Setelah melahirkan sekitar 8 bulan lalu, seorang teman mengunjungiku. Pada saat itu, kondisiku masih capek sekali, iyalah si baby masih sering mengajak begadang, karena belum pake pospak atau clodi jadi mesti ganti beberapa kali tiap beberapa menit karena buang air besar dan kecil. Apalagi saat itu asi belum keluar, jadilah tambah kegalauannya padahal sudah hari ketiga dan anak sudah sering menangis.

Dia berkata aku kena baby blues syndrome. Ha?? Apa pula itu, aku nggak paham. Dia menjelaskanku secara singkat artinya. Masak sih? Kayaknya rasa capek dan galaunya sama seperti saat sebelum nikah kalau capek dan galau. Kayajnya baby blues semacam syndrome yang (katanya) selalu dialami ibu-ibu baru.

Well, pada akhirnya setelah beberapa bulan ia meminjamkanku buku berjudul Oh, Baby Blues karya Mamiek Syamil dan Dina Sulaeman. Buku yang menceritakan pengalaman baby blues yang dialami ibu-ibu baru dan tipsnya.

Buku Oh, Baby Blues

Apa itu Baby Blues Syndrome?

Awalnya aku nggak begitu paham dengan sindrom itu. Tapi setelah aku baca buku itu, aku mulai paham. Baby blues syndrome itu adalah perasaan kegalauan hati, sedih, bisa sampai menangis bahkan marah. 

Kalau menurut bukunya, biasanya yang dirasakan seperti rasa sedih, tidak menentu, air mata berlimpah, kurang atau tidak bisa tidur, nafsu makan berkurang, sulit berkonsentrasi, cemas, sangat sensitif terhadap kritikan atau saran.


Berapa lama?

Rata-rata perasaan itu akan berkurang setelah 4 hari melahirkan atau menghilang setelah 10 hari. Kalau menurut bukunya sih, kalau sampai sebulan masih mengalami hal seperti itu bisa disebut postpartum atau postnatal depression yang artinya depresi setelah melahirkan. Menanggapi hal ini, aku merasa belum sreg dengan penjelasannya.

Setelah 8 bulan mengasuh anak, rasa-rasanya kadang perasaan sedih, galau, cemas masih muncul, apalagi saat anak sakit. Rasa sedihnya berkali-kali lipaaat.. Anak sekecil itu ngerasain sakit apa ya nggak kasian... kasian kan..kasiaan hehehe... Terus apa ya si ibu disebut mengalami depresi?? Hadah, aku malah nggak terima donk. Menurut itu itu masih dibatas normal perasaan ibu ke anaknya. Bahkan sampai anak kuliah pun, si ibu juga pasti merasakan kesedihan dan kegalauan memikirkan anaknya. Itu mah noormaalll...


Penyebab Baby Blues Syndrome?

Menurut bukunya, penyebab sindrom baby blues diduga karena perubahan hormon sang ibu. Selama hamil, hormon ibu meningkat. Setelah melahirkan, plasenta keluar, jumlah produksi hormon, seperti estrogen, progesteron, dan endorfin mengalami perubahan yang berpengaruh terhadap kondisi emosional sang ibu. Selain itu, ovarium yang tidak aktif selama hamil, sudah mulai kembali memproduksi hormon seperti sebelumnya.
Penyebab lainnya adalah kondisi ibu yang capek, rasa sakit setelah melahirkan, asi yang belum keluar, bahkan bengkak yang dirasakan karena asi tidak keluar menyebabkan demam. 


Penyembuhan

Sindrom ini jelas bisa diobati.  Pengobatan dilakukan dengan terapi, dukungan orang sekitar, seperti suami, orang tua, dan saudara. Menurut buku ini, bisa juga dengan konsumsi obat antidepressant. pfiuh...


Pengalaman Ibu-Ibu


Baca buku ini, baby blues syndrome banyak dialami oleh ibu-ibu yang tinggal dan melahirkan di luar negeri. Pengalaman saya tinggal di Prancis saat kuliah terbayang betapa kerasnya hidup di negara dengan sifat individualis yangtinggi. Apalagi anak pertama, yang belum tahu apa-apa dan masih butuh bantuan.

Dalam buku ini, dijelaskan pengalaman setiap ibu dengan kelahiran buah hati mereka. 

Seseorang ibu di Amerika yang bersikeras nggak mau operasi caesar, tapi karena sudah pembukaan besar tapi bayi tidak keluar maka dokter menyarankan untuk caesar. Suaminya tidak bisa cuti karena masih pegawai baru. Jadilah sang istri di rumah sakit tanpa ada yang menemani. Sepulangnya dari rumah sakit, istri harus harus begadang, belum lagi dia mengurus sendirian, tidak ada orang tua. Dia menangis sendirian, mudah marah. Suaminya yang berkomunikasi dengannya membuat ibu baru ini merasa tenang. Hingga akhirnya perasaan itu hilang semenjak ia selesai nifas dan bisa sholat.

Ada pula kejadian dinginnya komunikasi istri dan suami dicairkan setelah berkomunikasi melalui email. Istrinya menganggap suaminya tidak mau membantunya, maunya hanya menikmati senyum dan tawanya tanpa mau bersusah payah merawat anak. Sampai akhirnya suaminya mengatakan melalui email bahwa ia tidak mengerti bagaimana merawatnya. Kebekuan diantara mereka pun mereda.

Ada juga seorang ibu baru stres saat mendengar anaknya nangis di gendongannya, saat disusui malah teriak-teriak dan berhenti menangis saat digendong suster. Begitu sampai di apartemen pun bayi masih sering menangis, hanya bisa diam saat di gendong. Si ibu baru yang kelelahan mulai sedih. Suaminya sibuk dengan kuliahnya, sehingga sering meninggalkan istri yang baru melahirkan dengan ibu kandungnya. Belum lagi anaknya yang sering muntah setiap disusui. Dan si ibu anak ini mengalami mastitis hingga merasa demam dan harus datang ke rumah sakit lagi. Ia sempat marah dengan suaminya yang tidak membantunya dalam mengasuh anak bayi. Tapi suaminya malah protes balik kalau dia tidak tahu harus berbuat apa. Setelah ibu kandungnya nalik ke indonesia, suami ini yang akhirnya membantu semua pekerjaan rumah.

Sepasang suami istri pun juga menulis kisah mereka di awal-awal baru menmiliki anak dengan dua pandangan sebagai istri dan suami. Sang istri yang sangat moody dan suami yang mengerti bahwa itu bukan sifat istrinya. Suaminya bhakan rela meninggalkan beasiswa masternya yang kedua demi menemani istrinya melewati hari-hari sebagai ibu. Mendampinginya, membantunya membereskan rumah dan mengasuh anak mereka. Sempat juga di bawa ke psikolog. Lama-lama mereka terbiasa dengan ritme baru sebagai seorang ibu dan ayah. Suaminya merasa memang jalan satu-satunya adalah menemani istrinya di awal menjadi ibu. Karena itu yang dibutuhin seorang ibu baru. Karena mereka waktu itu tinggal di luar negeri dimana tidak ada yang membantu sang istri selain suaminya sendiri.
  Kritikan-kritikan dari orang sekitar pun membuat perasaan ibu-ibu baru yang lagi sensitif itu mudah tersinggung. 
"Kok nggak dikasih bedak?"
"Kok mandiinnya gitu?"
"Gendongnya jangan gitu"
"Bedongny begini loh"
"Kok sembrono gitu" 
Lah, iya sih, maksudnya baik, tapi bagi ibu-ibu baru yang lagi capek, sensitif, lama-lama bikin males juga. Kayaknya berlebihan banget yah? Tapi nyatanya sih gitu. Ada yang ngga nanggepin, cuma dibalas senyum. Ada yang ditanggepin biasa. Ada yang sampe puncaknya akhirnya malah nangis didepan ibunya sendiri (duh, kalau ini mah kayaknya akut banget).

Cara Mengatasi

Berdasarkan pengalaman ibu-ibu baru yang dijelaskan dalam bukunya, cara mengatasi sindrom baby blues yaitu:


  • Mengaji dan sholat sebanyak mungkin setelah nifas
  • Peran suami yang besar dalam menghibur dan menenangkan istri
  • Mencari teman yang bisa diajak serius mendengarkan keluhan
  • Membagi tugas rumah dengan suami.
Demikian ulasan singkat mengenai Baby blues syndrome dan pengalaman ibu-ibu baru dari buku Oh, Baby Bluea. Semoga bermanfaat.


Read More
Setelah ngebahas tips kuat puasa ramadhan saat hamil, sekarang share tentang tips kuat puasa saat menyusui, ahayyy... Lagi-lagi postingan telaat nih, gara-gara nggak punya waktu buat nulis anteng di blog.. tsaah, nyibuk ni yee..

Puasa saat menyusui


Pas menjelang puasa ramadhan, mertua udah nanyain aku ikut puasa? sempat bingung juga. Duh kira-kira kuat nggak yah puasa saat menyusui? duh, nanti anakku gimana ya? secara waktu itu masih asi ekslusif, mpasi bayi masih 1 bulan lagi. Mertua pernah bilang saat kecilnya suami, ibu mertua puasa saat menyusui, tiga hari puasa, anaknya sakit demam. Bertambahlah galau. Setelah bincang-bincang dengan kakak ipar, syarat bayar fidiyah kalo misal udah nyoba puasa sehari dua hari ternyata anaknya demam baru nggak puasa dan bayar fidiyah, tapi kalau anaknya baik-baik saja ya dilanjut aja.

Well, akhirnya, aku memutuskan untuk puasa. Hari pertama puasa terlalui dengan baik, walaupun agak lemes, dan anak sedikit rewel karena asi nggak banyak. Hari kedua juga gitu, anak mulai rewel karena asi mulai sedikit.

Mertua sudah mewanti-wanti, nggak usah dilanjutin yo kalau anaknya rewel. Akhirnya malam ketiga, aku mulai melakukan cara-cara agar tetap semangat dan asi tidak kurang saat puasa. Tidak jauh berbeda dengan tips-tips puasa saat hamil, bedanya hanya di jenis susunya. Kalau sudah menyusui minumnya ya susu untuk menyusui atau madu menyusui. Ini dia hal-hal yang aku lakuin agar puasa kuat saat menyusui.


Saat sahur


  • Niat puasa dan meminta kekuatan untuk menjalankan puasa saat menyusui
  • Bangun paling lambat 1 jam sebelum imsak. Kalau belum masak ya dua jam sebelum imsak. Biar tidak terburu-buru saat makan.
  • Minum air putih 1 gelas.
  • Makan Kurma terserah jumlah berapa, kalau Rasulullah sih mencontohkan 7 biji, kalau aku biasanya 3 sampe 5 biji, segitu aja udah lumayan kenyang.
  • Makan seperti biasa, ada daging/tempe/tahu/ikan/ayam Usahakan makan sayur dan buah yg banyak ya biar kuat puasanya. Bagus juga buat menyusui. 
  • Minum susu khusus ibu menyusui atau madu menyusui. Waktu itu aku tambah milo biar tambah berenergiiii, lagian rasanya enak sih. Kalau nggak mau dicampur milo juga nggak apa-apa

Saat Berpuasa

Jangan melakukan aktivitas yang banyak menguras tenaga. Sakingnya biar nggak terlalu lemas. Jadinya waktu puasa, kegiatanku cuma menyusui, cuci baju, kadang setrika, tidur, online. Jarang banget keluar rumah kecuali kalau untuk kulakan (maklum ibu-ibu pedagang online shop bahan craft)


Saat Buka Puasa


  • Minum air putih
  • Makan kurma secukupnya
  • Makan buah atau takjil (makanan buka puasa)
  • Makan nasi, lauk dan sayur
  • Minum susu ibu menyusui atau madu menyusui, setelah taraweh juga nggak apa-apa. Karena saya minum sekali sehari sudah cukup.
Karena masih full menyusui, alhamdulillah, puasanya bisa full. Kecuali kalau anaknya lagi sakit ya, saran saya mending nggak usah puasa. Karena kalau ibunya puasa, katanya rasa asinya beda.

Read More
Sepertinya ini menjadi postingan yang sangat-sangat terlambat. Harusnya memang pas lagi hangat-hangatnya puasa Ramadhan di posting, tetapi karena nggak sempet-sempet, jadilah di posting sekarang. Semoga bisa membantu ibu-ibu hamil yang akan berpuasa, nggak hanya saat Ramadhan, tapi juga puasa senin kamis, ataupun puasa dzulhijah.



Pengalamanku puasa saat hamil empat bulan, hari pertama lemas, hari selanjutnya mulai terbiasa. Awalnya disuruh buka puasa kalau lemas, tapi entah kenapa waktu badan (merasa) masih kuat. Sempat tahu info juga, beberapa tips agar kuat puasa Ramadhan saat hamil empat bulan. Waktu itu kebetulan, aku lagi hamil empat nulan. Alhamdulillah sudah kembali normal mood makannya. Mual dan muntah pun sudah berkurang.

Saat sahur


  • Bangunlah paling lambat 1 jam sebelum imsak. Agar saat makan tidak terburu-buru dan cukup makanan yang masuk ke perut.
  • Makan sayur dan buah. Sayur dan buah ini sebagai penahan lapar dan haus. Yah, walaupun kalau puasa pasti haus dan lapar, tapi jauh lebih baik.
  • Karena saya bukan penganut program fc atau food combining, maka saya makan nasi dan ikan/ ayam/daging.
  • Jangan lupa minum vitamin ibu hamil atau vitamin penambah darah (ini dapatnya dari puskesmas)
  • Makan kurma, minimal 5 biji
  • Minum susu ibu hamil atau susu apapun lah yang disenengin biar tambah kuat.
  • Minum air putih yang cukup, misalnya 1 gelas setelah bangun tidur, 1 gelas setelah makan, 1 gelas mepet imsak. Kalau bisa lebih malah bagus.


Saat buka puasa

  • Minum yang manis-manis untuk memulihkan tenaga
  • Makan kurma
  • Makan nasi juga buah, sayur, daging/ikan/ayam/tempe/tahu. Porsi makan nasi secukupnya. Yang jelas setelah taraweh makan nasi lagi. Jadi pas lah 3x sehari.

Setelah Taraweh

  • Di waktu-waktu mulai mengantuk ini biasanya udah males banget buat makan. Tapi harus tetap dilakuin, kalau nggak kasian dedeknya dalam perut. Butuh nutrisi, emaknya juga butuh tenaga buat menghadapi puasa besoknya. Makannya seperti biasa aja.
  • Jangan lupa minum air putih yang banyak.
  • Minum vitamin juga
Jadi utamanya perbanyaklah makan buah dan sayur atau salah satunya saat sahur, air putih juga. Jangan sampai dehidrasi, kepala pusing karena kekurangan cairan. Selamat berpuasa!
Read More
"Ada berjuta alasan mengapa kita harus tetap bangga menjadi orang Indonesia dan optimis akan masa depannya. Indonesia. It's not perfect. It's AWESOME!"

Yup

Jika kita melihat ketidaksempurnaan di negeri ini, belum tentu terdapat kesempurnaan di negara lain. Karena untukku, Indonesia jauh lebih membanggakan. Ada banyak karya anak negeri ini yang bisa membanggakan. Prestasi tidak hanya lingkup nasional maupun internasional. 

Yang lebih membanggakan lagi adalah ketika ide-ide kreatif dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitar sebagai bentuk inovasi daerah untuk Indonesia. Satu lagi ada Kabar Baik yang datangnya dari Kota Malang, sebuah kampung yang dulunya terkesan kumuh dan sering banjir kini menjadi asri dan bebas banjir. Sebuah kampung yang bisa menjadi contoh bagi pengembangan perkampungan di Indonesia. Kampung Glintung Gang IV RW 23, berada di Kecamatan Blimbing, disebut sebagai Glintung Go Green (G3) karena keberhasilannya dalam menjadikan Glintung yang peduli terhadap lingkungan. Kampung ini mulai menjalankan program penghijauan sejak akhir tahun 2012.

Apa yang Membuatnya Terkenal?

Berbeda dengan kampung lain, kampung yang mengusung konsep Green City ini telah berhasil memanfaatkan ruang yang ada untuk penghijauan. Jika daerah lain masih mengalami masalah banjir dan kekeringan, maka datanglah dan belajarlah dari Kampung G3 ini. Kampung ini berhasil mengatasi masalah banjir karena adanya biopori dan sumur injeksi/ sumur resapan. Program inovatif yang utama adalah program GEMAR atau Gerakan Menabung Air yang menjadi pionir di Kota Malang. Tidak hanya itu, taman gantung (vertical garden) dan tanaman pada kanopi menjadi elemen yang tidak ketinggalan dalam mempercantik kampung Glintung. 

Suasana Hijau di Kampung Glintung Go Green
Sumber: Dokumen Pribadi

Kampung Glintung menjadi kampung percontohan dalam keberhasilan pelaksanaan urban farming. Sudah banyak mahasiswa, pemerintah daerah juga kader lingkungan yang mengunjungi kampung ini. Bahkan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat, pernah mengunjungi Kampung Glintung pada bulan September 2015 sebagai inspirasi inovatif dalam penanganan banjir di Jakarta. Kampung ini tidak hanya mendapat dukungan dari Pemerintah Kota, Universitas Brawijaya, tetapi juga dari salah satu universitas di Tokyo, Jepang.

Uniknya lagi, saat ada warga yang ingin membuat Kartu Keluarga, Pak RW menyarankan untuk menanam satu tanaman, jika tidak mampu bisa dibantu RW. Jika tidak menanam, maka tidak akan mendapat kartu keluarga. Memang warga ada yang menentang aturan itu, tetapi lama-kelamaan warga mulai mengerti dan menerima aturan yang ada.

Berikut ini program-program pengembangan penghijauan yang berkontribusi dalam mengatasi banjir dan kekeringan:

Tanaman Hidroponik 

Kalau kita masuk dari pintu gang maka kita akan melihat tanaman-tanaman hidroponik yang tersusun rapi nan hijau tergantung di dinding bangunan pinggir jalan. Masyarakat menanam tanaman di media hidroponik ini dengan jenis tanaman yang bisa dikonsumsi seperti sayur-sayuran: kubis, cabe, daun bawang, Sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhannya sendiri dari hasil tanaman hidroponik.

Penduduk juga menanam tanaman yang bisa diperdagangkan, misalnya saat ada kunjungan wisata edukasi ke Glintung. Dari hasil penjualan ini dipergunakan warga untuk melakukan perawatan dan pemeliharaan tanaman dan sumur injeksi. Dengan tetap menghemat air, penghijauan juga bisa dilakukan dengan cara hidroponik ini. 

Tanaman Hidroponik yang Mempercantik Kampung G3
Sumber: Dokumen Pribadi
Tanaman Hidroponik di Depan Rumah Warga
Sumber: Dokumen Pribadi


Tanaman pada Kanopi

Inovasi lain dalam mewujudkan lingkungan hijau adalah dengan membuat tanaman pada kanopi. Pot tanaman digantung di kanopi. Tanaman merambat juga mulai ditanam di setiap tiang kanopi. Saat saya kesana, kanopi di gang utama belum seluruhnya ditutupi tanaman. Sedangkan kanopi di gang-gang kecil sudah tertutupi tanaman merambat.

Kanopi yang Siap Ditanami
Sumber: Dokumen Pribadi

Kanopi dengan Tanaman yang Membuat Lingkungan Asri
Sumber: Dokumen Pribadi


Tanaman Merambat yang Menyelimuti Kanopi
Sumber: Dokumen Pribadi


Taman Gantung (Vertical Garden)

Tanaman Gantung ini menjadi elemen utama dalam penghijauan Kampung G3. Saat kita masuk gang, kita sudah disuguhi oleh keindahan vertical garden. Jenis tanaman yang ditanam juga berupa sayur-sayuran.

Vertical Garden untuk Tanaman Selada
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden untuk Tanaman Seledri
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Di Gang Sempit
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Memanfaatkan Pipa Paralon
Sumber: Dokumen Pribadi

Vertical Garden Permukiman Pinggir Rel Kereta
Sumber: Dokumen Pribadi

Biopori

Pembuatan biopori dilakukan dengan menggali tanah dan memasukkan pipa paralon sedalam 1 meter. Lubang ini dapat diisi dedaunan atau sampah organik sehingga menghasilkan kompos. Dengan biopori ini, penyerapan air ke dalam tanah menjadi lebih tinggi jika dibandingkan tanah tanpa biopori. Perkampungan yang semua di paving dan tidak ada air yang masuk ke dalam tanah, tentu menjadi penyebab terjadinya banjir dan kekurangan air sumur pada musim kemarau. Ini kenapa biopori menjadi peran dalam mengatasi banjir. 

Total biopori di kampung G3 ini sekitar 503 biopori kecil, 10 biopori besar dan 4 biopori super jumbo (sumber disini). Saat musim kemarau mendapat kompos 5 ton dan diolah hingga dijual sebesar Rp. 2.000 per kg (Sumber disini). 

Biopori di Kampung G3
Sumber disini


GEMAR (Gerakan Menabung Air) dan Sumur Injeksi

Salah satu upaya untuk mengatasi banjir secara efektif adalah menggalakkan GEMAR atau Gerakan Menabung Air. Bentuk gerakan ini yaitu dengan membuat sumur injeksi. Sistemnya air hujan akan masuk ke dalam sumur dan akan meresap ke tanah sehingga cadangan air dalam tanah akan meningkat. Penerapan sumur injeksi ini merupakan upaya konservasi air dalam menjaga ketersediaan air tanah. 

Sumur injeksi dibangun sebanyak lima unit dengan bahan beton diameter 1 meter dan kedalaman 4 meter. Dasar sumur ini diberi kerikil sebagai filter genangan air yang masuk ke dalam tanah. Jika dalam kondisi tertutup dapat menampung 4.000 liter air (sumber disini). 


Sumur Injeksi sebagai Wujud Program GEMAR
Sumber: Dokumen Pribadi

GEMAR
Sumber: Dokumen Pribadi

Sumur Injeksi, Hasil Kerjasama dengan FTUB
Sumber: Dokumen Pribadi
Pembangunan Sumur Injeksi
Sumber: disini


Bank Sampah dan Kompos

Pengelolaan sampah di Kampung Glintung pun dibagi berdasarkan dua jenis yaitu sampah basah dan sampah kering. Pemilahan ini akan memudahkan bagi petugas Bank Sampah untuk memilah sampah yang bisa diolah lagi dan yang bisa dijadikan kompos. Di kampung Glintung juga disediakan komposter untuk sampah organik. Bahkan di beberapa tempat ada tempat khusus membuang puntung rokok.

Tempat Sampah Berdasarkan Jenisnya
Sumber: dokumen pribadi

Komposter Glintung
Sumber: dokumen pribadi

Tas Daur Ulang Berbahan Karung Tempat Menyimpan Sampah Untuk Bank Sampah
Sumber: dokumen pribadi

Asbak yang Digantung di Beberapa Dinding Rumah
Sumber: dokumen pribadi
Larangan Membuang Putung Rokok Sembarangan dan Sanksinya
Sumber: dokumen pribadi

Sudut Kampung G3

Kampung G3 benar-benar menunjukkan komitmennya dalam pelaksanaan penghijauan. Tidak hanya program yang disebutkan di atas. Kampung G3 juga membuat taman diatas parit sehingga terkesan cantik. Selain itu, ada dapur mini dilengkapi dengan tungku, panci, dan peralatan memasak lainnya. Selain menambah estetika lingkungan, juga dapat difungsikan saat warga jaga malam untuk merebus air minum.


Taman diatas Parit
Sumber: dokumen pribadi

Dapur Mini, Si Penambah Estetika
Sumber: dokumen pribadi

Dapur Mini
Sumber: dokumen pribadi

Dampak yang Dirasakan

Fisik :

- Kampung terlihat asri, sejuk, bersih, nyaman.
- Tidak lagi terjadi banjir dan kekurangan air saat kemarau

Ekonomi :

- Tingkat perekonomian menjadi lebih baik karena adanya wisatawan yang datang, adanya kemandirian pangan, hasil dari pengelolaan Bank Sampah.

Sosial Budaya :

- Masyarakat sadar akan budaya kebersihan dengan membuang sampah di tempatnya dan memilahnya.
- Masyarakat sadar akan pentingnya menjaga kelangsungan hidup tanaman.
- Masyarakat antusias dalam menanam tanaman walaupun menggunakan kaleng atau botol bekas.
- Mempererat hubungan antar warga karena masyarakat harus kerja bakti dalam mewujudkan penghijauan.
- Tidak ada lagi konflik perebutan air saat musim kemarau. Sebelumnya, kadang muncul konflik antar warga yang merasa air di sumurnya habis akibat cadangan air tanah berkuran karena adanya pengambilan air dari sumur lain dengan pompa secara berlebih. Dengan adanya sumur injeksi ini, cadangan air tanah tidak lagi berkurang sehingga warga tetap bisa mengkonsumsi air sumur tanpa kekurangan.


Prestasi

- Juara 1 Program Kota Malang "Kampoeng Hijau"

Upaya-upaya yang dicontohkan Kampung G3 dapat memberi inspirasi bagi daerah lain dalam mengatasi permasalahan yang sama yaitu banjir dan kekeringan. Jika semua daerah yang dilanda banjir melakukan hal itu, tentu kita tidak perlu lagi pesimis bahwa masalah tak kunjung selesai. Justru dengan komitmen kuat, lingkungan masyarakat yang dulunya kumuh, langganan banjir dan kekeringan menjadi hunian yang nyaman, asri, bebas banjir dan kekeringan. Semoga kampung lain bisa melaksanakan program-program seperti di Kampung G3 sehingga permasalahan banjir dan kekeringan bisa teratasi.

Artikel ini diikutsertakan pada Kompetisi Menulis Blog Inovasi Daerahku - https://www.goodnewsfromindonesia.id/competition/inovasidaerahku
Read More
Berawal dari foto yang ditunjukkan suami, kelurahan Jodipan yang bertransformasi menjadi Kampung Warna Warni. Awalnya nggak percaya, sepertinya editan, pikirku dan suami saat itu. Tapi semakin dilihat semakin nyata. Dan ada yang teman nge-share foto di sosial media bahwa rumah warna warni itu emang sudah ada.

Dulu sempat kepikiran mau foto bangunannya terus diwarnai pake sotoshop. Eh ternyata tanpa perlu repot-repot berkutat di depan komputer, malah sudah di cat rumah-rumahnya.

Akhirnya terjunlah aku ke kampung Jodipan, tempat Kampung Warna Warni ini berada, seperti layaknya wartawan yang berburu berita, hehehe. Sampai disana, kondisi jalan sekitar jembatan macet. Memang sih dari dulu padat merayap. Dari jauh sudah terlihat anak-anak muda yang sedang berfoto selfie di jembatan. 



Anak muda yang berfoto selfie 

 


Kampung Warna-Warni terlihat dari jembatan (atas) nggak jauh beda dengan rumah-rumah di Cinque Terre, Italia, kaan ... hehe (bawah)


Dua kelurahan yang berbeda dengan kekontrasan warna yang berbeda (sekarang sebelah kiri jadi Kamoung Tridiatau kampung 3D)

Setelah melewati tempat parkiran yang berada di pinggir jalan, aku memasuki gang kecil dengan gapura. Jalanannya menurun cukup terjal dengan tangga yang dicat warna warni. Sepanjang jalan turun, ada beberapa orang yang berfoto di tangga dengan pemandangan rumah warna-warni.

     



Setelah sempat berfoto-foto bangunannya, akhirnya aku bertemu dengan orang tua yang terlihat semangat bercengkrama mengobrol dengan dua orang pria baya lainnya. Dan baru tahu setelah iseng negur bapak2 ini, mereka adalah Pak RW dan Pak RT disana. Dari hasil "penimbrungan", akhirnya dapat informasi mengenai Kampung Warna Warni ini.

Kampung Jodipan baru selesai pengecatan sekitar 1 bulan, itupun masih 60%. Dan masih dalam proses penyelesaian. Awalnya mengira bahwa ini program pemerintah, ternyata biaya pengecatan ini disponsori oleh perusahaan cat produk decofresh. Tanpa ada biaya dari masyarakat. Tenaga yang mengecat pun dari pihak Indana Paint, bahkan ada Paskhas Auri (Pasukan Khas Angkatan Udara RI) juga ikut membantu. Warga hanya menyiapkan konsumsi bagi para pengecat.

   



Menurut cerita, program ini bermula dari ide mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang melakukan pewarnaan cat bangunan di kelurahan Jodipan. Setelah searching di internet, awalnya mahasiswa tersebut membuat tugas praktek Public Relation dan Event Management dengan clientnya yang sebenar-benarnya client. Hingga akhirnya dia datang ke Perusahaan Cat Indana Paint, dan ternyata perusahaan itu memiliki CSR yang biasa melakukan pengecatan di sekolah-sekolah. Tak disangka, proposal mahasiswa itu diterima hingga terlihat rumah-rumah warna yang menjadi spot wisata.


Ekspresi Pak RW benar-benar bersemangat dan masih tidak percaya kalau lingkungannya menjadi daya tarik pengunjung bahkan turis pun pernah datang ke kampung warna itu. Pandangannya seolah masih belum percaya terhadap kondisi yang saat ini terjadi. 

Beliau merasa ini adalah keanehan sampai-sampai ia meminta pendapatku apa yang membuat ramai orang berkunjung? Kalau aku sih, memang karena uni, seperti di Cinque Terre, Italia. Rumah-rumah warna di kontur yang cukup terjal. Dulu, imej rumah pinggir sungai yang kumuh menjadi berubah menjadi lingkungan yang bersih dan memiliki daya tarik.

Tidak lama, seorang pria datang menghampiri kami dan baru aku ketahui dia adalah pegawai Indana Paint, bagian promotor dan yang bertanggung jawab atas jalannya kegiatan pengecatan. Dia memberi kabar bahwa mau pergi tugas ke Tuban sehingga pengawasan terhadap penyelesaian pengecatan dilakukan oleh temannya.

Dia pun bercerita rencana pengecatan sampai ke cagak rel (jika diijinkan) sehingga view dari jembatan terlihat bagus ke arah rumah dan rel. Ketika aku bertanya di sisi lain sungai Brantas apa juga akan di cat? Pak RW mengatakan belum tau karena sudah beda kelurahan. Kalau kita lihat view dari jembatan maka hanya ada satu sisi saja rumah-rumah yang berwarna itu. 

Sebenarnya rumah warna-warni di kontur yang terjal ini bukanlah hal baru. Kalau di luar negeri sudah ada di Italia dan Brazilia, di Indonesia juga sudah ada sejak jaman dulu yaitu di bantaran Kali Code, Yogyakarta, yang merupakan ide dari Romomangun. Rumah Warna dengan segala lukisan-lukisan sederhana. Pembangunan yang tidak saja berfokus pada fisik tapi juga mental penduduknya, seperti tidak membuang sampah ke sungai serta pemberdayaan masyarakat bawah. Pengembangan Permukiman di Kali Code juga di Jodipan semoga bisa menjadi contoh bagi permukiman pinggir sungai lainnya.


Read More
Setelah kedua kalinya ke rumah sakit karena keponakan sakit, baru sempat foto poster etika batuk atau bersin pas mau jemput ponaka pulangn. Ternyata ada etikanya juga.

Penyakit yang sering terjadi di sekitar kita sangat mudah menular melalui udara ataupun dari tangan kita yang ada kumannya. Kasihan itu kalau sampai nularin anak kecil. Padahal masalah sepele ya ternyata penting juga untuk diperhatikan.

Selama ini bagaimana sih perilaku kita saat batuk? Kadang dibiarin aja tanpa di tutup, atau ditutup pakai tangan. Padahal itu semua salah. Dan ilmu etika batuk atau bersin baru aku tahu saat ke rumah sakit.

Poster dari Rumah Sakit Hermina Tangkuban Perahu Malang

Etika batuk atau bersin 
DO
- Ambil tissue kemudian tutup mulut dengan tissue. Buang tissue kemudian cuci tangan dengan air bersih atau pencuci tangan berbasis alkohol.
- Batuk atau bersin ditutupi dengan lengan bagian belakang.
- Gunakan masker 

DON'T
- Batuk tanpa ditutup
- Batuk ditutupi dengan tangan yang menggenggam
- Batuk ditutupi telapak tangan


Waahhh ternyataa selama ini aku salaaahhhh, hayoo teman-teman blogger juga mungkin ada yang melakukan hal yang salah saat batuk atau bersin kan. Nah, jangan sampai perilaku salah itu terus dilakukan. Dengan informasi kecil ini semoga bisa mengurangi penyakit menular dari batuk apalagi kalau di sekitar kita ada anak kecil. Tetap jaga kesehatan dan kebersihan. Karena kesehatan itu murah, yang mahal itu obatnya. :-D
Read More

Follower