Baru dua pekan di Paris, temanku sudah mengajak untuk mengunjungi rumah Victor Hugo atau Maison de Victor Hugo, rumah milik sastrawan Prancis abad ke-19. Aku sama sekali nggak kepikiran mau ke rumah sastrawan terkenal itu karena emang aku belum ada rencana menjadi penulis. Bayang-bayangku lebih banyak mengarah ke dosen, profesi yang aku inginkan dari dulu, yang mungkin sekarang tidak lagi aku kejar.
Ketika aku banting stir jadi penulis, ada rasa sesal mengapa aku tidak mengunjungi rumah para sastrawan Prancis, seperti Shakespeare, Balzac, Alexandre Dumas. Atau setidaknya, membeli salah satu novel Prancis (well, beli novel di sana bisa buat makan 2 hari. Aku justru beli buku tentang perkuliahan 100an euro. Yang akhirnya gak kepake sekarang. Hiks.)
Siapa, sih, Victor Hugo?
Saat ke sana, aku sedikit tahu tentang Victor Hugo, seorang penulis Les Misérables atau Orang-orang Malang (eh, tak ada kaitannya ya sama asal keluarga suami dan tempat aku kuliah wkwkw).
Victor Hugo adalah seorang sastrawan Prancis terkenal yang menghasilkan karya berupa novel, puisi, naskah drama. Ia lahir tahun 1802 di Besançon dan meninggal pada tahun 1885 di Paris. Ia dimakamkan di Panthéon di mana banyak tokoh penting dimakamkan di sana.
Awalnya dia sukses dengan novelnya berjudul Notre-Dame de Paris tahun 1831 kemudian lebih terkenal lagi adalah novelnya Les Misérables tahun 1862. Artinya di usianya yg ke-29, ia sudah menghasilkan karya Notre-Dame de Paris yang mendunia. Tak banyak penulis di usia muda yang bisa menghasilkan karya luar biasa seperti Victor Hugo. Dan di usia 59, Les Misérables juga dikenal hingga saat ini.
Bisa dibilang, setiap tahun Victor Hugo menghasilkan karya seperti puisi, naskah drama, dan novel. Sepanjang hidupnya, Victor Hugo menghasilkan 5 prosa, 6 naskah drama dan 5 puisi.
Dari biografi singkatnya, aku jadi paham bahwa menghasilkan sebuah karya yang mendunia dan longlasting itu butuh waktu, tidak hanya 3 bulan selesai. Memang, seorang penulis harus sabar menjalani prosesnya. Dan Victor Hugo membuktikannya.
Maison de Victor Hugo
Aku turun di stasiun metro Bastille, metro paling dekat dengan lokasi Maison de Victor Hugo yang berada di arrondissement 4 (seperti kecamatan gitu). Metro yang berhenti di stasiun Bastille ini ada Line 1, 5, 8.
Setelah bertemu dengan teman di pintu keluar stasiun, kami berjalan menuju lokasi. Tibalah di sebuah bangunan tingkat nan cantik dan khas berwarna merah bata dengan banyak jendela dan atap tinggi. Orang berlalu lalang lewat jalan di bawah bangunan itu. Kami pun berjalan ke sana.
![]() |
| Menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi) |
Bangunan itu ternyata mengelilingi sebuah taman Place des Vosges, sebuah ruang terbuka hijau yang cantik dan banyak dinikmati orang-orang Paris. Memang, mereka sangat suka berjemur sambil mengobrol atau membaca buku. Tapi, kalau aku nggak akan mau berjemur kayak mereka soalnya kulitku udah eksotissssss..
![]() |
| Place de Vosges, tempat bersantai saat cuaca sedang sejuk (dok. pribadi) |
Siang Hari di Maison de Victor Hugo
Sebenarnya siang itu tidak terlalu panas meski masuk musim gugur, terik jam 2 siang tetap saja bikin gerah (gerah tapi tetep adem sih). Orang-orang tampak ramai. Kami berada di koridor bangunan bertingkat berwarna merah bata itu. Di lantai dasar, bangunan itu dimanfaatkan menjadi toko. Beberapa penjual lukisan juga tampak membeberkan lukisannya di sepanjang koridor bangunan.
![]() |
| Jalan menuju Maison de Victor Hugo (dok. pribadi) |
Kami menyusuri koridor dan melewati pengunjung lainnya, mencari rumah Victor Hugo di mana. Aku tidak tahu persis. Sepertinya temanku lebih paham. Tak lama, kami tiba di depan sebuah bangunan dengan nomor 6. Tampak plakat bertuliskan Maison de Victor Hugo. Kami pun berhenti.
Dua orang petugas berjas hitam yang rapi sedang menunggu pengunjung di depan pintu masuk. Aku tidak begitu ingat berapa tiket masuk Maison de Victor Hugo. Apakah gratis atau berbayar? Untuk bagian ini aku tidak ingat sama sekali.
Tapi kalau lihat di websitenya Maison de Victor Hugo, harga tiket masuknya 11 euro. Pembelian juga bisa online.
![]() |
| Pintu masuk (dok. pribadi) |
Kami kemudian menaiki tangga kayu tampak dipertahankan keasliannya dengan pegangan besi menuju lantai 2 di mana Victor Hugo pernah tinggal. Beberapa bagian rumah ini memang sudah direnovasi tapi beberapa bagian masih dipertahankan.
Ruang- ruang Kehidupan Victor Hugo
Perjalanan kehidupan Victor Hugo melewati masa-masa krusial sebuah negara. Ia merasakan kehidupan ketika terjadi Revolusi Prancis. Ia harus merasakan di tempat pengasingan akibat perlawanannya pada Napoleon Bonaparte. Maison de Victor Hugo ini menjadi museum yang menyimpan sejarah Victor Hugo dari sebelum pengasingan, saat pengasingan hingga setelah pulang dari pengasingan.
Pada ruang pertama, tampak potret keluarga dan masa muda Victor Hugo yang berupa lukisan sebelum di pengasingan.
![]() |
| Ruang pertama (dok. pribadi) |
Berjalan di ruang kedua, dindingnya berwarna merah muda. Di ruangan ini menjadi tempat pertemuan seniman, sastrawan, tokoh politik di rumah tokoh yang jadi panutan pada gerakan romantisisme abad 19, sebuah gerakan sastra yang mengedepankan emosi manusia, penderitaan, ketidakadilan sosial dan perjuangan memperoleh kebebasan, yang tampak pada karyanya Les Miserables dan Notre Dame de Paris. Mungkin itulah mengapa dindingnya berwarna merah muda karena erat kaitannya dengan gerakan tersebut. Di ruang inilah, karya sastra Hugo dipamerkan disebuah meja kaca. Tampak kertasnya yang kecoklatan dan tulisan tinta yang masih bertahan tidak meluber. Aku lupa apa itu Les Misérables atau bukan.
![]() |
| Ruang kedua (dok. pribadi) |
Di ruangan ini, koleksi seni di sebuah ruangan menggambarkan status sosial, perjalanan karier, dan hubungan Victor Hugo dengan keluarga kerajaan Prancis. Di dindingnya terdapat lukisan keluarga Victor Hugo yang menggambarkan keluarganya. Patung dada dari marmer itu menunjukkan bahwa ia menjadi penyair yang dihormati. Lukisan kisah Ines de Castro menunjukkan bahwa Victor Hugo punya hubungan erat dengan keluarga kerajaan di Orleans. Lukisan lainnya berhubungan dengan karya sastra yang ia tulis.
Di ruangan selanjutnya, sebuah ruang kerja Victor Hugo memberi arti yang cukup mendalam buat Victor Hugo. Tak hanya karirnya menjadi penulis terkenal tetapi juga kehidupan personalnya dan kedukaannya. Kesuksesannya menjadi penulis terlihat pada lukisan, patung dan peninggalan meja untuk menulis, tetapi juga lukisan kedua cucunya. Ini mengingatkan akan karyanya L'Art d'etre Grand Pere (Seni Menjadi Kakek) dan menjadi bentuk kasih sayang pada cucunya yang sudah ditinggal oleh kedua orang taunya (meninggal). Ada juga lukisan kekasihnya (belum menemukan sumber yang bilang istrinya) yang dibuat beberapa bulan sebelum meninggal.
![]() |
| Bersama cucunya? (dok. pribadi) |
Yang paling unik, Victor Hugo ini memiliki kebiasan tidak dilakukan penulis lainnya, yaitu menulis di mejanya sambil berdiri. Meja itu dibuat lebih tinggi dari meja biasanya. Tingginya sekitar 155 cm.
Di ruang kamar, yang berwarna merah terang dan mewah ini menjadi tempat Victor Hugo beristirahat. Kamar tidurnya direkonstruksi ulang meyerupai kondisi aslinya selama masa pengasingannya. Dindingnya seperti dilapisi kain berwarna merah, atap langitnya dilukis indah, dan lantainya dari kayu ditutupi karpet. Sebuah kaca besar dan lemari kayu tampak menghiasi ruangan itu. Sofa merah empuk di tata di depan tempat tidur. Perabot vas-vas keramik di kamar itu merupakan pemberian pemerintah Sevres sebagai hadiah ulang tahun Victor Hugo yang ke 79 dan 80. Victor Hugo mengembuskan nafas terakhir di kamar ini.
![]() |
| Kamar Tidur Victor Hugo (foto dari www.maisonsvictorhugo.paris.fr, soalnya dari kameraku ternyata blur) |
Kita masuk ke ruangan makan yang desainnya sangat ramai. Maksudnya tidak seperti kebanyakan rumah dengan cat polos. Di ruang makan, dinding dan lantainya bergambar dedaunan musim gugur. Perabotan bergaya gothik mewarnai ruangan makan khas keluarga kerajaan yang biasa kita lihat-lihat di televisi.
Di ruangan ini ternyata tak hanya sekedar ruang makan, tetapi lebih dalam dari itu. Ruangan ini menunjukkan kreativitas dan imaginasi Hugo yang dituangkan dalam banyak karya.
Selama pengasingan, Hugo punya ketertarikan unik, yang lebih ekstrim dari sekedar kolektor barang gothik. Yap, selain suka melakukan "perburuan peti tua", Hugo suka mendesain ulang barang gothik menjadi barang baru. Dari pintu menjadi meja, dari peti tua menjadi bufet/bangku, dari gulungan benang jadi tempat lilin.
Bahkan benda furnitur bisa menjadi bentuk kasih sayang Hugo, meja yang digunakan Hugo untuk menulis karya puisinya, La Légende des Siècles, diberikan kepada Juliette Drouet.
Selama masa pengasingan itu, Victor Hugo menghasilkan karya La Légende des siècles (kumpulan puisi), Les Misérables (novel), Les Travailleurs de la mer (novel).
Di ruangan lain yang terhubung melalui pintu yang terkoneksi, aku melihat dua sisi Victor Hugo yang berbeda. Agak aneh melihat banyak koleksi keramik yang tampaknya dari Asia, berbeda dengan ruangan lain yang banyak barang gotik. Penataan barangnya pun rapi. Barang-barang di ruangan ini menjadi saksi Victor Hugo saat masa pengasingannya di Guernsey. Rupanya, selain menulis, Hugo juga memiliki bakat dan minat lain sebagai desain interior. Hugo mendesainnya seperti panel bergaya Tiongkok.
![]() |
Di ruangan ini juga ada meja rias Madame Hugo dan kursi-kursi. Di sebuah kotak terdapat empat tempat tinta milik Lamartine, Dumas, Sand, dan Hugo. Ada pemanas ruangan klasik yang masih memakai kayu bakar.
Sepertinya setelah ruangan ini masih ada ruangan lain tapi sudah bagian belakang dan sudah selesai tur di rumah Victor Hugo. Aku nggak punya foto-fotonya lagi. Sekarang kalau lihat di websitenya, ada perpustakaan di lantai 3 yang mengarah ke Places des Vosges.
Sepulangnya dari rumah Hugo, aku dan temanku mengunjungi Place des Vosges.
Kunjungan Singkat Tapi Bermakna
Bagiku dulu kunjungan singkat ini tak berarti apa-apa. Ternyata setelah aku menuliskannya, banyak hal yang aku luput dan tidak kuketahui saat berkunjung ke sana. Memang harusnya baca-baca dulu, baru datang langsung.
Bagiku, pergi ke rumah Hugo tak hanya melihat benda-benda bersejarah saja, dengan menuliskannya aku memahami bahwa proses menulis novel atau puisi itu butuh waktu yang lama dan butuh kesabaran. Dan aku rasa menghasilkan karya yang fenomenal haruslah lahir dari tempat "keterasingan", jauh dari hiruk pikuk. Mungkin kalau melihat kondisiku, bisa menulis di tempat yang sepi, tidak banyak distraksi. Lebih tepatnya malam hari. Kalau punya ruang khusus sih oke yaa tapi aku sekarang masih menulis di kamar aja. Semoga kelak bisa punya ruang kerja sendiri biar lebih terasa yaa "pengasingannya". Hehe
.jpg)

.jpg)








.jpg)





0 comments
Posting Komentar
Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.