Pada bidang remote sensing (penginderaan jauh) terdapat beberapa istilah mengenai resolusi dan tipe data citra digital.

Resolusi spasial

Resolusi ini merujuk ukuran pada objek terkecil (yang terdapat di permukaan bumi) yang dapat dikenali (dibedakan). Sementara pada citra dijital, resolusi ini dibatasi oleh ukuran piksel. Dengan demikian, ukuran objek terkecil (di permukaan bumi) yang dapat dibedakan tidak bisa berukuran lebih kecil dari ukuran pikselnya, sehingga muncullah resolusi tinggi dan resolusi rendah. Resolusi tinggi memiliki ukuran piksel yang relatif kecil hingga dapat menggambarkan bagian permukaan bumi secara detail dan halus, sementara pada resolusi rendah memiliki ukuran piksel relatif besar hingga hasil penggambarannya agak besar.

Resolusi Radiometrik

Resolusi ini merujuk pada perubahan (tingkat) intensitas terkecil yang bisa dideteksi oleh sistem sensor satelit yang bersangkutan. Pada citra dijital, resolusi ini dibatasi pada jumlah (tingkat) kuantisasi diskrit yang digunakan untuk mendijitasi nilai intensitas yang sebenarnya bersifat kontinyu. Dengan kata lain, secara praktis, resolusi radiometrik pada citra dijital diwakili oleh tipe data yang digunakan untuk merepresentasikan nilai-nilai intensitas yang bersangkutan: 8-bit(1-byte), 16-bit (2-byte), dan lain-lain.

Resolusi Temporal

Resolusi ini merujuk pada sistem satelit remote sensing saat melakukan pengambilan gambar (images) bagian permukaan bumi yang sama secara berurutan (periode waktu pengambilan gambar). Sebagai contoh, resolusi temporal Landsat 4 atau 5 adalah 16 hari dimana satelit ini mengambil gambar yang sama setiap 16 hari. Sementara satelit Landsat 1, 2, atau 3 adalah 18 hari, dan satelit SPOT 26 hari.

Resolusi Spektral

Resolusi ini merujuk pada batas-batas spektral, domain, atau lebar band (radiasi elektromagnetik) yang direkam oleh sistem sensor satelit yang bersangkutan. Dengan kata lain, resolusi ini merujuk pada kemampuan sensor dalam mendefinisikan interval panjang gelombang elektromagnetik secara halus. Oleh karena itu, citra dijital high spectral resolution merupakan hasil rekaman dari suatu batas-batas spektral tertentu dan bandwidth yang cukup sempit untuk memperoleh spectral signature yang lebih akurat pada objek-objek diskrit (daripada bandwidth yang lebih lebar atau kasaran).

Berdasarkan termonologi-termonologi resolusi di atas, terkadang membagi produk-produk remote sensing ke dalam beberapa tipe data (citra dijital)

Tipe data citra dijital


Multispectral 

adalah citra-citra dijital hasil rekaman sensor pada spektrum yang relatif besar mulai dari resolusi spektral rendah hingga menengah.

Panchromatic 

adalah citra dijital hasil rekaman sensor (mode pankromatik) terhadap spektrum visible dan hasilnya disimpan di dalam sebuah band tunggal (relatif lebar) sebagaimana foto hitam-putih. Citra dijital yang beresolusi spektral rendah (single broad-band) ini memiliki resolusi spasial yang bervariasi di sekitar tinggi mulai dari menengah hingga sangat tinggi (kasus Landsat-7 sensor ETM beresolusi spasial 15 m, sementara pada Quickbird resolusi spasialnya 0,6m). Citra-citra dijital pankromatik pada umumnya berharga menengah.

Hyperspectral 

adalah citra-citra dijital yang tidak jauh berbeda dengan citra dijital multispektral (tetapi pada umumnya, datanya hanya mencakup domain-domain spektral visible, NIR, dan SWIR). Hanya saja, pada hyperspectral, citra-citra ini merupakan hasil rekaman pada domain-domain yang relatif sempit (resolusi spektral tinggi) hingga sistem sensor yang bersangkutan menghasilkan banyak band citra. Total harga citra-citra dijital hyperspectral relatif mahal.

Radar 

adalah citra-citra dijital hasil rekaman sistem sensor pada domain-domain (band) spektrum gelombang elektromagnetik microwave. Pada umumnya citra-citra dijital yang tergologng ke dalam kelompok ini memiliki resolusi spasial menengah hingga tinggi. Harganya pun relatif mahal.

High Spatial Resolution 

adalah citra-citra dijital yang memiliki resolusi spasial tinggi atau bahkan sangat tinggi. Citra-citra tersebut diantaranya adalah produk-produk sistem sesnsor-sensor satelit (Quickbird), IKONOS, dan lainnya. Citra-citra ini memiliki harga yang mahal.


Read More
Setelah mengetahui resolusi dan tipe data citra digital, maka sekarang akan membahas multi-band citra digital.

Satelit penginderaan jauh membawa beberapa sistem sensor secara simultan, sementara setiap sensornya menghasilkan band citra. Setiap band merupakan hasil rekaman sensor dengan lebar kepekaan (batas-batas atau domain pada spektrum gelombang elektromagnetik) tertentu. Masing-masing band memiliki ciri kepekaan tersendiri dalam mendeteksi unsur-unsur spasial (aplikasi):

Band 1 (biru)
Merupakan band yang relatif pendek tetapi memiliki daya penetrasi yang lebih baik dari yang lain, sehingga sering dipikih untuk mengamati unsur-unsur aquatic ecosystem. Oleh karena itu, tidak heran jika band ini biasa dipakai untuk mendeteksi keberadaan sedimen di perairan, pemetaan coral-reefs, dan kedalaman air (batimetri). Akan tetapi, band ini paling banyak noise-nya.

Band 2 (hijau)
Kualitas band ini tidak jauh berbeda dengan band 1, tetapi tidak seekstrim itu. Band ini dipilih untuk mengamati kehijauan unsur-unsur vegetasi.

Band 3 (merah)
Karena unsur-unsur vegetasi menyerap hampir semua cahaya merah (oleh karena itu band ini dikenal sebagai band penyerap klorofil), maka band ini diperlukan untuk membedakan unsur-unsur vegetasi dan unsur-unsur tanah (soils), dan bisa juga digunakan untuk memonitor kesehatan unsur-unsur vegetasi.

Band 4 (near infrared)
Karena air akan menyerap hampir semua radiasi elektromagnetik pada domain ini, maka unsur-unsur (tubuh) air akan nampak sangat gelap. Hal ini sangat berbeda dengan pantulan yang agak cerah pada unsur tanah dan unsur vegetasi. Oleh karena itu, band ini sangat baik untuk mendefinisikan batas air-daratan dan tipe/kelas unsur vegetasi.

Band 5 (SWIR)
Band ini sangat sensitif terhadap kelembaban, karena itu dapat digunakan untuk memonitor kelembaban unsur tanah dan unsur vegetasi. Selain itu, band ini juga baik dalam membedakan unsur awan dan salju.

Band 7 (SWIR)
Band ini dapat digunaka untuk pengamatan kelembaban unsur vegetasi (walaupun untuk hal itu band 5 lebih disukai), selain untuk pemetaan unsur tanah dan geologi (batuan)

Band 6 (LWIR, thermal infrared)
Band ini merupakan band thermal, artinya band ini dapat digunakan untuk mengukur suhu permukaan. Selain itum band ini juga sering digunakan untuk memenuhi kebutuhan aplikasi geologi, tekanan suhu tumbuhan, untuk membedakan unsur awan dan tanah yang kenampakannya cukup terang.

Setiap (individu grey scale image) yang merupakan bagian dari citra multi-band (atau multispektral) dapat digunakan bersama dengan dua band citra yang lain untuk membentuk tampilan citra berwarna (komposit). Dengan kombinasi band ini, setiap pengguna dapat membentuk berbagai tampilan citra berwarna.
Read More
  • Iseennnggg...........

    mumet ama tugass... inspirasi ini muncul saat lg makan malam di kos, saat memikirkan tugas, saat itu pula ide membuat kata-kata cinta yang sangat gombal ini, tentunya yang berhubungan dengan ke-PWK-an, alias ke-planologi-an, alias ilmu tentang perencanaan wilayah dan kota (tata kota)..dan ternyata saat aku posting, lumayan menghiburku...simak dehh.. :D


    dg akar masalah, smoga permasalahan kita bisa teratasi ya sayang #gombalanpwk

    ilmu pwk tentu jg mmudahkanQ mmbuat rencana2 tindak dan strategis tuk bisa melewati hidup bersamamu #gombalanpwk

    ngerti sedikit sih ttg analisis cluster, tp tenang syg, aq akan meng-cluster-kan hatiku hanya tuk kamu #gombalanpwk

    dengan studi kelayakan, maka aku akan tahu apakah aku layak hidup bersamamu atau tidak :D #gombalanpwk

    dan tentu saja aku akan merancang bangunan yg berestetika untuk masa depan kita :D #gombalanpwk

    walaupun aku tahu analisis diskriminan, tp aku takkan mendiskriminasi cintaku padamu #eaaaaaa #gombalanpwk 

    saat aku jauh, dgn ilmu pwk, aq bisa mnggunakan penginderaan jauh ku tuk mngetahui keberadaanmu #gombalanpwk 

    dgn ilmu pwk aq bs buatin peta buat pacar agar tdak tersesat di hati kita #gombalanpwk 

    ilmu pwk jg mngajarkanku tuk mnganalisis kesesuaian hati kita tuk bersama #gombalanpwk 

    ilmu pwk jg mngajarkanQ bhwa interaksi ruang hati akan mnjadi 1 sistem yg saling mmbutuhkan #gombalanpwk 

    ilmu pwk mngajarkanQ bgmna mlestarikan cintaku padamu,krna engkau sebuah nilai historis yg harus dijaga #gombalanpwk 

    jika aq bukan anak pwk, aku takkan mengerti bagaimana menata ruang hatiku untukmu #gombalanpwk 

    krna aq ank pwk,aq slalu mencoba mngatasi segala keruwetan2 di hatimua #eaaaaaa #gombalanpwk 

    jk aq bkn ank pwk,aq takkan mngerti btapa pentingnya menyediakan ruang terbuka tuk sgala aktivitasmu tnpa batas #gombalanpwk 

    untungx aq ank pwk,dg bgitu dsaat mndatang,dg brbgai teknik analisi,aq bs mengantisipasi kesedihan2 hatimu #gombalanpwk 

    untungnya aq ank pwk,dg bgitu aq tau cara mmanfaatkn&mngendalikan ruang2 kosong dsetiap sudut hatimu #gombalanpwk

Read More
Yeeyy .... setelah tugas yang cukup banyak, ujian selesai, liburan 2 minggu, tapi nggak libur karena tetep les...pfiuhh.. kasiannya....sampe akhirnya nekad deeh aku ke malang sebelum kuliah triwulan ke2 dimulai...Gila ajah belum sempet refresing udah kuliah lagi....

Akhirnya, sampai juga di malang.... haaa... udaranya sejuuukkkk, walau kata orang tidak sesejuk dulu, tetap saja masih sejuk kok, sejuknya bandungan di Semarang, tetep sejuk Malang, apalagi di Kota Batu..hehee...
Setelah jalan-jalan sebentar di Kota Malang, akhirnya meluncur ke Kota Batu, sekitar setengah jam dari Malang...
senaang ngeliat pemandangannya... yap, aku mengeluarkan sedikit kepalaku dari kaca jendela mobil..... menghirup udaranya, merasakan terpaan angin yang sejuk, me-rileks-kan diri, dan selalu mengucapkan "Halo Malang" walau nggak ngerti juga siapa yang aku ajak bicara... semoga aku nggak dikira gila dehh.....

Selama perjalanan, melihat perubahan kota, yaah, namanya juga baru beberapa bulan ditinggal jadinya nggak banyak berubah...tapi....ternyata udah ada Hypermart di Kota Batu, kota kecil yang memiliki agropolitan dan tanah pertaniannya yang banyak, ternyata ada pembangunan retail modern nya juga...  :D
Akhirnya sampai juga di alun-alun kota Batu, yang dulunya hanya sebuah taman tempat kencan, duduk-duduk, tapi sekarang udah berubah menjadi sangat-sangat fungsional sekali.

Alun-Alun jaman dulu...


Kalau dulu, setiap jalan-jalan ke Kota Batu, paling-paling cuma makan di sekitar alun-alun, soalnya ada bakso yang enaak namanya Bakso Arif, baksonya gede-gede, segede bola tenis mungkin. Tapi sekarang, nggak cuma makan-makan saja, tapi juga lebih banyak tempat bermain bagi anak-anak. 

Sebelum bermain-main (halah), makan dulu di warung dekat alun-alun yang biasanya dulu makan, tapi ternyata sudah dijadikan tempat parkir, wah digusur kemana yaah....gak mungkin tapi kalo digusur, trus gak ada tempat gantinya...celinguk celinguk...oalahh, ternyata ada agak ke belakang sendiri, khusus untuk tempat makannya.

Setelah makan, akhirnya ke alun-alun, pengen naik bianglala nya :D
tapi ternyata tutup, akhirnya duduk-duduk dulu, memang saat itu hari minggu jadi rame banget, banyak yang berkunjung.

Semua yang ada di alun-alun Batu memiliki simbol sesuai dengan karakteristik Kota Batu.


Buah Apel dari samping, tapi itu toilet untuk pengunjuang.


Strawberry, sepertinya ruang kantor kali ya,,,,



Bunderan di Alun-Alun dengan Patung Apel Sebagai Simbol Kota Apel



Perbelanjaan dari Bianglala

Alun-Alun dari bianglal

dari bianglala


Pusat alun-alun

Ternyata Kota Batu cepat sekali ya berkembangnya, tapi tetap, udara tidak mengalahkan kesejukan dari daerah manapun.
Read More
Seringkali terdengar di telinga kita kata-kata ''sistem informasi geografis'', tapi mungkin kita tidak pernah membayangkan bagaimana awal mula sistem informasi mulai dikembangkan.

Sebenarnya, sistem informasi telah ada sejak dikembangkannya sistem komputer (generasi kedua). Pada akhir tahun 1950 ditemukan sistem komputer tersebut. Hingga akhirnya institusi swasta maupun pemerintah memerlukan analisis-analisis yang bersifat geografis untuk mengambil keputusan, oleh karena itu pada tahun 1963 dikembangkan sistem informasi geografis. Negara pertama dalam pengembangan SIG tersebut yaitu negara Kanada, bukan Amerika Serikat, dimana saat itu namanya CGIS (Canadian Geography Information System). Dua tahun setelah penemuan itu, kemudian Amerika Serikat membuat sistem yang serupa bernama MIDAS untuk memproses data-data sumberdaya alam.

Sebenarnya, lingkungan akademis juga sudah membuat sistem komputerisasi untuk pemetaan, walaupun pengembangan SIG dimulai di lingkungan pemerintah seperti CGIS dan MIDAS. Universitas Harvard sudah membuat laboratorium komputer grafik dan analisis spasial dan menghasilkan beberapa produk pemetaan yaitu SYMAP (synagraphic mapping) pada tahun 1964, CALFORM pada akhir tahun 1960, dan SYMVU juga pada tahun 1960, POLYVRT dan ODYSSEY tahun 1970-an.

Di Belanda, kampus ITC mengembangkan SIG pada tahun 1985 yang bernama ILWIS (integrated Land and water information system); dimana sistem ini sudah dilengkapi dengan kemampuan (features) untuk menggabungkan fungsionalitas pengolahan citra dijital, basis data relasional, dan lainnya. Di Universitas Minnesota juga dikembangkan MapServer dan sampai saat inipun Mapserver masih mendapat dukungan dari berbagai komunitas karena memiliki kelebihan yaitu output/image kartografis dengan kualitas tinggi, dan sebagai alat bantu visualisasi data SIG pada aplikasi browser dengan media jaringan internet.

Perkembangan tersebut tentu memunculkan berbagai industri baru untuk mengembangkan sistem SIG. Salah satu perusahaan pengembang SIG yang terkenal adalah ESRI (Environmental System Research Institute) didirikan oleh Jack Dangermond dan Laura Dangermond pada tahun 1969. Pada tahun 1999, salah satu majalah perangkat lunak di Amerika Serikat meletakkan ESRI pada urutan ke 49 dari 500 provider perangkat lunak terbesar di dunia yang dicapai pada tahun 1998.

Pada tahun 1981, ESRI mengeluarkan perangkat lunak Arc/Info. Tahun 1991, ESRI mengembangkan ArcView yang memiliki tampilan menarik, interaktif, tingkat kemudahan yang tinggi dan masih digunakan sampai sekarang. ArcGIS mengintegrasikan aplikasi-aplikasi ArcView (ArcMap), ArcInfo, ArcCaralog, ArcEdit, dan lainnya kedalam enterprise pengelolaan, analisis, dan presentasi data spasial.
Tidak hanya ESRI yang mengembangkan sistem SIG, tapi juga MapInfo Corp yang mengembangkan perangkat SIG  MapInfo pada tahun 1986. MapInfo juga cukup diminati karena mudah digunakan, harga yang relatif murah, tampilan yang interaktif dan menarik, user-friendly, struktur data spasial relatif sederhana, fungsionalitas editing dan digitizing data spasialnya sangat lengkap dan fleksibel, dan dapat di customized dengan menggunakan bahasa pemrograman atau script.

Jika ada yang kurang info,bisa ditambahkan, trims :)

Read More
Perkembangan kota-kota di dunia pada tahun 1970-an menimbulkan pemikiran-pemikiran baru pada ilmu perencanaan. Semua teori-teori tersebut telah diuji pada praktek perencanaan sehingga ada kekurangan dan kelebihan masing-masing teori. Akan tetapi, dalam essai ini akan dibahas mengenai persamaan dan perbedaan cara pandang teori-teori perencanaan dari Tujuh Model Perencanaan Schoenwandt danModel SITAR Hudson (Synoptic, Incremental, Transactive, Advocacy, Radical). Dari teori-teori tersebut kemudian dilakukan perbandingan teori untuk mendefinisikan perbedaan dan persamaan dalam cara pandang masing-masing teori. Selain itu, essai ini akan membahas tradisi atau model perencanaan yang paling efektif dipergunakan untuk mengembangkan tradisi pembangunan kota berbasis tata ruang di Indonesia.

A.                PERSAMAAN

1)      Proses Perencanaan

Dari proses perencanaan, kedua teori memiliki proses perencanaan secara umum yaitu dari survey, analisis, hingga rencana. Masing-masing model perencanaan yang dibuat oleh Schoenwandt dan Hudson mendefinisikan tahap-tahap perencanaan tersebut, walaupun tidak spesifik. Hal tersebut menunjukkan kesamaan cara pandang dalam proses perencanaan. Pada model perencanaan Rasional oleh Schoenwandt mengatakan bahwa data yang digunakan dalam perencanaan tersebut didominasi oleh data sekunder. Pada model perencanaan Equity (Kesamaan) Schoenwandt juga dijelaskan bahwa dalam model perencanaan tersebut perlu untuk mengumpulkan informasi. Begitu juga pada model Transactive Planning Hudson mengatakan ada pelaksanaan survey lapangan walaupun intensitas yang dilakukan masih kurang untuk memenuhi pelaksanaan perencanaan. Model perencanaan Incremental Hudson juga melakukan interview untuk memperoleh deskripsi instrumen perencanaan. Sedangkan untuk analisis yang dilakukan, model perencanaan Rasional menggunakana analisis kuantitatif, begitu juga model perencanaan Synoptic. Model perencanaan Synoptic Hudson ini menggunakan model yang konseptual atau matematis sehingga sangat tergantung pada data. Untuk model perencanaan yang lain bisa juga menggunakan analisis yang bersifat sosial. Pada tahap rencana yang merupakan hasil akhir dari proses perencanaan dilakukan oleh setiap model perencanaan walaupun setiap model perencanaan akan berbeda tujuan spesifiknya.

2)      Perhitungan matematis

Persamaan antara model perencanaan Schoenwandt dan Hudson yaitu analisis yang digunakan bersifat kuantitatif atau matematis, walaupun ada beberapa menggunakan analisis sosial. Pada model Synoptic Planning Hudson menggunakan analisis dari beberapa prosedur, misalnya analisis benefit-cost, pelaksanaan penelitian, sistem analisis, dan peramalan penelitian. Kemudian peramalan diturunkan menjadi model determinasi, model probabilistik atau pendekatan judgemental. Model tersebut sama seperti analisis pada model perencanaan rasional Schoenwandt yaitu menggunakan perhitungan matematis sehingga perencanaan tersebut lebih mempercaya ilmu dan pengetahuan dalam perencanaan atau paham positivistik.

3)      Penentuan alternatif

Dalam proses perencanaan, model perencanaan Schoenwandt dan Hudson juga memperhatikan proses penentuan alternatif-alternatif untuk menentukan hasil akhir perencanaan. Pada model perencanaan rasional Schoenwandt menggunakan alternatif yang berbeda-beda dengan analisis yang dilakukan, kemudian ditentukan pertimbangan dan akibat setiap alternatif. Setelah itu, dipilih alternatif dengan akibat yang paling mungkin bisa diatasi. Sedangkan model perencanaan synoptic Hudson juga menjelaskan salah satu elemen penting perencanaan adalah penentuan alternatif, dan model perencanaan Incremental juga merupakan campuran dari Synoptic dan Incremental sehingga tentunya proses penentuan alternatif ini juga termasuk kesamaan dari teori Schoenwandt dan Hudson. Pada synoptic planning juga dilakukan evaluasi terhadap alternatif-alternatif dari perencanaan.

4)      Perumusan program perencanaan

Setelah ada pemilihan alternatif kebijakan maka disusun perumusan program perencanaan. Cara pandang teori perencanaan Schoenwandt dan Hudson juga memiliki kesamaan yaitu pada perumusan program perencanaan, mungkin akan yang berbeda adalah tujuan perencanaannya. Pada synoptic planning Hudson menjelaskan bahwa setelah dilakukan evaluasi alternatif kemudian dibuat program perencanaan untuk implementasi selanjutnya. Pada Synoptic Planning kemungkinan tindakan perencanaan yang dilakukan dengan skala besar dan strategi penyelesaian masalah. Pada perencanaan Synoptic Planning menghasilkan rencana-rencana atau dokumen, bahkan di beberapa daerah langsung dilakukan perencanaan tanpa adanya dokumen. Model perencanaan incremental Hudson yang dilakukan melalui pengalaman, aturan praktis, bersifat teknis, dan konsultasi terus menerus. Pada transactive planning, perencanaan mengacu pada evolusi lembaga perencanaan yang terdesentralisasi untuk meningkatkan pengendali proses sosial yang mengatur kesejahteraan. Radical Planning bertujuan untuk membuat outcome jangka panjang. Adanya perubahan signifikan pada perencanaan radikal dari bentuk sosial, ekonomi, dan hubungan sejarah yang diabaikan oleh ilmu sosial dan filsafat liberal yang mendominasi perencanaan sosial.

5)      Perhatian pada kepentingan publik dengan pengadaan dialog

Persamaan selanjutnya yaitu bahwa model perencanaan Schoenwandt dan Hudson juga melakukan dialog dengan masyarakat atau kelompok kepentingan untuk mendapatkan masukan dalam perencanaan. Pada transactive planning Hudson, fokus perencanaan berasal dari pengalaman masyarakat sehingga perencanaan dilakukan dengan mengadakan pertemuan (dialog) dengan komunitas masyarakat. Model transactive planning dan incremental planning melakukan dialog dan tawar menawar pada kepentingan umum. Radical Planning memperhatikan keinginan masyarakat dan keterpaduan ideologi yang memberi kekuatan efektif untuk pengetahuan teknis.
Pada model Schoenwandt, model perencanaan yang bersifat perhatian kepada kepentingan publik dengan cara berdialog yaitu model perencanaan Equity, perencanaan advokasi, social learning and communicative action, dan perencanaan radikal. Pada model perencanaan Equity perlu adanya dialog baik dari dalam pemerintahan maupun dari luar pemerintahan. Pada perencanaan advokasi, perencanaan ini membela yang lemah dan melawan yang kuat. Karena bersifat advokasi, maka perencanaan ini terkait dengan hukum dan bisa menghalangi rencana yang tidak peka dan menantang pandangan tradisonal dari kepentingan publik. Perencana sebagai advokasi perencanaan maka dapat terjadi negosiasi secara terbuka atas kemauan masyarakat.

6)      Keterlibatan politik

Persamaan selanjutnya yaitu setiap model perencanaan pasti ada keterlibatan politik walaupun keterlibatan tersebut tidak secara langsung ataupun pengaruhnya kecil. Pada model perencanaan rasional Schoenwandt, perencanaan ini kurang dipengaruhi oleh politik dan lebih banyak dipengaruhi oleh teknisi. Pada model perencanaan advokasi Schoenwandt, pengaruh politik kuat, sedangkan pada (neo) Marxist pengaruh politik kurang, pada perencanaan Equity juga masih ada pengaruh politik, dan pada perencanaan radikal pengaruh politik tidak secara langsung terlibat dalam proses. Pada model perencanaan Hudson, perencanaan yang masih ada pengaruh politik yaitu synoptic planning, radical planning, dan advocacy planning.

B.                PERBEDAAN

1)      Pembagian tugas perencana secara jelas

Pada teori Tujuh Model Perencanaan Schoenwandt sudah dijelaskan secara jelas tugas-tugas perencana, sedangkan pada model pembangunan Hudson belum dijelaskan. Pada model perencanaan Rasional Schoenwandt menunjukkan bahwa perencana merupakan teknisi atau expert dalam perencanaan dengan analisis matematis. Pada perencanaan advokasi Schoenwandt perencana sebagai pengacara yang membantu memberi nasihat atau advokasi pada masyarakat mengenai kebutuhannya, tetapi pada perencanaan (neo) Marxist, tidak ada definisi tugas baru sehingga menggunakan pembagian tugas sebelumnya. Perencanaan tersebut hanya berbeda pada perubahan status negara sebagai negara kapitalis atau borjuis. Pada perencanaan Equity, perencana sebagai komunikator dan propagandis, tugas tersebut juga hampir sama dengan perencanaan social learning and communicative action. Pada perencanaan radikal, perencana harus memberi dukungan pada masyarakat terhadap perencanaan yang mereka inginkan. Pada perencanaan liberalistik, perencana membiarkan perencanaan berjalan sendiri, tidak ada intervensi rencana jika sistem pasar bebas gagal.

2)      Pendekatan perencanaan

Pada teori perencanaan Schoenwandt sudah membahas pendekatan perencanaan setiap model perencanaa, apakah top-down atau bottom-up, sedangkan pada model Hudson (SITAR) belum dijelaskan. Pendekatan perencanaan top-down yaitu perencanaan rasional dan (neo) marxist, sedangkan pendekatan perencanaan bottom-up yaitu perencanaan advokasi, equity, social learning and communicative action, dan perencanaan radikal.

3)      Konsensus

Pada teori perencanaan Schoenwandt sudah membahas apakah model perencanaan hingga tahap konsensus atau tidak. yang kemudian dibentuk konsensus untuk penentuan program perencanaan. Akan tetapi, tidak semua model perencanaan tersebut hingga tahap konsensus, lebih banyak hanya sampai melakukan dialog dengan masyarakat atau kelompok kepentingan tanpa ada hasil konsensus. Model perencanaan yang menggunakan konsensus yaitu Model Social Learning and Communicative Action. Hal tersebut belum terlihat pada model perencanaan Hudson (SITAR).

4)      Perencanaan yang bersifat liberalistik

Pada model perencanaan Hudson (SITAR) belum mempertimbangkan daerah yang tidak mengintervensi tindakan perencanaan atau bersifat mengikuti pasar bebas. Semakin berkembangnya zaman, maka muncul teori-teori baru untuk melengkapi teori sebelumnya, dimana teori Hudson belum ada model perencanaan yang liberal. Teori Schoenwandt melengkapi teori Hudson mengenai perencanaan liberalistik. Perencanaan tersebut berjalan sendiri, sesedikit mungkin merencanakan, dan memberik ganti rugi terhadap pelanggaran hak-hak individu.

5)      Asumsi karakteristik publik

Pada model perencanaan Hudson tidak dijelaskan asumsi karakteristik publik pada daerah perencanaan, sedangkan pada model perencanaan Schoenwandt sudah ada pembedaan karakteristik setiap model. Perencanaan rasional mengasumsikan bahwa karakteristik publik itu homogen baik sosial etnik maupun dari gender, kemudian berkembang teori perencanaan advokasi Schoenwandt bahwa karakteristik publik tersebut tidak homogen.

Berdasarkan karakteristik model perencanaan Schoenwandt dan Hudson, maka perencanaan yang efektif yang bisa diterapkan di Indonesia yaitu mixed-scanning antara model perencanaan Rasional Schoenwandt atau Synoptic Hudson dan Social Learning and Communicative Planning Schoenwandt. Model perencanaan tersebut merupakan campuran antara top-down planning dan bottom-up planning.
Alasannya yaitu masyarakat harus diberi pemahaman atas ilmu yang dimiliki perencana, semua partisipan harus mendapatkan informasi yang sama dan sudut pandang yang terwakili sehingga perlu perencana yang bisa berkomunikatif secara efektif dan efisien kepada masyarakat. Bila hal tersebut tercapai, maka tujuan demokratif akan tercapai. Dalam hal ini, peran pemerintah juga harus ada, dimana prosedur-prosedur teknis dilakukan untuk mencapai perencanaan rasional.
Kita perlu melihat karakteristik masyarakat Indonesia, dimana masyarakat tidak bisa langsung saja menerima rencana pemerintah, apalagi terkait dengan kehidupan masyarakat secara langsung. Oleh karena itu perlu pemahaman terlebih dahulu dari masyarakat. Pengalaman dan keinginan masyarakat sebagai masukan terhadap perencanaan. Sebenarnya dengan adanya dialog dengan masyarakat dan rencana masyarakat bisa dimasukkan dalam rencana, maka bisa menimbulkan sikap saling percaya antara pemerintah dan masyarakat.
Perencanaan yang terjadi saat ini dimana apa yang diusulkan masyarakat pada akhirnya tidak diaplikasikan pada implementasinya, sehingga bisa jadi masyarakat menjadi kurang percaya kepada pemerintah, dan pada akhirnya tidak antusias lagi dalam menghadapi penyelesaian permasalahan pada perencanaan kota. Kepercayaan dari pemerintah kepada masyarakat juga harus dibangun bahwa masyarakat yang langsung mengalami hasil dari perencanaan. Apabila ada masukan dari masyarakat yang tidak sesuai dengan aturan atau prosedur, maka perencana harus bisa berkomunikatif dengan baik agar masyarakat memiliki pemahaman dan bisa belajar dari perencanaan. 
Read More

Follower