Tampilkan postingan dengan label Urban & Regional Planning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Urban & Regional Planning. Tampilkan semua postingan
Perkuliahan di tata kota (planologi) mengharuskan mahasiswanya melakukan studi di luar kota, seperti yang aku rasakan. Di Fakultasku, jurusanku lah yang paling terkenal suka ‘jalan-jalan’ alias ‘survey’! jurusan lain sih menganggap itu enak banget bisa jalan-jalan. Enak sih enak, tapiiii... ngeluarin duit lumayan banyak buat survey dan laporan. Laporan juga ngga nanggung-nanggung, padahal udah disingkat masih aja tuebel banget. Bisa sampai 400an lembar tuh.

Kalian kalau pilih kuliah di perencanaan wilayah kota (PWK) harus siap-siap mengeluarkan uang buat beli kertas, printer yang 'tangguh' dan kopi buat melekan. Haha. Pastinya laptop dengan spek tinggi untuk software pemetaan seperti AutoCAD dan ArcGIS.

Pengalaman sih kalau pas membuat peta dengan software itu berat, file juga besar apalagi ArcGIS. Belum lagi kalau ada mata kuliah Perancangan Kota yang harus membuat desain 3D bangunan-bangunan.

Bahkan kami harus prin peta di kertas A0 terus petanya diwarna sesuai legendanya secara manual biar murah. Mewarnainya bisa bermalam-malam. 

Survey perumahan
Studio paling epik haha ngga tau sekarang masih gini gak

Aku sekarang mikir, kenapa sih dulu itu prin kertas sampai ratusan lembar. Databasenya yang banyak sebenarnya. Coba dulu aku buat lebih hemat gitu. Entah font dikecilin, jarak agak dimepetin. Padahal prin kertas sebanyak itu bukan bagian dari pelestarian lingkungan mungkin bisa diringkas ya tulisannya bahkan sebenarnya yang penting itu analisisnya.

Itu dulu yaa.. nggak tahu sih kalau sekarang. Harusnya sih sekarang udah lebih aware sih sama lingkungan apalagi perubahan iklim semakin kerasa.

Nggak cuma siapkan uang untuk beli kertas dan printer, kalian juga siapkan uang untuk survey karena survey itu butuh uang cukup banyak ya meskinya patungan sih. 

Rencana finansial memang penting banget.

Survey pertama sih di malang-malang aja (waktu itu studio permukiman kota atau APPK). 

Satu kelas dibagi menjadi beberapa sektor itu. Nanti setiap sektor melakukan survey sesuai yang sudah didata. 

Aku dan teman-teman melakukan survey satu kelurahan sesuai sektornya masing-masing. 

Seperti sektor perumahan tugasnya mendata rumah-rumah, kepemilikan, jarak antar rumah, dll.

Sektor jaringan jalan tugasnya mendata jenis jaringan jalan, status jalan, lebar jalan, trafik lalu lintas, fasilitas jaringan jalan, dll.

Sektor air bersih tugasnya mendata sumber air bersih, jumlah penduduk yang pakai air pdam, air sumur, dll.

Sektor persampahan dan sanitasi yang mendata tentang jalur petugas persampahan, lokasi TPS, lokasi TPA, proses pengolahan sampah, dll. Dan aku dapat sektor persampahan. Sampai sekarang sampah tuh kayak ngga lepas dari blog ini, seperti food waste, limbah minyak jelantah.

Survey persampahan
Survey sampah. Bauuu

Sektor drainase mendata tentang jenis drainase, lebar drainase, debit air hujan, dll. Sektor drainasr ini terkenal paling susah karena harus tergantung pada alam. Saat hujan, kelompok sektor ini harus survey ke drainase. 

Di akhir semester, setiap perwakilan sektor akan persentasi di depan para perwakilan perangkat desa. 

Lucu banget pas persentasi ini pas giliranku yang waktu itu juga jadi koordinator studio. Alu ngantuk banget. Pas aku persentasi aku menjelaskan sambil ngantuk. Haha. Aku nggak begitu sadar karena aku merasa mataku sudah 5 watt. Pas menjelaskan pin mungkin kayak orang ngigau. Wong sampe dosenku bilang "presenternya ngantuk." Wkwk

Survey kedua untuk mata kuliah Perencanaan Desa Terpadu di desa terpencil di kabupaten Malang yang notabenenya jauh dari pusat kota dan di bawah kaki gunung. 

Namanya desa Ngajum. Ini enak banget survey di sini. Udara dingin, sejuk, segar. Pemandangan oke. Tenang banget. Dikasih makan enak-enak sama yang punya rumah. Kita tinggalnya di rumah penduduk. Tapi ya itu... sampai dikira ibuku mau ikut pesugihan. Hahaha. 

Survey ketiga untuk Studio Perencanaan Desa di desa kabupaten Pasuruan. Survey di desa dengan cuaca yang panas. Makanannya juga enak-enak. Makanan pesisir gitu. Yang disurvey terkait sektor yang mendukung perekonomian desa seperti pertanian, perkebunan, perikanan tapi di desa itu aja. Hampor mirip dengan perencaan desa terpadu aebelumnya.

Survey perikanan
Survey Desa naik kapal mau lihat tambak

Survey keempat dan kelima untuk mata kuliah Studio Perencanaan Kota dan Studio Transportasi di kota Madiun. Aku lupa-lupa ingat pas studio ini tuh pas puasa ramadhan apa ya? Mungkin temen2 PWK 06 bisa komen di bawah ya. Cuaca panas tapi kotanya nggak ramai dan sepi. 

Di sini kita survey dua studio sekaligus. Aku inget kami sewa tempat menginap di Madiun di mess pabrik gula Rejoagung. Satu kamar luas diisi orang 15an. Udah kayak di pepes gitu. Haha.

Yang kami survey terkait dengan perdagangan jasa, perumahan, permukiman, pendidikan, perkantoran, fasilitas kesehatan, ruang terbuka hijau, dan infrastruktur.

Sedangkan survey transportasi khusus jaringan jalan, terminal, stasiun, trafik kendaraan. Dari trafik dan lebar jalan bisa diketahui apakah jalan tersebut perlu diperlebar atau nggak. Sayangnya, kenyataannya tergantung politik aja. Hehe.

Survey keenam untuk mata kuliah Studio Perancangan Kota di kota Jogja. Ini juga seneng banget soalnya survey di kota yang didamba-damba para mahasiswa untuk menuntut ilmu. Malioboronya yang terkenal. Sungai Code yang sangat khas. Bahkan Jogokariyan yang terkenal dengan lagunya. MasyaAllah. 

Yang disurvey sih udah lebih detail dan hanya di ruas tertentu, seperti tinggi bangunan, lebar bangunan, lebar jalan, pepohonan, reklame, telekomunikasi, listrik, air bersih, pokoknya yang ada di ruas itu. Nanti hasilnya bikin rencana bangunan dan lingkungan dalam bentuk 3D.

Anak PWK survey jalan
Kelompokku survey jalan di Yogya

Paling bikin gedek-gedek kepala. Kami dari Malang ke Yogya naik motor lewat jalur selatan ramai-ramai. Aku malah minta naik motor sendiri. Ya Allah kok bisa seberani itu. Akhirnya bukan aku sih yang gonceng.  Beberapa teman yang lain naik bus dan motor dinaikkan truk. Sementara yang lain naik motor sendiri karena nggak muat truknya.

Survey ketujuh dan yang terakhir untuk mata kuliah Studio Perencanaan Wilayah di Gresik. Survey ini paling 'soroh' karena panas banget ya di daerah pesisir. Capek juga karena jarak tempat menginap ke tempat survey cukup jauh. Dan kami aurvey nya ke tempat UMKM gitu. Kalo wilayah udah lebih ke perekonomian yang mendukung wilayah yang disurvey.

Studio Perencanaan Wilayah di gresik
Gresik banyak industri jadi cuma foto2 aja

Kami harus keliling kabupaten Gresik yang luas. Kalau studio sebelumnya kan lingkupnya kecil hanya di ruas jalan tertentu atau kelurahan tertentu. Kalau studio wilayah lingkupnya lebih luas jadi 1 kelompok dapat 1 kabupaten.

Nah karena udah pernah di survey, akhirnya skripsiku nyantol di Gresik, tepatnya di kecamatan Driyorejo. Salah satu sobat dan perjuanganku ngambil di Ujungpangkah, Gresik.

Ni pengalaman waktu di pesisir Ujungpangkah. Kita berdua ditemani pemilik perahu dan mbak Rosa sebagai pemilik tempat tinggal. Kita pergi ke tanah oloran di paling ujungnya Ujungpangkah. Padahal warga ujungpangkah sendiri jarang sekali yang pergi kesana. Oiya, pengertian tanah oloran adalah tanah yang terbentuk dari sedimentasi yang ada di muara sungai. Selebihnya gitu deh pengertiannya.

Sekian ya cerita pengalaman survey jadi mahasiswa PWK. Sebenarnya seru banget sih jalan-jalan mulu. Secara ya masih mahasiswa masih doyan jalan-jalan. Ada yang tertarik kuliah di PWK? Atau ada yang bingung jurusan PWK kerjanya apa? Kalau itu dibahas nanti aja deh ya.

Read More
"Kamu ikut tidak ke ruang bawah tanah?" ajak seorang teman saat kami berkunjung ke sebuah warisan cagar budaya di tengah Kota Semarang.

Bangunannya yang besar dan dikenal sebagai tempat pembantaian pada jaman kependudukan Jepang itu cukup membuat saya agak merinding saat teman menawarkan masuk ke terowongan bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat pembantaian pribumi dan orang Belanda.

Kesan Melihat Lawang Sewu

Entah mengapa kesan yang terlihat dari bangunan tua itu adalah menyeramkan padahal kemegahannya cukup membuat siapa pun berdecak kagum saat melihat bangunan itu. Mungkin karena sudah terlanjur banyak cerita 'menarik' saat pengunjung datang ke bangunan dengan pintu yang konon katanya mencapai seribu itu - hingga disebut sebagai Lawang Sewu atau pintu seribu-. Mungkin juga karena pengalaman orang yang melihat penampakan dipertontonkan pada salah satu acara stasiun televisi.


Dari atas, saya melihat terowongan yang gelap melalui pintu masuk yang turun ke bawah. Sambil menelan ludah, saya membayangkan apa yang di dalam. Antara percaya dan tidak percaya akan cerita-cerita tersebut, saya pun menerima tawaran teman saya. 

Setelah membayar tiket masuk ke ruang bawah tanah - Saya lupa harganya berapa. Sepertinya antara 10.000 hingga 25.000 -, kami pun memakai sepatu boot dan membawa senter. 

Seorang pemandu berjalan di depan kami dan mempersilakan kami masuk ke dalam terowongan. Gemericik air sudah terdengar saat saya menuruni tangga. Mata saya mulai beradaptasi dengan terowongan gelap yang hanya disinari senter. Bau pengap cukup menyesakkan dada.

Pemandu sudah memperingatkan kami dengan jalan yang licin sehingga kami perlu berhati-hati. Pemandu bercerita tentang sejarah terowongan bawah tanah dulu. 

Yang masih saya ingat apa yang diceritakan oleh pemandu itu adalah bahwa pada jaman pendudukan Belanda, terowongan tersebut untuk tempat saluran air. Apalagi Semarang kan rawan banjir rob sejak jaman dulu jadi memang diperuntukkan untuk itu. Dan Lawang Sewu memang digunakan untuk kantor perkeretaapian. 

Kemudian saat Jepang datang, terowongan bawah tanah ini digunakan sebagai tempat penjara untuk para pribumi dan orang Belanda. Mereka dibiarkan berdiri di penjara berdiri berdesak-desakan sampai tidak bisa bergerak dan ditutup teralis. Bahkan dengan kondisi banyak air. Pemandu menunjukkan sebuah penjara berdiri yang ukurannya hanya sekitar 1 X 2 meter. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana tersiksanya para terhukum di ruangan menyesakkan itu. 

Terowongan itu sepanjang hampir satu kilometer membuat saya hampir menyerah di tengah-tengah perjalanan. Entah kenapa saya merasa ingin menangis. Rasa sesak yang saya rasakan membuat saya ingin kembali ke pintu masuk. Namun, itu tidak mungkin. Jadi saya terus bertanya kepada pemandu kapan sampai. Saya tak sabar ingin segera mengakhiri perjalanan terowongan yang hanya berisi pipa, air, tembok, dan penjara.

Akhirnya, tiba juga saya dan teman saya di ujung terowongan itu. Saya dan teman-teman lega sekali karena sudah sampai. Setelah mengucapkan terima kasih dan melepas boot, kami pun berkeliling dan berfoto-foto di Lawang sewu.

Saya sangat terkesan dengan bangunan peninggalan Belanda yang didesain dengan sangat komprehensif. Mulai dari ketinggian bangunan (jarak antara lantai dan atap) sehingga membuat sirkulasi udara yang membuat tidak terlalu panas meski berada di daerah tropis. Jendela dan pintu dibuat tinggi. 

Lawang Sewu


Di jaman itu,  bahan-bahan untuk membangun Lawang Sewu pada bangunan pertama menggunakan bahan yang diimpor dari Belanda. Kemudian bangunan selanjutnya menggunakan bahan lokal karena kesulitan mengimpor bahan dari Belanda. 

Bangunan ini katanya juga tidak menggunakan semen, tapi adonan bligor (campuran pasir, kapur, dan batu bata merah). Katanya bligor ini membuat bangunan tidak mengalami retak, lebih awet dan mudah menyerap air sehingga ruangan terasa sejuk. Konstruksi pada atap juga tanpa besi sehingga beban tidak terlalu berat.

Belum lagi di ruang utama ada kaca patri setinggi dua meter dengan simbol kota dagang Belanda, gambar Ratu Belanda, Dewi Fortuna, Dewi Sri, Tanaman dan hewan yang merupakan kekayaan alam bangsa Indonesia. Bayangkan, betapa mahalnya biaya pembangunan Lawang Sewu pada jaman itu.


Fungsi bangunan Lawang Sewu berubah dari waktu ke waktu. Pertama, digunakan untuk kantor NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) atau kantor administrasi perkeretaapian. Kedua, saat pendudukan Jepang, Lawang sewu digunakan untuk kantor militer Jepang. Ketiga, setelah kemerdekaan, gedung ini digunakan untuk kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI). Keempat, gedung Ini dijadikan Kantor Badan Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro). Kelima, gedung ini digunakan untuk Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Perhubungan Jawa Tengah sampai 1994. 

Setelah itu, gedungnya tidak digunakan sampai sekarang. Waktu saya kuliah di Semarang, saya mendengar isu kalau gedung ini mau digunakan untuk hotel. Namun, rupanya rencana itu tidak berhasil.

Sampai saat ini, setidaknya ketika saya melanjutkan kuliah S2 di Undip tahun 2011, Lawang Sewu masih dimanfaatkan untuk pariwisata saja. Belum dimanfaatkan untuk bisnis. 

Tidak hanya pada bangunan Lawang Sewu saja, bangunan bersejarah lain di Semarang atau pun di kota-kota lainnya juga mengalami permasalahan yang serupa. Belum banyak bangunan cagar budaya itu dimanfaatkan dengan baik.

Banyak faktor penghambat dalam pengelolaan bangunan cagar budaya baik dari pemerintah maupun masyarakat sendiri seperti:

- biaya yang besar dalam merawat dan melestarikan bangunan. Memang sebagian besar dilema akan kehadiran bangunan cagar budaya Indonesia. Bahan-bahan berkualitas yang digunakan sejak membangun bangunan itu membuat perawatannya juga membutuhkan biaya yang cukup besar pula. 

- kurangnya kesadaran dari berbagai pihak untuk melindungi dan melestarikan bangunan cagar budaya.

- masih banyak yang menganggap bahwa bangunan cagar budaya itu kurang menguntungkan dari segi bisnis.

- pajak yang besar jika ingin mengelola bangunan cagar budaya. 
Padahal bangunan bersejarah itu bisa menjadi tempat wisata yang mengasyikkan dan instagramable. Coba perhatikan foto-foto bangunan tua yang ada di luar negeri, bangunan-bangunanya itu menjadi ikon kota mereka. Sama seperti Lawang Sewu yang menjadi ikon kota semarang. 

Tidak hanya untuk berfoto, bangunan tua Lawang Sewu sebagai bukti bahwa dulu pernah terdapat perjuangan yang besar untuk merebut kemerdekaan Indonesia melawan penjajah. Harusnya kita cukup berbangga hati karena memiliki bangunan kokoh peninggalan jaman Belanda diantara bangunan - bangunan tua yang sudah hancur termakan usia.

Bagaimana kalau sampai Lawang Sewu ini tidak terawat dan hancur musnah serta tidak dibangun lagi. Pasti banyak yang bersedih hati karena merasa kehilangan Ikon utama kota Semarang yang fenomena itu. Makanya Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan Cagar Budaya oleh pemerintah.

Alasan Lawang Sewu ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya adalah:

1. Usianya sudah 1 abad lebih. Sedangkan menurut UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, kriteria bangunan cagar budaya adalah usianya lebih dari 50 tahun.

2. Menyimpan nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa bangunan tersebut sebagai saksi sejarah dalam perebutan kekuasaan dan saksi pembantaian para pejuang bangsa Indonesia.

Jika bangunan cagar budaya tersebut musnah atau kehilangan sebagian besar unsur atau kehilangan bentuk dan wujud aslinya, maka bangunan itu tidak lagi ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. 

Makanya sebagai masyarakat yang ikut menikmati kehadiran bangunan bersejarah itu harusnya ikut serta menjadi bagian dalam pelestarian bangunan bersejarah Lawang Sewu. 

Masyarakat yang dimaksud tidak hanya sebagai pengunjung bangunan bersejarah tapi juga pemilik bangunan bersejarah dimanapun berada.

Saya memberikan beberapa pandangan bagi masyarakat untuk upaya pelestarian cagar budaya. Tidak hanya Lawang Sewu saja tetapi juga untuk cagar budaya secara umum. 

Upaya Pelestarian Bangunan Bersejarah



Upaya - Upaya pelestarian bangunan bersejarah atau cagar budaya yang bisa dilakukan masyarakat adalah :

1. Menjadi bagian dari komunitas masyarakat peduli sejarah. Sudah banyak komunitas yang cinta sejarah yang sangat peduli dengan segala hal yang terkait dengan sejarah maupun bangunan bersejarah. Adanya komunitas ini menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap bangunan bersejarah sekaligus sebagai kontrol terhadap kebijakan pemerintah dan perilaku masyarakat umum baik pemilik maupun pengunjung. 

2. Melakukan kampanye peduli bangunan bersejarah. Kampanye ini bisa dilakukan oleh komunitas peduli bangunan bersejarah maupun dari masyarakat umum. Di era teknologi ini media sosial adalah media yang tepat untuk kampanye peduli bangunan bersejarah. 

3. Memberi fungsi yang baru atau memanfaatkan bangunan bersejarah dengan aktivitas sosial budaya dan pariwisata. Agar tidak terlihat mati tanpa aktivitas, maka masyarakat bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya Lawang Sewu maupun bangunan bersejarah lainnya untuk melaksanakan kegiatan festival budaya, literasi atau pameran. Asalkan saat penambahan fasilitas tidak menyalahi aturan konservasi dan tidak merusak unsur bangunannya. Dengan adanya revitalisasi bangunan bersejarah maka diharapkan bangunan akan terus hidup. Tentunya dengan diselenggarakannya festival di bangunan bersejarah bisa membantu perekonomian masyarakat maupun untuk membantu pemasukan pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut.

4. Memanfaatkan untuk pengembangan aspek ekonomi atau sebagai lahan bisnis. Di beberapa tempat, bangunan bersejarah sudah dimanfaatkan untuk lahan bisnis, seperti hotel, Cafe maupun restoran. Masyarakat umum yang memang seorang pebisnis bisa memanfaatkan bangunan cagar budaya ini untuk usaha mereka. Apalagi jika ditambah spot - spot untuk berfoto dimana hal tersebut bisa menjadi daya tarik pengunjung.

5. Mengikuti festival budaya atau pameran yang ada di bangunan cagar budaya. Dengan mengikuti festival atau acara yang dilakukan di area bangunan bersejarah maka secara tidak langsung kita menghidupkan suasana bangunan bersejarah tersebut agar tidak terlihat mati. Selain itu, pemasukan dari festival itu bisa menyokong untuk upaya pelestarian cagar budaya.

6. Menjaga kebersihan lingkungan. Upaya ini adalah upaya yang tidak sulit untuk dilakukan. Jangan membuang sampah atau mengotori bangunan bersejarah yang dikunjungi. Tanpa mengotorinya maka kita sudah berkontribusi dalam merawat bangunan bersejarah tersebut agar bertahan lebih lama.

7. Tidak merusak bagian dari bangunan cagar budaya. Kita tahu sendiri merestorasi bangunan bersejarah itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jika masyarakat tidak peduli dan suka merusak bagian bangunan cagar budaya, itu sama saja membiarkan bangunan cagar budaya musnah sedikit demi sedikit. Tidak ada lagi ikon kebanggaan kota.

8. Tidak mencuri barang-barang peninggalan cagar budaya. Mungkin kita tidak mungkin melakukan itu, tapi ada saja loh yang berniat mencuri barang-barang bersejarah itu untuk dijual demi mendapatkan uang lebih. Bahkan di Lawang Sewu ada bagian dari bangunan yang dicuri. Apakah kalian bangga memiliki salah satu unsur bangunan bersejarah yang ternyata dilarang oleh pemerintah? Pencuri itu harusnya mendapat hukuman sesuai dengan UU No. 11 Tahun 2011.

9. Tidak melakukan vandalisme. Meski saya yakin, pembaca blog saya adalah pengunjung bangunan cagar budaya yang taat peraturan.  Namun, saya sangat mengutuk siapa pun yang melakukan aksi vandalisme. Tahukah bahwa vandalisme Itu mengakibatkan kerusakan unsur-unsur bangunan cagar budaya. Bagaimana jika rumah kalian rusak karena perbuatan vandalisme yang orang lain lakukan? Pasti marah, kan? Sama lah seperti bangunan cagar budaya.

10. Mematuhi peraturan saat berkunjung ke tempat cagar budaya. Setiap bangunan cagar budaya akan berbeda-beda peraturannya. Maka usahakan membaca peraturan sebelum atau saat mengunjungi bangunan cagar budaya. Biasanya akan ada larangan memegang benda-benda bersejarah yang dipamerkan karena sentuhan tangan pengunjung bisa menimbulkan kerusakan pada lapisan benda bersejarah tersebut.

Jadi, jangan pernah menyepelekan segala aturan yang ditetapkan dalam bangunan cagar budaya karena semua sudah ada alasannya. Pastinya merawat bangunan tua itu tidak mudah dan membutuhkan biaya yang besar. Kita sebagai masyarakat harus menjaga, melindungi, merawat dan melestarikan bangunan bersejarah di tempat kita masing-masing. Caranya gampang sekali, kan? 

Terus manfaatnya apa melestarikan bangunan bersejarah? 

Pertama, bisa menambah lapangan pekerjaan. Bangunan bersejarah yang dimanfaatkan untuk pariwisata tentu akan menciptakan lapangan pekerjaan baru. Tentu saja itu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Para pemandu, penjual kerajinan tangan, souvenir, penjual makanan, tukang parkir, dan lain-lain. Kalian mau kan membantu masyarakat lain agar keadaan ekonomi meningkat?

Kedua,  mengurangi beban anggaran pemerintah. Jelas, jika masyarakat banyak yang berkunjung ke tempat wisata bangunan bersejarah akan mengurangi beban anggaran pemerintah untuk melestarikan bangunan tersebut karena adanya tiket masuk. Asalkan tidak merusak ya.

Ketiga, menciptakan sarana - sarana baru. Lawang Sewu sebagai ikon kota semarang sangat menarik wisatawan yang datang ke Semarang. Dengan begitu, fasilitas rumah makan, perdagangan dan penginapan akan berkembang juga. Coba kalau tidak ada Lawang Sewu, pasti Semarang jadi sepi. Makanya kita sebagai masyarakat harus melestarikan bangunan cagar budaya.

Ternyata betapa besar ya manfaat yang diberikan kalau kita sebagai masyarakat melestarikan bangunan bersejarah atau bangunan cagar budaya Indonesia. Semua yang kita lakukan ternyata berdampak juga secara langsung maupun tidak langsung untuk kita. Sesuai lah jika saya menyebutnya :

Pelestarian Cagar Budaya itu Dari Kita, Oleh Kita, Untuk Kita

Maka jangan pernah menyepelekan pelestarian cagar budaya Indonesia. Semua ada timbal baliknya.


Selamat menjaga,  melindungi, dan merawat cagar budaya Indonesia.


Ayo, teman-teman ikut partisipasi lomba Blog "Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!"


REFERENSI :
BBC. 2015. Mengapa sulit melindungi bangunan cagar budaya di Semarang? http.s://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/08/150805_majalah_cagarbudaya_semarang

Galikano, Silvia. 2015. Menyingkap Kecerdasan Arsitektur Lawang Sewu. https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20151119195551-269-92834/menyingkap-kecerdasan-arsitektur-lawang-sewu

Minarti, Ria Ari & Sumiyatun. 2016. PERAN DINAS PARIWISATA KOTA SEMARANG DALAM UPAYA MELESTARIKAN GEDUNG LAWANG SEWU SEBAGAI OBJEK WISATA PENINGGALAN BELANDA DI KOTA SEMARANG JAWA TENGAH TAHUN 2011 – 2014. Jurnal HISTORIA Volume 4, Nomor 1, Tahun 2016, ISSN 2337-4713 (e-ISSN 2442-8728).

Zulfikar, M. 2013. Dedy Gumelar: Pelestarian Cagar Budaya Banyak Manfaatnya. https://m.tribunnews.com/nasional/2013/06/14/dedy-gumelar-pelestarian-cagar-budaya-banyak-manfaatnya

Read More


 Pernahkah terbayang bagaimana kehidupan masyarakat yang tinggal dekat dengan Tempat Penampungan Sampah (TPS) atau Tempat Penampungan Akhir (TPA) Sampah?

Dulunya, di wilayah timur kota Surabaya, terdapat kampung yang terkenal kumuh dan dekat dengan eks TPA. Namanya Kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo. Sekarang menjadi Kampung Berseri Astra Surabaya.

Dulu, kondisi bangunan tidak sesuai standar kenyamanan, keamanan, kesehatan dan lainnya. Penyediaan air minum yang terbatas karena tidak ada perpipaan PDAM. Pengelolaan persampahan buruk. Sampah-sampah berserakan. Pengelolaan air limbah buruk. Lingkungan kampung Keputih Tegal Timur Baru terlihat gersang. Tak ada tanaman yang meneduhi lingkungan mereka. 

Wilayah ini terisolasi dari hiruk pikuknya Kota Surabaya. Sebuah kampung yang tak banyak dikenal oleh masyarakat luas, khususnya Surabaya. Penduduknya merupakan golongan prasejahtera dengan mata pencaharian buruh, pemulung, dan lainnya. 

Hingga muncul pertanyaan-pertanyaan dari masyarakat untuk membuat perubahan yang lebih baik pada kampung Keputih Tegal Timur Baru.

Bagaimana agar kampung ini menjadi lebih baik sehingga dikenal orang?

Bagaimana agar orang mau berkunjung ke kampung mereka?

Musyawarah antar warga pun dilakukan. Mereka mulai berembug pada setiap permasalahan penataan lingkungan di Kampung Keputih Tegal Timur Baru. Masyarakatnya sendiri siap menjadi agent of change untuk hidup yang lebih baik.

Seberapa jauh kampung Keputih Tegal Timur Baru bisa menjadi agent of change?

Gapura KBA Keputih


Sampah Tak Lagi Berceceran

Mereka harus memikirkan bagaimana agar masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, bagaimana agar lingkungan mereka bebas sampah, bahkan bisa menghasilkan.

Sebagai daerah yang jauh dari pusat kota membuat petugas sampah dari Dinas Kebersihan tidak mengangkut sampah di kampung mereka. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru, Sukolilo, berinisiatif menyediakan petugas sampah dari kampung mereka. Biayanya diperoleh dari hasil iuran kebersihan warga. Bisa dibayangkan, golongan prasejahtera itu masih harus membayar iuran kebersihan. Mereka tetap berkomitmen untuk membuat lingkungan mereka bersih dan layak dikunjungi.

Tak hanya menyediakan petugas sampah sendiri, masyarakat sudah paham bahwa sampah-sampah yang mereka hasilkan setiap hari masih bisa dijual kembali. Tentunya, ini bisa menambah penghasilan masyarakat.

Mereka belajar mengelola Bank Sampah. Pihak kecamatan melatih mengelola Bank Sampah pada masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru. Awalnya, memang susah untuk memisahkan sampah basah, sampah kering dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Seiring berjalannya waktu, kebiasaan memilah sampah membuat masyarakat tidak lagi kesulitan.

Hasil pemilahan sampah mampu sedikit tambahan pendapatan masyarakat kampung Tegal Timur Baru untuk kebutuhan sehari-hari.

Gayung pun bersambut, PT. Astra International Tbk memberikan bantuan kepada Kampung BERSERI Astra Keputih Tegal Timur Baru Surabaya (Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri),  untuk merenovasi bangunan Bank Sampah yang sudah ada ditambah dengan papan nama Bank Sampah.

Kampung Menjadi Lebih Hijau

Kampung yang dulunya gersang kini disulap menjadi kampung yang asri nan hijau. Awalnya, para masyarakat desa merasa perlu untuk menambah tanaman-tanaman di depan rumah mereka. Mereka membeli tanaman sendiri walaupun hanya tanaman-tanaman kecil. Pot-pot kecil diletakkan di depan rumah masing-masing. Tanaman-tanaman itu pun merupakan hasil swadaya masyarakat.

Kampung yang Asri di Kampung Keputih Tegal Timur Baru



Tak hanya itu, warga bergotong-royong untuk mempercantik kampung dengan memberi pagar dan mengecat bagian pinggir jalanan berpaving, mengecat pot-pot bunga dan pagar bambu di depan rumah.

Tak hanya swadaya masyarakat, PT. Astra International Tbk melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) memberikan bantuan yang berwujud Rumah Toga dan beberapa pot-pot untuk diletakkan di depan rumah warga. Tanaman merambat Markisa juga ditanam di depan rumah-rumah warga.

Tanaman Markisa Meneduhi Jalanan di Kampung Keputih (dok.pribadi)

Berdasarkan data dari Khasanah (2015), pembangunan yang Astra laksanakan dari Juni 2013 hingga akhir 2014 berupa pengembangan pusat pembibitan tanaman dengan pemberian 8100 bibit tanaman produktif seperti Cabe, Terong, dan Tomat, dan bibit tanaman hias seperti Markisa dan Anggur.


Air Terbatas, Bukan Alasan Untuk Menyerah

Masalah tak hanya selesai sampai penyediaan vegetasi saja tapi masyarakat mengalami kesulitan air untuk menyirami tanaman. Masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru berada di daerah yang sulit dijangkau dengan air bersih. Kualitas air pun kurang bagus. Sebenarnya ada Master Meter dari PDAM masuk ke kampung tapi sayanganya debitnya terlalu kecil sehingga saat pagi dan sore masyarakat tidak kebagian. 

Agar tetap bisa hidup, masyarakat harus mengambil dan membeli air di sumber PDAM dengan jerigen atau membeli air pada warga yang dialiri PDAM. Ada juga yang mengambil air di Bumi Marina. Masyarakat pun harus mengeluarkan uang yang tidak sedikit. Sebulan bisa sampai ratusan ribu. Kondisi itu berjalan hingga bertahun-tahun lamanya. Bahkan sampai saat ini.

Persediaan air yang terbatas tak membuat mereka menyerah untuk menyediakan vegetasi pada kampung mereka dan menyirami tanaman-tanaman tersebut.

Mengetahui permasalahan tersebut PT. Astra International Tbk bekerjasama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membangun Water Treatment Plant (Instalasi Pengolahan Air) untuk memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari warga.

Water Treatment Plant di Keputih

Masyarakat membayar delapan jerigen air untuk harga Rp. 2.000,-. Harganya lebih murah daripada harus membeli air dari PDAM seharga Rp. 10.000,- untuk delapan jerigen (Khasanah, 2015).
Warga Kampung Keputih Menampung Air di Jerigen

Kendala penggunaan WTP adalah saat air sungai surut, air di WTP tidak bisa dimanfaatkan karena rasanya asin sehingga masyarakat membeli air di jerigen-jerigen dari wilayah lain. 

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di depan musholla juga membantu masyarakat membuat sisa air wudhu untuk menyirami tanaman.

Air Hasil IPAL untuk Menyiram Tanaman

Menuju Kampung yang Cerdas

Tak hanya ingin mengubah lingkungan menjadi bersih, sehat dan hijau, PT. Astra International Tbk membangun Rumah Pintar untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat. Awalnya bangunan Rumah Pintar itu adalah balai RT. Rumah Pintar pun diresmikan oleh Bu Ani Yudhoyono tahun 2014. Bangunan dua lantai tersebut berisi buku bacaan anak-anak, alat permainan edukatif, pembelajaran audio visual, computer, printer, dan sentra kriya.

Hanya saja, Rumah Pintar ini belum begitu efektif dan masyarakat belum menggunakannya secara maksimal untuk meningkatkan budaya literasi.

Kampung yang Mandiri

Selain pengumpulan sampah kering di Bank Sampah yang bernilai ekonomis, sampah basah dikumpulkan di Rumah Kompos yang kemudian diolah menjadi pupuk kompos. Tentunya dapat menambah penghasilan masyarakat. Menurut Khasanah (2015), Setiap bulannya Rumah Kompos dapat memproduksi 500 kilogram pupuk kompos dengan penghasilan sebesar Rp. 1.000.000,-. Sedangkan setiap bulannya Bank Sampah dapat mengumpulkan 500 kilogram barang bekas (Khasanah, 2015). Tanpa kerja sama dan komitmen masyarakat untuk menjalankan Bank Sampah dan Rumah Kompos, maka bantuan dari Astra tersebut tak optimal memberi manfaat.

Kehadiran Rumah Jamur yang dikelola oleh warga dengan bantuan dari Astra, khususnya RT 8, rupanya memberikan nuansa baru bagi geliat perkembangan perekonomian kampung. Usaha Kecil dan Menengah (UKM) juga tumbuh di kampung tersebut, seperti UKM Tempe, UKM Saridele, UKM Kerupuk, dan UKM Binatu (Laundry). 

Sayangnya, usaha pengolahan Markisa tidak berjalan karena tanaman Markisa yang semakin menurun. Harapannya bantuan-bantuan tersebut untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri dalam perekonomian.

Mural Graffiti Pengolahan Buah Markisa

Menuju Masyarakat yang Sehat

Dulunya, banyak warga yang tidak punya kamar mandi sendiri sehingga dibangun MCK (Mandi, Cuci, Kakus) Komunal. Saat saya kesana, saya melihat MCK Komunal tersebut seperti kurang terawat atau mungkin tidak terpakai dan kurang terjaga kebersihannya.

MCK Komunal di Keputih Tegal Timur Baru

Kampung Keputih Tegal Timur Baru juga memiliki lapangan olahraga yang tak hanya dimanfaatkan untuk berolahraga (futsal, voli, bulutangkis, dan basket) tapi juga untuk kegiatan sosial kemasyarakatan seperti perayaan kemerdekaan Indonesia dan pertemuan lainnya.

Pembawa Perubahan

Bukan sebuah perjalanan yang singkat untuk menjadi Kampung Berseri Astra. Warga bergotong-royong menciptakan lingkungan yang hijau, bersih dan sehat untuk mengikuti lomba kebersihan tingkat kota Surabaya. Sampah-sampah tidak lagi berserakan. Vegetasi banyak menghiasi sepanjang jalan kampung. Bank Sampah yang dikelola masyarakat mengubah perilaku mereka sedikit demi sedikit untuk lebih memanfaatkan sampah. Walaupun akhirnya masuk dalam peringkat 500 besar tapi lingkungan mereka menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Hingga pada akhirnya Kampung Keputih Tegal Timur Baru terpilih menjadi Kampung Berseri Astra yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT. Astra International Tbk. 

Kenapa bisa terpilih? 

Menjadi Kampung Berseri Astra, sebuah kampung harus memenuhi kriteria-kriteria yang telah ditentukan. Kampung Keputih Tegal Timur Baru telah memenuhi kriteria-kriteria seperti tata lingkungan yang baik, memiliki sifat gotong-royong, dan kemudahan akses untuk sosialisasi dan pengawasan program.

PT. Astra International Tbk bersama masyarakat Kampung Keputih Tegal Timur Baru sudah melakukan pengembangan penataan lingkungan yang akhirnya membawa kampung tersebut beberapa kali menjadi pemenang dalam lomba Green and Clean Kota Surabaya.

Sejak Juni 2013, Astra melakukan pengembangan-pengembangan lingkungan agar kampung tersebut menjadi kampung yang bersih, asri dan menjadi pusat edukatif. Dalam jangka 2013-2015, Astra telah memberikan bantuan barang bernilai Rp. 400.000.000,- untuk merenovasi balai RT menjadi Rumah Pintar, membangun Rumah Kompos, membangun WTP, IPAL, Bank Sampah, pembelian mesin pencacah sampah organic, bibit tanaman, pemavingan lapangan, pembelian bamboo untuk batas jalan, polybag, pembangunan gapura, pengecatan bamboo dan gapura, dan peresmian Kampung Berseri Astra Surabaga tanggal 14 Oktober 2014. Harapannya, di tahun 2020, Kampung Keputih Tegal Timur Baru akan menjadi ikon kota Surabaya.

Beberapa penghargaan yang pernah diterima antara lain Pemenang Green and Clean Tema Lingkungan Berbunga Kategori Pemula Tahun 2013, Partisipasi Masyarakat Terbaik Green and Clean Kategori Berimbang Tahun 2014, Pengelolaan Lingkungan Terbaik Green and Clean Kategori Maju Tahun 2015, Partisipasi Masyarakat Terbaik Kategori Maju tahun 2016, dan masih banyak lagi.

Astra bersama masyarakat kampung tersebut masih terus mengembangkan lingkungan kampung tersebut agar berhasil mewujudkan Kampung Keputih Tegal Timur Baru menjadi kampung BERSERI atau Bersih, Sehat, Cerdas, dan Mandiri.

Progress is impossible without change, those who cannot change their minds cannot change anything
- George Bernard Shaw -

Perkataan Bernard Shaw, seorang novelis asal Inggris, mungkin benar untuk siapapun yang ingin membuat perubahan lebih baik dalam hidup. Tidak mudah mengubah perilaku yang sudah melekat dalam suatu individu.

Menjadi masyarakat yang bertindak sebagai agent of change di kampung Keputih Tegal Timur Baru adalah sebuah pekerjaan yang tak mudah. Bukan berarti tak mungkin. Masyarakat kampung tersebut memiliki semangat dan kerja keras untuk mengubah lingkungan mereka menjadi lebih baik. Mereka bisa membuktikan dengan mengubah mindset mereka ke arah yang positif. Itulah agent of change.

Tak cukup hanya mengandalkan bantuan dari PT. Astra International Tbk,  keikutsertaan masyarakat kampung Keputih Tegal Timur Baru dalam pengembangan kampung menjadikan kampung tersebut berseri dan lebih hidup.



DAFTAR PUSTAKA
Khasanah, Anisa Nur. 2015. Implementasi Program Corporate Social Responsiility Pt. Astra International Tbk Di Kampung Berseri Astra. Jurnal Publika Vol 3, No 2  Tahun 2015.
Prasetyo, Galih Adi. 2017. Air Jagir Bisa Siap Pakai Dengan WTP. https://www.pressreader.com/indonesia/jawa-pos/20170724/282278140394299




Read More
Previous PostPostingan Lama Beranda

Follower