Budaya Literasi dan Bahan Bacaan yang Inklusi

1 comment
Huruf Braille (www.freepik.com)

Bulan November tahun 2018, saya mengikuti workshop penulisan cerita anak yang berjenjang dan inklusif. Waktu itu, saya belum tahu menahu tentang berjenjang dan inklusif itu yang seperti apa sampai akhirnya saya hadir di workshop itu. Workshop itu dilaksanakan di Hotel Tjokro Style Yogyakarta.

Kalau berjenjang itu mungkin sudah banyak yang tahu, dalam menulis cerita anak memang ada level-levelnya misal penjenjangan dari Room to Read (RtR) dan juga dari Kemdikbud. Ketika saya workshop penjenjangan yang dipakai itu dari RtR. Jadi mau tidak mau kita harus mengikuti kaidah tersebut, baik jumlah kata, kerumitan kata, jumlah halaman maupun perlu tidaknya kehadiran sebuah konflik.

Sedangkan inklusi itu biasanya mempertimbangkan kondisi masyarakat berkebutuhan khusus. Jadi dalam pembuatan buku bahan bacaan anak itu mempertimbangkan kondisi masyarakst difabel. Hasil akhir dari workshop itu adalah buku cerita anak bergambar dengan tambahan gambar bahasa isyarat. Karena itu dihadirkan salah satu pembicara yang merupakan anggota Deaf Art Community, Yogya. Pembicara yang bernama Mas Arif memang seorang tuna rungu dan tuna wicara yang menurut saya punya semangat yang tinggi untuk tidak mau kalah dengan manusia normal lainnya. Sekarang Mas Arif kuliah di salah satu universitas ternama di Yogyakarta (saya lupa dimana). Selain itu dihadirkan pula penerjemah bahasa isyarat jadi peserta tetap bisa memahami apa yang dibicarakan.

Saya terenyuh selama beliau bercerita bahwa saat kecil dia sangat sulit memahami isi buku. Dia terbiasa menggunakan bahasa isyarat dan kebingungan ketika membaca kata-kata di buku jika tidak ada yang mencoba menerjemahkan dalam bahasa isyarat. Apalagi buku-buku di Indonesia memang belum menyertakan bahasa isyarat. Meskipun tidak menyertakan bahasa isyarat, setidaknya gambar yang ada di buku mudah dipahami. Jadi dia merasa tertekan sendiri. Dia minta bantuan orang tuanya untuk menerjemahkan maksud dari buku itu. Dia pernah baca buku cerita dari Jepang yang menurut dia mudah dipahami. Kadang juga ada buku yang sudah ada bahasa isyaratnya. Makanya dia sangat senang sekali saat FLP yang bekerja sama dengan INOVASI akan meluncurkan buku yang dilengkapi dengan bahasa isyarat.
Mas Arif saat bercerita pengalamannya membaca buku saat masih kecil

Mas Arif sangat bersyukur saat keluarganya men-support dia untuk terus maju dengan mengajarkan sesuatu lewat buku-buku. Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah artikel yang mengumumkan sebuah aplikasi terbaru dari perusahaan telekomunikasi untuk memudahkan para tuna wicara untuk bisa membaca buku tanpa kebingungan maksud dari kata-kata itu. Namanya StorySign. Aplikasi ini sangat membantu anak-anak yang belum banyak mengenal kosakata dapat mengerti dari bantuan bahasa isyarat pada aplikasi tersebut. Namun saat saya coba di playstore ternyata belum tersedia, hanya tersedia beberapa aplikasi sejenis kamus bahasa isyarat.

Selain tuna wicara dan tuna rungu, penyandang disabilitas yang cukup sulit untuk mengakses buku adalah tuna netra. Mereka harus membaca buku yang dilengkapi dengan tulisan braille. Sedangkan tidak banyak buku yang dijual itu menyediakan tulisan braille. Kalaupun ada, pasti harganya bisa dua kali lipat lebih mahal. Kalau di Kota Malang sendiri, perpustakaan kota sudah memiliki ruangan khusus untuk para tuna netra dimana banyak buku-buku cerita dengan tulisan braille. Sebenarnya, ada banyak alternatif agar penyandang tuna netra tetap bisa membaca buku. Misalnya dengan mengunduh aplikasi audiobook di playstore, bisa juga kunjungi web www.ayobaca.in. Kompas Klasika juga ada audio dongeng jadi penyandang ini tetap bisa mendengarkan cerita dari sebuah tulisan.

Saya rasa ini menjadi tantangan bagi penyedia bahan bacaan untuk menghadirkan sebuah bacaan yang inklusi, yang bisa dinikmati oleh penyandang disabilitas. Tidak hanya menyediakan audiobook bagi tuna netra tapi juga bahan bacaan yang bisa dinikmati oleh tuna rungu dan tuna wicara. Harapannya, dengan adanya penyediaan bahan bacaan yang inklusi maka #LiterasiKeluarga dapat terwujud.

#LiterasiKeluarga #SahabatKeluarga
Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

  1. Saya pernah mencoba menulis cerita anak. Ternyata sulit sekali. Finally gagal. Saya urung menulis cerita anak. Apalagi untuk menyertakan bahasa isyarat juga ya. Pasti sangat menantang. Salut untuk penyedia bahan bacaan anak. Butuh banyak penyedia bacaan anak. Anak-anak butuh bacaan yang banyak juga.

    BalasHapus

Follower