Bahasa jepang menggunakan tiga macam tulisan, yaitu Hiragana, Katakana, dan Kanji. Jenis tulisan tersebut tentu memiliki perbedaan dalam penggunaannya.


Waktu sekolah dulu biasanya penggunaan huruf Katakana untuk penggunaan kalimat bahasa asing, nama orang, nama tempat dan kata benda lainnya yang menggunakan bahasa asing. Sedangkan Hiragana untuk menulis kata-kata asli bahasa Jepang dan dipakai untuk menggantikan kata-kata dari Kanji. tapi biasanya hiragana tetap digabung dengan huruf kanji.





Sumber www.comment-apprendre.fr

Read More
saking bingungnya mau edit poto apa, akhirnya foto KCB aja deh yg diedit.. susah juga ternyata.. beuh.. berpeluh kesah, hehe. ..
susahnya harus mengganti wajah para pemain KCB dgn wajah temen2,,harus dari angle yang tepat lah, kulit harus sama lah, harus menyatu gt.. susaaahh..


ni hasil editanku,, ga karuaaann,banyoooollnyaaa.. hahahaha.. semoga yang di jadi tersangka diganti wajahnya, pada ga ngerti, hhehehehe.... maaapphh yee temaaann... ;D


Read More

Langsung aja nih ke semester 3, survey PDT (Perencanaan Desa Terpadu). Survey ke desa. Kelompokku dapet di desa Maguan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Dasar orang kota, kalo ke desa malah udik banget. Apalagi aku, maklum sebagai anak kalimantan, ga pernah liat secara langsung sumber mata air yang dari gunung, yang biasa di film-film tuh. Satu hal yang ga pernah ketinggalan nih yaa..narsis poto2, ga cewe, ga cowo, tetep aja narsis.

Read More

Kalau ditanya, kenapa kok pilih PWK? Haduh, saya juga ga tau kenapa pilih PWK??? Aneh. Tapi yasudahlah, ngikut alur aja deh.
Usut punya usut, ternyata jurusanQ itu paling sering ‘jalan-jalan’ alias SURVEY ! ngabisin duit banget tuh, makanya sejak semester satu udah disuruh rajin menabung (disuruh aja sih, tapi ga dilakuin, hehe..). Waktu ospek jurusan udah diajarin gimana survey dan asistensi.
Survey ospek sih masih seputar brawijaya, kampus dewe, itu sih karena dapet kelompok yang ngebahas sampah dan sanitasi di lingkungan kampus. Kalo kelompok lain sih dapet yang di luar kampus, seingatku dulu ada yang ngebahas PKL, kelompok lain udah lupa!
Setelah survey dan asistensi, kelompokku disuruh presentasi, ditunjuk ma senior (biasanya yang keliatan pendiam tuh yang disuruh presentasi, untungnya aku anaknya ribut, jadi ga disuruh deeh, hehe)

Read More
Dalam penggunaan metode analisis AHP ini disusun dalam beberapa tahap, yaitu :
1.Menyusun dalam bentuk hirarki
2.Membuat perbandingan berpasangan (pairwise comparisons) antara elemen dari satu tingkat sesuai dengan yang diperlukan oleh kriteria-kriteria yang berada setingkat lebih tinggi.
3.Sintesis hasilnya agar menghasilkan prioritas dari berbagai perbandingan sebelumnya.
4.Evaluasi konsistensi dan interdependensi.
Dalam tahap pertama yaitu menyusun persoalan dalam bentuk hirarki.


Contoh pohon hirarki ditunjukkan dalam gambar berikut.
Pohon hirarki AHP


Gambar ..
Pohon Analytical Hierarchy Process Penentuan Pembelian Mobil



Tahap selanjutnya adalah membuat perbandingan yang berpasangan dari variabel tersebut.

Bobot 1 = Kedua elemen sama pentingnya -> 2 elemen menyumbangkan peran yang sama besar pada kriteria ini

Bobot 3 = Elemen yang 1 sedikit lebih penting dibanding yang lain -> Pengalaman dan pertimbangan sedikit menyokong satu elemen dibanding elemen lain

Bobot 5 = Elemen yang satu lebih penting dari yang lain -> Pengalaman dan pertimbangan memberikan dukungan yang kuat terhadap satu elemen dibanding terhadap elemen yang lain

Bobot 7 = Satu elemen jauh lebih penting dari yang lain -> Satu elemen dengan kuat didukung dan dominannya telah terlihat dalam praktek

Bobot 9 = Satu elemen mutlak lebih penting dari yang lain -> Bukti nyata mendukung mutlak satu elemen lebih penting dari yang lain

Bobot 2,4,6,8 = Nilai tengah / memiliki pengertian angka ganjil diantaranya -> Jika diperlukan suatu penilaian yang kompromi atas kedua faktor yang diperbandingkan

Berdasarkan wawancara dengan masyarakat, Beberapa faktor penyebab konversi lahan pertanian ditinjau dari aspek fisik, yaitu fungsi lahan kurang optimal untuk pertanian (X1), lahan pertanian berada di antara lahan industri mendesak konversi lahan pertanian (X2), tersedianya infrastruktur untuk pengembangan industri mendesak konversi lahan pertanian (X3), lahan pertanian cukup luas untuk pengembangan industri (X4), dan lokasi lahan pertanian dekat dengan jalan Krikilan-Driyorejo-Bambe (X5).
Faktor penyebab dari aspek sosial yaitu banyaknya jumlah penawar untuk membeli lahan pertanian (X6), dan kurang tenaga kerja dalam menggarap sawah (X7). Faktor penyebab dari aspek ekonomi yaitu pendapatan masyarakat dari sektor pertanian lebih rendah dibanding daripada pendapatan dari sektor non-pertanian (X8), pemenuhan kebutuhan pokok kurang terpenuhi saat bekerja di sektor pertanian (X9), penawaran harga jual lahan pertanian yang tinggi (X10), hasil penjualan lahan pertanian untuk modal usaha (X11), dan tidak mampu membiayai pengelolaan sawah (X12). Faktor penyebab dari aspek politik yaitu adanya kebijakan pemerintah mendesak terjualnya lahan pertanian yang dimiliki (X13).
Hasil pendapat masyarakat dapat dilihat dari penilaian setuju dan sangat setuju yang nilainya besar, seperti yang ditunjukkan dalam tabel berikut.
Pendapat


Pertanyaan
Sangat Tidak Setuju
Tidak Setuju
Ragu-ragu
Setuju
Sangat Setuju
Total
X1
0
25
14
44
8
91
X2
12
47
20
9
3
91
X3
0
28
47
16
0
91
X4
0
63
28
0
0
91
X5
3
66
11
11
0
91
X6
6
47
17
21
0
91
X7
14
55
11
11
0
91
X8
0
36
41
11
3
91
X9
0
39
25
24
3
91
X10
0
3
0
77
11
91
X11
0
14
14
44
19
91
X12
14
55
22
0
0
91
X13
0
8
25
44
14
91
Total
49
486
275
312
61


Tabel tersebut menunjukkan faktor-faktor penyebab masyarakat mengkonversi lahan pertaniannya menjadi lahan industri, yaitu:
1.      Fungsi lahan kurang optimal untuk pertanian (X1)
2.      Penawaran harga jual lahan pertanian yang tinggi (X10)
3.      Hasil penjualan lahan pertanian untuk modal usaha (X11)
4.      Kebijakan pemerintah mendesak terjualnya lahan pertanian yang dimiliki (X13)
Wawancara tidak hanya dilakukan kepada masyarakat pemilik lahan pertanian, tetapi juga Pemerintah Daerah Kabupaten Gresik selaku pembuat kebijakan lahan industri di Kecamatan Driyorejo. Faktor penyebab konversi lahan yang ditanyakan yang terdiri aspek fisik, sosial, dan politik. Beberapa faktor penyebab konversi lahan pertania menjadi lahan industri yang dirangkum dari teori-teori, yaitu:
  1. Fisik
-          Lokasi lahan pertanian dekat dengan asal bahan baku industri dan pemasaran produk industri (X1)
  1. Sosial
-          Banyaknya jumlah penawar untuk membeli lahan pertanian (X2)
-          Menambah lapangan kerja baru untuk tenaga kerja dari masyarakat lokal (X3)
  1. Ekonomi
-          Penawaran investasi dari pihak swasta yang besar (X4)
-          Pendapatan regional dari sektor industri lebih besar dibandingkan pendapatan regional dari sektor pertanian (X5)
  1. Politik
-          Kerjasama dengan investor memberikan peluang besar untuk alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan industri (X6)
-          Pengenaan insentif dan disinsentif dalam pembangunan kurang berfungsi optimal (X7)
-          Kepentingan pihak-pihak tertentu tanpa adanya koordinasi dengan stakeholder yang lain (X8)
Faktor-faktor tersebut kemudian dipilih faktor yang mendominasi terjadinya konversi lahan pertanian menjadi lahan industri. Analisis yang digunakan bisa menggunakan Analytical Hierarchy Process. Menurut Saaty (1993:36), tidak ada batas bagi jumlah tingkat dalam satu hierarki. Perhitungan dalam analisis tersebut menggunakan dua tingkatan saja. Hal tersebut dikarenakan sampai tingkatan kedua telah bisa ditentukan faktor-faktor penyebab konversi lahan pertanian menjadi lahan industri, bila lebih dari dua tingkatan kemungkinan hasilnya tidak representatif.
Analisis Hirarkhi Proses ditanyakan kepada para pakar yang dimungkinkan memiliki persepsi yang berbeda karena perbedaan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan wawasan dari masing-masing pihak. Para ahli yang ditanyakan, yaitu:
1.      Kasubid. Fisik RDTRK Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik sebagai bagian pemerintahan yang bertugas dalam penyusunan rencana-rencana daerah, terutama penyusunan rencana industri.
2.      Kasubid. Kebijakan dan Pengembangan Iklim Investasi, Dinas Penanaman Modal dan Perijinan, Kabupaten Gresik, sebagai penyusun kebijakan penanaman modal investasi, terutama untuk industri.
3.      Kabid. Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Kabupaten Gresik, sebagai bagian pemerintahan, khususnya sub bidangnya, yang juga mengurusi konversi lahan pertanian menjadi lahan non-pertanian.
Pakar yang ditanyakan sebanyak tiga orang, sehingga perlu ada penggabungan pendapat dan harus diperiksa dulu CI (Consistency Index) atau CR (Consistency Ratio) dari setiap pendapat. Matriks berikut merupakan derajat penilaian kepentingan dalam faktor penyebab konversi lahan pertanian menjadi lahan industri berdasarkan wawancara dari pakar satu yaitu Kasubid. RDTRK Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik.
Variabel
X1
X2
X3
X4
X5
X6
X7
X8
X1
1
1/3
1/3
1/3
1/3
1/3
3
3
X2
3
1
1/3
1/3
1/3
1
1
1
X3
3
3
1
1
1
3
7
5
X4
3
3
1
1
1
1
3
3
X5
3
3
1
1
1
3
3
3
X6
3
1
1/3
1
1/3
1
3
3
X7
1/3
1
1/7
1/3
1/3
1/3
1
1
X8
1/3
1
1/5
1/3
1/3
1/3
1
1
50/3
40/3
456/105
16/3
14/3
30/3
22
20

Matriks tersebut dinormalkan kemudian dicari Priority Vector dari matriks tersebut, kemudian diperoleh Priority Vector, yaitu:
X1 =
7,69 %
X2 =
8,26 %
X3 =
23,82 %
X4 =
17,79 %
X5 =
20,29 %
X6 =
12,21 %
X7 =
4,88 %
X8 =
5,05 %
Priority Vector tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab konversi lahan yang dominan adalah adanya kegiatan industri dapat menambah lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Kemudian, dilihat nilai consistency-nya, apakah dapat diterima atau tidak dengan cara perhitungan eigen value terlebih dahulu. Nilai eigen value matriks tersebut yaitu 8,62. Setelah diketahui eigen value, maka dihitung indeks konsistensinya. Perhitungan indeks konsistensi yaitu :
CI = (Λmaks – n)/n-1
            = (8,62 - 8)/7
            = 0,088436
Dengan n = 8, maka RI (Random Consistency Index) = 1,41, sehingga perhitungan Consistency Ratio (CR) = CI / RI = 0,088436/1,41 = 0,06272 x 100 % = 6,27 %. Nilai CR kurang dari 10%, maka indeks konsistensinya dapat diterima.
Setelah pendapat pakar satu dapat diterima, kemudian dicari CR dari pendapat pakar dua yaitu dari Kasubid. Kebijakan dan Pengembangan Iklim Investasi, Dinas Penanaman Modal dan Perijinan.
Variabel
X1
X2
X3
X4
X5
X6
X7
X8
X1
1
1/7
1/5
1/5
1/5
1
1/3
1
X2
5
1
1/3
1/3
1/3
1/5
1/3
3
X3
3
3
1
1
1
1
1
3
X4
5
3
1
1
1
3
5
5
X5
5
3
1
1
1
3
5
5
X6
1
3
1/5
1/3
1/3
1
1/3
1/5
X7
1
1
1/3
1/5
1/5
3
1
1/7
X8
1
1/5
1/3
1/5
1/5
1
3
1
22
502/35
66/15
64/15
64/15
66/5
48/3
747/35
Matriks tersebut dinormalkan kemudian dicari Priority Vector dari matriks tersebut, kemudian diperoleh Priority Vector, yaitu:
X1 =
4,32 %
X2 =
9,11 %
X3 =
16,79 %
X4 =
24,31 %
X5 =
24,31 %
X6 =
7,05 %
X7 =
7,28 %
X8 =
6,83 %
Priority Vector tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab konversi lahan yang dominan adalah adalah penawaran investasi dari pihak swasta yang besar, dan pendapatan regional dari sektor industri lebih besar dibandingkan pendapatan regional dari sektor pertanian. Kemudian, dilihat nilai consistency-nya, apakah dapat diterima atau tidak dengan cara perhitungan eigen value terlebih dahulu. Nilai eigen value matriks tersebut yaitu 8,42.
Setelah diketahui eigen value, maka dihitung indeks konsistensinya. Perhitungan indeks konsistensi yaitu :
CI = (Λmaks – n)/n-1
            = (8,42 - 8)/7
            = 0,059783
Dengan n = 8, maka RI (Random Consistency Index) = 1,41, sehingga perhitungan Consistency Ratio (CR) = CI / RI = 0,059783/1,41 = 0,042399 x 100 % = 4,24 %. Nilai CR kurang dari 10%, maka indeks konsistensinya dapat diterima.
Setelah pendapat pakar satu dan pakar dua dapat diterima, kemudian dicari CR dari pendapat pakar tiga yaitu dari Kabid. Tanaman Pangan dan Holtikultura, Dinas Pertanian, Kabupaten Gresik.



