Finally , aku berangkat ke Paris juga.. dengan beribu2 rintangan dan hambatan. Sebelum berangkat pun masih ada aja rintangannya, hanya gara-gara aku pelupa.
Aku lupa bawa charge baterai kamera padahal aku harus berangkat ke stasiun Solo jam 6 pagi, alhasil balik lagi.
Aku dianter sama tetangga dan omku. Alhasil sampai solo terlambat, harusnya kereta jam 8 aku nyampe jam 8.25 wow.. terbuang deh 360ribu...
Aku terpaksa pergi ke agen bus buat nyari bus ke jakarta. Jadwal paling cepet jam 2 siang ini. Sampai jakarta jam 10 pagi padahal pesawat jam 6 sore.
Busnya AC ekonomi dari Solo-Jakarta. Ya Allah capeeekk. Udah duduknya mepet karena kursinya 2-3. Banyak berhenti di terminal dan ambil penumpang. Perasaanku AC nya nggak jalan. Nggak enak deh pokoknya, tapi yawuda namanya juga keburu waktu.
Padahal kalau aku naik kereta, tiba di jakarta sore hari. Jadi aku bisa istirahat dulu semalam di jakarta. Karena ketinggalan kereta, jadinya aku istirahat saat perjalanan.
Tiba di Jakarta, aku masih harus bawa koper, tas jinjing, dan tas ransel. Beraat. Akhirnya aku terpaksa pakai porter untuk bawain barangku ke taksi. Itupun pakai di palak juga. Wes2...
Akhirnya aku tiba juga ke rumah temen, sekitar jam 10 pagi naik taksi dari Pulo gadung ke Pondok Kelapa sebesar 60ribu rupiah pake Blue Bird.
Di rumah teman, aku nunut mandi. Setelah itu minta temenin ke MM buat nukar rupiah ke euro. Pas pulang, ternyata temanku lupa kartu ATMnya ketinggalan, gara2 aku, huks.... akhirnya cepat balik ke Bank Mandiri, setidaknya mau ngambil uangnya di bank, tapi ngga bisa. huks..
Akhirnya terpaksa langsung ke bandara, karena sudah jam 2 di mana kami harus sudah check in harusnya. Kami naik Malaysia Airlines dari Jakarta-Paris yang akan berangkat jam 6 sore. Padahal kalo penerbangan domestik biasanya sekitar 2 jam sebelum berangkat.
Parahnya, karena di jalan macet, naik damri Bandara jadi tiba di bandara jam setengah 5. Haha. Di sana sudah ditunggu temanku. Parah banget. Terus kami buru-buru check in. Wow ternyata bagasiku melebihi kapasitas. Batasnya 25. Beraninya, aku sampai lobby2 petugasnya. Haha. Si mbaknya telpon pimpinannya akhirnya diizinkan deh jadi 27 hehehe.. terus pas masuk x-ray ternyata cleansing en botol aqua en pulpy orange ku di ambil, gara2 ngga boleh bawa cairan dalam pesawat, huks...
Sambil nunggu berangkat boarding pesawat, waktu itu telat 10 menit sih, aku telpon2an ama cowoku. Sayangnya, aku ngga sempet telpon sama orang tua. Parahhhh. Haha.
Parahnya lagi, aku pinjam hape temanku yang sudah tiba lebih dulu di bandara karena beliau menghubungi suaminya ama ortunya. Aku juga nggak tahu kenapa pinjam hapenya. Haha. Boarding pun tiba.
Sampai di Kuala Lumpur sudah pukul l 10 malam waktu Malaysia (jam 9 waktu jakarta).
Sekitar jam 11, pesawat lanjut ke Paris.
Sekitar jam 11, pesawat lanjut ke Paris.
Tiba di Paris kalau tidak salah pagi hari. Wow sekitar 14 jam lah di pesawat. Kepalaku rodo puyenng, kurang tidur, bawa barang banyak, jadilah ni badan pegel2.
Perjuangan belum selesai. Di bandara Charles de Gaulle, kita harus mencari tempat prin karena tiket teman yang ke Lyon salah. Adanya sih mesin buat internetan free (katanya, padahal bayar juga, walo murah) dan harus punya koin atau kartu kredit. Karena ngga ada jadi harus nuker duit receh dulu deh.,
ke terminal 2A pake ini..
Perjuangan belum selesai. Di bandara Charles de Gaulle, kita harus mencari tempat prin karena tiket teman yang ke Lyon salah. Adanya sih mesin buat internetan free (katanya, padahal bayar juga, walo murah) dan harus punya koin atau kartu kredit. Karena ngga ada jadi harus nuker duit receh dulu deh.,
Setelah bisa internet trus laporan ke desk di terminal 2A karena kita diurus oleh Campus France biar bisa sampai di tempat tinggal. Setelah ngubeng2 akhirnya ketemu juga Help Desk.
ini dia desk terminal 2A Charles de Gaulle.
Karena barang bawaan kami banyak, jadi ada yang bertugas menjaga barang. Dan aku lebih memilih tugas itu. Kepalaku pusing. Belum siap lah komunikasi pakai bahasa Prancis.
Ternyata di desk nya, dua temanku laporan mengenai kedatangan, dan memberi nomor dossier dari Campus France. Setelah itu, kita diberi tahu step-step biar bisa dianter ke tempat tinggal yang dituju.
Setelah itu baru deh aku dan temen ke Porte Maillot, dan temanku satunya ke Lyon (harus naik TGV). Jadi kami berpisah.
Lucunya, aku dan temanku hampir salah naik bus lagi gara-gara aku cuma bilang 'iya-iya' aja, saking pengen segera sampai di apartemen, wes kesel. Untungnya bus belum jalan, kami nunjukin tiket dan bilang kalau tiket salah, huhuu.. bikin malu ajah. Makane ojo grusa grusu lita, lita..
Akhirnya dapat bus yang bener. Nah kebetulan kita duduk di belakang orang Prancis. Kebiasaan orang indonesia kalau dalam bus, tangan direbahkan dekat jendela, eh tangan temanku ngga sengaja kena bahunya penumpang di depan kami. Terus si ibu lapor ama suaminya, eh suaminya ngomel2 ke kita. Mungkin dia kira kita berniat jahat. Apa tampang kami yang lusuh, terus berjilbab, orang asing. Kitanya cuma bilang pardon pardon ajah.
Tibalah kita di Porte Maillot. Kami mencari cabine telephone (telpon umum). Temanku menelpon Campus France terus kami laporan lagi nama dan nomor dossier kita.
Sekitar 15 menit kemudian, mobil BMW yang mewah datang. Seorang pria berjasa hitam bersepatu pantofel turun dari mobil itu. Ia mengatakan yang akan menjemput kami. Ya Allah. Terpesona aku. Tampilannya kayak artis-artis Hollywood.
Tak lama, tibalah kami di apartemen Asnieres, tempat tinggalku. Tiba-tiba kami ditagih uang sama si abang ganteng sambil ngasih bukti argonya. Setahu kami, fasilitas taksi itu gratis. Aku cuma bengong.
Daripada salah, aku yakinkan lagi, "c'est gratuit , n'est-ce pas?" (ini gratis bukan?) Ketahuan banget lagi belajarnya bahasa Prancis-nya. Haha. Padahal harusnya bilang, "Excusez-moi, il faut payer, non?".
Akhirnya dia menjawab, "Excusez-moi. Oui oui c'est pour vous." (ya, ya, itu untuk mu).
Dia baru sadar kalau kami dari campus france jadi gratis.
Tibalah kami di depan tempat tinggal.. tapiiiiiiiii...... kami ngga bisa masuukkk.. karena ada komentar di pintu masuk, olalaa.. padahal waktu itu hujan dan dingin, sesang musim gugur, dan satu-satunya cara hanya lewat sms (pake nomor indo punya teman) tapi gagal terkirim teruuss.. disambungkan ke provider Orange (jaringan seluler prancis) tetap ngga bisa. Pasrah lah, akhirnya aku nyari keliling buat beli kartu sim hape, dapatnya Orange dan aku salah beli ternyata itu untuk isi ulang, bukan kartu perdana, hukss..
Akhirnya aku nyari kartu perdana lagi. Karena jalannya rodo riwet jadinya muter-muter ngga jelas. Akhirnya ketemu le tabac (toko yang jual rokok, kartu isi ulang, cemilan, dan lain-lain) dan ada kartu sim perdana, tapiiiiiii.... adanya SRF harganya 15 euro, dan aku pas bawa uang 15 euro, kuputuskan ga jadi beli, karena mahaaaaaalllllllllll.... ni duit buat makan aja pokokx, ama transport.
Akhirnya aku muter2 dan ngga ketemu jalan pulang. Muter-muter lagi. Inget-inget. Akhirnyaaaa ketemu juga apartemennya. Aku bisa pulang jugaa. Udah hampir basah jaket ini. Pas pulang, temanku udah ngga ada. Ternyata udah masuk appartement nya gara-gara ketemu yang juga tinggal disana en nunjukin attestation d'hebergement (surat penerimaan tempat tinggal) dari M. Bernard. Akhirnya orangnya percaya.
Waktu itu jam 2 siang (waktu Paris) berarti udah 2 jam kami menunggu diluar. Sampe di dalam (di hall) bangunan, akhirnya bisa sms ke teman-teman yang ada di Paris, untuk menghubungkan ke mba Nani (yang nyariin apartemen) biar bisa dihubungkan ke M. Bernard.
Akhirnya bisaaa.... janjian ketemuan alias baru bisa masuk kamar jam 8 sore menjelang malam (masih terang sih), olala... di luar kamar kami kedinginan sampe 6 jam..
ini dia appartement ku di Asnieres
terlantar di hall nya appartement (di Prancis bilangnya studio)
Akhirnya selama menunggu, kami bertemu dengan Madame d'Algerie (Nyonya dari Aljazair). Ia kaget melihat kita karena dari mulai masuk kerja sampe selesai kerja, aku dan temenku masih terlantar. Akhirnya kita disuruh masuk ke studionya. Beliau orang islam juga jadi setidaknya bisa tahu arah solat dan waktu solat. Ternyata eh ternyata si madame ga tau mana kiblatnya. Haha. Padahal beliau dengan bangga mengenalkan dirinya sebagai orang muslim. Boff...tapi beliau baik karena tidak mau aku dan temanku kedinginan di luar. Bahkan aku di hall itu sempat ketiduran, hehe...
Tak lama, teman-teman sesama Undip yang udah tiba di Paris duluan sudah pada datang ke studio. Syukurlah, ada yang nemenin Mba Nani yang bantuin nyari logement (tempat tinggal). Kami pun bisa masuk kamar. Aku langsung tepaarr. Malam hari pada nyari makan, untungnya dapat nasi, jadilah makan walo sedikit.
Di apartemen tidak ada galon, jadi aku harus minum air keran yang katanya udah siap minum, tapi nga segeerr. Kalau beli air mineral cukup mahal sekitar 2 euro atau 24 ribuan. Jadi mikir-mikir kalau mau ngeluarin 1 euro, @.@
Keesokannya kami ketemu janjian sama proprietaire (pemilik apartemen) buat bayar apartemennya, karena temanku mau pindah ke tengah kota uang dekat dengan kampusnya, jadi nyewa cuma sebulan seharga 500 euro (atau 6 jt), dan aku ngga mungkin di sana karena mahaal kalo buat sendiri. Sebenarnya enak sih karena udah lengkap fasilitasnya, tapi katanya kalo ngurus CAF bisa dapat bantuan tempat tinggal. Jumlah bantuannya tergantung luasnya dan kalo melihat luas apartemennya bantuannya sekitar 150 euro. Tapi kalo aku dapat apartemen yang 250an euro ya lumayan..
Setelah ketemuan ama propietairenya, akhirnya kami berangkat ke Paris ke Campus France buat nyari bantuan tentang logement. Untuk pergi ke Paris, karena Asnieres itu ada di luar kota Paris, alias di pinggiran, kami harus naik SNCF turun di Saint Lazarre trus lanjut naik Metro (kereta bawah tanah di dalam kota, seperti subway) ke Pigalle trus lanjut ke Colonel Fabien.
Oiya kalo naik SNCF harus jujur loh, karena pas kita beli tiket ngga ada pemeriksaan. Hanya waktu tertentu ada pemeriksaan. Kalau misal kita pas naik SNCF ngga ada tiket dan ada pemeriksaan, kita bisa didenda.
Sampe di Saint Lazarre, kami beli tiket di mesin tiket, dan itu berlaku seharian kemana aja di dalam kota Paris, dan harus di validé sebelum masuk peronnya. Kalau ngga, kita bisa kena denda.
Setelah sampe Colonel Fabien, kita terus lanjut jalan ke Campus France, keseel mameenn, bawa tas ransel isi laptop, badan pas ngga enak, rasanya sesuatu banget, hampir pengsan di jalan dah. Jetlaagggg.
Sampai di Campus France rasanya pengeen duduukk, eeh giliran mau berjalan di sofa di tahan sama mbak resepsionisnya, harus laporan dulu, hdeuuhhh... klenger boo... setelah nunjukin nomor dossier dan paspor akhirnya dapat identitas pengunjung, terus disuruh nunggu buat ketemu Claire, yang ngurusin logement. Kata mbaknya kalo beasiswa couverture de sociale sebenarnya emang harus nyari sendiri, bukan campus france yang nyediain tapi akhirnya di alihkan ke CROUS (yang bantuin nyari logement), dan kepastiannya masih 2 hari lagi, jadi jumat pagi balik lagi. Karena cukup jauh kalo balik ke Asnieres akhirnya kami disediakan hotel gratis di Paris, Hotel Ibis Style. Dan akhirnya aku jalan lagi dah, karena laper jadinya beli roti dulu di toko terdekat, maklum ngga ada nasi.
Aku kira orang Lrancis juga ngikuti rambu-rambu, ternyata kalo lampunya merah en ngga ada mobil ya tetep aja bablas nyebraang.
Yup2 setelah makan roti baru ke stasiun metro lagi buat ke hotelnya. Harus 2x naik metro dan jalan kaki lagi dari metro ke hotelnya. Byoh sepanjang jalan banyak barang yang pengen dibeli tapi mata ku kembali merah alias STOP untuk berbelanja inget duit pas2an.
Setelah check in sampe hotel, aku langsung ambruk ngga makan malam, lupa makan pokoknya kalo udah ngantuk itu.
The next stories nanti yahh... :)



