Kesan Tinggal di Bantaran Kali Brantas Kota Malang

2 comments

Ini ceritaku selama tinggal di kota Malang di pinggir kali Brantas. Waktu itu aku masih menjadi seorang mahasiswa di kampus teknik yang tidak jauh dari kos. Hanya tinggal menyeberang jalan dan berjalan kaki sedikit aku sudah sampai di kampusku tercinta. 



Aku bersyukur karena aku tidak perlu membawa motor ke kampus. Aku pun tidak mengalami kesulitan mencari kos-kosan. Waktu itu aku tiba di Malang beberapa bulan sebelum tes SPMB (sekarang namanya UTBK). Aku sempat les di SSC (Sony Sugema College) belakang SMA tugu. Setelah menumpang menginap di rumah kakak sepupu beberapa minggu, aku minta dicarikan kos-kosan karena aku tidak enak hati berlama-lama menumpang di kontrakan kakak. Alhamdulillah aku bisa mengekos di dekat kontrakan kakak. Tepatnya di pinggiran Kali Brantas. Waktu itu aku dapat kamar di pojokan di lantai satu dan tanpa ada sinar matahari yang masuk. Hanya ada kaca kecil di bagian atas sebagai tempat masuknya cahaya matahari dari lantai atas. Awalnya sih aku tidak mikir kondisi kos-kosanku.


Setelah akhirnya aku resmi menjadi mahasiswa teknik dan mengunjungi beberapa kos teman mulai deh suka membanding-bandingkan. Haha.Yah meskipun harga kos-kosanku sangat murah. Apakah kesan ngekos di pinggir sungai Brantas Kota Malang selalu buruk?


Kesan kumuh?

 

Dimana pun berada, kampung pinggir sungai selalu mendapat label kumuh. Banyak kotoran, sampah. Rumah tidak terawat. Atau malah banyak rumah yang hampir roboh.


Rata-rata di pinggir kali Brantas tanahnya cukup terjal meski di bagian atas sedikit landai dimana banyak rumah dibangun. Tapi banyak rumah juga yang dibangun di atas tanah yang terjal.  


Selama aku menjelajah daerah dekat kosku untuk pergi ke warung makan yang ada di dalam kampung, aku melihat jalan-jalan sempit berplester, berlumut, dan menurun. Itu membuatku sedikit kesulitan untuk berjalan.

Meski kadang di bagian jalan tertentu tidak ada sampah tetapi di bagian jalan yang lain terlihat sampah. Kadang kulihat ada kotoran ayam di beberapa titik. Kurasa, kesan kumuh memang terasa di lingkungan sekitar tempat tinggal. Tapi si beberapa titik malah bersih. Bahkan di dalam kos sendiri sudah cukup nyaman dan tidak terasa kesan kumuh.



Akses kendaraan terbatas?


Kalau ini jelas sekali karena jalanan yang menurun dan padat penduduk maka akses kendaraan terbatas. Untuk masuk ke kosku, aku harus melewati gang kecil yang hanya bisa dilewati satu motor saja. Di ujung jalan akan bertemu kos lain dan harus belok ke kiri untuk sampai kosku. Terus ada tempat parkir motor yang tidak begitu luas. Lebih dari itu tidak bisa termasuk mobil. Terpaksa keluarga yang datang membawa mobil harus parkir di pinggir jalan. Kalau sekarang sih dipastikan jalanan MT. Haryono akan macet kalau ada yang parkir di pinggir jalan. 



Kesan suram dan tidak aman? 


Rumah-rumah di pinggir sungai biasanya terkesan suram dan tidak aman. Apalagi kalau malam hari karena penerangan yang minim. Di gang menuju kosku memang sangat minim cahaya. Tapi justru di beberapa gang yang menerapkan penghijauan di lingkungan mereka malah tidak terasa kesan suram. Bahkan di beberapa kampung lampu-lampu dibuat semeriah mungkin biar terlihat ramai.


Tidak layak huni?


Rumah padat penduduk membuat tidak ada jarak antar rumah. Dan itu menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam rumah. Begitu juga di kosku. Di kamar bagian bawah memang tidak banyak cahaya yang masuk jadi terasa sangat lembab. Solusinya hanya diberi kaca di langit-langit biar cahaya dari atas tetap masuk. Begitu anggota kos yang tinggal di lantai atas ada yang keluar, aku pun minta kamar di atas. Satu kaca besar terpampang di dekat tempat tidur. Pemandangan jembatan Suhat dan kampus Polinema terlihat jelas. Begitu siang menjelang, cahaya matahari yang langsung mengenai jendela kamar membuat kamar begitu panas. Meskipun jendela tidak bisa terbuka, udara dingin yang masuk dari pintu jemuran begitu terasa. Alhamdulillah di lantai atas aku masih mendapatkan udara segar dan cahaya matahari. 



Jadi bisa dikatakan kosku masih layak huni meskipun di gang kecil. Jangan bandingkan dengan kos yang aksesnya mudah, ada parkir mobil dan kamar yang luas. Kamar kosku di pinggir kali Brantas masih bisa dikatakan layak huni. Harga kos di Kota Malang itu juga murah. Sebenarnya masih banyak rumah dan kos-kosan di pinggir kali Brantas yang jauh dari layak huni seperti kurang cahaya dan sirkulasi udara yang kurang. Namun, alasan mahasiswa memilih kos di pinggir kali Brantas juga macam-macam. Kalau aku memilih murah dan dekat dengan kampus. Kalau kalian bagaimana?

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

2 komentar

  1. wahh serem juga yahh mba kalo pulang malem, suasana sepi minim lampu penerangan juga menuju kosant, rasany duhh merinding yahh mbaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak serem tpuntung dekat jadi baru belok udh keliatan kosannyahehe

      Hapus

Follower