Sholat di Grande Mosquée de Paris, Masjid Terbesar di Prancis, Tempat Menenangkan Diri

No Comments
Ketika aku masih tinggal di Paris tahun 2013, beberapa kali aku berjumpa dengan orang Indonesia yang sedang liburan ke Paris, mengikuti kegiatan perlombaan atau ada kegiatan kenegaraan. Sebagai musafir, Allah udah beri kemudahan untuk jamak/qashar sholat. Sayangnya, kita tidak punya banyak tempat sholat di Paris, entah musholla atau masjid. Bisa-bisa aja sih menggelar tikar/sajadah di taman kemudian sholat. Tapi apakah kita yakin kalau di sekitar rumput itu suci? Apalagi Parisiens banyak yang pelihara anjing. Selama liburan di Paris, jangan lupa untuk melaksanakan sholat di Grande Mosquèe de Paris (baca : grongd moske de pari). Memang tidak banyak orang Asia yang mengunjungi masjid terbesar di Prancis ini.

Sebagai negara sekuler, memang kita kudu hati-hati dalam menunjukkan simbol-simbol keagamaan apalagi sholat di tempat umum. 

Qodarullah, kampus 2 ku dulu (AgroParis Tech tapi sekarang pindah deh kayanya. Soalnya pas di searching udah di luar kota) cukup dekat dengan masjid Paris. Bisa jalan kaki atau naik bus cuma berhenti 2 halte kalo ga salah. Naik métro cuma 1 stasiun tapi tetep jalan kaki. Hampir tiap hari pokoknya selama ada kuliah di kampus 2, di jam istirahat aku selalu mengunjungi masjid ini.


Grande Mosquée de Paris

Tidak seperti kebanyakan masjid-masjid di Indonesia, masjid di Paris ini mengikuti arsitektur 'maghreban' atau Maroko (daerah Afrika Utara). 

Sejarah Grande Mosquée de Paris

Sejarah masjid Paris ini ternyata cukup panjang. Di abad 19, masjid Paris ini rencana mau dibangun tapi gagal terus. Selama Perang Dunia 1, banyak tentara muslim sekitar 100ribu yang meninggal akibat peperangan. Akhirnya dibangunlah Grande Mosquée de Paris.

Di masa itu, aku mengira mereka juga mengalami namanya Islamophobia, tapi justru negara mendukung pembangunan masjid. Pembiayaan pun didapatkan dari negara dan juga sumbangan dari negeri muslim. Masjid Paris diresmikan tahun 1926. 

Arsitektur Grande Mosquée de Paris

Desain arsitektur masjid Paris ini bergaya Neo-Moorish, yang mirip dengan gaya masjid atau bangunan di Andalusia atau Afrika Utara. Desain arsitektur ini merupakan perpaduan antara Barat dan timur. 



Meskipun arsiteknya banyak dari Prancis, seperti Maurice Mantout, Maurice Tranchant de Lunel, Charles Heubès, dan Robert Fournez, tetapi tenaga bangunannya banyak dari Aljazair yang bekerja sangat detail pada setiap ukiran. Sekitar 450 pengrajin dan seniman mengerjakan pembangunan dalam empat tahun. Berkat keterampilan dan keahlian mereka, masjid Paris ini menjadikan masjid yang indah di Eropa Barat. Tamannya yang indah, deretan tiang kolam masjid, mozaik di bagian masjid, kaligrafi, kayu-kayu, menjadi elemen masjid yang memancarkan budaya arsitektur muslim.

Dindingnya dari luar tampak cokelat muda dan klasik. Terbuat dari batu bata segiempat yang besar. Tampak garis-garis batu bata itu tersusun. Di bagian pintu bentuk melengkung dengan ukiran-ukiran di atasnya.

Tamannya berada di dalam masjid. Sebagian sudah keramik. Tanaman menjulang tinggi seperti lilin tumbuh di setiap sudutnya yang serasi.

Yang paling aku suka adalah elemen-elemen ukiran bangunannya yang detail di antara lengkungan-lengkungan pintu.


Di tengah taman, ada air mancur kecil yang terus mengalir. Bawahnya berbentuk bintang. Sebagian sudah berumur.


Keramik-keramik di dalam masjidnya disusun berbentuk mozaik-mozaik berwarna dominan biru.


Menara masjid menjulang di langit Paris meski adzan tak pernah terdengar keluar dari ujung menara. Menaranya sangat khas dari Andalusia atau Afrika Utara. Simbol bintang dan bulan juga tampak dari atas masjid.


Oiya, di masjid ini ada terowongan yang ternyata menyambung ke Sungai Bièvre. Dulunya terowongan ini untuk menyelamatkan orang Yahudi saat terjadi pendudukan Jerman di Paris yang dipimpin oleh Hitler tahun 1940-1944. Sampai-sampai masjid mengeluarkan sertifikat muslim palsu pada orang-orang Yahudi. Orang yang melakukan ini ternyata orang Aljazair ya g menjadi imam masjid tapi juga jadi pendeta. Hadeuh. Pada akhirnya orang itu ditangkap dan dideportasi ke Jerman tahun 1944.

Sayangnya saat ke sana, aku tidak melihat ada akses menuju terowongan bawah tanah itu.

Hingga saat ini Grande Mosquée de Paris menjadi pusat bimbingan spiritual umat Islam.

Wallahu a'lam

Naik Métro atau Bus?

Lokasi Grande Mosquée de Paris ini berada di arrondisement V (sejenis kecamatan gitu ya) di pertigaan jalan Rue Daubenton dan Rue Georges Desplas. Berdampingan dengan Jardin des Plantes (seperti kebun tapi luas mirip hutan kota khusus untuk tanaman). Di sekitar Latin Quartier di mana kawasan akademisi dan intelektual. Tak jauh dari sana juga ada kampus Paris Sorbonne dan juga Monumen Panthéon yang terkenal.

Meski lokasi ini bisa diakses dengan kereta bawah tanah atau métro dan bus. Tapi dari kampus saya suka naik bus. Jalan dari kampus ke halte dekat. Turun dari bus pun, dari halte ke masjid pun dekat. 

Kalau naik métro turun di stasiun Censier-Daubenton. Kalau halte, aku lupa halte apa. Hehe.

Tempat Terbaik Untuk Menenangkan Diri

Biasanya setelah seharian mendengar suara-suara berbahasa yang bikin aku berpikir keras. Dosen yang menjelaskan materi di kelas. Teman-teman yang berbicara pakai bahasa siang. Semua hiruk-pikuk itu ingin aku hindari sejenak.

Tempat terbaik jika aku sedang kuliah di AgroParis Tech adalah Grande Mosquée de Paris. 

Begitu memasuki pintu utamanya yang terbuka dan terbuat dari kayu, aku melihat taman-tamannya yang hijau di musim semi dan memutih tertutup salju di musim dingin. 

Taman (jardin) ini berbentuk segiempat dikelilingi bangunan dengan lengkungan di antara tiang-tiang. Di tengahnya banyak tanaman yang diatur hingga tampak indah.

Ketika aku penasaran dengan taman di bagian belakang yang tampaknya tidak terlalu terawat, ada seorang wanita memakai kain tutup rambut tapi masih menampakkan rambutnya sedang duduk di tangga.

Ia tiba-tiba meminta welas kasihku. Aku terkejut. Memang di Paris banyak pengemis tapi aku belum menemukan pengemis muslim. Terus terang sebagai saudara semuslim agak sedih. Tapi aku juga tidak yakin apa benar-benar muslim? Karena aku agak takut, jadinya aku tolak. Ya Allah.

Ketika aku memasuki ruang besar kosong yang juga tempat sholat saat hari Jumat, rasa tenang langsung menyergap dalam hatiku. Meski aku masih mendengar bahasa-bahasa seksi itu tapi aku tidak perlu berpikir mereka berkata apa. Karena aku ingin segera ke ruang wudhu.


Perjalanan ke ruang wudhu pun melewati 'resepsionis' yang membantu para turus asing yang ingin mengunjungi masjid Paris dan menikmati setiap detail masjid yang khas. Tidak selalu ada orang di resepsionis. 


Dan setiap turis yang ingin melihat-melihat diminta membayar 5 euro, sedangkan anak-anak Cuma 3 euro. Tapi untuk yang sholat di masjid tidak perlu membayar kayak aku. Jadi aku mau keliling jardin pun nggak bayar. Apa aku yang nggak paham ya.. wkwkw..

Di waktu tertentu bahkan petugas menunggu turis, kadang menjelaskan sesuatu pada turis.

Untuk tempat wudhu wanita seingetku menuruni tangga. Tempat tertutup dan aman dari luar. Meski aku mencium bau tak sedap dari kamar mandi, aku sedikit maklum. Jadi inget di Indonesia. 


Kamar mandi di masjid tidak seperti kamar mandi di tempat lain di Prancis. Seingetku ada ember kecil. Kloset duduk tapi terbuat dari besi. Dan aku harus beradaptasi lagi dengan kondisi toiletnya. Hampir mirip tapi tetap berbeda. Air tetap mengucur deras tidak seperti toilet lain di Prancis yang tidak basah dan hanya pakai tisu.

Adzan belum berkumandang. Aku duduk di dalam ruang sholat perempuan. Beberapa perempuan muslim sedang sholat. 


Aku mengeluarkan bekal makan siang dan langsung melahap isi makananku. Setelah selesai menyantap bekal makan yang dingin karena udara yang dingin, aku segera berwudhu sebab adzan berkumandang. 

Aku memasang mukenahku dan menempati barisan di depan. Seorang dari Pakistan tersenyum melihatku memakai mukenah. Dia bilang lucu bangeettt. Dia tampak baru sekali ini melihat mukenahku yang warna karena mereka sholat pakai baju panjang dan celana panjang saja dengan jilbab yang dililit2 itu. 

Aku segera keluar dari masjid karena perkuliahan selanjutnya akan dimulai. Sebenarnya jadwal kuliah bentrok dengan jadwal sholat tapi kalo aku ngga sholat dulu, kuliahnya bisa sampai maghrib. Alhasil masuk kelas pasti terlambat.

Di luar, beberapa orang berlalu lalang, ada yang memasuki restoran dan cafe masjid yang ada di samping. Aku penasaran melihat cafe dari luar tapi aku ngga ada keinginan masuk dan beli makanannya. Maklum mahasiswa hemaaatttt. Harganya juga lumayan mahal bagi ukuran mahasiswa. Hehe.


Sumber:
https://www.grandemosqueedeparis.fr/copie-de-une-histoire
Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower