar tapi bentuknya hemisphere atau setengah lingkaran yang menjadi layar utamanya jadi kita bisa melihat video dari depan dan belakang kita seolah-olah kita berada di tengah-tengah film. Tidak ada tempat duduk hanya ada besi-besi penahan badan.
Ternyata dalam bioskop diputar tentang perang melawan tentara Belanda di Surabaya termasuk bangunan-bangunan bersejarah yang masih ada sampai sekarang contohnya Hotel Majapahit yang dulunya bernama hotel Yamato. Seolah-olah kita sedang ikut perang karena berdiri di tengah-tengah gedung. Saat Indonesia merdeka, hasil rekaman yang loncat-loncat tadi diputar ulang ditambah dengan background di lapangan monumen Tugu Surabaya. Nontonnya bikin ketawa-ketiwi. Haha.

Setelah nonton bioskop 360, aku, suami dan anak naik kereta mengelilingi taman lampion dan beberapa wahana.

Bioskop 360, Lampion Garden, dan Kereta (dok. pribadi)

Saat naik kereta itu, aku lihat ada sepeda udara. Jadi kepengen naik. Pintu masuknya harus naik tangga yang lumayan tingggiiii. Dan untungnya nggak ada yang antri. Langsung deh ambil giliran mau naik sepedanya. Eh, ternyata masnya tahu aja kalau lagi hamil (padahal perutku ngga begitu keliatan hehe) dan akhirnya melarangku naik.

Memang setiap wahana selalu ada papan petunjuk mengenai siapa saja yang boleh dan tidak boleh naik. Sebelum naik tangga ke wahana sepeda udara aku nggak nemuin papannya. Yah, sayang sekali. Terpaksa nunggu suami dan anak aja yang main.

Setelah selesai, dengan kaki yang sudah mulai pegel-pegel, kami melewati bangunan bertuliskan 3D art. Wah, kaya di Madame Tussaud, donk! Kami pun masuk. Isinya patung-patung dari tokoh terkenal, salah satunya Einstein. Selain tokoh-tokoh terkenal, yang membuat saya tertarik adalah lukisan-lukisan yang terlihat seperti 3D.

3D Art

Akhirnya usai sudah wisata malam kami. Pulang dengan hati senang walau kaki pegal-pegal.

Read More
Dalam rangka Reuni Universitas Brawijaya (UB), kampus UB tercinta mengadakan rangkaian acara dari tanggal 7-9 Desember 2017. Salah satu yang paling saya tunggu-tunggu, karena saya suka makan, adalah festival kuliner. Dalam festival ini tidak hanya dijual makanan tradisional tapi juga makanan yang diminati anak muda jaman sekarang yaitu makanan Korea.

Saat makan siang, saya, suami, dan anak, mencoba makanan di Festival Kuliner di Universitas Brawijaya (UB). Sehabis sholat jumat langsung cusss lah kita ke kampus. Seperti biasa jalanan di sekitaran Soekarno Hatta ramaiiiii. Melewati keramaian jalanan ditambah matahari yang menyengat membuat saya membayangkan kuliner apakah yang akan dijual.

Eh, karena suami parkir di dekat masjid Raden Fattah yang sudah berubah itu,  jadilah kita masuk lewat belakang stand festival kuliner. Bukan dari depan. Akhirnya memutar lagi. Saat saya masuk, ada tempat berfoto untuk alumni. Karena saya dan suami alumni UB, kami bergantian berfoto di panggung itu. Setelh itu, kami pun mencari pintu depan demi ambil foto sekaligus ambil voucher gratis yang disediakan, haha.

Di stand paling depan ada stand ganti oli dan tune up gratis. Banyak motor berjejer siap untuk diganti oli dan tune up. Keseriusan wajah-wajah anak mesin juga terlihat saat mereka sedang mengganti oli dan tune up motor. Hampir sama lah sama wajah suami yang serius banget kalau ganti oli motor, hehe.

Setelah ambil foto, saya ke stand panitia yang ada di dekat pintu masuk. Ada voucher gratis bagi siapapun yang datang. Tinggal catat nama di daftar yang disediakan panitia dan setiap orang akan dapat satu voucher. Satu voucher hanya bisa ditukar dengan makanan seharga 10ribu. Kalau mau beli makan yang lebih dari sepuluh ribu, tidak perlu pakai voucher tapi pakai uang sendiri, hehe.

Festival Kuliner
Stand Festival Kuliner Reuni Universitas Brawijaya


Ada sekitar 37 stand dalam festival kuliner. Makanan tradisional yang dijual seperti Soto, Cenil, lupis, batagor, siomay, nasi bakar, mie ayam, pecel, roti bakar, seblak, dan lainnya. Makanan Korea yang dijual seperti takoyaki, tteobokki, dan ramyun. Selain itu, ada dijual kebab dan burger juga. Saat matahari lagi terik-teriknya memang enak makan waffle es krim yang juga dijual. Setelah mutar-mutar, saya tertarik sama tteobokki original yang terbuat dari tepung beras itu dan saos gochujang dijual dengan harga 10.000. Suami lebih tertarik dengan es krim yang ditaruh di cup yang bisa dimakan.

Festival Kuliner


Karena porsinya kecil, perut saya yang muat banyak ini rasanya masih kurang, hehe. Akhirnya kami pun beli Soto Kudus. Harganya juga sama 10.000. Rasa Soto Kudus ini 'menurut saya' sudah disesuaikan dengan lidah Jawa Timur alias tidak terlalu manis seperti aslinya. Oh, dan ternyata ibunya baru kehilangan suaminya, yang berasal dari Kudus, sehingga ia berusaha bangkit lagi dengan jualan Soto Kudus. Huks.

Di stand ini tidak hanya menjual makanan, tapi juga ada kaos, sandal outdoor, kopi dan oleh-oleh seperti kripik-kripik kota Malang yang jadi binaan LPPM UB.

Voucher Gratis Festival Kuliner


Para pecinta kopi bisa membeli kopi lokal yang ada di stand festival ini. Salah satunya kopi Dampit yang sudah cukup terkenal karena menjadi daerah penghasil kopi robusta terbaik di dunia. Sebesar 90 % kopi robusta Dampit diekspor ke luar negeri. Apalagi kopinya sudah mendapat sertifikat 4C yang dikeluarkan asosiasi industri kopi dunia yang berpusat di Bonn, Jerman.



Setelah kenyang makan soto Kudus dan teh botol Sosro, kami pun pulang. Oiya, di festival ini minuman yang dijual teh botol sosro dan kopi aja ya.
Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower