Gambar dari merdeka.com


Seorang teman dari grup WAG bercerita tentang anak bayinya yang baru lahir mengalami gumoh. Beberapa teman mengatakan itu wajar. Setelah cerita-cerita lagi, ternyata gumohnya banyak banget bahkan seperti air mancur.

Aku pun teringat dengan anak bayiku dulu yang mengalami gumoh seperti air mancur. Jadi setiap aku habis menyusui si bayi, tiba-tiba dia gumoh seperti orang muntah bahkan keluar seperti air mancur. Nggak setiap menyusui sih. Pokoknya kalau stok ASI cukup banyak biasanya anakku gumoh parah. Kalaupun di stop juga nggak bisa karena si bayi pasti nangis-nangis.

Awalnya aku biasa saja, lama-lama kok mengkhawatirkan. Bingung harus gimana apalagi anak bayiku ini adalah anak pertama. Beberapa cara jika bayi mengalami hal itu.


Kepala Bayi Ditinggikan

Katanya setiap habis menyusui, kepala bayi ditinggikan biar nggak keluar. Memang sih, saat menyusui itu posisi bayiku tidur, tanpa bantal, jadi posisi keplaa dan perut itu sama. Tips itu coba aku praktekkin, eh ternyata tetap aja. Malahan, sebelum selesai menyusui, bayiku udah gumoh air mancur begitu. 

Menyusui dengan disangga bantal

Terus aku nyoba nyusui dengan memberi bantal di bawah badan bayi, tapi ternyata susah banget. Kadang aku malah menyusui sambil duduk dan bayiku kusangga dengan bantal atau tanganku yang kusangga bantal. Hasilnya? Malah capek banget. Karena nggak kuat, aku kembalikan dia di posisi semula. Menyusui sambil tidur.

Mengolesi minyak kayu putih

Ada yang bilang juga kalau air ASI nya nggak kental, atau ibunya masuk angin jadi berdampak sama ASI. Aku nggak tahu sih apa memang seperti itu karena aku merasa nggak masuk angin. Tapi ya namanya orang lain yang ngomong coba aja aku olesi kayu putih dll karena kan ibu menyusui nggak boleh minum obat-obat sembarangan. 

Sayangnya, gumoh tetap terjadi. Dan kejadian itu berlangsung selama enam bulan. Aku sampai cari di internet, siapa tahu ada yang mengalami hal serupa. Nyatanya malah membuatku khawatir berlebih. Katanya sistem pencernaan belum sempurna, katupnya juga belum sempurna jadi saat memasukkan ASI, cairan kembali lagi.

Ternyata...

Aku coba bawa ke dokter, tapi katanya nggak apa-apa dan dikasih obat. Terus dokter juga bilang karena belum mpasi jd begitu. Nanti kalau sudah mpasi nggak begitu.

Muncul kelegaan dalam hati meski aku harus menahan-nahan diri melihat anakku gumoh habis mimik. 

Benar saja setelah MPASI, anakku nggak pernah gumoh parah lagi. Bahkan sudah sembuh dan hilang sama sekali. Pas anak kedua malah nggak pernah seperti itu.

Mungkin yang perlu dikhawatirkan itu kalau gumoh muntah terus terjadi dan berat badan bayi yang mengalami penurunan. Kalau seperti itu memang harus melakukan pemeriksaan lebih lanjut baik ke dokter umum, spesialis atau rumah sakit.

Apa bayi ibu-ibu juga pernah mengalami gumoh seperti air mancur? Terus gimana? Apa dibawa ke dokter?


Read More

Rasanya semenjak tinggal di Sidoarjo, kota panas di Jawa Timur, aku merasa kulitku menjadi lebih kusam dan menghitam karena seringnya naik sepeda ke psar atau kemana gitu naik motor. Meskipun cuma sebentar, tapi kalau terpapar sinar matahari yang menyengat setiap hari ya lumayan juga bikin kulit menghitam. Belum lagi debu-debu jalanan yang menempel di kulit membuat kulit semakin dekil.


Padahal dulunya, waktu msih tinggal di Malang, kulitku nggak sedekil dan sehitam ini. Kadang, aku merasa sebel ngelihat kulitku yang semakin menghitam. Sempat kepikiran bagaimana caranya mencerahkan kulit tangan, seenggaknya bisa kembali saat aku masih kuliah di Malang. Bersih dan nggak dekil.


Cuma aku nggak pernah percaya dengan produk apapun yang bisa memutihkan kulit. Apalagi dulu pernah tahu kalau produk pemutih kulit biasanya pakai bahan berbahaya seperti merkuri. Jadinya, aku nggak pernah hunting produk pemutih kulit. Yes, bayangin putih kayak orang korea? Kan nggak mungkin juga sih wong lahirnya juga sudah begini.


Jadi, aku nggak berharap putih seperti orang Korea. Tapiiii, aku mau kulitku seperti dulu lagi, nggak sehitam gini dan nggak separah gini kusam dan dekilnya.


Akhirnya aku coba pakai Scarlett Whitening milik seorang artis Felicya Angelista. Jadi, aku pilih body care karena emang mau fokus mencerahkan kulit tangan yang lebih sering terpapar matahari.




Tiga macam Body care yang aku coba pakai yaitu Whitening Body Scrub, Whitening Shower Scrub, dan Whitening Body Lotion. Aku coba tiga item whitening itu karena menurutku mereka saling melengkapi. Kurasa kalau cuma satu aja nggak akan maksimal hasilnya. 


Tapi yang sempat muncul dalam pikiranku adalah aman nggak produk whitening-nya? Oiya, aku sudah pakai produk ini sekitar 19 hari. Kira2 efektif nggak produk ini bisa mencerahkan kulit? 


PRODUK 

Saat paket pengiriman tiba di rumah, aku langsung membukanya. Paketnya dibungkus dengan kardus. Tiga item (body scrub, shower scrub dan body lotion) juga dibalut dengan bubble wrap. Jadi sampai rumah, paket aman dan tidak pecah. 




Kemasan botol pada tiga produk itu BUKAN terbuat dari bahan yang mudah pecah seperti kaca tapi mika/plastik jadi nggak berat. Waktu itu sempat terjatuh di kamar mandi. Untungnya nggak pecah. Karena bahan kemasannya ringan dan ukurannya tidak begitu besar, tiga produk itu mudah dibawa kemana-mana.


Ketiga produk ini dibuat untuk mencerahkan, melembabkan dan menutrisi kulit karena terdapat kandungan glutathione dan Vitamin E. Glutathione ini mengandung antioksidan yang paling kuat dengan kemampuan mencerahkan kulit. Jadi memang glutahione ini digunakan pda berbagai macam kosmetik unuk mencerahkan kulit, baik untuk diminum sebagi kapsul maupun krim. Glutathione ini dikenal sebagai induk dari segala antioksidan alias antioksidan terbaik. Vitamin E yang terdapat pada produk Scarlett Whitening juga bermanfaat untuk menyegarkan dan merevitalisasi kulit.


Aku khawatir kalo produk ini nggak aman buat kulit tetapi kekhawatiranku hilang karena produk ini sudah terregistrasi pada BPOM (Badan Pengawas Obat-obatan dan Makanan). Dengan terdaftar di BPOM berarti kandungan yang ada dalam kosmetik sudah teruji standar dan persyaratan keamanan, khasiat/manfaat, dan mutu produk. Makanya aku nggak khawatir sih pakai Scarlett Whitening.


Kelebihan lainnya dari produk ini adalah No Tested On Animal. Kenapa harus begitu? Karena saat ini banyak sekali kosmetik yang diuji coba ke hewan sebelum dipasarkan. Alasannya, jika hewan tidak akan bereaksi pada kosmetik, maka kosmetik tersebut sudah layak dipasarkan. Kenyataannya, tidak 100% kosmetik yang sudah berhasil diujicoba ke hewan akan berhasil di manusia. Jelas, karena hewan dan manusia memiliki kondisi biologis yang berbeda. Dan biasanya saat perusahaan kosmetik itu menggunakan hewan untuk diujicoba, maka akan ada banyak hewan yang tersakiti bahkan mati. Nah, apakah kita mau kosmetik yg kita gunakan untuk adalah hasil dari penyiksaan hewan-hewan? Mau cantik kok tega sama binatang? Jangan ya! Makanya produk dari Scarlett Whitening ini nggak diujicobakan ke hewan. Kalo kalian menggunakan produk ini berarti sama saja kalian menyelamatkan banyak hewan.


Oya, jangan sampai beli produk yang palsu ya, karena produk asli Scrlett Whitening ini ada stiker hologramnya di setiap kemasan produk.


Dan pastikan juga pemakaiannya tidak melebihi tanggal expired-nya unuk mencegah hal-hal yang berdampak negatif pada kulit.


BODY SCRUB ROMANSA




Setelah dibuka tutupnya, bagian dalam kemasan produk Body Scrub ini dilapisi plastik wrap agar scrub nya tidak menempel di tutupnya. Kalau dari teksturnya, buliran scrubnya halus dan nggak bikin sakit saat dibalurkan ke kulit. Warna dari Body Scrub dan bulirnya ini putih bersih. Bulir-bulir itulah yang membantu sel-sel kulit mati dapat terangkat sehingga sel-sel kulit bisa mengalami regenerasi. 


Add caption


Apa yang aku suka dari Body Scrub adalah wangi Romansa yang tahan lama. Bau keringat yang sering keluar karena tinggal di daerah panas ini jadi berkurang. Aku lebih percaya diri aja. Wanginya juga bisa menjadi treatment. Badan menjadi lebih segar dan nyaman.


Cara pemakaiannya dengan membalurkan scrub ke seluruh tubuh dengan kondisi tubuh kering. Kenapa dengan kondisi kering? Tujuannya agar sel-sel kulit matinya bisa terangkat dan hilang saat dibersihkan. 





Bagi yang pertama pakai scrub mungkin agak aneh, tapi memang begitu agar hasilnya maksimal. Tunggu selama 2-3 menit setelah itu dibilas dengan air bersih kalo bisa berkali-kali agar lebih bersih. Pemakaian ini sebanyak dua kali seminggu.




Kalo kalian paham dengan ingredientsnya, nih aku bocorin apa aja ingredientsnya. 


Ingredients :

Acrylic Polimer, Triisopropanol Amin, Glycerin, Mineral Oil, Cetyl Alcohol, Cetearyl Alcohol, Propylene Glycol, Glycol Distearate Dmdmhydantoin, Fragrance, Scrub, Glutathione, Water. 

Nomor BPOM nya adalah NA18190705488.


BRIGHTENING SHOWER SCRUB POMEGRANTE


Semenjak aku punya brightening shower scrub yamg warnanya ungu cantik ini, aku lebih semangat untuk mandi. Haha. Sama seperti body scrub, baunya wangi sekali. Saat dipakai, busanya tidak sebanyak sabun biasa dan memang sedikit lebih licin. Tapi justru itu, saat aku membilasnya, aku sambil menggosoknya sehingga daki-daki, kuman, kulit-kulit yang kering bisa terangkat. Tekstur Shower Scrubnya ini halus dan terdapat butiran kecil berwarna ungu dan pink. 




Cara pemakaian dengan dibalurkan ke seluruh tubuh seperti sabun biasa kemudian dibilas dengan digosok agar tidak terlalu licin.



Shower scrub varian pomegrante ini juga banyak manfaatnya. Katanya sih pakai pomegrante atau ekstrak buah delima untuk kulit bisa menghindari kerusakan kulit akibat sinar matahari, melembabkan kulit dan membuat kulit lebih bersinar.




Ingredients : Sodium Lauryl Sulfate, Sodium Lauryl Sulfate, Fatty Alcohol Sulfate, Coconut Diethanolamine, Coco Amido Propyl Betaine, Lauryl Betaine, Ethyl Diamin Tetra Acetic Acid, Glycol Distearat, Steareth-20 Methacrylate Copolymer, Dmdm Hydantoin, Glycerin, Fragrance, Beads A2 milicapsule, Glutathione, Water. 

BPOM: NA18180701928.



FRAGRANCE BRIGHTENING BODY LOTION CHARMING


Terakhir, item dasar yang harus dimiliki kalau mau mencerahkan kulit adalah Whitening Body Lotion Charming. Wanginya seperti wangi parfume Baccarat Rouge 540 Eau De yang lembut dan tahan lama. Warnanya putih agak ungu. Teksturnya halus, mudah meresap dan tidak lengket di kulit.




Yang paling aku suka dari kemasan botol body lotion ini adalah ada lock unlock-nya. Lock nya harus dibuka dulu terus diputar ke kiri untuk membukanya. Jadi yang punya anak kecil nggak khawatir dibuat mainan dan ditekan-tekan. Atau kalau lagi dalam perjalanan nggak khawatir ketekan.





Cara pemakaian oleskan lotion setelah mandi ke seluruh tubuh secara merata. Gunakan dua kali sehari untuk hasil yang maksimal.





Ingredients : Acrylic polimer, Cetearyl Alcohol, Triisopropanol Amin, Propana-1-2-diol, Propane-1,2,3-triol, Dmdm Hydantoin, Fragrance, Beads A2-millicapsule, Glutathione, Water. 

BPOM: NA18190123882.


SETELAH 19 HARI PENGGUNAAN


Mungkin masih banyak yang bertanya-tanya, apakah efektif pakai Scarlett Whitening untuk memutihkan eh mencerahkan kulit? Jangan bayangkan kulitku jadi putih seperti artis korea loh ya. :D



Lihat yang kanan bawah, mungkin kurang jelas ya? Kalau aku sendiri memang merasa ada sedikit perubahan, nggak malu-maluin lah kalau dilihat sendiri, nggak gosong banget : D

Setidaknya kulitku tidak terlihat kusam tapi lebih halus, lembab dan sedikit lebih cerah. Dan pastinya badan lebih wangi hampir sepanjang hari. Pantas saja banyak yang bilang produk Scarlett Whitening ini bisa melembabkan dan mencerahkan kulit, ternyata kandungan juga mendukung.


HARGA PRODUK DAN PEMESANAN


Harganya juga nggak masih bisa dijangkau ya. Tiap item Rp. 75.000,-. Kalau beli 5 item harganya Rp. 300.000,- sudah dapat box exclusive dan free gift. Bagi kalian yang tertarik, bisa banget kirim direct message ke instagram @scarlett_whitenening. Pastikan juga expired-date saat membeli ya.



Read More

"Temuan Arca Ganesha Ungkap Banyaknya Candi yang Hilang di Dieng."


Sebuah judul headline berita news.detik.com cukup menarik perhatian saya untuk segera membacanya beberapa waktu lalu. Bagaimana tidak, di tanah nusantara yang pernah berdiri megah beribu-ribu candi Hinduisme dan Budhaisme sekarang hanya tersisa sedikit yang layak dinikmati masyarakat luas. Temuan arca Ganesha dengan kepala terputus yang tak sengaja ditemukan oleh warga Dieng saat menggali tanah untuk pembangunan septic tank di Dieng akhir Desember 2019 tersebut bisa menjadi indikasi candi-candi lain yang terkubur dalam lapisan tanah dan tersebar di seluruh nusantara.



"Dugaan masih banyaknya situs yang belum ditemukan di Dieng mengacu pada catatan Sir Thomas Stamford Raffles dalam karyanya berjudul 'The History of Java'. Catatan itu menyebut lebih dari 400 situs atau candi di Dieng (news.detik.com)"


Sementara di Dieng terdapat kelompok candi dengan nama pewayangan dan menjadi pusat ritual dan pendidikan keagamaan. Ketika ditemukan di jaman kolonial, di kawasan terdapat 400-an situs atau candi. Uniknya, saat ditemukan oleh Thedorf Van Elf dulu, candi-candi tersebut berada dalam air danau yang mencuat ke permukaan. Tahun 1856, Van Kinsbergen melakukan pengeringan telaga tempat candi-candi itu berada. Tahun 1864, proses pembersihan, pencatatan dan pengambilan gambar dilakukan oleh tim Van Kinsbergen pada jaman Hindia Belanda.


Percandian Dieng ini telah ditetapkan lebih dulu sebagai cagar budaya yang termasuk kategori kawasan dan bangunan dalam Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 173/M/1998. Dan percandian Dieng telah masuk dalam daftar resmi kekayaan budaya bangsa dengan nomor registrasi nasional (Regnas) RNCB.20170227.05.001408.


Dengan luas 486,55 hektar berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 007/M/2015, kawasan cagar budaya percandian Dieng yang berada di kaki pegunungan Dieng dan berada di dua kabupaten, Wonosobo dan Banjarnegara, memiliki kekayaan peninggalan cagar budaya. Kelompok percandian atau situs purbakala yang berada di kabupaten Wonosobo adalah Pertirtaan Bima Lukar, Watu Kelir dan Situs Sitinggil. Kelompok bangunan yang berada di kabupaten Banjarnegara adalah kelompok percandian Arjuna, Dwarawati, Parikesit, Bima dan Gangsiran Aswatama.

 

Alasan Ditetapkannya Percandian Dieng Sebagai Kawasan Cagar Budaya?


Menjadi tanah suaka yang telah ditetapkan pemerintah bukan alasan yang sederhana. Banyak kriteria hingga akhirnya ditetapkannya Dieng menjadi suatu kawasan atau bangunan cagar budaya. Kriteria tersebut berdasarkan Undang-Undang No 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.


Kabut di Dieng (Instagram @novemlawalata)


Pertama, periode/usia. Jika benda, bangunan, atau struktur ditetapkan sebagai cagar budaya (warisan budaya), maka usianya harus lebih dari lima puluh tahun. Sementara peradaban di Dieng sudah berkembang sejak abad VIII- XII Masehi pada masa Mataram Kuno.


Kedua, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Jelas sekali, percandian Dieng memiliki sejarah yang luar biasa. Kompleks percandian Dieng ini diduga menjadi candi tertua di Jawa dan dibangun dari perintah raja-raja Wangsa Sanjaya. Sebuah prasasti di Dieng tahun 808 M juga merupakan prasasti tertua di Jawa dan bertuliskan huruf Jawa Kuno yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kita juga masih bisa melihat warisan budaya candi yang dibagi menjadi beberapa kelompok, seperti kelompok Arjuna, Gatutkaca, Dwarawati, dan Bima.


Kelompok candi Arjuna (budparbanjarnegara.com)

Kelompok Candi Arjuna terdiri dari candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Semar, Candi Sembadra dan Candi Puntadewa. Kelompok candi ini paling utuh dibandingkan kelompok candi lainnya di kawasan Dieng meskipun di beberapa bagian sudah banyak yang rusak, seperti bagian atap candi hingga tidak terlihat bentuk aslinya, hiasan bentuk seperti mahkota bulat berujung runcing, pahatan yang menggambarkan Syiwa dan Brahma. Konon Candi Semar digunakan sebagai gudang untuk menyimpan senjata dan perlengkapan pemujaan.


Sebenarnya kelompok Gatutkaca terdiri dari lima candi, yaitu Candi Gatutkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, Candi Petruk dan Candi Gareng. Namun, hanya candi Gatutkaca yang masih dapat dilihat bangunannya, sedangkan keempat candi lainnya hanya tersisa reruntuhannya saja.


Kelompok Dwarawati terdiri atas 4 candi, yaitu Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Akan tetapi, saat ini yang berada dalam kondisi relatif utuh hanya satu candi, yaitu Candi Dwarawati. Puncak atap sudah tak tersisa lagi sehingga tidak diketahui bentuk aslinya.


Candi Dwarawati yang terpisah dari candi lain (indonesiakaya.com)


Tidak seperti kelompok candi lainnya, candi Bima hanya berdiri sendiri. Sama seperti kelompok candi lainnya, bagian atap candi ini sudah rusak dan tidak diketahui bentuk aslinya

 

Gangsiran Aswatama (historia.id)

Gangsiran Aswatama adalah sumur air yang berbentuk terowongan air dn dekat dengan kompleks candi Arjuna. Sumur itu dulunya berfungsi unyk memenuhi kebutuhan air masyarakat. Diameternya 4-7 meter deganjumlah sembilan sumur tua. Beberapa sumur sudah dipugar dan dibangun tembok yang mengeliligi pagar. Atapnya juga dibuat pelindug melingkar seperti gazebo.

Situs Watu Kelir (kebudayaan.kemdikbud.go.id)


Situs Watu Kelir dan Sitinggil merupakan batu-batu yang sudah dipotong dan ditempel pada tebing untuk menahan longsor. Menariknya, tempat ini dulunya sebagai titik untuk melihat pemandangan sekitar Dieng.


Makam Citra dan Makam Budha menjadi situs yang dilindungi karena menggunakan batuan candi untuk penanda kuburan atau nisan.

Situs Pangonan (nekadguiding.wordpres.com)

Situs Pangonan yang berada di wilayah perbukitan ini terdapat batuan yang menyebar di lahan perkebunan masyarakat. 


Situs Ondho Bodho berada terpisah jauh dari kompleks candi Arjuna dan menjadi sumber pemanfaatan batu-batuan sebagai penyusun candi 


Selain karena sejarahnya, peninggalan budaya Hindu yang berupa candi di jaman dulu menjadi suatu wadah untuk melaksanakan ritual keagamaan. Apalagi kawasan percandian tersebut dibangun di daerah pegunungan berhawa dingin dengan ketinggian 2.060 mdpl. Hal itu menunjukkan semangat luar biasa para pembangun untuk mewujudkan kebutuhan ritual keagamaan. Tak hanya itu, kehadiran benda cagar budaya sebagai sarana pembelajaran/pendidikan bagi masyarakat dan pelajar saat ini untuk memupuk rasa nasionalisme.

 

Apa tujuan ditetapkannya Kawasan Cagar Budaya Dieng?

Sebagai benda purbakala, ditetapkannya Kawasan Cagar Budaya Dieng sebagai upaya pelestarian memiliki tujuan untuk :

- melestarikan warisan budaya bangsa dan warisan umat manusia;

- meningkatkan harkat dan martabat bangsa melalui Cagar Budaya;

- memperkuat kepribadian bangsa;

- meningkatkan kesejahteraan rakyat; dan

- mempromosikan warisan budaya bangsa kepada masyarakat internasional.

Sedangkan pelestarian yang dimaksud meliputi perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya.

 

Apa yang telah dilakukan pemerintah?

Pemerintah Kabupaten Banjarnegara bekerja sama dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah dalam pelestarian dan pengelolaan kawasan cagar budaya Dieng selama empat tahun hingga tahun 2018.


Kerjasama tersebut tertuang dalam nota kesepakatan tentang pembagian peran, tata cara pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Dataran Tinggi Dieng sebagai objek wisata, dan pembagian pendapatan dari retribusi masuk tempat wisata Dieng. Pembagian kerja juga sesuai bidang masing-masing. Dengan begitu, kedua belah pihak akan terlibat dalam pelestarian kawasan cagar budaya Dieng.


Balai Pelestarian Cagar Budaya bertugas melindungi zona inti dan penyangga, dan melakukan pendampingan serta memberikan rekomendasi pada kegiatan yang ada di kawasan cagar budaya. Zona inti ini adalah zona yang pusatnya pada kelompok candi Arjuna, Gatotkaca, Dwarawati, Setyaki, Bima dan Dharmasala. Sedangkan zona penyangga yang berada di sekitar zona inti. Di zona inti tersebut tidak diperbolehkan didirikan bangunan termasuk zona penyangga bagi candi Bima dan Dharmasala yang berdiri sendiri.


Selain larangan pendirian bangunan, untuk masyarakat yang akan menyelenggarakan event harus berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar tidak mengganggu keberlangsungan kawasan cagar budaya. Sedangkan zona penunjang merupakan daerah sekitar zona inti yang terdapat fasilitas obyek wisata. Upaya perlindungan terhadap benda cagar budaya di Dieng oleh pemerintah dilakukan dengan cara penyelamatan dan pengamanan, zonasi, serta pemeliharaan dan pemugaran.


Manfaat yang dirasakan akan kerjasama dua pihak tersebut adalah benda-benda purbakala Dieng lebih terawat, dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan kesejahteraan masyarakat. Kawasan cagar budaya Dieng yang juga menjadi obyek wisata menjadi lebih tertata dan rapi.


Apa Upaya Masyarakat dalam Perlindungan Kawasan Cagar Budaya Dieng?


Setelah ditemukannya arca oleh seorang warga, beliau langsung melaporkannya kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya setempat. Itu artinya bahwa warga sudah memiliki kesadaran untuk tidak menyembunyikan informasi terkait benda temuan purbakala yang terbenam. 


Selain melaporkan temuan benda purbakala, sebagai masyarakat kita bisa melakukan upaya pelestarian kawasan cagar budaya Dieng yaitu dengan cara :
- Tidak merusak dan/atau mencuri cagar budaya baik sebagian ataupun seluruhnya,
- Tidak mengalihkan kepemilikan cagar budaya tanpa izin,
- Tidak mencegah, menghalangi atau menggagalkan upaya pelestarian cagar budaya,
- Tidak memindahkan dan/atau memisahkan cagar budaya tanpa izin,
- Tidak mengubah fungsi cagar budaya.


Tak sulit untuk mendukung pelestarian cagar budaya di Dieng. Hanya dengan menjaga kebersihan dan tidak merusak situs saat kita berkunjug ke Dieng juga sudah merupakan upaya dalam perlindungan benda cagar budaya.


Yuk, kita lestarikan cagar budaya Indonesia!


Cagar Budaya Indonesia



 

REFERENSI

Undang-Undang No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 007/M/2015.

Lestyono, Faa’iz Oktavian. 2014. Kerja Sama Pemerintah Kabupaten Banjarnegara Dengan Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi Jawa Tengah Dalam Pengelolaan Dan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dataran Tinggi Dieng  Tahun 2014-2018. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jpgs/article/download/24107/21865

https://jateng.suara.com/read/2019/12/30/165023/temuan-arca-ganesha-ungkap-hilangnya-banyaknya-candi-yang-hilang-di-dieng?page=all

https://www.tourdejava.net/2016/01/candi-dataran-tinggi-dieng-wonosobo.html#:~:text=Candi%20Dieng%2C%20Warisan%20Maha%20Karya,sebagai%20Kompleks%20Candi%20Hindu%20Jawa.

https://candi.perpusnas.go.id/temples/deskripsi-jawa_tengah-candi_dieng

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/zonasi-kawasan-percandian-dieng-sebuah-upaya-pelindungan-cagar-budaya/

https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2016051300004/percandian-dieng



 

 

 

 

 




Read More

Sebagai negara maritim, salah satu hal yang sayang sekali untuk dilewatkan adalah mengunjungi ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Sejak lama memang aku menginginkan pergi ke tempat yang menjual berbagai macam hasil laut tersebut. Lebih tepatnya, semenjak suami mengirimkan foto sedang makan bersama temannya di warung dekat TPI, aku begitu tergugah tapi belum juga pergi ke sana. 


Sebenarnya sebelum diajak temannya suami, sebut saja Mas R, dia pernah memberitahu kalau di daerah Kalanganyar ada pasar yang menjual ikan murah dan segar. Kami diberitahu ancer-ancernya. Ternyata di sana kami bingung dimana tempatnya. Karena tempatnya malah menjauh dari pasar Kalanganyar. Akhirnya, kami berhenti di rumah makan Latarombo. Dan memilih makan di sana. Setelah diajak Mas R, kami jadi tahu tempatnya dan masih jauh dari Latarombo. 


Baca juga : Rumah Makan Seafood Gubuk Latarombo, Sidoarjo


Ketika suami ingin makan lobster, tanpa banyak pikir, aku menanyakan kapan kesana setelah suami menyelesaikan tanggung jawabnya mengurus mahasiswanya lewat daring. Berangkatlah kami Jumat pagi yang sudah beranjak siang (sekitar jam 8 pagi).


Perjalanan menuju ke sana disuguhkan dengan pemandangan yang jarang kutemui. Pemandangan tambak di kanan kiri begitu menyenangkan. Para petani garam juga sedang sibuk panen di tambak. Meski jalanan cukup jelek, berdebu dan tidak lebar, tapi aku begitu menikmatinya. Mungkin karena pemandangan tambak yang bagus.


Jam delapan pagi di daerah pesisir memang terik sekali. Panas kering. Alangkah baiknya kalau mengunjungi tempat -tempat itu kalian bisa menggunakan kacamata hitam, topi, dan masker.


Perjalanan kami pun hanya memakan waktu 20 menit dengan mobil. Dari rumah makan Latarombo masih terus saja kemudian bertemu pertigaan belok kiri melewati jembatan kecil. Nah itu, jalan masih terus mengikuti jalan utama bertemu tambak di kanan kiri sampai bertemu gapura selamat datang tidak sampai masuk gapura tapi belok ke kanan. 


Tibalah kami di TPI Sidodadi Juanda yang beralamat di Jl. Tambak Cemandi No.1, Gisik Cemandi, Kec. Sedati, Kab. Sidoarjo, Jawa Timur. Oiya, lokasi ini dekat sekali dengan Bandara Juanda. Jadi kalau pesawat mau mendarat terlihat banget di kanan kiri tambak yang membentang luas termasuk TPI ini. 


Jalan Masuk ke TPI Sidodadi Juanda, Sidoarjo
Jalan Masuk ke TPI Sidodadi Juanda


Tempat parkir mobil luas, masih tanah dan minim pohon teduh sangatlah lowong. Alias tidak banyak pengunjung. Maklum saat itu sedang hari Jumat sedangkan kalau weekend tempatnya ramai sekali.


Aku melihat pasar masih sepi dari pengunjung, termasuk penjual yang membuka lapaknya. Beberapa orang duduk-duduk saja seolah ada yang ditunggu. Aku langsung mendatangi lapak paling depan. Penjual itu tidak hanya menjual lobster tapi juga kerang, udang, kepiting, dan ikan.


Kondisi Pasar Ikan TPI Sidodadi Juanda
Kondisi Pasar Ikan TPI Sidodadi Juanda


Untuk harganya jangan kaget ya! Harga lobster 175 ribu rupiah per kilo. Isinya 4 lobster yang sedang dan 1-2 lobster yang besar. Bagi sebagian orang menganggap ini mahal, tapi bagi sebagian lainnya akan mengatakan itu murah sekali. Ya, sangat tergantung apa yang kita bandingkan. Dulu, kukira membeli ikan di TPI itu harus ada pembelian minimalnya. Ternyata tidak.


Setelah mendapatkan lobster yang diinginkan suami, aku pun berkelana masuk ke dalam pasar. Sayangnya, banyak meja-meja yang kosong. Aku mencari gurame tapi yang banyak malah orang yang berjualan ikan asin, bandeng, mujaer, dan ikan yang panjang itu (lupa namanya). Sempat tanya ke beberapa orang, mereka hanya menjawab tidak. Akhirnya aku keluar dari pasar.


Tak jauh dari pasar, aku mendatangi warung yang menyediakan jasa bakar. Sebenarnya ada rasa lain juga misal asam manis atau lada hitam. Tentu, harganya juga berbeda. Aku hanya meminta bakar saja. Harganya juga dihitung per kilo. 


Warung Yang Menyediakan Jasa Bakar
Warung Yang Menyediakan Jasa Bakar

Tak hanya jasa bakar ikan, di warung itu juga disediakan ikan bakar dengan harga yang tentunya lebih mahal. Karena aku tidak mendapatkan gurame, jadi aku memesan ikan gurame bakar di san saja. Eh ternyata kehabisan. 


Aku disuruh membeli ke toko menjual ikan fresh yang menyeberang jalan utama. Namun, seorang pengunjung yang juga ingin meminta bakar ikan mengatakan padaku kalau di pasar ada yang menjual gurame. Dengan baik hati, dia menunjuk tempat orang yang berjualan gurame di TPI.


Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke pasar, ke lapak yang ditunjukkan dari jauh tadi. Ternyata gurame yang dijual masih dimasukkan dalam box es yang besar. Pantas saja aku tidak tahu. Dan harganya juga lebih murah ketimbang di tukang sayur yang biasa aku beli. Harga gurame Rp. 35.000 per kilo sudah dibersihkan sama orangnya.


Beli Gurame di TPI Sidodadi Juanda
Jasa Bersihkan Ikan Gurame 


Aku kembali lagi ke warung dengan membawa dua kilo gurame. Isinya 3 ukuran sedang dan 2 ukuran besar. Murah banget untuk makan bersama keluarga besar. 


Udang dan Lobster di TPI

Ikan dan lobster siap bakar


Membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk membakar semua ikan dan lobsterku. Dan hasilnya juga dibungkus dengan daun pisang biar sedap. Kalau mau makan di sana juga bisa. Tentu harganya juga tambah untuk nasi dan minum.


Menurut Mas R, kalau datang ke sana pas weekend, orang yang datang ke sana banyak. Yang antri membakar ikannya juga banyak. Bahkan kalau datang sore hari dan saat antri banyak, kemungkinan besar akan ditolak.


Jasa Bakar Ikan di TPI Sidodadi Juanda

Lobster bakar


Meski kekurangan TPI Sidodadi Juanda adalah tempatnya yang menurut saya perlu perbaikan agar pengunjung dan penjual juga nyaman, tapi aku senang berkunjung ke TPI ini karena harganya yang murah, produk hasil lautnya yang segar dan pilihannya juga tidak semua tersedia di pasar umum.

Dan recommended banget buat makan dengan personil yang banyak. Menurutku rasanya juga enak. Kalau untuk anak-anak, lobster bakarnya sedikit lebih pedas sedangkan ikan bakarnya tidak pedas. Serunya ajak anak-anak kesini adalah banyak perahu yang bersandar di sungai samping TPI.


Melihat Kapal Nelayan TPI Sidodadi Juanda




Read More

Pada bulan Desember 2019, virus corona atau coronavirus deasease (Covid-19) muncul pertama kali di Wuhan, Cina Pemberitaan itu emmbuat heboh seluruh dunia. Bagaimana tidak, virus itu menyebar begitu cepat dan membuat banyak orang mati karenanya. Yang paling membuat bergidik, saat penayangan video beberapa orang di Wuhan yang berdiri di pinggir jalan, tiba-tiba jatuh dan meninggal. Dan itu terjadi pada banyak orang di Wuhan. 

Berita selanjutnya dari Italia, dimana banyak orang yang meninggal karena virus corona. Maklum di Italia banysk sekali penduduk berusia senja yang rentan dengan virus itu. Negara Italia di lockdown. Nggak ada yang bisa masuk dan keluar dari negara itu. Juga Taiwan, Singapura, dan negara lain.

Apa yang terjadi setelah itu?

1. Pemberitaan tak pernah berhenti

Setelah itu, pemberitaan tentang corona tak pernah berhenti. Informasi tentang jumlah kematian orang yang terkena corona terus meningkat. Semua jadi waspada, mungkin lebih tepatnya takut. Semua tahu ciri-ciri terkena corona adalah demam 38°C, batuk, sesak nafas, namun ternyata gejalanya tidak hanya itu saja. Diare, infeksi pencernaan juga katanyaa bisa disebabkan oelh corona. Huft.

2. Status pengidap corona

Kukira pengidap corona hanya satu disebut pengidap corona saja. Nyatanya tidak. Ada banyak status seperti PDP, ODP, dan OTG. Dan yang menyusahkan adalah pengidap OTG yang dinyatakan positif setekah ikut tes tapi dia tidak merasakan gejala apapun. 

3. Lockdown, WFH, WFO, SFH.

Aktifitas negara lumpuh. Bandara, pelabuhan, akses keluar negeri dan masuk ditutup. Semua disarankan stay at home saja sampai-sampai hashtag itu menjadi trending di media sosial. Kita tidak boleh keluar rumah, bekerja dan sekolah di rumah. Lingkungan rumah di lockdown, alias tidak ada yang boleh keluar rumah selama 40 hari. Yang terpaksa bekerja di luar rumah harus punya keterangan surat dari tempat bekerja dan surat domisili. Karena ketika di lockdown, lingkungan hanya dibuka satu pintu itupun jam 9 malam sampai jam 4 pagi ditutup. 

PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dilaksanakan di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, dan Malang. Meskipun tetap saja masih ada orang yang berkeliaran di jalan. Di Sidoarjo, di dekat rumahku, jalanan cukup sepi dari aktivitas orang.

Sampai bulan September 2020, sekolah-sekolah masih dilaksanakan di rumah. Pembelajaran dilakukan secara daring. Beberapa perkantoran sempat dilakukan Work From Home (WFH) meski pada akhirnya pekerjaan tetap dilakukan di kantor (WFO).

4. Cafe, Mall, ditutup

Pemerintah mengeluarkan edaran agar aktifitas bukan primer ditutup, seperti Mall dan Cafe. Kebayang berapa kerugian yang didapat oleh owner dan vendor. Tidak ada lagi orang yang 

5. Banyak orang kehilangan pekerjaan

Akibat aktivitas di luar rumah berkurang, banyak pengusaha mengalami kerugian. Dan pastinya banyak karyawan yang akhirnya kehilangan pekerjaan.

6. Kewajiban Memakai Masker dan Cuci Tangan

Pada akhirnya, masker menjadi barang yang dicari-cari karena himbauan pemerintah untuk memakai masker saat keluar rumah. Karena virus corona akan cepat berpindah melalui kontak secara langsung.

Begitu juga dengan hand sanitizer yang sempat langka karena banyak orang yang memborongnya karena dianggap Corona akan mati jika terkena alkohol yang ada di dalam kandungan hand sanitizer. Sebagai gantinya, sabun menjadi alternatif bila tidak memiliki hand sanitizer. 

Jadi penggunaan masker dan cuci tangan saat sampai rumah seperti menjadi gaya hidup saat ini. Alias menjadi kebiasaan. Bahkan orang yang baru sampai di rumah setelah melakukan keperluan di luar rumah disarankan untuk cuci tangan, mandi dan mengganti pakaian.



Bayangkan,  bagaimana omset usaha masker, sabun dan hand sanitizer di masa pandemi? seolah berkah, pendapatan mereka menjadi meningkat. 

7. Sering di rumah, suntuk melanda

Kupikir akan banyak orang stres selama pandemi ini. Aku membayangkan orang-orang yang kehilangan pekerjaan tapi harus tetap menghidupi keluarganya, apalagi sekolah daring yang membutuhkan kuota internet yang tidak sedikit. Aku saja yang memang selalu di rumah, di masa pandemi ini, aku tidak kemana-mana. Sampai akhirnya pemerintah menetapkan kebijakan New Normal, aku masih merasa tidak bisa dengan leluasa pergi kemana-mana. Meskipun aku tetap berkunjung ke rumah eyangnya anak-anak sebelum itu dan pergi ke pantai satu kali. Itu juga tiap ngelihat orang bawaannya serem aja.


Sebenarnya banyak sekali yang ingin aku ceritakan selama masa pandemi ini. 


Read More

 “Hutan ini yang juga menghidupi saya. Hutan adalah ibu yang memberikan nafas panjang bagi banyak orang. Dengan menjaga dan melestarikan kehidupan yang ada di dalamnya, kampung saya jadi dikenal dan didatangi banyak orang. Saya dan masyarakat di sini akan berjuang sekuat tenaga mempertahankan hutan kami menjaga warna-warni yang telah diberikan kepada kami. Karena kini saya paham, menjaga alam dengan baik, maka alam pun akan memberikan kebaikan juga untuk saya.”


Kalimat yang diucapkan oleh Obaja Kalami, seorang pemandu wisata ekowisata burung surga di Malagufuk, Papua, dalam film pendek dari EcoNusa yang berjudul Malagufuk atau Hutan Kami Hidup Kami, cukup membuka mata saya. 


Malagufuk


Tak hanya keindahan dan kekayaan Papua yang sudah terkenal seluruh nusantara bahkan dunia, tetapi juga usaha masyarakat yang besar dalam upaya menjaga “ibu” a.k.a hutan untuk menghidupi manusia di dunia. Betapa seharusnya saya berterima kasih pada mereka.


Ya. Menjaga “Ibu” untuk menghidupi masyarakat di dunia. Kalimat itu membuat saya tersadar setelah mengikuti Virtual Blogger Gathering via Zoom tanggal 7 Agustus 2020 silam.


Hutan adalah "nafas" mereka dan "nafas" kita. Sebuah kiasan yang menunjukkan betapa besar peran hutan dalam kelangsungan hidup makhluk hidup. Tak hanya masyarakat lokal dan penduduk dunia tapi juga flora dan fauna yang tumbuh di dalamnya.


Beruntung Obaja Kalami dan masyarakat suku Moi lainnya menjaga dan melestarikan hutan sehingga banyak satwa langka yang masih hidup, seperti Burung Cenderawasih atau bird-of-paradise. Hingga akhirnya hutan tempat tinggalnya tersebut dikembangkan menjadi ekowisata. Banyak wisatawan yang datang ke Malagufuk untuk melihat satwa langka Cenderawasih (birdwatching). Dampaknya, masyarakat lokal dapat melangsungkan hidup berkat pengembangan ekowisata.


Bayangkan apa yang terjadi jika hutan-hutan tersebut ditebang dan satwa langka punah? Selain penyumbang efek rumah kaca dan menyebabkan pemanasan global, kelangsungan hidup masyarakat suku juga akan menghilang.


Menurut Pak Bustar Maitar, seorang CEO EcoNusa dalam Virtual Blogger Gathering tersebut, Papua itu unik. Tak hanya flora dan faunanya yang langka, tetapi juga budayanya. Di hutan Papua tidak memiliki hewan besar (Gajah, Harimau, Orang Utan) seperti di Sumatera dan Kalimantan. Di hutan Papua, fauna khas adalah jenis burung Cenderawasih dan Kasuari.


Penjelasan Papua Destinasi Hijau
Pak Bustar menyampaikan materi tentang Papua Destinasi Hijau

Alasan Papua Menjadi Destinasi Hijau


Saat ini permasalahan hutan-hutan di Indonesia adalah sudah mulai mengalami degradasi hutan. Banyak hutan yang sudah dialihfungsi menjadi perkebunan sawit, dan guna lahan lainnya. Dan ini mengancam kehidupan flora dan fauna di dalamnya. Jangan sampai hutan Papua sebagai The Last Frontier mengalami hal serupa. Hutan hilang, flora fauna hilang dan mengancam kehidupan masyarakat suku yang hidupnya sangat tergantung dengan alam.


Itulah mengapa Papua didorong menjadi destinasi hijau sebagai bentuk pengembangan ekowisata. Makna Papua destinasi hijau ini hanyalah sebuah kiasan. Selain memang berbasis pada alam, destinasi hijau ini dikelola oleh masyarakat adat sendiri dengan cara yang ramah lingkungan. Adat dan budaya masyarakat Papua juga masih kental.


"Orang Papua menganggap tanah, hutan, alam, laut adalah ibu." Hutan Papua tidak saja memberi makan bagi masyarakatnya, tapi juga memberikan udara segar bagi orang lokal dan pengunjung. Oleh karena itu, jika dirusak maka sama saja merusak hidup orang Papua.


Baca Juga : "The Lost Paradise" Tanah Papua


Ekowisata Papua Yang Recommended Untuk Dikunjungi


Jika ada rezeki berwisata ke Papua, Pak Bustar menyarankan untuk mengunjungi SEMUA tempat di Papua! Wow. Saking indahnya dan setiap tempat punya ciri khas yang berbeda ya. Pasti mau dong bisa keliling Papua. Namun, jika tidak sempat mengunjungi semua tempat ekowisata di Papua, ada nih tempat ekowisata yang direkomendasikan untuk dikunjungi di Papua yang saya rangkum dari narasumbet adalah:

1. Danau Sentani

Danau ini sangat indah. Jika naik pesawat dari Jakarta berangkat malam hari, maka akan tiba di Papua pagi hari. Saat itulah kesempatan untuk melihat Danau Sentani dari ketinggian.

Danau Sentani dari Atas
Danau Sentani dari dalam pesawat (www.mytrip.co)


2. Tempat melihat Burung Cenderawasih tidak jauh dari kota Sorong

Sayangnya wilayah tersebut overlap dengan rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit dimana tempat itu adalah tempat tinggal burung Cendrawasih. Saya membayangkan kalau burung Cenderawasih dan endemik khas Papua lainnya hilang dari tanah Papua.


Apa lagi flora dan fauna yang menjadi kekhasan Papua? Papua tidak akan punya kekhasan itu?


Apa kata anak cucu saat menanyakan, "apa hewan khas Papua?"


Kita mau jawab apa?


"Hmm... Burung Cenderawasih, tapi itu dulu sebelum hutan ditebang dan dijadikan ini dan 

itu."

Apa kita masih mengatakan itu dengan bangga? 

 

The-Bird-Paradise of Papua
The-Bird-of-Paradise atau Burung Cenderawasih

3. Pegunungan Arfak yang memiliki banyak satwa endemik Papua. 

Wisatawan bisa melihat aktivitas The Bird of Ballerina atau burung Cenderawasih. Kenapa Burung Cenderawasih? Karena burung ini sangat pintar dan memiliki suara yang merdu. Kok bisa pintat? Ya. Karena burung ini pandai membuat "rumah". Jika sudah berhasil membuat sarang yang indah, dia akan menari untuk mengundang jantan datang ke rumahnya. Keren ya!

4. Raja Ampat yang ada di Papua Barat ini paling seksi ekowisatanya.

Siapa yang tidak kenal dengan keindahan Raja Ampat ini. Deretan pulau karang yang menyebar dengan gradasi warna biru laut dan hijau tosca menambah cantiknya pulau ini.

Keindahan Raja Ampat
Keindahan Raja Ampat di Papua Barat (Dok. Agoda)


5. Teluk Cenderawasih di Kabupaten Teluk Wondama

Keindahan dan kekayaan alam Teluk Cenderawasih membuat tempat ini menjadi obyek wisata yang layak dikunjungi. Banyak hal yang bisa dilakukan di Taman Nasional Teluk Cenderawasih ini seperti Diving, Ski air, memancing, menikmati pantai, sumber air panas, surfing, pengamatan burung dan rusa, dan lain sebagainya.

Pulau Teluk Cenderawasih
Keindahan Pulau di Teluk Cenderawasih


6. Ekowisata di Kabupaten Tambrauw

Kabupaten Tambrauw juga memiliki banyak sekali tempat ekowisata yang bisa dikunjungi seperti pantai, air terjun, birdwatching, keindahan padang hijau di bukit, dan pemandian air panas.


7. Air Terjun di Fakfak

 Air terjun menjadi salah satu destinasi hijau di Papua yang sangat menarik untuk dikunjungi. Di Fakfak, banyak air terjun yang indah dan seperti memiliki tangga. Airnya sangat jernih dan suasananya juga tenang.


Air Terjun Ubadari
Air Terjun di Kali Ubadari

Sebenarnya banyak sekali tempat ekowisata yang layak untuk dikunjungi. Semua ada di Papua, dari air terjun, lembah, bukit, pegunungan, hutan, melihat satwa, laut, dan lain sebagainya.


Perilaku Pengunjung Yang Memperhatikan Kelestarian Lingkungan

Pengunjung atau wisatawan yang datang ke Papua dan ingin menikmati destinasi hijau harus mempertimbangkan perilaku-perilaku yang ramah lingkungan. Mereka harus ikut bertanggung jawab dalam menjaga kelestarian lingkungan bersama masyarakat adat yang ada di dalamnya. Jadi, destinasi hijau ini tidak hanya hijau saja obyek wisatanya tetapi juga perilakunya.


Beberapa perilaku pengunjung yang ramah lingkungan menurut beberapa narasumber dalm Virtual Blogger Gathering bersama EcoNusa,


1. traveler harus jaga kebersihan. Jangan bawa sampah dari luar agar Raja Ampat tetap indah.


2. pengunjung tidak menginjak karang sehingga karang tetap terjaga.


3. Tidak berperilaku yang menakuti burung di kampung Arfak sehingga burung tetap menari.


4. Adanya Covid-19 memaksakan pengunjung pada hal-hal baru yang harus diikuti, seperti mematuhi persyaratan kesehatan yang ditetapkan.


Dengan perilaku tersebut, jika hutan tetap terjaga, destinasi hijau ini bisa dinikmati semua orang di Indonesia juga dunia tanpa melupakan kelestarian alam, flora dan faunanya. Tentunya, jika destinasi hijau dalam pengembangan ekowisata ini terus berjalan seiring dengan kelestarian alam, maka dapat membantu peningkatan ekonomi masyarakat lokal.


Salah satu hal yang dapat dilakukan oleh pengunjung untuk mengembangkan ekonomi masyarakat lokal adalah memilih homestay yang didirikan masyarakat lokal sebagai tempat penginapan. Beberapa masyarakat suku di Papua memilih membuka usaha dengan membangun homestay bagi wisatawan.

Kenapa homestay?

1. Homestay yang dibangun ramah lingkungan seperti yang dikatakan oleh Pak Christian, seorang kepala asosiasi Homestay Papua. Bahan yang digunakan tidak samai merusak lingkungan.


2. pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan masyarakat suku Papua.


3. Pengunjung dapat merasakan makanan khas yang dibuat langsung oleh orang lokal.


4. Pengunjung dapat merasa lebih dekat dengan suasana alam Papua.


Sampai saat ini, wisatawan yang datang ke Papua, termasuk Papua Barat sudah ada yang memanfaatkan Homestay sebagai tempat menginap. Meskipun begitu, pengembangan homestay bagi masyarakat lokal tak terlepas dari tantangan-tantangan yang dihadapi oleh pemilik homestay.


Tantangan Mengembangkan Homestay

Menurut Pak Christian, tantangan pengelolaan homestay di Papua, khususnya Raja Ampat, Papua Barat, adalah :

1. Kurangnya pemahaman bahasa inggris bagi masyarakat lokal

Seperti dalam video yang saya tonton dalam Youtube Econusa, beberapa penduduk mengatakan jika mereka tidak bisa bahasa Inggris, mereka harus menyewa Guide yang akan mengeluarkan uang banyak. Jadi, sebagian kecil mengikuti les bahasa inggris sehingga mereka bisa berkomunikasi dengan pengunjung mancanegara. Dengan begitu pengeluaran akan terbatas.


Menurut saya, pemerintah daerah harusnya bisa menjadi pihak yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasa inggris para pengelola homestay, misalnya dengan mengadakan pelatihan bahasa inggris khusus pengelola homestay yang dibiayai dari APBN atau APBD.

2. Bersaing dengan banyak resort yang harganya selalu turun

Bayangkan homestay yang sudah murah masih harus bersaing dengan resort yang juga menurunkan harganya. Otomatis, pengunjung akan memilih resort dengan fasilitas yang lebih lengkap. Padahal resort punya kelas tersendiri, harga dan fasilitas tersendiri. Pelayanannya pun tidak sama karena sesuai dengan harganya. Kalau sudah begitu, ekonomi masyarakat lokal akan menurun.


Pendapat saya tentang poin ini adalah seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan dalam menentukan batas minimal harga dan fasilitas yang harus ditetapkan pada resort sehingga secara tidak langsung melindungi kehidupan masyarakat lokal yang memiliki usaha homestay.

3. Kurangnya fasilitas dive center dan alat snorkeling yang berpengaruh pada wisatawan yang akan datang 

Biasanya homestay yang memiliki dive center akan banyak didatangi oleh wisatawan. Namun, tidak semua homestay memiliki dive center karena tidak banyak orang yang memiliki pemahaman tentang dive center.


Lagi-lagi ini adalah saran saya bahwa pemerintah daerah harus menjadi kail yang menangkap umpan karena memang Pemerintah Daerah ikut bertanggung jawab dalam pengembangan ekowisata ini. Kebijakan yang dilakukan bisa dengan mengadakan pelatihan dive center bagi pengelola homestay atau masyarakat lokal yang berada dekat di homestay, dan menyediakan sarada penunjang dasar untuk kegiatan diving. Memang, pada akhirnya pemerintah daerah harus mengajukan anggaran ke pusat. Namun, memang begitulah upaya dalam pengembangan destinasi hijau berbasis ekowisata dan pengembangan masyarakat lokal Papua.


Harapannya, dengan memfasilitasi masyarakat lokal untuk pengembangan homestay, maka banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang datang berkunjung. Dampaknya, kesejahteraan masyarakat meningkat, pengembangan ekowisata juga berkembang bahkan terkenal di dunia, dan pastinya pendapatan daerah (PDB) juga akan meningkat.


Bagaimana agar pengembangan ekowisata Papua bisa mendunia?

Menurut Kak Alfa Ahoren, seorang anak muda Papua, mengatakan cara yang dilakukan agar Papua tetap hijau dan mendunia adalah :


1. Menjaga ekosistem keanekaragaman hayati agar tetap ada sampai anak cucu bisa melihat cendrawasih, anggrek, dan ekosistem endemic.


2. Menjaga tanah papua agar tetap lestari. Papua sangat kaya dengan flora dan fauna. Hutan papua sebagai rumah bagi flora dan fauna. Kalau hutan ditebang maka kita tidak melihat hutan yang indah, ekosistem flora dan fauna yang khas di mata dunia. Tak hanya flora dan fauna, tapi juga orang Papua. Orang papua hidup berdampingan dengan alam. Apa yang dilakukan masyarakat Papua sangat tergantung dengan alam. Jika alam hancur, maka penduduk juga akan 'hilang'. Tempat tinggalnya juga akan hilang.


3. Tidak menebang pohon sembarangan


4. Mencintai keanekaragaman hayati


5. Tidak merusak lingkungan saat berkunjung. Pengunjung harus menghargai tradisi budaya setempat dan ekosistemnya. Misalnya saat ke pgunungan Arfak, bagaimana kehadiran pengunjung tidak mengusik burung cenderawasih.


6. Mulai dari diri sendiri untuk menunjukkan empati pada lingkungan.


Dan paling penting dan paling menentukan adalah kebijakan pemerintah daerah dan nasional untuk tetap menjaga kawasan hutan Papua dan tidak memenuhi kepentingan tertentu yang mengkonversi hutan menjadi perkebunan seperti mengubah tempat tinggal burung Cenderawasih menjadi kepala sawit.


Jika hutan terus berkurang maka tak mungkin Papua menjadi destinasi hijau yang mendunia.

****


Betapa senangnya karena saya mendapat kesempatan mengikuti virtual blogger gathering bersama EcoNusa dan Blogger Perempuan Network tanggal 7 Agustus 2020 lalu. Gathering ini diisi oleh narasumber :


1. Bustar Maitar, CEO EcoNusa.

2. Christian Sauyai, Ketua Asosiasi Homestay Raja Ampat

3. Alfa Ahoren, perwakilan anak muda Papua.


Acara ini dipandu oleh Mbak Jeni Karay, seorang Papua influencer Social Media.

 

Dari virtual blogger gathering tersebut, saya memperoleh banyak sekali pengetahuan tentang Papua Destinasi Hijau, Ekowisata di Papua, keunikan hewan endemik Papua dan perilaku wisatawan saat berkunjung ke Papua yang menjaga kelestarian lingkungan.


Tak hanya itu, saya mendapat hampers berisi totebag, notebook dan kopi Wamena.


Kalian tahu tidak dengan kopi Wamena? Kopi wamena tumbuh di ketinggian 1600 dpl, bisa tumbuh subur tanpa menggunakan bubuk kimia atau kopi organic. Proses penanaman kopi Wamena dengan menggunakan alat tradisional tanpa alat modern. Rasanya pun berbeda dan digemari masyarakat. Di Papua, daerah penghasil kopi terbaik adalah di Nabire dan Wamena.


Saya juga dapat resep untuk mengolah kopi tersebut. Saya mencoba membuat Oatmeal Latte karena dasarnya saya memang suka susu dan oatmeal. Jadi perpaduan ini cocok bagi kalian yang tidak begitu menyukai kopi bercita rasa kopi kental tapi suka dengan susu dan oatmeal.


View this post on Instagram

Alhamdulillah saya sempat merasakan kopi asli Wamena dimana salah satu kopi terbaik di Papua. Yang saya olah menjadi oatmeal latte. . Kopi ini ditanam oleh masyarakat lokal Papua dengan cara tradisional. . Papua saat ini memang menerapkan konsep #papuadestinasihijau yang merupakan konsep pengembangan pariwisata yang ramah lingkungan. . Selain itu, keberadaan homestay sebagai salah satu pendukung sektor pariwisata menjadi tantangan bagi masyarakat lokal. . Homestay yang dibangun masyarakat lokal harus bersaing harga dengan resort di Papua Barat padahal jelas kelas resort dan homestay sudah berbeda. Namun, resort berani menurunkan harga yang tidak jauh berbeda dengan resort. Pada akhirnya, tingkat preferensi pengunjung terhadap homestay menjadi rendah. . Semua itu dibahas saat saya mengikuti blogger gathering via Zoom yang diadakan oleh @econusa_id dan @bloggerperempuan . Teman2 juga bisa menonton rekamannya gathering ini di Youtube @econusa_id . #econusaxbpn

A post shared by Lita Lestianti (@ly_lestem) on



Yuk, dapatkan informasi sangat menarik mengenai Papua melalui media sosialnya!

Instagram EcoNusa : https://www.instagram.com/econusa_id/

Youtube EcoNusa : https://www.youtube.com/c/HutanPapuaTv/videos

Website EcoNusa : https://www.econusa.id/

Facebook EcoNusa : https://www.facebook.com/econusa.id/



Tambahan Referensi :



http://www.wondamakab.go.id/?page=detail_page&id_page=8

https://wisato.id/wisata-alam/10-tempat-wisata-di-tambrauw/

https://www.idntimes.com/travel/destination/sinta-listiyana-2/pesona-fakfak-papua-barat-c1c2/7
Read More

Follower