Tips Mencari Kost Yang Nyaman dan Aman

26 comments

Sebenarnya ini adalah ceritaku yang ingin aku ikutkan lomba menulis di platform Cabaca. Sayangnya, laptop tiga hari ngambek dan tidak mau menyala. Pas mau menyala pun ketika deadline sudah ditutup wkwkwk. Jadi aku posting di sini saja ya. Pertama-tama, aku cerita tentang pengalaman mengerikan saat jadi anak kost.

Tips Mencari Kost


Pengalaman Mengerikan Menjadi Anak Kos di Malang

“Manusia dengan otak kriminal itu lebih menyeramkan daripada hantu buruk rupa.” – Lita L.-

 

Mengerikan memang ketika kita bertemu manusia jahat dengan pikiran kriminalnya dibandingkan makhluk halus yang berwajah seram. Aku pernah mengalami hal yang mengerikan dan mengancam keselamatan ketika aku menjadi anak kos.

Kejadian ini bermula ketika aku mulai kelaparan karena menunggu kekasih yang tak kunjung tiba menjemput ke kos. Aku pun memutuskan untuk mencari makan sendiri yang tidak jauh dari kos. Waktu itu, proyek pembangunan gerbang Universitas Brawijaya dekat kuburan Betek baru mulai berjalan. Beberapa bangunan kos yang akan menjadi lokasi gerbang kampus sudah dibeli pihak kampus. Hanya tinggal beberapa bangunan kos yang memang tidak dibeli pihak kampus. Akibat proyek pembangunan itu, beberapa bangunan kos sudah tidak dihuni dan tidak ada penerangan. Sementara penerangan dari bangunan kos yang masih dihuni pun masih kurang.

Dari ujung jalan, aku sebenarnya ragu. Apakah aku akan mencari makan di dekat kuburan? Melihat jalanan yang gelap dengan pohon-pohon yang besar, aku sempat bimbang. Sementara pukul delapan malam, kendaraan bermotor sudah mulai sepi. Agak heran sebenarnya karena jalanan dekat kampus itu selalu ramai. Namun, malam itu sudah sepi hanya beberapa kendaraan bermotor yang melintas. Mungkin banyak yang menonton pertandingan sepak bola tingkat Asia.

Perutku sudah tak kuasa menahan lapar. Aku terpaksa melewati jalan itu karena kalau aku tidak makan, penyakit maag akan kambuh. Ketika memasuki jalanan yang gelap tepat di depan kuburan dan bangunan kos yang tak berpenghuni, aku membaca ayat kursi sebanyak-banyaknya. Aku pun tak berani melirik ke sebelah kiri. Kuburan dengan pohon besar yang sepi dan gelap. Tak berani pula melirik ke arah bangunan kos yang sudah ditinggal pemiliknya. Mataku terus tertuju ke depan.

Angin dingin kota Malang membuatku harus merapatkan jaket dan mendekap dompet serta ponsel dengan chasing hijau di dadaku. Tiba-tiba aku mendengar suara lompatan di belakang. Yang awalnya tidak ada orang di belakang, tiba-tiba saja muncul seorang pria kurus. Meski aku berhasil menyembunyikan keterkejutanku, tetap saja aku merasa aneh.

Pria itu terus berada di belakang. Perasaanku mulai tidak enak. Sementara perjalanan yang gelap itu masih panjang. Jalanan terang masih ada sekitar empat puluh meter di depanku. Ketika aku mempercepat langkah, pria itu pun mempercepat langkahnya.

Aku mulai berpikiran macam-macam. Jantungku pun sudah mulai berdetak keras tak karuan. Aku mengatur nafas agar terkesan tenang dan tidak berprasangka buruk. Pria itu masih mengikuti irama langkahku.

Dalam hitungan beberapa detik dia memang sudah cukup dekat. Tanpa menoleh ke belakang, ternyata tangan kanannya sudah membekap mulutku! Betapa terkejutnya! Beruntung tangan kanannya tidak begitu kuat mendekap. Tangan kirinya tidak juga menahan perutku.

Pengalaman Buruk Saat Kost
Wajah Panik Saat disekap (freepik)


Tanpa pikir panjang, aku menangkis tangan kanannya. Mungkin dia juga kaget sampai tanpa sadar terlepas dan membuatku bisa merosot ke bawahnya. Dengan menjatuhkan diri ke jalanan adalah caraku untuk bisa melepaskanku darinya.

Ponsel dan dompetku masih kupegang erat sambil terduduk menatapnya. Tidak ada sama sekali kendaraan yang lewat. Pria itu berdiri membalas tatapanku. Kami saling menatap. Beruntung baginya, akibat gelap aku tidak begitu jelas melihat wajahnya.

Aku sempat berpikir kalau dia orang gila. Kuanggap saja dia gila. Dan aku langsung berteriak minta tolong sekuat-kuatnya. Setelah itu, satu motor melewati kami dan meneriaki pria tadi karena sepertinya pria di kendaraan bermotor itu melihat kami dari kejauhan meski mungkin mereka tidak melihat dengan jelas.

Aku pun berdiri dan segera melarikan diri ke arah warung makan tujuanku. Sambil berlari, aku menoleh ke belakang dan melihat pria itu masuk ke dalam bangunan kos yang tidak dihuni itu. Entah dia akan bersembunyi di tempat itu terus atau tidak.

Begitu sampai di bawah lampu jalanan yang terang dan ramai orang, aku berhenti dan menahan diri untuk tidak menangis di tempat umum. Aku langsung menelepon kekasihku. Sayangnya, ia tidak mengangkat. Namun, dalam waktu dua menit, kekasihku langsung berhenti di depanku karena memang waktu sebelum berangkat dia sudah tahu tujuan warung yang akan aku datangi.

Dalam hati aku ingin memarahinya akibat terlambat menjemput. Kalau saja dia tidak terlambat mungkin aku tidak akan mengalami kejadian seperti tadi. Namun, aku hanya bisa menceritakan dengan nafas naik turun. Entah dia percaya atau tidak. Yang jelas, aku langsung minta antar pulang dan tidak jadi membeli makanan.

Saat melewati tempat kejadian tadi, aku tidak melihat tanda-tanda pria itu masih ada di bangunan kos yang kosong. Aku juga tidak tahu apakah pria itu menungguku di sana atau tidak.

Sungguh, kejadian itu tidak akan aku lupa. Semenjak itu, aku tidak mau melewati tempat-tempat dengan penerangan minim bahkan tak ada sama sekali. Aku juga tidak mau jalan sendiri ketika melewati tempat yang gelap. Lebih baik mencari tempat makan yang tidak jauh dari kos. Yang pasti dengan kondisi jalanan yang terang. Aku juga tidak mau lagi membawa barang berharga dengan tangan terbuka atau tanpa perlindungan. Sekarang aku selalu membawa tas untuk menaruh dompet dan ponsel. Tidak membawanya di tangan. Aku tidak mau lagi dompet dan ponsel yang kubawa memberi kesempatan bagi orang yang ingin memanfaatkan kesempatan dengan mencopet.

Bagi para penghuni kos, perhatikanlah hal itu sebelum menjadi bumerang bagi kalian sendiri. Benarlah jika otak kriminal itu lebih berbahaya daripada penampakan hantu.

 

Nah, selanjutnya ini cerita mengerikan di kosku waktu di Semarang. Lebih serem sih.


Pengalaman Menyeramkan Menjadi Anak Kos di Semarang


Kos-kosan yang terlihat aman belum tentu sepenuhnya aman. Ketika aku mencari kos-kosan dengan kriteria lebih baik dari kos-kosan sebelumnya, ternyata belum tentu memberi keamanan bagi penghuninya.

Kriteria mencari kos untukku sebenarnya tidak sulit, seperti harga murah, tidak jauh dari kampus, akses mobil gampang, sirkulasi udara bagus, pencahayaan bagus, tidak berada di jalan sempit dan gelap, dan terdapat parkir motor. Namun, ternyata kriteriaku itu masih kurang. Soal keamanan. Aku tidak tahu sebenarnya bagaimana mencari tahu kondisi keamanan kos-kosan di jaman waktu aku kuliah dulu. Waktu itu, masih sangat jarang kos-kosan yang memasang fitur kamera CCTV. Rasanya juga tidak mungkin wawancara dengan orang di sekitar. Akhirnya aku memilih salah satu kos yang dekat kampus, harga murah, akses mobil gampang, ada parkir motor dan sirkulasi udara bagus.

Tiga bulan pertama tinggal di kos, tidak ada sesuatu yang aneh. Sampai suatu ketika, aku merasa aneh dengan atap kamar kosku. Di bulan Januari, aku melihat ada dua lubang kecil sebesar jari jempol di plafon atap kamar. Posisinya di sebelah timur kamar. Sebulan kemudian, lubang itu bertambah banyak. Tiga lubang kecil di sebelah barat kamar. Posisinya sejajar dengan tempat tidur. Jadi kalau aku tidur malam, aku bisa melihat lima lubang itu dengan sangat jelas. Namun, tidak ada pikiran buruk sangka tentang lubang itu. Anggapan tikus lapar atau tikus yang sedang mengasah giginya lebih mendominasi pikiranku. Suara berisik di malam hari juga kuanggap dari tingkah laku tikus.