X1
X2
X3
X4
X5
X6
X7
X8
X1
1
3
1/3
1/3
1/3
1/3
3
3
X2
1/3
1
1/3
1/3
1/3
3
5
3
X3
3
1
1
1/3
1/3
3
3
3
X4
3
3
3
1
1
1
3
3
X5
3
3
3
1
1
1
3
3
X6
1/3
1
1/3
1
1
1
1
3
X7
1/3
1/5
1/5
1/3
1/3
1/3
1
1
X8
1/3
1/3
1/5
1/3
1/3
1/3
1
1
34/3
188/15
126/15
14/3
14/3
30/3
20
20

Matriks tersebut dinormalkan kemudian dicari Priority Vector dari matriks tersebut, kemudian diperoleh Priority Vector, yaitu:
X1 =
10,54 %
X2 =
12,40 %
X3 =
15,08 %
X4 =
21,12 %
X5 =
21,12 %
X6 =
10,97 %
X7 =
4,32 %
X8 =
4,45 %
Priority Vector tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab konversi lahan yang dominan adalah adalah penawaran investasi dari pihak swasta yang besar, dan pendapatan regional dari sektor industri lebih besar dibandingkan pendapatan regional dari sektor pertanian. Kemudian, dilihat nilai consistency-nya, apakah dapat diterima atau tidak dengan cara perhitungan eigen value terlebih dahulu. Nilai eigen value matriks tersebut yaitu 8,84. Indeks konsistensi (CI) sebesar 0,119575, nilai Consistency Ratio (CR) sebesar 8,48%. Nilai CR kurang dari 10%, maka indeks konsistensinya dapat diterima.
Setelah ketiga matriks pada pakar-pakar tersebut memiliki indeks konsistensi yang dapat diterima, maka pendapat tersebut digabung menjadi sebuah matriks penggabungan pendapat. Hasil dari perhitungan matriks tersebut, diperoleh priority vector yaitu:
X1 =
4,74 %
X2 =
6,54 %
X3 =
20,00 %
X4 =
26,65 %
X5 =
28,13 %
X6 =
7,48 %
X7 =
3,09 %
X8 =
3,36 %
Nilai eigen value sebesar 7,82, CI sebesar -0,02526, dan CR sebesar minus 1,79 %, dimana kurang dari 10 %. Dari analisis AHP penggabungan pendapat tersebut menunjukkan bahwa faktor penyebab konversi lahan pertanian menjadi lahan industri, yaitu:
1.      Pendapatan regional dari sektor industri lebih besar dibandingkan pendapatan regional dari sektor pertanian
2.      Penawaran investasi dari pihak swasta yang besar
3.      Adanya kegiatan industri dapat menambah lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal

Hasil wawancara kepada masyarakat dan pemerintah, faktor penyebab konversi lahan pertanian menjadi lahan industri berasal dari aspek fisik, sosial, ekonomi, dan politik.

Revisi : Untuk contoh perhitungan diatas, sub variabel Fisik tidak boleh hanya satu.  Jadi harus lebih dari satu.

Selain itu ada pula aplikasi yang memudahkan menghitung AHP yaitu Expert choice.
Read More

Follower