![]() |
| Menara Eiffel dari tepi Sungai Seine di musim panas (dok. pribadi) |
Dulu, aku nggak kepikiran sama sekali menulis pengalaman pergi ke tempat wisata paling populer di Paris, Prancis, yaitu naik menara Eiffel. Padahal banyak banget yang bisa diceritakan. Entahlah, aku terlalu banyak pikiran jadi aku tidak menuliskannya sama sekali. So, ini aku coba menuliskan kembali meski sudah sekian lama. Semoga masih relevan yaa. Hanya perlu update harga aja.
Sebelum kepulanganku ke Indonesia, aku harus mencoba menaiki naik menara Eiffel. Dalam bahasa Prancis disebut La Tour Eiffel. Kalau le tour itu artinya keliling/tur, seperti le tour de France, kompetisi sepeda balap mengelilingi Prancis. Beda artikel le/la aja udah beda arti. Hehe.
Kenapa menaiki menara Eiffel baru kulakukan saat akan pulang ke Indonesia? Di mana teman-temanku juga sudah banyak yang pulang? Ya, sejujurnya, mengeluarkan uang 15 euro itu cukup berat mengingat beasiswa datang terlambat, jadi aku harus berhemat. Setelah aku yakin masih ada sisa uang di akhir-akhir masa studiku, aku baru memutuskan untuk naik menara Eiffel.
Saat itu, tepat musim panas, di mana banyak turis yang datang ke Paris. Metro-metro jalur wisatawan, seperti Line 1, 6, dipenuhi para turis, baik dari Eropa, Amerika atau pun Asia, dan juga dipenuhi oleh pencopet lihai. Kudu hati-hati banget naik metro di jalur itu. Apalagi saat berdempetan dengan orang lain. Hati-hatiiiiiii. Aku pun pernah menangkap basah pencopetnya. Untungnya dia gagal ngambil dompet di kantong jaket korban.
Sejarah singkat Menara Eiffel
Menara Eiffel ini dibangun oleh Gustave Eiffel pada tahun 1887-1889 dan menjadikan salah satu monumen paling bersejarah di Paris dan terkenal di seluruh dunia. Menara Eiffel (La Tour Eiffel) yang menjadi ikon Prancis ini berada di taman yang terkenal dan indah yaitu Champs-de-Mars di tepi sungai Seine. Ketinggian menara Eiffel sampai atas 330 meter.
Awalnya, Gustave Eiffel akan membangun menara ini di Barcelona, tetapi walikota di sana tidak menyetujui karena mahal dan aneh membangun menara setinggi itu. Hingga kemudian, ia mengirim draf desainnya kepada penanggung jawab pameran dunia, Exposition Universelle, dan akhirnya dibangun satu tahun kemudian. Di zaman itu, membangun menara yang tinggi memang memiliki resiko keamanan. Dari 300an pekerja, hanya satu orang yang meninggal.
Sejak awal abad ke-20, berkat ketinggiannya, menara Eiffel digunakan untuk transmisi radio. Kabel-kabel memang tampak, namun kemudian kabel tersebut ditanam di bawah tanah.
Sebenarnya, di awal pembangunan, publik banyak yang tidak setuju karena menara dari besi hitam ini merusak keindahan kota Paris. Menara Eiffel memiliki izin berdiri hanya dalam 20 tahun. Setelah itu, menara Eiffel direncanakan akan dibongkar. Namun, setelah melihat track record-nya yang mendatangkan banyak wisatawan, memberi keuntungan dari sisi ekonomi dan komunikasi (dekat dengan pendidikan militer), menara ini dibiarkan berdiri dan bisa tetap aku saksikan sampai saat ini.
Ternyata Menara Eiffel dari dulu sudah menarik banyak turis. Tapi emang arsitektur bangunannya pun sangat detail. Menurutku, nggak ada negara lain yang punya bangunan bisa sedetail Prancis. Jerman pun tidak. Makanya Hitler saat ke Paris pun terpesona dan tidak menghancurkan bangunan di sana.
Antri Beli Tiket Menara Eiffel
Kembali lagi...
Temanku bercerita, kalau datang pagi-pagi aja jam 8 atau siang jam 1 masih agak sepi, karena musim panas ini ramai banget. Oke baiklahhh.
Aku memilih datang setelah jam 1 siang, sudah selesai dzuhur dan waktu ashar masih panjang. Ternyata ramai bangeeeet. Para turis ada yang berseliweran dan ada yang sudah mengantri di depan loket. Petugas keamanan berbaju hitam, dipunggungnya bertuliskan POLICE, juga tampak mengawasi para pengunjung di sekitar Eiffel. Meski masih pagi, udara sudah mulai panas. Oya, saat itu, umat muslim sedang menjalankan puasa ramadan. Jadi, lumayan banget, jalan kaki di musim panas dan antri.
Antrian sudah tampak mengular bikin mengelus dada. Aku berjalan menuju loket tiket dan membaca harga tiket naik menara Eiffel yang terpampang di atas loket tiket. Ternyata harga tiket naik menara Eiffel ini berbeda-beda. Mau pakai lift atau tangga. Mau sampai lantai 2 saja atau sampai puncak.
Tarif Lewat Lift (ascenseur)
Lewat lift sampai lantai 2:
Full tarif / dewasa : 23,5 euro
umur 12 - 24 tahun : 11,8 euro
umur 4 - 11 tahun dan cacat: 6 euro
Lewat lift sampai puncak
Full tarif / dewasa : 36,7 euro
umur 12 - 24 tahun : 18,4 euro
umur 4 - 11 tahun dan cacat: 9,2 euro
Tarif Naik Tangga (escalier)
Naik tangga sampai lantai 2
Full tarif / dewasa : 14,8 euro
umur 12 - 24 tahun : 7,4 euro
umur 4 - 11 tahun : 3,8 euro
Kalau ini, mixed sampai lantai dua pakai tangga, dari lantai dua ke puncak pakai lift.
Full tarif/ dewasa : 23,5 euro
umur 12 - 24 tahun : 23,5 euro
umur 4 - 11 tahun : 7 euro
usia kurang dari 4 tahun gratis.
Awalnya, aku memilih naik tangga aja lebih murah, tapi setelah mataku menatap tangga-tangga di kaki menara Eiffel itu dan melihat pengunjung menaikinya, dahlah... nyerah aja. Mana puasa lagi.
Aku mencari antrian terakhir tapi mataku tak menemukannya. Seorang turis memberitahukanku dengan bahasa Inggris bahwa aku harus ke belakang sana.
Oh, baik!
Dan tahukah berapa lama aku mengantri untuk tiba di depan loket tiket?
Satu jam! Hahaha. Ya Allah.
Di depan loket, aku memilih tiket naik lift (escalier). Untungnya, saat itu, usiaku masih 24 tahun jadi aku memilih naik lift ajaaa. Alhamdulillah masih terjangkau. Waktu itu aku cuma bayar 15 euro dengan kurs 11ribu. Sekarang jangan ditanya, kurs euro udah 20ribu, hehe. Dan harga tiket di atas udah naik.
Kalau sekarang sih, nggak perlu antri lama-lama, karena pengunjung sudah bisa beli tiket online lewat website Tour Eiffel Paris.
Antri naik lift
Dan ternyata perjuangan belum berakhir. Saking ramainya, setelah berhasil beli tiket, aku masih harus antri naik lift lagi. Antriannya mungkin tidak sepanjang tadi, tapi yang naik lift lebih banyak daripada yang naik tangga.
Aku baru bisa masuk lift sekitar 1 jam kemudian. Tapi lelahnya antri tetap kalah dengan pemandangan kota Paris dari atas.
Jam buka menara Eiffel
Oiya, kalau kalian mau naik ke menara Eiffel, saranku coba cek jam bukanya di website La Tour Eiffel Paris karena kalau ada masalah cuaca biasanya tutup, apalagi kalau musim dingin dan gugur ya. Memang lebih enak saat musim panas karena siangnya lebih lama daripada malam dan pemandangan juga jelas terlihat.
Menara Eiffel
Lantai satu Menara Eiffel
Aku tidak begitu ingat, apakah aku turun di lantai satu atau langsung ke lantai dua. Saat ini menara Eiffel sudah mengalami perkembangan yang semakin keren.
Di lantai satu, ada Experience Immersive. Dulu sih nggak adaaa. Kita bisa pakai scan barcode kita atau berdiri di gambar kaki. Nanti Gustave Eiffel, tokoh yang membangun Eiffel, menjelaskan sejarah Menara Eiffel. Seperti virtual reality gitu yaa... Seolah-olah kita sedang kembali ke masa lalu ke tahun 1887.
Di lantai 1 ini ada restoran, bar dan toko. Tempat untuk beristirahat sejenak setelah dari puncak Eiffel. Mungkin harganya bagi mahasiswa agak pricey ya. Hehe. Secara sasarannya kan buat turis mancanegara. Tapi gak apa-apa lah kalau kalian mau ngeluarin uang dikit buat duduk-duduk sambil menikmati Paris dari Eiffel sambil minum kopi atau macaron khas Prancis (bukan Macron presidennya yaaa).
Kota Paris dari lantai dua
Aku menaiki lift diikuti turis lainnya. Lift sudah hampir penuh. Yang paling menyenangkan di dalam lift adalah aku bisa mendengar para turis berbicara dari bahasa mereka masing-masing. Meski nggak paham, tapi aku senang. Mau kenalan rasanya sungkan. Haha. MaasyaAllah banget Allah itu menciptakan manusia berbangsa-bangsa.
Pintu tertutup otomatis. Lift pertama ini berjalan miring mengikuti miringnya kaki menara Eiffel. Saat lift berjalan naik, rasanya hatiku berdesir karena takjub melihat bangunan di depan semakin mengecil dan aku berada di atas kota Paris.
Kemudian lift berhenti di lantai dua. Beberapa turis keluar, begitu juga aku. Sebagian masuk ke dalam lift.
Di lantai ini, turis cukup ramai. aku sedikit kesulitan berjalan dan mencari tempat kosong untuk memotret keindahan kota Paris dari atas.
Bangunan kota Paris dari lantai 2 ini masih tampak dekat. Di lantai ini, aku bisa melihat jembatan dan Trocadero yang didepannya bangunan museum yang tampak lebih leluasa. Tempat di mana banyak turis berfoto dengan latar Eiffel. Pepohonan rindang menambah keteduhan di antara masifnya bangunan kota Paris. Bateaux mouches dan juga vedettes, kapal-kapal yang melewati sungai Seine tampak berjalan pelan dari arah berlawanan.
| Place du Trocadero, tempat orang berfoto latar Menara Eiffel (dok. pribadi) |
Mataku menatap ke atas. Langit biru cerah diiringi awan putih yang berarak melewati besi tua tinggi di ujung puncak Eiffel yang tinggi.
Di beberapa bagian terdapat teropong untuk melihat bangunan lebih dekat. Di sekitarnya, banyak turis mencobanya. Petugas keamanan (securite) membiarkan para turis mencobanya. Seingetku teropong itu tidak gratis. Kita harus memasukkan bebrapa koin agar teropong bisa berfungsi dengan baik.
Aku mengelilingi lantai dua yang berbentuk segi empat itu. Di lantai dua ini ada tangga untuk naik ke lantai atas lagi, tapi masih di area lantai dua.
![]() |
| Di lantai dua tapi ada lantai atasnya lagi (dok. pribadi) |
Untuk saat ini, ternyata lantai dua sudah jauh berkembang. Ada restoran berbintang Jules Verne dengan akses lift pribadi dan beberapa toko. Sekarang pun sudah ada Virtual Reality.
Para petugas memberitahukan bahwa pengunjung cukup 10 menit saja tidak perlu berlama-lama dan bisa keluar dari lantai dua. Turun atau naik ke atas.
Aku pun ikut antri di lift untuk naik ke puncak puncak menara Eiffel (sommet). Petugas berjaga di depan lift untuk memberitahu apakah lift naik ke puncak atau turun.
276 Meter di Atas Kota Paris!
Tak sabar ingin segera berada di puncak Eiffel, aku menaiki lift. Lift mulai berjalan membawaku ke puncak Eiffel. Meski terhalang besi-besi Eiffel, tapi aku bisa melihat bangunan-bangunan putih yang mendominasi Kota Paris tampak mengecil seolah susunan lego-lego putih. MaasyaAllah.
Lift pun berhenti di puncak Eiffel. Begitu keluar, para turis yang sudah daritadi di atas menunggu di depan lift untuk segera turun ke bawah. Kami keluar dulu. Meski beberapa turis sudah naik lift, tapi di puncak yang tidak selebar di lantai dua ini, terasa lebih sesak karena ramainya pengunjung.
Begitu keluar ruangan, di bagian dindingnya terdapat panel tentang informasi ketinggian menara-menara di dunia, beserta bendera dan nama negara, yang dibandingkan dengan menara Eiffel.
Yeay!
Aku sudah berada 276 meter di atas kota Paris. Tak terdengar lagi suara deru kendaraan. Hanya hembusan angin yang meniupkan jilbabku. Jantungku cukup berdebar melihat Paris jauh di bawahku. Rasanya seperti akan terbang. Ini tinggi banget!
Bangunan-bangunan tampak memutih. Detail-detail arsitektur bangunan Paris yang indah itu sudah tidak tampak. Hanya tampak memutih dengan ketinggian yang hampir sama. Di kota Paris ini memang ada maksimal ketinggian bangunan klasiknya yaitu 7 lantai. Jadi tak ada lomba ketinggian bangunan seperti di kota besar lainnya. Semua tampak seragam dan jadi lebih indah.
![]() |
| Musée de l'Armée - Invalides - Tombeau de Napoléon yang aku zoom (dok. pribadi) |
Aku mencoba mengidentifikasi bangunan-bangunan dan taman-taman terkenal yang aku tahu, mulai dari Champs-de-Mars, Ecole militaire, Musee des Invalides, Tour Montparnasse, Notre Dame, Arc-de-Triomphe, dan lain sebagainya. Kapal-kapal wisata menyusuri sungai Seine yang membentang dari timur ke barat dengan jembatan-jembatannya.
![]() |
| La Defense, pusat komersial dan bisnis, di pinggiran kota Paris (mall dan perkantoran) di baliknya situlah kampusku (dok. pribadi) |
![]() |
| Pont Alexandre yang keren, Plade de la Concorde, Hotel de la Marine, Petit Palais, Grand Palais (dok. pribadi) |
![]() |
| Notre Dame dan Jembatan Pont Neuf (Dok. pribadi) |
![]() |
| Sacre-Coeur Mont-Martre, daerah tingginya Paris, dari puncak Eiffel (dok. pribadi) |
![]() |
| Sepertinya ini Bois de Boulogne alias hutan kotanya Paris (dok. pribadi) |
![]() |
| Kawasan modern nya Paris. Di ujung pulau ada Patung Liberty KW hehe (dok. pribadi) |
![]() |
| Arc de Triomphe dari puncak Eiffel (dok. pribadi) |
![]() |
| Des Invalides, Notre Dame, Pantheon yang tampak dari atas Eiffel (dok. pribadi) |
Di puncak Eiffel ini, juga ada miniatur puncak Eiffel yang berwarna merah dan ditempatkan di ruangan berkaca. Pengunjung masih bisa melihat tanpa harus menyentuhnya. Selain itu, juga ada ruangan khusus rekontruksi kantor Gustave Eiffel. Di dalamnya, dua patung lilin yang mirip aslinya pendiri Menara Eiffel, Gustave Eiffel dan penemu terkenal Amerika, Thomas Edison.
![]() |
| Patung lilin Gustave Eiffel dan Thomas Edison (dok. pribadi) |
Tak lupa, aku meminta tolong orang untuk memotret ku dengan latar belakang kota Paris.
Belum bisa move on....
MaasyaAllah atas nikmat Allah aku pernah berdiri di menara Eiffel. Kadang masih nggak nyangka bisa naik ke menara Eiffel. Alhamdulillah bini’mati tatimmusholihat. Semoga kelak aku bisa ke sini lagiiiiiii. Ngga bisa move on beneraaann.




.jpg)











