Wisata Selorejo


Suatu waktu, setiap kelompok untuk membuat perencanaan pariwisata di sekitar kota Malang. Kelompokku mengambil obyek wisata di Malang yaitu Waduk Selorejo. Kunjunganku dan teman kelompok untuk survey, mengenali lingkungan Selorejo, mencari kelebihan, kekurangan, kesempatan dan peluang. Aku ingat berdiri di atas pintu waduk yang tinggi saat petugas sedang menjelaskan. Aku juga masih mengingat saat berdiri di bebatuan di pinggir waduk, juga berfoto di depan lapangan yang luas seperti berada di luar negeri.

Zaman Alay alay nya waktu kuliah pergi ke Selorejo haha

Kunjunganku kali ini, bukan untuk survey lagi dong, udah masa lalu bangettt hehe, tapi untuk menyenangkan para 10 cucu dari mertua ini. Agar mereka juga dekat dengan alam. Bersama keluarga mertua, kami mengunjungi Waduk Selorejo. Kalau untuk anak-anak sih pasti happy aja ya kemana pun pergi.

Pemandangan Indah Selama Perjalanan

Yang terbayang dalam kepalaku saat akan wisata ke Selorejo adalah perjalanannya yang berliku dan menanjak. Kadang bikin mual dan kepala pusing. Tapi... kalau sudah berada di perjalanan, pemandangannya membuat kita tersenyum.

Lepas dari Kota Batu, dari atas jalanan, kita bisa melihat permukiman di sisi kanan di kaki gunung. Udara sudah terasa semakin sejuk. Kita melewati daerah Payung, ada Payung 1 dan Payung 2 yang posisinya lebih tinggi, di mana warung-warung kayu banyak berdiri di pinggir jalan yang menghadap kota Batu. Saat malam tiba, pemandangan kota dari warung-warung ini memang indah. 

Sumber : dheeva-wisata.blogspot.com


Cahaya-cahaya kuat dan lemah terpancar dari bangunan-bangunan dari kota Batu. Dan biasanya, warung-warung itu didatangi oleh pasangan-pasangan yang belum sah, wkwkwkwk. Itu dulu... Payung jadi tempat favorit buat nongkrong pasangan muda-mudi. Sekarang udah sepi karena kalah saing sama cafe yang nggak kalah bagus pemandangannya.

Jalanan terus menanjak membuat kita harus bersabar jika ada mobil berjalan lambat di depan, dan tidak bisa menyalip jika ada kendaraan dari arah berlawanan yang tak henti-henti. Apalagi kalau ada bus kecil yang datang dari Kediri. Sabaar. Jalanan kecil dan menanjak memang harus ekstra hati-hati dan sabar.

Sebenarnya ada jalur yang tidak berkelok-kelok yaitu lewat kawasan villa Songgoriti, searah dengan wisata Paralayang Malang, tapi ada satu sisi jalanan yang cukup menanjak. Saranku, saat pulang pulang saja lewat sana. Jalur masuknya dekat wisata Florawisata Santerra De Laponte.

Lepas Songgoriti, kita tiba di pusat kecamatan Pujon, yang terkenal dengan susu sapi murni. Kalian bisa mampir ke koperasi Susu Sae Pujon untuk membeli susu sapi murni dan oleh-oleh khas Malang.

Susu murni oleh-oleh malang
Koperasi Susu Sae Pujon (sumber: Jagad Tani)


Nikmati perjalanan di pusat kecamatan Pujon ini, karena setelah itu, kita akan bertemu lagi jalan berkelok, naik turun dan sempit. Hehe. Siap-siap pusing lagi. Pemandangan sepanjang perjalanan dari Pujon ke Selorejo ini juga nggak kalah kerennya. Di sebelah kiri, tampak sungai bebatuan dengan aliran airnya yang cukup deras. Sebenarnya ada spot untuk rafting, tapi setiap melewati jalan itu, aku tidak pernah melihat orang rafting. Setelah menyeberangi jembatan, kita akan berjumpa sungai yang lebih lebar dan tak kalah deras di sebelah kanan.

Pemandangan yang tak kalah indahnya, kita bisa melihat air terjun Grojogan Sewu-nya Malang selama perjalanan. Aku tak pernah melewatkan pemandangan indah itu setiap melewati Pujon, kecuali saat malam hari dan mengantuk, hehe.

Jalanan Pujon dari atas (IG: @brilly.hidayat)

Perjalanan yang berliuk nan memabukkan itu terbalas dengan pemandangan yang indah. Kalau bisa lewat sini jangan pas masih gelap, karena menyeramkan. Tidak ada lampu jalanan. Kalaupun ada, penerangannya minim sekali.

Sepanjang jalan, kita juga pasti akan tergiur dengan para penjual buah pinggir jalan, apalagi kalau lewat Pasar Pujon. Biasanya penduduk menjual durian di pinggir jalan. 

Setelah satu jam lebih perjalanan, tibalah kami di Ngantang. Di sisi kiri jalan, perairan terlihat dari kejauhan. Tandanya, Waduk Selorejo sudah semakin dekat. Di pertigaan jalan, seperti yang tertera pada papan nama, kami belok ke kiri menuju Waduk Selorejo.

Taman Wisata Waduk Selorejo

Taman wisata Selorejo berada di Ngantang, Kabupaten Malang, dengan ketinggian 600 mdpl. Udaranya masih sejuk. Panorama alamnya indah karena waduk ini dikelilingi oleh Gunung Kawi, Gunung Kelud dan Gunung Anjasmoro. 

Oiya, waduk dan bendungan ini meski istilahnya hampir mirip, tapi secara fungsi berbeda. Waduk memiliki struktur fisik yang berupa bendungan yang dibangun untuk menahan laju air sungai. Jadi waduk adalah perairannya atau danau buatannya yang terbentuk di belakang bendungan. Sedangkan bendungan adalah struktur fisiknya.

Bendungan Selorejo mulai dibangun November 1963 dan baru beroperasi 9 tahun kemudian. Kerennya, bendungan Selorejo ini menjadi bendungan pertama di Indonesia yang dibangun dengan teknik grouting dengan kedalaman rata-rata 30 meter untuk mencegah kebocoran bendungan.

Kukira, air di bendungan ini hanya terbatas mengairi lahan pertanian di sekitar Ngantang saja, ternyata bisa sampai Pare dan Jombang. Selain itu, air di bendungan ini dimanfaatkan oleh PLTA Selorejo untuk pembangkit listrik.

Tiket Masuk Waduk Selorejo

Tibalah kami di pintu masuk Waduk Selorejo. Awalnya kami sempat bingung di mana pintu masuknya, sepertinya kami terlalu pagi datangnya. Ada beberapa gerbang dan minim penanda. Seingatku, seseorang mengarahkan kami ke pintu masuk wisata. Kami tiba di Selorejo masih pagi sekitar pukul 08.00.

Tiket masuk Waduk Selorejo murah sekitar Rp. 10.000,- sampai Rp. 15.000,-. Sekitar itu yaa, aku lupa pastinya, karena waktu itu jadi satu dibayarin sama mertua. Wkakakak.

Jam buka Taman Wisata Selorejo pukul 08.00 - 17.00 WIB. Kami ke sana sekitar jam 8 masih belum banyak wahana yang buka. Waung-warung sebagian sudah ada yang buka tapi ada juga yang belum. Sebenarnya enak datang pagi-pagi atau sore sekalian. 

Aktivitas di Taman Wisata Selorejo

Meski kami sudah tiba di Taman Wisata Selorejo sebelum loket belum dibuka, kami masih ada waktu bersantai sebelum memulai beraktivitas. Kalau lihat di internet, memang taman wisata Selorejo ini bisa dibilang biasa saja. Cuma bagi anak-anak membuat mereka senang.

Sebenarnya seru atau tidaknya tempat wisata tergantung individu masing-masing. Apakah akan menikmati apa yang ada di hadapannya atau tidak. Aktivitas yang bisa dilakukan di Taman Wisata Selorejo bisa tergantung individu masing-masing mau apa. Mau memancing, piknik sendiri atau menikmati danau sambil baca buku, berbincang atau berfoto-foto, atau cuma jalan-jalan saja. Nikmati apa yang bisa dinikmati meski capek dan panas. Haha.

Piknik

Ketika tiba di taman wisata Selorejo, kami semua menggelar tikar dan mengeluarkan semua makanan dan minuman yang sudah kami bawa dari rumah. Anak-anak pun dengan lahap sarapannya karena memang sudah lapar menunggu makan. Ditutup dengan Thai Tea lezat yang dibikin sendiri sama adik ipar yang jago masak.

Main Mobil Aki Jeep

Setelah lapar nampaknya sudah hilang dari mata-mata kami dan semua makanan dan minuman selesai dibereskan, kami berjalan ke lapangan terbuka dengan pemandangan waduk dan pegunungan di depan kami. Tulisan Exotic Selorejo berwarna warni menjadi tempat berfoto. Di lapangan, belum ada apa pun. Masih sepi. Pengunjung belum datang. 

Anak-anak sudah berlarian ke sana kemari. Tak lama, seseorang mengeluarkan mobil aki jeep dari kendaraannya. Mata anak-anak menjadi berbinar. Mereka tak sabar ingin bermain mobil aki jeep yang bisa dinaikin dan dikendalikan (sendiri/remot). 

Harga satu mobil aki Jeep kalau nggak salah 30k. Sekitar itulah ya. Seperti biasa, para cucu dengan jarak usia yang dekat, semua rebutan ingin menaiki mobil favorit. Pada akhirnya, orang tua lah yang akhirnya harus merayu agar mau menaiki mobil yang lain. Kadang yang kecil nggak mau mengalah, satu mobil berdua, dan mau nyetir sendiri. Haha.

Wisata alam dekat Malang
Rombongan para cucu foto dulu

Naik Perahu

Melihat danau yang luas, di tengahnya seorang nelayan naik perahu kecil sedang menangkap ikan, ada rasa ingin naik perahu. Tentu saja, karena tidak ingin sia-sia, sudah datang jauh-jauh tapi tidak menikmati naik perahu di Selorejo.

Setelah puas bermain mobil aki Jeep, aku bertanya-tanya bagaimana untuk naik perahu di Selorejo. Ada dua jenis perahu, dayung dan motor. Tapi waktu itu air sedang surut, jadi kami naik perahu dayung. Harga naik perahu di Selorejo sekitar Rp. 150.000,-/ perahu. Satu perahu bisa dinaiki 8-10 penumpang. Karena kami banyak orang, jadi kami sewa 2 perahu.

Rombongan kami dibagi dua. Karena surut, kami tidak naik langsung di dermaga tapi harus berjalan sedikit ke tengah, menuruni jalan tanah yang ditumbuhi rerumputan. 

Naik perahu di selorejo
Rombongan 1

Perahu pertama mulai jalan. Tanaman enceng gondok memenuhi pinggir waduk dan menyulitkan perahu untuk jalan ke tengah. 

Rombongan 2. Ada pelampung tapi nggak dipake *janganditiru :D

Sayangnya, karena surut, kami tidak bisa sampai tengah karena waduk dangkal dan tertutupi tanaman.

Waduk Selorejo
Waduk Selorejo yang surut dan dipenuhi tanaman


Begitu saja, anak-anak sudah senang. Mereka punya pengalaman naik perahu di waduk dan agar anak-anak merasa lebih dekat dengan alam.
 

Berenang

Aktivitas terakhir yang kami lakukan di Selorejo adalah berenang. Untuk mencapai kolam renang ini, kami harus menyeberangi jembatan gantung yang melewati bendungan. Kami harus antri dan menunggu pengunjung lain sudah tiba di ujung, baru kami melewati jembatan. Aturannya dibatasi untuk jumlah tertentu.

Memasuki kolam renang, ternyata pengunjung masih harus bayar lagi. Untuk dewasa 7.000 rupiah, dan anak-anak 5.000 rupiah. Sayangnya, kolam renang dewasa standar internasional yang biasa dipakai kompetisi renang, sedang dikosongkan. Terlihat kolam dewasa yang tinggi tanpa air tampak menyeramkan. Aku khawatir anak-anak berlarian di pinggir kolam yang kosong, aku mengingatkan mereka untuk tidak berlari-lari. meski Nggak dekat banget juga sih. Haha.

Meskipun kami tiba pagi-pagi ternyata di kolam renang sudah ramai orang. Tempat duduk sudah banyak ditempati orang. Kami mencari tempat duduk di bawah pohon untuk menggelar tikar dan menikmati jajanan yang kami bawa sambil menunggu anak-anak berenang. 

Anak-anak tak sabar untuk berenang. Aku mengawasi si kecil dari pinggir kolam renang. Ada perosotan besar di tengah dan perosotan kecil di pinggir kolam renang. Sayang banget kolam renangnya kotor. Seperti ada pasir-pasir dan dedaunan yang jatuh.

Kelihatannya bersih tapi di dalam ky ada pasirnya


Karena berada di dataran tinggi, anak-anak merasa kedinginan. Beberapa kali menggigil dan aku meminta mereka untuk menyudahinya saja. Mereka pun manfi di bawah pancuran yang terbuka samping kolam renang. Sedangkan anakku yang besar mandi di toilet dekat kolam renang dewasa yang kosong.

Setelah itu, anak-anak makan cemilan dan main di playground dekat tempat duduk.

Wisata Murah dan Menyenangkan Untuk Anak-anak

Bisa kubilang, wisata Waduk Selorejo ini wisata murah dan menyenangkan untuk anak-anak, meski sebenarnya wahana wisatanya bisa ditambah atau diperbaiki. Bagus lagi kalau kolam renangnya dibersihkan.

Sebenarnya ada aktivitas lain yang bisa dilakukan di Selorejo seperti camping dan memancing tapi karena aku nggak melakukan jadi nggak aku ceritakan. Hehe

Jadi kalau kalian hendak ke Kediri atau ke Malang lewati Ngantang, dan ingin membuat anak lebih dekat ke alam, kalian bisa mampir sejenak untuk menikmati perahu tengah waduk Selorejo, salah satu obyek wisata terkenal di Malang.



Read More
Cafe edelweiss park


Akhir pekan di Malang, tidak ada aktivitas yang lebih antimainstream selain sunmori (sunday morning riding) Tour Bromo. Ini bukanlah yang pertama kali pergi ke Bromo naik motor. Setelah menikah dan belum punya anak, saya dan suami pergi ke bromo naik motor trail sampai lautan pasir. 


Kedua kali, saat jarak antara syaraf kewarasan dan kegilaan begitu dekat, alias masih edan-edannya, kami healing ke Bromo naik motor bawa anak bayi 6 bulan. Perlu kutekankan lagi: bawa anak bayi 6 bulan ke Bromo! Kurang edan apa lagi. Wkwkwk. 


Bukan sesuatu yang urgent. Sampai-sampai mertua minta balik lagi ke Malang, tapi karena kami sudah dekat Bromo, jadi tetap lanjut. Hahhahaha. Semenjak itu, aku nggak sanggup kalau bawa anak naik motor ke Bromo lagi. Keseellll. Jarak Malang ke Bromo ini sekitar 50-60 km atau sekitar 1,5 -3 jam, tergantug kendaraan apa. Waktu itu, kami naik motor sekitar hampir 1.5 jam baru sampai Bromo. Boyokkuuu ya Allahhh.


Saat ketiga kali diajak partner in life Tour Bromo naik motor, sebenarnya masih agak terkejut. Tapi karena sepakat anak-anak tidak diajak, aku setuju aja. Anak-anak dititipi di atuk uti dan tantenya.


Dulu, beberapa kali mesin motor panas karena tanjakan yang tinggi dan tidak bisa melewati pasir Bromo yang licin. Jadi agak was-was kalau bawa motor ke sana. Sekarang pun harus istirahat beberapa kali biar nggak panas.


Bromo kebakaran

Beberapa waktu sebelum itu, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mengalami kebakaran akibat penggunaan flare saat sesi foto prewedding di bukit Teletubbies. Akibat kejadian itu, padang savana Bromo ditutup total. 


Aku pun ragu apakah Bromo masih ditutup atau tidak saat kami ke sana. Tapi aku sih ngikut aja apa kata yang ngajak kencan. Hehehe.


Persiapan ke Bromo

Karena perjalanan yang jauh dan di daerah pegunungan, maka barang bawaan untuk persiapan wisata Bromo sebenarnya sesederhana naik motor jarak jauh seperti jaket, masker, sarung tangan, pakai helm yang proper. 


Masalahnya, suami lupa sarung tangan. Hasilnya, saat perjalanan menuju Bromo, tangannya kebas karena dingin dan harus istirahat sejenak menghangatkan diri.


Rute Bromo Paling Aman

Jalur menuju Bromo itu cukup banyak. Lewat Poncokusumo, lewat Nongkojajar, Probolinggo atau Pasuruan. Rute Bromo paling aman sebenarnya lewat Probolinggo (Cemoro Lawang). Dari sana, kalian juga bisa sewa jeep Bromo dan banyak pilihan. 


Rute Bromo dari Malang sebenarnya bisa lewat Ngadas, tempat di mana aku survey tentang permukiman suku Tengger dulu, atau lewat Nongkojajar. Ketika dulu kami bawa si bayi, kami lewat Ngadas yang jalan menuju ke sana jelek (kadang aspal, kadang tanah, kadang cor, itu pun kadang berlubang, kadang halus), sempit, di pinggir jurang dan cukup terjal. 


Tidak disarankan mobil lewat sini. Karena kalau papasan dengan mobil lain, terpaksa harus minggir dan masalahnya jalannya sempit. Yang sisi lainnya adalah tebing, sisi lainnya jurang. Kami lebih sering melewati ladang, hutan, dan kampung-kampung yang terisolasi. Tentu saja, jalan di sini lebih sepi. Beberapa kali orang mengalami kecelakaan jatuh ke jurang saat lewat sini. Kalau mau lewat sini, lebih baik menyewa jeep/hardtop ke Bromo.


Alhasil, sekarang kami melewati Nongkojajar. Jalannya bagus, sudah beraspal, bisa dilewati dua mobil, ramai dan tidak seekstrim seperti lewat Ngadas. Beberapa kali kami berhenti sejenak, untuk menikmati pemandangan dan berfoto sejenak. Kemudian lanjut perjalanan. Kami melewati pasar, perkampungan, yang lebih ramai dibanding lewat Gubukklakah.

Sesampainya di Ticketing Bromo

Ketika sudah dekat dengan lokasi wisata, kami harus berhenti di gerbang ticketing dan membeli tiket.


Beberapa petugas TNBTS dengan seragamnya menemui kami yang baru turun dari motor. Beliau menanyakan tujuan kita ke mana? Kami jawab ke Bromo. Kemudian beliau mengatakan bahwa Bromo ditutup untuk sementara waktu karena kejadian kebakaran waktu itu sampai batas ysng masih belum diketahui.


Akhirnya, mau tidak mau kami harus balik. Karena sayang banget harus balik tanpa dapat apa-apa, kami mencari tempat wisata Bromo selain gunung. Kami pun sepakat untuk mengunjungi tempat wisata yang dekat dengan Bromo yaitu Edelweiss Park yang tak jauh dari gerbang.


Edelweiss Park

Kalian pasti tidak asing lagi kan namanya bunga Edelweiss. Bunga yang dijuluki bunga keabadian—yang aku tahu dari sinetron SCTV—ini memang menjadi simbol keabadian cinta. Simbol ini diberikan pada edelweiss juga tanpa alasan. Edelweiss mampu bertahan hidup meski telah dipetik lama bahkan bisa bertahun-tahun lamanya. Meskipun begitu, edelweiss yang sudah dipetik itu tetap harus dalam perawatan. 

Samalah seperti cinta dua manusia, hanya bisa tumbuh di lingkungan tertentu. Dan agar mampu bertahan lama, perlulah dirawat dengan baik. Ciyehnciyyeee

Para pengunjung gunung Bromo biasanya membawa pulang edelweiss memberikannya kepada sang kekasih sebagai simbol rasa kasih yang abadi.  Karenanya, edelweiss semakin langka hingga dilindungi oleh undang-undang. Masyarakat atau pengunjung tidak bisa sembarangan memetik bunga edelweiss karena kelangkaannya.

Kehadiran Edelweiss Park Bromo di Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, ini sebagai cara untuk menjaga keberlangsungan hidup Edelweiss.

Oiya sebelum pintu masuk juga ada Taman Edelweiss Cafe juga tapi aku nggak ke sana. Kami disambut oleh taman bertuliskan "Edelweiss Park". Kami pun memasuki jalan kecil yang masih tanah di samping kebun. Di dekat pintu gerbang, kami melewati penjual souvenir. 

Souvenir yang dijual seperti topi kupluk, kaos kaki, kaos/baju, syal, gantungan kunci, alas kaki, asesoris dan lainnya.

Tiket masuk Edelweiss Park

Loket di pintu masuk dijaga oleh seorang pegawai berseragam dan menunggu kami.  Tiket masuk Edelweiss Park seharga Rp. 15.000,- sudah dapat voucher untuk ditukarkan makanan atau minuman di cafe. Di loket tiket, edelweiss dikreasikan dan dijual hingga bisa lebih tampak indah di dalam kotak kaca. Di loket juga tersedia oleh-oleh khas Bromo. Pembayaran tiket tak hanya cash tapi juga QRIS.

Tiket masuk edelweiss park

Pembibitan

Setelah membayar tiket, kami memasuki arena pembibitan edelweiss. Saat itu, pembibitan masih dimulai dan belum bertunas.

Kebun Edelweiss

Dari tempat budidaya edelweiss Bromo ini, kami keluar dan bertemu pemandangan perbukitan dengan kabut yang hampir turun di depan kami. Di sekitar kami, taman-taman yang penuh dengan berbagai jenis tanaman, termasuk edelweiss yang belum berbunga. Sayang banget sih pas ke sana belum berbunga. Hiks.


Cafe Edelweiss Park

Kami pun segera pergi ke Edelweiss cafe Bromo dengan menuruni tangga. Di depan kami, beberapa pengunjung sedang duduk menikmati sajian dengan pemandangan perbukitan di depan kami. Hampir sebagian besar tempat duduk di cafe ini terbuka, sehingga ketika hujan, maka akan sulit untuk mencari tempat berteduh apalagi kalau ramai.

Kami pun memesan kopi. Menu cafe edelweiss ini cukup bervariasi. Seperti indomie, nasi goreng, bakmie, lalapan, rice bowl. Jajanannya juga lumayan lengkap seperti pisang goreng, tahu walik. Kentang goreng, cirebg, donat, mendoan, nugget, risol mayo. Kopi yang dijual pun bervariasi seperti espresso, long black, americano, cappucino, coffee latte, vanilla latte, caramel. Hazelnut, vietnam drip, moccacino, machiato, kopi susu. Kalau kalian tidak suka kopi. Juga ada menu minuman lainnya, bisa es atau panas, seperti jahe, susu jahe, coklat,t aro, redvelvet, lemon tea, matcha, tiramisu, thai tea, dan green tea. Namun, dari segi harga, sedikit di atas harga standar sih. Untuk snack sekitar 15-18 ribu. Untuk makanan berat sekitar  23 - 28 ribu. Kalau kopi mungkin standar ya, sekitar 15-25 rihu gelas kecil.

Di depan cafe ini ada jembatan kaca yang pendek untuk melihat secara langsung tanpa penghalang pemandangan perbukitan yang dipenuhi kabut di depan kami. 


Di bawahnya, tanaman-tanaman edelweiss tumbuh tanpa bunga. Kami pun menikmati kopi di dekat tulisan "Desa Wisata Edelweiss."



Meja di hadapan kami berasal dari ban bekas yang ditumpuk kayu kotak. Sedangkan kursinya terbuat dari potongan-potongan kayu yang tidak dipakai.

Terlalu dingin untuk kami

Angin di siang itu sering meniup kepala kami, menyelisip lewat sela-sela jaket dan pakaian kami. Kabut sudah mulai turun. Pandangan di depan kami hanya berjarak 5 meter. Hanya beberapa menit kami duduk di alam terbuka, rasanya perut kami mulai sebah, kepala mulai pusing dan hidung mulai meler. Sepertinya kami memang tidak ada bakat nongkrong di alam terbuka dengan pemandangan keren begini, apalagi di tempat dingin. Maunya romantis, malah jadi masuk angin. Hehe.

Kami memutuskan pulang. Meski rasa dingin menyelimuti kami, semoga hubungan kami tidak sedingin udara itu. 

Mengunjungi Cafe Edelweiss Park memang cocok saat musim panas karena kabut jarang turun dan pemandangan akan lebih jelas terlihat. 

Sudahlah saatnya kami pulang. Nggak apa-apa deh, gagal ke Bromo, bisa kencan romantis tapi kedinginan di cafe yang pemandangannya keren.

Read More
Aku baru menyadari bahwa sebenarnya tempat keluargaku di Sragen juga tidak jauh dari daerah pegunungan. Ciptaan Allah yang aku suka karena sejuk dan indah. Kalau mau berwisata di sekitar Gunung Lawu, aku bisa berkunjung ke Karanganyar. Kalau mau melihat Gunung Merapi dari kejauhan, aku bisa mengunjungi Selo, yang terdekat. 

Aku bisa katakan kalau Selo ini hampir mirip dengan Bandungan (Semarang), Kemuning (Karanganyar) atau beberapa bagian jalan di Kota Batu (Malang). Jalanannya naik turun, lebar jalan tidak terlalu besar, banyak obyek wisata, dan cuaca dingin karena berada di daerah pegunungan.

Tempat Wisata Selo

Perjalanan dari Sragen, kami tempuh sekitar 1 jam, melalui tol Sragen-Boyolali, kemudian naik ke Selo di Kabupaten Boyolali. 

Selo ini menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Boyolali. Meski tidak seheboh wisata kota Batu, Selo juga punya tempat wisata yang bisa dikunjungi, seperti :
  • New Selo, 
  • Bukit Sanjaya, 
  • Merapi Garden Selo, 
  • Ceepogo Cheese Park,
Kalau kalian pernah berwisata di Kota Batu yang sangat banyak, mungkin akan menganggap wisata di Selo ini terlalu mainstream. Bedanya, Selo jelas tidak semacet kota Batu kalau lagi libur akhir pekan atau libur panjang. Di Selo, hidup terasa lebih tenang dan Slow. Tak ada suasana yang terburu-buru. 

Keindahan Sepanjang Jalan

Setelah masuk ke kota Boyolali, mobil kami berbelok ke daerah yang sudah mulai sepi. pertanda bahwa kami sudah tidak lagi di dalam kota. Berbekal Google Map, mobil terus melewati jalanan yang terus menanjak dan meliuk. 

Di kanan kiri jalanan, kebun-kebun kobis yang berada di lereng terjal tampak indah dan menyenangkan mata. Sayuran khas Selo adalah adas yang biasa dibuat pecel. Di Selo juga banyak tanaman tembakau.

Merapi Garden Selo


Yang paling menakjubkan, pemandangan pegunungan berada di hadapan kami tampak begitu jelas dan indah. Di bagian kanan ada gunung Merbabu. Sebelah kiri tampak puncak gunung yang menjulang adalah Gunung Merapi. MaasyaAllah.

Itulah yang menjadi keunikan Kecamatan Selo ini adalah berada di antara dua kaki gunung, Merapi yang masih aktif dan Merbabu yang sudah tidak aktif. Keunikan ini memang bisa menjadi daya tarik karena para pendaki gunung Merapi juga bisa naik melalui Selo. Di sisi lain, lokasinya yang sangat dekat dengan Merapi ini bisa menjadi ancaman bagi penduduknya karena rawan bencana gunung meletus. 

Meskipun begitu, di Selo juga banyak villa-villa dan tempat glamping untuk menginap dan menikmati pemandangan Gunung Merapi. 

Kami sudah selesai melewati jalanan berliku. Kami pun tiba di jalanan yang lurus tapi terus menanjak. Hampir di sepanjang jalan, kami melewati cafe dan resto. Saat perjalanan itu, tiba-tiba mobil tidak bisa jalan meski gas terus diinjak. Duh!

Ternyata mesin mobil matic bapak tidak kuat kalau berada di jalan menanjak. Awww! Mau tidak mau, kami berhenti sejenak di pinggir jalan. Cuaca sudah mulai terik, meskipun berada di daerah pegunungan, tetap saja rasanya panas saat kulit terkena sengatan matahari. Kap mobil dibuka biar mesin tidak terlalu panas.

Kami pun menunggu sekitar 15 menit, kemudian kami jalan kembali. 

Merapi Garden Selo

Alhamdulillah, mesin mobil tidak rewel lagi. Kami pun terus jalan mengikuti Google Map yang tampak sudah hampir tiba di tempat tujuan. 

Awalnya, aku mengira salah jalan karena kami melewati jalan kecil dan menanjak meski kami sudah mengikuti Google Map. Di sebelah kanan, kami seperti berada di kaki gunung yang tinggi. Beberapa kali aku melihat tulisan "Jalur Pendakian Gunung Merbabu". Dan kami terus melewati jalan yang sepi, bukan jalan utama. 

Sampai akhirnya kami tiba di pertigaan jalan yang berada di tebing tinggi. Jalan yang lurus di depan kami berbatu, sepi dan menyempit. Sementara belok ke kanan, hanya untuk pengunjung glamping. 

Ternyata ada papan penunjuk tapi tidak besar menunjukkan "Merapi Garden Solo" di sebelah kiri, mobil pun belok ke kiri. 

Cafe View Gunung di Boyolali

Akhirnya kami pun tiba.

Merapi Garden Selo ini berada di area yang lebih tinggi dibanding pusat kegiatan di Selo. Dari tempat parkir mobil, kami bisa memandang Gunung Merapi di depan kami meski puncaknya tertutup awan.  Rumah-rumah penduduk terhampar luas di bawah kami. Kendaraan melewati jalan-jalan yang membentuk seperti jari menjangkau ke beberapa daerah. 

Cafe di Selo


MaasyaAllah. Rasanya hati ini ikut tersenyum melihat pemandangan yang indah itu meski kami tidak bisa melihat puncak Merapi. Sementara di belakang kami Gunung Merbabu, tapi karena tertutup dengan tebing jadi tidak terlihat jelas. 

Merapi Garden Selo


Sebelum masuk, kami pun berfoto di bagian depan pintu masuk yang bertuliskan Merapi Garden dengan pot bunga besar di sisi kanan dan kiri. 

Taman bunga yang indah 

Setelah itu, kami memasuki Merapi Garden dengan taman-taman bunga yang indah. Miniatur kincir angin menyambut kami di pintu masuk.

Gazebo-gazebo tampak terlihat dari kejauhan. Hijau dedaunan di taman menyegarkan mata. Tanaman berwarna kuning yang aku tidak tahu namanya dibentuk sedemikian rupa hingga membentuk tulisan Merapi. 

Tempat wisata Boyolali


Hamparan bunga warna-warni menjadi daya tarik wisata Merapi Garden Selo ini. Berbagai jenis bunga, dari Hortensia sampai Terompet tumbuh rapi hingga membentuk lansekap yang indah dan cocok sebagai spot foto yang instagramable. 

Di tengah taman ini ada kincir angin seolah-olah kita sedang berada di Belanda. Anak-anak langsung menyerbu sepeda antik dan berfoto di sana. 

Cafe view Merapi


Yang membuat obyek wisata Merapi Garden ini menarik adalah latar belakang Gunung Merapi yang tampak gagah jika tidak tertutup awan.

Di beberapa sudutnya juga ada gazebo-gazebo dan tempat duduk. Kita bisa beristirahat sejenak menikmati pemandangan Merapi dan bunga yang indah.

Photo addicted

Aku pun mulai memotret apa pun yang bisa aku potret. Ternyata keren juga, loh. Memotret bunga warna-warni, memotret kincir angin, ataupun memotret pegunungan dengan fokus bunga. Tempat ini memang cocok untuk fotografi. Anak-anakku hanya bisa berlarian ke sana kemari.

D'Garden Cafe di tengah taman

Kami pun segera menuju Cafe yang ada di tengah taman. Pengunjung belum terlalu ramai karena belum jam makan siang. Cafe ini ada dua lantai. Kami memilih lantai atas dengan harapan bisa menatap Gunung Merapi dan pemandangan di kaki gunungnya dengan lebih leluasa. 

Cafe ini sengaja didesain dengan penuh kaca agar pengunjung bisa leluasa melihat pemandangan gunung Merapi dan Selo di bawah.

Cafe view indah Boyolali


Ruangan Cafe ini ada indoor dan outdoor. Sebenarnya yang outdoor juga bagus dan cocok untuk perokok. Bisa menikmati hawa dingin Selo sambil menikmati sajian Cafe dan berfoto tanpa ada gangguan. Tapi aku memilih di dalam karena aku nggak mau masuk angin. Hehe. 

Menu cafe ini pun bervariasi dan menarik. Tidak hanya makanan ringan tetapi juga makan berat. Jadi kami bisa sekalian makan siang. Anak-anak sibuk keliling ke sana kemari. Sayang banget sih nggak ada wahana mainan sederhana atau playground. Capek lihat merek keliling, akhirnya Akungnya meminjamkan mereka hp buat nonton. haha. Setidaknya biar anaknya anteng untuk sementara.

Untuk harganya sih memang agak pricey sedikit. Rasa untuk makanan berat sih cukup alias B. Minumannya lumayan enak. Beberapa menu memang enak. Sayang banget nih aku lupa foto makanannya. Saking lapernya sih. 

Musholla dan toilet dekat Cafe

Di belakang cafe ini juga ada musholla meski tidak besar dan harus gantian, tapi cukup untuk suami dan anak-anak sholat berjamaah. 

Sebelum pulang, aku tidak lupa meminta anak-anak ke toilet dulu biar nggak perlu berhenti-berhenti lagi cari toilet. 

Kesimpulan

Memang Merapi Garden Selo ini cocok banget untuk tempat nongkrong atau menikmati hidup meninggalkan sejenak penat dan yang ingin santai selooww. Tapi, Merapi Garden Selo kurang cocok untuk anak-anak karena memang tidak ada wahana permainan. Jadi kalau mau ke sini bawa anak-anak, mending bawa sesuatu untuk aktivitas anak-anak, misalnya buku cerita, kertas untuk mewarnai, kartu, atau permainan lainnya. Karena dijamin anak-anak bakal bosen banget sih. Yah, tapi zaman sekarang sih, anak bosan di tempat wisata kasih aja hape. Wkwkwk.


Read More
Travelling ke Semarang memang hanya beberapa hari saja. Meski perjalanannya sangat singkat, tapi sebenarnya kenanganku di Semarang berlangsung hingga satu tahun tiga bulan. Salah satu yang ingin aku ceritakan adalah kisah di Simpang Lima.

Sumber : https://wisata.dyantransport.com/simpang-lima-semarang/


Sebelum aku kisahkan, jangan bayangkan ada kisah romantis di Simpang Lima. Tak ada sama sekali. Jadi bisa kalian skip saja tulisan ini karena tampaknya tidak begitu menarik hehe.

Tentang Simpang Lima, sudah sering aku dengar dari cerita orang-orang. Bahwa Semarang punya kisah heroik di dalamnya. 

Tentang Simpang Lima yang jadi ikon kota Semarang. Belum bisa dikatakan pergi ke Semarang jika belum menginjakkan kaki di Simpang Lima —dan juga Lawang Sewu.

Mungkin itulah yang menjadi inspirasiku untuk terus melanjutkan studi di Semarang waktu itu. 

Kedatanganku ke Semarang pertama kali sebenarnya sudah jauh sebelum aku studi di Semarang, tapi kenangan itu benar-benar tidak bisa aku ingat. Entah saat studi tur atau kapan ya? Hmm... 

Sudahlah. Aku akan ceritakan apa yang aku ingat—bukankah inilah manfaat blog yaitu merawat ingatan tentang masa lalu dan masa kini?

Perjalananku dari Malang ke Semarang pertama kali dilakukan saat akan mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa pascasarjana jalur beasiswa unggulan. Aku dan beberapa teman menggunakan travel. Coba aku sebutkan siapa teman-temanku: Wulan, Fathima, Amanda, Indah, Saura, Vira, dan... siapa lagi ya? Aku lupa haha...

Kalau kalian masih ingat, kita berhenti di Simpang Lima saat siang hari—entah naik angkot, bus kota, atau motor?
Panas-panas, kita berfoto di depan papan bertuliskan SIMPANG LIMA SEMARANG.

Seperti layaknya alun-alun kota di masa itu (yang pernah kutahu), tak ada apa pun di Simpang Lima. Beda dengan alun-alun kota Malang yang saat ini selalu ramai pengunjung. Pun di masa itu, sekitar tahun 2010an, alun-alun kota Malang juga masih sepi. Benar-benar monoton. Jadi kami hanya berfoto saja di sana.

Kenapa disebut Simpang Lima?

Tanpa harus mencari tahu, kita bisa menduga bahwa namanya simpang lima pasti berada di lima persimpangan jalan.

Tapi bayangkan saja, kita jalan berada di Lima persimpangan. Apa nggak bingung tuuh? Saat pertama kali ke Semarang, tentu dong aku bingung. Saat motor sudah sampai di Semarang dan berjalan-jalan ke kawasan Simpang Lima, beberapa kali aku salah jalan.

Sumber : TravelsPromo


Karena Simpang Lima ini berada di pertemuan lima jalan : Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajahmada dan Jalan K.H. Ahmad Dahlan.

Tapi sebenarnya tetengernya gampang banget sih. Misalnya, untuk ke Jalan Pandanaran menuju pusat oleh-oleh Semarang, seperti lunpia, bandeng Juwana, moci dll, kita harus melewati warung kuliner-kuliner, Gajahmada Plaza dan sebelum Masjid Raya Semarang.

Kalau ke Jalan Gajahmada, ke kawasan kuliner juga, setelah masjid Raya Semarang. 

Kalau ke Jalan Pleburan, menuju ke Semarang atas atau Undip, melewati Mall Ramayana.

Yang pertama kali ke Simpang Lima memang pasti bingung. Baca Google Map pun harus hati-hati karena bisa jadi kelewatan hehe.

Sejarah Simpang Lima

Sebelum Simpang Lima menjadi sekarang, tanahnya dulu adalah rawa-rawa. Kemudian Ir. Soekarno mengusulkan untuk menjadikannya alun-alun karena alun-alun di kawasan Kauman sudah berubah jadi pusat perbelanjaan.

Sedang di kawasan Simpang Lima saat ini sudah dipenuhi gedung-gedung tinggi pusat perbelanjaan dan hotel. Ada juga masjid jami' di dekatnya.

Oiya asal konsep alun-alun ini sebenarnya– seperti alun-alun pada umumnya di kota Jawa– merupakan pusat kegiatan kota dalam konsep Jawa-Islam, yang dikembangkan oleh Sunan Kalijaga pada masa pemerintahan Majapahit-Mataram. 

Alun-alun berupa lapangan terbuka yang berada di antara kantor pemerintahan (kantor bupati), pusat relijius (Masjid Jami'), dan pusat perbelanjaan. Beberapa kota masih menggunakan konsep ini seperti Bandung, Malang, Solo, Yogyakarta. Cirebon gitu masih kali ya?

Lapangan di Simpang Lima ini disebut Lapangan Pancasila tapi kawasannya disebut Simpang Lima.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Simpang Lima

Dulu, aku cukup sering melewati Simpang Lima, tapi sebenarnya tidak banyak momen yang bisa aku nikmati di Simpang Lima. Dan tidak banyak hal yang bisa aku lakukan di Simpang Lima. Karena memang ya... ngapaaiinnn sampai bingung sendiri. Haha.

Tapi kalau kalian travelling ke Semarang, ada beberapa hal yang bisa dilakukan di Simpang Lima yaitu:

Piknik

Piknik ini sebenarnya paling gampang bawa potluck masing-masing dan bawa alas duduk. Saat piknik bisa sambil mengobrol, baca buku, main gitar, hapean juga. Hehehe.

Main Sepatu Roda

Dulu, aku penasaran naik sepatu roda malam hsri. Ternyata susah banget. Haha. Beberapa kali nyoba memang bisa jalan pelan tapi tidak lancar. Harganya seingat saya dulu 10ribu kali ya. Seperti biasa, yang jual jasa adalah masyarakat sekitar seperti pada alun-alun di kota lain. 

Yang paling menakutkan sebenarnya kalau kebablasan meluncur sampai melewati trotoar di Simpang Lima. Soalnya trotoarnya tinggi sekitar sepaha. Memang beberapa bagian ada pagar besinya tapi tetep takuuut. Belum lagi ramai anak-anak yang juga main sepatu roda, sepeda hias. Takut nabrak, takut jatuh. Hehe. Tapi seru.

Night Walking

Night walking kalau jalan kaki mengelilingi Simpang Lima memang capek banget, kecuali kalau memang niat olahraga. 

Jadi kita bisa sewa mobil hias, sepeda hias dengan desain bermacam-macam atau naik skuter. Kita bisa menyetir mobil hias sendiri tapi hati-hati jangan sampai kebablasan. Hehe.

sumber: RadarSemarang.id 


Mobil hias ini juga dilengkapi dengan speaker musik jadi bakal ramai banget. Haha.

Harganya sekitar 35-40ribu.

CFD

Sebenarnya aku tidak ingat apakah pernah ke CFD Semarang atau tidak. Di Simpang Lima ini setiap hari ahad juga diselenggarakan CFD. Dan kebayang pasti ramai sekali. 

Wisata Kuliner Malam Hari

Surganya kuliner di Semarang ada di kawasan Simpang Lima. Awalnya, pinggiran jalan Simpang Lima merupakan pedestrian yang cukup lebar. 

Waktu masih awal kuliah di Semarang, belum ada warung kaki lima ini. Saat aku kuliah di Prancis, sekitar tahun 2012, di malam hari, pedestrian itu diubah menjadi tempat kuliner. Baru bisa kunikmati setelah pulang dari prancis sekitar tahun 2013.

Menurutku menunya cukup lengkap. Mulai dari nasi goreng, tahu gombal khas Semarang, soto, nasi padang, bakmi jowo, pokoknya banyakkk. Harganya juga masih normal kok. Nggak mahal. Sekitar 15- 30ribu tergantung menunya yaa.

Melihat Pentas Seni di waktu tertentu

Pernah suatu waktu, entah bagaimana, aku berada di Simpang Lima bersama teman kosku. Saat itu sedang ada panggung besar. Simpang Lima memang sering digunakan untuk konser atau pertunjukan seni.

Saat aku ke sana, ada pertunjukan wayang orang. Jadi aku dan temanku keliling sekitar panggung. Kami nggak sempat menonton kalau nggak salah belum mulai, tapi kami malah berfoto bareng dengan pemain wayang orangnya. Haha.

Para pemain wayang orang di depan Simpang Lima. Hanya foto. Foto sy sudah hilang.  (SindoNews)

Sudah Pernah Simpang Lima Semarang?

Berkunjung ke Semarang emang wajib banget deh pergi ke Simpang Lima atau kuliner di sekitarnya. Memang ikonik banget. Apa kalian sudah pernah ke Simpang Lima Semarang? Ngapain aja di sana? 
Read More
Menjelajahi Semarang, yang aku ceritakan di pos sebelumnya, menjadi satu bagian membuka lembaran masa lalu. Apa yang paling kurindukan—dan belum tentu ada di Sidoarjo—adalah menikmati kuliner Semarang, bakmi godok plus sate babat kecapnya. Ketika masih jadi budak korporat dulu, jika tidak lemburan menyelesaikan dokumen rencana yang hampir sangat jarang terjadi, aku pulang setelah sholat maghrib, berjalan kaki menuju warung tenda bakmi Semarang yang sudah ramai pembeli. Biasanya, aku beli bakmi Jowo/ bakmi godok, bihun, sate babat, dan sate jeroan. Ada juga sedia nasi goreng. Yang paling khas, semua menu dimasak tidak pakai gas, tetapi pakai arang, yang bikin rasanya lebih sedap. 

Setelah bertahun-tahun tidak mengunjungi Semarang, aku—mengajak keluargaku—bernostalgia di sana. Sayangnya, sesampainya di sana, warung tenda itu sudah tidak ada. Aku mengira memang sedang tutup, tetapi tidak tanda-tanda bahwa warung masih stand by di sana. Soalnya tidak ada tanda-tanda apa pun.

Sedih, sih. Entahlah beneran tutup atau tidak. Yang jelas kami tidak bisa mencicipi bakmi khas Semarang. Akhirnya, rencana selanjutnya yaitu mencari penjual bakmi jawa terkenal di Semarang melalui penelusuran Google. Pilihannya cukup banyak. Mataku tertuju pada satu nama Bakmi Jowo Pak Doel Noemani dan punya cabang di tempat yang tidak terlalu jauh Bakmi Jowo Dul Numani.

Tanpa pikir panjang dan sudah mager cari tempat lain, kita menuju ke sana. 

Lokasi di Jalan Utama Semarang

Aku tidak terlalu bingung mengarahkan jalan pada suami karena aku masih sangat hapal. Hanya saja perlu patokan lokasi persisnya Bakmi Jowo Semarang Terdekat Doel Noemani.

Google Map menjadi teman setia saat perjalanan. Haha. 

Nggak expect sama sekali tentang tempatnya. Yang penting, perut kenyang karena sudah lapar (tidak recommend sebenarnya makan bakmi godog kalau lagi lapar, hehe). Sampai di tempatnya, aku agak terkejut karena ternyata ramai sekali. Wah pasti ini bakmi godog enak di Semarang. Lihat di ulasan Google emang bener.

Warung pertama dekat di belokan Jalan, di depannya Mall Paragon. Akhirnya kami cari di cabang satunya, depan hotel Amaris dan disamping SMA 5 Semarang.

Warung ini berada di depan bangunan perkantoran yang berarsitektur kolonial. Tapi tidak jelas kantor apa? Mungkin sudah tidak aktif? Di Google kantor yayasan begitu.

Beberapa mobil terparkir di pinggir jalan. Petugas parkir pun mengarahkan kami parkir di dalam. Tempat parkirnya sebenarnya cukup menampung banyak kendaraan tapi tetep aja kami parkir di depan mobil lain yang sedang terparkir jadi tidak boleh di hand rem.

Tak hanya Mi Godog



Meskipun warungnya bernama Bakmi Djowo tapi di warung ini tidak hanya menjual Mi saja tapi juga menu nasi seperti Bakmi Godog, Bakmi Goreng, Bakmi Nyemek, Mihun (Godog, goreng, nyemek), nasi goreng, nasi godog, nasi ruwet (ada campuran mie), cap Jay (goreng dan godog).

Bedanya apa? 

Perbedaan godog dan nyemek ini terletak pada kuatnya. Kalau bakmi godog menggunakan mie kuning dilengkapi sayur, ayam, telor, dituang dengan kuah kaldu ayam kampung encer agak banyak. Sedangkan bakmi nyemek, kuahnya kental dan sedikit. 

Bakmi Godog


Kalau perbedaan bihun dan bakmi terletak pada jenis mie yang dipakai. Kalau bihun ya pakai Mi bihun itu.

Kalau aku suka godog karena enak segar dan hangat. Cocok banget kalau lagi perjalanan jauh. Kalau kalian suka godog atau nyemek?

Oiya, jangan sampai lupa, yang sangat menggiurkan dan khas itu adalah sate kulit, sate uritan dan sate jeroannya yang dibalur kecap. 



Alhamdulillah meski keturunan juga makan bakmi godog dan sate kulit kecapnya. 

Lesehan atau Duduk di Kursi?

Saat kita tiba di sana, sudah banyak pengunjung yang sedang menunggu pesanan dan menyantap makanan. Selain duduk di kursi, pengunjung juga bisa duduk lesehan di latar bangunan perkantoran.

Karena kami sedang dalam perjalanan, lebih nyaman kalau duduk lesehan agar lebih santai dan bisa selonjorkan kaki.

Memilih lesehan karena meja penuh

Sekitar 20 menit akhirnya pesanan kami datang. Makan bakmi dan satenya. Jangan lupa tambahkan acar timun dan cabe hijau biar mata makin melek nggak mengantuk. Haha.

Susahnya kalau lesehan itu air minum rawan tumpah. Maklum bawa anak kecil yang ngga bisa diam. Kesabaran emaknya diuji banget deh. Tapi bersyukur juga mereka tidak rewel. Cuma mereka nggak sabar aja karena pesanannya cukup lama datangnya. 

Emang paling aman sih kalau sama anak kecil duduk di kursi aja. Biar minuman dan makanan yang banyak kuah itu tidak kesenggol dan tumpah.

Rasa Bakmi Godog

Kalau kalian pencinta gurih, mungkin bakmi godog di sini, menurutku, cenderung sedikit lebih manis (nggak terlalu manis ya). Tetep sih rasanya gurih dari kaldu ayam kampung juga terasa sedepp. 

Nah kalau kalian porsi makannya banyak. Satu piring nggak bakal cukup. Haha. Aku pun merasa masih belum kenyang tapi karena dalam perjalanan yang isi perut 50% angin dan air, jadinya perut masih terasa kenyang. Hehe.

Pembayaran cash

Waktu itu aku tidak tanya-tanya berapa harga per menunya. Aku langsung bayar saja. Hehe. 
Kalau lihat di ulasan, harga menu makanan bakmi godog Dul Numani berkisar 25.000 per orang, kalau pakai minum dan 2 tusuk sate sekitar 35ribu. Oiya, di warung bakmi godog ini tidak menerima pembayaran digital jadi harus cash. Emang sih waktu itu aku juga bayarnya cash. Mungkin di cabang lain masih menerima pembayaran digital, aku kurang paham juga. Kalau kalian datang ke sini nanti coba ditanyakan saja dulu sebelum memesan makanan.

Semakin malam semakin banyak pengunjungnya, kami sesegera mungkin menyelesaikan makanan. 

Alhamdulillah akhirnya keturunan juga makan bakmi plus sate kulit dan jeroan. Hehe.
Read More
Sepanjang jalan Solo-Semarang adalah kenangan. Menjumpai bus hilir mudik mengembalikan ingatanku 10an tahun silam. Pernah menjadi penumpang yang susah payah berebut kursi untuk sampai ke Tembalang. Duduk berlama-lama di kursi samping jendela dengan mendekap tas berisi laptop yang di zaman itu didesain cukup berat.

Hari ini, aku tidak lagi menjadi bagian itu. Hanya melewati kenangan saja. Sementara saat ini, aku duduk manis tanpa harus bersusah payah seperti di zaman itu. 

Hari ini, tak lagi melakukan perjalanan sendiri. Dalam waktu 10-an tahun setelah kelulusan, cita-citaku menjadi pendidik dikabulkan Allah—tepatnya menjadi pendidik keluarga:  pendidik 3 Ahmad.

Allah memang Maha Baik. Dia tak ingin aku bersusah payah dengan segala kondisi aturan saat ini. Semua sudah diatur olehNya semenjak aku memutuskan memilih jurusan. Aku tak pernah berprasangka buruk meski di sekitarku seolah menyesali atas hidup yang kupilih. Tidak. Allah tahu mana yang terbaik. Allah tahu hambaNya. 

Kenangan Perjalanan selama di Semarang

Sepanjang jalan Ungaran‐Banyumanik-Tembalang, mataku tak lepas dari segala hal yang pernah kulewati dulu. Perjuangan tak pernah kulupa. Memoriku kembali.

Terminal Banyumanik

Kenangan tentang terminal Banyumanik tidak begitu banyak tapi aku pernah merasa sedikit waswas saat berada di sana. Aku lupa tepatnya kejadian apa itu. Kuingat, malam hari, aku berada di dalam terminal Banyumanik menunggu sesuatu—mungkin bus? 

Entahlah. Potongan-potongan memori itu tidak begitu jelas. Aku duduk di sebuah warung atau toko sedang membanyar sesuatu—entah makan atau tiket bus? 

Saat itu, mungkin aku sedang menunggu bus. Sepertinya atau travel? Aku lupa. Saat itu, jalan-jalan sedang ramai mudik menjelang lebaran. Aku tidak pulang ke Kalimantan, sebab kalau pulang aku pasti akan naik dari bandara Ahmad Yani. Mungkin aku akan pulang ke Sragen.

Pertigaan Tol - Swalayan ADA Srondol

Swalayan ADA pernah menjadi tempatku melupakan penat sejenak setelah digempur tugas dan les. Bukankah cuci mata dan berbelanja adalah hiburan para wanita? Meski kadang, aku tak membawa pulang apa-apa.



Jalanan di depan swalayan ini lebih lebar dan kadang lengang. Kendaraan-kendaraan memilih berhenti di lampu merah untuk belok ke jalan tol atau lurus menuju Tembalang. 

Di pertigaan ini, tempat aku biasa turun dari bus dan lanjut mencari angkot menuju Tembalang. 

Lucunya, aku masih tak ingat, apalah kejadian ini ketika aku mau mudik atau sekembalinya dari mudik lebaran. Bus yang kunaiki mencari jalan kembali ke jalan besar. Karena ada sesuatu hal yang membuat mereka berputar-putar di jalan kampung mencari jalan tembus swalayan ADA ini. Kebetulan saat itu aku duduk di barisan ketiga dari depan. Bus terus mencari jalan dan terkadang harus putar balik karena salah jalan. Betapa merepotkannya. Di jalan kecil, kendaraan besar itu harus putar balik. Beberapa kali menjadi sumber kemacetan. 

Jangan bayangkan di waktu itu sudah mudah akses Google Map. Sebab tak semua orang punya Android. Saat itu ponsel Android masih dianggap mewah. Aku pun masih memakai ponsel qwerty Nokia. Kalau tersesat, siap lihat papan penunjuk jalan atau tanya orang.

Sebab aku pun mulai berada di ambang batas sabar, tidak segera sampai tujuan, tanpa diminta aku langsung berkata, "Lewat sini, Pak. Belok kanan, Pak. Terus aja, nanti belok kiri."

Di jalan-jalan kampung yang sering kulalui itu, tanpa pikir panjang, aku menjadi guide dadakan. Kok, yaa bapaknya menurut saja tanpa protes. Aku mengarahkan jalan hingga bertemu dengan jalan besar, dekat dengan pertigaan Tol dan Swalayan ADA.

Alhamdulillah tanpa drama harus putar balik atau membuat jalan-jalan kecil itu macet, bus bisa keluar jalan besar dan aku segera turun dari bus. Tanpa kusadari, hal remeh temeh itu ternyata membuat kernet dan supir bus berterima kasih padaku seolah aku telah melakukan hal yang besar saat itu. Tidak. Sebenarnya karena aku tidak sabar saja. Kalau aku sabar mungkin aku hanya diam saja. 

Dari situ, aku sadar bahwa: "Jangan biarkan orang lain bingung. Mungkin mereka tak butuh bantuan. Tapi inisiatif seseorang ternyata bisa sangat membantu mereka."

Undip Tembalang

Tentu saja, ini menjadi ikon utama kenangan-kenanganku selama studi di Semarang. Tahun pertama, kosku masih di dekat gerbang masuk Undip. Tahun kedua lebih jauh lagi tapi masih area Tembalang.

Rupanya tidak banyak perubahan sepanjang perjalanan dari patung Kuda Pangeran Diponegoro sampai Gerbang Undip. Hanya beberapa bagian yang mengalami penambahan bangunan dan renovasi. Berbeda dengan kota Malang yang sangat cepat sekali perubahannya.

Di sini, aku mengantar suamiku ke tempat acara. Mobil aku bawa kalau misal sudah selesai makan, aku bisa keliling bersama anak-anak. 

Anak-anak kuminta menunggu sebentar sembari menghabiskan makanannya. Mereka merengek mungkin merasa tidak nyaman berada di tempat asing tanpa ada keluarga yang menunggu. Tapi makanan mereka belum habis. Rasanya tidak mungkin juga kalau meninggalkan makanan yang baru datang. Dikira tidak dihabiskan dan dibereskan. 

Janjiku pada mereka tidak akan lama. Aku juga meminta bantuan mbak kasir yang ramah dan selalu tersenyum untuk melihat anak-anak yang sedang makan. Syukurlah ia bersedia. 

Aku pun mengantar suami dulu, melewati jalanan kampus yang pernah kulalui dulu dengan motor. Pepohonannya yang tinggi masih bertahan sampai sekarang. Areanya yang luas masih sama. Tak banyak bangunan yang bertambah. Hanya bangunan-bangunannya direnovasi, sama seperti gedung kuliahku dulu. Hampir sama sepetti kampus UNS, memasuki kampus UNDIP tidak terasa sesak karena pepohonan masih banyak.

Setelah mengantar suami ke gedung yang tak jauh dari gedung kuliahku dulu, aku pun segera kembali ke rumah makan. Aku tidak menggunakan Google Map sebab kukira aku pasti hafal jalanan. Papan arah juga banyak. Eh tapi bukannya makin cepat pulang, aku malah tersesat ke fakultas lain. Hahah. Akhirnya aku membuka Google Map. Parah sekali sampai lupa arah pulang di kampus sendiri.

Sesampainya di rumah makan, aku menyuapi si kecil dan menghabiskan makananku. Tak terasa sudah satu jam. 

Setelah selesai urusan makan, aku mengajaknya ke masjid. Kami menunggu di masjid Undip saja. Selain sholat dan istirahat, aku bisa memandikan si adik sebelum perjalanan pulang nanti sore. Hihihi.

Tak terasa sudah dua jam menunggu, chat dari suami memberi kabar bahwa acara selesai. Kami pun menjemputnya. Sebelum meninggalkan kampus masa lalu, (mobil) kami berfoto di halaman depan rektorat Undip yang tampak Pangeran Diponegoro berkuda. Akankah selanjutnya Undip menjadi tempat menuntut ilmu terbaik untuk suami? Semoga Allah berikan petunjuk.


AKPOL

Kenangan satu ini tak akan kulupa. Karena di belakang AKPOL ini, aku sempat ngekos dan bekerja di kantor konsultan perencanaan kota. Tanpa motor, hanya berandalkan ojek di ujung jalan (bukan ojol) saat pergi kemana-mana. Kalau tidak, berjalan kaki lebih hemat. Aku bahkan sempat berjalan kaki dari kos ke hotel Patra untuk berenang sebab hanya itu kolam renang terdekat. Hotelnya bintang lima tapi jalan kaki. Haha. Hemat tapi mewah. 

Versi hematnya, biasanya aku berenang di kolam renang GOR Semarang. Murah tapi ramai. Oiya, aku terongat saat masih kuliah, aku juga sering berenang di Bukit Villa Mas.

Simpang Lima

Tak mungkin melewatkan satu ikonik Semarang ini jika kita sedang di kota Lunpia itu. Simpang Lima adalah tempat-tempatku membuang penat, menyewa sepatu roda, menonton pertunjukan seni, atau apa pun yang ada di sana. Di sekelilingnya, banyak pujasera di pinggir jalan dengan variasi kuliner.

Simpang Lima (Sumber: Travelspromo)


Eh tapi kali ini, sebab kami semua terlalu lelah di hari pertama setelah jalan-jalan ke Celosia, kami hanya melewati Simpang Lima. Tentu saja anakku pada heboh ingin main-main di Simpang Lima yang ramai dengan penjual mainan, sewa odong-odong lampu, sewa sepatu roda dan lain sebagainya. Maafkan, Nak. Besok masih harus perjalanan jauh. Kita segera pulang saja ke penginapan Sun Apartement. Haha.

Lawang Sewu

Malam hari, Lawang Sewu selalu tampak indah dengan lampu-lampunya yang menerangi setiap sudut bangunan. Tak ada kata seram melewati bangunan kuno itu meski kisah mistisnya sudah tersebar. Eh, tapi aku tetap tidak mau mampir meski siang hari bersama anak-anak setelah kedatanganku duluuu di Lawang Sewu. Cukup sekali saja. Haha. Aku hanya mengenalkan cerita tentang Lawang Sewu pada anak-anakku.


Jalan Pemuda

Pikiran penatku ketika harus mengerjakan tugas mata kuliah Sistem Informasi Perencanaan Pembangunan, mendorongku untuk berkeliling Semarang sendiri. Kadang sendiri. Kadang bersama temanku. 

Kadang ke Mall Paragon yang dekat ke Jalan Pemuda, kadang mutar-mutar menghabiskan Premium, bensin zaman dulu.

Jalan protokol utama ini menjadi kawasan bisnis, perdagangan, kuliner dan tempat nongkrong. Dulunya, aku hanya melewatinya saja setelah dari Mall Paragon. Jangan bandingkan Mall di Semarang dengan di Surabaya karena hanya dalam setengah jam kalian sudah mengitari seluruh mall.

Saat bersama keluarga, aku mengunjungi penjual Bakmi Godog yang terkenal di Semarang. Tempatnya ramai yang berada di bangunan kantor, sayangnya parkir mobil sempit. Jadi harus rebutan dengan pengunjung lainnya. Nanti aku ceritakan deehhh.

Lunpia Cik Me Me

Dulu, beberapa kali mencicipi lunpia Semarang di daerah Pandanaran, aku tidak terlalu menikmatinya karena selain harganya yang cukup mahal (sekitar 15-20ribu satu biji), isinya besar dan rasanya kurang cocok di lidahku yang cenderung gurih ini. Suamiku pun tidak terlalu menikmatinya. Ketika kami ke Semarang sebenarnya outlet Lunpia ini tidak menjadi destinasi kami. Namun, karena saudara rekomendasi Lunpia Cik Me Me akhirnya kami membelinya. Ternyata ukurannya lebih manusiawi. Apakah ukurannya juga mengalami efisiensi? Hehe. Rasanya juga lumayan gurih dibanding dulu yang pernah kurasakan cenderung manis.

Semarang Kaline Banjir

Mengunjungi Semarang sebenarnya memunculkan harapan baru yang meluap layaknya kali (sungai) yang banjir. Namun, akan ada waktunya kali itu surut dan mengalir ke laut. Kapan mulai meluap lagi mungkin tergantung musim hujan yang datang :D Hanya kami yang tahu. Dan sampai saat ini hilal belum tampak untuk mewujudkan harapan itu dan dimana hilal akan tampak. 

Read More

Follower