Bulan Februari lalu, saat hari kejepit, kantor suami mengadakan tur wisata ke Bali. Saya yang baru melahirkan sebulan sebelumnya bingung apakah harus ikut atau tinggal. Kalau saya tinggal, saya rasanya nggak mampu melihat Raceqy mencari-cari ayahnya beberapa hari. Saya pun nggak bisa mengatasi sendirian kalau dia rewel. Kalau ikut, saya sebenarnya kasihan juga dengan bayi yang masih satu bulan harus perjalanan jauh. Saya pun menyuruh suami saja berangkat sama Raceqy tapi suami nggak mau.

Akhirnya saya minta pendapat bidan. Beliau berkata asal jangan mengarahkan AC ke muka bayi langsung. Mending dimatikan saja.
Baiklah. Saya pun merasa lega dan nekad tetap ikut. Kami pun berkumpul di kantor suami jam tiga sore tapi Bus baru berangkat jam setengah tujuh malam karena ada sesuatu hal. Ternyata di tol macet sekali.

Di Probolinggo, kami sampai di rumah makan untuk makan malam sekitar jam 11 malam. Kemudian lanjut ke pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Sampai di sana sekitar pukul empat pagi. Semua pun melaksanakan sholat di musholla pelabuhan.

Sekitar hampir satu jam kami menyeberangi selat Bali. Perjalanan pun dilanjutkan. Rencananya kami akan mengunjungi Tana Lot dan Pura apa gitu. Sayangnya karena terlalu sore, jadi perjalanan langsung menuju tempat makan sekaligus tempat jual oleh-oleh di Denpasar. Sampai di hotel di Legian sekitar jam setengah enam. Karena sudah masuk Waktu Indonesia Tengah, jadi jam segitu masih agak terang.

Setelah mendapatkan kunci kamar, kami pun segera masuk kamar. Betapa leganya kami sudah bisa membaringkan badan setelah perjalanan hampir 24 jam.

Setelah makan malam, panitia menyiapkan acara. Saya tidak ikut acaranya karena ingin membaringkan si kecil. Raceqy ikut ayahnya mengikuti acara walaupun tidak sampai selesai.

Besoknya, tujuan wisata selanjutnya ke Pantai Pandawa, Uluwatu, Tanjung Benoa, dan Pulau Penyu. Saya dan suami memilih tidak ikut dan tinggal di hotel untuk beristirahat. Resikonya kami tidak dapat makan siang. Paginya suami dan anak menikmati di kolam renang hotel Hardys Rofa.

Baca Juga : Hardys Rofa: Hotel Nyaman Tidak Jauh dari Pantai Kuta

Sewa Motor

Kami pun berencana pergi sendiri dengan nyewa motor yang banyak menyediakan jasa sewa kendaraan di Bali. Saya pun menelepon jasa-jasa yang ada di internet. Rata-rata minimal dua hari dengan harga 100an ribu per hari. Padahal kami rencana satu hari saja karena besoknya akan ke Danau Bratan.

Eh, karena minimal dua hari, akhirnya saya coba tanya resepsionis apakah hotel menyediakan sewa motor. Eh, ternyata memang menyediakan sewa motor dan mobil. Harganya 75 ribu per hari untuk satu motor. Setelah saya pesan ke satpam, pemilik sewa pun datang ke hotel sambil memberi kunci dan STNK.

Pantai Kuta dan Seminyak

Kami pun berkelana ke daerah Legian atau Kuta dan daerah Seminyak. Bermodal Google Map, kami pun menyelusuri jalan-jalan sempit di daerah Kuta. Banyak bule-bule dengan pakaian sedikit terbuka membuatku merasa seperti bukan di Indonesia. Beberapa toko didesain seperti di luar negeri dengan kanopi khas Eropa Amerika. Beberapa rumah khas tradisional dengan bangunan Pura nya yang terlihat di beberapa titik di wilayah Kuta menyadarkanku berada di negeri sendiri.

Daerah Kuta adalah daerah tujuan wisata internasional. Pantas saja kalau daerah ini cukup ramai bahkan macet di jam-jam tertentu. Toko-toko menjual pakaian yang terbuka untuk para turis, juga cinderamata atau kerajinan tangan karya lokal. Beberapa titik juga menyediakan jasa tukar uang asing.

Kami pun hendak belok kiri inginnya ke Pantai Kuta. Sayangnya jalannya ditutup dan dijaga beberapa petugas keamanan. Kami pun berbalik arah dan memilih belok kanan menuju jalan yang kami tak tahu itu dimana. Ternhata kami menelusuri jalan pinggir pantai di Seminyak.

Saya sedikit terpukau dengan hotel-hotel mewah di pinggir pantai. Dari jalanan terlihat bule-bule sedang berjemur di sebuah ruang terbuka yang saya duga sedang di pinggir kolam hotel. Saya pun baru tahu kalai Seminyak adalah kawasan hotel-hotel, villa, resort mewah walaupun jalannya sempit. Bahkan kami sempat nyasar ke sebuah wilayah resort atau hotel mewah yang berada di culdesac (jalan buntu).

Tragedi Ban Bocor

Begitu puas melewati pantai dan kawasan pinggir pantai, kami pun pulang ke hotel. Setelah maghrib, saat kami akan jalan-jalan lagi ternyata ban motornya bocor. Padahal tadi tidak kenapa-kenapa. Terpaksa kami menelepon si pemilik motor. Begitu mereka datang, mereka bilang jam segini nggak ada tambal ban. Ujung-ujungnya kami harus mengganti ban seharga tiga puluh ribu rupiah. Dengan harga segitu di Kuta apa wajar? Memang sih di bukti pembayaran ada perjanjian kalau kerusakan ban atau ban kempes tidak ditanggung. Lah kalau ada yang iseng dikempesin terus kita harus menanggung tiga puluh ribu? Walah. Yasudah deh. Saya juga tidak mau cari masalah. Jadinya jatuhnya sama saja tuh seperti agen-agen sewa yang ada di internet.

Pulang Mampir ke Joger

Besoknya kami bersiap-siap untuk check-out. Karena ada beberapa rekan kantor suami yang meneruskan bermalam di Bali jadinya panitia harus mengurus pendataan dan pemindahan penumpang di Bus lain.

Sepanjang perjalanan kami ditemani seorang pemandu yang benar-benar menyenangkan karena kelucuannya. Perjalanan menjadi tidak terasa. Saya juga benar-benar menikmati Bali dengan keunikan rumah tradisionalnya yang selalu menyisakan sedikit untuk ruang terbuka.

Kami juga melewati kantor Kabupaten Badung yang terkenal mewah karena memiliki pendapatan daerah tertinggi dibanding kabupaten lainnya di Provinsi Bali. Maklum Kabupaten Badung memiliki, Kuta, Legian, Seminyak, Uluwatu, Tanjung Benoa, Jimbaran, Bandara Ngurah Rai yang sering dikunjungi wisatawan mancanegara.

Tidak lama kami pun tiba di tempat belanja oleh-oleh Bali yang paling terkenal yaitu Joger. Sudah banyak Bus-Bus yang parkir di depan tempat belanja itu. Jalan yang sempit membuat banyak berhenti di pinggir jalan untuk menurunkan penumpng dan menyebabkan tundaan-tundaan kendaraan.

Masuk Joger juga ada syaratnya tuh. Bagi yang rombongan akan ditempeli stiker di bajunya dan harus antri sesuai rombongannya. Paling penting tidak boleh pakai kaos Joger palsu atau produk lainnya. Kalau tidak nanti disuruh lepas. Antisipasinya, dengan memakai jaket atau melepas produk palsu itu.
Begitu melewati pintu pemeriksaan, saya mengikuti pengunjung yang lain. Ternyata masuk ke ruang kaos-kaos. Banyak sekali pengunjung-pengunjung melihat kaos Joger. Duh, akhirnya saya putar balik karena saya bawa bayi. Kasihan. Apalagi suami kalau berada di kerumunan orang bakal pusing.
Akhirnya saya pun lihat sandal-sandal di atas. Ada satu sandal yang menarik hati tapi ukurannya kecil. Suami juga cari sandal ukurannya kecil-kecil sedangkan ukuran kaki suami sekitar 42. Akhirnya beli sandal ukuran 40. Alasannya nanti juga melar. Lah?!

Semakin siang Joger semakin ramai apalagi pas libur kejepit. Setelah semua selesai berbelanja, kami pun menaiki bus dan segera menuju ke Danau Beratan Bedugul.

Wisata Danau Bratan Bedugul

Udara dingin sejuk menerpa wajah. Danau Bratan Bedugul berada di daerah ketinggian dan dikelilingi pegunungan. Beberapa orang menuju masjid untuk shalat Dzuhur yang berada di ketinggian. Suami cerita sambil menawari cilok yang ternyata rasanya enak itu kalau pemandangan dari masjid bagus sekali. Pemandangan Danau Bratan dan Pura nya dikelilingi dengan pegunungan jelas terlihat. Walaupun saya tidak ke masjid tapi saya bisa membayangkan betapa indah pemandangan Danau Bratan.

Kami pun makan siang dulu di Bus dengan nasi kotak. Setelah itu kami masuk ke tempat wisata yang terkenal itu.

Taman-tamannya luas belum lagi ditambah pepohonan menambah keteduhan siang itu. Untungnya matahari tidak begitu menyengat. Saya dan suami sudah membawa payung khawatir kalau tiba-tiba hujan. Maklum kita liburannya saat musim hujan.

Taman di Tempat Wisata Danau Bratan


Ada area bermainnya juga yang dipenuhi anak-anak. Raceqy begitu semangat bermain di taman bermainnya.

Ada restaurant dan pujasera juga.


Saya melihat ke dermaga sudah banyak orang yang antri ingin naik perahu dan sepeda air. Ada juga jasa pembuatan tato dekat dermaga. Saya melihat beberapa orang dibuatkan tato-tato non permanen yang hanya menggunakan stiker.


Dermaga di Danau Bratan

Setelah puas bermain, saya dan suami menuju ke Pura yang menjadi ikon di uang 50.000 itu. Sudah lama saya ingin ke Bedugul, akhirnya kesampaian juga. Kami pun berfoto berlatar Pura dan Danau Bratan itu. Saya ingin mengetahui lebih dekat Pura itu tapi lautan manusia membuat saya mengurungkan niat melihatnya.

Pura di Danau Bratan


Tidak lama hujan mulai turun. Walaupun gerimis tapi sudah membuat para wisatawan yang sedang berfoto kelabakan mencari tempat berteduh.
Saya dan suami segera menuju Bis. Perjalanan selanjutnya pulang ke Surabaya sekitar pukul tiga sore.

Bus-bus kami melewati pegunungan dengan pemandangan Danau Beratan. Indah sekali terlihat dari atas. Sampai di Surabaya pukul tiga pagi hari senin. Kami pun segera bergegas pulang ke rumah karena suami harus berangkat lagi ke kantor.

Read More
Selama tinggal di Waru, aku dan suami belum menjelajahi kota Surabaya atau bahkan Sidoarjo sendiri untuk menikmati hari libur. Maklum biasanya kalau akhir pekan kami ke Malang. Kebetulan saat hari buruh, kami ada di Malang dan baru balik ke Waru hari selasa malam. Daripada bolak-balik Malang, kami stay di rumah aja pas akhir pekan. Lah kok pas di lingkungan rumah juga banyak acara, ada syukuran, arisan dan rapat RT, jadi kami nggak ke Malang. Mbahkung dan mbah uti Sragen juga datang ke rumah.

Sabtu pagi aku mengajak Mbahkung dan Mbah uti ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) padahal mbah kung sama mbah uti mau pulang ke Sragen, hehe. Lah gara-gara suami protes, masak nggak diajak jalan-jalan cuma disuruh masak tok. Yaudah deh. Padahal yang mau masak itu Uti sendiri, loh. Hehe.

Sudah sejak lama pengen ngajak Raceqy lihat hewan-hewan di Kebun Binatang Surabaya (KBS) biar sekalian mengenalkan nama-nama hewan di sana. Terakhir saya kesana waktu masih kecil. Itu pun sudah lupa bagaimana bentuknya di dalamnya.

Kebun Binatang Surabaya (KBS) ini memiliki luas sekitar 15 hektar. KBS sudah didirikan sejak tahun 1920. Pas jaman Belanda tiketnya gratis tapi lama-kelamaan mengalami krisis dan terancam tutup tapi anggotanya tidak setuju. Akhirnya dibaut pengurus baru dan dapat bantuan dari walikota. Saat ini Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) KBS dikelola oleh pemerintah kota.



Lokasi

Hari Sabtu kami ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) yang ada di Jalan Setail No.1, Darmo, Wonokromo.  Akses menuju KBS ini bisa naik Bus dari Bungurasih ke arah terminal Joyoboyo terus berhenti depan kebun binatang Surabaya. Kalau mau lebih praktis bisa pakai taksi online, hehe.

Landmark

Ketika melihat landmark atau ikon kota Surabaya yang berupa patung suro (hiu) dan boyo (buaya) maka kita sudah sampai di KBS.

Parkir

Kalau naik kendaraan pribadi, maka kita akan masuk parkir dengan tarif parkir KBS 8.000 rupiah untuk mobil. Kalau motor, saya lupa nanya, hehe. Kalau parkir mobil harus pintar-pintar biar bus-bus bisa lewat. Karena kalau sudah siang, pengunjung akan ramai sekali terutama saat weekend. Apalagi parkiran juga dipakai buat berjualan membuat mobil-mobil susah keluar.

Tiket Masuk

Tiket masuk Kebun Binatang Surabaya per orang 15.000. Untuk anak-anak yang tingginya lebih dari 85 cm sudah harus bayar tiket. Sedangkan tiket rombongan harganya 13.000 per orang untuk minimal 30 orang. Di pintu masuk ini ada papan untuk mengukur ketinggian. Jadi anak-anak diukur dulu sebelum masuk kebun binatang. Setiap pengunjung akan diberi satu gelang dari kertas yang ditempel.

Kebun Binatang Surabaya

Begitu masuk, pengunjung akan melihat peta besar yang berisi tata letak kebun binatang dengan fasilitas dan persebaran hewan-hewannya. Ada jenis burung-burung, reptil juga mamalia. Jenis mamalia ini yang paling banyak dipelihara di KBS apalagi dari spesies monyet. Banyak sekali monyet-monyet yang dipelihara. Sepertinya mereka sudah beranak cucu. Mungkin karena iklim tropis jadi monyet mampu bertahan hidup.



Sebenarnya ada larangan untuk tidak memberi makan hewan tapi ada saja yang memberi makan hewan. Apalagi mereka kelihatannya lapar. Jadi setiap ada lemparan kacang, monyet segera menyambutnya. Termasuk saya yang memberi makan monyet, hehe. Habis gemes sih lihat mereka nangkap kacang. Bahkan sampai ada yang berenang di sungainya.

Ada atraksi gajah juga, loh. Jadi kita bisa naik gajah yang dipandu oleh petugas kebun binatang. Kalau tidak salah, bisa sarapan dan naik gajak tapi bayar 75.000.

Biasanya Raceqy cuma lihat hewan-hewan melalui gambar atau video atau televisi, di KBS aku mencoba mengenalkan dia dengan hewan-hewan itu. Mulai dari melatih mengucapkan sampai mengulang-ulang pertanyaan. Entah kenapa semua hewan yang bisa ditunggangi dia sebut kambing.
Kusebutkan ciri-ciri umum setiap hewan, misal jerapah lehernya panjang, gajah itu besar, monyet itu melompat.

Raceqy senang banget melihat rusa-rusa yang mendekati kami karena kami kasih rumput-rumput yang disediakan di depan kandang.



Fasilitas

Fasilitas Kebun Binatang Surabay ini cukup banyak.

- Tenda rombongan
Waktu saya kesana, banyak sekali anak-anak PAUD/TK yang berkunjung kesana. Di area KBS ini disediakan tenda-tenda tanpa tikar dan bisa digunakan untuk duduk lesehan. Saya juga kurang tahu untuk biaya sewa tenda di KBS nya, apakah memang sudah gratis dari sananya atau harus bayar. Begitu juga alas duduknya.

- Kolam renang
Sayangnya, kemarin saya tidak melihat ikan-ikan di sana jadi tidak melihat ada kolam renang. Tahunya juga pas lihat foto peta KBS.

- Warung dan Pujasera
Bagi yang ingin membeli makanan kecil, di area KBS disediakan stand-stand penjual makanan kecil dan gorengan. Ada juga yang menjual mainan-mainan. Pujasera juga disediakan di KBS dengan harga standar 15.000-20.000. Makanan yang dijual seperti soto, bakso, rujak, nasi campur, dan lain-lain.

- Perpustakaan
KBS juga memiliki perpustakaan. Waktu saya kesana perpustakaan sepi. Jadi saya memilih menjelajah KBS sambil mengenalkan kepda anak tentang hewan-hewan.

- Wisata Perahu
Wisata perahu ini ada di dekat tempat atraksi gajah. Satu kapal bisa dinaiki 3-5 orang. Tiap penumpang akan diwajibkan menggunakan pelampung. Sayangnya saya lupa tanya harganya. Haha. Wisata perahu ini kita diajak menikmati kebun binatang dengan hewan-hewan yang ada di tengah pulau.

- Sepeda Air
Sepeda air ini berada di bagian belakang KBS setelah kandang singa dan harimau. Harganya 25.000 rupiah untuk dua orang, sedangkan 30.000 rupiah untuk sepeda air berisi empat orang. Naik sepeda air ini benar-benar seperti di tengah hutan. Saya menemukan biawak dan kura-kura berenang saat saya menggunakan sepeda air. Mungkin karena lokasi sepeda air tidak begitu terawat. Banyak tanaman liar yang tumbuh. Banyak tanaman air yang tidak pernah diambil. Ada juga rumah-rumah non permanen yang berada di pinggir lokasi seperti potret rumah di pinggir kali.

- Panggung anak
Begitu selesai main sepeda air satu putaran, kami pun pulang. Kami melewati pujasera dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kemudian ada panggung anak yang bisa digunakan untuk acara-acara sekolah.

- Playground dan Flying Fox
Di dekat panggung anak, ada playground dan flying fox juga. Saya tidak kesana karena sudah sangat capek mengelilingi KBS.

- Toilet
Toilet ini berada dekat dengan pintu keluar.


Sampai parkiran, sudah banyak sekali bus, mobil yang parkir. Parkiran sangat padat sekali dengan penjual dan pembeli. Saya datang jam setengah sembilanan dan selesai mengelilingi KBS jam 11an. Rasanya memang mending datang pagi-pagi biar nggak terlalu panas dan suasana pun belum ramai benar.
Read More
Bagi kalian yang pernah ke Kediri dari Malang lewat kota Batu pasti melewati daerah dataran tinggi yang dingin dengan jalan berkelok-kelok. Daerah itu adalah Pujon. Salah satu kecamatan di Kabupaten Malang yang terkenal dengan produksi susu sapi SAE Pujon.

Di kecamatan Pujon ini ada obyek wisata baru yang sangat menarik untuk di kunjungi. Obyek wisata itu adalah Cafe Sawah Pujon Kidul. Lokasinya ada di kelurahan Pujon Kidul. Selama ini, saya hanya lihat di postingan teman-teman tentang lokasi ini. Menarik banget emang. Lah, tapi di Pujon Kidul? Kebayang harus melewati jalan berbelok-belok dulu.

Eh, akhirnya kesampaian. Mertua mengajak saya dan saudara-saudara jalan-jalan ke Cafe Sawah di Pujon Kidul. Karena kami keluarga besar jadi kami membawa dua mobil sedan. Kami berangkat sebelum dzuhur.

Akses

Kami kebayang karena weekend daerah Soekarno Hatta-Dinoyo-Dau akan macet, akhirnya kami lewat belakangnya kampus UMM. Walaupun jalannya sempit tapi nggak macet. Setelah ketemu pertigaan, belok kiri tembus jalan besar. Nanti ketemunya pertigaan yang ada pos polisi itu. Kami pun belok kanan.

Karena adzan dzuhur tiba, kami sholat dulu di masjid besar sebelah kiri jalan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan lagi. Jalannya sama seperti ke arah Coban Rondo tapi kita ambil jalan yang lurus yang ada spanduk bertuliskan Cafe Sawah Pujon Kidul. Selain Cafe Sawah, ada juga obyek wisata Air Terjun Sumber Pitu tapi kami nggak ke sana mengingat sudah terlalu siang. Jadi kalau mau mengunjungi Air Terjun Sumber Pitu mending pagi-pagi berangkatnya.

Kami masuk ke wilayah pedesaan yang tenang. Jalannya pun tidak terlalu bagus untuk tujuan obyek wisata yang sudah terkenal. Kami sering berpapasan dengan mobil-mobil yang kemungkinan sudah berkunjung ke Cafe Sawah. Sayangnya, kalau kesini nggak bisa naik bus karena jalannya yang sempit. Tidak perlu khawatir tersesat karena ada penunjuk jalannya menuju Cafe Sawah.

Tiket

Perjalanan dari depan gerbang yang bertuliskan spanduk tadi sekitar 15 menit. Sesampainya disana, kami melewati loket dengan membayar tiket delapan ribu per orang ditambah biaya parkir mobil. Tiket ini menggunakan sistem voucher. Jadi setiap belanja di area Cafe Sawah dengan menggunakan tiket ini akan dipotong lima ribu rupiah. Hem.. jadi sebenarnya harga tiket masuk tiga ribu saja. Hanya saja voucher lima ribu rupiah tadi memang jatah untuk penjual-penjual yang ada di dalam area Cafe Sawah.

Parkir

Area parkirnya masih berupa tanah dengan pemandangan pegunungan yang menyenangkan. Tempat parkirnya dibatasi oleh kebun sayur-sayuran. Di tempat parkir juga ada kamar mandinya. Parkir yang disediakan pun cukup luas untuk parkir mobil. Pemandangan pegunungan yang indah dari tempat parkir membuat saya berhenti sejenak untuk mengambil foto-foto.



Fasilitas

Warung oleh-oleh

Walaupun udara sejuk, matahari terik membuatku membawa payung biar si bayi nggak kepanasan. Kami pun menyusuri jalan menuju ikon-nya Cafe Sawah. Banyak warung-warung di pinggir jalan yang menjual buah-buahan juga sayur-sayuran segar yang bisa dijadikan oleh-oleh dari Pujon Kidul. Ada juga yang berjualan bakso, tahu crispy, susu sapi, rujak manis, pakaian bertuliskan Cafe Sawah.

Cafe Sawah



Akhirnya kami tiba di Cafe Sawah, saya memang penasaran dengan obyek wisata kuliner yang dipadukan dengan panorama alam ini. Kami memasuki ruang makan dengan tembok permanen yang menjual banyak makanan seperti bakso, nasi campur, dan juga minuman botolan. Dari ruang makan ini, pengunjung bisa melihat pemandangan Cafe Sawah yang unik dan tradisional. Panas matahari siang hari tak menyurutkan semangat pengunjung untuk berfoto-foto. Ada kolam-kolam ikan. Ada gazebo-gazebo kecil atau gazebo yang lebih panjang untuk tempat makan-makan dengan pemandangan sawah di depan mata. Gazebo-gazebo itu diberi jomor-nomor yang berfungsi untuk memesan minuman.

Jadi harus ingat nomor gazebonya ya.

Titik foto yang menjadi rebutan pengunjung adalah spot foto bertuliskan Wisata Pujon Kidul. Baru juga turun ke gazebo-gazebonya, perut ini sudah lapar dan tenggorokan mulai haus.

Saya dan adik ipar saya pun segera memesan makanan dan minuman. Sayangnya tidak ada pelayan yang datang di tiap gazebo untuk mencatat pesanan. Jadi kami harus datang ke stand makanan dan minuman. Stand ini berupa bangunan yang semi permanen yang terbuat dari bambu-bambu dan kayu. Karena kami melewati stand penjual minuman, jadi kami mampir dulu.

Menu yang dijual cukup beragam seperti jus buah, susu murni, kopi, teh, jahe, atau susu jahe. Penjualnya benar-benar sibuk karena banyaknya yang pesan minuman dari stand makanan. Dia melayani kami sambil memegang handie-talkie (HT) dan berbicara dengan seseorang. Jangan lupa voucher yang kita beli di loket bisa ditukarkan saat membeli minuman. Pesanan minumannya nanti diantar pegawainya. Harganya sekitar 8.000-15.000an rupiah.

Setelah itu, kami memesan makanan yang ada di stand berbeda. Pemesanan makanan pun harus datang langsung ke ruang prasmanannya. Saya mengambil piring rotan yang sudah diberi kertas makanan.

Jangan bayangkan menu makanan yang dijual seperti di cafe-cafe modern. Menu yang dijual tidak jauh seperti makanan tradisional Jawa. Menu yang disediakan seperti nasi jagung, nasi putih, sayur sop, ayam crispy, tahu, tempe, lodeh, kare, urap-urap, telor bacem. Harga sesuai dengan apa yang kita ambil. Rata-rata 10.000-20.000an rupiah. Kasirnya pun menghitung makanan yang kita ambil. Kalau mau pesan minuman juga bisa di kasirnya. Sesekali dia berbicara di HT menyebutkan pesanan-pesanan minuman pengunjung. Ternyata penjual minuman tadi berbicara dengan si kasir ini.



Kami pun menuju gazebo kami yang ada di atas. Memang lebih baik memilih gazebo yang dekat penjual makanan saja biar nggak naik turun dan nggak capek.

Setelah makan dengan lahap, kami pun berfoto-foto di spot foto terdekat. Mengingat kalau harus turun lagi ke bawah dan naik lagi di siang bolong saat itu, rasanya nggak kuat dan bisa-bisa lapar lagi.

Arena Main ATV

Setelah puas menikmati sajian makanan dan minuman di Cafe Sawah, kami menuju ke arena main ATV. Anak-anak sangat excited sekali bermain motor ATV ini. Harganya 50.000 untuk dua kali putaran (saya agak lupa berapa putaran). Karena kami banyak orang jadi sempat dikasih bonus sekali putaran, hehe.

Arena Berkuda

Setelah itu, kami menuju ke arena berkuda walaupun kudanya dikendalikan bisr nggak lari, hehe. Harusnya untuk masuk ke arena berkuda ini aksesnya dari pintu depan dimana setiap orang harus bayar uang masuk 5.000 rupiah karena ada tempat makannya juga. Tapi karena kami nggak tahu, kami masuk aja lewat belakang dan bayar kudanya sekitar 50.000 rupiah untuk satu kali putaran satu orang. Walaupun satu kuda dua orang jadinya harga dua orang.

Gardu Pandang

Di arena berkuda ada juga gardu pandang yang bisa melihat sekitar Cafe Sawah dari kejauhan. Sayangnya saya nggak naik gardu pandang itu karena merasa sudah sangat capek (maklum semakin tua, wkwkwk).

Jasa Pijat

Di dekat gardu pandang banyak stand-stand penjual makanan minuman ringan dan stand jasa pijat.


Toilet

Di obyek wisata Cafe Sawah ini juga disediakan toilet dekat ruang makan yang dinding permanen itu. Di beberapa warung juga disediakan toilet walaupun berbayar.

Tempat Bermain Anak

Saat kami menuju jalan pulang, aku melewati stand penjual es krim. Akhirnya aku mampir dulu. Di dekatnya juga ada arena bermain anak sederhana. Ada perosotan, mandi bola, dan panjat yang menggunakan tali itu. Kalau tidak salah masuknya 15.000 per jam.

Jam Buka

Karena sudah mulai sore dan kami pun sudah capek, akhirnya kami pulang. Saat pulang kami masih berpapasan dengan mobil-mobil yang baru datang. Katanya kalau saat matahari terbenam, Cafe nya terlihat romantis karena senja dan sendu bercampur jadi satu. Ciyehh.

Jam buka Cafe Sawah ini dari jam 08.00-19.00 weekday, jam 08.00-22.00 weekend.

Saya pun memilih memejamkan mata saat perjalanan pulang karena saking capeknyaaa.. Sepertinya memang kurang olahraga, hehe.


Read More
Sebagai manusia yang memiliki banyak kebutuhan, kita mengkonsumsi berbagai macam kebutuhan baik primer, sekunder maupun tersier. Kita seharusnya bisa mendahulukan kebutuhan primer dibanding kebutuhan sekunder ataupun tersier.  Sayangnya, banyaknya promo justru membuat kita tidak lagi mendahulukan kebutuhan primer tapi terkadang kita terjebak untuk membeli yang bukan menjadi kebutuhan mendesak.

Perilaku ini sangat mendorong kita menjadi budaya konsumtif. Yaitu keinginan mengkonsumsi suatu barang secara berlebihan dan terkesan boros (menghambur-hamburkan uang). Bahkan di masa modern ini, membeli suatu barang atas dasar pengakuan atau penghargaan dalam masyarakat jadi bukan berdasar kebutuhan yang mendesak. Budaya konsumtif ini dipengaruhi oleh gaya hidup pribadi (Pratiwi, Galih Eka, 2014).
Kita harus menjadi konsumen cerdas agar tidak terjebak dalam budaya konsumtif yang suka menghambur-hamburkan uang.

Apalagi saat ini semakin maraknya situs-situs belanja online yang meningkatkan budaya konsumtif seseorang. Dengan teknologi yang serba canggih dan kemudahan akses internet, kita bisa membeli barang yang kita inginkan, mungkin juga yang dibutuhkan, di situs online tanpa harus capek-capek keluar rumah. Kita tinggal transfer melalui mobile banking, internet banking ataupun ke mesin ATM, kita menunggu saja di rumah dan dalam waktu tiga hari barang yang kita beli pun sudah sampai rumah.

Tapi, yang perlu diingat apakah saat belanja di era digital ini kita sudah menjadi konsumen yang cerdas? Kita harus kritis terhadap informasi barang yang dibeli.


Pengalaman Belanja Online

Ternyata, meningkatnya situs belanja online juga sebanding dengan meningkatnya keluhan-keluhan konsumen saat belanja online. Rata-rata keluhan mereka adalah barang tidak sesuai seperti yang dicantumkan di situs belanja online, ada barang cacat tanpa penggantian, barang tidak sampai, bahkan sampai penipuan.

Penulis juga termasuk penjual online dan juga membeli barang melalui online. Penulis sadar bahwa belanja online harus hati-hati. Penulis pernah mengirim barang pesanan kostumer tapi kemudian ada yang tertinggal. Terpaksa penulis harus mengirim ulang tanpa membebankan biaya kirim ke pembeli.

Penulis pun pernah membeli barang online, ternyata kondisi barang cacat. Penulis pernah komplain ke penjual. Syukurnya penjual itu mau mengirim barangnya yang lain yang kondisinya bagus. Pernah pula penulis membeli barang tapi ada tertinggal, penjual juga terpaksa mengirim ulang ke penulis. Ujung-ujungnya, penulis yang harus membayar biaya kirim saat barang itu sampai ke rumah tanpa ada konfirmasi dari pihak penjual. Ini jelas tidak beretika. Penulis pun hanya bisa komplain ke penjual dan sayangnya penjual tidak ada tindak lanjut.

Penulis pun pernah ditipu saat membeli velg mobil seharga 2,5 juta. Begitu dikirim bukti transfer, penjual itu memang mengirimkan foto resi yang ternyata editan. Penulis pun baru tahu ditipu setelah mengecek alamat pada KTP penjual yang bohongan.

Baca juga : Melaporkan Kasus Penipuan Online ke Polisi

Sejak itu, penulis hati-hati sekali dalam membeli online.

Tips belanja online versi penulis

Memang belanja online tidak hanya melalui marketplace-marketplace yang sudah ada seperti Tokopedia, Shopee, Lazada, Elevania, dan lain-lain, tapi juga bisa dari non-marketplace seperti grup-grup Facebook. Tentunya sudah banyak tips-tips yang beredar di internet mengenai tips belanja online lewat marketplace.

Bagaimana berbelanja aman lewat media sosial non-marketplace seperti Facebook? Penulis biasanya suka :

Menelusuri riwayat beranda penjual

Kalau kita termasuk dalam sebuah grup di Facebook dan ingin membeli barang yang di posting dari salah satu anggota grup maka kita telusuri dulu riwayat beranda penjual. Kalau akun tidak di privat kita bisa melihat aktivitas-aktivitas dalam akunnya. Bagaimana hubungan dia dengan pengguna Facebook lainnya. Apalagi kalau ada barang yang dia jual dan sudah banyak yang beli dan mengkonfirmasi barang sudah diterima maka kita bisa saja percaya dengan penjual itu.

Kalau akun di privat? Kita sama sekali tidak bisa melihat aktivitas di Facebook-nya. Coba kita lihat temannya. Kalau ada mutual friend atau teman yang sama, kita bisa menanyakan track record si penjual, apakah bisa dipercaya atau tidak? Kalau tidak ada informasi mengenai orang tersebut, lebih baik jangan melakukan transaksi dengan si penjual.

Menghubungi penjual lewat jaringan pribadi

Dalam menghubungi penjual ini, alangkah baiknya kalau calon pembeli atau konsumen menyapa dengan sapaan yang sopan kemudian menanyakan informasi terkait barang yang dibeli.

Jadilah cerewet saat meminta informasi mengenai terkait barang yang dijual. Lebih baik tidak usah membeli barang kalau informasi yang diberikan tidak lengkap.


Konsumen Cerdas itu.....


  • Bisa memilih antara kebutuhan dan keinginan.
  • Paham perlindungan konsumen
  • Paham dan mempraktikkan hak dan kewajiban konsumen


Seperti Si Koncer yang cerdik dan berhati-hati




Hak-Hak Konsumen:

  • Mendapatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.
  • Memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa sesuai nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan.
  • Memperoleh informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barnag dan/atau jasa.
  • Didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan.
  • Mendapatkan advokasi, perlindungan dan upaya penyelesaian sengketa secara patut.
  • Mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
  • Diperlakukan dan dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.
  • Mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian.
  • Selalu mempunyai kebiasaan untuk teliti atas barang dan/atau jasa yang ditawarkan/tersedia di pasar, minimal secara kasat mata dapat digunakan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya dari barang dan/atau jasa tersebut, dan bila kurang jelas/paham, dapat bertanya atau memperoleh informasi atas barang dan/atau jasa tersebut. Berdasarkan hal ini, dapat diperoleh gambaran umum atas barang dan/ atau jasa yang ditawarkan di pasar.

Kewajiban Konsumen:

  • Membaca atau mengikuti petunjuk informasi dan prosedur pemakaian barang dan/atau jasa.
  • Beritikad baik dalam melakukan transaksi pembelian barang dan/atau jasa.
  • Membayar sesuai dengan nilai tukar yang disepakati.
  • Mengikuti upaya penyelesaian hukum sengketa secara patut.
Kementerian Perdagangan melalui Ditjen Pemberdayaan Konsumen akan memperingati Hari Konsumen Nasional 2018 untuk memberikan perlindungan kepada konsumen pada tanggal 20 April mendatang. Konsumen tidak perlu khawatir setiap keluhan produk yang dimiliki.

Kemana Konsumen Mengadu :

1. Langsung pada pelaku usaha
2. Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) setempat
3. Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) terdekat
4. Dinas yang menangani perlindungan konsumen di Kabupaten/Kota
5. Pos layanan informasi dan pengaduan konsumen
   Hotline : (021)3441839
   Website : http://siswaspk.kemendag.go.id
   E-mail : pengaduan.konsumen@kemendag.go.id
   Whatsapp : 0853 1111 1010
   Google Play Store : Pengaduan Konsumen

Nah, jadi jangan perlu takut dibilang cerewet sama penjual karena kita meminta informasi yang detail karena itu memang hak kita.

Read More
Ini bukan iklan yang di-endorse kantor pajak loh ya!

Suatu saat pernah terbersit dalam hati untuk membuat kartu NPWP. Aku nggak begitu ingat apa sebabnya tiba-tiba ingin mengurus NPWP. Ketika berhadapan dengan petugas di kantor pajak Balikpapan, petugas itu bertanya padaku,

“Pekerjaannya apa, Mbak?”

Setelah lulus kuliah S2, aku memang belum terikat dengan instansi tertentu. Aku sempat terdiam saat ditanyakan pekerjaan, pada akhirnya kujawab asal dan berusaha yakin, “Penulis, Mbak.”

Aku sempat terbengong-bengong juga dengan jawaban yang baru keluar dari mulutku. Seolah ada yang mengejekku dan mengatakan, “Hah? Yakin lo mau jadi penulis?!” aku tertawa dalam hati.

Mbak tadi hanya mengerutkan kening. Dua alisnya yang tebal sudah hampir menyatu setelah mendengar jawabanku. Mungkin dia heran. Aku masih nggak menyangka dengan jawabanku, kenapa pula aku jawab begitu?
“Memang perlu, ya?” Begitu tanyanya.

Hah, penulis tidak perlu NPWP ya ternyata? Saat itu aku tidak begitu paham mengenai pajak yang harus dibayarkan penulis jika dia berkarya. Jadi kujawab saja, “Kalau tulisan dimuat di koran biasanya dipotong pajak, Mbak, dan diminta NPWP.” Aku bisa menjawab begitu karena beberapa hari sebelumnya aku membaca artikel di internet mengenai honor yang diterima penulis setelah dipotong pajak.

Ia pun menuruti apa yang kukatakan kemudian menyuruhku menunggu untuk pendataan yang sudah kutulis di formulir pendaftaran.

Entahlah apa karena ucapanku yang tidak terencana itu menjadi sebuah takdir untuk menjadi penulis?

Setelah pembuatan NPWP itu, tulisan opiniku dimuat di koran Jawa Pos! Padahal aku sama sekali tidak kepikiran bisa diterima. Hanya karena rasa gregetan melihat berita-berita di televisi membuatku berani menuliskan kritik di koran.

Akhirnya NPWP ku pun digunakan. Honor pun diterima.

Setelah itu, kartu NPWP ku benar-benar menganggur walaupun aku sudah diterima bekerja di salah satu konsultan perencanaan kota di Semarang. Ternyata NPWP nggak digunakan karena jumlah gaji yang nggak diwajibkan bayar pajak.

Bergabung dengan FLP

Setelah resign dari perusahaan itu dan menikah, aku nggak bekerja lagi. Hari-hari tanpa aktivitas itu sangat membosankan buatku.

Aku mencari-cari pelatihan atau workshop di internet tapi nggak ada yang menarik perhatianku. Dalam penelusuranku di google, aku tertarik masuk ke sebuah website yang sedikit menyinggung FLP. Terakhir kudengar kabarnya saat SMA, tujuh tahun lalu, ketika membaca novel-novel Helvy Tiana Rosa dan anggota FLP lainnya yang terpajang cantik di rak bukuku.

Akhirnya aku mencari tahu tentang kondisi FLP saat ini. Tiba-tiba aku merasa antusias saat tahu bahwa FLP masih aktif.

Wah, kenapa aku tidak coba menjadi anggota saja? Kayaknya seru deh! Siapa tahu bisa kaya Bunda Helvy, jadi penulis terkenal.

Hadeh, ekspektasiku terlalu berlebihan!

Awalnya karena suami kerja di Surabaya mencari-cari informasi rekruitmen anggota di FLP Surabaya lewat internet tapi tidak ketemu. Malah ketemu informasi rekruitmen anggota FLP di Malang. Kemudian aku pun mendaftarkan diri mengikuti rekruitmen anggota di Malang. Mengingat rumah mertua ada di Malang dan masih sering ke Malang Surabaya.
Ternyata setelah menjadi anggota organisasi kepenulisan, tidak semudah yang dibayangkan. Aku belum pernah menulis fiksi sama sekali. Eh, pernah sih satu kali saat masih SD. Ditulis di buku dan yang jelas alay sekali lah pokoknya.

Saat bedah karya menulis fiksi pertama pun, kritik pedas pun mengalir dari para senior-senior. Wajarlah karena aku memang nggak punya pengalaman menulis fiksi. Nggak ada rumus pasti dalam menulis fiksi, semua tergantung selera.

Bedah Karya


Kuakui selama kuliah, aku sudah sangat jarang baca novel. Apalagi bacaan-bacaan senior memang bacaan sastra-sastra terkenal. Tentu saja itu mempengaruhi keterampilan menulisku. Sejak saat itu, aku sering meminjam buku di perpus kota dan terus melatih menulis fiksi walaupun masih sangat sulit.

Saat coba ikutan workshop yang diadain koran Kompas di Universitas Negeri Malang malah diterima. Padahal untuk mengikuti workshop itu harus diseleksi dulu dengan mengirimkan karya tulisan fiksi. Soalnya yang mengisi materi langsung dari pakar sastra, Agus Noer dan Putu Arcana.

Menghidupkan blog

Menurutku lebih gampang menulis blog daripada menulis fiksi. Ya iyalah! Blog ku yang sudah lama mati pun akhirnya kuaktifkan kembali dengan menulis apapun yang bisa ditulis. Saat itu aku belum tahu kalau dunia blogging itu bisa menghasilkan uang. Pokoknya aku menulis saja.

Sampai akhirnya, FLP Malang mengadakan sharing menulis blog yang diadain di sekretariat FLP Malang. Yang ikut pun anggota-anggota FLP Malang. Dan aku pun baru tahu sekarang, sharing menulis blog kalau diluar sana sudah bayar mahal. Sedangkan di FLP bisa gratis!

Semenjak itu, aku jadi rajin nge-blog dibanding sebelum-sebelumnya. Dulu mah 1 tahun paling nge-blog tiga kali. Sekarang sudah lebih dari itu.
Sharing menulis blog yang diajarkan nggak hanya membuat blogger-nya rajin nulis tapi bagaimana mengoptimasi blog dengan memanfaatkan deskripsi penelusuran, label, backlink, dan semua yang ada di blog agar bisa terindeks di google bahkan bisa masuk pageone. Walaupun blog-ku belum pernah masuk pageone, hehe.

Mencoba Menulis

Memang beberapa waktu, FLP Malang sempat vacum. Itu memang membuatku sedih sebagai anak yang baru masuk tapi aku tidak lupa dengan hal-hal yang diajarkan saat bedah karya atau saat sharing menulis blog.
Aku menerapkan apa yang telah diajarkan ketika mengikuti lomba-lomba menulis fiksi ataupun kirim ke koran. Walaupun banyak yang tidak masuk juga, hehe.

Sampai suatu ketika, kisahku terpilih dalam antologi Jodoh Pasti Bertamu dari Indiva Media Kreasi, rasanya senang minta ampun! Walaupun bukan menulis fiksi karena menulis kisah nyata, aku merasa tidak ada yang sia-sia dengan bedah karya fiksi yang selama ini dilakukan.

Kisahku dalam Buku jodoh Pasti Bertamu


Setelah dua tahun NPWP ku menganggur, akhirnya terpakai lagi! Yeay! (Heh, seneng banget sih bayar pajak!). Bukan begitu, kalau NPWP terpakai, itu artinya aku dapat hadiah lagi! Berkarya lagi! saat itu, aku menang lomba menulis blog Inovasi Daerahku dari Good News From Indonesia.

Kalau ini memang bukan fiksi tapi lebih ke artikel ilmiah populer dan tentunya beberapa ilmu-ilmu saat sharing menulis blog kuterapkan dalam menulis blog. Blog ini waktu aku menang lomba Inovasi Daerahku.

Itupun baru sharing yang gratisan. Terakhir, aku mengikuti kelas content writer tapi berbayar. Hanya untuk anggota FLP dengan biaya yang sangat murah (ehm, jadi inget tugas terakhir belum kubuat *maaf guru!). Itulah kelebihan FLP! Bisa mengikuti pelatihan dengan biaya yang murah apalagi banyak senior-senior yang memang ahli dalam bidangnya.

Setahun kemudian, tahun 2017, NPWP-ku terpakai lagi! Alhamdulillah bayar pajak lagi donk ke negara, haha! Ya nggak apa-apa sih. Itu menunjukkan ada karya yang dihasilkan. Tahun itu, naskahku terpilih dalam sayembara penulisan bahan bacaan untuk anak SD yang diselenggarakan oleh Kemdikbud. Judul naskahku waktu itu adalah Sahabat Kecil dari Pulau Cincin Api, isinya bisa dibaca di link ini.

Penulis di Gerakan Literasi Nasional 2017


Nah, ini aku merasa ada kemajuan dalam menulis fiksi walaupun nggak seperti sastrawan kalau menulis cerita. Aku membuatnya dengan bahasa yang sangat sederhana karena memang diperuntukkan untuk anak SD.

Baca juga : Ceritaku di Gerakan Literasi Nasional 2017

Di tahun 2018? Insyallah, NPWP ku bakal terpakai lagiii, yeay!
Dari sekitar 115 penulis yang naskahnya lolos sayembara tahun lalu, kemudian dipilih lagi sekitar 49 penulis ditawarkan untuk menulis bahan bacaan untuk anak SD, SMP dan SMA. Alhamdulillah aku termasuk dari 49 penulis itu. Sekarang masih tahap menulis itu dan semoga segera selesai. Ammiinn. Sedangkan penyebaran bukunya ke sekolah-sekolah tergantung dari kebijakan Dikdasmen.

3 tahun bergabung dengan FLP

Setelah tiga tahun bergabung dengan FLP, banyak hal yang aku tahu tentang kehidupan FLP yang berhubungan dengan kepenulisan dan diluar kepenulisan.

Dunia kepenulisan

Awalnya aku hanya belajar bagaimana menulis cerita pendek dan sedikit mengenai menulis novel. Jangan tanyakan bagaimana karena nggak ada rumus pasti tentang itu. Ilmuku pun masih nggak banyak.

Setelah itu, aku jadi tahu kalau setidaknya penulis nggak hanya jago menulis tapi juga mempromosikan buku yang kita tulis.

Aku pernah mengalami writer’s block saat menulis buku untuk sayembara, akhirnya aku membahas dengan teman FLP yang juga menjadi ilustrator buku, Mas Danang. Hal itu sangat membantu untuk mengatasi writer’s block. Bertemu dengan teman akan sangat membantu dalam mengurangi benang kusut di otak kita.

Meet Up dengan Anggota FLP


Selain itu, kita akan termotivasi untuk terus menulis. Ketika kamu melihat teman sudah selesai menulis buku dan akan terbit tentu ada rasa ingin mengikuti jejak mereka.

Betapa bersyukurnya aku termasuk dalam organisasi kepenulisan. Apa yang menjadi kebahagiaanku adalah aku masih bisa berkarya dengan menulis tanpa harus meninggalkan anak-anak.

Di luar dunia kepenulisan

Sejak FLP Malang sempat vacum, terkadang aku sangat merindukan berkumpul dan bercanda dengan mereka sambil bedah karya. Semoga silaturahmi tetap terjaga dengan mereka.

Bahkan setelah tergabung dengan grup FLP, aku pun jadi tahu bahwa FLP nggak hanya sebagai wadah kepenulisan tapi juga perjodohan. Bahkan FLP sempat diplesetkan menjadi Forum Lingkar Perjodohan. Hehe. Banyak pasangan yang akhirnya menikah dengan sesama anggota FLP.

Bertemu dengan penulis terkenal, seperti Helvy Tiana Rosa dan Gol A Gong, juga memberiku ilmu-ilmu baru mengenai kepenulisan.

Setelah Acara Writing Therapy


Sampai sejauh ini, aku sering berpikir, apakah ucapan yang nggak sengaja di kantor pajak dulu memang akan menjadi sebuah doa? Apakah Allah memang memberiku jalan untuk jadi penulis? Itu adalah sebuah perjalanan yang panjang.

Tulisan ini kupersembahkan untuk FLP yang akan berulang tahun tanggal 25 Februari nanti. Semoga FLP bisa menjadi wadah mewujudkan impian anggota-anggotanya untuk menjadi penulis yang memang berdakwah bil qolam. Aamiinn.

Selamat Ulang Tahun FLP



Dan kamu, ingin bergabung di FLP?

Read More
Aku kaget saat membaca pesan whatsapp dari Mas Danang kalau naskahku lolos saat mengikuti sayembara penulisan bahan bacaan untuk anak SD yang diselenggarakan Kemdikbud.




Wajarlah kalau aku kaget karena baru kali ini aku menulis cerita anak-anak dan lolos. Walaupun aku ada niatan untuk menulis cerita anak lagi dan dikirim penerbit. Ya, hanya sebatas niatan, belum kukirimkan.

Begitu dapat kabar itu, aku langsung membuka website Kemdikbud. Benar saja ada namaku tercantum dalam daftar penulis terpilih.

Kemudian aku mengecek email. Ternyata sudah ada email dari Kemdikbud yang mengatakan naskahku terpilih. Mereka mengirimi surat kesediaan untuk mengikuti pertemuan di Jakarta selama tiga hari untuk menindaklanjuti naskah. Semua akomodasi ditanggung.

Ada rasa senang tapi juga bingung. Senang karena menjadi penulis terpilih dan akan mengikuti kegiatan di Jakarta. Pengalaman baru ini nggak ingin aku lewati.

Sempat bingung karena saat itu Raceqy masih usia 15 bulan. Apakah aku harus meninggalkannya di mbahnya atau harus kubawa? Mengingat dia masih asi rasanya nggak mungkin kalau harus menitipkannya . Walaupun bisa saja di pumping dan asi disimpan freezer seperti ibu-ibu bekerja itu. Sayangnya aku nggak punya pengalaman tentang itu jadi aku nggak berani menitipkannya.

Setelah menanyakan ke pihak Kemdikbud bahwa anak boleh dibawa tapi biaya tiket pesawat nggak ditanggung. Alhamdulillah.. aku semakin senang karena bisa ikut kegiatan di Jakarta sambil membawa si kecil. Aku harap setiap kegiatan kepenulisan bisa “ramah terhadap anak”, hehe.

Setelah konfirmasi itu, aku langsung beli tiket pesawat dan menyiapkan semua berkas yang harus dibawa seperti surat SPPD seperti orang kantoran saja. Karena nggak mewakili instansi, akhirnya aku memakai nama FLP saja karena harus ada stempel dan tanda tangan organisasinya. Waktu itu aku minta tanda tangan Ketua FLP Wilayah, Pak Rafif. Sedangkan penulis lain yang tidak terikat instansi atau organisasi tertentu maka menggunakan tanda tangan Pak Lurah.

Ada rasa deg-degan juga karena baru kali ini perjalanan jauh membawa anak bayi. Sesampainya di Jakarta, aku langsung memesan taksi. Masih ada beberapa jam untuk persiapan. Setibanya di gedung LPMP Jakarta, Mbak Kity, sambil membantu membawakanku koper, menunjukkan kamarku menginap. Setiap penulis memang disediakan kamar. Aku pun beristirahat sebelum acara dimulai.

----------------
Setelah beristirahat dan menyusui sebentar, aku menuju gedung acara sambil menggendong si kecil dengan gendongan carrier. Satu kekhawatiranku adalah si kecil akan teriak-teriak, nangis atau bahkan berlari-lari. Akhirnya aku memilih duduk paling belakang biar memantaunya dengan mudah.

Pertemuan Pertama

Saat pertama-tama acara, si kecil bisa duduk anteng. Aku sudah bawa mainan dan snack biar dia duduk anteng. Tapi tetap saja sih namanya anak kecil pasti nggak betah berlama-lama duduk. Akhirnya dia mulai duduk di bawah, bermain kursi dan bermain-main di belakang.




Materi yang diberikan yaitu pembinaan generasi emas melalui Gerakan Literasi Nasional, penguatan penumbuhan budaya literasi 2017, kebijakan perbukuan, penilaian kelayakan bahan bacaan.

Sempat kaget juga ternyata yang mengikuti sayembara ini sebanyak 727 peserta dan terpilih 120 naskah. Sebanyak itu. Apalagi aki tidak pernah menulis cerita anak. Hanya modal tanya-tanya, baca referensi dari perpustakaan, sampai searching di internet.

Dari 4 tema (kuliner, bahasa daerah, arsitektur tradisional, dan tokoh),-oiya ada satu lagi: pergeseran sosial juga- saya memilih arsitektur tradisional. Alasannya karena saya tidak asing dengan tema itu mengingat saya pernah belajar di bangku kuliah. Satu bulan saya mencari referensi tentang arsitektur tradisional di daerah bencana gempa. Hal yang menarik yang ingin saya ceritakan kepada anak Indonesia adalah suku-suku kita di Indonesia itu sudah punya pengetahuan membangun rumah yang bisa beradaptasi dengan gempa. Dengan bahasa sederhana, saya uraikan di naskah yang saya tulis, dan saya padukan dengan kisah anak-anak tanpa melupakan pesan moralnya. Tentunya tanpa sifat yang menggurui.

Hari kedua, peserta dibagi menjadi tiga kelompok dan masuk ke ruangan kelas masing-masing. Lagi-lagi saya berharap si kecil tidak rewel. Untungnya dia bisa anteng walau akhirnya tiga jam setelah Pak Maman, dosen FIB UI, memberi penjelasan, dia mulai gelisah, bosan di kelas.

Dengan segera saya menanyakan revisi yang dimaksud dan menunjukkan hasil revisian. Beliau bilang oke. Setelah itu saya langsung menuju kamar meninabobokan si kecil. Kemudian saya mengerjakan revisian yang belum selesai, tambahan pertanyaan pemantik, termasuk melayout naskah di InDesign yang baru saja saya pelajari. Pada akhirnya saya pun ikut ketiduran dengan si kecil, hahaha.

Tepat jam 8 malam, saya ditagih Bu Kity untuk menyerahkan hasil revisian dan menunjukkan pertanyaan pemantik yang baru dibuat. Selesailah tanggungan saya hari itu.

Keesokannya ternyata acara penutupan dilakukan lebih cepat. Si Raceqy (read: reski) sudah mulai kelelahan sepertinya hingga dia rewel selalu minta keluar aula. Baiklah, saya turuti walau saya juga mulai lelah. Akhirnya selesai juga acara, dan sesi foto-foto pun berlanjut. Alhamdulillah masih diberi kesempatan merasakan pengalaman baru ini.

insyaAllah setelah revisi ini akan ada evaluasi dari Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdiknas mengenai naskah yang ditulis sudah layakkah menjadi buku bahaan anak SD. Kalaupun belum layak, akan terus ada revisi. Kalaupun sudah, insyaAllah akan dicetak dan disebar di beberapa sekolah di Indonesia.

"Menulislah karena itu shodaqoh ilmu" (Ibu Suprihatin)




Hari kedua pun berjalan lancar. Kekhawatiran-kekhawatiranku dengan si kecil syukurnya bisa teratasi.

Esoknya adalah hari terakhir kegiatan yang diisi dengan beberapa patah kata dari pihak kemdikbud. Nggak terasa tiga hari rangkaian acara selesai juga.



Pertemuan kedua

Pertemuan kedua ini diselenggarakan di Hotel Santika TMII tanggal 5 – 7 Oktober 2017. Lamanya acara juga sama dengan pertemuan pertama, hanya saja pertemuan kedua ini adalah pertemuan terakhir dan dihadiri oleh Pak Muhadjir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Acara dimulai pukul tiga sore dan semua penulis diwajibkan memakai baju batik. Materi yang diberikan sebelum Pak Muhadjir datang yaitu penumbuhan budi pekerti melalui membaca, kebijakan perbukuan. Kemudian setelah sholat maghrib dan makan malam acara pun dimulai.
Para hadirin diminta berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Setelah itu ada penampilan seorang anak yang mendongeng.

Pak Dadang selaku Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa juga turut memberikan penjelasan terkait gerakan literasi nasional.

Pemberian hadiah pemenang sayembara secara simbolis diberikan kepada enam pemenang dari tiga wilayah. Setelah pemberian hadiah, kami harus menunggu kedatangan Pak Muhadjir.

Si kecil waktu itu sudah mulai mengantuk dan tertidur di kursi. Hehe.
Besoknya, setiap penulis harus berada di kelas dan menyelesaikan tugasnya. Untungnya revisi sudah kukerjakan saat malam hari jadi di kelas aku hanya mengedit layout di Indesign dengan bertanya-tanya Mbak Intan.
Untungnya si kecil bisa diajak kerjasama.

Revisi pun selesai kukerjakan dan kuberikan ke panitia di malam hari setelah si kecil tidur.

Besoknya, acara penutupan dan pemberian hadiah panitia. Setiap penulis dipanggil dan harus menandatangani surat bermaterai tentang hak dan kewajiban penulis. Semacam surat kerjasama.



Sekarang, naskah ku yang sudah selesai dinilai Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud sudah bisa diunduh di website Kemdikbud.
Sedangkan buku cetaknya dan penyebaran ke sekolah-sekolah nanti diurus oleh Dikdasmen (Pendidikan Dasar dan Menengah).
Read More

Follower