Momen Menyedihkan dan Mengharukan Ramadhan 2021

No Comments

Tahun ini adalah tahun kelima aku berpuasa ramadhan bersama suami. Namun, di tahun ini aku berpuasa dengan momen menyedihkan dan mengharukan . 


Entah aku yang lagi baper atau bagaimana. Sebenarnya masalahnya tidak seberapa sih kalau dibandingkan masalah orang lain. Hal yang biasa tapi entah membuat hatiku mudah trenyuh bahkan sempat emosi dan menangis. Ada dua momen Ramadhan tahun 2021 hingga minggu ketiga ini yang sudah mengaduk-aduk perasaanku.


  1. Momen Paling Menyedihkan

Sebenarnya kejadian ini sudah beberapa kali dialami anak pertamaku. Yaitu sakit diare. Dulu, Raceqy pernah sakit diare gara-gara makan ikan bakar di suatu tempat makan di Klayar, Sidoarjo. Mungkin karena angin kencang akhirnya dia mules dan mencret beberapa kali dalam sehari. Hanya dengan diberi yoghurt beberapa botol beberapa hari akhirnya mencret-mencretnya berhenti. 


Sebelumnya, juga pernah sakit gejala tipes tapi cuma dirawat di rumah saja dan bukan pas bulan puasa. Lebih parahnya, anak keduaku, Ghalib, yang harus di opname di rumah sakit karena trombosit turun terus tapi bukan DB, seperti yang aku ceritakan di sini.


Tapi sakit kali ini sudah terjadi sebelum puasa sampai beberapa hari di awal bulan puasa. Sakitnya Raceqy diare dan sakit perut. Beberapa kali dia mengeluh sakit perut dan mencret bisa sampai 10 kali. Hari pertama sampai ketiga masih belum lemas. Hari selanjutnya gejala diare seperti lemas, nggak nafsu makan dan muntah-muntah mulai muncul. Awalnya aku kira masuk angin saja jadi aku belikan tolak angin anak. Nyatanya nggak ngefek. Terus aku belikan yoghurt. Soalnya katanya yoghurt bisa mengurangi diare. 


Aku malah mikir aneh-aneh. Mulai dari kenapa-kenapa dengan lambungnya atau ususnya. Tapi aku belum berani berspekulasi lebih jauh. Aku hanya mengurangi konsumsi susu agar tidak semakin parah diare dan sakit perutnya. Raceqy benar-benar berhenti susu saat diare. Dokter juga bilang kalau diare tidak boleh minum susu dulu. 


Sudah dibawa ke dokter. Aku mulai kebingungan masak apa. Belum berani beli di luar. Selain aku harus memaksanya makan, aku juga harus membujuknya minum obat. Dan itu menguras emosi. Bahkan berlangsung sampai dua minggu. Ketika seminggu Raceqy sudah baikan, malah ayahnya yang lanjut diare. Si adik sempat dua hari diare tapi habis itu sembuh tanpa obat. Setelah tiga hari ayahnya sembuh, lanjut Raceqy diarenya kambuh. Bahkan Jumat semalaman dia mengeluh perutnya sakit. Akhirnya hari sabtu aku bawa ke dokter anak di Bratang. Jauh dari rumah karena nggak banyak dokter anak yang buka hari sabtu. 


Dokter anak memberi empat macam obat mulai dari antibiotik, obat lambung, pendamping diare dan obat diare. Aku lega


Nah yang bikin aku stress adalah bujuk dia minum obat karena obat racikannya pahit. Tiga kali sehari bujuknya tiga kali. Stresnya tiga kali. Nangisnya tiga kali. Hari selanjutnya seperti sudah nggak punya ide lagi buat bujuk. Dan ituuu di hari ketiga aku sampai nangis-nangis. Ya Allah. Drama banget aku deh.


Alhamdulillah belum sampai obat habis, sakit perutnya mulai berkurang. Mencret berkurang. Sudah mulai aktif juga. Susunya juga sudah dikurangi bahkan dalam satu hari tidak minum susu sama sekali. Aku khawatir jangan-jangan anakku alergi laktosa. Dokter anak juga bilang kalau mau minum susu bisa minum susu bebas laktosa. Begitu aku cari di google harganya fantastis. Haha. Harga susu bebas laktosa sekitar 200an ribu. Wow.


Dan alhamdulillah Raceqy juga nggak ngeyel. Dia sadar kalau susu membuat perutnya sakit jadi dia nggak terlalu sering minum susu lagi. Jadi dia minta teh saja.


  1. Momen Paling Mengharukan

Kadang aku berpikir ketika anakku sakit. Ya Allah apakah ada sesuatu yang setelah ini memberikan buah yang manis? Karena di setiap kesulitan ada kemudahan. Entah kemudahan apa yang aku dapatkan. 


Sampai suatu ketika, kami mengajak anak kami sholat taraweh di masjid. Dia begitu antusias karena memang selama pandemi kami tidak lagi mengajak anak-anak ke masjid.


Dia melihat temannya banyak di masjid. Dan suami pun menawarkan kepada Raceqy untuk mengaji di masjid (TPQ). Sebenarnya dia sudah diajak lama untuk mengaji di masjid tapi dia nggak mau. Jadinya aku hanya mengajarkan iqra di rumah. Itupin baru samai La selama setahun ini. Susah memang nuruti maunya anak yang masih mau main-main. Dan entah mengapa ketika diajak ayahnya mengaji di TPQ dia begitu antusias.


Hari minggu dia minta mengaji di masjid. Sayangnya, hari minggu jadwal TPQ di masjid libur. Jadi kami balik lagi hari senin sore.


Ternyata, yang dimaksud Raceqy adalah mengaji di dalam masjid, bukan di TPQ yang sekompleks dengan masjid. Dan akhirnya dia mengamuk karena dia nggak mau mengaji di TPQ seperti yang dimaksud ayahnya. Dia melarangku mengajak Ghalib. Dia nggak mau aku pergi mengantar adiknya ke TPQ. Kubilang tidak boleh melarang orang mau belajar mengaji. Meskipun sudah disogok es krim tetap saja menangis. Justru adiknya yang semangat karena sudah disogok es krim. Haha. 


Jadinya aku mengantar Ghalib saja ke TPQ dan membiarkan masnya menangis-nangis histeris di rumah. Untung saja Ghalib mau karena biasanya Ghalib kemana-mana selalu sama masnya. Kalau masnya nggak mau, dia juga nggak mau. Kalau masnya mau, dia baru mau. Eh alhamdulillah dia mau. 


Meskipun dalam perjalanan aku sedikit sedih melihat Raceqy menangis nggak mau ikut TPQ tapi aku juga nggak bisa memaksa. 


Setelah mengobrol singkat dengan guru mengaji, Ghalib pun masuk kelas. Aku menunggunya di belakang. Ghalib mendengarkan dan kadang pula nggak bisa diam hanya duduk mendengarkan gurunya membaca ayat-ayat Quran.


Tak berapa lama, tiba-tiba ada yang memanggil "ibu" dari luar. Masyallah aku kaget karena Raceqy datang dengan membawa tas bersama ayahnya. Aku tahu meskipun wajahnya tertutup masker, dia tersenyum padaku. Aku pun menyambutnya dan segera menyuruhnya duduk dulu. Gurunya tentu sangat kaget karena tiba-tiba datang lagi seorang anak. Aku pun menjelaskan kalau Raceqy adalah kakak Ghalib dan ikut mengaji juga. Akhirnya dia pun duduk anteng mendengarkan gurunya. Masyallah. Setelah giliran mengaji, dia pin diijinkan bermain di dalam kelas bersama gurunya karena memang disediakan mainan seperti balok-balok bagi anak yang sudah selesai mengaji dan mengerjakan tugas. Maklum kelas yang dimasuki Ghalib dan Raceqy adalah kelas pemula. Dan ternyata itu yang membuat Raceqy dan Ghalib senang. Masyallah. 





Besoknya, Raceqy dan Ghalib dapat buku dari guru ngaji. Di rumah mereka sangat antusias membuka-buka buku dari gurunya padahal pekerjaan sekolah belum selesai. Haha. Bagiku, itu adalah momen yang membuatku terharu dimana anakku semangat menuntut ilmu. Aku harap semangat Raceqy dan Ghalib tak pernah luntur untuk menuntut ilmu meskipun awalnya Raceqy takut-takut tapi akhirnya dia senang. 


Disogok es krim kalau mau ngaji di TPQ. Besoknya minta lagi tapi kularang masih khawatir kalau diare lagi.


Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 komentar

Posting Komentar

Follower