Menurut Djojodipuro (1992:107), dalam pengembangan teori lokasi, Isard menggunakan peralatan ekonomi seperti kurva isokuan, garis perbandingan harga dan kurva biaya. Analisa keseimbangan lokasi industri Isard memiliki dua asumsi yaitu pertama adalah bahwa aktivitas produksi industri yang bersangkutan tidak mempengaruhi variabel lokasi, seperti harga satuan angkutan, harga bahan mentah, penyebaran konsumen dan penghematan ekstern yang dibawakan oleh gejala aglomerasi; sedangkan asumsi kedua adalah bahwa tingkah laku industri yang bersangkutan tidak mengundang balasan dari pihak saingannya. Lokasi industri yang bersifat immobile tentu akan berlokasi yang dekat dengan bahan mentah, sedangkan apabila lokasi industri bersifat mobile maka perlu dilakukan pemecahan dalam penentuan lokasi industri tersebut.
Pada teori ini, diasumsikan bahwa sumber bahan mentah tidak hanya pada satu lokasi tetapi di banyak lokasi, misalnya bahan mentah 1 (B1) dan bahan mentah 2 (B2). Apabila industri bersifat immobile, maka industri berlokasi di B2. Akan tetapi, bila industri bersifat mobile maka lokasi industri bisa ditentukan dengan menggunakan kurva transformasi jarak dari daerah konsentrasi konsumen (K) ke B1. Bentuk kurva tersebut dipengaruhi oleh jarak antara titik lokasi satu dengan yang lainnya.
Gambar 5. Keseimbangan Lokasi; Garis Transformasi Putus-Putus



Garis transformasi SHJT bersama price-ratio line AD menentukan keseimbangan lokasi parsial industri (perusahaan) di titik J. Keseimbangan yang ditunjukkan oleh J dapat diterima (valid) karena melalui titik ini terdapat sarana angkutan ke B1, B2, dan K, selain itu titik J merupakan titik menyentuh price-ratio line. Keseimbangan tersebut juga menentukan jarak optimum dari kedua lokasi bahan mentah dengan jarak dari K diasumsikan konstan (sehingga tidak digambar).
Keseimbangan lokasi yang dicari baru diketemukan bila ketiga keseimbangan lokasi parsial ini berimpit dalam satu titik yang disebut full equilibrium. Bila variabel jarak yang harus dipertimbangkan untuk menentukan lokasi semakin banyak, maka untuk menemukan full equilibrium, semakin banyak pula penentuan keseimbangan parsial. Dengan kata lain, untuk n jarak diperlukan ½ n (n-1) keseimbangan lokasi parsial untuk menemukan full equilibrium.





Read More
Pada teori sebelumnya yaitu teori lokasi Palander belum mencakup segi entry dan diminishing returns. Segi tersebut mendapat perhatian oleh Edgar Hoover, dimana teorinya masih banyak dipengaruhi oleh teori Palander. Berdasarkan atas asumsi persaingan bebas dan mobilitas tenaga, Hoover berpendapat bahwa lokasi industri ditentukan oleh biaya angkutan dan biaya produksi. Misalnya pada industri pertambangan batu bara akan berlokasi di area yang memiliki bahan tambang. Akan tetapi, perlu dilihat sampai sejauh mana pasar yang akan dijangkau. Jangkauan ini ditentukan oleh tinggi harga yang diminta oleh si pengusaha dan dibayar oleh konsumen. Sebaliknya harga merupakan biaya penambangan ditambah dengan biaya angkutan ke tempat lokasi konsumen; dalam hal ini diasumsikan kegiatan penambangan telah memperhitungkan keuntungan. Oleh karena itu, semakin jauh pasar yang dijangkau, makin tinggi keuntungan yang diperoleh pengusaha yang bersangkutan. Bila seorang pembeli menghadapi dua industri pertambangan yang satu berlokasi di T1 dan yang lain di T2, maka pembeli dapat memilih untuk membeli dari penjual yang menawarkan harga yang paling rendah. Hoover memperhatikan berlakunya law of diminishing returns dalam industri pertambangan, dimana hal tersebut sebagai perbaikan terhadap teori Weber. Semakin jauh daerah pasar yang dilayani, semakin banyak yang harus diproduksikan dan berlakulah hukum tersebut (Djojodipuro, 1992:103).

(a) Increasing Returns


(b) Decreasing Returns


Gambar 1. Batas Pasar Antara Dua Industri

Seperti pada gambar tersebut, maka sumbu tegak menggambarkan biaya produksi dan juga keuntungan, sedangkan sumbu datar adalah daerah pasar berbentuk garis linear yang dilayani oleh industri pertambangan T1 dan T2. Kedua industri ini diasumsikan berproduksi dibawah kondisi yang sama yaitu increasing returns atau ditinjau dari segi biaya decreasing cost, selain itu, industri menghadapi harga yang satuan angkutan yang sama pula. Kondisi yang pertama ditunjukkan oleh biaya yang bertambah kurang dari sebanding dengan pertambahan luas pasar yang sama, sedangkan yang kedua ditunjukkan oleh kemiringan garis angkutan yang sama. Bila industri pertambangan yang berlokasi di T1 melayani pasar sejauh A, maka biaya produksi (termasuk keuntungan) industri tersebut di tempat lokasi industri adalah T1 –a dan a –a’ menggambarkan bagaimana biaya angkutan meningkat dari pusat pertambangan T1 hingga di pasar A; harga batu bara per satuan tertentu (misalnya ton) di A adalah A – a’. Bila pasar yang dilayani meluas hingga B, maka produksi harus ditingkatkan dan biaya produksi akan meningkat dengan a – b. Garis b – b’ menunjukkan bagaimana biaya angkutan meningkat dari pusat pertambangan hingga ke B, harga batubara ke B adalah B – b’. Garis a – a’ dan b – b’ berjalan sejajar satu sama lain, karena harga satuan angkutan yang dihadapi oleh industri pertambangan yang berlokasi di T1 diasumsi tak berubah karena produksi yang makin besar tersebut. Jika industri tersebut meluaskan pasar hingga C, maka biaya produksi akan makin meningkat dengan b – c yang lebih kecil daripada a – b. Berdasarkan atas uraian yang sama, dapat ditemukan titik c. Gambar 1 (a) menunjukkan bahwa a – b, b – c, c – d berturut – turut semakin kecil. Keadaan ini menunjukkan terjadinya gejala increasing returns (decreasing cost). Bila titik a’, b’, dan c’ dihubungkan satu sama lain, maka garis a’ b’ c’ merupakan garis marjin (margin line), garis ini merupakan tempat kedudukan harga penyerahan di setiap pasar sepanjang pasar linear yang dapat dilayani. Apa yang dapat dijalankan industri pertambangan di lokasi T1 dapat pula dilaksanakan pada industri pertambangan berlokasi di T2. Dengan demikian diperoleh garis marjin bagi industri pertambangan kedua ini yang bentuknya ditentukan oleh tinggi biaya dan kondisi produksi, sebagai akibat berlakunya law of diminishing returns serta harga satuan angkutan. Pada titik perpotongan kedua garis marjin, kedua perusahaan tersebut menawarkan harga yang sama; di tempat lain salah satu menawarkan harga yang lebih rendah. Titik perpotongan tersebut sebagai batas pasar kedua industri tersebut (Djojodipuro, 1992:104-106).

Selain industri pertambangan, kondisi tersebut juga dapat dilakukan pada industri pengolahan. Bedanya industri pertambangan tidak dapat mobil karena lokasi bahan baku mentah, sedangkan industri pengolahan tidak, sehingga dapat mobil. Pada industri pengolahan selain berlaku diminishing return juga berlaku law returns to scale dimana dapat digambarkan dalam jalan garis marjin yang merupakan refleksi kondisi produksi industri yang bersangkutan. Pada garis increasing returns, garis marjin akan semakin landai, makin jauh pasar yang dilayani, sedangkan pada decreasing returns, garis marjin akan semakint terjal. Sehingga pada kasus tersebut mungkin saja garis marjin tersebut tidak berpotongan. Bila kedua garis marjin tersebut berpotongan, maka seluruh pasar dilayani oleh kedua perusahaan yang bersangkutan dan entry oleh perusahaan lain akan sulit. Sebaliknya, jika decreasing returns to scale bekerja secara tajam, maka mungkin sekali garis marjin kedua perusahaan tadi tidak berpotongan dan perusahaan yang bersangkutan hanya melayani sebagian pasar yang tersedia – lihat gambar 1 (b); maka keadaan tersebut mengundang entry oleh perusahaan lain. Gejala entry mudah terjadi dengan industri pengolahan yang lokasinya lebih bebas daripada industri pertambangan. Dengan memasukkan masalah entry maka teori Hoover merupakan kerangka pemikiran bagi pengaruh lokasi daerah pasar terhadap distribusi spasial industri yang bersangkutan. Hoover juga mengatakan bahwa lokasi industri dapat ditentukan dengan menggunakan isodapan seperti pada teori Weber. Lokasi industri dapat berorientasi ke tempat bahan mentah, pasar, atau di antara keduanya (Djojodipuro, 1992:106).


Pada gambar 2 (b), mengatakan bahwa industri menggunakan material di X kemudian menjualnya di pasar Y, gradien biaya pemindahan XY dan x’ y’ menunjukkan secara berurutan biaya pergerakan bahan jauh dari X dan biaya pendistribusian terhadap pasar pada Y. Jarak vertikal x ke y merupakan tempat lokasi alternatif. Pemberhentian atau terminal atau muatan pada sumber bahan dan Yy merupakan biaya terjadi dalam pendistribusian jika pabrik tersebut ada pada pasar. Kurva x’’ y’’ merupakan biaya transfer total (jumlah xy dan x’ y’) dan menunjukkan lokasi biaya yang kecil pada y. Dengan gradian convex, maka jumlah biaya lebih dibatasi di antara x dan y. Pengaruh dari titik trans-shipment diilustrasikan dengan mengasumsikan suatu kota T merupakan biaya pemindahan tambahan yang terjadi. Lokasi dalam kota menghindarkan muatan trans-shipment (pengiriman barang) dan akan memberi keuntungan pada sumber material (Smith, 1971:83-84).
 Hoover juga berpendapat sama seperti Palander, bahwa sumber bahan mentah dan pasar lebih menentukan lokasi industri daripada biaya angkutan. Jika dijumpai suatu lokasi dalam segitiga lokasi maka keadaan ini lebih ditentukan oleh tersedianya tenaga murah di tempat tersebut. Sehingga pengaruh biaya angkutan justru akan mendorong industri untuk berlokasi di tempat bahan mentah, pasar, atau persimpangan lalu lintas yang tidak jarang merupakan transport breaking point (Djojodipuro, 1992:107).





Read More
Gambaran Umum Pulau Sebatik
Pulau ini terletak di bagian utara Kalimantan Timur yang dimiliki oleh dua negara, sebelah utara dan barat pulau ini berbatasan langsung dengan Malaysia dimana dibagi menjadi Kecamatan Sebatik dan Sebatik Barat dengan total luas 246,61 km2. Letak geografis tersebut merupakan potensi besar bagi daerah ini untuk mengembangkan jalinan hubungan internasional dengan dunia luar khususnya negara Malaysia, sehingga mampu memcerminkan kemajuan pembangunan di wilayah Republik Indonesia.

Kawasan perbatasan Kalimantan memiliki aksesibilitas yang tinggi terhadap kota-kota di Malaysia seperti Kota Tawau, sedangkan aksesibilitas antar kota-kota di Kalimantan Timur sendiri masih sangat rendah. Pada tahun 2007, jumlah penduduk Kecamatan Sebatik sebesar 16% dan Kecamatan Sebatik Barat Sebesar 9%. Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di Kecamatan Sebatik sebesar 194,24 jiwa/km2, kemudian di Kecamatan Sebatik Barat sebesar 77,56 jiwa/km2. Secara keseluruhan, persentase penduduk yang bekerja menurut lapangan pekerjaan utama tahun 2007 yang paling banyak pada sektor pertambangan penggalian, pertanian dan perdagangan dengan persentase masing-masing untuk pertambangan sebesar 51,478 %, pertanian sebesar 24,823 % dan perdagangan 11,277 %. Persentase penduduk yang bekerja pada sektor keuangan, listrik, gas dan air minum, bangunan, komunikasi/transportasi, listrik, gas dan air serta yang lainnya sebesar 0 % - 5 %.
Kegiatan ekonomi mayoritas di Sebatik pada sektor pertanian dengan komoditas berupa padi, palawija, buah-buahan, sayur-sayuran, sedangkan sektor perkebunan kakao, kelapa dalam, dan kopi. Sektor perikanan yang dominan adalah perikanan laut dan tambak.
Selain itu dari segi transportasi, untuk menjangkau Kota Tarakan dibutuhkan waktu sekitar 3 jam dengan keberangkatan pada waktu tertentu, sedangkan untuk menjangkau Kota Nunukan harus melakukan perjalanan darat selama 2 jam kemudian ke dermaga Bambangan dan menempuh Kota Nunukan sekitar 15 menit. Dermaga yang ada di Sebatik yaitu Sungai Nyamuk dimana selain bisa menjangkau Tarakan bisa menjangkau Tawau, Malaysia. Sedangkan untuk menempuh perjalanan ke Tawau cukup perjalanan 15 menit menggunakan speedboat, dan jam keberangkatan pun dari pagi hingga sore. Oleh karena itu, tidak mengherankan masyarakat Sebatik memilih melakukan aktivitas ekonomi ke Tawau dibanding ke Tarakan atau kota-kota lainnya di Kalimantan Timur (Noveria, 2006:35).

Aplikasi Teori Von Thunen
Sebenarnya pusat kota di Kabupaten Nunukan yaitu di Kecamatan Nunukan, sedangkan Kecamatan Sebatik lebih bersifat sebagai daerah yang memproduksi hasil komoditas pertanian atau perkebunan. Hasil komoditas yang masih berupa barang mentah dari Sebatik diekspor ke Malaysia kemudian diolah menjadi barang jadi yang kemudian dibeli dari Malaysia. Hasil komoditas pertanian di Sebatik berupa padi sawah, sedangkan hasil bumi lainnya yaitu kelapa sawit, kakao, pisang, sayur-sayuran, dan ikan, dimana hasil komoditas tersebut dijual ke Malaysia (Tawau/Sebatik Malaysia), sedangkan kebutuhan sehari-hari seperti gula, telur, elpiji, minyak goreng, hingga daging sapi dibeli oleh masyarakat Sebatik dari Malaysia. Misalnya, kelapa sawit dari Sebatik kemudian diolah di Malaysia menjadi minyak goreng yang kemudian dibeli lagi oleh masyarakat Sebatik untuk kebutuhan sehari-hari. Masyarakat Sebatik menjual hasil bumi ke Tawau karena pasar yang lebih menjanjikan, misalnya untuk kelapa sawit, pabrik pengolahan di Tawau menawarkan harga sekitar 600 RM atau Rp 1,7 juta per ton tandan buah segar (TBS), sedangkan pabrik di Semanggaris, Nunukan, hanya berani membeli Rp 1 juta per ton TBS (Susilo, 2011).
Hal tersebut menyebabkan aktivitas Sebatik dan Tawau lebih tinggi bila dibandingkan Sebatik dengan kota lain di Kalimantan Timur. Adanya aksesibilitas yang tinggi ke Malaysia, maka produk yang ada di Sebatik didominasi oleh produk-produk Malaysia, mulai dari makanan, minuman (susu, minuman coklat), barang keperluan rumah tangga, seperti gula, minyak goreng, gas untuk memasak, ember, dan lain-lain.
Sangat sedikit sekali masyarakat Sebatik yang mengambil barang jadi dari Nunukan, ataupun menjual hasil pertanian/perkebunan ke Nunukan. Bahkan, yang seharusnya masyarakat Nunukan menikmati hasil pertanian Sebatik justru harus menikmati hasil pertanian dari daerah lain yaitu dari Pare-Pare, Sulawesi Selatan (Ruru, 2011).
Menurut teori Von Thunen (Djojodipuro,1992:149), lokasi pertanian akan berkembang pada pola tertentu tergantung pada tujuh asumsi:
1.  Terdapat suatu daerah terpencil yang terdiri atas daerah perkotaan dengan daerah pedalamannya dan merupakan satu-satunya daerah pemasok kebutuhan pokok yang merupakan komoditi pertanian.
2.  Daerah perkotaan tersebut merupakan daerah penjualan kelebihan produksi daerah pedalaman dan tidak menerima penjualan hasil pertanian dari daerah lain.
3.  Daerah pedalaman tidak menjual kelebihan produksinya ke daerah lain kecuali ke daerah perkotaan.
4.  Daerah pedalaman merupakan daerah berciri sama (homogenous) dan cocok untuk tanaman dan peternakan dalam menengah
5.  Daerah pedalaman dihuni oleh petani yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimum dan mampu untuk menyesuaikan hasil tanaman dan peternakannya dengan permintaan yang terdapat di daerah perkotaan
6.  Satu-satunya angkutan yang terdapat pada waktu itu adalah angkutan darat.
7.  Biaya angkutan ditanggung oleh petani dan besarnya sebanding dengan jarak yang ditempuh. Petani mengangkut semua hasil dalam bentuk segar.


Dengan asumsi tersebut maka daerah lokasi berbagai jenis pertanian akan berkembang dalam bentuk lingkaran tidak beraturan yang mengelilingi daerah pertanian.
Pada teori tersebut masih bisa berlaku di Sebatik, dimana beberapa asumsi dari teori von thunen membentuk guna lahan di Sebatik. Pada asumsi pertama, Sebatik merupakan daerah terpencil karena sulit untuk mengakses kota-kota besar di Kalimantan Timur, apalagi pada jarak yang dekat, seperti Nunukan dan Tarakan, sedangkan potensi sumberdaya alam Sebatik bisa untuk memenuhi daerahnya dan daerah lainnya. Akan tetapi, potensi tersebut justru untuk memenuhi kebutuhan negara tetangga. Pada asumsi kedua, sudah sesuai dengan kondisi di Sebatik, dimana Sebatik tidak menerima penjualan pertanian dari daerah lain, akan tetapi Sebatik hanya menerima penjualan barang-barang yang telah diolah dan menjual hasil pertaniannya ke daerah perkotaan yaitu ke Kota Tawau, Malaysia, seperti pada asumsi ketiga. Sedangkan asumsi ke empat juga sesuai karena Sebatik datarannya homogen. Sebagian besar masyarakat Sebatik bekerja sebagai petani seperti pada asumsi kelima, dan petani berusaha mencari keuntungan dari hasil pertanian yang dijual ke Tawau. Pada asumsi keenam, tidak berlaku lagi angkutan darat untuk mengangkut hasil komoditas, karena pengangkutan dilakukan dengan angkutan laut. Pada asumsi ke tujuh, biaya ditanggung oleh petani, tetapi sudah dimasukkan dalam biaya penjualan.




Pada gambar tersebut menunjukkan bahwa sebenarnya teori Von Thunen masih bisa diaplikasikan di Sebatik sebagai daerah yang terpencil. Masyarakat Sebatik tidak menjual hasil pertaniannya ke Nunukan, Tarakan, atau kota besar lainnya, karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Apabila dilakukan penjualan pada jarak yang jauh, maka keuntungan yang diperoleh juga sedikit, sedangkan pada jarak dengan pasar yang dekat, dalam hal ini adalah Tawau, maka akan memperoleh keuntungan yang besar. Misalnya saja diterapkan harga komoditas sesuai jarak tempuh transportasi, maka semakin jauh lokasi pemasaran maka akan semakin mahal juga harga jualnya, sedangkan belum tentu daerah pemasaran yang dituju akan membeli dengan harga yang tinggi tersebut seperti yang diungkapkan Susilo (2011), bahwa pedagang kelapa sawit di Sebatik lebih memilih menjual hasil perkebunannya di Tawau karena memperoleh hasil jual Rp 1,7 juta per ton tandan buah segar (TBS), sedangkan di Nunukan hanya membeli Rp 1 juta per ton TBS. Dalam jarak yang dekat pedagang Sebatik sudah memperoleh harga jual yang lebih tinggi daripada menjual dagangan pada jarak yang jauh. Oleh karena itu, bila ingin meningkatkan pemasaran hasil komoditas di Sebatik, maka perlu perbaikan prasarana transportasi/jaringan jalan antara penyedia bahan baku dengan pasar/wilayah lainnya, sehingga aksesibiltas antar daerah semakin tinggi. Dengan akses yang cepat ke daerah lainnya kemungkinan hasil penjualan juga akan meningkat.

Kesimpulan
Teori Von Thunen masih bisa dilakukan pada daerah-daerah terpencil, pemasaran hanya pada daerah-daerah yang memungkinkan dilakukan pemasaran. Semakin jauh dari pusat kota, maka akan semakin mahal juga sewa lahannya, dalam artian biaya transportasi yang ditanggung semakin besar, sedangkan balik modal kecil. Hal tersebut yang menyebabkan interaksi antara Sebatik – Tawau lebih sering dibanding Sebatik – Nunukan/Tarakan dikarenakan aksesibilitas Sebatik – Nunukan/Tarakan rendah. Sebatik sebagai daerah penyedia bahan baku bagi Tawau, Malaysia, sedangkan Tawau sebagai penyedia bahan jadi bagi Sebatik. 


Read More
Alors, lama yaaa nggak nge-blog lagi...
gara-gara banyak tugas ini, jadi deh nggak sempet nge-blogging.
Hmm... Sebulan kuliah ternyata cukup bikin penat sih, pengennya jalan kemana gitu, tapi kalau jalan di semarang, ajegile jauh amat kalau mau ke pusat kota, panas, kesel, hadueh, akhirnya aku pilih renang ajah, nggak butuh waktu yang lama, setidaknya dua jam lah, udah bisa refresh, sehat lagi :-)

Sebelumnya sih, sempet nyari-nyari info tempat renang di Semarang, kalau dekat-dekat daerah Tembalang ada di Bukit Sari, di Kodam, sama di Gombel Lama. Setelah siap-siap, berangkatlah aku ke Bukit Sari. Karena termasuk di daerah perumahan, walaupun ada alamatnya tetap saja harus tanya. Setelah tanya satpam, akhirnya dapat juga alamat kolam renang di Villa Bukit Mas Jalan Bukit Duta 2-4 Kompleks Bukit Sari.

Setelah sampai di tempat renangnya, sempet bingung sih, ini kok sepi amat yahh... Pas tanya sama orang sana, ternyata aku memang terlalu cepat datangnya, biasanya jam 4 lewat baru banyak yang datang, lah aku datang jam 4 kurang. tapi nggak apa-apalah, pengenalan lapangan dulu, halah :-D



Selanjutnya pendaftaran dulu, sempet kaget niy, biayanya 20.000 yah kalo di malang sih 15.000, tapi habis itu biasa lagi, baru sadar kalau aku lagi di ibukota provinsi, hehhehe.. ya wajarlah harga segitu masih termasuk murah. Padahal sebelumnya pengen banget renang di Patra Jasa, jadi kebayang harga renang di hotel bisa 2,5kali lipat kali yah..
Setelah ganti baju, akhirnya naiklah aku ke kolam renangnya.....


Akhirnyaa pulang dengan bahagia, keturutan juga renang setelah sekian lama nggak renang. Ntar di update deh kalo renang di tempat lain :D




Read More

Kalo aku ke rumah temenku gemes banyak kucing persia. Pertama teman aku cuma punya satu kucing, trus punya pasangannya akhirnya menghasilkan anak cucu cicit banyak,..
yang aku heran, telaten banget mama sama temenku merawat kucing persia...
sampe ngelahirin aja dibantuin (bantuin ngeluarin anaknya)

Perawatan kucing persia sebenarnya nggak terlalu kompleks sih tapi ternyata mahal hahah misal dikasih vitamin juga..makannya juga makanan kucing..
Kalo mau BAB atau BAK tu udah disediain ember isi pasir, jadi kucingnya kalo mau nglakuin aktivitas itu ...

tingkah-tingkahnya kucing ni macem2 :
ada yang kalo digendong sukanya nyium2in kita, bener2 geli, pernah aku gendong terus nyium2 leher ma pipi aku, kacau ga seyh..

buyutnya tuh si mini sukanya tidur di kursi, kalo dah tidur dikursi ga ada yang boleh ganggu, kalo ga dicakar.
ada yg suka deket2 ke kaki manusia, apalgi orang baru di rumah temenku.
kalo udah pada mainan, rumah tuh udah kaya arena balap lari, sebanyak itu lari2 gitu, bayangin kan...
ada yang suka gigit-gigit jempol
apa lagi yah kebiasaan kucingnya ?? lupa ga tanya 


Ternyata kucing bisa tertib kalau kita ajarin tertib :)

Nama-nama kucing milik temenku dan turunan-turunannya..
Mini + miko (mati)

punya anak :
chery , luis , olive , blacky , bombom

trus cucu-cucunya :
milo , nyinyi, donal , bimbim , king

trus cicit-cicitnya :
ada 5 bayi, masih kecil belum dikasih nama

yang udah diadopsi ada 8, nama-namanya : josh, roger, maya, munke, nyuknyuk, leri, puppy, sisil

total kucing kalo ga mati en ga diadopsi sebanyak 25 kucing, itu tahun 2010, kalau tahun 2011 belum tau aku, hehe..


Read More
katanya sih kalo belajar dari lagu salah satu metode biar cepet belajar bahasa asing..ni aku dapet lagu Carla Bruni judulnya Le plus Beau Du Quartier, lagu yang dinyanyikan dalam iklan anti nyamuk kayanya.. tapi ngartiinnya pake google translet ni, setidaknya bisa diambil pelajarannya...

Artist: Carla Bruni
Album:
 Quelqu’un M’a Dit (2002)
Títle:
 Le Plus Beau Du Quartier




Regardez-moi 
arti : look at me. Sebenarnya bentuk kata dasarnya Regarder, tapi karena bentuknya imperatif (perintah), maka akhiran -er diubah menjadi –ez dimana perintah kepada Anda yang lebih sopan, kemudian dikasih tanda strip (-) dan objeknya moi (saya). Sehingga regardez-moi diartikan lihatlah saya. Beberapa contoh berikut tentang kalimat imperatif:
Imperatif kata kerja berakhiran –er:
Manger (makan)
Mange le pain! (makanlah roti itu!) à perintah kepada kamu
Mangeons le pain! (mari kita makan roti itu!) à perintah kepada kita semua
Mangez le pain! (makanlah roti itu!) à perintah kepada anda (lebih sopan)

Je suis le plus beau du quartier
arti : I am the most beautiful neighborhood. Je (saya), Suis (to be : am), le plus (most), beau (beautiful), du quartier (neighborhood). Le plus itu dalam bahasa inggris menyatakan superlative. 

J’suis l’bien aimé
arti : I'm the beloved. Ternyata Je suis bisa disingkat jadi J'suis, mungkin itu yang non-formal kali ya. soalnya biasanya Je kalo ketemu huruf vokal pada kata selanjutnya digabung, misalnya Je ai menjadi J'ai (adalah atau perbuatan yang telah dilakukan)

Dès qu’on me voit
Arti : As soon as you see me

On se sent tout comme envouté
Arti : It feels like bewitched

Comme charmé
Arti : as charmed

Lorsque j’arrive
Arti : when I arrive. Kata Lorsque bisa diartikan “ketika, sementara itu, padahal”. Dan sebenarnya bisa juga menggunakan kata Alors que, artinya juga sama dengan arti Lorsque.
Kata J’arrive itu dari kata Je arrive. Sebenarnya arrive itu dari kata arriver, kemudian berubah karena ada subjek ‘saya’ atau ‘Je’, perubahan kata kerja tersebut bisa dilihat berdasarkan subyek2 berikut:
Je arrive = saya datang
Tu arrives = kamu datang
Il arrive = dia (lk) datang
Elle arrive = dia (pr) datang
Nous arrivons = kami datang
Vous arrivez = Anda datang
Ils/Elles arrivent = mereka (lk/pr) datang
Kata tersebut merupakan tensis “present”

Les femmes elles me frôlent de leurs
Arti : The women I graze their

Regards penchés
eyes examined

Bien malgré moi (hé) In spite of myself (hey)
Je suis le plus beau du quartier
I am the most beautiful neighborhood
Est-ce mon visage
Is my face

Ma peau si finement grainée
My skin is so finely grained
Mon air suave My sweet air

Est-ce mon allure Is my pace

Est-ce la grâce anglo-saxonne Is it through Anglo-Saxon
De ma cambrure My arch
Est-ce mon sourire is my smile
Ou bien l’élégance distinguée Or the distinguished elegance
De mes cachemires My cashmere
Quoi qu’il en soit Anyway
C’est moi le plus beau du quartier
I am the most beautiful neighborhood
Mais prenez garde à ma beauté But watch out for my beauty
A mon exquise amabilité In my exquisite friendliness
Je suis le roi I am the king
Du désirable the desirable
Et je suis là indéshabillable
And I'm here indéshabillable

Observez-moi
Watch Me

Observez-moi de haut en bas
Look me up and down


Vous n’en verrez pas deux comme ça You will not see it as two 


J’suis l’favori
I'm the favorite

Le bel ami
The beautiful friend 

De toutes ces dames
Of all the ladies 

Et d’leurs maris
And their husbands


Regardez-moi
Look at me 


Je suis le plus beau du quartier
I am the most beautiful neighborhood 


J’suis l’préféré I'm the favorite 


Mes belles victimes My beautiful victims 


Voudraient se pendre à mes lacets Would want to hang my shoelaces 


Ca les abîme It's the abyss 


Les bons messieurs, eux Good gentlemen, these 


Voudraient tellement m’déshabiller
So would m'déshabiller 


Mais prenez garde à ma beauté But watch out for my beauty 


A mon exquise amabilité In my exquisite friendliness 


Je suis le roi I am the king 


Du désirable The desirable 


Et je suis là indéshabillable And I'm here indéshabillable 


Observez-moi Watch Me 


Observez-moi de haut en bas Look me up and down 


Vous n’en verrez pas deux comme ça You will not see it as two


J’suis l’favori I'm the favorite 


Le p’tit chéri The little darling 


De toutes ces dames Of all the ladies 


Et d’leurs maris
And their husbands 


Aussi 
Arti : Also (juga)        
 



I haven't finished my translation yet, I'm still learning Franchaise, so if you want to criticize my translation, because this is still wrong translation, right? :) you can put your comments on :)
Read More

Follower