Satu bulan kemudian, ketenanganku terusik. Lubang itu bertambah banyak. Setiap malam dan siang, saat tidak sedang ke kampus, perhatianku tertuju pada lubang aneh itu. Bunyi berisik yang kuanggap tikus mulai kudengarkan dengan seksama. Langkah kakinya tidak seperti tikus yang sedang berlari cepat tapi lebih lambat, keras dan jauh lebih berisik.

Mungkinkah ada orang yang sedang mengintai di atas kamarku? Pikiran burukku mulai memenuhi kepala. Aku pun langsung turun dari tempat tidur dan mengubah posisi tempat tidur menjauh dari lubang pengintai itu. Aku khawatir jika memang benar ada orang di sana. Setidaknya, aku ingin mencoba apakah lubang itu semakin banyak?

Badanku sedikit bergidik membayangkan jika pikiranku itu benar. Setelah itu, aku selalu tidur dengan perasaan was-was sambil menghapal posisi lubang itu. Seminggu kemudian, aku melihat lubang lain yang lebih jauh posisinya, tepat di atas tempat tidur yang sudah aku pindah.

Teka-teki itu tak bisa kujawab. Tikus atau orang? Benarkah ada orang di atap dan mengintai? Rasanya tidak mungkin? Pikirku lagi. Aku tetap mencoba berpikiran positif.

Sampai suatu ketika, kosku digegerkan dengan berita buruk. Seorang pencuri mengambil laptop salah satu anak kos lewat atap!

Tanpa basa-basi aku langsung melihat ke kamarnya. Kamarnya berantakan bekas kayu-kayu atap berjatuhan. Atapnya pun berlubang seukuran badan manusia. Sudah bisa diduga bahwa si maling masuk ke kamar lewat atap.

Aku pun langsung teringat dengan atap kamarku yang bolong-bolong. Oh! Ternyata dia sudah mengintai kamarku sejak lama. Mungkin juga mengintai teman-teman yang kamarnya sederet denganku. Dan si maling memilih kamar dengan laptop yang tergeletak di kamar. memang sih laptopku tak pernah aku tinggal di kos. Selalu aku bawa ke kampus. Sementara laptop temanku ditinggal di kamar saat dia pergi ke kampus.

Malam-malam setelah kejadian itu sedikit mengerikan bagi anak-anak kos. Kamar temanku itu dikunci dan ditutup gordin. Malamnya, kami melihat gordin itu sedikit berayun-ayun. Kami menduga si maling masih ada di kamar itu dan masuk ke atap plafon. Teman kosku pun memilih pindah kamar. Aku dan temanku yang lain yang kamarnya sederet tidak bisa berbuat apa-apa. Kami makan dengan perasaan was-was sambil melihat ke arah atap. Kami tidur tak nyenyak dan tanpa merasa aman.

Esoknya, seorang kawan yang menempati kamar pojokan dan kamar yang bersebelahan dengan kebun melihat ke arah lubang ventilasi kamarnya. Ia terkejut karena melihat sesuatu turun melewati ventilasi. Dengan segera ia langsung melaporkan kepada pemilik kos.

Setelah diusut, kami pun jadi tahu bahwa kamar paling pojok yang kosong ternyata sudah menjadi markas si maling beberapa bulan ini. Atap juga sudah berlubang tepat di atas lemari. Kamar berantakan dengan sampah. Setelah ditelusuri oleh pemilik kos. Di plafon sudah banyak sampah bungkus makanan. Herannya, dia sudah melakukan itu berbulan-bulan.

Rupanya dia masuk ke dalam plafon lewat ujung atap yang terhubung dengan tempat jemuran. Karena kamar berada di lantai dua, si maling masuk tempat jemuran dengan tangga dari kebun sebelah kos. Maling itu masuk dan keluar lewat tangga ke arah kebun dan melewati ventilasi kamar temanku.

Oh!

Beberapa bulan kemudian, kosku ramai tidak seperti biasanya. Teman kosku bercerita kalau baru saja terjadi reka adegan pencuri yang dulu mengambil laptop temanku.

Si pencuri rupanya seorang remaja kecil pendek keterbelakangan mental. Dia sudah sering melakukan pencurian barang berharga di daerah kosku. Dia juga sudah bolak-balik masuk keluar penjara.

Aku pun merasa lega karena akhirnya si pencuri sudah tertangkap. Namun, laptop temanku juga tak jua kembali.

Serem sekali ya!


Tips Mencari Kost Yang Nyaman dan Aman

Memang sih mencari kos yang aman itu susah-susah gampang. Tapi aku coba memberikan tips mencari kost yang nyaman dan aman yaitu:


Akses Kendaraan Mudah


Kos dengan akses kendaraan yang mudah tidak akan menyulitkan kita jika terjadi apa-apa, misal untuk ambulans, mobil polisi atau kendaraan pribadi. Pengalaman di kosku sebelumnya memang kendaraan motor saja yang bisa masuk ke depan kos. Sementara mobil harus parkir di pinggir jalan yang jauh dari kos. Tentu itu tidak membuat leluasa ketika ada teman atau keluarga yang bermobil ingin datang ke kos.






Tempat Parkir Kendaraan Tersedia


Kenapa ini menjadi salah satu alasan kenapa anak kos perlu tempat parkir meskipun tidak semua anak kos membawa kendaraan pribadi. Setidaknya jika kalian adalah perantau jauh dan seorang sahabat kuliah yang juga perantau jauh ingin menitipkan kendaraan bisa diparkir di kos tanpa khawatir dengan keamanannya. Apalagi kalau kalian berencana membawa kendaraan pribadi, seperti mobil dan motor, tentu harus mencari kos yang memiliki parkir yang representative dan cukup. Biasanya anak kos juga banyak yang membawa kendaraan pribadi sementara tempat parkir kurang memadai dan luasnya tidak sesuai dengan kebutuhan. Pada akhirnya, kendaraan kita yang harus mengalah parkir di luar atau di tempat lain. Mau?


Sirkulasi Udara Baik


Waktu kos pertama aku tidak memikirkan hal ini. Namun, ketika mencari kos kedua aku sudah memikirkan tentang sirkulasi udara kamar kos. Sirkulasi udara yang baik berpengaruh terhadap kesehatan alias tidak mudah terserang penyakit. Kamar tidak terasa pengap. Udara dalam kamar pun harus diganti dengan udara yang segar. Dengan sirkulasi udara kamar yang baik juga dapat menghemat listrik karena tidak perlu kipas angin atau AC.

Ketika di Malang, kamarku di lantai satu berada di pojok bangunan dan kurang mendapat cahaya dan sirkulasi udara yang kurang baik seperti yang aku ceritakan di postinganku ini. Tanpa perlu AC atau kipas angin, kamarku sudah terasa dingin, namun terasa lembap dan sangat tidak nyaman. Aku sering merasa sesak meski tidak mengalami sesak nafas. Alhasil, aku segera minta pindah ke lantai 2 ketika ada kamar kosong. Aku tidak mau kondisiku yang tidak memiliki asma jadi terkena asma gara-gara sirkulasi udara tidak lancar. Sementara ketika kos di Semarang, kamarku sedikit lebih luas, terdapat jendela dan langsung menghadap area luas dalam kos sehingga ketika aku membuka kamar, pergantian udara terjadi dengan baik. Aku tidak perlu AC atau kipas saat tidur di malam hari.


Pencahayaan Matahari Tidak Terhalang

Jika di kamar kosku ketika di lantai 1 di Malang dulu sangat kurang mendapat pencahayaan matahari. Hanya ada jendela tapi hanya jendela di dalam ruangan. Jadi tidak terkena matahari langsung. Belum lagi, cuaca Malang yang dingin membuat kamarku terasa lembab. Rumah dengan pencahayaan matahari yang baik juga berpengaruh terhadap kesehatan penghuninya. Kelembaban yang tinggi membuat hewan-hewan kecil seperti kutu kasur semakin berkembang biak dan membuat badan gatal-gatal. Makanya aku kurang nyaman dan memilih pindah di lantai 2 yang kaya akan cahaya matahari. Matahari akan menembus jendela kaca dan menerangi kamar. Tak perlu menyalakan lampu di siang hari karena sudah tercukupi dari matahari.




Fasilitas Keamanan Tersedia



Beberapa kos memang menyediakan fasilitas keamanan kosan, seperti CCTV atau penjaga keamanan kost. CCTV bisa dipasang di sekitar bangunan kos. Tidak hanya di bagian depan saja, tapi juga samping dan belakang. Tentunya untuk menghindari hal yang berbahaya seperti yang terjadi pada kosku. Fasilitas ini penting juga untuk diperhatikan agar keamanan selalu terjamin.


Penerangan Malam Hari Tersedia

Jangan seperti kondisi kosku di Malang yang sangat minim dengan penerangan di malam hari. Kalau pulang habis isya saja cukup bikin jantung deg-degan karena cahaya yang kurang. Meskipun dihibur dengan suara anak kos yang ramainya sampai terdengar dari luar tapi tetap saja melewati jalan yang sepi sedikit membuat kaki ingin cepat berlari. Yang pasti dengan penerangan yang cukup pastinya jalan tersebut aman dari tindak tanduk kejahatan.



Fasilitas Kos yang Diperlukan


Kalau fasilitas kos yang diperlukan tergantung masing-masing pribadi ya. Kalau aku sengaja memilih kos yang memiliki kamar mandi yang bersih, rutin dibersihkan atau setidaknya ada piket kebersihan. Aku paling tidak suka melihat kamar mandi yang kotor. Selain itu, aku juga mencari kos yang punya dapur yang bersih karena aku ingin bisa memasak dengan kondisi dapur bersih meski cuma masak telor.



Nah, kalau kalian fasilitas kos tambahan apa yang penting buat kalian saat mencari kost-kostan?


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

26 komentar

  1. Pencurian di kost tetap saja menjadi trauma ya. Untungnya 5 tahun kos di Malang pas kuliah di Brawijaya baik baik saja. Malah pas kecurian itu pas awal ngekos di Jakarta buat kerja 18 tahun lalu. Beli hp baru sampai rumah isya. Trus malam aku cash biar besok bisa dipakai. Jaman dulu hp dicash 8 jam dulu ya. Eh subuh subuh dah hilang tuh hp. Baru aja beli semalam. Dipakai aja belum. Huhuhu

    BalasHapus
  2. Ya ampun ngeri banget sih mba pengalaman ngekosnya.
    Apalagi kalo daerah UB tuh banyak banget eksihibisionis. Banyak mahasiswi jadi korban. Tiba2 ada yang lepas celana di tengah jalan. Dihhh ngeri juga kan..

    BalasHapus
  3. Pertama kali menjejakkan kaki di Semarang, aku nggak bisa memilih tempat kos. Teman kerjaku yang mencarikannya. Walhasil aku mendapatkan kamar kos yang sempit dan lembab. Nggak ada sinar matahari yang masuk. Pun sirkulasi udara nggak bebas berganti.

    Aku cuma bertahan tiga bulan di sana. Karena pertama masuk bayarnya langsung 3 bulan.

    Setelah itu cari kosan lain yang nggak lembab dan pengap. Biar makin asyik gitu.

    BalasHapus
  4. Wiwin | pratiwanggini.net15 Juli 2021 pukul 04.27

    Saya pernah ngekost dulu beberapa tahun karena pengin mendekati tempat kerja. Alhamdulillah selama itu enggak ada masalah. Dan memang mencari kost yang nyaman dan aman itu penting. Tipsnya sangat menbantu nih buat temen-temen yang sedang cari kost.

    BalasHapus
  5. Wah mbak,serem juga pengalamannya. Aku belum pernah ngekost sih,, tapi pernah tidur di kost teman karena kemalaman. Memang faktor utama itu keamanan ya. Syukur lagi ada CCTVnya...

    BalasHapus
  6. Kalau aku sih mau kosnya sebagus apa kalo ngga bersih dan ngga ada wifi rasanya susah untuk bisa nyaman hihiihi.

    BalasHapus
  7. iya saat memilih tempat kos banyak yang harus dipertikbangkan ya mbak
    Aku dulu juga seperti ini saat mencari kos di Jakarta dulu

    BalasHapus
  8. Penting banget memilih kosan yang nyaman dan aman pastinya. Kejadian pencurian kamar kos udah nggak terhitung lagi. Jadi sebaiknya mending barang berharga dibawa pergi aja, jangan ditinggal di kosan.

    BalasHapus
  9. Deg-degan pastinya ya kak, dan juga gak tenang saat tidur malam. Semoga dimana pun berada nggak ada kejadian seperti itu lagi ya. Amankan barang, tenangkan jiwa

    BalasHapus
  10. Pengalaman yg pertama mengerikan ya mb dibekap dari belakang tp untung MB bs melepaskan diri. Iya sih mending lihat hantu didoakan bs ilang ketimbang ketemu org jahat. Tp pilih tdk terjasi apa2...

    BalasHapus
  11. Aku dulu juga pernah kos mba tapi parah banget sekeluarga dalam kamar kecil endingnya aku jadi sakit. Sejak saat itu aku cita2 banget untuk punya rumah sendiri sedini mungkin. Trauma diusir dan trauma tinggal di kos sempit.

    BalasHapus
  12. milih kosan itu gampang-gampang susah ya, dulu syaa cari kosan susah alias lama eh abis itu dapat yang enak banget, Malang kayaknya nyaman banget ya adem

    BalasHapus
  13. dulu waktu aku masih awal jadi maba, mbak2 kosku itu suka ngebully banget dah. konyoolll pol. aku sangat ga nyaman di sana. untuk teman sekamarku asyik.. tapi karena situasi di rumah kos sangat ga nyaman, belum sampai setahun aku pindah deh cari yang lebih oke suasananya dan gak ada yang bully2 heheh

    BalasHapus
  14. saya sebagai pemilik kost memang menyarankan tempat yang ada wifi, free listrik, free pdam

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah selama kost di Jogja aman. Area dosen sih, cuma sepiiiii banget krn orang sepuh-sepuh pensiunan dosen. pernah juga di area mahasiswa, kalau itu ramenya minta ampun. Saya kalau nyari kost gak banyak kriteria yg penting bersih, teramang dan tamu laki-laki gak boleh masuk kamar.

    BalasHapus
  16. Pengen banget jadi anak kos dari dulu. Tapi Tuhan belum menghendaki karena selalu kepikiran ibu mu jika keluar dari rumah. Alhasil, nunggu diajak merantau suami aja biar tahu rasanya hidup jauh dari rumah 😀

    BalasHapus
  17. Thx tipsnya. Sekarang orang jahat dan juga gangguan jiwa dimana2. Idealnya kos kosan memiliki cctv dan security. Pastinya biaya kos lebih tinggi. Kalau tidak ada, mau ga mau kita yang harus menciptakan sistem keamanan tsb, minimal pasang cctv sendiri atau alarm khusus. Oh ya, saya follow blog ini. Thx

    BalasHapus
  18. Ya Allah mbaa,.. aku jadi ikutan bergidik pas membacanya. Memang memilih kost itu harus benar benar teliti namun kalau terlalu milih2 juga nanti ga bakal dapat2 ya. Mungkin kalau udah keburu dapat 1, sementara tinggal disitu lalu pelan2 nyari yg lebih nyaman.

    BalasHapus
  19. Kadang nyari kos-kosan emang jadi dilema tersendiri ya. Tapi yang paling utama sih menurutku faktor keamanan sih ya, apalgi kl dekat dr tempat kita beraktifitas, sesuatu banget pokoknya

    BalasHapus
  20. Mbaak aku bacanya ikut deg degan apalagi pas kos di brawijaya, maling yang di semarang itu gemesin banget yaa diem diem ngintip kamar kita dunk.

    BalasHapus
  21. Memang kalau mencari tempat kos ini kudu aman dan nyaman. Nggak bisa sembarangan... apalagi jadi anak rantau

    BalasHapus
  22. Mencari kost itu emang gampang-gampang susah ya... sampai kejadian yang lumayan bikin takut seperti pengalaman mbak Lita di atas. Alhamdulillah selama aku kuliah di Malang tidak terlalu sulit mencari kost karena ada kenalan

    BalasHapus
  23. Dulu saya milih tempat kos yang pertama adalah kamarmandinya harus ada di dalam kamar, jadi nggak usah bolak balik keluar pakai kerudung.. mkaasih infonya ya

    BalasHapus
  24. Ya ampun serem amat ya pengalamannya dibekap orang di tengah jalan yang sepi. Memang iya siy harus pilih tempat kost yang aman apalagi buat perempuan ya.

    BalasHapus
  25. Ya ampun ngeri banget pengalamannya mba, alhamdulillah selama ngekos ga pernah mengalami kejadian spt itu. Saya yg penting kamar mandi di dalam, sirkulasi bagus dan kos tidak campur. Kalau dulu tidak ada CCTV sih jadi modal percaya aja

    BalasHapus
  26. Sebuah sharing pengalaman yang menarik mbk. Semoga bisa membantu teman-teman yang ingin mencari kos. Untungnya dulu saya selama ngekost aman-aman saja. Oh yah, untuk teman-teman yang ingin mencari tempat untuk guest post bisa banget loh, di web kami Yoexplore . co . id

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower