Kesan Pertama Berjalan-Jalan di Braga Bandung, Kok Vibe-nya Remang-Remang ya?

1 comment
Di hari selain kunjungan ke Museum Gedung Sate dan Museum Pos Indonesia, aku mengajak suami jalan-jalan ke tempat wisata Braga setelah tugasnya selesai. Jalan terkenal di Bandung itu berjarak sekitar 1,5 km dari Penginapan kami di Best Western. Bukan hanya jalan-jalan saja, tetapi JALAN KAKI! Sebenarnya jarak itu tidak terlampau jauh, khususnya bagi siapa pun yang terbiasa jalan kaki. Namun, karena mungkin suami juga baru pulang kerja jadilah rasanya jauh sekali. Apalagi ditambah anak kami yang ketiga ini kan minta gendong terus. Kadang kami bergantian menggendongnya, hehe. Ya allah maapkan kerandoman istrimu ini paak. Wkwk.

Berjalan kaki hingga ke Braga

Kami melewati jalanan kota yang ramai. Syukurlah di sebagian jalanan masih ada trotoar yang bagus. Eh, ternyata di sebelahnya adalah balai Kota Bandung. 

Di suatu titik kami melewati taman kota yang ternyata Taman Balai Kota Bandung yang cukup luas. Trotoar tampak keren. Di mana tampak lampu hias ala zaman dulu menghiasi trotoar. Kursi besi di trotoar menjadi tempat kami beristirahat sejenak. Sampai kami disamperin seorang anak remaja laki-laki yang meminta uang pada kami. Katanya untuk makan. 

Aku memberinya secukupnya uang untuk makan. Apa memang banyak ya orang seperti itu di Bandung? Karena tampangnya bukan peminta-minta. Apa karena kelihatan banget wajah kami bukan orang bandung asli? Setelah kami memberinya, ia pun pergi segera ke arah taman. 

Sampailah kami menyeberangi rel kereta api. Jalanan mulai padat kendaraan. Langit juga sudah mulai gelap. Syuruq pun tiba. Perasaanku mulai waswas. Entah mengapa, padahal ada suami. Mungkin apa aku tidak terbiasa keluar jam segitu ya.

Akhirnya sampailah kami di Jalan Braga....

Jalan-jalan ke Braga
Tiba di Braga (dok. Pribadi)

Ini bukan kunjungan pertamaku ke Braga. Beberapa tahun lalu saat studytour, aku pergi ke Jalan Braga dan juga Konferensi Asia Afrika tapi hanya sebentar. Seperti kurang menikmati gitu... dan kayaknya emang jarang banget aku pergi ke Bandung. Jauh banget euy...

Itulah mengapa salah satu alasanku berjalan kaki. Biar bisa menikmati hehe. 

Kenapa Jalan Braga?

Pertanyaannya kenapa Jalan Braga menjadi tempat destinasi wisata Bandung? Sebab Braga punya kenangan panjang sendiri. Jalan Braga memang terkenal sejak zaman kolonial. Mungkin sama seperti Jalan Kajoetangan di Malang dan Jalan Malioboro di Yogyakarta.

Sejarah jalan Braga ini cukup panjang. Bermula dari tahun 1880an, di jalan Braga ini dulunya adalah pedati weg atau jalan pedati yang berlumpur. Jalan ini menghubungkan gudang kopi milik Andreas de Wilde dengan jalan raya pos yang kemudian berganti menjadi Jalan Asia Afrika.

Di tahun tersebut, Jalan Braga cukup sepi. Saking sepinya sampai dibilang jalan Culik. Kemudian mulai ramai ketika pengusaha Belanda mendirikan toko, bar dan tempat hiburan di jalan ini. Hmm... ternyata Jalan Braga sudah terkenal tempat hiburan di zaman dulu. 

Setelah itu, Braga terus berkembang. Butik-butik dari fashion Paris pun mulai menyebar. Societeit Concordia dibangun sebagai tempat berkumpul dan bersosialisasi para kalangan hartawan Belanda.

Tak berhenti sampai di situ, Hotel Savoy-Homann juga dibangun hingga menambah kesan mewahnya. Hingga pada waktu itu, image Braga pun berubah menjadi daerah hiburan atau daerah "remang-remang". Hingga akhirnya Braga di zaman itu menjadi ramai. 


Wisata di Kota Bandung
Suasana Pertokoan Jalan Braga Bandung (Dok. Pribadi)

Pantas saja, saat aku melewati jalan Braga pun suasananya juga remang-remang (bukan karena udah malam). Kebanyakan memang anak muda. Tak hanya cafe-cafe dan pusat perbelanjaan saja tetapi juga banyak bar, yang kalian pasti tahu kan di sana tak hanya menjual minuman biasa saja, hehe.

Menurutku vibe-nya berbeda dengan suasana di Kajoetangan Malang atau Malioboro Yogyakarta yang lebih meriah, ramai, juga lebih terang. Bahkan sepanjang jalan kami berjalan sampai jalan Asia Afrika, jalan Pos dan jalan pulang naik ojek online pun suasananya remang-remang, seperti khasnya kota lama di Surabaya, atau Malang (bukan di kawasan ikonik seperti Kajoetangan dan Malioboro).

Aku dan suami sempat mempertanyakan kenapa sih kok vibe-nya remang-remang begitu? Jadi berasa kayak suasana romantis tapi juga nggak romantis juga, hehe.. Ternyata memang dari zaman kolonial sudah dibuat seperti itu...

Braga Bandung

Papan nama jalan Braga yang ikonik ramai menjadi sasaran pengunjung ingin berfoto di sana. Sepertinya hanya kamera yang canggih aja yang bisa berfoto di malam hari. Kalau pake hapeku tampak biasa wkak. Alhasil, aku nggak berfoto. 

Aku hanya melewati jalan Braga saja. Tidka mampir karena hampir zemua tempat itu ramai sekali. Bahkan toko yang penjual kue tradisional di Braga pun ramai sekali. Dahlah... aku skip. Karena memang seramai itu. 

Arsitektur Bangunan dan Suasana Jalan Braga

Ketika sampai di jalan Braga, sangat terlihat jelas perbedaannya dengan jalanan lain di Bandung. Kendaraan-kendaraan begitu ramai sampai tidak bisa berjalan cepat. Bisa dibilang kondisi lalu lintas saat itu padat merayap. Jalanannya pun bukan aspal. Banyak orang menyeberang jalan untuk mendatangi satu cafe ke cafe kain, dari satu bar ke bar lainnya.

Lampu-lampu khas di pinggir jalan yang khas dan berukir tersebut menambah kesan campuran Jawa dan Belanda.

Arsitekturnya pun jelas sangat berbeda dibanding bangunan lain di Bandung. Bangunan-bangunan di Jalan Braga sudah dibangun sejak zaman kolonial Belanda. Beberapa toko yang bangunannya masih dipertahankan adalah pertokoan Sarinah, Apotek Kimia Farma dan Gedung Merdeka (Gedung Asia Afrika yang dulunya adalah gedung Societeit Concordia). Beberapa bangunan mungkin sudah direvitalisasi atau direnovasi agar mirip keadaan aslinya tapi bukan bangunan kuno.

Arsitektur bangunan di Braga Bandung
Arsitektur Bangunan di Jalan Braga (dok. Pribadi) 

Hantu di Braga

Ternyata Braga tak hanya tentang cafe saja, tetapi ternyata juga ada orang yang kerjaannya nakut-nakutin orang. Di ujung jalan dekat Gedung Asia Afrika, aku melihat anak-anak muda memakai kostum hantu, mulai dari kuntilanak, drakula, dan lain sebagainya. Kalau mau foto silakan bayar. Untung saja ankku belum mengenal itu jadi nggak takut.

Tempat Makan dekat Braga

Setelah di ujung jalan Braga, aku dan suami mencari tempat makan terdekat di sekitar jalan ABC (eh bener nggak sih yang banyak food street itu). Sebenernya suami mau cari tempat makan yang ramai karena tandanya makanannya enak hehe. Tapi kami terlalu lelah dan cari warung tenda yang makanannya diolah dengan cepat saja. 

Kesimpulan

Sepertinya kalau mau ke Braga, mending sore hari sekitar jam 4 ke atas. Jadi jalanan masih ramai, mau foto pun bisa pakai cahaya matahari. Sedangkan saat aku ke sana, hanya sedikit sekali yang aku ambil fotonya. Dan kayanya kalau ke Braga enakan makan es krim aja geeesss. 

Oiya aku sempat ke masjid raya Bandung tapi sayang nggak sempat ke halaman depan teras masjid karena sudah ditutup. Memang bener kalau ke Braga mestinya setelah jam 4 sore. Setelah sholat di masjid Raya Bandung terus jalan ke Braga.

Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

1 komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower