Alhamdulillah, akhirnya aku punya kesempatan untuk bisa berkunjung ke Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip). Sebenarnya sudah lama ingin ke sini, tapi karena lokasinya cukup jauh dari rumah jadi aku tidak pernah pergi ke perpustakaan ini. Qodarullah, aku mewakili organisasiku untuk berkunjung ke perpustakaan provinsi Jatim.

Disperpusip Jatim

Kesan pertama keliling perpustakaan

Kesan pertama akan kuceritakan dari berbagai aspek, seperti lokasi, gedung, suasana, apakah nyaman untuk membaca atau belajar?

Dari lokasi, perpustakaan ini berada di Jalan Menur Pumpungan No.32, Menur Pumpungan, Kec. Sukolilo, Surabaya. Lokasi ini cukup jauh dari rumahku, sekitar 45 menit. 

Jam buka Perpustakaan Provinsi Jatim ini:
Senin-Sabtu: 08.00-15.30, kecuali Jumat 08.00-16.00
Khusus ruang baca umum/dewasa 
Senin - Kamis: 08.00-19.30
Jumat : 08.30-20.00

Layanan arsip
Senin-Jumat : 08.30-14.30

Minggu/hari libur nasional Tutup

Awalnya aku enggan juga nyetir mobil ke sini, tapi karena penasaran, aku datang ke sini bersama anakku.

Aku memilih parkir di luar karena ada tempat yang kosong. Aku juga tidak mau putar mencari yang gampang dan teduh.

Oiya, aku tidak memasuki lewat pintu utama, tapi lewat pintu yang terbuka sedikit. Di dekat tempat parkir mobil ini, anakku memasuki area kebun hidroponik yang ditanam macam-macam sayuran, solar panel, dan kolam ikan kecil. Uniknya, kebun hidroponik ini menggunakan solar panel untuk menyalakan pompa air sehingga tanaman tetap mendapat air dari pompa air otomatis.

Solar Hydroponic
Kebun Mini Disperpusip Jatim dengan Solar Hydroponic (dok. Pribadi)

Setelah memberitahukan keperluan kepada petugas keamanan, kami pun diminta menunggu di dalam gedung kantor.

Anakku bermain di depan ruang baca anak-anak karena di sana ada ayunan dan perosotan. Lumayan lah bisa mengurangi kebosanannya menunggu. Namanya anak-anak yaa baru bentar juga udah bosan. Sedangkan aku masih menunggu kepala dinas yang sedang ada acara.

Ternyata terjadi miskom antara pegawai perpustakaan dan teman kami. Akhirnya kami diterima sebagai tamu dan diajak mengobrol di ruang setda,

Setelahnya, kami diajak berkeliling perpustakaan.

Apa saja yang ada di dalamnya?

Kunjungan pertama kami adalah ruang baca anak yang berada paling dekat.

Ruang baca anak

Ruang baca anak ini didesain menarik untuk anak. Dinding-dindingnya dilukis seperti berada di dalam kapal selam dengan pemandangan bawah laut. Jendelanya berbentuk lingkaran-lingkaran seperti jendela kapal. Bentuk ruang anak ini seperti panggung. Anakku berjalan hingga ke sofa di ujung ruangan. Lemari-lemari buku berada di pinggir ruangan. Di bagian depan, meja-meja bundar berwarna-warni untuk tempat membaca.

Ruang baca anak (dok. Pribadi)

Ketika aku berkunjung ke sana, pengunjung ruang baca anak-anak hanya sekitar 3 orang. Mungkin karena jam kerja jadi tidak ada anak-anak, dan akan ramai saat akhir pekan.

Menurutku, untuk variasi buku di perpustakaan ini tidak sebanyak di Perpustakaan Kota Surabaya di Rungkut. Di sini menang fasilitasnya. Ada playground mini juga. Jadi anak tak hanya membaca buku saja tapi juga melakukan aktivitas lainnya. 

Tapi jadinya anakku heboh pas bermain di playground. Takutnya ganggu yang lain. 

Ruang Dongeng

Yang membuatku terkesima adalah di perpustakaan ini memiliki ruang dongeng. Ruangan ini berupa ruang kosong tanpa kursi. Hanya ada panggung dan beberapa sound system. Di dalamnya, beberapa anak-anak disabilitas sedang duduk menunggu arahan gurunya. Kami menyapa mereka. Mereka menyambut sapaan kami dengan antusias.

Ruang Dongeng (dok. Pribadi)

Oiya, ruangan ini bisa dipinjam loh untuk kegiatan literasi, bisa lomba mewarnai, latihan pentas drama/tari, pelatihan menulis, dan lain-lain.

Ruang buku non fiksi

Di ruang referensi, ada satu deret lemari yang berwarna cokelat dan berbeda dengan lemari lainnya. Setiap lemari ini diberi nama per kota di Jawa Timur yang di dalamnya berisi buku-buku dari kota/kabupaten tersebut. Adanya lemari tersebut, aku bisa menyimpulkan bahwa beberapa kota kecil/kabupaten masih memiliki sumber buku yang terbatas. Harapannya, buku-buku tentang kearifan lokal tiap daerah bisa lebih banyak.

Ruang baca non fiksi (dok. Pribadi)

Ruang Referensi

Di ruang ini, cukup banyak buku-buku pengetahuan yang bisa dijadikan referensi. Saat memasuki ruang referensi, kita harus melewati pintu berputar untuk memasuki tuang ini. Ada koleksi tentang kerajaan zaman duu.

Mungkin karena sedang hari kerja, jadi yang datang ke perpustakaan bisa dihitung dengan jari.

Ruang Naskah Kuno

Yang paling unik, kami diberi kesempatan untuk melihat naskah kuno yang sedang dianalisis di ruang khusus pegawai. Beberapa petugas sedang duduk dikursi masing-masing. 

Ruang baca disperpusip jatim


Pada bagian ini, petugas melakukan proses identifikasi, pendaftaran, pelestarian, hingga penguatan pemahaman masyarakat terhadap nilai ilmiah naskah kuno tersebut. Waktu uang dibutuhkan untuk pengelolaan naskah kuno antara tiga hingga lima tahun. Tentunya, proses tersebut juga bekerja sama dengan pihak-pihak ahli.
.

Kunjungan ke Galeri Majapahit

Ruangan ini sebenarnya menghubungkan ruang anak dan ruang perpustakaan lainnya. Galeri Majapahit ini seperti layaknya museum yang menjelaskan tentang sejarah Majapahit yang berupa auduovisual melalui layar televisi maupun bentuk miniatur, permainan edukatif hingga pengalaman virtual 360 derajat yang bisa menampilkan suasana masa lalu. Sebenarnya tak hanya Majapahit saja, tetapi juga penjelasan tentang Wali Songo secara ringkas dan padat.




Ruang Diskusi dan Podcast

Kami diajak ke ruangan di lantai dua. Di dalamnya ada ruang diskusi atau rapat yang terdiri dari sofa, kursi dan meja. Di bagian dalam, ruang podcast dengan berbagai alat rekam ini dan ruang diskusi bisÅ•a juga dipinjam. 
Selain itu, kita juga diajak melihat ruang rapat lainnya yang bisa muat 20an orang.


Drive Thru

Yang Keren dari perpustakaan ini adalah adanya fasilitas Drive Thru jadi masyarakat tak perlu masuk gedung untuk mengembalikan buku. Fasilitas ini memudahkan peminjam buku dan membuat waktu menjadi lebih efisien.

Musholla, Kantin dan Toilet

Di bagian samping bangunan ada musholla, kantin dan toilet. 

Untuk tempat sholat akhwat tidak terlalu luas. Jadi saat waktu sholat mungkin ramai dan harus melewati orang sholat atau bergantian. Toilet sih lumayan bersih meski ada kecil bau-bau hehe. 

Untuk kantin terbatas saja ya makanannya. Rata-rata snack aja. Kalau makaman berat sebelum jam 12 udah habis. Aku beli mie cup saja biar lebih cepat. Lumayan mengganjal perut. Harganya 10ribu. Ada minuman sachet juga. Bisa bayar pakai QRIS.

Ruang Co-working Space

Selain ruang baca, Perpustakaan Provinsi Jawa Timur ini juga memiliki ruang co working space. Ruang khusus pengunjung yang ingin menggunakan bekerja secara mandiri atau kelompok tanpa harus mengganggu pengunjung lain. 

Co-working space Disperpusip Jatim (Sumber foto: Disperpusip Jatim)

Co-working space tampak nyaman karena sudah ada karpet, lampu, meja lesehan, AC, bantal/bag bean. 

Ruang baca umum/dewasa

Di ruang ini di bagian depan dekat meja pendaftaran. Ruangan ini cukup besar. Ada meja-meja untuk pengunjung perpustakaan. Mejanya juga cukup banyak. Jadi insyaallah selalu ada tempat. Ketika aku berkunjung ke sana, suasana cukup ramai. Pengunjung perpustakaan serius saat menghadap laptop atau pun membaca buku. 

Ruang tunggu

Di bagian depan terdapat ruang tunggu untuk pengunjung. Sofa-sofa yang empuk ini menjadi tempat para pengunjung untuk beristirahat sejenak sebelum lanjut beraktivitas lainnya.

Meja Pendaftaran
Bagi yang memiliki KTP Jawa Timur bisa mendaftar di perpustakaan dan kearsipan Jatim ini. Mendaftarkan pun gratis dan mudah. Tinggal ikuti arahan petugas saja. Sekarang serba digital sih. Jadi harus mengisi data di komputer dan di foto dulu. 

Perpustakaan Ramai Pertanda?

Pengunjung yang datang ke perpustakaan Prov Jatim cukup ramai. Pertanda bahwa harusnya kita tidak ragu dengan tingkat minat baca masyarakat. Memang sepertinya kelengkapan buki perpustakaan dan fasilitas menjadi salah satu alasan pengunjung datang ke perpustakaan. Fasilitas di Disperpusip Prov Jatim ini emang keren sih.


Read More

Suatu saat saya bersama anak-anak pergi ke Magetan, bukan untuk wisata tetapi menemani ayahnya anak-anak kegiatan di sirkuit Magetan. Berangkat dari Surabaya kira-kira jam 7 pagi dan tiba di Magetan sekitar jam 10an pagi. Di sana, kegiatan selesai saat sholat isya. Karena besok masih harus melanjutkan kegiatan, maka kami mencari penginapan yang dekat di Madiun. Aku belum sempat pesan hotel di mana. Jadi aku mengikuti rombongan saja. Rombongan menuju Fave Hotel Madiun. Dari Magetan ke Madiun ditempuh dalam waktu kira-kira sekitar setengah jam. Sesampainya di hotel sekitar pukul 8 malam.

Fave hotel madiun
Fave Hotel Madiun ( Google Fave Hotel Madiun)

Fave Hotel Madiun, Rekomendasi Hotel di Madiun

Aku bisa rekomendasikan Fave Hotel Madiun kalau kalian sedang berlibur di area Madiun dan sekitarnya. Beberapa alasan kenapa Fave Hotel Madiun jadi hotel yang aku rekomendasikan.

Lokasi strategis

Fave Hotel Madiun ini berada di Jalan Mayjen Sungkono No. 43, Nambangan Kidul, Kec. Manguharjo, Kota Madiun. Hotel bintang 3 di Madiun ini bersebelahan dengan Hotel Aston.

Hanya dengan melihat di Google Maps, kita tidak kesulitan mencari Fave Hotel Madiun ini karena lokasinya strategis berada di jalan utama dan dekat dengan alun-alun kota Madiun sekitar 2 km atau sekitar 5 menit dengan naik mobil. Mau ke toko oleh-oleh Bluder Cokro pun dekat. 

Kalau mau ke Pahlawan Street Center Madiun, yang banyak ikon-ikon terkenal beberapa negara, juga dekat, sekitar 10 menit atau sekitar 3km. Jika kalian pergi ke Madiun naik kereta pun tidak begitu jauh. Dari stasiun Kota Madiun hanya berjarak 4 km, atau sekitar 15 menit.

Meskipun lokasinya strategis, lingkungan di sekitar Fave Hotel Madiun ini tidak begitu bising dan ramai. Sayangnya, transportasi umum di Kota Madiun tidak seperti di kota-kota besar yang punya bus kota dengan jadwal berkala. Jadi kalau ke kota Madiun lebih baik naik ojek online atau kendaraan pribadi.

Pelayanan Baik

Fave Hotel ini memang sudah banyak di beberapa kota. Jadi aku tidak begitu asing dan tidak ragu lagi dengan pelayanan hotel ini. Kami memasuki gerbang untuk tamu Fave Hotel tetapi di parkir mobil ternyata bisa jadi satu dengan tamu Aston.

Lobi hotel nyaman

Dari luar, tampilan depan memang tampak keren. Kami menaiki tangga dari samping. Di dalam lobby, kami disuguhkan dengan welcome drink berupa minuman jeruk. Di lobi hotel juga ada bagian khusus untuk pameran produk lokal. Anak-anak dan suami menunggu di sofa sementara aku menunggu di resepsionis hotel.

Lobi hotel ini cukup nyaman, AC yang dingin, bersih dan tenang. Petugas pun ramah kepada tamunya. Aroma lobi cukup wangi. Aku mengantri untuk proses check-in hotel. Eh, ternyata sudah dibayarin. Allahuakbar. Semoga Allah membalas kebaikan beliau.

Oiya di lobi ini juga ada toilet juga untuk tamu tanpa harus kembali ke kamar.

Kamar nyaman

Aku mendapat kamar di lantai 3. Saat menaiki lift, pengunjung harus menggunakan kartu kamar agar lift bisa berjalan. Menurutku, salah satu kelebihan Fave Hotel ini adalah keamananya terjaga. Setiap pintu dikasih kunci dan harus memakai akses kartu kamar. Satu kamar diberi 2 kartu.

Kami memasuki kamar dengan desain interior yang nyaman, sederhana tapi tampak elegan. Anak-anak tak sabar menaiki kasur double bed itu untuk televisi. Aku meminta mereka mandi dulu baru boleh naik ke kasur. Aku meletakkan tas di atas meja dan menaruh jilbabku di kursi. Anak-anak segera mandi. Baju-baju bertumpuk tak karuan di meja samping lemari. Di bawahnya ada brankas dan tempat alas kaki.

Kamar Fave Hotel Madiun
Maapkan Kamarnya Berantakan (dok. Pribadi)


Terdengar suara air dari kamar mandi, aku memberitahu mereka agar berhati-hati menyalakan kran air panas.

Suara-suara heboh sebelah kamar cukup terdengar di kamarku. Jadi suaraku sepertinya juga terdengar di kamar mereka. Hehe. Kamarnya kurang kedap suara jadi aku harus memelankan suara.

WiFi hotel pun lancar. Di atas meja ada dua gelas, teko kaca, dan beberapa sachet kopi, teh, gula dan krimer. Karena aku haus, aku meminta anak-anak mengambil air dari galon yang ada di koridor hotel. Kukira dia cuma sebentar saja mengambil air, ternyata lama banget. Ketika sampai kamar, dia bilang galon yang dekat kamar airnya habis, jadi dia harus keliling mencari galon yang masih ada airnya.

Setelah semua mandi, aku terlalu malas untuk berjalan keluar kamar mencari makan. Energiku udah habis seharian di sirkuit. Hehe. Anak-anak pun tampaknya sudah lelah dan asyik nonton televisi sambil tiduran. Channel televisinya lengkap dari channel nasional maupun internasional.

Alhamdulillah kami masih ada makanan yang bisa dimakan. Jadilah aku meminta mereka segera makan.

Kalau dari ukuran luas kamar, meski kehalang dengan tempat tidur, meja kursi, tapi kami masih bisa sholat berjamaah. Bagiku, itu patokan bahwa kamar cukup luas. Kami juga tidak kesulitan untuk beribadah karena ada penunjuk arah kiblat.

Untuk tempat tidur, jangan heran, badan anak-anakku masih kecil-kecil, dan aku pun kurus jadi kami masih bisa tidur bersama di kasur. MaasyaAllah.

Menurutku, kasurnya sudah nyaman banget. Tapi aku baru sadar ada bercak di sepreinya keesokan harinya. Mungkin pas udah siang jadi kelihatan. Aku kira anakku ngompol tapi celana mereka tidak basah atau bau ompol. Kalau pun anakku ngiler, posisi kepala mereka tidak di bagian bawah. Aku nggak tau bercak apa. Ah, sudahlah...

Pengaturan suhu kamar pun sudah nyaman. AC berfungsi dengan baik. Kami bisa tidur dengan nyaman tanpa kedinginan tanpa kepanasan.

Kamar mandi cukup luas dan lumayan bersih

Kamar mandi bersih dan cukup luas. Untuk tempat mandi tidak ada penutup jadi air bisa kemana-mana. Sebenarnya yang agak susah kalau wudhu. Biasanya ada kran untuk shower sama kran air biasa jadi satu jadi bisa buat wudhu tapi ini tidak ada.

Air panas berfungsi dengan baik tapi agak bingung ngaturnya karena meski udah diatur ke dingin tetap agak panas. Tekanan air showernya juga cukup kuat, tidak terlalu lemah. Toilet duduk bersih. Ada tisu toilet di sampingnya. Di kamar mandi disediakan 2 handuk, ada sabun cair yang gabung sama sampo, sikat gigi dan odol. Setelah mandi pun air langsung masuk ke salur pembuangan dan tidak menggenang.

Sarapan Bervariasi

Keesokan harinya, sekitar jam 6 pagi anak-anak meminta berenang tapi aku mengajaknya makan dulu karena khawatir mereka masuk angin. Awalnya mereka bersikeras mau renang dulu, karena pikir mereka setelah berenang akan lapar jadi langsung makan.

Tapi aku nggak mau, hehe. MaasyaAllah gini banget ya. Ortu punya keinginan apa. Anak punya keinginan apa. Akhirnya mereka menuruti ibunya, alhamdulillah. Jadi kami makan dulu.

Resto hotel ini berada di tengah-tengah bangunan Aston dan Fave Hotel berada di lantai dua. Saat keluar dari bangunan hotel, kami harus membuka pintu dengan kartu.

Resto Fave Hotel Madiun
Resto Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Sampai di resto, petugas menanyakan kamar berapa dan memberitahukan karena kami berlima jadi kena charge. Untuk anak-anak tambah 70ribu saja. Jadi dianggap separuh harga.

Eh, anakku yang kedua kebanyakan ambil sereal plus susu. Jadi dia kekenyangan. Aku minta dia makan nasi nggak mau. Aku paksa pokoknya karena aku nggak mau kenapa-kenapa perutnya. Kami masih harus jalan. Dia mau makan roti panggang dan nasi cuma lima suap.

Menu-menu di resto Fave Hotel ini cukup beragam. Ada menu lokal, pecel Madiun, makanan sayur jamur, ayam, nasi goreng, nasi putih, bubur kacang hijau, dan salad sayur dan buah,. Ada juga menu anak-anak, seperti sereal, roti bakar, sosis dan omelette.

Menu sarapan di Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Rasa makanan utamanya sih cukup terasa bumbunya. Untuk omelette menurutku sedikit hambar tapi masih bisa dinikmati terutama yang terbiasa dengan makanan minim bumbu.

Restoran cukup bersih. Setiap tamu resto selesai makan, pegawai segera membereskan makanan. Suasana tempat makan juga vibe-nya berasa kayak di luar negeri. Jam sarapannya dari jam 6 sampai jam 10.

Di dekat resto juga ada kamar mandi meskipun kamar mandinya maaf agak bau dan sepertinya kurang dirawat karena pintunya rusak.

Kolam Renang View Pegunungan

Setelah sarapan, kami menuju ke kolam renang hotel Aston jadi kami harus lewat hotel Aston. Kami tidak perlu lewat depan hotel, karena setelah keluar restoran ada pintu masuk lewat samping yang langsung masuk ke gedung hotel Aston.

Kami menaiki lift hotel Aston dengan akses kartu kamar kami. Kolam renang berada di lantai 6. Petugas menanyakan nomor kamar kami kemudian memberikan pinjaman handuk.

Di area kolam renang ini ada tempat gym, tempat bermain anak (mini playground), dan spa. Beberapa meja dan kursi sudah ditempati oleh pengunjung.

Sesampainya di sana, anak-anak segera berganti baju. Sayangnya, anak-anak tidak bawa baju renang jadi pakai baju biasa. Petugasnya kemudian menegurku untuk meminta mengganti bajunya. Jadilah anak-anak Cuma pakai celana aja. Hehe.

Di kolam renang dewasa dalamnya seitar 1,5 m. Sedangkan di kolam anak-anak paling cuma setengah meter. 

Kolam renang Fave Hotel Madiun
Kolam Renang Fave Hotel Madiun (dok. Pribadi)

Pemandangan dari kolam renang ini cukup hijau. Masih ada tampak pepohonan yang rimbun. Pegunungan tampak jauh di sana.

Ternyata berenang di jam 7 pagi cukup dingin. Anak-anak baru bentar sudah kedinginan.

Sekitar hampir satu jam akhirnya selesai karena jam 8 kami harus persiapan meluncur ke Magetan lagi. Anak-anak mandi di kamar mandi. Aku tidak masuk kamar mandi tapi nunggu di depan wastafel di depan kamar mandi. Aku meminta kakaknya memandikan adiknya.

Ketika kami keluar, ada dua orang sedang bermain tenis meja. Di samping meja petugas, ada tong sampah besar untuk meletakkan handuk kotor.

Kami pun kembali ke kamar. Anak-anak masih melanjutkan menonton televisi selama aku mempersiapkan barang-barang.

Hotel dengan Family friendly

Fave Hotel Madiun ini bisa kubilang family friendly karena di kamar aku itu termasuk tipe connecting rooms alias punya pintu yang menghubungkan dengan kamar lain. Jadi kalau keluarga besar cocok banget di hotel ini.

Dari parkiran ke lobi hotel ada jalanan yang bisa digunakan untuk stroller, kursi roda atau koper. Jadi tetap aman untuk keluarga dengan kebutuhan yang berbeda. Kolam renang juga ada kolam renang untuk anak.

Tak hanya itu, juga ada tempat bermain anak-anak.

Dengan harga segitu apakah worthy? Cocok untuk siapa?

Secara umum, Fave Hotel ini nyaman untuk jadi tempat menginap keluarga, selain punya connecting room, juga fasilitasnya lengkap. Parkir mobil juga luas. Sedangkan kekurangannya itu ada bercak di seprei. Tak Cuma itu, kamarnya kurang meredam suaranya sehingga dari aktivitas di kamar bisa terdengar sampai di kamar sebelah atau di luar.

Rate Fave Hotel Madiun per malam itu di OTA beda-beda ya harganya, tapi kalau di website Fave Hotel Madiun berkisar 400ribu hingga 700ribu rupiah tergantung tipe kamar. Apakah worthy?

Dengan rate segitu, kita sudah dapat sarapan, fasilitas kamar dan hotel cukup lengkap, lokasi strategis, menu makanan yang cukup banyak, cocok untuk keluarga yang bawa anak.


Read More

Nggak cuma dilema soaal menentukan bus ke Jakarta. Aku sempat dilema cari hotel buat transit karena bus tiba di Jakarta pagi sedangkan penerbanganku malam. Kalau mau nunggu di bandara pun nggak bisa istirahat. Aku cari hotel budget dekat bandara Soekarno Hatta. Tentu saja bisa early check-in dengan harga yang masih terjangkau. Aku pun pesan hotel bintang dua, Hotel Bale Ocasa by Behomy melalui OTA dengan twin bed. Harapannya, aku dan kedua orang tua diizinkan pesan 1 kamar saja twin bed.

Hotel Bale Ocasa

Memilih hotel dekat bandara yang nyaman dan harga terjangkau memang susah-susah gampang. Banyak hotel sekitar bandara Soekarno Hatta yang murah tapi aku khawatir kalau misal kamarnya kurang bersih, kurang terawat atau kurang aman. Jadi aku cari yang kira-kira tampak nyaman, aman dan harganya masih bisa terjangkau. 

Dari sekian banyak alternatif hotel dan review pengunjung, aku memilih Bale Ocasa by behomy. Pencarian hotel budget emang melelahkan. kuakhiri saja pencarianku dengan memilih Bale Ocasa.

Lobi yang terhubung dengan taman (dok. Pribadi)


Dekat di Mata, Jauh dari Pintu Masuk

Yang paling mengejutkan ternyata hotel ini berada di tengah perkampungan padat penduduk. Mobil kami memasuki jalan yang sempit. Jika berpapasan dengan mobil, maka mobil harus mepet sekali ke pinggir jalan. Kami sempat salah tempat, di rumah dengan halaman yang luas dan sepi. Hanya ada usaha laundry di sampingnya.


Kami pun keluar dari rumah itu dan menuju ke hotel. Sampai sopir ojek online mengira aku salah tempat. Dia mengira juga kalau aku agen travel yang 'nakalan' karena ngerjain orang tua ke hotel yang blusukan. Wkakakak. Aku pun baru tahu ini loh.


Alamat Hotel Bale Ocasa yaitu di Jl. Marsekal Suryadarma No.88, RT.004/RW.007, Neglasari, Kec. Neglasari, Kota Tangerang.

Pas cari hotel ini dan lihat di peta, lokasi hotel Bale Ocasa ini kubilang dekat banget sama bandara Soekarno Hatta. 


Kukira kami bisa melihat landasan run off dan bisa melihat pesawat yang akan landing dan take off, itu berarti lokasi hotel sangat dekat. Tapi saat kami akan menuju Terminal 3 bandara Soekarno Hatta ternyata jalannya cukup jauh dan harus memutar. Jarak tempuhnya sekitar 13 km atau 30 menit. Wkakakaka. 


Kelebihannya, kami bisa melihat pesawat landing dan take off saat perjalanan, walaupun sudah malam jadi hanya lampu yang tampak. Bahkan di beberapa titik, banyak warga yang memarkirkan motornya hanya untuk melihat pesawat landing dan take off. 


Early Check-In 

Kami tiba di hotel pagi hari sekitar jam 10 pagi. Secara tidak langsung kami harus early check-in dengan menambah biaya. Sedangkan aku sudah pesan lewat OTA sekitar 270ribu rupiah. Early check-in kena charge 150ribu rupiah. Karena kami bertiga jadi kami juga harus upgrade kamar dengan 1 double bed dan 1 single bed. Pokoknya kalau ditotal seharga 600ribu. Kira-kira masih termasuk murah nggak untuk early check in dan upgrade kamar? 


Karena ada 1 hotel bintang 3 kalo nggak salah harganya 600ribu. Tapi tidak ada early check in jadi baru bisa check in jam 3 sore. Siapa yang mau nunggu lama-lama? Yah akhirnya pilih Bale Ocasa aja.


Kamar hotel yang bersih dan nyaman

Kami memasuki kamar yang berada di lantai satu. Kunci hotel masih memakai kunci manual. Untuk desain interior kamar memang sederhana saja tapi termasuk bersih dan bagus. Di dalam kamar, ada 1 double bed dan 1 single bed. Kamar termasuk luas karena antar kasur masih ada ruang untuk meletakkan koper. 

Situasi Kamar (dok. Pribadi)

AC kamar juga tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Cukup untuk tidur sebentar. 


Di dalam kamar ada televisi tapi tidak kami nyalakan. Kami juga tidak tahu apa bisa dinyalakan atau tidak. Lemari di depan kamar mandi cukuplah sebagai tempat untuk menggantung pakaian dengan hanger atau meletakkan pakaian.


Di samping lemari ada meja untuk meletakkan barang-barang. Di sebelahnya lagi ada meja bundar untuk meletakkan handuk.


Kamar mandi bersih

Kamar mandi cukup luas. Di dalamnya ada shower, kloset, eastafel atau tempat sabun. Beberapa peralatan mandi pun disediakan seperti sabun dan sampo. Tidak ada sikat gigi dan odol. Sayangnya, air panasnya tidak terlalu terasa. Ada wastafel dengan kaca yang besar.



Taman dekat lobi yang menyenangkan

Salah satu tempat yang cukup nyaman di hotel ini adalah tempat duduk di taman yang berada di bawah pepohonan dan dikelilingi kamar. Tempat duduknya pun dari bebatuan. Sedangkan di lobi, ada kursi khusus tamu dan air mancur mini. Kalau sore hari memang enak, kalau siang hari siap terasa panas meski di bawah pepohonan.


WiFi tersendat

Sayang banget sih untuk WiFi di kamar tidak bisa dipakai. Jadi kalau mau pakai WiFi hotel harus ke lobi dulu atau duduk di taman. Tapi yaudahlah... Gara-gara WiFi tersendat ini aku jadi bisa tidur tanpa mikirin media sosial.


Menginap di Bale Ocasa Worth it Nggak?

Pertanyaan ini sebenarnya menjebak banget deh. Sebenarnya kalau untuk transit memang mending di hotel yang bisa early check in. Cuma perlu dihitung lagi kalau cuma berdua dan waktu masih lama, mending menunggu di bandara.


Meskipun dengan beberapa keterbatasan, petugas hotelnya cukup ramah. Jangan lupa cek jarak tempuh ke terminal bandara. Jangan sampai terkecoh sepertiku. 


Kalau tidak upgrade kira-kira harganya nggak sampai 600ribu. Apalagi kalau tidak early check in. Tapi menurutku harga segitu cukup tinggi untuk RedDoorz. 

Read More
Gimana ceritanya naik bus sleeper tapi tidak ambil seat sleeper? Sayang banget nggak sih? Apalagi kalau belum pernah naik bus sleeper. Di awal bulan Juli, aku dan kedua orang tua berangkat ke Jakarta dari Sragen. Pertimbangan memilih transportasi rute Sragen-Jakarta ternyata cukup drama juga dan membuat puyeng.

Pertimbangan Memilih Bus Sleeper Rute Sragen-Jakarta

Sragen ini kota kecil di Jawa Tengah sebelum Solo (kalau dari Jatim). Tidak semua bus sleeper berangkat dari Sragen. Rata-rata berangkat dari Solo, sementara kalau berangkat dari Solo ribet banget, kecuali kalau dianter keluarga. Kita nggak mau ngerepotin keluarga. Jadi kami cari bus yang nyaman untuk lansia. Aku merekomendasikan pada orang tua untuk naik bus sleeper saja.

Kenapa?

Karena tiket kereta cukup mahal. Kalau naik kereta pun dari Sragen jadwalnya kurang cocok. Keretanya ekonomi premium yang harganya kurang lebih sama bus. Stasiun terakhir pun masih jauh dari Bandara Soekarno Hatta. Kalau kereta eksekutif, lebih mahal lagiii dan berangkat dari Solo.

Kalau naik bus sleeper, orang tua nggak capek di jalan, tinggal tidur udah nyampe Jakarta hehe. Dan masalah lainnya sebenarnya adalah tulang ekorku yang tidak bisa duduk lama. Iya, aku pernah jatuh waktu ngejar bus di Paris dulu sampai aku tidak bisa duduk saat kuliah. Sudah sejak akhir tahun 2012, tapi sampai sekarang tulang ekorku sakit dan tidak bisa duduk berjam-jam.

Selain itu, naik bus bisa mencari lokasi pemberhentian bus yang dekat dengan bandara. Masalahnya lagi, ternyata naik bus sleeper dari Sragen itu tidak banyak. Aku mencoba mencari di Traveloka. Bus sleeper hanya sedikit. Terus kurang meyakinkan.

Aku pun menginstal aplikasi RedBus, aplikasi khusus untuk mencari bus. Ternyata di aplikasi RedBus, pilihan bus sleeper lebih banyak. Aku juga bisa memilih jam berangkat dan lokasi pemberhentian terakhir.

Aku juga mengirimi video-video review bus sleeper Sragen-Jakarta di Instagram atau Youtube ke bapak. Beberapa pilihan bus sleeper dari Sragen ke Jakarta yang aku tahu adalah bus Agra Mas, Garuda Mas, Berlian Jaya atau Tunas Muda. Tapi untuk AgraMas ini berangkat dari Solo, jadi kami skip dulu.

Tapi setelah dilihat-lihat kok sepertinya seat sleeper-nya seperti kursi bus yang digabung jadi satu ya? Kita tetap bisa rebahan tapi bertingkat, seperti kamar asrama, ada yang di atas dan di bawah. Mungkin ortu hanya bisa di bagian bawah, kan ngga mungkin orang tua manjat-manjat ke seat atas. Kalau bus sleeper ini cocok untuk gen-Z. Ruangnya jadi terbatas juga. Tampak penuh dan sesak. Hmm...tapi kalau aku sih nggak masalah. Kalau ortu kan gimana ya...

Bus Sleeper M-Trans saat istirahat makan (dok. Pribadi)


Aku pun mengirimi tampilan video atau foto bus sleeper.

Tak ada tanggapan sih.

Terus pilihan kita jatuh pada M-Trans. Aku coba telusuri dari websitenya dan menghubungi kontaknya. Ternyata bus double deeker cuma ada 2 seat sleeper dan tersisa 1 seat. Lah, siapa yang mau duduk di seat sleeper sendiri. Ibu nggak mungkin lah. Kalau pun bapak duduk di seat sleeper, aku dan ibu duduk di seat standar. Duh.. kebayang tulang ekorku.

Dan seat sleeper M-Trans ini ada di lantai dua bagian depan benar-benar menghadap kaca bus besar. Karena bus double decker, aku tanyakan ke bapak, “Emang kalau di atas terus ngelihat jalanan langsung gitu nggak pusing?”

Jawaban bapak, “Dulu pernah naik double decker, iya kerasa pusing.”

Lah! Ya udah akhirnya kami tidak jadi ambil sleeper. Hahaha.

Pas aku cari bus Garuda Mas, tipe kursinya seperti captain seat, tampak nyaman. Cuma kurang informasi aja, aku nggak yakin. Kadang ya di foto tampak keren, di dunia nyata bikin kecewa, hehe.

Aku menghubungi kontak M-Trans lagi. Yang sisa masih 1 seat sleeper. Pas chat ini pun aku juga bingung soalnya tipe bus banyak. Yang aku cari beda sama yang dishare adminnya. Satu kekhawatiranku ya ituuu antara foto dan kenyataan beda. Hehehe.

Cuma karena aku sudah bilang bus dari sragen ke Jakarta, di tanggal 1 Juli, jadi admin udah ngasih video yang berangkat di tanggal itu. Ya iyalaahh. Wkwkwkwk. Admin share video 4 seat di lantai bawah yang masih kosong. Harganya sama seperti seat sleeper 410rb. Awalnya aku nggak terima, masak sleeper sama non-sleeper juga sama harganya.

Memang seat ini 1-1 dan itu di dalam ruangan khusus. Ada pintunya jadi sangat privasi. Kita nggak bisa ngobrol kanan-kiri, hehe. Jadi bisa istirahat.

Setelah aku tunjukkan videonya, bapak milih seat ‘seperti itu’ (entahlah aku juga nggak tahu nama seatnya apa, karena adminnya cuma bilang ‘seat seperti itu’ hehe)

Sebelum kehabisan, aku segera booking lewat aplikasi M-Trans Connect dua pekan sebelum keberangkatan. Kudu gercep pokoknya. Soalnya sepusing itu pilih transportasi.

Menunggu Kedatangan Bus Sleeper M-Trans

Aku kira berkaitan komunikasi dengan penumpang akan dihubungi pramugaranya, ternyata penumpang yang sudah memesan tiket bus M-Trans dimasukkan ke dalam grup penumpang bus M-Trans, khusus yang berangkat hari itu di jam itu. Kaget juga sih, baru kali ini ada grup WA-nya, hehe. Maklum udah lama nggak naik transportasi umum jarak jauh.

Di grup pun diumumkan kalau bus akan terlambat 1 jam karena katanya sedang dilas. Waduh, pikiran udah kemana-mana. Apanya yang dilas coba, wkwkwk. Tapi yaudah lah...

Aslinya di tiket itu diminta untuk tiba di terminal Pilangsari Sragen jam 6 sore. Karena terlambat 1 jam jadi jam kami rencana datang 7 malam.

Di grup sudah ramai dengan chat penumpang karena sudah ada yang menunggu setengah jam sampai satu jam tapi bus belum datang. Bus pun baru berangkat dari titik awal keberangkatan yaitu Ponorogo jam set 7an malam. Menurut perhitungan, bus akan tiba di Sragen kira-kira 3 jam lagi.

Tapi untungnya karena masuk dalam grup aku jadi tahu lokasi terkini bus di mana. Bapak juga masuk dalam grup (ibu tidak).

Kami pun tiba di terminal sekitar pukul setengah 9 malam. Aku menunggu di depan agen yang ada spanduk M-Trans. Aku bertanya kepada petugas yang ada di agen itu (agen dari banyak bus) tentang lokasi agen M-Trans. Dia malah bertanya balik dengan nada yang agak ‘membuatku terkejut’ dan membatin, “Wah salah tanya deh aku.” Karena aku beli online dia jawab tunggu aja atau telpon petugasnya aja.

Yaudah aku duduk saja di depan tokonya karena ada spanduk M-Trans.

Sambil menunggu bus, beberapa bus malam tingkat masuk ke terminal melalui pintu keluar. Tampilannya keren. Aku lupa nama busnya apa. Pokoknya singkatan gitu. Ibu di dalam tadi keluar dan menghampiri bus. Rupanya beliau menunggu bus datang ke terminal karena setelah itu beliau pulang naik mobil brio.

Sebelum pulang beliau sempat berpamitan dan minta maaf karena agennya ditutup sementara kita masih duduk-duduk di depan. Ibunya juga bilang kalau online gitu dia nggak dapat ‘bagian’... Me be like... hmmm...

Setelah beberapa kali menghubungi pramugara bus M-Trans, petugas tampak mengalami kebingungan. Mereka meminta kami menunggu di pinggir jalan di masjid Baznas karena bilang tidak masuk terminal.

Lah, padahal kami sudah menunggu di terminal. Kalau kami harus ke masjid Baznas repot banget karena kami bawa koper-koper melewati jalan yang trotoarnya nggak proper. Dan itu butuh usaha banget. Ngga mungkin banget juga orang tua ini jalan kaki malam-malam bawa koper berat, lumayan jauh, rame mobil, jalanan jelek.

Karena bapak di dalam grup WA juga akhirnya ditelpon petugasnya. Intinya bapak minta di terminal aja dan menyarankan masuk dari pintu keluar terminal karena bus double deker ngga bisa masuk dari pintu masuk. Bus bisa nabrak jalur bus yang dibeton.

Sekitar pukul setengah 10 bus pun tiba dekat terminal Pilangsari. Pramugara bus menelepon bapak dan meminta bapak memandu bus masuk ke terminal. Haha. Ini lucu banget. Jadi bapak harus jalan keluar terminal dan menunggu di pinggir jalan untuk mencegat bus. Sepertinya ini pertama kalinya pramugara dan sopirnya masuk terminal.

Tiba di terminal, mereka memberi label pada koper-koper kami dan memasukkan ke dalam bagasi. Kami pun masuk ke dalam bus.

Rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper?

Gimana rasanya naik bus sleeper tapi bukan seat sleeper? Ini review bus sleeper M-Trans ke Jakarta yang aku gunakan.

Pelayanan baik

Alhamdulillah pramugaranya juga baik pada penumpang. Tidak protes saat kami meminta datang ke terminal. Mereka juga menawarkan coffee break, memberikan snack, dan makanan kepada kami.

Desain interior elegan

Kami memasuki bus double dekker yang tampilannya keren itu. Jam menunjukkan pukul 10 malam, pramugara masih memasukkan koper ke bagasi. Ketika masuk melalui pintu masuk di tengah, sebuah pintu toilet tampak di depan kami.

Di sebelah kiri ada tangga kecil menuju ke dek atasSeat kami ada di sebelah kanan dari pintu masuk, dibatasi oleh pintu kaca berwarna hitam dengan desain yang elegan. Aku membukanya.

Desain interior yang keren (dok. Pribadi)


Ada 4 ruangan di dalamnya dipisah oleh koridor. Setiap ruangan diberi nama-nama Jawa. Dua ruang di kanan dan dua ruang di kiri. Satu ruangan untuk satu seat. Aku membuka salah satu pintu tapi sayangnya sedikit berat dan terlepas dari relnya. Untungnya, pintu itu tidak sampai jatuh mengenai kepalaku. Alhamdulillah tanpa harus memanggil petugas, pintu sudah bisa dipasang kembali.

Ibu memilih ruangan yang pintunya mudah digeser. Satu ruangan itu hanya muat untuk satu seat. Untuk berdiri susah karena diapit kursi dan televisi.

AC dingin sekali

Berjalan di koridor bus, AC bus diingiiinn. Jaket tebal zaman aku kuliah dulu masih cukup aku pakai untuk menghalau dingin. Di ruangan ini, sayangnya tidak ada pengaturan untuk mengurangi suhu ruangan. Di bagian atas seat, aku menutup lubang tempat keluar AC. Tapi itu masih dingiiiinnn.

Meski ada selimut, AC nya keluar dari atas kepalaku dan membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya aku menutup seluruh tubuhku dengan kepala jaket selimut agar tidak terlalu dingin. Cara itu berhasil membuatku tidur sampai ngiler-ngiler. *eh

Nggak tahan AC. Dingin bangeettt (dok. Pribadi)

Tidak akan kelaparan

Sepertinya pihak bus M-Trans tidak ingin kami kelaparan tengah malam. Soalnya, saat aku masuk ruangan itu, aku dapat satu tas berisi snack yang beraneka ragam yang diletakkan di atas seat. Serius sih ini snack kesukaan anakku semua. Haha. Semua snack itu tidak aku makan sampai ke hotel dan bandara. Selain dapat snack, pramugara juga memberi kami satu kotak nasi KFC.

Jadi inget sesuatu. Mau makan kok gak tega. Nggak dimakan kok mubazir. Akhirnya dibiarkan sampai besok siang (dok pribadi) 


Karena aku sudah makan malam dan masih kenyang, snack dan nasi itu tidak aku makan. Sudah gitu, kami masih berhenti di rumah makan tengah malam setelah lepas dari Semarang.

Ruanganl

Menu resto cukup banyak

Kami berhenti di rumah makan setelah keluar dari Semarang. Di resto, variasi makanan cukup banyak. Kami mendapat kupon yang bisa ditukar dengan makanan. Selain makanan prasmanan, menu yang bisa dipilih seperti bakso atau soto.

Fasilitas keren

Kursinya sudah menggunakan model reclaining seat yang serba otomatis. Penumpang tinggal tekan tombolnya, kursi bisa tegak atau posisi tidur, tapi tidak sampai 180 derajat. Tempat kakinya juga bisa di setting naik dan turun. Keren banget. Aku agak udik maklum belum pernah naik bus gitu. Haha. Empuk juga.

Di dalamnya, pihak bus meminjamkan selimut yang sudah tersedia di kursi.

Di bagian atas seat, ada lemari kecil untuk menyimpan barang. Di dalamnya, ada sandal seperti sandal hotel. Lemari penuh diisi tas ranselku dan snack.

Pramugara menawarkan kopi dan teh yang disediakan di meja bagian belakang. Ada air panas juga. Mesti hati-hati saat mengambil air panas ketika bus sedang berjalan. Gelas berisi air panas bapak sempat tumpah saat bus tiba-tiba mengerem. Untung saja air panasnya tidak mengenai kulit tetapi membasahi koridor.

Kesan pertama baik bus sleeper 

Meskipun nggak dapat seat sleeper, tapi naik bus ini emang nyaman banget meskipun aku agak kedinginan, hehe. 

Ada satu lagi, karena naik bus double dekker dan seat kita di bagian dek bawah jadi menurutku terasa getaran bannya saat berjalan. Apalagi di tempat dudukku tepat di atas ban bus.

Dan lagi, karena di bagian bawah, aku tidak seperti naik bus yang lebih tinggi dari mobil-mobil. Pandangan kita jadi sama seperti mobil-mobil lainnya.

Read More
Setelah rumah ditinggal travelling dalam jangka waktu yang lama, tiba-tiba rayap menyerang beberapa bagian rumah. Apalagi setelah lelah bepergian, rasanya ingin segera membereskan semuanya dan kembali beristirahat.

Dalam kondisi seperti ini, kebanyakan kita cenderung terburu-buru mencari solusi tercepat seperti memilih layanan pertama yang muncul di pencarian atau yang menawarkan harga paling murah. Padahal, penanganan rayap yang asal-asalan sering berujung pada masalah yang sama muncul kembali beberapa bulan kemudian, dengan biaya tambahan yang justru lebih besar dari yang seharusnya.

Memilih penyedia layanan yang tepat sejak awal jauh lebih penting daripada sekadar mencari yang paling murah atau paling cepat merespons.

Memilih jasa basmi rayap

Kenapa Tidak Semua Penanganan Rayap Sama Efektifnya

Penanganan rayap yang benar butuh lebih dari sekadar menyemprotkan cairan ke area yang terlihat rusak. Metode yang tepat perlu disesuaikan dengan jenis rayap, tingkat serangan, dan kondisi bangunan mulai dari treatment tanah di sekitar pondasi untuk rayap tanah, hingga penanganan titik spesifik untuk rayap kayu kering.

Penyedia layanan yang tidak melakukan identifikasi menyeluruh sebelum bertindak biasanya hanya menangani gejala yang terlihat, bukan sumber masalah yang sebenarnya. Inilah kenapa memilih penyedia yang tepat jadi langkah krusial, bukan sekadar soal harga.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Memilih

Beberapa pertimbangan berikut bisa membantu menilai apakah sebuah layanan benar-benar terpercaya:

  • Apakah ada inspeksi menyeluruh sebelum penanganan dimulai? Layanan yang baik biasanya melakukan pemeriksaan detail terlebih dahulu untuk memetakan area terdampak, bukan langsung menawarkan paket penanganan tanpa melihat kondisi rumah secara langsung.
  • Apakah metode yang digunakan dijelaskan dengan jelas? Penyedia yang kredibel biasanya bisa menjelaskan alasan di balik metode yang direkomendasikan, disesuaikan dengan jenis rayap dan kondisi bangunan.
  • Apakah ada garansi atas hasil penanganan? Garansi jadi indikator penting, karena menunjukkan penyedia layanan cukup yakin dengan metode yang mereka gunakan dan bersedia bertanggung jawab jika masalah muncul kembali dalam periode tertentu.
  • Bagaimana rekam jejak dan pengalaman mereka? Penyedia yang sudah lama beroperasi dan menangani berbagai jenis bangunan biasanya punya pemahaman yang lebih matang terhadap berbagai kasus, dibanding yang baru berdiri tanpa portofolio jelas.
  • Apakah bahan dan metode yang digunakan aman untuk penghuni rumah? Terutama penting untuk rumah dengan anak kecil, lansia, atau hewan peliharaan.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

Selain mengetahui apa yang harus dicari, penting juga mengenali tanda-tanda yang sebaiknya membuat lebih berhati-hati:

  • Penawaran harga jauh di bawah pasaran tanpa penjelasan metode yang jelas, karena bisa jadi indikasi penanganan yang tidak menyeluruh.
  • Tidak ada proses inspeksi sama sekali sebelum penanganan langsung ditawarkan.
  • Tidak ada garansi tertulis atau garansi yang syaratnya terlalu rumit untuk dipahami.
  • Minim informasi tentang bahan yang digunakan, terutama soal keamanannya bagi penghuni rumah.

Bandingkan, Tapi Jangan Hanya Soal Harga

Wajar untuk membandingkan beberapa pilihan sebelum memutuskan, tapi perbandingan sebaiknya tidak berhenti di angka harga saja. Pertimbangkan juga cakupan garansi, kejelasan metode, dan pengalaman menangani kasus yang mirip dengan kondisi rumah sendiri. Harga yang sedikit lebih tinggi dengan penanganan yang tepat sejak awal biasanya jauh lebih hemat dibanding harga murah yang berujung pada penanganan berulang.

Untuk memastikan penanganan yang tepat sasaran dan bertanggung jawab, memilih jasa basmi rayap yang menawarkan inspeksi menyeluruh, metode yang jelas, dan garansi yang pasti jadi langkah awal yang jauh lebih aman dibanding sekadar memilih berdasarkan harga termurah.

Keputusan yang Tepat di Awal Menghemat Banyak Hal di Kemudian Hari

Memilih penyedia layanan penanganan rayap bukan keputusan yang sebaiknya diambil terburu-buru. Waktu yang diluangkan untuk membandingkan dan memastikan kredibilitas penyedia layanan di awal bisa menghemat biaya, waktu, dan kekhawatiran yang jauh lebih besar di masa depan.

Jadi, sebelum kembali menikmati perjalanan berikutnya, pastikan rumah sudah dalam kondisi aman dan bebas dari masalah rayap. Dengan begitu, saat tiba di rumah setelah travelling, kita bisa beristirahat dengan tenang tanpa harus dibuat pusing oleh kerusakan yang sebenarnya bisa dicegah sejak awal.

Read More
Masih dalam rangka kemerdekaan RI, aku akan membahas kunjungan kami pergi ke museum 10 Nopember Surabaya di mana di dalamnya terdapat Monumen Tugu Pahlawan. Kunjungan ini bermula dari tugas sekolah anak kami yang harus mengunjungi museum-museum di Surabaya karena kebetulan hari itu hari libur dan ayahnya upacara, jadi kami langsung berangkat dari kantor ke Museum 10 Nopember Surabaya.

Monumen Tugu Surabaya

Hati-hati nyasar

Museum 10 Nopember ini berada di kompleks atau lingkungan yang sama dengan Monumen Tugu Pahlawan, tepatnya Jl. Pahlawan, Alun-alun Contong, Kec. Bubutan, Surabaya.

Ketika awal datang, aku sedikit bingung karena lokasi ini berada di tengah-tengah seperti alun-alun yang berbentuk persegi di tengah. Apalagi lalu lintas Surabaya yang kudu hati-hati karena ramai. Jadi saat berada di sekitar Monumen Tugu Pahlawan, mobil berjalan pelan dan melipir ke arah kanan. Aku juga mengikuti Google Maps agar tidak tersasar.

Lokasi Museum 10 Nopember berada di sebelah kanan jalan. Kami memasuki lokasi tersebut. Kami juga harus melewati lapangan Monumen Tugu Pahlawan. Di tengah terika matahari siang hari, kami berjalan melewati jalur jalan yang dibangun di pinggir lapangan. Panasnya maasyaAllah tapi alhamdulillah tidak menyurutkan langkah anak-anak kami.


Tiket Masuk Murah

Kami pun tiba di depan loket tiket. Beberapa pengunjung sibuk dengan ponselnya.

Hampir sama saat pergi ke Kampung Peneleh, pengunjung harus mengisi dulu formulir kunjungan yang ada di website. Kami pun memilih Museum 10 Nopember. Harga tiket juga tidak mahal kok yaitu sekitar 8 ribu rupiah.

Setelah memesan tiket, kami pun masuk ke ruangan museum. Museum 10 Nopember ini sebenarnya tidak terlalu besar tapi insyAllah ilmunya cukup bagiku dan anak-anak untuk mengenang kembali perjuangan para tabi’in.

Arek-arek Suroboyo Berjuang Tanpa Pamrih

Sebelum memasuki ruangan, kami harus melewat kolam ikan koi yang banyak itu. Kemudian saat masuk, kami disuguhkan dengan patung gelap para pahlawan yang membawa tombak melawan penjajah. Mereka gugur membela bangsa. Ada yang tersungkur. Ada yang duduk dengan kepala terkulai seolah tak bernyawa dan ada yang mengangkat senjata seolah mengekspresikan kebahagiaan melawan penjajah.

Di bagian pinggir gedung di bagian atas terdapat tulisan yang memiliki semangat Bhinneka Tunggal berisikan tentang tidak peduli agama maupun suku, asal bisa membantu melawan penjajah.


Seperti halnya museum pada umumnya, museum ini memberikan poster-poster besar bertuliskan sejarah kepahlawanan Arek-arek Surooboyo melawan penjajah. Tentu saja, bagiku ini membutuhkan waktu yang banyak untuk membaca dan menelusurinya. Karena aku membawa anak kecil yang tidak mungkin bisa berlama-lama, jadilah semua hanya kupintas kubaca.

Cuma dari sekian banyak kisah sejarah, ada satu cerita yang cukup menarik perhatian aku dan suami, yang selama ini aku kurang sadari, adalah para pejuang Arek-Arek Suroboyo dari para santri yang mengeluarkan Resolusi Djihad Fi-Sabilillah.

Naskah tersebut ditulis setelah dilakukan rapat besar wakil-wakil daerah Perhimpunan Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura tanggal 21-22 Oktober 1945 di Surabaya. Dalam naskah tersebut menyebutkan bahwa kehadiran NICA (Jepang) dan Belanda di NKRI telah membuat banyak sekali kejahatan dan kekejaman, yang melanggar kedaultan NKRI dan agama, bahkan Belanda kembali lagi untuk menjajah negeri ini meski telah memproklamirkan kemerdekaan dua bulan sebelumnya.

Dari rapat tersebut, mereka menyepakati bahwa mempertahankan NKRI menurut hukum Islam adalah kewajiban bagi umat Islam, apalagi sebagian besar warga negaranya adalah umat Islam.

Mereka juga menuntut pemerintah untuk segera menentukan sikap dan tindakan nyata serta melanjutkan perjuangan yang bersifat ‘sabilillah’ demi tegaknya NKRI dan agama Islam.

Tak hanya itu, dalam poster lain, seorang pemimpin revolusioner Bung Tomo dengan semangat menggebu-gebu melawan pasukan Inggris yang membantu pasukan Belanda pada pertempuran Surabaya 10 November 1945.

Saat kami sedang asyik melihat koleksi benda bersejarah, kami mendapat informasi bahwa di jam 11 kalau tidak salah, akan ada pemutaran film pendek tentang sejarah pertempuran Surabaya. Saat jam tiba, kami pun memasuki ruangan bioskop yang berbentuk ampitheater tapi tidak terlalu besar dan tinggi. Kami pun segera mencari tempat duduk di bagian agak belakang agar lebih tampak.

Dalam film tersebut menjelaskan Jenderal Mallaby dari pasukan Inggris terbunuh hingga memicu terjadi pertempuran November 1945. Banyak pejuang bangsa yang gugur hingga di tanggal 10 November selalu diperingati sebagai hari Pahlawan.

Sebelum keluar dari ruangan, sebuah papan panjang berlukiskan tubuh pejuang dan bangunan tua. Di bagian kepala pejuang tersebut dilubangi sehingga pengunjung bisa memasukkan kepala di lubang itu seolah-olah pengunjung adalah pejuang.

Tentu saja harus antri ya...


Menikmati Sensasi Naik Tank Seolah Berperang

Keluar dari museum, disambut matahari siang yang menyengat, anak-anak menikmati sensasi naik tank asliiii yang ada di dekat pintu keluar. Mereka menaiki tank dari dalam kemudian mengeluarkan tubuhnya dari lubang di bagian atas (nggak tahu namanya yaa). Mereka tampak saling berebut mencari tempat yang kosong dan bermain peran seolah sedang berperang melawan penjajah.


Setelah itu kami berfoto di area tugu pahlawan. Tanpa perlu berlama-laama karena mataharinya sangat nyentrong. Tidak kuat berlama-lama di tempat panas, aku memutuskan untuk segera masuk mobil karena panasnyaaa.

Mengajak Anak ke Museum?

Dalam momen memperingati hari kemerdekaan ini, perlulah sesekali ajak anak ke Museum dan menceritakan kembali perjuangan para pejuang, khususnya pejuang Islam, dalam menjaga negara dari penjajah.

Read More

Follower