Menyusuri sekitar Sungai Seine di Tengah Penat saat Musim Dingin

No Comments
Beberapa bulan berkuliah, ternyata sudah cukup bikin kepala panas, hati nyesek. Belum juga ganti tahun tapi seperti sudah lama. Aku harus adaptasi dengan administrasi di sini, teman-teman, dengan materi perkuliahan, dengan dosennya. Bahasa yang sudah aku pelajari 11 bulan intensif hingga mendapat sertifikat B2 rasanya belum cukup untuk mengimbangi bahasa native di tanah asal. Dan itu tidak mudah. Cukup Allah sebaik-baik penolong.

Rute Jalan Kaki Susur Sungai Seine

Di tengah penat itu, aku mengajak temanku berjalan kaki ke sekitar apartemen menyusuri sungai Seine dan pulang naik métro. Kali aja penatku hilang terbawa arus sungai, hehe. Sebenarnya lebih dari itu, jalan-jalan sore ini biar aku lebih hafal dengan kondisi sekitar karena begitu banyak tempat menarik di sekitar apartemen yang belum kuketahui.

Apartemen mahasiswa yang kutinggali (sebelah kanan)

Dari Résidence Cîteaux

Bermula dari apartemen mahasiswa CROUS pertamaku, Résidence CROUS Cîteaux, yang ada di Rue de Cîteaux. Perjalanan menuju sungai Seine memang tidak jauh. 

Stasiun Gare de Lyon

Aku dan temanku berjalan ke arah Gare de Lyon, salah satu stasiun besar di Paris. Di sekitar stasiun ini, selalu ramai orang. Mereka menunggu bus, masuk ke stasiun besar. 

(Sepertinya) Melewati Pont d'Austerlitz

Aku tidak terlalu ingat. Jalan setelah Gare de Lyon ini sepi. Tapi yang jelas kalau jalan terus dari Gare de Lyon akan tembus jembatan Pont d'Austerlitz. Rasanya tak mungkin kami berbalik arah menjauh ke Pont Charles de Gaulle. Jembatan yang kami seberangi yang lebih mungkin ya Pont d'Austerlitz. 

Pont d'Austerlitz

Pont d'Austerlitz ini dibangun untuk mengenang kemenangan pertempuran Austerlitz oleh tentara Napoleon Bonaparte Prancis melawan Rusia dan Austria di Austerlitz (Republik Ceko).

Dari jembatan, kita bisa melihat kereta Métro Line 7 melewati jembatan di atas sungai Seine.

Tapi kami tidak melewati stasiun métro Austerlitz. Sungai Seine sudah tampak di depan kami. Seingetku, kami menyeberangi Pont d'Austerlitz. 

Di situ, Sungai Seine yang tampak tenang sudah ada di depan mata. Langit sore berwarna kelabu. Aku merapatkan jaket karena angin menembus jaket. Kulitku mulai kering belum bisa menyesuaikan cuaca musim dingin. 

Tak ada istimewa perjalananku dari Pont d'Austerlitz. Tapi di Jardin de Plantes, kami berfoto di antara pepohonan yang meranggas tinggal ranting saja. 

Jardin de Plantes

Jardin de Plantes merupakan kebun raya tertua di Prancis yang dibangun tahu 1626. Ketika melewati kebun ini, kami melewati barisan pepohonan yang meranggas. Tak ada dedaunan. Justru pemandangannya semakin kece seolah mistis sekali.

Pont de Sully, jembatan menuju pulau yang membelah sungai Seine

Sebelum jembatan itu, tampak kapal cukup besar bersandar. Tidak ada aktivitas yang tampak sekitar kapal. 

Kapal di dekat Pont de Sully (dok. Pribadi)

Aku berfoto sejenak mengabadikan perjalanan singkatku ini.

Foto sebelum nyebrang Pont de Sully

Aku pun mengajak temanku menyeberangi Pont de Sully, jembatan dengan lebar sekitar 20 meter dan panjang 159 meter. Mobil-mobil berlalu lalang di jembatan itu. Kami berjalan di pedestrian yang nyaman dan cukup lebar.

Jembatan Pont de Sully dibangun sekitar tahun 1876 saat Hausmann, perancang kota Paris, sedang gencar-gencarnya membangun Paris.

Pont de Sully (dok. Pribadi)

Pont de Sully ini menjadi jembatan yang menghubungkan Île Saint-Louis, pulau paling timur yang membelah sungai Seine.

Dari atas jembatan, menyeberangi sungai Seine, pemandangan dari tengah jembatan ini cukup menarik karena kita bisa melihat Notre Dame di ujung sana.

Maaf banget ini karena di zoom jadi blur (dok. Pribadi)

Yaudahlah pakai foto dari Google aja hehe

Kami terus berjalan meski udara sudah tampak semakin dingin dan langit semakin abu-abu. Sesekali temanku mengecek cuaca karena khawatir jika tiba-tiba cuaca memburuk. Salah satu karakter cuaca di 4 musim seperti itu. Suka tiba-tiba berubah. Kadang tiba-tiba cerah. Kadang tiba-tiba gelap dalam hitungan menit.

Île Saint-Louis

Setelah aman, kami lanjutkan perjalanan kami. Tibalah kami di Île Saint-Louis. Aku berbelok ke kanan ke sebuah taman yang ada di ujung pulau. Tujuan kami memang menjelajah ujung pulau tersebut.

Tampak sebuah tumpukan kayu cemara di dalam kotak besi berwarna hijau. Setelah kubaca ternyata itu adalah tempat sampah khusus sampah pohon, misal ranting, kayu atau daun. Sepertinya sampah pohon iyu dikumpulkan untuk didaur ulang menjadi pohon natal.

Tempat sampah aur ulang khusus sampah pohon cemara ( dok. Pribadi )

Aku berjalan masuk ke dalam. Kulihat dari jauh dua orang berdiri berdekatan di ujung taman. Mereka tampak sedikit tersembunyi. Tidak begitu terlihat karena banyak pepohonan. 

Tapi, kumelihat mereka sedang... hmm.. kissing. Ok. Lanjut. Aku nggak mau terus menyaksikan mereka. Yahh taulah orang Prancis terlalu biasa kissing di tempat umum. Jadi aku mengalihkan pandangan. Mereka sepertinya kurang nyaman.

Sampai akhirnya ketika aku mendatangi taman di ujung itu, mereka pergi dengan wajah kesal Haha. Aku juga nggak ngeh sih. Karena kan tujuanku polos aja. Mau lihat sungai Seine dari ujung pulau. 

Eh tapi... ada yang aneh... yang kulihat adalah dua orang pria. Hmm... terus di tempat aku berdiri di mana mereka tadi juga berdiri ada sekitar 3 gembok terpasang pada pagar besi itu. Dan ketika kubaca. Tulisannya adalah dua nama pria. Sementara gembok kain selayaknya nama pasangan kekasih. Pria dan wanita.

Di sana emang lagi booming banget nempelkan gembok di pagar ini tapi sekarang nggak boleh (dok. Pribadi)

Travelling ke Eropa sebenarnya harus siap dengan hal-hal seperti itu. Tidak menormalisasikan atau tidak menganggap itu biasa. Jadi aku lebih milih mengalihkan pandangan saja.

Yaudah. Next we explore...
Kami turun ke bawah pulau. Jadi pulau itu cukup tinggi dari atas permukaan sungai. Ada tangga di samping taman menuju ke sungai. Di bawah ada, ada kursi-kursi untuk duduk. 

Aku juga coba berdiri di ujung pulau sambil menikmati udara. Air mulai pasang. 
Abaikan sampah yang berserakan

Sudah turun dari tangga. Maunya minum airnya biar bisa kembali lagi hehe (dok. Pribadi)

Di sini ada besi sebagai penanda bahwa batas permukaan paving.
Di ujung pulau. Air mulai pasang (dok. Pribadi)

Di sini, aku ditegur temanku yang memang asli Prancis saat aku share bahwa hati-hati di sana karena bisa rawan kesetrum.

Setelah dari taman ini, aku dan temanku berjalan di Île Saint-Louis. Pulau ini cukup unik. Kecil dan berada di tengah kota Paris. Karena kecil, tidak ada métro atau pun jalur bus. Itu membuat pulau ini tampak tenang dan nyaman seolah berada di wilayah yang terisolir. 

Perjalananku selanjutnya akan kuceritakan lagi. Karena ternyata aku menyusuri sungai seine bahkan sampai menara Eiffel dan itu ternyata panjang sekaliiiii. MaasyaAllah.
Next PostPosting Lebih Baru Previous PostPosting Lama Beranda

0 comments

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung dan memberi komentar.

Follower