Ibarat 5 Hal Inilah Yang Membuat Saya Jatuh Hati Pada FLP

No Comments


Setelah menulis cerita saya di FLP, NPWP dan MencobaMenulis, selama satu tahun ini saya masih belum bisa berlari mengejar ketertinggalan saya dengan teman-teman FLP lain yang sudah banyak berkarya. Saya cuma bisa jealous pengen bisa berkarya seperti teman-teman. 

Salah satu keinginan saya tahun ini yang belum tercapai adalah membuat novel. Bagi saya novel terasa cukup berat. Benar, seperti yang diungkapkan oleh seseorang (maafkan, saya lupa siapa yang mengungkapkannya, kalo ada yg ingat bisa komen di bawah ya) bahwa pekerjaan membuat novel adalah pekerjaan kesetiaan. Setiap saya membuat 2 bab, saya jarang sekali menyelesaikan bab-bab hingga selesai. Saya hitung-hitung ada 6 naskah novel yang belum rampung. Bayangkan, 6 naskah! Meski saya lebih banyak menulis blog dan cerita anak, tahun ini saya bertekad menyelesaikan salah satu dari enam naskah itu. Bismillah.

Sebenarnya, ketika ada lomba menulis novel, Gunung sudah 'menegur' saya untuk segera menyelesaikan novel saya. Bagi saya itu adalah suntikan untuk bisa menghasilkan novel seperti ketua FLP Malang itu. Beberapa kali juga saya meminta saran dalam proses menyusun kerangka novel itu. Akan tetapi, H-30 lomba berakhir saya masih berkutat pada outline. #ups

Begitu juga saat saya ingin mengikuti lomba cerita anak, Mas Danang yang merupakan langganan ilustrator saya sering kali memberi dorongan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi cerita anak. Meski pernah kalah, pernah juga tak sempat mengirim karena alasan teknis, dan alhamdulillah pernah menang juga, saya tetap bersemangat menulis apalagi cerita anak.

Saya juga butuh orang-orang di sekeliling saya, yang memiliki passion yang sama, agar bisa mendorong saya untuk menyelesaikan tulisan saya. Menjadi bagian dari FLP ini adalah salah satu cara agar saya memiliki teman yang memotivasi saya untuk berkarya. Itulah mengapa saya cinta FLP. Karena dari situlah saya kenal orang-orang yang bisa mendukung saya.

Tak hanya itu, sebenarnya masih banyak alasan-alasan saya mencintai FLP yang saya umpamakan dengan sesuatu yang ada di dunia ini.

Alasan #1 : FLP Seperti Matahari dan Bulan

Kita sudah tahu Matahari itu sifatnya menerangi bumi di siang hari sedangkan Bulan menerangi bumi di malam hari. Filosofi yang sudah sekian lama kita kenal itu menurut saya lebih cocok dianalogikan dengan Forum Lingkar Pena, bukan seperti lilin kecil yang lama-kelamaan habis. Saya tak mau FLP seperti lilin setelah menerangi sekitarnya ia habis.

Banyak karya yang dihasilkan penulis-penulis FLP yang mampu memberi pencerahan bagi pembacanya. Sebut karya Bunda Asma Nadia, Bunda Helvy Tiana Rosa, Kang Abik (Habiburahman El-Shirazy), Bunda Sinta Yudisia, Bunda Afifah Afra, Pak Gola Gong, dan penulis-penulis lainnya. Dakwah bil-qolam benar-benar terlihat dalam karya mereka. 

Beberapa contoh, saya akhirnya tahu tentang kehidupan jaman dulu termasuk sejarahnya saat saya membaca buku "De Winst" karya bunda Afifah Afra, kehidupan anak muda di korea Selatan setelah membaca "Polaris Fukuoka" karya bunda Sinta Yudisia, kritik sosial beberapa cerita dari Pak Gola Gong, kehidupan rumah tangga dari buku-buku Bunda Asma Nadia, dan cerita lainnya.

Saya dan Bunda Afifah Afra (Kanan)

Karya-karya novel mereka yang menjadi rujukan saya saat akan menulis novel. Selalu ada dakwah terselip dalam ceritanya. Dakwah yang tidak menggurui tapi sangat menyatu dengan tulisan.

Alasan #2 : FLP Seperti Jembatan

Alasan kedua kenapa saya cinta FLP karena FLP itu seperti jembatan yang mampu menghubungkan dua daerah dengan kemajuan yang berbeda. Satu daerah maju sekali dan satu daerah masih kurang maju. Interaksi antara dua daerah itu setidaknya mampu mengurangi ketimpangan suatu daerah. Daerah yang kurang maju itu tentu akan mengalami transformasi sedikit demi sedikit karena ada jembatan menuju ke daerah maju. 

Begitu juga dengan FLP, ibarat saya adalah orang yang masih kurang maju dalam hal dunia kepenulisan kemudian FLP mengadakan kelas menulis online/offline, skenario, blog, bedah karya, atau bahkan bergabung dengan grup khusus FLP yang tergabung dalam platform menulis seperti wattpad. Pengisi materinya adalah anggota FLP madya atau maju yang sudah punya pengalaman dalam dunia kepenulisan. Dengan begitu, ada ilmu yang diperoleh anggota FLP yang belum maju seperti saya saat mengikuti kelas menulis atau bedah karya tersebut.

Seperti halnya saat saya terpilih dalam workshop kepenulisan cerita anak Si Bintang (kerjasama FLP dan INOVASI) di Yogyakarta. Meski saya tak menyangka terpilih, alhamdulillah saya mendapatkan banyak sekali ilmu-ilmu baru yang saya dapatkan. Saya bertemu dengan Bunda Sinta Yudisia, Kang Ali Muakhir, Pak Ganjar yang memberikan ilmu-ilmu kepenulisan agar saya tidak semakin terbelakang, hehe. 

FLP dan INOVASI juga telah menjadi jembatan untuk mempertemukan saya dengan seorang penulis cerita anak sekaligus co-founder yayasan Litara, Bu Sofie Dewayani. Dalam workshop tersebut saya juga belajar banyak dengan beliau. Hanya saja memang seperti pisau yang harus sering diasah biar tajam. Alias harus sering berlatih agar hasil workshop tersebut tidak sia-sia. 

Bersama bu Sofie Dewayani (tengah) dan bunda Sinta Yudisia (kanan) saat workshop

Menjembatani antara penulis senior dan penulis pemula itulah yang menyebabkan saya cinta dengan FLP.

Alasan #3 : FLP Seperti Air Hujan

Seperti air hujan yang turun di saat musim kemarau. Tanah kering berubah menjadi subur kembali saat air hujan meresap ke dalam lapisan tanah. Begitu juga dengan FLP, program-program yang dijalankan bisa menjadi air hujan yang memberi kesegaran terhadap keringnya ilmu kepenulisan. Bisa menambah pengetahuan fiksi dan nonfiksi semakin subur. 

Seperti yang saya lakukan pada workshop penulisan Si Bintang yang sudah saya ceritakan. Kekeringan ilmu dalam menulis cerita anak semakin segar ketika saya mengikuti workshop tersebut. Saya harapkan workshop-workshop ini selalu dilaksanakan, hehe.

Selain memberi kesegaran dalam dunia tulis menulis, FLP seperti air hujan yang turun dan memberi (yang insyaallah) manfaat dalam bentuk bantuan kemanusiaan atas bencana alam yang terjadi di beberapa tempat seperti di Palu-Donggala, gempa NTB, tsunami Banten, dan daerah lainnya. 

Insyallah, menjadi ladang pahala juga buat anggota FLP dan pengurus yang sudah memberikan bantuan bagi para korban musibah bencana alam. Aamiin.


Alasan #4 : FLP Seperti Danau

Dimana berkumpulnya banyak air yang bermanfaat bagi lingkungan sekitarnya. Air hujan yang turun pun berkumpul di bendungan. Sama seperti penulis-penulis muslim dari seluruh dunia dikumpulkan dalam satu wadah bernama FLP. Mereka berkumpul kemudian memberikan karyanya kepada dunia yang bermanfaat. Inilah yang alasan saya cinta FLP. Saya bisa mengenal banyak penulis dari berbagai daerah. Saya bisa menghubungi teman-teman untuk bertanya tentang kepenulisan karena sudah berkumpul dalam satu wadah bernama Forum Lingkar Pena. Maka tak sulit bagi saya menemukan orang yang memiliki visi dan misi yang sama dalam bidang kepenulisan. Dakwah bil qolam.
Bertemu dengan Penulis FLP dari Beberapa Daerah

Alasan #5 : FLP Seperti Sungai Yang Mengalir

Alasan terakhir mengapa saya cinta FLP karena FLP itu ibarat sungai yang terus mengalir tanpa henti dan memberi kemanfaatan bagi manusia. Sungai tenang maupun deras, ia terus mengalir dari hulu ke hilir. Sama seperti pahala yang terus mengalir kalau kita ikhlas saat menulis dan berorganisasi.
Seperti yang diungkapkan bunda Afifah Afra dalam media Republika Dialog, Jumat 13 maret 2019 yang berjudul Membawa Royalti Sampai Ke Alam Kubur, "Menulis bukan sekadar uang tetapi menebarkan ilmu yang bermanfaat. Jika ikhlas, pahala akan terus didapat. Meski kita sudah tiada."

Pesan bunda Afifah Afra itu benar-benar mengetuk hati dan mendorong semangat saya untuk terus menulis. Bukan untuk uang tapi untuk memberi dakwah dalam pena. Berat tapi memang itulah tugas seorang muslim. Dakwah bil Qolam ini akan terus terngiang di kepala saya. Setiap saya akan memulai sebuah tulisan baik cerita, saya harus mengingat seberapa besar manfaat yang diperoleh pembaca saya. Saya tidak ingin tidak ada pesan sedikit pun dalam tulisan saya. Saya pun mengusahakan ada pesan-pesan yang sesuai dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah dalam tulisan saya. Saya tidak mau di akhirat nanti, tulisan saya hanyalah sebuah kesia-siaan belaka karena tak ada memberi manfaat sedikitpun pada pembacanya.

Tak hanya dari tulisan, tapi juga menjadi anggota FLP bisa menjadi ladang pahala saat kita ikhlas menjalankan organisasi penulis yang berbasis dakwah bil qolam ini. Bagi sebagian orang, mengurus organisasi di saat sudah ada pekerjaan yang lebih menjanjikan itu seperti membuang waktu, tenaga dan pikiran. Padahal jika kita ikhlas insyallah pahala juga mengalir seperti sungai. Menurut saya, membantu mengurus organisasi dengan keikhlasan sama seperti memberi kemanfaatan bagi khalayak.

Alasan-alasan itulah yang membuat saya cinta FLP. Selain bisa mengikat keinginan saya untuk terus berkarya dalam tulisan, juga mendapat ilmu dari penulis senior dan mendapat pahala karena (insyallah) menebarkan manfaat saat berorganisasi. 

Saya memang ibu rumah tangga, tapi saya juga punya harapan untuk bisa berkarya meski lewat tulisan. Saya merasa sangat bersyukur sekali bisa bergabung dengan FLP. Karena dari situlah, portofolio literasi saya terisi. Tak sekedar portofolio, saya berharap ada pahala dari karya yang sudah saya hasilkan, ilmu yang bermanfaat itulah yang bisa menjadi penolong saya ketika saya tiada kelak.


Terima kasih FLP. Yaumul Milad. Harapan saya, semoga menjadi lebih baik dan penulis-penulis FLP semakin banyak melahirkan karya-karya yang sesuai visi misi FLP yang berdakwah lewat pena. Ammiinn.





Tulisan ini dibuat dalam rangka lomba blog dari blogger FLP pada rangkaian Milad FLP 22.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower