Menikmati Keindahan Menara Eiffel dari Champs-de-Mars, Ruang Terbuka Hijau di Paris Yang Indah

No Comments
Tempat wisata di Paris itu banyak sekali. Kalau cuma satu hari di Paris rasanya kurang banget tapi nggak bisa dipungkiri kalau obyek wisata di Paris itu mahal-mahal. Apalagi kalau kalian ke sana mencari oleh-oleh barang branded. Kalau cuma satu hari memang lebih baik naik ke menara Eiffel terus duduk-duduk atau berjalan-jalan di Champs-de-Mars, ruang terbuka hijau di antara Eiffel dan Ecole Militaire, menikmati Eiffel dari berbagai sudut.

Champ-de-Mars memberi kenangan tersendiri buatku. Banyak kegiatan yang bisa dilakukan di Champ-de-Mars ini yang aku ceritakan selanjutnya. 

Champ-de-Mars dari menara Eiffel (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars

Champ-de-Mars adalah salah satu ruang terbuka hijau terbesar di Parisyang berada di antara menara Eiffel dan École militaire. Luasnya mencapai 24 hektar. Taman ini dibangun sejak tahun 1770. Saking luasnya kalian harus kuat jalan kaki. 

Akses

Untuk bisa mengunjungi menara Eiffel dan Champ-de-Mars, teman-teman bisa naik métro line 6 dan turun di Trocadéro, Passy, Bir Hakeim atau Dupleix. Kalau mau turun di stasiun yang dekat dengan menara Eiffel turun di Trocadéro. 
Kalau mau lihat champ-de-mars maka turunnya bisa di ecole militaire. Kalau aku sendiri lebih suka nani.

Dulu masih bisa turun di stasiun Champ de Mars-Tour Eiffel naik kereta jarak jauh RER C tapi katanya sekarang sudah ditutup. Entah bener atau nggak? 

Apa yang dilakukan di Champ-de-Mars?

Banyak hal yang bisa dilakukan di champ-de-Mars. Ini beberapa hal yang aku lakukan selama di Paris.

Piknik

Taman ini cocok untuk piknik. Tanahnya lebih lapang dan hijau. Beberapa pengunjung biasa duduk-duduk di taman ini tanpa alas lagi. Makanan dan minuman dikeluarkan. Burung-burung merpati terbang ke sana-kemari. Meninggalkan jejak kotoran yang bisa diketahui manusia.


Temam-temanku mulai menyantap makanan dan minuman yang enak. Sedangkan kondisi tubuh aku masih belum 100%. 

Di musim panas, duduk-duduk di taman ini memang menyenangkan. Meski hawanya agak nyelekit di kulit. Musim dingin pun tidak mungkin karena hawanya dingin. Paling enak memang saat musim semi karena udaranya tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas.

Pertama kali aku melihat Eiffel, aku dan teman-teman duduk-duduk di Champ-de-Mars. Eiffel berdiri dengan megahnya di dekat kami. Kami tidak duduk dekat kaki menara tapi saat di foto, kaki menara cukup jelas terlibat. Sayangnya saat itu kepalaku lagi pening. Jadi tidak terlalu bisa menikmati. 

Banyak pengunjung yang juga melakukan piknik di Champ-de-Mars dengan membawa makanan. Mereka duduk sambil baca novel, atau sekedar melihat orang berlalu lalang.

Kumpul bersama teman

Kalau pun tidak membawa makanan, kita bisa hanya duduk-duduk berkumpul bersama teman, pasangan atau kacang. Ya hampir sama kayak piknik tapi di sini kita bisa berkumpul untuk tujuan tertentu.

Jadi setelah beberapa bulan di Paris, seorang desainer pakaian dan penyanyi terkenal sedang pergi ke Paris. Ngga tau gimana yaa... para mahasiswa berkumpul. 

Kita di sana melakukan permainan games. Yang aku ingat, mbak Dian Pelangi membuat permainan memakai hijab. Siapa yang tercepat akan membawa hadiahnya.

Saat lomba dimulai, aku melilitkan pashmina warna-warni langsung ke kepala peserta.

Eh alhamdulillah banget. Aku bisa memenangkan lomba dan mendapat alat kosmetik dari Wardah dan hijab pashmina dari Dian Pelangi. Hijab itu sering aku pakai selama kuliah di sana.

Setelah itu kami berfoto bersama. Hehe.

Nonton orkestra 14 Juli

Yang paling berkesan menurutku saat duduk-duduk di Champ-de-Mars adalah bisa nonton orkestra saat perayaan Bastille Day 14 Juli. Ibaratnya hari kemerdekaan Prancis meski tidak ada penjajahan.

Pengalaman ini tidak bisa aku dapatkan tanpa izin dari Allah. 

Aku ingat banget, saat itu masih puasa ramadhan. Sedangkan orkestra itu dimulai sejak siang hingga malam kemudian berlanjut dengan kembang api di Eiffel.

Teman Indonesiaku qadarallah bisa mendapatkan tiket vip. Jadi kami bisa duduk di bagian depan dekat dengan panggung orkestra yang ada di kaki Eiffel.

Teman perjuangan (dok. Pribadi)

Kami masih puasa donggg di bawah terik matahari musim panas (dok. Pribadi)

Dari siang, vip udah ramai banget (dok. Pribadi)

Buka puasa jam 9.30 malam (dok. Pribadi)

Nonton Orkestra (dok. Pribadi)

Suasana magrib (dok. Pribadi)

Mulai malam (dok. Pribadi)

Kalau kami tidak mendapat tempat duduk vip, kemungkinan kami akan berebut tempat duduk di bagian belakang. Meskipun di atas rerumputan tapi pengunjung Eiffel ini sangat banyak. 

Saat siang terik. Sekitar jam 3 siang kami sudah tiba di tempat. Puasa ramadan jadi tidak begitu terasa. Ketika maghrib tiba sekitar pukul 9, kami segera buka puasa. Tak lama setelah itu, langit semakin gelap, lampu-lampu Eiffel terus menyala. Panggung orkestra pun semakin terang oleh pencahayaan malam. MaasyaAllah keren banget.

Ketika orkestra sudah selesai. Tiba-tiba suasana hening. MC kemudian membawakan bait-bait syair perjalanan Prancis hingga terjadi Bastille Day sampai saat ini. Seketika Eiffel menjadi terang dengan lampu-lampu yang terang berkerlap-kerlip. Kemudian kembang api keluar berkejar-kejaran di langit. Meramaikan suasana malam itu. Semua penonton riuh melihatnya. Aku asyik merekamnya dengan kameraku.



Momen ini hanya pernah terjadi saat 14 Juli saja. Aku pernah menunggu kembang api di Eiffel saat tahun baru. Rela aku tidak tidur demi pergantian tahun eh malah tidak terjadi apa-apa. Hanya lampu kerlap-kerlip saja. Haha. 

Berfoto-foto

Tempat ini asyik banget buat berfoto di empat musim. Paling seru adalah saat aku berburu foto menara Eiffel saat musim dingin.

Salju turun tepat saat ulang tahunku di bulan maret. MaasyaAllah. Dan turunnya cukup deras. 

Aku menahan dingin saat air salju menembus sepatuku. Jaketku yang tebal juga ternyata masih kurang menahan dinginnya salju.

Aku berjalan hingga di depan Champ-de-Mars mendekati École Militaire yang tertutup salju. Semua menjadi putih. Tak ada hijau yang menutupi taman seperti biasanya. 

Aku berfoto di jalan pinggir taman bersama teman-temanku dengan latar menara Eiffel yang samar tertutup kabut salju. Bukan aku dan temanku saja yang mengejar foto Eiffel saat bersalju. Beberapa orang meski tak banyak juga tak ingin luput mengabadikan momen yang jarang terjadi di Paris. Yup, memang jarang sekali salju turun deras di kota besar akibat pemanasan global. Isu itu sudah ada sejak aku tinggal di sana, tiga belas tahun silam.

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. pribadi)

Menahan dingin dari Champ-de-Mars (dok. Pribadi)
 
Champ-de-Mars saat salju berkurang (dok. Pribadi)

Champ-de-Mars, tempat terbaik menikmati Eiffel

Bagiku, Champ-de-Mars punya kenangan sendiri. Tempat terbaik untuk menikmati Eiffel dan berfoto dengan latar menara Eiffel. Momen Bastille Day 14 Juli juga menjadi momen yang nggak akan kulupa. Aku bisa melihat Eiffel menyala dengan riuhnya kembang api. Jangan kecele, karena saat tahun baru tidak ada kembang api di Eiffel.
Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower