Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba Blog. Tampilkan semua postingan

"Temuan Arca Ganesha Ungkap Banyaknya Candi yang Hilang di Dieng."


Sebuah judul headline berita news.detik.com cukup menarik perhatian saya untuk segera membacanya beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, di tanah nusantara yang pernah berdiri megah beribu-ribu candi Hinduisme dan Budhaisme sekarang hanya tersisa sedikit yang layak dinikmati masyarakat luas. Temuan arca Ganesha dengan kepala terputus yang tak sengaja ditemukan oleh warga Dieng saat menggali tanah untuk pembangunan septic tank di Dieng akhir Desember 2019 tersebut bisa menjadi indikasi candi-candi lain yang terkubur dalam lapisan tanah dan tersebar di seluruh nusantara.



"Dugaan masih banyaknya situs yang belum ditemukan di Dieng mengacu pada catatan Sir Thomas Stamford Raffles dalam karyanya berjudul 'The History of Java'. Catatan itu menyebut lebih dari 400 situs atau candi di Dieng (news.detik.com)"


Sementara di Dieng terdapat kelompok candi dengan nama pewayangan dan menjadi pusat ritual dan pendidikan keagamaan. Ketika ditemukan di jaman kolonial, di kawasan terdapat 400-an situs atau candi. Uniknya, saat ditemukan oleh Thedorf Van Elf dulu, candi-candi tersebut berada dalam air danau yang mencuat ke permukaan. Tahun 1856, Van Kinsbergen melakukan pengeringan telaga tempat candi-candi itu berada. Tahun 1864, proses pembersihan, pencatatan dan pengambilan gambar dilakukan oleh tim Van Kinsbergen pada jaman Hindia Belanda.


Percandian Dieng ini telah ditetapkan lebih dulu sebagai cagar budaya yang termasuk kategori kawasan dan bangunan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 173/M/1998. Dan percandian Dieng telah masuk dalam daftar resmi kekayaan budaya bangsa dengan nomor registrasi nasional (Regnas) RNCB.20170227.05.001408.


Dengan luas 486,55 hektar berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 007/M/2015, kawasan cagar budaya percandian Dieng yang berada di kaki pegunungan Dieng dan berada di dua kabupaten, Wonosobo dan Banjarnegara, memiliki kekayaan peninggalan cagar budaya. Kelompok percandian atau situs purbakala yang berada di kabupaten Wonosobo adalah Pertirtaan Bima Lukar, Watu Kelir dan Situs Sitinggil. Kelompok bangunan yang berada di kabupaten Banjarnegara adalah kelompok percandian Arjuna, Dwarawati, Parikesit, Bima dan Gangsiran Aswatama.

 

Alasan Ditetapkannya Percandian Dieng Sebagai Kawasan Cagar Budaya?


Menjadi tanah suaka yang telah ditetapkan pemerintah bukan alasan yang sederhana. Banyak kriteria hingga akhirnya ditetapkannya Dieng menjadi suatu kawasan atau bangunan cagar budaya. Kriteria tersebut berdasarkan Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


Kabut di Dieng (Instagram @novemlawalata)


Pertama, periode/usia. Jika benda, bangunan, atau struktur ditetapkan sebagai cagar budaya (warisan budaya), maka usianya harus lebih dari lima puluh tahun. Sementara peradaban di Dieng sudah berkembang sejak abad VIII- XII Masehi pada masa Mataram Kuno.


Kedua, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Jelas sekali, percandian Dieng memiliki sejarah yang luar biasa. Kompleks percandian Dieng ini diduga menjadi candi tertua di Jawa dan dibangun dari perintah raja-raja Wangsa Sanjaya. Sebuah prasasti di Dieng tahun 808 M juga merupakan prasasti tertua di Jawa dan bertuliskan huruf Jawa Kuno yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kita juga masih bisa melihat warisan budaya candi yang dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti kelompok Arjuna, Gatutkaca, Dwarawati, dan Bima.


Kelompok candi Arjuna (budparbanjarnegara.com)

Kelompok Candi Arjuna terdiri dari candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Semar, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa. Kelompok candi ini paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng meskipun di beberapa bagian sudah banyak yang rusak, seperti bagian atap candi hingga tidak terlihat bentuk aslinya, hiasan bentuk seperti mahkota bulat berujung runcing, pahatan yang menggambarkan Syiwa dan Brahma. Konon Candi Semar digunakan sebagai gudang untuk menyimpan senjata dan perlengkapan pemujaan.


Sebenarnya kelompok Gatutkaca terdiri dari lima candi, yaitu Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk dan Candi Gareng. Namun, hanya candi Gatutkaca yang masih dapat dilihat bangunannya, sedangkan keempat candi lainnya hanya tersisa reruntuhannya saja.


Kelompok Dwarawati terdiri atas 4 candi, yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Akan tetapi, saat ini yang berada dalam kondisi relatif utuh hanya satu candi, yaitu Candi Dwarawati. Puncak atap sudah tak tersisa lagi sehingga tidak diketahui bentuk aslinya.


Candi Dwarawati yang terpisah dari candi lain (indonesiakaya.com)


Tidak seperti kelompok candi lainnya, candi Bima hanya berdiri sendiri. Sama seperti kelompok candi lainnya, bagian atap candi ini sudah rusak dan tidak diketahui bentuk aslinya

 

Gangsiran Aswatama (historia.id)

Gangsiran Aswatama adalah sumur air yang berbentuk terowongan air dn dekat dengan kompleks candi Arjuna. Sumur itu dulunya berfungsi unyk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Diameternya 4-7 meter deganjumlah sembilan sumur tua. Beberapa sumur sudah dipugar dan dibangun tembok yang mengeliligi pagar. Atapnya juga dibuat pelindug melingkar seperti gazebo.

Situs Watu Kelir (kebudayaan.kemdikbud.go.id)


Situs Watu Kelir dan Sitinggil merupakan batu-batu yang sudah dipotong dan ditempel pada tebing untuk menahan longsor. Menariknya, tempat ini dulunya sebagai titik untuk melihat pemandangan sekitar Dieng.


Makam Citra dan Makam Budha menjadi situs yang dilindungi karena menggunakan batuan candi untuk penanda kuburan atau nisan.

Situs Pangonan (nekadguiding.wordpres.com)

Situs Pangonan yang berada di wilayah perbukitan ini terdapat batuan yang menyebar di lahan perkebunan masyarakat. 


Situs Ondho Bodho berada terpisah jauh dari kompleks candi Arjuna dan menjadi sumber pemanfaatan batu-batuan sebagai penyusun candi 


Selain karena sejarahnya, peninggalan budaya Hindu yang berupa candi di jaman dulu menjadi suatu wadah untuk melaksanakan ritual keagamaan. Apalagi kawasan percandian tersebut dibangun di daerah pegunungan berhawa dingin dengan ketinggian 2.060 mdpl. Hal itu menunjukkan semangat luar biasa para pembangun untuk mewujudkan kebutuhan ritual keagamaan. Tak hanya itu, kehadiran benda cagar budaya sebagai sarana pembelajaran/pendidikan bagi masyarakat dan pelajar saat ini untuk memupuk rasa nasionalisme.

 

Apa tujuan ditetapkannya Kawasan Cagar Budaya Dieng?

Sebagai benda purbakala, ditetapkannya Kawasan Cagar Budaya Dieng sebagai upaya pelestarian memiliki tujuan untuk :

- melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia;

- meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya;

- memperkuat kepribadian bangsa;

- meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan

- mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.

Sedangkan pelestarian yang dimaksud meliputi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.

 

Apa yang telah dilakukan pemerintah?

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah dalam pelestarian dan pengelolaan kawasan cagar budaya Dieng selama empat tahun hingga tahun 2018.


Kerjasama tersebut tertuang dalam nota kesepakatan tentang pembagian peran, tata cara pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Dataran Tinggi Dieng sebagai objek wisata, dan pembagian pendapatan dari retribusi masuk tempat wisata Dieng. Pembagian kerja juga sesuai bidang masing-masing. Dengan begitu, kedua belah pihak akan terlibat dalam pelestarian kawasan cagar budaya Dieng.


Balai Pelestarian Cagar Budaya bertugas melindungi zona inti dan penyangga, dan melakukan pendampingan serta memberikan rekomendasi pada kegiatan yang ada di kawasan cagar budaya. Zona inti ini adalah zona yang pusatnya pada kelompok candi Arjuna, Gatotkaca, Dwarawati, Setyaki, Bima dan Dharmasala. Sedangkan zona penyangga yang berada di sekitar zona inti. Di zona inti tersebut tidak diperbolehkan didirikan bangunan termasuk zona penyangga bagi candi Bima dan Dharmasala yang berdiri sendiri.


Selain larangan pendirian bangunan, untuk masyarakat yang akan menyelenggarakan event harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar tidak mengganggu keberlangsungan kawasan cagar budaya. Sedangkan zona penunjang merupakan daerah sekitar zona inti yang terdapat fasilitas obyek wisata. Upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya di Dieng oleh pemerintah dilakukan dengan cara penyelamatan dan pengamanan, zonasi, serta pemeliharaan dan pemugaran.


Manfaat yang dirasakan akan kerjasama dua pihak tersebut adalah benda-benda purbakala Dieng lebih terawat, dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan kesejahteraan masyarakat. Kawasan cagar budaya Dieng yang juga menjadi obyek wisata menjadi lebih tertata dan rapi.


Apa Upaya Masyarakat dalam Perlindungan Kawasan Cagar Budaya Dieng?


Setelah ditemukannya arca oleh seorang warga, beliau langsung melaporkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya setempat. Itu artinya bahwa warga sudah memiliki kesadaran untuk tidak menyembunyikan informasi terkait benda temuan purbakala yang terbenam. 


Selain melaporkan temuan benda purbakala, sebagai masyarakat kita bisa melakukan upaya pelestarian kawasan cagar budaya Dieng yaitu dengan cara :
- Tidak merusak dan/atau mencuri cagar budaya baik sebagian ataupun seluruhnya,
- Tidak mengalihkan kepemilikan cagar budaya tanpa izin,
- Tidak mencegah, menghalangi atau menggagalkan upaya pelestarian cagar budaya,
- Tidak memindahkan dan/atau memisahkan cagar budaya tanpa izin,
- Tidak mengubah fungsi cagar budaya.


Tak sulit untuk mendukung pelestarian cagar budaya di Dieng. Hanya dengan menjaga kebersihan dan tidak merusak situs saat kita berkunjug ke Dieng juga sudah merupakan upaya dalam perlindungan benda cagar budaya.


Yuk, kita lestarikan cagar budaya Indonesia!


Cagar Budaya Indonesia



 

REFERENSI

Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 007/M/2015.

Lestyono, Faa’iz Oktavian. 2014. Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara Dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah Dalam Pengelolaan Dan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dataran Tinggi Dieng  Tahun 2014-2018. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jpgs/article/download/24107/21865

https://jateng.suara.com/read/2019/12/30/165023/temuan-arca-ganesha-ungkap-hilangnya-banyaknya-candi-yang-hilang-di-dieng?page=all

https://www.tourdejava.net/2016/01/candi-dataran-tinggi-dieng-wonosobo.html#:~:text=Candi%20Dieng%2C%20Warisan%20Maha%20Karya,sebagai%20Kompleks%20Candi%20Hindu%20Jawa.

https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_dieng

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/zonasi-kawasan-percandian-dieng-sebuah-upaya-pelindungan-cagar-budaya/

https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016051300004/percandian-dieng



 

 

 

 

 




Read More

Mendengar kata New Normal, hal yang pertama terlintas di pikiran saya adalah: Yakinkah dengan kondisi jumlah yang terkena Covid-19 masih banyak ini diterapkan New Normal?

Awalnya saya belum bisa menerima kebijakan baru tersebut. Ketika PSBB diberlakukan, saya dan keluarga harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah. Masker adalah barang wajib yang harus kami pakai. Mencuci tangan dan kaki merupakan hal yang paling sering kami lakukan setelah bepergian. Mudik Sidoarjo-Malang menjadi sesuatu hal yang kami tunda beberapa waktu.

Namun, kebiasaan baru yang rutin kami lakukan dan sangat mempengaruhi kesehatan kami semenjak PSBB adalah minum ramuan jamu empon-empon.

RAMUAN HERBAL KAYA MANFAAT

Setelah ramai diberitakan bahwa ramuan jamu empon-empon bisa membantu meningkatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah terkena penyakit, termasuk penyakit Covid-19, kami pun rutin mengkonsumsinya.

Memang sih belum ada penelitian yang mengatakan ramuan itu ampuh untuk mencegah penyakit Covid-19, tapi kami percaya bahwa bahan alam yang segar dan kaya manfaat itu bisa meningkatkan kekebalan tubuh.

Tanaman rimpang ini berkhasiat sebagai immunomodulator pada beberapa antibodi spesifik dan meningkatkan kemampuan sel fagosit untuk menelan bakteri, virus dan zat antigen. Kemampuannya ini lemah sehingga perlu senyawa immunomodulator.

Zat kimia yang terdapat dalam jahe, kunyit, dan serai ini dipercaya dapat melemahkan virus pada saluran pernapasan. Banyak lagi manfaat lainnya pada tanaman rimpang tersebut apalagi ditambah madu dan jeruk nipis yang segar.




Seperti ada dorongan untuk mengambil khasiat dari ramuan jamu empon-empon tersebut, saya memutuskan untuk rutin minum jamu terebut. Hanya dengan sepuluh ribu saya sudah bisa dapat bahan itu cukup banyak.

Di rumah, saya pisahkan sayur-sayuran dan bahan makanan lainnya yang saya biasa saya beli ke dalam kulkas. Pemisahan ini sebenarnya bertujuan agar bahan makanan tahan lama dan tetap segar. Pemisahan tersebut juga saya lakukan pada tanaman herbal atau bahan empon-empon yang saya beli. Tambahan, ada perlakuan khusus saat menyimpan tanaman herbal tersebut.

PERLAKUAN KHUSUS SAAT PENYIMPANAN TANAMAN HERBAL

Sebelum saya mengkonsumsi empon-empon, setiap saya menyimpan bumbu dapur (kunyit, jahe, kencur, kunci, daun salam, daun jeruk, serai, dll) di kulkas selalu tidak tahan lama karena basah dan lembab. Dan itu menyebabkan beberapa bumbu dapur busuk, tidak segar, bau tidak sedap dan tidak bisa dikonsumsi. Dan saya berpikir bagaimana agar saya tetap rutin minum jamu empon-empon tanpa repot-repot setiap akan memasaknya. Maklum, dua balita di rumah sudah membuat saya tidak menjalani gaya hidup sehat. Jadinya, saya ingin tetap bisa menjalani gaya hidup sehat dengan minum empon-empon dan tidak merepotkan saya.

Saya ingin setiap akan merebus saya tinggal mengambil bahan empon-empon dan memasukkannya dalam rebusan air tanpa repot merajangnya dulu. Nah, saya pun punya ide.  Jadi, saya melakukan beberapa tahap agar tanaman herbal bisa tahan lama dan bisa layak dikonsumsi, seperti:

1. Membersihkan kulitnya

Biasanya kunyit dan jahe yang dari pasar itu sudah bersih, tapi tetap saya bersihkan dulu kulitnya. Saya bilas dulu dengan air. Tidak perlu sampai bersih hanya mengerok kulitnya dan menghilangkan tanah-tanah yang menempel pada kulitnya.

2. Memotong kecil-kecil

Setelah bersih kulitnya, saya memotongnya tipis-tipis. Tujuannya agar saat akan merebus ramuan ini, saya tinggal mengambil beberapa bagian saja. Tidak perlu repot saat akan merebusnya. Lebih praktis karena sudah dipotong-potong.

 
3. Melakukan pengeringan

Bahan empon-empon yang sudah dibersihkan dengan air dan dipotong kecil-kecil, memang alangkah baiknya jika dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan bahan herbal ini perlu perlakuan khusus agar tidak hilang zat aktifnya namun tetap tahan lama.

Beberapa jenis pengeringan bahan herbal adalah pengeringan udara, pengeringan sinar matahari, pengeringan oven, dehidrator dan pengeringan kulkas. Semuanya ada kelebihan dan kekurangannya.

Pengeringan udara. Bahan herbal hanya perlu dikeringkan di tempat terbuka tanpa terkena sinar matahari dan tidak terkena air lagi. Namun, pengeringan udara membutuhkan waktu berhari-hari.

Pengeringan matahari. Cara ini paling populer digunakan. Namun, jangan sampai terpapar terlalu lama karena akan menyebabkan nutrisi di dalamnya akan hilang.

Pengeringan oven. Untuk metode ini memang perlu pengaturan suhu yang bisa diatur pada oven otomatis. Suhu yang digunakan suhu terendah. Sementara untuk oven tangkring (otang) yang hanya mengandalkan api kompor, maka pengaturan suhu dengan menyalakan api yang sedang cenderung rendah. Cara ini merupakan cara paling cepat di antara cara yang lain meski zat aktif mengalami denaturasi.

Dehidrator. Pengeringan dengan dehidrator ini menyebabkan tanaman herbal bisa tahan selama 1-2 tahun. Biaya penyediaan alat ini cukup besar sehingga cocok untuk usaha jamu herbal.

Pengeringan di kulkas. Nah, pengeringan yang paling ringkas dan tidak ribet. Tinggal masukkan saja ke dalam kulkas dan tinggal diambil saat akan dipakai. Namun, tentu saja harus dipisah di sebuah wadah.

4. Memisahkan di tempat berbeda

Setelah dikeringkan, saya pisahkan setiap jenis tanaman herbal tersebut pada tempat berbeda. Kontak dengan potongan herbal lain juga membuat kondisi lembab dan membuat jamur bertumbuh cepat. Pemisahan ini bertujuan agar ketika satu bagian berjamur maka tidak mempengaruhi yang lain.

5. Memasukkan di dalam kulkas

Saya menggunakan jenis pengeringan udara dan kulkas. Jadi setelah dipisahkan dalam wadah berbeda, saya masukkan ke dalam kulkas sehingga tanaman herbal bisa tahan lama.


Tanaman Herbal untuk Empon-empon (Dok.pri)


JANGAN MEREBUS DI PANCI ALUMUNIUM!

Selanjutnya adalah merebus tanaman herbal. Merebus adalah cara mengolah tanaman herbal, seperti kunyit, jahe dan  serai, agar bakteri hilang dan membuat zat aktifnya keluar ketika bercampur dengan air panas.

Biasanya saya mengambil segenggam kunyit, jahe dan serai. Untuk jumlah ini sesuai selera saja setelah uji coba beberapa kali perebusan. Biasanya dalam segenggam itu sudah termasuk serai, kunyit dan jahe. Lumayan tidak terlalu pekat.

Setelah itu saya rebus di panci ukuran kecil, biasanya untuk buat mie. Merebusnya pun harus menggunakan wadah khusus.

Untuk merebusnya, panci yang digunakan TIDAK BOLEH berbahan besi dan alumunium. Merebus bahan herbal harus menggunakan panci berbahan stainless steel, gerabah, dan keramik.

Panci Stainless Steel (sumber : Alibaba.com)


Tujuannya agar kontaminan seperti zat besi dan alumunium tidak mencemari ramuan minuman yang dibuat. Jika kontaminan itu masuk ke dalam minuman maka akan membahayakan bagi tubuh.

Setelah direbus, aku memberinya madu agak banyak sampai kerasa manisnya dan perasan jeruk nipis. Hasilnya dari oranye pekat berubah jadi oranye terang karena jeruk nipis.

TAHAN BERAPA LAMA?

Menaruh bahan empon-empon di dalam kulkas sebenarnya tahan sekitar 2 minggu. Tapi karena saya beli hanya sepuluh ribu, dalam 10 hari bahan sudah habis untuk konsumsi 3 gelas ukuran masing-masing 350an ml.

Jadi, biasanya saya harus ke pasar lagi untuk beli bahan herbal itu sekaligus sayur-sayuran.

BELI EMPON-EMPON SAAT NEW NORMAL?

Ketika PSBB, saya terpaksa harus ke pasar untuk belanja bahan herbal dan sayuran. Sebenarnya mau ke pasar saja mikir berkali lipat. Jadi saya datang di jam yang sepi dari pengunjung. Pagi-pagi sekalian atau siang jam 10an. Kekurangannya sih akan kehabisan banyak sayur. Tapi kalau rezeki juga pasti masih kebagian sayurnya, hehe.

Begitu juga saat New Normal. Bukan berarti saya bisa bebas berkeliaran. Saya juga tetap pergi ke pasar untuk beli empon-empon sekitar seminggu atau dua minggu sekali untuk mengurangi interaksi dengan orang luar.

BELI EMPON-EMPON SEKALIAN BANYAK?

Sebenarnya kenapa saya tidak beli sekalian banyak saja? Saya pernah menyimpan tanaman herbal yang sudah dipotong-potong itu banyak sekali. Waktu itu saya cuma melakukan pengeringan kulkas. 

Sekitar hampir 1,5 bulan bagian jahe, kunyit dan serai mulai muncul jamur. Padahal masih sisa banyak. Pada akhirnya ada bagian yang harus dibuang. Kan sayang banget. Makanya, setelah itu, saya hanya menyimpan secukupnya untuk 10 harian.

Agak sulit memang beradaptasi dengan kondisi begini. Dilema, karena inginnya menyiapkan makanan yang selalu fresh tapi juga tidak bisa setiap hari pergi ke pasar.

Apalagi bagi para Mom yang bekerja di daerah perkotaan dimana banyak tanggung jawab yang harus diselesaikan, pasti akan sangat merepotkan jika harus belanja setiap hari.

KEMAMPUAN ISTIMEWA SMART SENSOR REFRIGERATOR MODENA 

Mom nggak perlu khawatir karena sekarang ada teknologi yang selalu membuat sayuran, buah-buahan juga tanaman herbal bisa tahan lama. Teknologi Smart Sensor pada kulkas Modena menjawab kekhawatiran para Mom yang memiliki mobilitas tinggi dan kesibukan pekerjaan.

Sejak tahun 2019, Modena mengeluarkan kulkas teknologi terbaru dengan Smart Sensor yang menunjang gaya hidup sehat. Sensor pintar ini akan mengintegrasikan segala fitur yang ada sehingga bisa bekerja secara optimal. Press Release Smart Sensor Modena bisa di baca di website Modena ya.

KEUNGGULAN SMART SENSOR REFRIGERATOR MODENA


Beberapa keunggulan Smart Sensor Refrigerator Modena ad3alah:

SENSOR PINTAR, SUHU PUN STABIL

Dua anak saya suka sekali buka tutup kulkas dan sering saya beritahu kalau melakukan itu bisa membuat kulkas tidak dingin. Kalau sudah tidak dingin, bahan makanan, sayuran, buah-buahan, dan empon-empon juga akan cepat busuk. Tidak bisa dikonsumsi. Fluktuasi temperatur adalah tantangan bagi kulkas mana pun. Namun, pada kulkas Smart Sensor Modena ini mampu menjaga kestabilan suhu lemari es akibat dari intensitas kegiatan membuka dan menutup pintu.

TERJAGA KESEGARANNYA BERKAT FRESH KEEPER 



Beberapa kali saya mendapati sayuran saya yang belum sempat saya konsumsi sudah tidak segar alias layu. Pada akhirnya beberapa bagian sayur saya buang sehingga hanya sedikit sekali yang bisa dikonsumsi. Begitu juga, saat saya mendapati empon-empon saya sudah banyak jamurnya. Saya harus memisahkan jahe, kunyit, serai yang belum ada jamurnya kemudian saya jemur sebentar. Sedangkan empon-empon yang sudah rusak karena jamur saya buang. Maka, perlu perlakuan khusus untuk menyimpan bahan yang mudah busuk dan layu.

Kulkas Modena sensor pintar ini sudah memiliki tempat penyimpanan khusus atau fresh keeper yang berupa laci khusus buah dan sayur dengan humidity control yang bisa diatur kelembabannya. Karena kelembaban ini yang membuat makanan, sayuran, buah, tanaman herbal tidak segar lagi dan cepat mengalami pembusukan. 

Sumber : Youtube Modena Indonesia


Berkat fitur itulah, sayur, buah, tanaman herbal, dan makanan lainnya bisa tetap segar seperti hari pertama sesuai dengan konsepnya Fresh As Day One. Menyenangkan sekali, bukan?

AROMA TAK SEDAP HILANG DAN HIGIENIS 

Di masa pandemi memang segalanya harus dijaga kebersihan dan ke-higienis-annya, termasuk sayur, buah dan tanaman herbal. Saya pernah mengalami kulkas yang aromanya tidak sedap. Terpaksa saya harus membersihkan isi kulkas dan membuang penyebab aroma tidak sedap. Saya tidak mau bakteri bermunculan dan merusak bahan makanan lainnya. 

Beda lagi dengan kulkas yang memiliki fitur LTC Sterilization. Teknologi canggih tersebut menjamin bahan makanan, buah, sayur, empon-empon bebas bakteri dan menetralisir bau tidak sedap.  

Sumber : Youtube Modena Indonesia

KONSUMSI ENERGI RENDAH

Yang saya khawatirkan dari penggunaan kulkas adalah jumlah watt-nya yang besar. Pastinya berdampak pada pengeluaran listrik tiap bulannya padahal kebutuhan saya lainnya juga besar. Mungkin karena kulkasnya belum menggunakan teknologi inverter. 

Kulkas Smart Sensor ini sudah menggunakan Intelligent Compressor dengan teknologi inverter. Intelligent Compressor ini yang menjadi pondasi performa lemari es sensor pintar ini. Kompresor inverter memiliki daya tahan lebih prima dibanding non-inverter. 

Berkat teknologi tersebut, konsumsi energi menurun lebih dari 20 persen dibanding lemari konvensional. Jadi nggak perlu mengeluh lagi karena listrik membengkak.



Intelligent Compressor Inverter (Youtube Modena Indonesia)

LED LIGHT YANG OPTIMAL, HEMAT DAN TAHAN LAMA

Suatu ketika anak saya suka sekali memainkan tombol lampu pada kulkas. Saya khawatir jika nanti lampu kulkas rusak dan saya kesulitan untuk melihat bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Hal itu tentu tidak terjadi pada kulkas smart sensor yang menggunakan lampu LED sehingga secara otomatis menyala saat pintu kulkas dibuka. Pencahayaannya pun optimal. Kita tidak kesulitan mencari bahan makanan meski ukuran kulkasnya cukup tinggi. Lampu LED juga memberikan kesan modern. Penggunaan listrik LED Light pada kulkas smart sensor pun rendah dan tahan lama sehingga hemat biaya listrik dan perawatan.


TAK KHAWATIR MUDAH BUSUK BERKAT MULTIFLOW COOLING SYSTEM

Frekuensi saya pergi ke pasar cukup jarang sehingga saya harus menyetok sayur, buah, tanaman herbal untuk beberapa hari. Hal itu membuat kulkas saya penuh sampai di setiap sudutnya. Kulkas yang penuh itu tentu membuat proses pendinginan tidak tersebar merata. Alhasil, beberapa buah dan sayur cepat mengalami pembusukan.

Beda lagi dengan kulkas smart sensor Modena. Meski kulkas isinya penuh, dan menaruh di sudut manapun, suhu dinginnya tetap sama dan tersebar merata di kompartemen melalui ventilasi udsra. Buah, sayur, dan tanaman herbal tetap segar dan zat aktifnya terjaga. Apalagi tidak ada sekat di kompartemennya sehingga kita bisa leluasa menaruh bahan makanan di dalam kulkas.

Sumber : Youtube Modena Indonesia
Dengan kulkas sensor pintar Modena, maka sayur, buah dan tanaman herbal lainnya bisa bertahan sampai 3 minggu lamanya.

KENDALI LAYAR SENTUH YANG MODERN DAN MUDAH DIOPERASIKAN

Pernah nggak mengalami kesulitan saat ingin menyetel suhu dingin melalui panel yang ada di bagian dalam kulkas? Apalagi pas kulkas penuh. Terpaksa, bahan makanan yang di dalam harus dikeluarkan dulu. Kemudian dimasukkan lagi. 

Kalau kulkas Smart Sensor Modena memang didesain agar kita tidak perlu merogoh tangan kita masuk ke dalam kulkas melewati bahan makanan yang penuh sesak. Kendali layar sentuhnya juga modern dan mudah dioperasikan. Jadi nggak perlu repot saat menyetel suhunya. Tinggal sentuh saja dengan lembut panelnya, maka kita bisa menyetel suhunya.

Oiya, hebatnya panel kendali kulkas sensor pintar ini punya banyak kelebihan. Dengan teknologi tercanggih, kita bisa mengatur suhu pada freezer dan refrigerator dengan cara menekan ikon Fridge dan Freezer kemudian menekan kembali sampai angka suhunya berubah pada angka yang kita inginkan.

Ikon Lock ini berfungsi agar tidak ada yang mengubah suhunya, seperti anak-anak yang suka menekan-nekan sesuatu yang baru. Menyetel Mode juga bisa membuat hemat listrik tapi juga membuat makanan tetap terjaga kesegarannya. Kita bisa mendinginkan dan membekukan makanan di Fridge tanpa bingung.


Sumber : Youtube Modena Indonesia

FROST?? NO WAY!!!

Saya mengira kemunculan bunga es (frost) adalah hal biasa setelah penggunaan kulkas beberapa bulan. Nyatanya, kehadiran bunga es ini bisa menyebabkan bahan makanan cepat membusuk. Bunga es itu tidak akan muncul pada kulkas Smart Sensor Modena karena proses defrost bekerja otomatis agar ruang freezer bebas bunga es. Suhu pendinginan jadi optimal dan stabil. Keren ya!

DESAIN PINTU YANG ELEGAN

Biasanya setelah beberapa bulan kemudian, bagian pintu kulkas sering kotor. Entah karena tumpahan air, minyak, sirup, atau susu. Pintu kulkas Smart sensor Modena ini berbahan stainless steel sehingga lebih mudah dibersihkan. Perawatannya pun gampang hanya menggunakan kanebo untuk membersihkan bagian luar kulkas. Selain itu, pilihan warnanya membuat tampilannya terlihat elegan.

TEMPERED GLASS SHELVES

Beberapa kali saya harus memindahkan penyekat agar beberapa bahan makanan bisa muat masuk ke dalam kulkas. Penyekat kaca pada kulkas smart sensor ini juga memudahkan kita mengatur posisi saat akan meletakkan bahan makanan karena mudah dilepas dan dipindahkan. Tidak perlu khawatir mudah pecah akibat beban yang banyak, penyekat kaca pada kulkas smart sensor Modena ini pastinya dibuat dengan cukup kuat.

HOLIDAY POWER SAVING 

Ketika PSBB dan New Normal, memang saya lebih sering berada di rumah sehingga fitur ini sebenarnya belum digunakan. Tapi ketika nanti semua berjalan seperti biasa dan pemilik rumah harus pergi ke luar kota, maka fitur ini sangat bermanfaat. Sayang banget kan ketika tidak di rumah tapi kulkas tetap berjalan seperti biasa. Dengan menyetel fitur Holiday Power Saving maka penggunaan listrik menjadi lebih rendah namun tetap tidak khawatir bahan makanan rusak saat ditinggal.

DOOR ALARM

Seperti yang sudah saya ceritakan di atas bahwa anak-anak saya suka sekali membuka pintu lemari terlalu lama. Kerennya di Kulkas Smart Sensor ini terdapat door alarm child yang akan berbunyi jika mencegah pintu kulkas terbuka terlalu lama sehingga pendinginan lebih efektif dan efisien.




VARIAN KULKAS SMART SENSOR

Kulkas Modena Smart Sensor memiliki lima varian yaitu :

Argento RF 4540 S 
Vetrolia RF 2555 L
Argento RF 2336 S
Argento RF 2335 S
Argento RF 2255 S


Apa perbedaannya? Sebenarnya semuanya konsepnya sama Smart Sensor Refrigerator. Hanya saja ada beberapa fitur yang berbeda. Harganya pun berbeda. Tinggal pertimbangan kalian saja kalau ingin pilih varian tersebut. Perbedaan spesifikasi tiap varian tersebut bisa kalian lihat pada tabel berikut ya. Semoga terlihat jelas ya.






HARGA

Dengan varian dan fitur yang berbeda tentu harga yang diberikan juga berbeda. Kulkas Modena Smart Sensor memiliki harga sekitar 10-20 juta rupiah. Sesuai ya dengan kualitas yang didapat. Memang, kulkas ini ditujukan untuk kalangan menengah ke atas yang memiliki mobilitas tinggi dan ataupun siapa saja yang tidak mungkin pergi berbelanja setiap hari, apalagi di tengah pandemi seperti ini, yang sangat memperhatikan kesehatan dan ke-higienis-an bahan makanan.

GARANSI

Pembeli akan mendapat garansi kompresornya selama 10 tahun dan suku cadangnya selama satu tahun.


****

Saya tahu rutin minum ramuan empon-empon sangat membutuhkan kedisiplinan. Kadang muncul rasa malas karena harus membersihkan, memotong, mengeringkan, dan merebusnya. Namun, semua memang harus dilakukan demi daya tahan tubuh keluarga yang sehat di masa pandemi Covid-19 ini. 

Apalagi kalau ditunjang dengan  Smart Sensor Refrigerator Modena yang memudahkan pekerjaan saya sebagai ibu rumah tangga dengan dua anak balita agar tidak perlu sering-sering ke pasar. Interaksi dengan orang luar pun berkurang sehingga saya tetap sehat dengan rutin konsumsi empon-empon yang segar, higienis, dan nutritif.

Kalau kalian bagaimana gaya hidup sehat kalian di masa pandemi ini? Ceritakan di kolom komentar ya!



SUMBER REFERENSI :

https://surabaya.tribunnews.com/2019/08/25/modena-luncurkan-kulkas-seri-baru-untuk-masyarakat-urban-pakai-teknologi-smart-sensor-refrigerators
https://investor.id/it-and-telecommunication/luncurkan-5-kulkas-smart-sensor-modena-sasar-segmen-premium
http://cookingwsheila.com/cara-cepat-mengeringkan-tanaman-herbal/
Youtube Modena Indonesia


Grafis : Lita Lestianti


Read More
Juli adalah mulanya bulan yang dikhawatirkan bagi sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di Sumatera dan Kalimantan.

Apa sebabnya?

Karena bulan Juli adalah permulaan musim kemarau. Di bulan Juli pula, titik api kebakaran hutan dan lahan banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kemudian, asap kebakaran mengganggu aktivitas manusia termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ditambah, tahun 2020 ini, pandemi Covid-19 menambah parahnya dampak kesehatan penduduk.


Kebakaran Hutan (Antara)

Tak bisa dipungkiri, bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sebagian besar disebabkan oleh 99 persen ulah manusia dan 1 persen alam. Demi mendapatkan uang, banyak pihak yang membuka lahan dengan membakar hutan untuk bercocok tanam bahkan banyak perusahaan terlibat. Apalagi jika pembukaan lahan dengan pembakaran itu dilakukan di lahan gambut dimana jenis lahan tersebut sulit untuk dipadamkan jika terjadi kebakaran.
Tahun 2019 yang lalu merupakan tahun terparah selama empat tahun terjadinya karhutla di Indonesia. Lonjakan hotspot-nya tidak tanggung-tanggung prosentasenya melebihi 86% atau sekitar 17.774 titik api. Trend pola waktu kejadiannya adalah bulan Juli yang menjadi awal mula lonjakan karhutla. Agustus -September merupakan puncak karhutla. Kemudian akan mengalami penurunan saat November. 


Titik Panas Api September 2019 (Sumber : Lapan)

Data KLHK mencatat luas karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Kalimantan Tengah (Kalteng) seluas 134.227 ha lahan terbakar, di Kalimanan Barat (Kalbar) lahan terbakar seluas 127.462 ha, dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 113.454 ha. Sisanya di Riau 75.871 ha lahan terbakar, di Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716 ha dan Jambi 39.638 ha.



Total luasan lahan hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luasan karhutla dalam tiga tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu ha, sedangkan pada 2016 sebesar 438 ribu ha.
Faktanya, 80% lahan yang terbakar tersebut berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Kondisi yang ganjil ketika ditemukan di lapangan bahwa lahan yang terbakar tersebut adalah hutan, sedangkan perkebunan sawit tidak terbakar.


Provinsi rawan Karhutla?

Kalian yang tinggal di tujuh provinsi rawan karhutla harus waspada terhadap asap yang mungkin mulai memasuki kota. Ketujuh provinsi yang masuk kategori rawan kebakaran hutan yakni Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Akibat Karhutla?

Rawan Terserang Penyakit 

Penduduk rawan terkena penyakit ISPA, asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Di tahun 2019, penderita ISPA di Indonesia sebesar 919.554 jiwa tersebar di Riau, Jambi, Sumsel, Kalbar, Kalteng dan Kalsel. 

penderita ispa8


Rentan Terpapar Covid-19

Belum lagi, di masa pandemi Covid-19 ini, para penduduk yang terkena ISPA harus waspada terhadap virus tersebut. Kondisi paru-paru yang tidak sehat penduduk yang rentan terpapar Covid-19. 


Menurut Dokter Penyakit Paru, Feni Fitriani, kepada jurnalis KBR, Fitri Anggraini, Karhutla itu memberi beban ganda bagi masyarakat di daerah di masa pandemi Covid-19 ini. Kelompok usia anak-anak, orang yang berpenyakit ISPA, paru kronik, karena asap kebakaran adalah kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Penduduk yang berstatus PDP dan ODP pun juga memiliki kesehatan yang rentan jika terkena asap kebakaran.

Masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan karhutla diharapkan mengenal tanda-tanda jika terdapat asap kebakaran hutan dan lahan. Nah, agar masyarakat mengetahui kualitas udara yang memburuk dengan melihat tanda-tanda seperti:


-  Gedung yang biasanya terlihat dari jauh tiba-tiba tidak terlihat atau kabur, apalagi di bulan-bulan Juli-Oktober. Masyarakat diharapkan peka terhadap kondisi tersebut.


- Unduh aplikasi Air Quality Index atau cek di website. Dengan mengunduh aplikasi kualitas udara maka masyarakat tahu bahwa saat itu udara sedang buruk atau tidak.


Jika terdapat tanda-tanda itu dan indeks kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan tidak boleh keluar rumah. Kalaupun keluar rumah HANYA untuk URUSAN URGENT. Jika bisa dilakukan di rumah maka lakukan di rumah, tidak perlu keluar rumah. 


Jika keluar rumah maka pakailah MASKER! Karena partikel yang akan masuk melalui rongga hidung itu sangat kecil sekali. Bila perlu, maskernya dibasahi bagi yang memiliki lubang lebih besar.


Pertumbuhan ekonomi menurun

Aktivitas ekonomi menurun dan membuat pendapatan masyarakat menurun. Beberapa kegiatan penerbangan menjadi berhenti beroperasi. Kegiatan transportasi menjadi terhambat. Begitu juga kegiatan pendidikan di sekolah diliburkan. Kerugian Indonesia tahun 2019 mencapai Rp. 72,95 triliun (Indonesia Economic Quarterly Reports dari World Bank). Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019 adalah 0,09%. Kerugian tersebut dihitung pada delapan provinsi prioritas yaitu Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Jambi, Kalimantan Timur dan Papua.

Kerusakan Ekologis

Selain itu, kebakaran hutan memberi dampak negatif yang cukup besar bagi kerusakan ekologis dan menurunnya keanekaragaman hayati. Pemulihan hutan yang telah terbakar tersebut tidaklah mudah karena struktur tanahnya telah rusak. Tumbuhan tidak dapat lagi menampung air hujan dalam jumlah besar sehingga mudah terjadi erosi. Bencana banjir, longsor dan kekeringan pun akhirnya melanda di beberapa wilayah.
Apalagi hutan hujan tropis Indonesia yang terbakar merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar di dunia. Kekayaan hayati di hutan hujan tropis begitu penting karena 50% jenis keanekaragaman hayati dunia ada di jenis hutan tersebut. Kelangsungan hidup flora dan fauna di hutan tersebut terancam punah. 

Kualitas Udara Buruk

Kualitas udara menjadi jelek karena asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Indeks kualitas udara di Palangkaraya pada September 2019 mencapai 480; Riau mencapai 415; Pekanbaru mencapai 489. Indeks tersebut menunjukkan bahwa polusi udara berbahaya karena jauh dari batas aman 100. Dampak dari kualitas udara tersebut adalah banyak penduduk yang mengalami penyakit ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik, dan lainnya. 

Ternyata tingkat polusi udara di Palangkaraya tahun 2019 itu sama dengan menghirup asap rokok sebanyak 43 batang. Wow! Mengerikan ya!


tingkat polusi udara

Kebakaran hutan menyebabkan emisi karbon meningkat hampir 20% karena kandungan gasnya yang memperburuk atmosfer. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan gas karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), sulfur dioksida (SO2) dan lainnya ke udara. Gas CO2 itu tidak dapat diikat oleh tumbuhan karena hutan yang hilang. Hasilnya, gas karbon dioksida bebas berada di atmosfer dan menimbulkan efek rumah kaca. Bumi pun semakin panas. Implikasinya, pemanasan global semakin meningkat.

Perubahan Iklim

Berbicara tentang perubahan iklim ini memiliki hubungan sebab akibat yang sangat kompleks. Namun, jika dirunut secara terstruktur, pemanasan global ini lebih diakibatkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia sendiri sangat banyak seperti deforestasi, penggunaan kendaraan bermotor, aktivitas industri, penumpukan sampah, dan lain-lain.


Deforestasi atau kehilangan tutupan lahan akan dengan membakar lahan menyebabkan polusi udara dimana CO2 dan gas lainnya terlepas ke udara. Polusi udara ini menyebabkan penduduk mengalami penyakit ISPA, asma dan paru kronik. Gas-gas tersebut juga menyebabkan efek rumah kaca dan perubahan iklim. Jika sudah terjadi perubahan iklim, maka kondisi buruk dapat dirasakan oleh manusia sendiri, seperti gunung es mencair, air laut naik, cuaca yang tak menentu/ cuaca ekstrim, kekeringan, dan angin kencang. 

Cuaca ekstrim ini bisa dibagi menjadi dua kondisi dimana suatu daerah akan mengalami hujan terus menerus atau kekeringan yang berkepanjangan. Hujan yang terus-menerus ini yang akan menyebabkan banjir. Deforestasi ini juga bisa menyebabkan bencana lain seperti banjir, longsor, dan erosi. Kekeringan ini menyebabkan gagal panen. 


Sementara perubahan iklim yang menyebabkan angin kencang, kekeringan dan cuaca panas ini menjadi faktor alam terjadinya kebakaran di hutan. Jika diperhatikan, semuanya seperti lingkaran setan yang tak ada habisnya.






perubahan iklim




Iklim Malang yang "Aneh"

Aku pun merasakan bagaimana perubahan iklim itu terjadi di kota tempat tinggalku. Cuaca yang aneh sudah terjadi sejak saya tiba di kota Malang tahun 2006. Bahkan sampai saat ini. 


Hal yang paling aku ingat dari perkataan Masku ketika menjemput dari terminal adalah Kota Malang itu memiliki iklim yang "aneh". Di Malang, saat musim kemarau malah sering terjadi hujan.

Awalnya aku tidak percaya, namun ketika menjalani empat tahun di Malang, perkataan Masku itu benar. Aku juga tidak paham kenapa seperti itu.

Ternyata, setelah aku cari informasi di google, banyak daerah saat ini yang mengalami hal serupa. Hujan saat musim kemarau.

Cerita lain lagi ketika aku berkata pada kakak kos setelah selesai mandi.

“Duh, airnya sudah dingin ditambah lagi udaranya yang dingin. Sepertinya bulan kemarin nggak seperti ini.”
Dia berkata, “Soalnya menyambut Maba (Mahasiswa Baru).”
Awalnya aku tidak paham maksud perkataan kakak kosku. Apa hubungannya udara dingin dengan menyambut Maba?
Ternyata, setiap bulan Juli dan Agustus dimana bulan-bulan penerimaan mahasiswa baru, termasuk ospek, suhu di Malang menjadi rendah sekali.
“Masak, sih?” Aku tidak percaya.
“Lohhh… Ya sudah,” ucap kakak kos sambil senyum-senyum saja.

Fakta baru itu selalu kuingat-ingat sampai akhirnya di tahun-tahun selanjutnya aku merasakan suhu kota Malang setiap bulan Juli-Agustus itu begitu dingin. Padahal pada bulan-bulan itu Kota Malang harusnya mengalami musim kemarau dengan suhu yang panas menyengat.

Empat tahun tinggal di Kota Malang membuat tubuhku segera beradaptasi dengan suhunya yang dingin. Setelah itu, aku melanjutkan kuliah di kota Semarang yang panas sama seperti di Samarinda. Setelah tiga tahun tidak tinggal di Malang, akhirnya aku kembali ke Malang karena menikah dengan orang Malang. Saat itulah, aku mulai merasakan perbedaannya jika dibandingkan ketika aku tiba di kota tersebut.
Kota Malang mengalami perkembangan pembangunan yang cukup cepat selama tiga tahun. Gedung-gedung baru terlihat di beberapa bagian kota berdampak pada kurangnya resapan air. Lahan sawah dan kebun di pinggir kota telah bertransformasi menjadi bangunan perumahan membuat air tidak langsung masuk ke dalam tanah. Ditambah lagi, pembangunan jalan tol yang mengambil lahan hijau seperti hutan, sawah dan kebun, menambah cepatnya aliran air dari hulu ke hilir sementara daerah hilir belum siap menampung limpasan air hujan yang begitu tinggi. Maka, banjir di Kota Malang tak bisa dihindari lagi.

Tak cuma di Malang saja, ketika aku pulang kampung di kota kelahiran Samarinda tahun 2010, aku juga merasakan perbedaan. Perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda, yang dulunya semak belukar, hutan, dan kebun sudah dialihfungsikan menjadi jalan dan bangunan. Belum lagi, ketika tiba di Samarinda, aku melihat ada bukit yang dulu hijau menjadi gundul. Tak heran jika Samarinda saat ini juga sering mengalami banjir.


Apa yang dilakukan pemerintah?

Hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di masa pandemi Covid-19 ini adalah :

1. Pengeboman air dengan menggunakan helikopter mencapai 392 juta liter. 
2. Melakukan operasi udara berupa teknologi modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPPT dan TNI.
3. Pemeriksaan kondisi sumur bor dan sekat kanal agar dapat berfungsi dengan baik saat akan digunakan.


4. Meskipun masa pandemi Covid-19 ini terdapat refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap melakukan target-target terkait Karhutla dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti saat melakukan patroli terpadu, patroli mandiri, kampanye, sosialisasi dan pemadaman.

5. Penyemperotan desinfektan, pemberian hand sanitizer, dan masker yang dilakukan oleh Manggala Agni (Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan)



Solusi Praktis



Banyak hal yang bisa kita lakukan dari rumah sebagai solusi praktis dalam mengatasi perubahan iklim di masa pandemi Covid-19:



1. Menghemat penggunaan listrik


Energi listrik di Indonesia sebagian besar masih berasal dari sumber alam seperti batubara dan air. Makanya dengan penghematan penggunaan listrik maka kita akan menghemat sumber alam yang terbatas tersebut. 



2. Menghemat penggunaan air


Hampir setiap tahun Indonesia selalu mengalami kekeringan. Beberapa wilayah sulit mengjangkau air bersih. Hal tersebut karena cadangan air tanah yang semakin sedikit. So, dengan menghemat penggunaan air maka kita sudah membantu menyimpan cadangan air tanah.



3. Pemilahan sampah. 


Di lingkungan rumahku memang sudah menerapkan pemilahan sampah. Pembagian sampah dibagi menjadi sampah basah, residu (sampah tidak bisa dijual seperti popok), sampah plastik dan sampah kering (yang masih bisa dijual). Seorang warga yang menjadi pengurus RW terlibat dalam pengumpulan sampah dari para warga. Beliau mengumpulkan sampah kering saja kemudian hasil penjualannya untuk tabungan warga yang bisa diambil jika sudah terkumpul banyak. Pengurangan sampah dengan pemilahan sampah ini berkontribusi dalam pengurangan gas methan yang muncul saat penumpukan sampah di TPA. Gas methan ini juga menjadi penyumbang gas rumah kaca dan pemanasan global.



4. Minimalisir penggunaan plastik


Jika aku tidak meminimalisir penggunaan plastik, dalam seminggu aku sudah menumpuk sampah plastik sampai satu kresek besar. Kemudian plastik itu akan diangkut oleh tukang sampah sementara pengolahan sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama. So, saat belanja ke pasar biasanya aku bawa tas sendiri atau saat aku tidak membawa tas dan penjual memberikan kresek aku menolaknya lantaran aku bisa membawanya tanpa harus pakai kresek. 



5. Minimalisir penggunaan kertas


Semua tahu bahwa paperless sekarang sudah mulai berkembang baik untuk menulis atau pun berkirim karya. Syukurnya, karena aku ibu rumah tangga jadi penggunaan kertas tidak terlalu banyak. Hanya saja aku punya dua buku catatan untuk mencatat materi kepenulisan dan saat mengikuti kajian. Dan satu buku itu aku jatah untuk satu tahun bahkan bisa lebih.



6. Minimalisir penggunaan kendaraan bermotor


Akibat pandemi Covid-19 ini, aku lebih sering berada di rumah. Otomatis, penggunaan kendaraan bermotor berkurang. Namun, aku juga masih perlu ke pasar atau ke swalayan untuk berbelanja. Dan aku memilih menggunakan sepeda pancal jika aku tidak membawa barang banyak dan jaraknya tidak jauh. Alasannya selain hemat bahan bakar minyak agar sumber daya alam tidak cepat habis, aku jadi bisa berolahraga. Ya, kan.



7. Minimalisir penggunaan pendingin ruangan

Ah, untungnya, di rumahku tidak memasang AC tapi memasang kipas angin. Karena rumahku berdempetan dan agaknya sulit menggunakan cahaya alami sebagai penerangan di siang hari, maka aku tetap menyalakan lampu, seperti di kamar mandi. Meskipun begitu, aku berusaha untuk mematikan lampu di siang hari saat tidak digunakan.



8. Penggunaan masker kain


Penggunaan masker kain yang washable juga menjadi salah satu solusi praktis untuk mengurangi sampah yang menjadi kontribusi dalam pemanasan global.


Begitulah pengalamanku soal perubahan iklim. Satu langkah kecil dari satu orang terlihat tak berarti namun ketika satu langkah kecil dari seribu orang pasti akan berpengaruh. Sehingga kekhawatiran bulan Juli terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan serta cuaca esktrim di bulan selanjutnya dapat diminialisir.
Solusi praktis kalian bagaimana untuk meminimalisir dampak pemanasan global di tengah pandemi Covid-19 ini?






Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.



REFERENSI
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/09/19/juli-oktober-paling-rawan-terjadi-kebakaran-hutan-dan-lahan
https://nationalgeographic.grid.id/read/131864595/jumlah-penderita-ispa-akibat-karhutla-capai-919516-orang-di-bulan-september
https://nasional.tempo.co/read/1251408/bnpb-korban-ispa-akibat-karhutla-mencapai-900-ribu-jiwa/full?view=ok
https://m.cnnindonesia.com/teknologi/20190717190919-199-413054/lapan-tujuh-provinsi-rawan-kebakaran-hutan
https://www.mongabay.co.id/2019/10/22/kebakaran-hutan-dan-lahan-sampai-september-2019-hampir-900-ribu-hektar/
https://m.detik.com/news/berita/d-4755492/bnpb-karhutla-2019-bakar-lahan-857-ribu-ha-terparah-dalam-3-tahun/2
https://nasional.kompas.com/read/2018/08/25/14340331/kebakaran-hutan-dan-lahan-apa-dampak-dan-upaya-pencegahannya?page=all
https://www.mongabay.co.id/2019/12/16/bank-dunia-kerugian-indonesia-dampak-karhutla-2019-capai-rp7295-triliun/
https://www.liputan6.com/news/read/4064864/akibat-yang-ditimbulkan-dari-kebakaran-hutan-dan-lahan-menurut-bnpb
https://nationalgeographic.grid.id/read/131872192/iritasi-hingga-potensi-kanker-dampak-kebakaran-hutan-bagi-kesehatan?page=all

https://www.bbc.com/indonesia/majalah-49738855

Rasyid, Fachmi. 2014. Permasalahan dan Dampak Kebakaran Hutan. Jurnal Lingkar Widyaiswara, Edisi 1 No. 4, Oktober – Desember 2014, p.47-59. KLHK: Tangerang Selatan.


Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower