Setelah cukup disibukkan dengan Hari Pertama UWRF, maka Hari Kedua UWRF ini tidak kalah serunya dan mendebarkan.

Kamis, 24 Oktober 2019

Saya sudah mencentang beberapa Main Program yang ingin saya ikuti. Main program ini adalah program utama yang diisi oleh penulis-penulis dari Indonesia maupun luar negeri. Sayangnya, saya tidak mengikuti satu pun.

Mungkin saya terlalu lelah, jadinya pagi hari di hotel saya istirahat dan menemani anak berenang. Jam 10 saya dijemput untuk sesi Main Program : Indonesian Emerging Writers 2019.

Sesi Indonesian Emerging Writers

Saya dan teman-teman menunggu di Green Room setengah jam sebelum acara dimulai. Para interpreter pun sudah berseliweran di dekat ruangan itu dan siap melaksanakan tugasnya. Kik juga mengingatkan saya kalau berbicara pelan-pelan saja agar memudahkan memudahkan untuk menginterpretasi.
Meski saya tidak sendiri, saya cukup deg-degan duduk di atas panggung dengan audiens yang cukup banyak. Maklum saya biasanya juga di dapur, audiens saya cuma dua anak saya dan suami saya, jadi wajarlah rasa nervous itu ada. wkwk.


Pada sesi itu, saya diminta memperkenalkan diri saya, kapan mulai menulis, latar belakang menulis cerita pendek saya, dan lain-lain. Karena di profil saya tertulis ibu rumah tangga, moderator pun bertanya bagaimana mengatur waktu menulis. Yaah saya jawab saja, memang waktu kita 24 jam, mestinya ada waktu untuk menulis, biasanya saya menulis saat malam hari atau sebelum subuh, bisa juga saat siang hari, yang paling penting saat anak-anak tidur. Itu yang bisa saya sarankan untuk ibu rumah tangga yang juga ingin menulis. Kita juga perlu aktivitas "Me Time" dengan menulis. Ketika ada karya yang dihasilkan pasti rasa senangnya juga berlipat. Mungkin itu bisa jadi sesuatu yang menyenangkan buat ibu rumah tangga dengan segala kewajibannya di rumah yang kadang bahkan sering bikin ngelus dada. wkwkwk. Namun, semua kembali kepada masing-masing individu yang bisa menentukan prioritas yang mana. Dan aktivitas "Me Time" apa yang memang menyenangkan buat seorang ibu rumah tangga.  Dan penting juga suami mengetahuI kesukaan istri.
Bukan karena gaya pembacaan saya yang mengagumkan tapi karena dia mencari-cari paragraf mana yang saya baca agar Kik bisa membacakan bahasa inggrisnya

Selain itu, saya dan teman-teman juga diminta membacakan cerita milik masing-masing. Pertanyaannya sebenarnya tidak terlalu susah paling hanya sebatas karya kita saja, tapi kalau tanpa persiapan juga bikin kagok, hehe.

Serunya, setelah sesi ini, ada yang ingin berfoto dan berkenalan dengan saya. Ada juga yang memberi portofolio desain ilustrasi.  Saya juga diperkenalkan oleh Kik kepada penerjemah cerita pendek saya yang bernama Pamela Allen, seorang pensiunan dosen universitas Tazmania, Australia.
Bersama Pamela Allen

Nah, uniknya, saat saya sedang duduk di Green Room, seseorang yang berasal dari singapura mendekati saya dan minta waktu kapan saya bisa diwawancarai. Wah, saya kaget tapi juga senang. Dia perlu waktu untuk membaca karya saya dan meminta wa saya. Saya pun minta hari sabtu siang saja karena lebih lowong. Ia pun menyetujui.

Hal yang bisa saya pelajari dalam sesi ini adalah bahwa isu sosial, permasalahan dalam masyarakat, sekecil apapun bisa menjadi bahan untuk dijadikan cerita pendek. Dan saya masih terus belajar dan terus belajar.

Sesi Hijab Files


Setelah selesai sesi pertama, Kik mendekati saya dan meminta saya untuk mempersiapkan materi untuk sesi selanjutnya. Sebenarnya moderator, Maryam, seorang penulis dari Australia,  sudah mengirimkan email pertanyaan untuk sesi ini. Salah satunya, apa pengaruh hijab dalam proses menulis saya. Saya bingung untuk menjawab, mengingat saya belum pernah menulis cerita yang tokohnya memakai hijab. Meski, dalam cerita anak saya, tokoh ibu ini memakai hijab tapi hanya sebagai setting yang tidak begitu kuat. Sesi ini sebenarnya cukup membuat saya ingin untuk segera menyelesaikan cerita saya yang tokohnya berhijab.
Ternyata, apa yang saya bayangkan terjadi juga. Ketika Maryam bertanya tentang tantangan apa yang saya terima saat menulis tokoh berhijab. Saya jawab tidak ada. Beberapa pertanyaan lain saya juga menjawab tidak. Sesungguhnya memang tulisan saya belum membahas orang berhijab.
Sesi Hijab Files bersama Maryam (kiri), Uzma Jalaluddin (kanan), saya dan Nurillah (paling kanan) 

Untungnya, Uzma Jalaluddin, penulis dari Kanada, membeberkan tantangan dia sebagai penulis muslim dan minoritas di negaranya. Dia cukup sulit mencari memprofilkan dirinya di sana karena dia berhijab. Begitu juga cerita dalam bukunya yang berjudul Ayesha At Last yang diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang berjudul Ayesha.

Menjawab pertanyaan


Menurut saya, sesi ini cukup sulit apalagi saat audiens,  yang jumlahnya 2 kali lipat dari sesi saya sebelumnya, memberi pertanyaan yang cukup menggebu-gebu yang menurut saya sudah di luar dari konteks sesi.

Contohnya bagaimana pendapat anda saat ada yang pertama berhijab kemudian melepasnya, atau bagaimana pendapat anda tentang perpaduan agama dan budaya, misalnya saat menikah harus memakai konde-konde, dll, bagaimana pendapat anda tentang peraturan di Aceh yang mengharuskan berhijab.

Saya tidak menjawab mengenai ketika seseorang melepas hijab karena si penanya pernah melakukan itu dan dia merasa bebas, tidak ada beban, ketika melepaskannya. Karena menurut saya mereka sudah tahu dalam islam itu berjilbab adalah perintah. Setiap orang yang beragama islam tahu sendiri tidak semua bisa menjalankan perintah yang sudah jelas. Jadi saya tidak menjawab daripada menimbulkan perdebatan.

Saya langsung menjawab bahwa ketika menikah saya memakai baju Jawa dan hijab dan di rias seperti pernikahan jawa, sedangkan prosesi menginjak telur, menyuapi suami, adalah sebuah simbolik yang lebih penting esensinya. Sedangkan peraturan di Aceh saya kemudian bercerita bahwa saya TERPAKSA melepas hijab ketika di Prancis saat mereka meminta pas foto tanpa hijab. Kalau tidak maka saya tidak bisa mengurus kemitraan. Saya pun pergi ke fotobox dan melepas hijab tanpa dilihat orang kemudian memakainya lagi dan memberikan pasfoto tanpa hijab saya kepada petugas imigrasi.

Setelah itu saya bilang, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Jadi kalau kamu pergi ke Aceh untuk dinas atau liburan dan harus memakai hijab, ya pakai saja..toh bukan sebuah dosa kan dalam kepercayaan kalian? Sedangkan saya pun terpaksa melakukan hal yang dilarang dalam agama saya yaitu melepas jilbab. Itu pendapat saya yang mungkin masih banyak orang yang belum setuju.

Tambahan : oiya, maksud saya mengemukakan peribahasa tersebut sebenarnya bukan berarti saya jadi buka2an, minum alkohol, dll di negara saya berpijak dulu, Prancis. Selama saya bisa menolak karena tidak sesuai dengan perintah agama saya dan bagi mereka tak masalah, ya tak apa2 kan. Misal saat saya ada Soirée dan rata2 minum alkohol. Mereka tahu saya tidak minum alkohol maka mereka memaklumi dan tidak menawari saya.

Ya kembali ke kalian aja. Karena kalau saya tidak menuruti aturan "foto tanpa alas di kepala", maka keimigrasian saya dicabut dan tidak akan bisa sekolah. Sama kalau kalian ke Aceh dan tidak mengikuti aturan di sana, kalian tidak akan bisa menyelesaikan urusan kalian di sana.

Yang pasti, ada beban baru saat saya selesai mengikuti sesi ini. Masih banyak yang menganggap hijab adalah bentuk ketidakbebasan,  pengekangan, teroris, dan banyak hal image buruk. Dari situ, saya bisa melihat, bahwa penulis muslim cukup memiliki beban yang berat untuk menghasilkan tulisan yang bisa membuka mata tentang pendapat mereka selama ini. Tentunya, pesan-pesan tanpa menggurui. Sebagai penulis muslim harus punya karakter dalam setiap karyanya.

Setelah sesi ini juga, saya didekati oleh orang bule dari Belanda dan meminta foto bersama. Ya allah, saya berasa artis, wkwk. Ternyata dia bisa bahasa Indonesia meski dia lebih suka berbahasa Inggris. Dan Kik bersedia menerjemahkan nya.

Thanks Kik.
Karena sudah jam 5 sore, saya pun segera pamit pulang dengan motor yang saya sewa dari rental motor yang dekat dengan tempat acara.

Selanjutnya, cerita Hari Ketiga UWRF saya malah Pengen Salto Habis Ngisi Materi Workshop di Hari Ketiga UWRF 2019, bisa dibaca di sini ya.
Read More
Selasa, 22 Oktober 2019

Tiba juga saya, suami, dan dua anak saya di bandara Ngurah Rai, Bali, pada pukul delapan malam. Setelah mengambil bagasi, kami segera keluar dari pintu kedatangan. Saya sempat khawatir karena biasanya saat di bandara saya harus mengontak orang yang menjemput saya, tapi dalam acara ini, tidak ada kontak dengan penjemput. Saya hanya diberi panduan untuk menemui panitia dengan baju UWRF (Ubud Writers and Readers Festival) atau seseorang yang berpakaian Bali yang menjemput saya sambil membawa kertas bertuliskan Lita Lestianti.

Saya tidak melihat, justru suami saya melihat dan menunjuk ke arah panitia. Oiya, benar! Ada nama saya TERPAMPANG!  haha. sungguh saya tidak pernah dijemput dengan model seperti artis itu. Perjalanan dari bandara ke Ubud menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam karena waktu itu memang lalu lintas padat sedangkan jalan-jalan di Bali pun kebanyakan tidak lebar.

Saya pun sampai di hotel Yulia Village Inn yang ada di Jalan Monkey Forest. Rupanya, saya sudah kelelahan sampai saya lupa senyum kepada resepsionis. Gara-gara, katanya malam itu saya belum masuk dalam daftar reservasi. OMG! saya sudah kebayang saya akan cari hotel malam-malam yang belum tentu tersedia. Ternyata setelah di cek, petugas hotelnya yang salah memasukkan ke sistem karena waktu pemesanan dari panitia, sistemnya memang sempat eror. Ugh, leganya.

Dijemput panitia UWRF


Setelah mandi, saya pun ingin segera beristirahat di kamar yang nyaman sekali. Sayangnya, anak-anak baru saja terbangun dan mengajak main. Saya mempelajari jadwal acara UWRF.  Entah kenapa saya pun tidak bisa tidur membayangkan acara yang akan saya lalui lima hari selanjutnya. Setelah berhasil membujuk anak untuk tidur, saya pun ikut tidur.


Rabu, 23 Oktober 2019


Patron Brunch

Esoknya, saya pun siap-siap berangkat untuk Patron Brunch sekitar jam 10 pagi. Nah, di sini ada miskom dengan Writer Liaison (WL) saya. Dari awal sebenarnya sudah dibilang ada sesi penjemputan kendaraan pada sesi saya. Nah, beberapa jam sebelum acara saya tidak mendapat informasi via wa atau email, jadi saya kira tidak ada penjemputan. Ketika saya tanya WL, bisa tanya ke sesi transportasi, tapi saya tidak bertanya lebih lanjut siapa sesi transportasi (begitulah karena saya malu bertanya jadi kelamaan di jalan wkwk). Alhasil, saya, suami dan anak saya berharap pada shuttle bus di Museum Puri Lukisan yang jaraknya sekitar 1,5 kilo dari hotel saya. Begitu sampai museum itu, ternyata shuttle bus gratis untuk acara UWRF baru ada besok tanggal 24 Oktober 2019. wkwk wkwk.  Akhirnya kami memutuskan jalan kaki karena melihat di peta masih 2 kilo lagi. Sedangkan kalau naik taksi harus bayar 80rb. mahal yee padahal deket aja. Dan ternyata jalannya menanjak saudara-saudaraaaa. Beberapa kali kami harus berhenti di jalan. Si kecil kasihan karena kadang digendong, kadang harus jalan sendiri. wkwk.  kebodohan hakiki.



Nah, begitu sampai tempat acara, saya melihat ada briefing untuk para volunteer UWRF. Selanjutnya, anak dan suami saya pun menunggu di Indomaret, saya pun mengikuti Patron Brunch bersama si kecil.

Patron Brunch ini merupakan private event yang mempertemukan emerging writers dengan Indonesia Patron, Julia, dengan Founder event UWRF, Janet Deneefe, sambil menikmati makan siang nasi campur ala Bali.

Dari Patron Brunch ini saya mengenal keempat penulis emerging lainnya, yaitu Nurillah dari Jember, Ilhamdi dari Padang, Chandra dari Jakarta, dan Heru dari Nganjuk. Saya juga mengenal Manajer Program, Pak I Wayan Juniarta (Ijun) yang sudah menyeleksi karya sebanyak sekitar 1500an karya.
Patron Brunch UWRF 2019 (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF)

Kami berbicara banyak hal, mulai dari latar belakang pendidikan, latar belakang cerita, dan segala hal. Karena Julia ini dari Australia jadi kebanyakan dia berbicara bahasa Inggris yang kadang kami menimpali dengan bahasa Inggris juga bahasa indonesia. Syukurlah ada Pak Ijun yang bersedia menerjemahkan.
Ya Allah baru kusadari aku kumus kurus soalnya jarang ngaca wkwk (Credit : Anggara Mahendra dan UWRF) 

Saya kira hanya orang Eropa saja yang suka memuji. Ternyata orang Australia juga sangat suka sekali memuji. Apapun itu. Mulai dari makanannya, bayi saya yang lucu, cerita kami berempat, dan everything. Namun, memang saat mereka tidak suka, mereka akan bilang terus terang. Saya pernah mengalaminya saat saya berada di negeri antah berantah.

Briefing

Setelah Patron Brunch, saya dan teman-teman lainnya briefing bersama para interpreter. Interpreter saya adalah Kik Hughes, seorang bule Australia yang tinggal di Singapura. Interpreter ini yang akan membantu saya saat saya tidak mengerti bahasa inggris dan tidak tahu bagaimana cara menjelaskan dalam bahasa inggris. Maklum emak-emak yang hampir nggak pernah ngomong bahasa inggris. Daripada kagok di depan audiensi mending saya pakai jasa interpreter. Dan ternyata berguna banget!

Bersama Mbak Kik Hughes (Credit: Kik Hughes)


saat briefing kami diberitahu agar saat berbicara itu hanya dua paragraf dulu agar interpreter tidak bingung. Saya pun juga menyadari bahwa tidak hanya kami berlima saja yang grogi, para interpreter yang sudah berpengalaman pun bisa saja nervous. Saya pun akhirnya mengetahui kalau audiensi yang banyak bule itu kebanyakan juga bisa bahasa Indonesia,  itulah mengapa jika interpreter salah menginterpretasi atau ada yang kurang infonya, mereka akan merasa gagal di depan para audiens.

Workshop

Nah, sesi selanjutnya adalah sesi workshop menulis dengan Mirandi Riwoe, seorang penulis dari Australia di sebuah ruangan dengan pemandangan Bukit Campuhan dan sebuah gunung. Anak saya yang kecil pun saya titipkan pada ayahnya dan dibawa ke hotel. Saya pun bisa konsentrasi belajar dan tidak mengganggu peserta lain.

Di workshop ini dia menjelaskan ceritanya tentang crime fiction, bagaimana membuat judul, bagaimana menulis genre yang berbeda, bagaimana mengatasi writers block, dan banyak hal.
Buku yang dia tulis (saya lupa judulnyaa) merupakan hasil dari tugasnya saat kuliah di jurusan Creative Writing di Australia.  Nah, buku yang dia tulis itu harus menjadi rujukan pada disertasinya S3. Dia menulis dari sudut historis tapi yang kejadiannya bisa terjadi masa sekarang seperti Human Trafficking dan Racism.
Mengerjakan tugas menulis 2 paragraf (Credit : Kik Hughes)

Hanya ada dua interpreter di workshop ini yaitu mas Raka dan Kik. Untungnya bahasa inggris masih mudah dimengerti dan kadang saya perlu melatih bahasa inggris saya, kadang saya juga perlu interpreter untuk menjelaskan kembali maksud saya dalam bahasa inggris.

Sesi Tanya Jawab (dokumen pribadi)
Namun, yang saya bisa ambil pelajaran dari workshop dari Mirandi ini adalah bahwa hadapi saja distraksi atau penundaan saat menulis cerita. Karena dari penundaan atau distraksi itu merupakan proses kita untuk berpikir cerita yang kita tulis. Mirandi berpesan, jangan tulis seluruhnya, tapi tinggalkan beberapa untuk besok sehingga ada keinginan untuk terus menulis. namun,  dia juga memberi saran untuk mengatasi writer's block yaitu Keep writing, writing  and writing!
o iyaa, dia juga bilang kalau misal kalah dalam perlombaan maka jangan kecewa karena lomba itu jurinya subjektif. Jadi jangan sampai terpuruk dan tidak menulis karena kecewa kalah lomba. Ah! menohok banget bagi saya nih yang juga sering kalah lomba. haha.

Workshop bersama Mirandi Riwoe


Saya pun balik ke hotel diantar oleh driver UWRF. Setelah bertemu anak dan mandi, saya pun dijemput untuk mengikuti acara Gala Opening di Ubud Palace. Tidak jauh dari hotel saya sih tapi setelah berjalan 3 kilometer saya memilih untuk naik kendaraan saja.

Gala opening

Saya pergi bersama anak saya yang kecil. Saya pun mengisi buku tamu. Beberapa peserta berfoto-foto di depan baliho-baliho ala artis Hollywood. Dua orang perempuan Bali dengan pakaiannya yang khas Bali menyematkan bunga di baju para peserta. Setelah melalui pemeriksaan di pintu masuk, saya pun melewati para peserta yang berdiri dekat pintu masuk. Ramai sekali. Sesak.
Eh, saya bertemu dengan Seno Gumira Ajidarma. Tapi sayang saya malu-malu minta foto bahkan Mengucap hello, hehe.
Saya mencari tempat duduk yang masih banyak yang kosong. Saya sampai tidak bisa menikmati pertunjukannya karena anak saya yang mulai rewel. Saya pun membeli snack untuk anak saya. Oiya, toko-toko di Bali sudah tidak menggunakan plastik, loh! Keren, ya. Jadi siap-siap bawa tas sendiri untuk menampung makanan-makanan yang kalian beli.



Gala Opening (dokumen pribadi)

Writer's Dinner

Saya pun bertemu teman-teman saya. Jam 7 malam kami menuju Casa Luna, resto ala Bali yang dimiliki oleh Janet Deneefe. Karena ini private event jadi panitia harus mengecek nama yang akan masuk ke resto yang memang sudah mendaftar beberapa bulan sebelumnya.

Sayangnya, mungkin karena saya terlalu capek, jadi saya tidak maksimal. Maksimal dalam artian saya tidak bisa membangun koneksi alias SKSD. Sok kenal sok dekat sok yes lah sama mereka. haha. Setidaknya untuk berkenalan dengan Writer yang sudah terkenal. Saya hanya ingin segera pulang ke hotel. Saya dan dua teman Emerging yang wanita pun pulang ke hotel diantar oleh driver UWRF.

Masih ada hari esok dan saya merasa lelah sekali. Sampai di hotel Yulia Village Inn yang saya review di sini juga, ternyata saya tidak bisa tidur. OH!

Lanjut cerita hari kedua UWRF yang Mendebarkan.

Read More
Jaman sekarang ya teknologi sangat berkembang pesat. Inovasi dalam transaksi keuangan pun terus mengalami peningkatan. Jika kasir jaman dulu hanya bisa menerima kartu kredit, kemudian lama-lama jasa pembayaran mulai lebih inovatif, bisa dengan debit card, e-money, ataupun dengan alat EDC.

 
Berbicara tentang QR Code, saya punya adik ipar yang cukup sering berbelanja menggunakan QR Code. Belanja makanan, minuman, go-pay, OVO, dia sering pakai QR Code. Jadi QR Code ini tetap sesuai aplikasi yang digunakan seperti Gojek, OVO, atau masing-masing bank.

Misalnya ketika dia membeli minuman di kedai tertentu, dia akan bertanya pada merchant apakah bisa menggunakan QR Code? Meskipun di Jakarta, warung-warung sudah ada yang menyediakan media transaksi dengan QR Code, saudara saya biasa bertanya dulu, karena memang tidak semua merchant menyediakan QR Code. Setelah tahu merchant menyediakan pembayaran dengan QR Code kemudian ia bisa memindai QR Code merchant di hapenya sesuai dengan aplikasi yang mau digunakan. Misalkan membayar dengan OVO maka buka aplikasi OVO dan pilih pembayaran dengan QR Code. Setelah itu pindai QR Code yang ada di merchant di hape. Pilih proses. Kemudian selesai!




Saya sempat bertanya-tanya, apa itu QR Code? QR code atau Quick Respons Code adalah kode-kode yang tersimpan dalam bentuk dua dimensi dan berfungsi untuk menyampaikan suatu informasi dan meresponnya dengan cepat. Dan QR Code ini biasanya juga sudah banyak yang menampikan ini seperti di majalah, iklan, brosur, kartu nama, sarana pembayaran, dan lain-lain.

Ketika QR Code mengalami kecatatan tidak lebih dari 30% maka pemindai masih bisa membaca kode-kode yang ada dan masih bisa terbaca. Hal ini karena QR Code memiliki kode-kode numerik yang lebih banyak hingga 350an kali daripada barcode. Sehingga perusahaan bisa menambahkan logo perusahaan di tengah-tengah QR Code tersebut. QR Code juga membutuhkan tempat yang sedikit.

Kenapa harus QR Code?

Saya pun bertanya kepada saudara saya alasan membayar pakai QR Code. Dia menjawab :

 Alasan keamanan
Bayar pakai QR Code aman kok! Kan nanti disuruh memasukkan password. Jadi jangan khawatir kalau saldo kita tiba-tiba berkurang melebihi jumlah pembayaran yang seharusnya. karena akan ada pengecekan pembayaran

Praktis
Menurut penuturan saudara saya, dia merasa praktis dengan melakukan pembayaran dengan QR Code. Cashless memang membuat segalanya lebih praktis. Tanpa harus bawa uang banyak-banyak, dia tetap bisa bertransaksi.

Untung
Siapa sih yang nggak suka dapat untung? Pasti semua suka! Selain si merchant untung, pembeli juga bisa untung. Bagaimana coba? Sudah dapat produk, masih dapat untung juga. Yup, kata saudara saya, kalau belanja dengan aplikasi Gojek, OVO, atau DANA, dia sering dapat cashback. Alias uang kembali yang masuk ke saldo aplikasi. Lumayan bisa dibuat belanja yang lain.

Saat saya tanya, memang harganya lebih mahal? Katanya sih sama saja. Apalagi jaman sekarang ya, kalau merchant mau untung, mau banyak pembeli, harus mengikuti perkembangan jaman dan teknologi.

Gratis
Saat melakukan transaksi dengan QR Code ini, pembeli tidak dibebani oleh biaya tambahan dalam penggunaan jasa tersebut.

Hal yang perlu diperhatikan

Kalau transaksi dengan QR Code ini harus memperhatikan beberapa hal, seperti:

Kamera yang memadai
Karena untuk memindai QR Code ke hape pembeli, maka kamera hape pembeli pun harus memiliki pixel yang cukup bagus agar QR Code bisa terbaca di hape pembeli dan transaksi pun dapat berjalan dengan lancar.

Hindari berada di ruangan yang memantulkan cahaya atau mengalami reflektif pada QR Code sehingga saat pemindaian kode tersebut dapat berhasil. Begitu juga saat di kendaran, usahakan tidak bergerak karena jika bergerak maka proses pemindaian bisa saja tidak berhasil.

-        Koneksi harus stabil
Gangguan saat transaksi dengan QR Code bisa saja terjadi. Dan gangguan ini bisa berasal dari merchant atau pembeli. Jika terdapat gangguan koneksi dari salah satu sisi saja maka pembayaran tidak bisa dilakukan. Maka pastikan dulu koneksi sudah tersambung dengan baik.

Batasan transaksi
Bank Indonesia membatasi transaksi dengan QR Code ini sebesar dua juta rupiah per transaksi.

Nah, yang suka dengan transaksi cashless ini, bisa instal aplikasi di ponsel masing-masing dan isi saldo agar siap digunakan untuk transaksi dengan QR Code ini. Lebih aman, praktis, untung dan pastinya gratis!


#feskabi2019
#gairahkanekonomi
#pakaiQRstandar
#majukanekonomiyuk

Read More

Follower