Juli adalah mulanya
bulan yang dikhawatirkan bagi sebagian penduduk Indonesia yang tinggal di
Sumatera dan Kalimantan.
Apa sebabnya?
Karena bulan Juli adalah
permulaan musim kemarau. Di bulan Juli pula, titik api kebakaran hutan dan
lahan banyak tersebar di wilayah Indonesia. Kemudian, asap kebakaran mengganggu
aktivitas manusia termasuk negara tetangga Malaysia dan Singapura. Ditambah,
tahun 2020 ini, pandemi Covid-19 menambah parahnya dampak kesehatan penduduk.
Kebakaran Hutan (Antara)
Tak bisa dipungkiri,
bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia sebagian besar
disebabkan oleh99 persen ulah manusia dan 1 persen alam. Demi mendapatkan
uang, banyak pihak yang membuka lahan dengan membakar hutan untuk bercocok
tanam bahkan banyak perusahaan terlibat. Apalagi jika pembukaan lahan dengan
pembakaran itu dilakukan di lahan gambut dimana jenis lahan tersebut sulit
untuk dipadamkan jika terjadi kebakaran.
Tahun 2019 yang lalu
merupakan tahun terparah selama empat tahun terjadinya karhutla di Indonesia.
Lonjakan hotspot-nya tidak tanggung-tanggung prosentasenya melebihi 86% atau
sekitar 17.774 titik api. Trend pola waktu kejadiannya adalah bulan Juli yang menjadi
awal mula lonjakan karhutla. Agustus -September merupakan puncak karhutla.
Kemudian akan mengalami penurunan saat November.
Titik Panas Api September 2019 (Sumber : Lapan)
Data KLHK mencatat luas
karhutla dari Januari hingga September 2019 sebesar 857.756 ha dengan rincian
lahan mineral 630.451 ha dan gambut 227.304 ha. Kalimantan Tengah (Kalteng)
seluas 134.227 ha lahan terbakar, di Kalimanan Barat (Kalbar) lahan terbakar
seluas 127.462 ha, dan di Kalimantan Selatan (Kalsel) seluas 113.454 ha.
Sisanya di Riau 75.871 ha lahan terbakar, di Sumatera Selatan (Sumsel) 52.716
ha dan Jambi 39.638 ha.
Total luasan lahan
hingga September 2019 ini lebih besar dibandingkan luasan karhutla dalam tiga
tahun terakhir. Luas karhutla pada 2018 sebesar 510 ribu ha, sedangkan pada
2016 sebesar 438 ribu ha.
Faktanya, 80% lahan yang
terbakar tersebut berubah menjadi lahan perkebunan sawit. Kondisi yang ganjil
ketika ditemukan di lapangan bahwa lahan yang terbakar tersebut adalah hutan,
sedangkan perkebunan sawit tidak terbakar.
Provinsi rawan Karhutla?
Kalian yang tinggal di
tujuh provinsi rawan karhutla harus waspada terhadap asap yang mungkin mulai
memasuki kota. Ketujuh provinsi yang masuk kategori rawan kebakaran hutan yakni
Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan, dan Kalimantan Timur.
Akibat Karhutla?
Rawan Terserang
Penyakit
Penduduk rawan terkena
penyakit ISPA, asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Di tahun 2019,
penderita ISPA di Indonesia sebesar 919.554 jiwa tersebar di Riau, Jambi,
Sumsel, Kalbar, Kalteng dan Kalsel.
8
Rentan Terpapar Covid-19
Belum lagi, di masa pandemi Covid-19 ini, para penduduk yang terkena ISPA harus waspada terhadap virus tersebut. Kondisi paru-paru yang tidak sehat penduduk yang rentan terpapar Covid-19.
Menurut Dokter Penyakit Paru, Feni Fitriani, kepada jurnalis KBR, Fitri Anggraini, Karhutla itu memberi beban ganda bagi masyarakat di daerah di masa pandemi Covid-19 ini. Kelompok usia anak-anak, orang yang berpenyakit ISPA, paru kronik, karena asap kebakaran adalah kelompok yang rentan terpapar Covid-19. Penduduk yang berstatus PDP dan ODP pun juga memiliki kesehatan yang rentan jika terkena asap kebakaran. Masyarakat yang tinggal di daerah dekat dengan karhutla diharapkan mengenal tanda-tanda jika terdapat asap kebakaran hutan dan lahan. Nah, agar masyarakat mengetahui kualitas udara yang memburuk dengan melihat tanda-tanda seperti: - Gedung yang biasanya terlihat dari jauh tiba-tiba tidak terlihat atau kabur, apalagi di bulan-bulan Juli-Oktober. Masyarakat diharapkan peka terhadap kondisi tersebut. - Unduh aplikasi Air Quality Index atau cek di website. Dengan mengunduh aplikasi kualitas udara maka masyarakat tahu bahwa saat itu udara sedang buruk atau tidak. Jika terdapat tanda-tanda itu dan indeks kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan tidak boleh keluar rumah. Kalaupun keluar rumah HANYA untuk URUSAN URGENT. Jika bisa dilakukan di rumah maka lakukan di rumah, tidak perlu keluar rumah. Jika keluar rumah maka pakailah MASKER! Karena partikel yang akan masuk melalui rongga hidung itu sangat kecil
sekali. Bila perlu, maskernya dibasahi bagi yang memiliki lubang lebih besar.
Pertumbuhan ekonomi
menurun
Aktivitas ekonomi
menurun dan membuat pendapatan masyarakat menurun. Beberapa kegiatan
penerbangan menjadi berhenti beroperasi. Kegiatan transportasi menjadi
terhambat. Begitu juga kegiatan pendidikan di sekolah diliburkan. Kerugian
Indonesia tahun 2019 mencapai Rp. 72,95 triliun (Indonesia Economic Quarterly
Reports dari World Bank). Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2019
adalah 0,09%. Kerugian tersebut dihitung pada delapan provinsi prioritas yaitu
Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Riau, Kalimantan Barat,
Jambi, Kalimantan Timur dan Papua.
Kerusakan Ekologis
Selain itu, kebakaran
hutan memberi dampak negatif yang cukup besar bagi kerusakan ekologis dan
menurunnya keanekaragaman hayati. Pemulihan hutan yang telah terbakar tersebut
tidaklah mudah karena struktur tanahnya telah rusak. Tumbuhan tidak dapat lagi
menampung air hujan dalam jumlah besar sehingga mudah terjadi erosi. Bencana
banjir, longsor dan kekeringan pun akhirnya melanda di beberapa wilayah.
Apalagi hutan hujan
tropis Indonesia yang terbakar merupakan salah satu hutan hujan tropis terbesar
di dunia. Kekayaan hayati di hutan hujan tropis begitu penting karena 50% jenis
keanekaragaman hayati dunia ada di jenis hutan tersebut. Kelangsungan hidup
flora dan fauna di hutan tersebut terancam punah.
Kualitas Udara Buruk
Kualitas udara menjadi jelek karena asap yang ditimbulkan oleh karhutla. Indeks kualitas udara di
Palangkaraya pada September 2019 mencapai 480; Riau mencapai 415; Pekanbaru
mencapai 489. Indeks tersebut menunjukkan bahwa polusi udara berbahaya karena
jauh dari batas aman 100. Dampak dari kualitas udara tersebut adalah banyak
penduduk yang mengalami penyakit ISPA, asma, penyakit paru obstruktif kronik,
dan lainnya. Ternyata tingkat polusi udara di Palangkaraya tahun 2019 itu sama dengan menghirup asap rokok sebanyak 43 batang. Wow! Mengerikan ya!
Kebakaran hutan
menyebabkan emisi karbon meningkat hampir 20% karena kandungan gasnya yang
memperburuk atmosfer. Kebakaran hutan dan lahan menghasilkan gas karbon
dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), nitrogen oksida (NO), sulfur dioksida
(SO2) dan lainnya ke udara. Gas CO2 itu tidak dapat diikat oleh tumbuhan karena
hutan yang hilang. Hasilnya, gas karbon dioksida bebas berada di atmosfer dan
menimbulkan efek rumah kaca. Bumi pun semakin panas. Implikasinya, pemanasan
global semakin meningkat.
Perubahan Iklim
Berbicara tentang perubahan iklim ini memiliki hubungan sebab akibat yang sangat kompleks. Namun, jika dirunut secara terstruktur, pemanasan global ini lebih diakibatkan oleh aktivitas manusia. Aktivitas manusia sendiri sangat banyak seperti deforestasi, penggunaan kendaraan bermotor, aktivitas industri, penumpukan sampah, dan lain-lain.
Deforestasi atau kehilangan tutupan lahan akan dengan membakar lahan menyebabkan polusi udara dimana CO2 dan gas lainnya terlepas ke udara. Polusi udara ini menyebabkan penduduk mengalami penyakit ISPA, asma dan paru kronik. Gas-gas tersebut juga menyebabkan efek rumah kaca dan perubahan iklim. Jika sudah terjadi perubahan iklim, maka kondisi buruk dapat dirasakan oleh manusia sendiri, seperti gunung es mencair, air laut naik, cuaca yang tak menentu/ cuaca ekstrim, kekeringan, dan angin kencang. Cuaca ekstrim ini bisa dibagi menjadi dua kondisi dimana suatu daerah akan mengalami hujan terus menerus atau kekeringan yang berkepanjangan. Hujan yang terus-menerus ini yang akan menyebabkan banjir. Deforestasi ini juga bisa menyebabkan bencana lain seperti banjir, longsor, dan erosi. Kekeringan ini menyebabkan gagal panen. Sementara perubahan iklim yang menyebabkan angin kencang, kekeringan dan cuaca panas ini menjadi faktor alam terjadinya kebakaran di hutan. Jika diperhatikan, semuanya seperti lingkaran setan yang tak ada habisnya.
Iklim Malang yang "Aneh"
Aku pun merasakan bagaimana perubahan iklim itu terjadi di kota tempat tinggalku. Cuaca yang aneh sudah terjadi sejak saya tiba di kota Malang tahun 2006. Bahkan sampai saat ini.
Hal yang paling aku ingat dari perkataan Masku ketika
menjemput dari terminal adalah Kota Malang itu memiliki iklim yang "aneh".
Di Malang, saat musim kemarau malah sering terjadi hujan.
Awalnya aku tidak
percaya, namun ketika menjalani empat tahun di Malang, perkataan Masku itu
benar. Aku juga tidak paham kenapa seperti itu.
Ternyata, setelah aku cari informasi di google, banyak daerah saat ini yang mengalami hal serupa. Hujan saat musim kemarau.
Cerita lain lagi ketika aku berkata pada kakak kos setelah selesai
mandi.
“Duh, airnya sudah dingin ditambah lagi udaranya yang
dingin. Sepertinya bulan kemarin nggak seperti ini.”
Dia berkata, “Soalnya menyambut Maba (Mahasiswa Baru).”
Awalnya aku tidak paham maksud perkataan kakak kosku. Apa
hubungannya udara dingin dengan menyambut Maba?
Ternyata, setiap bulan Juli dan Agustus dimana bulan-bulan
penerimaan mahasiswa baru, termasuk ospek, suhu di Malang menjadi rendah
sekali.
“Masak, sih?” Aku tidak percaya.
“Lohhh… Ya sudah,” ucap kakak kos sambil senyum-senyum saja.
Fakta baru itu selalu kuingat-ingat sampai akhirnya di
tahun-tahun selanjutnya aku merasakan suhu kota Malang setiap bulan
Juli-Agustus itu begitu dingin. Padahal pada bulan-bulan itu Kota Malang
harusnya mengalami musim kemarau dengan suhu yang panas menyengat.
Empat tahun tinggal di Kota Malang membuat tubuhku segera
beradaptasi dengan suhunya yang dingin. Setelah itu, aku melanjutkan kuliah di
kota Semarang yang panas sama seperti di Samarinda. Setelah tiga tahun tidak
tinggal di Malang, akhirnya aku kembali ke Malang karena menikah dengan orang
Malang. Saat itulah, aku mulai merasakan perbedaannya jika dibandingkan ketika
aku tiba di kota tersebut.
Kota Malang mengalami perkembangan pembangunan yang cukup
cepat selama tiga tahun. Gedung-gedung baru terlihat di beberapa bagian kota
berdampak pada kurangnya resapan air. Lahan sawah dan kebun di pinggir kota
telah bertransformasi menjadi bangunan perumahan membuat air tidak langsung
masuk ke dalam tanah. Ditambah lagi, pembangunan jalan tol yang mengambil lahan
hijau seperti hutan, sawah dan kebun, menambah cepatnya aliran air dari hulu ke
hilir sementara daerah hilir belum siap menampung limpasan air hujan yang
begitu tinggi. Maka, banjir di Kota Malang tak bisa dihindari lagi.
Tak cuma di Malang saja, ketika aku pulang kampung di kota
kelahiran Samarinda tahun 2010, aku juga merasakan perbedaan. Perjalanan dari
Balikpapan ke Samarinda, yang dulunya semak belukar, hutan, dan kebun sudah
dialihfungsikan menjadi jalan dan bangunan. Belum lagi, ketika tiba di
Samarinda, aku melihat ada bukit yang dulu hijau menjadi gundul. Tak heran jika Samarinda saat ini juga sering mengalami banjir.
Apa yang dilakukan
pemerintah?
Hal yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan di masa pandemi Covid-19 ini adalah :
1. Pengeboman air dengan menggunakan helikopter mencapai 392 juta liter.
2. Melakukan operasi udara berupa teknologi
modifikasi cuaca (TMC) dengan menggunakan fixed-wing oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPPT dan TNI.
3. Pemeriksaan kondisi sumur bor dan sekat kanal agar dapat berfungsi dengan baik saat akan digunakan.
4. Meskipun masa pandemi Covid-19 ini terdapat refocusing anggaran untuk penanganan Covid-19, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) tetap melakukan target-target terkait Karhutla dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan, seperti saat melakukan patroli terpadu, patroli mandiri, kampanye, sosialisasi dan pemadaman. 5. Penyemperotan desinfektan, pemberian hand sanitizer, dan masker yang dilakukan oleh Manggala Agni (Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan)
Solusi Praktis
Banyak hal yang bisa kita lakukan dari rumah sebagai solusi praktis dalam mengatasi perubahan iklim di masa pandemi Covid-19:
1. Menghemat penggunaan listrik
Energi listrik di Indonesia sebagian besar masih berasal dari sumber alam seperti batubara dan air. Makanya dengan penghematan penggunaan listrik maka kita akan menghemat sumber alam yang terbatas tersebut.
2. Menghemat penggunaan air
Hampir setiap tahun Indonesia selalu mengalami kekeringan. Beberapa wilayah sulit mengjangkau air bersih. Hal tersebut karena cadangan air tanah yang semakin sedikit. So, dengan menghemat penggunaan air maka kita sudah membantu menyimpan cadangan air tanah.
3. Pemilahan sampah.
Di lingkungan rumahku memang sudah menerapkan pemilahan sampah. Pembagian sampah dibagi menjadi sampah basah, residu (sampah tidak bisa dijual seperti popok), sampah plastik dan sampah kering (yang masih bisa dijual). Seorang warga yang menjadi pengurus RW terlibat dalam pengumpulan sampah dari para warga. Beliau mengumpulkan sampah kering saja kemudian hasil penjualannya untuk tabungan warga yang bisa diambil jika sudah terkumpul banyak. Pengurangan sampah dengan pemilahan sampah ini berkontribusi dalam pengurangan gas methan yang muncul saat penumpukan sampah di TPA. Gas methan ini juga menjadi penyumbang gas rumah kaca dan pemanasan global.
4. Minimalisir penggunaan plastik
Jika aku tidak meminimalisir penggunaan plastik, dalam seminggu aku sudah menumpuk sampah plastik sampai satu kresek besar. Kemudian plastik itu akan diangkut oleh tukang sampah sementara pengolahan sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama. So, saat belanja ke pasar biasanya aku bawa tas sendiri atau saat aku tidak membawa tas dan penjual memberikan kresek aku menolaknya lantaran aku bisa membawanya tanpa harus pakai kresek.
5. Minimalisir penggunaan kertas
Semua tahu bahwa paperless sekarang sudah mulai berkembang baik untuk menulis atau pun berkirim karya. Syukurnya, karena aku ibu rumah tangga jadi penggunaan kertas tidak terlalu banyak. Hanya saja aku punya dua buku catatan untuk mencatat materi kepenulisan dan saat mengikuti kajian. Dan satu buku itu aku jatah untuk satu tahun bahkan bisa lebih.
6. Minimalisir penggunaan kendaraan bermotor
Akibat pandemi Covid-19 ini, aku lebih sering berada di rumah. Otomatis, penggunaan kendaraan bermotor berkurang. Namun, aku juga masih perlu ke pasar atau ke swalayan untuk berbelanja. Dan aku memilih menggunakan sepeda pancal jika aku tidak membawa barang banyak dan jaraknya tidak jauh. Alasannya selain hemat bahan bakar minyak agar sumber daya alam tidak cepat habis, aku jadi bisa berolahraga. Ya, kan.
7. Minimalisir penggunaan pendingin ruangan Ah, untungnya, di rumahku tidak memasang AC tapi memasang kipas angin. Karena rumahku berdempetan dan agaknya sulit menggunakan cahaya alami sebagai penerangan di siang hari, maka aku tetap menyalakan lampu, seperti di kamar mandi. Meskipun begitu, aku berusaha untuk mematikan lampu di siang hari saat tidak digunakan.
8. Penggunaan masker kain
Penggunaan masker kain yang washable juga menjadi salah satu solusi praktis untuk mengurangi sampah yang menjadi kontribusi dalam pemanasan global.
Begitulah pengalamanku soal perubahan iklim. Satu langkah kecil dari satu orang terlihat tak berarti namun ketika satu langkah kecil dari seribu orang pasti akan berpengaruh. Sehingga kekhawatiran bulan Juli terhadap kejadian kebakaran hutan dan lahan serta cuaca esktrim di bulan selanjutnya dapat diminialisir.
Solusi praktis kalian bagaimana untuk meminimalisir dampak pemanasan global di tengah pandemi Covid-19 ini? Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog "Perubahan Iklim" yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.
Membahas minat baca anak, saya selalu teringat dialog-dialog yang terjadi antara saya dan anak saya tentang buku.
Dialog 1. Saya siap tertidur malam dan sangat mengantuk. Tiba-tiba anak saya membawa beberapa buku. "Ibu, tolong bacain," pintanya sambil menatap saya. Dengan menahan kantuk, saya membacakan cerita. Beberapa menit kemudian. "Aahh! Ibu! Ibu! Bacaaiinn!" Ternyata saya ketiduran. Haha. Saya tertawa sendiri. Dan itu terjadi tidak hanya saat ingin tidur malam tapi juga saat siang hari. Biasanya, akan terjadi tiga kondisi. Pertama, saya tidak mengantuk, namun saat membacakan cerita saya mengantuk dan tertidur. Kedua, saya tidak mengantuk, dan ketika saya membacakan cerita, anak saya yang tertidur. Ketiga, saya mengantuk, namun saya tetap membacakan cerita karena permintaannya, akhirnya saya yang tertidur. Dialog 2. Di toko buku. Anak saya memilih-milih buku di lemari. "Bu, ini," katanya sambil menunjuk buku. Terus dia melihat buku yang lain. "Bu, yang ini aja ya boleh?" Saya mengangguk dan menukar buku yang diinginkan. "Eh. Ini aja Bu." Dia mulai bimbang sendiri. Pada akhirnya, dia memutuskan yang mana yang mau dibawa pulang. Dialog 3. Ini terjadi malam ini, ketika suami membawakan kertas bekas yang banyak gambar dari internet. Anak saya sangat senang sekali. Mereka pun mulai melukis dengan cat air. Setelah selesai melukis, dia meminta pada saya, "Bu, ini yang sudah aku lukis, dikasih tulisan ya. Nanti bacain ya." Sret... srett... Dia memberi saya lembaran kertas yang sudah dia beri kotak di bagian atas untuk judul dan bawah untuk ceritanya. Masyallah. Saya pun menulis cerita asal saja di setiap kotak yang sudah dia gambar. Setelah selesai dengan segala upaya, dia meminta lagi, "Bu, ini di isolasi." "Untuk apa?" "Biar jadi buku." "Lah. Ngapain?" "Iya. Ibu sih nggak belikan aku buku," kata anak saya. Saya tertawa. "Kan udah di belikan waktu di Malang." "Kan di sini (Sidoarjo) belum." Akhirnya saya menuruti permintaannya untuk menjadikan lembaran-lembaran itu menjadi buku.
Saya punya kekhawatiran jika anak saya tidak suka membaca buku karena katanya di usia delapan sampai sembilan tahun minat baca anak bisa menurun, seperti yang dijelaskan pada Bu Sofie dalam website Litara.or.id:
Survei menyimpulkan bahwa minat membaca untuk kesenangan menurun ketika anak berusia delapan hingga sembilan tahun. Menariknya, penurunan minat ini tak ditemukan pada sedikit anak yang memang telah memiliki kebiasaan membaca sejak usia dini. Ini menjelaskan mengapa banyak penelitian menganjurkan beragam kegiatan membaca yang menarik minat pembaca berusia dini.
Namun, dari dialog-dialog tersebut, saya cukup senang jika anak saya yang masih usia dini memiliki ketertarikan terhadap buku. Saya harap hal tersebut tidak akan menurun seiring bertambahnya usia. Karena menurut saya, minat baca anak saya itu adalah salah satu modal untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan baik dalam membaca buku.
Suatu ketika, seseorang bertanya kepada saya tentang bagaimana agar anak mau membaca buku?
Saya berusaha menjawab dengan pengetahuan minim yang saya miliki bahwa semua tergantung jenis buku yang dibaca untuk menarik anak untuk membaca. Jika anak masih usia dini, maka buku bergambar (picture book) mungkin lebih tepat diberikan karena tulisannya tidak banyak dan menyenangkan.
Inilah cerita saya tentang cara saya menumbuhkan minat baca anak saya....
Ketika anak saya berusia enam bulan, saya mulai berpikir bagaimana anak saya ini bisa tertarik dengan buku?
Ketertarikan terhadap buku adalah hal yang harus saya capai terlebih dahulu. Sebenarnya, tidak perlu menunggu usia enam bulan untuk menarik minat baca anak. Dari hamil pun bisa dilakukan oleh ibu untuk membaca (termasuk Al-Quran).
Pada akhirnya saya membelikan buku bergambar yang memang sesuai usianya atau sesuai levelnya. Setiap buku bergambar biasanya sudah ada usia pembaca. Buku bergambar yang saya miliki pertama kali untuk anak saya adalah buku bergambar tentang hiu dan lumba-lumba. Rupanya anak saya sangat menyenangi itu karena gambarnya yang menyenangkan dan tidak membosankan.
Membacakan buku pun tidak melulu sebelum tidur malam, tetapi bisa juga sebelum tidur siang, waktu makan ataupun setelah selesai bermain. Langkah awal saya untuk menarik minat baca anak adalah mengajaknya membaca.
Tak hanya jenis buku yang sesuai usia atau level dan juga bacaan yang menyenangkan, tetapi juga usaha dari orang tua untuk membacakan buku. Dukungan orang tua untuk menumbuhkan minat baca anak tidak hanya pada saat membelikan buku saja, tetapi juga perlu usaha lain agar anak menjadi tertarik pada buku, seperti tak menolak saat anak meminta dibacakan buku meskipun orang tua merasa bosan dan capek.
Terus terang, saya pernah merasa lelah karena anak terus-terusan minta dibacakan buku padahal mulut saya sudah berbuih. Namun, waktu itu saya berpikir, bagaimana anak saya bisa suka dengan buku jika saya sendiri tidak membuatnya menyukainya hanya karena malas, lelah dan bosan membacakan buku untuknya? Setelah itu, saya selalu berusaha membacakan buku cerita untuknya.
Selain itu, anak-anak adalah peniru ulung. Mereka dengan mudahnya meniru kebiasaan orang yang ada di sekitarnya. Jika orang tuanya suka melakukan sesuatu, kemungkinan besar anak akan menirunya. Maka, ketika orang tua ingin menumbuhkan minat baca anak, maka orang tua itu juga harus membaca buku, setidaknya terlihat depan anak-anak.
Saya katakan pada seseorang yang bertanya pada saya bahwa orang tua juga harus menunjukkan minat baca terhadap buku sehingga anak akan percaya dan akan meniru orang tuanya untuk membaca.
Siapa pun tidak akan suka jika seseorang menyuruh melakukan sesuatu sementara dia sendiri tidak melakukannya. Orang tua tidak bisa memaksa anak untuk suka membaca buku sementara orang tuanya sendiri tidak suka membaca. Anak tidak akan mau menuruti permintaan orang tuanya yang hanya disuruh, "Coba kamu baca buku saja." Sementara orang tuanya tidak pernah memegang buku atau tidak menjadikan buku itu sesuatu yang menarik. Lingkungan yang literat akan memudahkan menumbuhkan minat baca anak.
Bersyukur, saya sendiri memang sudah menyukai membaca buku sejak kecil. Meski orang tua saya hanya membaca koran setiap hari dan tidak memaksa saya untuk menyukai buku, tapi saya memiliki kesempatan bisa mengakses buku cerita. Orang tua saya memfasilitasi dengan menyediakan buku-buki dirumah. Saudara saya yang suka sekali membaca majalah anak-anak bahkan sampai berlangganan.
Sampai saat ini, saya pun masih membaca buku dan menyelesaikannya. Selain memang untuk kebutuhan nutrisi gaya menulis, membaca buku, khususnya di depan anak-anak, adalah cara agar anak menjadi akrab dengan buku. Tak heran, di rumah saya, buku yang keluar dari lemari sudah berada dimana-mana, seperti tempat tidur, ruang tamu, dan tempat makan (kebetulan juga rumah saya tidak begitu besar).
Penempatan buku-buku di tempat yang terlihat juga cara menumbuhkan minat baca anak, misalnya di kamar, di dekat kotak mainan, di meja makan, di ruang tamu. Jika tidak ingin terlihat berceceran, maka letakkan rak buku di tempat yang sering dilalui anak-anak. Tidak hanya menjadi hiasan semata. Sampai-sampai saya membeli meja makan yang ada rak bukunya. Alhasil, anak saya sering meminta dibacakan buku saat dia sedang makan.
Memilih Buku pun Bisa Menjadi Dilema bagi Anak Usia Dini (Dok. Pri)
Sesekali, saya juga mengajak anak saya pergi ke toko buku, bazar buku maupun ke perpustakaan kota. Di sana, saya mengajaknya melihat buku anak-anak bergambar (karena anak saya masih Balita) dan membawa pulang beberapa buku untuk mereka. Mereka begitu antusias.
Apakah saya hanya membacakan buku fisik yang saya beli dari toko atau bazar?
Tidak. Justru saya tidak menghalangi anak mengenal teknologi. Hanya saja saya perlu strategi tersendiri. Saya tidak mau anak saya dikendalikan oleh tayangan-tayangan adiktif pada kanal video melalui ponsel. Maka, saya mengunduh aplikasi membaca untuk anak yaitu aplikasi Let's Read yang bisa diunduh melalui playstore.
Bacaan di Let's Read ini sudah menyesuaikan kondisi masing-masing anak. Adanya fitur level baca ini memudahkan pembaca memilih level membaca sesuai dengan kemampuannya. Selain itu, ada juga terjemahan bahasa asing juga bahasa lokal. Selain itu, ceritanya pun unik, tidak biasa dan sangat menarik.
Karena cerita yang menyenangkan pada platform Let's Read itulah anak saya semakin betah dan senang dibacakan cerita pada platform itu. Bahkan dia selalu mencari cerita favorit yang dia minta bacakan berulang kali. Judulnya "Ira Tidak Takut Lagi". Karena dia minta baca cerita itu terus, saya mencarikan cerita lainnya. Awalnya dia tidak mau. Pokoknya cerita tentang Ira melulu. Sampai saya bujuk-bujuk untuk membaca cerita lain akhirnya dia mau meski baru berhasil sekitar sebulan ini.
Selain itu, mengajak anak saya membaca cerita melalui platform Let's Read secara perlahan mampu mengalihkan perhatian anak saya dari tontonan kanal video. Mindset nya berubah. Ia tidak lagi menganggap bahwa ponsel hanya untuk menonton tapi bisa untuk membaca.
Ketika dia mulai terlihat memegang ponsel, maka saya melarangnya untuk menonton, dia pun memilih untuk dibacakan cerita dari platform Let's Read. Jadi membaca media digital untuk kasus saya lebih membantu anak mengalihkan keinginannya dari tontonan video yang bisa dilakukan berjam-jam. Harapannya, pondasi minat baca anak sudah terbentuk sejak usia dini karena didukung oleh aplikasi Let's Read.
Mungkin Mom tertarik? Mom bisa unduh aplikasinya di Play Store ya atau unduh dari link nya di sini.
Belum ada kata terlambat untuk menanam pondasi minat baca anak. Banyak cara untuk melakukannya. Hal di atas adalah yang saya lakukan terhadap anak saya yang masih balita dan mungkin bisa diterapkan pada sebagian anak.
Beberapa bulan lalu, sebelum ramai virus covid-19, suami ngajak makan ikan di daerah yang (katanya) tak begitu jauh dari rumah. Nyatanya, dari Waru (Sidoarjo) sampai sentral penjualan ikan sekitar 20-30 menit dengan kendaraan roda empat. Sebenarnya suami juga belum pernah ke sana jadi suami hanya menerka-nerka saja dimana tempat jual ikan yang murah. Itu pun hanya berbekal petunjuk dari seorang teman.
Lokasi Gubuk Latarombo
Katanya, tempatnya jalan terus sampai pertigaan belok kiri, jalan terus sampai ketemu pasar. Nah, kami belum belok kiri sudah ketemu seperti pasar. Setelah pasar, sepanjang jalan yang tidak lebar itu, hamparan tambak terbentang luas di sebelah kanan kiri jalan. Anginnya begitu kencang. Bau amisnya juga menyengat begitu menusuk.
Di sebelah kanan kiri jalan banyak warung-warung kayu kecil di pinggir jalan dengan spanduk bertuliskan jual jenis hasil tambak, seperti ikan mujaer, gurame, kakap, kepiting, lobster, udang.
Ikan-ikan dan hasil tambak lainnya dijejer di depan warung itu. Kami terus saja jalan sampai bertemu pertigaan dan belok ke kiri. Namun, setelah itu kita tidak bertemu pasar. Hanya rumah-rumah penduduk. Tidak terlihat ada orang menjual ikan seperti yang baru saja kami lewati.
Suasana di Gubuk Latarombo
Jadi terpaksa kami kembali dan memilih makan di warung makan Latarombo. Suasananya sepi. Maklum di samping dan seberangnya adalah tambak. Tempat parkirannya juga masih tanah. Kami menduga tidak ada yang datang ke rumah makan itu.
Meskipun terkesan sepi, desain pintu masuknya yang melewati sungai kecil cukup sederhana dan tidak kaku. Begitu masuk, aku melihat gazebo-gazebo di pinggir tambak yang terlihat romantis. Selain itu juga ada satu spot khusus foto-foto dengan latar tambak dan latarombo.
Kami pun memilih gazebo bambu itu yang dekat dengan musholla. Sayang gazebonya ada beberapa bambu yang rusak. Aman sih tapi aku tetap meminta anak-anak untuk berhati-hati. apalagi mereka suka manjat-manjat.
Menu di rumah makan ini juga kebanyakan hasil laut seperti gurame, kakap merah, lobster, udang, dan lain-lain. Bumbunya juga bisa pilih bakar, asam manis atau lada hitam. Harganya untuk lobster, 2 gurame, sekitar 250.000 rupiah.
Sambil menunggu ikan dibakar, kami menikmati pemandangan tambak dengan burung-burung putih yang sibuk mencari ikan di tambak. Beberapa orang memancing ikan di pinggir tambak. Sebagian sumringah karena berhasil mendapatkan ikan, sebagian lagi masih menunggu dalam diam. Anak-anak bermain ayunan, aku mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat.
Menikmati Sajian Bakaran Gubuk Latarombo
Setengah jam makanan kami pun siap. Hal yang sangat diperhatikan oleh suamiku adalah tidak ada asap bakar. Aneh katanya. Tapi kubilang, ya bisa aja lah pakai happy call yang nggak pakai asap. Haha. ada-ada saja suamiku. Kami pun makan dengan lahap. Memang pas lagi lapar-laparnya.
Rasanya kubilang enak aja sih. Tapi beda selera ya. Selama kami makan, beberapa pengunjung mulai datang. Mungkin tempat tersebut ramainya sore dan malam karena memang tempatnya romantis banget.
Well, setelah mengalami kehilangan file-file naskah juga foto-foto untuk blog di tab, mood ku langsung terjun bebas untuk kembali menulis baik fiksi maupun blog. Namun, kusadar mengendalikan mood itu harus dilakukan untuk terus menghasilkan karya. Maka ketika mood menguasaiku saat ini, aku coba menulis yang mudah dulu, seperti curhatan di blog sambil memperbaiki moodku.
Sebelum file-file ku hilang, aku sudah mencatat beberapa hal yang akan kutulis dalam blog. Namun, selalu kutunda-tunda. Sampai foto-foto hilang aku pun mencoba menyelesaikan semua rencana tulisan itu meski banyak foto yang hilang.
So, mungkin dalam blogku, aku akan menulis dari hasil pengalamanku tanpa banyak foto atau mungkin memakai foto dari yang lain, kecuali kalau ada kesempatan kesana lagi baru deh diupdate fotonya. Pfuuh. Rasanya memang kurang sreg kalau tidak pakai foto sendiri.
Ceritanya, aku pengen cerita saat aku makan Mie Aceh di daerah Rungkut. Aku sudah lama ingin mencicipi Mie Aceh yang terkenal pedas dan kaya rempah itu. Di Malang, juga ada menjual Mie Aceh tapi konsep tempat makannya modern, aku kurang tertarik karena kupikir rasanya juga sudah nggak original.
So, setelah menemani suami ke mantan kampusnya di ITS, kita pun makan siang di rumah makan Mie Aceh. Namanya warung makan Asokaya.
Tempatnya biasa, alias bukan warung modern. Sayangnya, parkir mobil di sana agak susah karena berada dekat persimpangan dan jalannya pun tidak lebar. Apalagi saat jam istirahat siang jalanan daerah situ ramai banget. Jadi, harus pinter parkir mepet-mepet, hehe. Kalau nggak, bisa menimbulkan kemacetan.
Menunya sebenarnya banyak banget hanya saja yang membedakan campurannya seperti untuk Mie Aceh ada daging, udang, kepiting, telur, cumi atau istimewa. Mie gorengnya bisa dibikin kuah, tumis, atau goreng. Menu Nasi Gorengnya juga bisa mau pilih yang biasa, daging, udang, kepiting, cumi, telur atau istimewa. Sebenarnya ada menu sate juga, tapi saat kami pesan, ternyata lagi kosong.
Jadi, kami pun memesan makanan Mie Aceh daging dan Nasi goreng istimewa (campurannya daging sama sea food). Terus, kami pun memesan teh tarik atau teh tarek yang menjadi minuman nasional di Malaysia.
Sekitar 20 menit, akhirnya makanan pun datang. Tak sabar, suami dan aku melahapnya apalagi perut kami juga lapar. Rasanyaaa.. tebakanku benarr.. Pedaaaas dan kaya rempah!
Aku mencoba nasi goreng istimewanya juga begitu. Menurutku, rasa Mie goreng dan Nasi Gorengnya sedikit berasa kare-nya. Aku jadi inget cerita seseorang yang pernah ke Malaysia kalau di sana itu makanan serba rasa kare.
Kenapa makanan Aceh juga terasa ada karenya seperti di Malaysia? Mungkin karena jaman dulu Aceh dan Melaka punya hubungan perdagangan yang kuat hingga terjadi akulturasi budaya termasuk juga kulinernya. Begitu pun dengan minuman teh tarikhya. Minuman ini juga berasal dari orang India muslim yang berimigrasi ke Malaysia.
Sebenarnya, aku agak khawatir karena perutku nggak tahan sama yang makanan pedas. Akan tetapi saat itu aku lahap saja sampai habis. hahaha.
Dan pada akhirnya, anakku cuma minum teh tarik aja. Minuman campuran teh, susu dan creamer ini cukup menyegarkan dan harganya juga murah meski menurutku kurang kental.
Harga Mie Aceh dan Mie Goreng berkisar 10.000-25.000. Murah apa nggak?
sumber : Instagram surabaya makan-makan
Alamat warungnya di Jalan Kali Rungkut No 68, Surabaya.
Judul : Antologi Cerpen Cinta Perempuan Biasa
Nama penulis : Nuri Thakya, Dian Permatasari, Rendi Aprian, Nyimas Maharani Shalima, Yunita Mercy Sabatini, Raisa Fardani, Nur Hidayah, Muhammad Ali Saidi, Felly Octaviani, Rianti Aprillia, Ela Indah, Rosanti Vivi Muari/Kim, dan Erinda Nur Anisa
Penerbit : Anara Publishing House
Cetakan: Maret 2020
Halaman: 114+ii
Harga:
ISBN :978-623-7229-57-5
Kisah Cinta dalam Antologi
Kalian pasti pernah kan merasakan jatuh hati. Tapiii... apakah cinta kalian selalu berbalas? Coba hitung, berapa banyak yang bertepuk sebelah tangan? Banyak! Aihhh.... tapi memang begitulah ya, kadang Allah ngasih kita yang terbaik meski kita harus sakit hati dulu.
Syukur-syukur, tanpa harus merasakan jatuh hati tiba-tiba diminta seseorang yang ternyata didamba hampir sebagian besar orang kemudian dilamar dan menikah. Wew, betapa beruntungnya! Sama seperti cerita Haura dalam antologi ini yang masih SMA dan dilamar oleh seorang Habib yang religius, lulusan Kairo, tampan, didambakan banyak santriwati.
Haura yang biasa saja dan seorang siswa yang masih sekolah SMA jelas dibuatnya bingung. Bahkan ia berprasangka buruk kalau Habib itu mau poligami sampai-sampai Haura memberinya syarat selama menikah dengannya sang Habib tidak boleh poligami. Syarat itu tidak memberatkan Habib. Ia setia. Justru suatu ketika, Haura merasa bersalah dengan persyaratannya itu.
Dari Haura, kita bisa belajar bagaimana seharusnya cinta kepada pasangan itu tidak berlebihan sehingga muncul keikhlasan ketika kita harus merelakannya dengan wanita lain. Ah! Keikhlasan itu kadang menyakitkan meski bernilai pahala. Jangan sampai Allah cemburu karena kita terlalu berlebihan mencintai pasangan kita. Penulis menyadarkan pembaca dengan bagaimana menjadi seseorang yang ikhlas ketika cinta harus berbagi. Berat. Sangat berat.
Jika perjalanan menjemput kekasih tidak begitu sulit, lain halnya dengan Vana yang berbeda status dengan kekasihnya, Deri. Vana tidak diterima oleh orang tua sang kekasih karena statusnya sebagai anak miskin. Vana selalu berdoa dalam sholatnya agar ia direstui kedua orang tuanya. Allah terkadang selalu punya cara untuk mempertemukan sepasang kekasih dengan cobaan yang cukup berat. Tak lain agar pasangan itu saling menghargai bagaimana usaha sepasang kekasih pada awal-awal kisah mereka sampai direstui orang tua.
Selain status sosial Deri dan Vana, status perkawinan juga sempat menimbulkan keraguan di hati orang tua Felishia, seorang janda beranak satu, yang akan dinikahi oleh Raihan, seorang perjaka. Namun, status itu bukan menjadi halangan mereka untuk bisa bersama.
Begitu pun dengan kisah Chiko yang baru saja jadi mualaf dan mendatangi orang tua Jihan untuk melamar. Meski Jihan ragu, akhirnya ia menerima Chiko untuk menjadi suaminya. Perjalanan membersamai seorang mualaf pun tidak mudah apalagi orang tua Chiko masih berstatus non muslim. Gaya hidup sebelum menjadi mualaf pun masih terbawa dalam kehidupan mereka. Belum lagi seorang wanita yang dulu selalu bersama Chiko masih hadir dalam kehidupan mereka. Lama-lama Jihan tidak tahan.
Bahasa Tulis dalam Karya Antologi
Bahasa dalam cerita-cerita tersebut mudah dipahami, meskipun beberapa bagian kalimat ada yang harus disesuaikan dengan aturan PUEBI. Secara garis besar, cerita pendek-cerita pendek yang ditulis 13 penulis ini berkisah tentang perempuan yang mencintai seorang pria dengan permasalahan berbeda. Saya membaca kisah ini seolah-olah saya kembali ke masa remaja.
Cerita cinta dalam antologi ini begitu dekat dengan kehidupan para remaja dengan emosi, kebimbangan, juga tingkah lakunya saat berhadapan dengan kekasih yang dicintainya. Ketika membaca biografi penulisnya, usia mereka sekitar 20-25 tahun.
Kontak Penulis
Jika kalian penasaran dengan cerita cinta yang ditulis oleh mereka, kalian bisa hubungi salah satu penulisnya yaitu Kak Nuri Thakya.
Instagram : Nurithakya99
Fan Page : Nuri Thakya
Email : Nuri.Thakya99@gmail.com
Blog : nurithakya7.blogspot.com
Kontak: 082119514772.
Laut terlalu bermurah
hati karena mungkin ia begitu iba pada kita yang sangat tergantung padanya. Begitu
banyak kebaikan yang sudah Laut berikan kepada kita. Namun, lihatlah, apa yang
kita lakukan padanya? Kerakusan dan keegoisan diri manusia membuat laut
kehilangan keindahannya bahkan ‘sakit’ alias rusak.
Banyak contoh kerusakan
yang terjadi pada laut dan berdampak pada manusia. Pembuangan sampah yang
membuat banyaknya ikan mati sehingga nelayan kesulitan mencari ikan.
Eksploitasi besar-besaran yang pada akhirnya manusia tidak bisa lagi menikmati
hasil laut. Penggunaan teknologi yang merusak terumbu karang secara tidak
langsung juga merusak ekosistem ikan di perairan laut. Betapa menyedihkannya,
surga lautan Indonesia harus rusak karena ketamakan manusia.
Harusnya kita bisa
belajar menahan ego dan menghindari kerakusan dari masyarakat Papua. Mereka
bisa menahan diri dari eksploitasi hasil laut. Mereka percaya bahwa laut
merupakan sumber kebaikan dan sumber penghidupan.
Kepercayaan itulah yang
membuat mereka menjaga kelestarian laut. Mereka masih bisa menikmati hasil
laut. Kelak, anak cucu mereka juga masih bisa menikmati kekayaan laut yang
begitu berlimpah.
Tak hanya hasil laut
untuk pangan, eksotisme pemandangan bawah laut juga begitu memukau.
Kejernihan
airnya mempersilakan mata untuk menikmati biota laut. Keindahan itulah yang
mengundang para wisatawan datang memanjakan mata ke Papua. Tentu, semua itu
karena masyarakatnya pandai menjaga kelestarian laut.
Kenapa Papua merupakan destinasi wisata hijau?
Alasan pertama : kekayaan alam yang
berlimpah
Kekayaan alam di darat
dan lautan itu menjadi salah satu alasan mengapa Pulau Papua disebut sebagai
destinasi wisata hijau. Daratan hijaunya yang berupa hutan begitu mendominasi
sebesar 33 juta hektar atau 81% dari luas daratan. Hutan tanah Papua merupakan
garda terakhir hutan di Indonesia, bahkan dunia. Di dalamnya terdapat
15.000-20.000 jenis tumbuhan, 602 jenis burung, 125 jenis mamalia dan 223 jenis
reptilia (econusa_id).
Satwa
darat di pulau Papua seperti burung Cendrawasih, kanguru pohon, beragam
kupu-kupu, dan hewan langka lainnya menunjukkan betapa ramahnya hutan Papua untuk mereka tinggali. Begitupun dengan keanekaragaman hayati laut seperti terumbu karang, lamun, ikan hiu, ikan paus, ikan kakatua,
penyu, kakap, red firefish menjadi daya tarik untuk bagi pengunjung untuk diving. Belum lagi
hutan mangrove atau mangi-mangi yang luas menjadi tempat tinggal berbagai jenis
spesies ikan.
Alasan kedua : kearifan lokal yang
mendukung konservasi laut
Tidak hanya dari kekayaan
alam saja yang menjadi anugerah Tuhan saja, tetapi juga dari sosial
kemasyarakatan yang menjadikan pulau tersebut disebut sebagai destinasi wisata
hijau. Masyarakat Papua memiliki kearifan local yang mendukung kelestarian
alam lautan.
Mereka menyebutnya sasi laut atau Sasi Nggama seperti yang dilakukan
di Kaimana dan Buruway. Biota laut seperti lola atau
kerang, teripang, dan siput batulaga merupakan klasifikasi biota yang dilindungi pada sasi laut tersebut.
Perlindungan biota laut tersebut didukung oleh sistem penangkapan hewan
laut yang tertutup. Praktis sistem ini mampu menjaga sumber daya alam di laut secara
berkelanjutan dan melindungi sumber daya alam untuk
dieksploitasi.
Masyarakat
memanfaatkan menangkap hasil laut ini selama dua minggu sampai tiga bulan. Batasan
pemanfaatan tersebut hanya perkiraan semata. Tidak berlebihan apalagi sampai
merusak ekosistem laut.
Selama penangkapan
sumberdaya laut tersebut, masyarakat tidak boleh menggunakan alat-alat yang
merusak. Mereka juga tidak
menangkap ikan yang masih kecil saat masa sasi laut dibuka. Tujuannya agar
biota laut lain bisa terus berkembang biak saat sasi laut
ditutup sehingga hasil laut tetap melimpah di perairan Papua. Lama ditutupnya
sasi laut sekitar satu sampai dua tahun.
Meskipun sasi laut tidak
ada peraturan tertulis, masyarakat sudah menaati aturan tersebut secara turun temurun. Jika mereka melanggar aturan tersebut, mereka akan dikenai sanksi sosial dari
pemimpin adat atau denda berupa uang. Namun, ketika ada orang luar yang
melanggar aturan sasi, seperti tetap mengambil ikan pada bulan-bulan yang
dilarang, maka orang tersebut tidak bisa dikenai hukuman oleh pemimpin adat. So, apakah kelestarian lingkungan dapat terjaga jika orang luar tidak memperhatikan aturan adat tersebut?
Apalagi, adat sasi laut ini
tentunya tidak terlepas dari pelaksanaan-pelaksanaan ritual sebelum
melaksanakan sasi laut. Dalam ritual ini, masyarakat melakukan
pembacaan-pembacaan doa untuk meminta berkat dari Tuhan. Mereka begitu sadar
bahwa sumber daya alam yang melimpah ruah adalah berkat dari Tuhan. Mereka menjaga hubungan manusia dengan Tuhan dengan melakukan
ritual tersebut sebelum melakukan sasi laut.
Tak hanya sasi laut saja,
tradisi menjaga Mangrove di Kampung Kambala juga menjadi cara untuk mengontrol
pemanfaatan sumber daya di kawasan mangrove. Seperti yang dikutip dari
econusa_id, bagi siapa saja yang ingin memanfaatkan hutan tersebut, mereka
harus melakukan upacara adat Sinara. Memang, dengan adanya tradisi ini membuat
tidak sembarang orang bisa masuk ke hutan mangrove sehingga kawasan hutan
tersebut tetap lestari.
Pembukaan Sasi Laut (foto : hijauku.com)
Kehadiran warisan
konservasi tradisional dari nenek moyang membuat biota laut begitu terjaga
kelestariannya. Berbagai macam ikan warna-warni, terumbu karang yang indah begitu
memikat. Perairan Papua ini menjadi pariwisata primadona Indonesia juga dunia.
Alasan ketiga : stakeholder yang sadar
konservasi laut
Selain sumber daya alam
dan sosial masyarakat, setiap pemangku kepentingan (stakeholder) baik masyarakat
ataupun lembaga pemerintah maupun non pemerintah menyadari akan kekayaan sumber
daya kelautan yang harus dijaga dan dilestarikan.
Pemangku kepentingan tersebut saling terhubung sehingga pengelolaan sumber daya alam sejalan
dengan konservasi lingkungan laut, seperti Deklarasi Koral yang telah
dilaksanakan oleh EcoNusa beserta organisasi non-profit lainnya untuk
mengingatkan peran pemerintah dan semua pihak untuk mengedepankan pemulihan
laut Indonesia.
EcoNusa sendiri adalah
organisasi non-profit yang menjembatani komunikasi pemangku kepentingan itu di
wilayah Indonesia Timur adalah Yayasan EcoNusa . Lembaga tersebut bertujuan
untuk memaksimalkan praktek pengelolaan sumber daya alam dan konservasi
lingkungan dengan penguatan inisiatif masyarakat lokal. Keberadaan organisasi
non profit ini menjadi salah satu peran dalam perlindungan sumber daya alam di
tanah Papua termasuk mendukung pengembangan Papua destinasi wisata hijau.
Serupa Surga di Kota Senja
Terkenal dengan sasi
lautnya, Kaimana menjadi salah satu destinasi wisata hijau yang ingin saya
kunjungi. Distrik yang dikenal dengan Kota Senja ini seperti surga yang
menawarkan berjuta pesona keindahan.
Kenapa harus Kaimana?
Tak kalah dengan
Raja Ampat
Raja Ampat memang
sangat terkenal dengan keindahannya. Namun, sesungguhnya, Teluk Triton di
Kabupaten Kaimana tak kalah indah dengan Raja Ampat. Teluk Triton juga memiliki
deretan pulau karang yang menyebar dengan gradasi warna laut biru hingga hijau
tosca. Karena kekayaan biota laut dan peninggalan prasejarah inilah yang
membuat Teluk Triton dijuluki The Lost Paradise.
Kejernihan air laut Teluk Triton Tak kalah dengan destinasi wisata di luar negeri (foto : ksmtour)
Hiu paus yang
langka di pulau karang yang indah
Daya tarik Teluk
Triton lainnya adalah keberadaan ikan hiu paus yang
bisa dijumpai saat musim tertentu. Jika kalian membayangkan bertemu ikan ini
akan memakan manusia, maka kalian salah! Hiu paus ini jinak dan memakan
plankton serta ikan kecil. Karena jinaknya itulah, kita bisa menyelam dari
jarak dekat dengan hiu paus ini, kira-kira sekitar dua meter. Kalian mau berenang dekat dengan ikan paus terbesar ini?
Serunya berenang dekat dengan Hiu Paus di Kaimana (foto: Mongabay)
Kehadiran lukisan kuno dari jaman
prasejarah
Kaimana ternyata menyimpan sebuah lukisan yang dipercaya telah ada sejak
jaman prasejarah. Lukisan tersebut bergambar tangan dan gambar-gambar lain
selayaknya simbol-simbol dari jaman dahulu ini tergambar pada tebing-tebing yang tinggi.
Lukisan kuno (foto: travel.kompas.com)
Romantisnya
menikmati Senja di Kaimana
Tak heran jika lagu
Senja di Kaimana begitu fenomenal di tahun 70-an, ternyata senja di Kaimana
begitu indah dan romantis. Daerah yang tidak begitu banyak dikenal dulunya,
kini mulai mengundang orang untuk datang. Duduk di pinggir pantai sambil
memandang semburat oranye di langit Papua begitu terasa syahdu. Pemandangan matahari tenggelam bisa dinikmati di berbagai tempat
di Kaimana seperti Pulau Venu, Tanjung Kinara, dan Pantai Bantemi. Waktu yang bagus untuk melihat sunset di Kaimanasekitar bulan Oktober sampai Januari.
Senja di Kaimana (foto : ethnotraveller.net)
Melihat penyu
bertelur
Tak ada yang
paling menyenangkan selain menjadi saksi munculnya kehidupan baru. Melihat
penyu bertelur tentunya menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Berkunjung ke Pulau
Venu memungkinkan kita untuk melihat satwa yang dilindungi tersebut bertelur.
Penyu kembali ke laut setelah menetas (foto : birdsheadseascape.com)
Keindahan bawah laut yang kaya
Di kawasan Teluk
Triton terdapat 959 jenis ikan karang, 471 jenis karang dan 28 spesies udang
mantis. Kawasan konservasi ini menyumbang biomassa terbesar di Asia Tenggara
yaitu 228 ton per kilometer persegi (travel.kompas.com). Masih di Kaimana, di Tanjung Papisoi
dijumpai 330 spesies ikan sekaligus pada satu lokasi. Betapa kayanya biota laut di Kaimana. Tak salah jika Kaimana menjadi salah satu destinasi wisata hijau di Bumi Cendrawasih.
Keindahan alam bawah laut Teluk Triton (foto : jhoeraprap.wordpress.com)
Tidak perlu
bingung untuk menyelami keindahan alam bawah laut di Kaimana karena begitu
banyak tempat yang bisa dijelajahi seperti Teluk Triton, Pulau Venu, Pulau
Kilimala, Pulau Karawutu, dan Tanjung Kinara. Namun, Teluk Triton merupakan
spot terbaik untuk menyelam.
Melihat beraneka
ragam satwa burung
Bird watching
dengan beraneka ragam satwa yang tak pernah kita temukan sebelumnya tentu akan
menjadipengalaman menyenangkan di
Tanjung Kinara. Selain itu, di atas Jembatan wisata alam KM 14 kita juga bisa menikmati
satwa burung yang langka.
Satwa burung di Kaimana (foto : peburungamatir.wordpress.com)
Keeksotisan alam Kaimana
itulah yang membuat saya ingin mengunjungi Kaimana sebagai destinasi wisata
hijau. Bisa mengunjungi Kaimana seolah telah mengunjungi hutan di seluruh Papua. Semua keanekaragaman hayati di Papua sudah terwakili di Kaimana.
Namun, tak lupa...
Ketika laut sudah
memberikan kebaikannya kepada manusia, maka sekarang manusia
memberikan perlindungannya kepada laut. Hingga selamanya, laut dan manusia
hidup berdampingan tanpa ada yang dirugikan.